Tafsir Al-Qur'an - Tafsir At-Thabari

Penjelasan Tentang Makna Hadits Rasulullah Tang Menvatakan bahwa Al-Qur'an Diturunkan dari Tujuh Pintu Surga, dan Riwayat-Riwayat Terkait


Abu Ja'far berkata: Terdapat sejumlah riwayat yang lafazhnya berbeda-beda dalam masalah ini

[67]. Abdullah bin Mas'ud mariwayatkan dari Rasulullah , bahwa beliau bersabda.

كَانَ الْكِتَابُ الْأَوَّلُ نَزَلَ مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ، وَعَلَى حَرْفٍ وَاحِدٍ، وَنَزَلَ الْقُرْآنُ مِنْ سَبْعَةِ أَبْوَابٍ، وَعَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ: زَجْرٍ، وَأَمْرٍ، وَحَلَالٍ، وَحَرَامٍ، وَمُحْكَمٍ، وَمُتَشَابِهٍ، وَأَمْثَالٍ؛ فَأَحِلُّوا حَلَالَهُ، وَحَرِّمُوا حَرَامَهُ، وَافْعَلُوا مَا أُمِرْتُمْ بِهِ، وَانْتَهُوا عَمَّا نُهِيتُمْ عَنْهُ، وَاعْتَبِرُوا بِأَمْثَالِهِ، وَاعْمَلُوا بِمُحْكَمِهِ، وَأَمِنُوا بِمُتَشَابِهِهِ، وَقُولُوا آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا

"Kitab yang pertama diturunkan dari satu pintu dan satu huruf, sedangkan Al-Qur'an diturunkan dari tujuh pintu dan dengan tujuh huruf: ancaman, perintah, halal, haram, muhkam. mutasyabih dan perumpamaan., maka haiatkanlah yang dihalalkarmya. Haramkanlah yang diharamkannya, kerjakanlah yang diperintahkannya, tinggalkanlah yang dilarangnya, ambillah pelajaran dari perumpamaannya, kerjakanlah muhkamnya, imanilah mutasyabihnya, dan katakanlah kami beriman kepadanya, semuanya datang dari sisi Tuhan kami.

[68] Orang yang mencentakan hal itu kepadaku adalah Yunus bin Abdul A’ la, dia berkata, Ibnu Wahb memberitahukan kepada kami, dia berkata: Haiwah bin Syuraih memberitahukan kepadaku dari Uqail bin Khalid, dari Salamah bin Abi Salamah bin Abdurrahman bin Auf, dari bapaknya, dari Ibnu Mas’ud dari Rasulullah , Diriwayatkan pula dari Abi Qilabah, dari Rasulullah , secara mursal selain itu.

[69]. Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibad bin Zakaria menceritakan kepada kami dari Auf, dari Abi Qilabah, dia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda,
أُنْزِلَ الْقُرْآنُ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ: أَمْرٍ، وَزَجْرٍ، وتَرْغِيبٍ، وَتَرْهِيبٍ، وَجَدَلٍ، وَقَصَصٍ، وَمُثُلٍ

Al-Qur'an itu diturunkan atas tujuh huruf: perintah, ancaman, targhib, tarhib, polemik, kisah-kisah, dan perumpamaan. "

[70]. Diriwayatkan dari Ubai, dari Rasulullah dalam hal ini, sebagaimana diceritakan oleh Abu Karib kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Fudhail menceritakan kepadanya dari Ismail bin Abu Kbalid, dari Abdullah bin Isa bin Abdurrahman bin Abu Laila, dari bapaknya, dan kakeknya, dari Ubai bin Ka’b, dia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ عَلَى حَرْفٍ وَاحِدٍ، فَقُلْتُ: رَبِّ خَفِّفْ عَنْ أُمَّتِي، قَالَ: اقْرَأْهُ عَلَى حَرْفَيْنِ، فَقُلْتُ: رَبِّ خَفِّفْ عَنْ أُمَّتِي، فَأَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَهُ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ، مِنْ سَبْعَةِ أَبْوَابٍ مِنَ الْجَنَّةِ، كُلُّهَا شَافٍ كَافٍّ

"Sesungguhnya Allah memerintahkanku agar membaca Al-Qur'an atas satu huruf, lalu aku berkata, ' Wahai Tuhan, berilah keringanan atas umatku Dia berfirman, ‘Bacalah dia atas dua huruf'. Aku lalu berkata, 'Wahai Tuhan, berilah keringanan atas umatku 'Dia lalu memerintahkanku agar membacanya atas tujuh huruf dari tujuh pintu surga, yang semuanya menyembuhkan serta mencukupi."

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dengan redaksi yang meoyeliaM semua redaksi tersebut, yaitu:

[71], Abu Karib menceritakan kepada kami, dia berkata: Al Muharibi menceritakan kepada kami dari Al Ahwash bin Hakim, dan Dbamrab bas Habib, dari Al Qasim bin Abdurrahman, dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata, "Sesungguhnya Allah telah menurunkan Al Quran atas lima huruf: halal, haram, muhkam, mutasyabih, dam perumpamaan. mata halalkaniah apa yang halal padanya, haramkanlah apa yang haram padanya, kerjakanlah muhkamnya, imamilah mutasyahihnya dan ambillah pelajaran dari perumpamaannya."

Semua riwayat dari Rasulullah yang kami sebutkan tadi maknanya saling berdekatan, sebagaimana perkataan seseorang. "Fulan tinggal di pintu ini, fulan tinggal di sisi ini, dan fulan tinggal di huruf ini maknanya sama saja."

Tidakkah Anda perhatikan bahwa ketika ada sekelompok orang yang menyembah Allah pada satu sisi ibadah saja maka Allah menyebut mereka dengan menyembah-Nva pada suatu huruf (tepi). sebagaimana firman-Nya,

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ

"Dan dt antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah dia dalam keadaan itu, dan jika dia ditimpa suatu bencana. Berbaliklah dia ke belakang. Rugilah dia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. " (Qs_ Al Hajj[22] : 11).

Maksudnya, mereka menyembah. Alah dengan pesasaan ragu dan tidak ada keyakinan.

Demikian juga riwayat yang menyatakan bahwa Al-Qur'an diturunkan dari tujuh pintu dan diturunkan atas tujuh huruf, maknanya sama.

Maksudnya, Rasulullah memberitahukan tentang keutamaan kemuliaan yang diberikan Allah Ta‘ala kepada umatnya dan tidak diberikan kepada umat lainnya, karena semua Kitab yang diturunkan — sebelum Kitab kita— adalah satu bahasa, yang jika dialihkan ke bahasa lain maka disebut terjemahan dan penafsiran, bukan bacaan seperti yag diturunkan oleh Allah Ta‘ala. Sementara Kitab Suci kita diturunkan atas tujuh bahasa, dengan bahasa yang mana saja seseorang membacanya dia dianggap telah membacanya maka bukan menerjemahkannya, juga bukan menafsirkannya. Inilah makna sabda Rasulullah "bahwa Kitab yang pertama diturunkan atas satu huruf, sedangkan Al-Qur'an diturunkan atas tujuh huruf. ’’

Sabda Rasulullah "bahwa Kitab yang pertama diturunkan dari satu pintu, sedangkan Al-Qur'an diturunkan dari tujuh pintu." maksudnya adalah, Kitab yang diturunkan Allah kepada nabi-Nya tidak lepas dari hudud, hukum-hukum, dan halal haram, seperti Kitab Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud hanya berisi nasihat dan petuah, atau Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa hanya berisi pujian-pujian dan ajakan untuk saling menyayangi serta memaafkan, tidak lebih dari itu, juga Kitab-Kitab lain yang hanya berisi sebagian dari makna yang tujuh, yang semuanya dikandung oleh Kitab Suci Al-Qur'an yang dikhususkan untuk Rasulullah dan umatnya.

Dengan demikian, untuk meraih keridhaan Allah dan surga-Nya, para ahli ibadah harus mengamalkan satu sisi yang dikandung oleh Kitab Suci tersebut, dan itulah satu pintu dari pintu-pintu surga yang dikandung olehnya. Allah lalu menganugerahkan secara khusus untuk Rasulullah dan umatnya sebuah Kitab Suci Al-Qur'an yang diturunkan atas tujuh sisi, yang darinya keridhaan Allah dan surga-Nya dapat diraih. Setiap sisi dari tujuh sisi tersebut adalah pintu dari pintu-pintu surga, yang dengannya Al-Qur'an diturunkan.

Jadi, orang yang mengamalkan seluruh sisi tersebut berarti telah beramal untuk bisa memasuki pintu singa. Mengamalkan perintah Allah adalah salah satu pintu surga. Meninggalkan larangan Allah adalah salah satu piatu surga. Menghalalkan apa yang dihalalkan oleh Allah adalah salah satu pintu surga. Mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah adalah salah satu pintu surga. Mengimani yang muhkam adalah salah satu pintu surga. Menyerahkan yang mutasyabih kepada Allah adalah salah satu pintu surga. Mengambil pelajaran dan perumpamaan-perumpamaan yang dibuat oleh Allah adalah salah satu pintu surga.

Dengan demikian, semua yang ada di dalam Al-Qur'an, dari hurufnya yang tujuh dai pintunya yang tujuh yang dengannya Al-Qur'an diturunkan, telah dijadikan Allah sebagai jalan untuk meraih ridha dan surga-Nya. Inilah makna dari sabda Rasulullah , "Al-Qur'an itu diturunkan dari tujuh pintu surga."

Sedangkan sabda Rasulullah yang menyatakan tentang Al-Qur'an: "Bahwa setiap huruf darinya memiliki batas, " maksudnya adalah, pada setiap sisi yang tujuh terdapat batas Allah yang tidak boleh dilanggar.

Sabda beliau: "dan setiap huruf darinya memiliki zhahir dan batin ", maksud dari asi zhahimya adalah zhahir bacaan, sedangkan maksud dari sisi batinnya adalah penakwilannya.

Sabda beliau: "dan sesungguhnya setiap batas darinya memiliki penyaksian" maksudnya yaitu setiap hukum yang ditetapkan oleh Allah —seperti halal dan haram—memiliki balasan dan penyaksian pada Hari Kiamat kelak. Seperti ucapan Umar bin Khaththab, "Seandainya aku memiliki seluruh isi dunia niscaya akan aku jadikan sebagai tebusan dari dahsyatnya kesaksian Hari Kiamat"


Waktu Shalat
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya