Tafsir Al-Qur'an - Tafsir At-Thabari

Penjelasan tentang Kesamaan Makna Ayat-Ayat Al-Qur'an dengan Perkataan Orang yang Menerimanya


Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari berkata, "Di antara nikmat Allah yang paling agung bagi para hamba-Nya adalah al-bayan (penjelasan), karena mereka dapat mengungkapkan isi hatinya dan mengutarakan keinginannya melalui lisan, sehingga yang sulit menjadi mudah. Dengannya mereka bersatu, memuji, menyucikan Tuhan, memperoleh kebutuhan, berbincang-bincang, berinteraksi, dan saling mengenal. Kemudian Allah menjadikan mereka bertingkat-tingkat dan meninggikan derajat sebagian mereka atas sebagian lain. Di antara mereka ada yang banyak bicara, ada yang iasih bicara, dan ada yang tidak suka bicara. Dan yang paling tinggi kedudukannya adalah yang paling baik penyampaiannya dan paling jelas ungkapannya.

Allah kemudian menjelaskan kepada mereka dalam Kitab-Nya keutamaan al-bayan atas orang yang bisu dan lisannya tertahan,

أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ
"Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran" (Qs. Az-Zukhruf [43]: 18).

Jadi, jelaslah bagi orang-orang berakal bahwa keutamaan orang yang memiliki kemampuan al bayan atas orang yang bisu dan lisannya tertahan adalah karena dia mampu mengungkapkan isi hatinya dengan memberikan penjelasan. Jika demikian, dimana makna yang dengannya orang yang memiliki kemampuan al bayan lebih utama daripada orang yang tidak memilikinya? Itulah yang kami maksud dengan keutamaan orang yang memiliki al bayan dari orang yang lisannya tertahan dan tingkatan manusia dalam hal itu berbeda-beda. Tingkatan tertinggi adalah orang yang paling fasih ungkapannya dan paling mudah perkataannya dipahami oleh pendengarnya.

Jika hal itu melebihi batas kemampuan manusia, yang tidak seorang pun dari mereka mampu untuk melakukan yang sepertinya, maka hal itu menjadi buku atas kebenaran para rasul Allah, seperti kemampuan untuk menghidupkan orang yang sudah mati, mengobati orang yang mengidap penyakit lepra, dan menyembuhkan orang yang buta. Juga kemampuan untuk menempuh jarak perjalanan dua bulan hanya dalam sebagian waktu malam.

Jika demikian halnya, maka tidak ada al bayan yang paling tinggi, hikmah yang paling agung serta perkataan yang paling mulia melebihi al bayan yang ditantangkan oleh seseorang atas suatu kaum yang hidup pada zaman saat mereka adalah ahli ilmu balaghah dan orasi, syair dan kefasihan, sajak dan ramalan. dia lalu mencela mimpi mereka dan tidak mengakui agama mereka. dia berseru agar mereka semua mengikutinya dan mengakui bahwa dia adalah rasul yang diutus oleh Tuhan kepada mereka. Menjelaskan kepada mereka bahwa bukti kebenaran kenabiannya adalah Al Furqan dan Al Hikmah yang diturunkan kepada mereka dengan bahasa yang sama. Kemudian menginformasikan kepada mereka bahwa mereka tidak akan mampu mendatangkan yang sepertinya.

Mereka semua pun mengakui dirinya lemah dan tidak mampu mendatangkan yang sepertinya, kecuali orang yang sombong, dia berusaha melawan apa yang diyakininya tidak mampu dan mendatangkan apa yang menunjukkan kebodohannya, "Demi gandum yang ditumbuk, lalu digiling, lalu menjadi roti, lalu menjadi bubur, lalu dimakan.”

Jika tingkatan al bayan memang seperti yang kami jelaskan, maka Allah adalah Pemilik al bayan yang paling sempurna dan Pemilik al hikmah yang paling tinggi. Kadar keutamaan bayan-Nya atas sekalian bayan hamba-Nya adalah seperti keutamaan-Nya atas sekalian makhluk-Nya.

Jika hal itu demikian, yang tidak dianggap fasih orang yang pembicaraannya tidak dipahami oleh lawan bicaranya, maka dapat dimaklumi bahwa tidak pantas bagi Allah untuk mengajak bicara seseorang kecuali dengan perkataan yang dapat dimengerti oleh orang yang bersangkutan. Tidaklah Allah mengutus seorang rasul pun kepada kaumnya kecuali dengan menggunakan bahasa kaumnya, karena jika utusan dan kaum yang mendapatkan pesan melalui utusan itu sama-sama tidak memahami isi pesan (baca; risalah), maka kondisi keduanya akan tetap sama, sebelum dan sesudah datangnya risalah tersebut, sehingga risalah yang dikirim pun tidak berguna sama sekali. Sungguh, Allah Maha Suci dari kesia-siaan semacam ini. Oleh karena itu, Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ
"Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya dia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka." (Qs. Ibrahim [14]: 4).

Allah berfirman kepada Rasul-Nya:

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

"Dan kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) imi, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (Qs. An-Nahl [16]: 64).

Dengan demikian, seseorang tidak boleh menjadi pembawa risalah petunjuk jika dia tidak memahami apa yang dibebankan kepadanya. Jadi, dan itu jelaslah bahwa setiap rasul yang diutus oleh Allah kepada kaumnya dan setiap Kitab yang diturunkan bersamanya, menggunakan bahasa kaumnya.

Jika lisan (bahasa) Muhammad adalah Arab maka jelas Al Qur'an yang diturunkan kepadanya menggunakan bahasa Arab, sebagaimana firman Allah ,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

"Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. "(Qs. Yuusuf [12]: 2).

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ، عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ، بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ
"Dan sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas." (Qs-Asy-Syu’araa' [26]: 192-195).

Jika yang kami katakan benar dan sesuai dalil-dalil yang telah kami sebutkan. maka sepantasnya makna-makna dalam Kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah sesuai dengan makna-makna perkataan Arab, dan dzahirnya sesuai dengan zhahir perkataannya, meskipun Kitabullah berbeda dengannya dalam hal keutamaan Jika hal itu demikian, maka jelas dalam perkataan Arab terdapat ijaz,(simpel), ikhtishar (singkat), penyembunyian, pengurangan, pemanjangan, dan pengulangan, kata khusus yang dimaksudkan umum, kata umum yang dimaksudkan khusus, kinayah yang dimaksudkan kejelasan, sifat yang dimaksudkan sesuatu yang disifati, sesuatu yang disifati yang dimaksudkan sifat, pendahuluan yang dimaksudkan pengakhiran, pengakhiran yang dimaksudkan pendahuluan, cukup dengan sebagian dari yang lain dan dengan yang nampak dari yang tersembunyi, dan menampakkan apa yang tersembunyi (bahwa dalam Kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad juga memiliki persamaan dan keserupaan).


Waktu Shalat
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya