Kitab Referensi

SIRAH NABAWIAH - SEJARAH LENGKAP KEHIDUPAN RASULULLAH صلي الله عليه وسلم

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy dahulu, saya tidak tahu pasti apakah itu sebelum atau setelah tahun gajah membuat bid'ah agama yang dinamakan Al-Humsu. Mereka berkata: "Kami adalah anak- anak keturunan Ibrahim, penduduk tanah haram penguasa Ka'bah, penjaga dan penghuni Mekkah. Tidak ada seorang Arabpun yang memiliki hak sebagaimana hak kami, tidak ada pula yang memiliki kedudukan seperti kedudukan kami, dan tidak ada yang lebih dikenal dari orang Arab yang melebihi kami. Karena itulah, janganlah mengagungkan sedikit pun dari tanah halal sebagaimana kalian mengagungkan tanah haram. Sebab jika kalian melakun itu, orang-orang Arab akan merendahkan kehormatan kalian." Mereka akan berkata: "Mereka telah telah mengagungkan yang halal sebagaimana mereka mengagungkan tanah haram."

Mereka tidak menunaikan wukuf di Arafah tidak juga bertolak darinya padahal mereka telah tahu dan mengakui bahwa wukuf di Arafah dan bertolak darinya adalah termasuk masyair, haji, dan sekaligus agama Ibrahim Alaihis Salam. Mereka berpandangan bahwa bagi semua orang non-Arab haruslah wukuf di Arafah dan harus bertolak daripadanya. Mereka berkata: "Kami penduduk tanah haram, karena itu kami terus berada di dalamnya dan kami tidak akan rela mengagungkan tanah halal seperti halnya mengagungkan tanah haram. Kami adalah Al-Humsu dan Al-Humsu adalah penduduk tanah haram." Kemudian mereka menentukan bahwa orang-orang Arab yang tinggal di tanah haram dan tanah mempunyai hak yang sama dengan mereka. Dengan kelahiran mereka maka dihalalkan apa yang dihalalkan buat mereka dan diharamkan atas mereka apa yang diharakan atas mereka.

Ibnu Ishaq berkata: Kinanah dan Khuza'ah masuk dalam kesepakatan dengan orang-orang Quraisy dalam bid'ah Al-Humsu ini.

Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah An-Nahwi berkata kepadaku, Bani Amir bin Sha'shaah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin sependapat dengan Quraisy dalam bid'ah Al-Humsu ini.

Yang dimaksud dengan Al-Ahamisu pada syair di atas adalah Bani Amir bin Sha'shaah.

Sedangkan Abbas yang dimaksud adalah Abbas bin Mirdas As-Sulami. Ia menyerbu Bani Zubayd di Tatslits. Bait syair di atas adalah penggalan dari syair Amr.

Pemicu terjadinya Perang Jablah adalah karena Bani Abas pada perang tersebut menjadi sekutu Bani Amir bin Sha'sha'ah. Perang Jablah adalah perang yang terjadi antara Bani Handzalah bin Malik bin Zaid bin Manat bin Tamim dengan Bani Amir bin Sha'sha'ah. Pada perang ini, kemenangan berada di pihak Bani Amir bin Sha'sha'ah atas Bani Handzalah. Laqith bin Zurarah bin Udas terbunuh, Hajib bin Zurarah bin Udas tertawan, dan Amr bin Amr bin Udas bin Zaid bin Abdullah bin Darim bin Malik bin Handzalah lari lintang pukang.

Bait syair di atas adalah potongan dari syair-syair Jarir.

Mereka berhadapan lagi di Dzu Najab. Pada perang tersebut, Handzalah berhasil menaklukkan Bani Amir. Sementara Hassan bin Muawiyah Al-Kindi, yang tak lain adalah putera Kabsyah tewas. Yazid bin Ash-Sha'iq tertawan, Ath-Thufail bin Malik bin Ja far bin Kilab Abu Amir bin Ath-Thufal terhempas mundur.

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy menciptakan banyak hal yang belum ada preseden sebelumnya. Bahkan mereka berkata: "Penduduk tanah suci Mekkah tidak boleh membuat mentega, tidak boleh memasak minyak selama mereka ihram, tidak memasuki rumah yang terbuat dari dedaunan, dan tidak berteduh kecuali d rumah-rumah dari kulit ketika mereka sedang ihram." Apa yang me-reka lakukan semakin menjadi-jadi dengan berkata: Penduduk tanah halal tidak boleh menyantap makanan yang mereka bawa dari tanah halal ke tanah haram jika mereka mau menunaikan ibadah haji atau umrah. Jika tiba di Mekkah mereka tidak boleh yang thawaf pertama kecuali dengan mengenakan pakai- an penduduk Hums (Mekkah). Jika ternyata tidak mendapatkan pakaian penduduk Mekkah, mereka thawaf di sekitar Ka'bah dengan cara telanjang. Jika di antara mereka terdapat orang dermawan; laki-laki atau perempuan dan tidak mendapatkan pakaian penduduk Mekkah kemudian ia thawaf dengan tetap memakai pakaiannya yang ia dibawa dari negeri asalnya, ia harus membuang pakaian tersebut usai thawaf, tidak boleh memanfaatkannya, tidak juga menyentuhnya baik dirinya atau- pun siapa pun selain dirinya untuk selama-lamanya."

Orang-orang Arab menyebut pakaian tersebut dengan Al-Laqa'. Mereka menerapkan aturan aneh ini kepada seluruh orang Arab, dan mereka pun patuh dengannya. Orang- orang Arab wukuf di Arafah, berangkat dari sana, dan thawaf di Ka'bah dengan telanjang. Laki-lakinya thawaf dengan telanjang bulat. Sedangkan para wanitnya, maka salah seorang dari mereka melorotkan seluruh pakaiannya kecuali yang berlubang di depan dan belakang, kemudian ia thawaf dengan pakaian tersebut. Seorang wanita Arab berkata ketika thawaf di Ka'bah dengan pakaian seperti ini:

الْيَوْمَ يَبْدُو بَعْضُهُ أَوْ كُلُّهُ ... وَمَا بَدَا مِنْهُ فَلَا أُحِلُّهُ

Pada hari ini, tampaklah sebagian atau semuanya
Apa yang tampak padanya, tidaklah aku halalkan

Siapa yang thawaf dengan mengenakan pakaian yang dibawanya dari daerah asalnya, maka setelah itu ia harus mencopotnya dan tidak memanfaatkannya baik dirinya atau orang lain. Salah seorang Arab berkata ketika ia ingat pakaiannya yang ditanggalkan dan dia tidak boleh mendekatinya setelah thawaf dengannya, padahal ia demikian menyukainya:

كفى جزنا كَرَّى عَلَيْهَا كَأَنَّهَا ... لَقًى بَيْنَ أَيْدِي الطَّائِفِينَ حَرِيمُ

Cukuplah ini sebuah kesedihan karena ku harus balik padanya
Karena ia laksana pakaian Al-Laqa yang ada di tangan orang-orang yang thawaf yang dimanfaatkan

Keadaan ini terus berlangsung lama sekian lama hingga Allah Taala mengutus Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebagai Nabi. Allah menurunkan wahyu kepada beliau ketika Dia kehendak memantapkan agama- Nya, dan mensyariatkan aturan-aturan haji-Nya:

ثُمَّ أَفِيضُواْ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ ٱلنَّاسُ وَٱسْتَغْفِرُواْ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Baqarah: 199).

Yang dimaksud dengan An-Naasu pada ayat itu adalah orang-orang Arab. Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menetapkan dalam sunnah haji untuk pergi ke Arafah, wukuf di sana, dan bertolak darinya.

Selain itu, Allah juga menurunkan ayat yang menyinggung aturan orang-orang Quraisy yang mengharamkan manusia makan dan berpakaian di Baitullah tatkala mereka thawaf dengan telanjang dan mengharamkan diri mereka memakan-makanan yang Allah halalkan. Allah Ta'ala berfirman:

۞ يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُواْ وَٱشْرَبُواْ وَلَا تُسْرِفُوٓاْ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ . قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِىٓ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَٱلطَّيِّبَٰتِ مِنَ ٱلرِّزْقِ ۚ قُلْ هِىَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih- lebihan. Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" Katakanlah: Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Al-A'raaf: 31-32).

Allah Ta'ala menghapus aturan Al-Humsu dan bid'ah yang diciptakan orang-orang Quraisy untuk manusia dengan agama Islam ketika Dia mengutus Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebagai Rasul-Nya.

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm berkata kepadaku dari Utsman bin Abu Sulaiman bin Jubair bin Muth'im dari pamannya, Nafi' bin Jubair dari ayahnya, Jubair bin Muth'im dimana dia berkata: "Aku melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam -sebelum ditu- runkannya kepada beliau-wukuf di atas untanya di Arafah hingga beliau berangkat pergi dari sana. Itulah petunjuk Allah kepada beliau. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesejahteraan yang berlimpah padanya dan para sahabatnya.

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya