Kitab Referensi

SIRAH NABAWIAH - SEJARAH LENGKAP KEHIDUPAN RASULULLAH صلي الله عليه وسلم

Ibnu Ishaq berkata: Sekembalinya dari Thaif, Rasulullah berjalan melintas di daerah Duhna kemudian singgah di Ji’ranah bersama para sahabatnya dan membawa tawanan dari kabilah Hawazin dalam jumlah besar. Salah seorang sahabat berkata kepada Rasulullah pada saat meninggalkan Tsaqif: "Wahai Rasulullah, doakan orang-orang Tsaqif agar mendapatkan kebinasaan." Rasulullah bersabda: "Ya Allah, berilah petunjuk kepada orang-orang Tsaqif dan bawalah mereka ke dalam Islam."

Utusan dari kabilah Hawazin datang kepada Rasulullah saat beliau berada di Al-Ji'ranah. Pada saat itu, Rasulullah membawa enam ribu orang tawanan kabilah Hawazin, anak-anak dan para wanita, serta unta dan kambing yang berjumlah banyak.

Ibnu Ishaq berkata: Amr bin Syuaib meriwayatkan kepadaku dari ayahnya dari kakeknya, Abdullah bin Amr, yang berkata bahwa utusan kabilah Hawazin datang kepada Rasulullah dan mereka telah masuk Islam. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kita berasal dari satu keturunan dan keluarga besar. Kami telah ditimpa petaka sebagaimana engkau ketahui. Oleh karena itu, berilah kami pertolongan, semoga Allah memberimu pertolongan."

Salah seorang utusan kabilah Hawazin dari Bani Sa'ad bin Bakr bernama Zuhair yang biasa dipanggil Abu Shurad berdiri seraya berkata: "Wahai Rasulullah, di tempat penampungan para tawanan terdapat bibi-bibimu dari jalur ayah, bibi-bibimu dari jalur ibu, dan wanita-wanita yang biasa menyusui yang dahulu pernah mengasuhmu. Jika kami (istri-istri atau orang tua kami perempuan) menyusui Al- Harits bin Abu Syamr atau An-Nu'man bin Al-Mundzir, kemudian kami ditimpa petaka sebagaimana yang menimpanya, maka kami mengharapkan belas kasihan dan pertologannya kepada kami. Dan kami tahu bahwa engkau merupakan anak asuh yang paling baik."

Ibnu Hisyam mengatakan: dalam riwayat lain dikatakan, Andaikata kami menyusui Al-Harits bin Syamir atau An-Nu'man bin al-Mundzir.

Ibnu Ishaq berkata: Amr bin Syuaib meriwayatkan kepadaku dari ayahnya dari kakeknya, Abdullah bin Amr, ia berkata: Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada utusan kabilah Hawazin: "Manakah yang lebih kalian cintai; anak-anak dan para wanita, atau harta benda kalian?" Utusan kabliah Hawazin berkata: "Wahai Rasulullah, engkau menyuruh kami memilih antara anak keturunan dengan harta kami? Kembalikanlah para wanita dan anak-anak kami, karena mereka lebih kami cintai dari pada yang lain." Rasulullah bersabda kepada utusan kabilah Hawazin: "Jatahku dan jatah Bani Abdul Muthalib menjadi milik kalian. Setelah aku mengerjakan shalat Zhuhur ber- sama kaum Muslimin, maka berdirilah dan katakan: "Kami meminta pembelaan kepada Rasulullah dalam menghadapi kaum Muslimin dan meminta pembelaan kaum Muslimin dalam menghadapi Rasulullah dalam urusan wanita dan anak-anak kami.' Niscaya saat itu permintaan kalian akan aku kabulkan dan aku akan meminta untuk kalian."

Seusai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunaikan shalat Zhuhur bersama kaum Muslimin, utusan Hawazin itu berdiri dan berkata sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah. Kaum Muhajirin berkata: "Jatah kami menjadi milik Rasulullah." Kaum Anshar berkata: "Jatah kami juga menjadi milik Rasulullah." Al-Aqra' bin Habis berkata: "Adapun jatahku dan jatah Bani Tamim tidak menjadi milik Rasulullah." Uyainah bin Hishn berkata: "Jatahku dan jatah Bani Fazarah juga tidak menjadi milik Rasulullah." Abbas bin Mirdas berkata: "Jatahku dan jatah Bani Sulaim tidak menjadi milik Rasulullah.” Bani Sulaim berkata: "Oh, tidak demikian, jatah kami menjadi milik Rasulullah." Abbas bin Mirdas berkata kepada Bani Sulaim: "Kalian telah melemahkan posisiku."

Rasulullah bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian tetap mempertahankan haknya atas tawanan ini, maka ia berhak atas enam bagian dari setiap tawanan; mulai dari tawanan yang pertama kali aku dapatkan." Orang-orang pun menyerahkan para tawanan anak dan wanita kepada utusan kabilah Hawazin.

Ibnu Ishaq berkata: Abu Wajzah bin Yazid bin Ubaid As-Sa'di meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah memberi hadiah kepada Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu seorang budak wanita bernama Raithah binti Hilal bin Hayyan bin Umairah bin Hilal bin Nashirah bin Qushaiyyah bin Nashr bin Sa'ad bin Bakr, dan memberi Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu seorang seorang budak wanita bernama Zainab binti Hayyan bin Amr bin Hayyan, serta memberi Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu seorang budak wanita yang kemudian diberikan kepada putranya, Abdullah bin Umar.

Ibnu Ishaq berkata: Nafi' mantan budak Abdullah bin Umar meriwayatkan kepadaku dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata: Aku pergi membawa budak wanita hadiah tersebut kepada paman-pamanku dari jalur ibu di Bani Jumah, agar mereka mendandaninya untukku, karena saat itu aku hendak melakukan thawaf dan sesudahnya aku kembali kepada mereka. Aku ingin menggauli budak wanita itu setelah aku melaksanakan thawaf. Seusai thawaf, aku keluar dari Masjidil Haram dan orang-orang berlarian. Aku bertanya kepada mereka: “Apa yang terjadi dengan kalian." Mereka menjawab: "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengembalikan para wanita dan anak-anak kepada kami." Aku berkata: "Salah seorang budak wanita kalian kini berada di Bani Jumah, maka pergilah kepada mereka dan ambillah dia." Mereka pun pergi ke Bani Jumah dan mengambil budak wanita tersebut.

Ibnu Ishaq berkata: Adapun Uyainah bin Hishn, ia mengambil wanita tua dari kabilah Hawazin. Pada saat mengambil wanita itu, Uyainah binti Hishn berkata: "Aku menyakiskan wanita ini sudah tua dan aku berharap ia memiliki keluarga. Semoga uang tebusannya besar." Pada waktu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengembalikan para tawanan wanita dengan memberi ganti enam bagian kepada orang yang berhak mendapatkannya, Uyainah bin Hishn menolak mengembalikan wanita tua itu. Lalu Zuhair Abu Shurad berkata kepada Uyainah bin Hishn: "Ambillah wanita tersebut. Demi Allah, mulutnya tidak lagi dingin, payudaranya sudah tidak lagi berisi, perutnya tidak lagi bisa mengandung, suaminya sudah tidak sedih berpisah dengannya dan air susunya tidak banyak." Uyainah bin Hishn pun mengembalikan wanita tua tersebut ketika Zuhair Abu Shurad mengatakan itu kepadanya dan mendapat ganti enam bagian.

Para ulama berpendapat bahwa Uyainah bin Hishn bertemu Al-Aqra' bin Habis dan mengadukan masalah tersebut. Lalu Al-Aqra' bin Habis berkata kepada Uyainah bin Hishn: "Demi Allah, mengapa engkau tidak mengambil wanita yang putih, muda belia, dan montok?."

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya