Kitab Referensi

SIFAT SHAUM NABI صلي الله عليه وسلم FII RAMADHAN

1. Hukum Zakat Fithri

Zakat Fithri ini (hukumnya) wajib berdasarkan hadits (dari) Ibnu Umar رضى الله عنهما: 

رَضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ

"Rasulullah صلی الله عليه وسلم mewajibkan zakat fithri (pada bulan Ramadhan kepada manusia)"1 

Juga berdasarkan hadits Ibnu Abbas رضى الله عنهما:

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ

“Rasulullah صلی الله عليه وسلم mewajibkan zakat fithri" 2 

Sebagian Ahul ilmi menyatakan bahwa zakat fithri telah mansukh oleh hadits Qais bin Sa'ad bin Ubadah, berkata : "Rasulullah صلی الله عليه وسلم memerintahkan kami dengan shadaqah fithri sebelum diturunkan (kewajiban) zakat dan tatkala diturunkan (kewajiban) zakat beliau tidak memerintahkan kami dan tidak pula melarang kami, tetapi kami mengerjakannya (mengeluarkan zakat fithri)". 

Al-Hafidz رحمه الله menjawab sangkaan tersebut dengan perkataannya 3/368: "Bahwa pada sanadnya ada seorang rawi yang tidak dikenal3 dan kalaupun dianggap shahih tidak ada dalil yang menunjukkan atas naskh (dihapusnya) hadits Qais yang menunjukkan wajibnya zakat fithri, mungkin Rasulullah صلی الله عليه وسلم mencukupkan dengan perintah yang pertama, karena turunnya suatu kewajiban tidaklah menggugurkan kewajiban yang lain". 

Imam Al-Kahthabiy رحمه الله berkata dalam Ma'alimus Sunnan 2/214 : "Ini tidak menunjukkan hilangnya kewajiban zakat fithri, tetapi hanya menunjukkan tambahan dalam jenis ibadah, tidak mengharuskan dimansukhnya hukum sebelumnya, kedudukan zakat harta (sebagaimana) kedudukan zakat fithri (yaitu) berkaitan dengan riqab (orang-perorang/jiwa)"

2. Siapa Yang Wajib Zakat Fithri?

Zakat fithri wajib atas kaum muslimin, anak kecil, besar, laki-laki, perempuan, orang yang merdeka maupun hamba. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Umar رضى الله عنهما.  "

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ

“Rasulullah صلی الله عليه وسلم mewajibkan zakat fithri sebanyak satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandum atas hamba dan orang yang merdeka, kecil dan besar dari kalangan kaum muslimin" (HR. Bukhari 3/291 dan Muslim 984) 

Sebagian ahlul ilmi ada yang mewajibkan zakat fithri pada hamba yang kafir karena hadits Abu Hurairah رضي الله عنه.  "Hamba tidak ada zakatnya kecuali zakat fithri" (HR. Muslim 982).  Hadits ini umum sedang hadits Ibnu Umar khusus, sudah maklum hadits khusus jadi penentu hadits umum.

Sedangkan ulama lainnya berkata. "Tidak wajib atas orang yang puasa karena hadits Ibnu Abbas رضى الله عنهما: 

فَرَضَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ اَلْفِطْرِ; طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اَللَّغْوِ, وَالرَّفَثِ, وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

"Rasulullah صلی الله عليه وسلم mewajibkan zakat fithri, pensuci bagi orang yang puasa dari perbuatan sia-sia, yang jelek dan (memberi) makanan bagi orang miskin" (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah) 

Imam Al-Khathabiy dalam Ma'alimus Sunan 3/214 menegaskan : "Zakat fithri wajib atas orang yang puasa yang kaya atau orang fakir yang mendapatkan makanan dari dia, jika illat diwajibkannya karena pensucian, maka seluruh orang yang puasa butuh akan hal itu, jika berserikat dalam 'illat berserikat pula dalam hukum".

Al-Hafidz menjawab 3/369: "Pensucian disebutkan untuk menghukumi yang dominan, zakat fithri diwajibkan pula atas orang yang tidak berpuasa seperti diketahui keshahihannya atau orang yang masuk Islam sesaat sebelum terbenamnya matahari".  Sebagian lagi berpendapat bahwa zakat fithri wajib juga atas janin, tetapi kami tidak menemukan dalil akan hal itu, karena janin tidak bisa disebut sebagai anak kecil atau besar, baik menurut masyarakat maupun istilah.

3. Jenis Makanan untuk Zakat Fithri

Zakat Fithri dikeluarkan berupa satu sha’ (± 2,5 liter) gandum, satu sha’ korma, satu sha’ susu, satu sha’ anggur kering atau salt, karena hadits Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه. 

كُنَّا نُعْطِيهَا فِي زَمَانِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم صَاعًا مِنْ طَعَامٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

"Kami mengeluarkan zakat pada zaman Rasulullah صلی الله عليه وسلم satu sha’ (gantang) makanan, satu sha’ gandum, satu sha’ korma, satu sha’ susu kering, satu sha’ anggur kering" (HR. Bukhari 3/294 dan Muslim 985) 

Juga didasarkan pada hadits Ibnu Umar رضى الله عنهما, dia bercerita Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

فَرَضَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ سَلَتٍ  

"Zakat fithri diwajibkan satu sha’ gandum, satu sha’ korma dan satu sha’ salt"1  

Telah ikhtilaf (perbedaan pendapat) dalam tafsir lafadz ath-tha’am (makanan) dalam hadits Abu Said Al-Khudri ada yang bilang hinthah (gandum yang bagus) ada yang bilang selain itu, namun yang paling kuat (yang membuat hati ini tenang) lafadz di atas mencakup seluruh yang dimakan termasuk hinthah dan jenis lainnya, tepung dan adonan, semuanya telah dilakukan oleh para sahabat berdasarkan hadits Ibnu Abbas رضى الله عنهما.  "Rasulullah صلی الله عليه وسلم menyuruh kami untuk mengeluarkan zakat Ramadhan satu sha’ makanan dari anak kecil, besar, budak dan orang yang merdeka. Barangsiapa yang memberi salt (sejenis gandum yang tidak berkulit) akan diterima, kau mengira beliau berkata, "Barangsiapa yang mengeluarkan berupa tepung akan diterima, barangsiapa yang menerima berupa adonan diterima"2   

Dan beliau صلی الله عليه وسلم bersabda.  "Zakat Fithri satu sha’ makanan, barangsiapa yang membawa gandum diterima, yang membawa korma diterima, yang membawa salt (gandum yang tidak berkulit) diterima, yang membawa anggur kering diterima, aku mengira beliau berkata : "Yang membawa adonan diterima"3  

Adapun hadits-hadits yang menafikan adanya hinthah (gandum) atau bahwasanya Muawiyah رضي الله عنه berpendapat untuk mengeluarkan dua mud dari samara (gandum) Syam, dan bahwa satu mud hinthah sebanding, ini dimungkinkan karena jarangnya dan banyaknya jenis lain, atau karena jenis-jenis hinthah itu melebihi yang ada di sini. Ini dikuatkan oleh perkataan Abu Sa'id: "Dulu makanan kami adalah gandum, anggur kering, susu yang dikeringkan dan korma"4   

Yang membantah seluruh dalil orang yang menyelisihi kita adalah satu pembahasan yang akan datang ketika menjelaskan takaran zakat fithri, menurut hadits-hadits shahih yang menegaskan adanya hinthah bahwa dua mud hinthah sama dengan satu sha’ anggur, agar kaum muslimin yang mendudukan sahabat sesuai dengan kedudukan mereka, bahwa pendapat Mu'awiyah bukanlah ijtihad hasil pikiran sendiri, tetapi berdasarkan hadist marfu' sampai kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم.

4. Ukuran Zakat Fithri

Seorang muslim diperbolehkan zakat fithri sesuai dengan jenis yang disebutkan tadi, mereka ikhtilaf tentang hinthah, ada yang mengatakan setengah sha’ ini yang rajih (kuat), dan yang paling shahih berdasarkan sabda Rasulullah صلی الله عليه وسلم.

أَدُّوا صَاعًا مِنْ بُرٍّ أَوْ قَمْحٍ بَيْنَ اثْنَيْنِ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ وَعَبْدٍ وَصَغِيرٍ وَكَبِيرٍ

"Tunaikanlah satu sha’ gandum atau korma, untuk dua orang atau satu sha’ dari gandum atas orang merdeka, hamba, anak kecil atau dewasa"1  

sha’ yang teranggap adalah sha’-nya penduduk Madinah, berdasarkan hadits Ibnu Umar رضى الله عنهما, dia bercerita Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

الْوَزْنُ وَزْنُ أَهْلِ مَكَّةَ وَالْمِكْيَالُ مِكْيَالُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ

"Timbangan yang teranggap adalah timbangannya Ahlu Mekah, dan takaran yang teranggap adalah takarannya-nya orang Madinah" 2

5. Siapakah Yang Harus Dibayar Zakatnya?

Seorang muslim harus mengeluarkan zakat fithri untuk dirinya dan seluruh orang yang dibawah tanggungannya, baik anak kecil ataupun orang tua laki-laki dan perempuan, orang yang merdeka dan budak, berdasarkan hadits Ibnu Umar رضى الله عنهما : "Kami diperintah oleh Rasulullah صلی الله عليه وسلم (mengeluarkan) shadaqah fithri atas anak kecil dan orang tua, orang merdeka dan hamba yang menjadi tanggungan"1 

6. Kemana Zakat Fithri Disalurkan

Zakat fithri tidak boleh diberikan kecuali kepada orang yang berhak menerimanya, mereka adalah orang-orang miskin berdasarkan hadits Ibnu Abbas رضى الله عنهما. "Rasulullah صلی الله عليه وسلم zakat fithri sebagai pembersih (diri) bagi yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perbuatan kotor dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin"1

Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam di dalam Majmu' Fatawa 2/71-78 serta murid beliau Ibnul Qayyim pada kitabnya yang bagus Zaadul Ma'ad 2/44. 

Sebagian Ahlul ilmi berpedapat bahwa zakat fithri diberikan kepada delapan golongan, tetapi (pendapat) ini tidak ada dalilnya. Dan Syaikhul Islam telah membantahnya pada kitab yang telah disebutkan baru saja, maka lihatlah ia, karena hal tersebut sangat penting.

Termasuk amalan sunnah jika ada seseorang yang bertugas mengumpulkan zakat tersebut (untuk dibagikan kepada yang berhak, -pent). Sungguh Nabi صلی الله عليه وسلم telah mewakilkan kepada Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah mengkhabarkan kepadaku agar aku menjaga zakat Ramadhan" (HR. Bukhari 4/396) 

Dan sungguh dahulu pernah Ibnu Umar رضي الله عنهما mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang menangani zakat dan mereka adalah panitia yang dibentuk oleh Imam (pemerintah-pent) untuk mengumpulkannya. Beliau (Ibnu Umar) mengeluarkan zakatnya satu hari atau dua hari sebelum Idul fithri, dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 4/83 dari jalan Abdul Warits dari Ayyub, aku katakan: "Kapankah Ibnu Umar mengeluarkan satu sha’ ?" Berkata Ayyub: "Apabila amil (petugas pengumpul zakat) telah duduk (bertugas)". Aku katakan: 'Kapankah petugas itu mulai bertugas?" Beliau menjawab: "Satu hari atau dua hari sebelum Idul Fithri".

7. Waktu Penunaian Zakat Fithri

Zakat fithri ditunaikan sebelum orang-orang keluar (rumah) menuju shalat 'Id1 dan tidak boleh diakhirkan (setelah) shalat atau dimajukan penunaiannya, kecuali satu atau dua hari (sebelum Id) berdasarkan riwayat perbuatan Ibnu Umar رضى الله عنهما berdasarkan kaidah rawi hadits diketahui dengan makna riwayat dan apabila penunaian zakat itu diakhirkan (setelah) shalat maka dianggap sebagai shadaqah berdasarkan hadits Ibnu Abbas رضى الله عنهما :

فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ اَلصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ, وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ اَلصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ اَلصَّدَقَاتِ

" ... Barangsiapa yang menunaikan zakatnya sebelum shalat maka dia adalah zakat yang diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka dia adalah merupakan suatu shadaqah dari beberapa shadaqah biasa" (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

8. Hikmah Zakat Fithri

Allah Ta'ala mewajibkan zakat sebagai penscucian diri bagi orang-orang yang berpuasa dari (perbuatan) sia-sia dan kotor serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin untuk mencukupi (kebutuhan) mereka pada hari yang bagus tersebut berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas رضى الله عنهما yang telah lalu.  

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya