Kitab Referensi

Aina Anta Min Fi'lis Sunnah - Azhari Ahmad mahfud

JANGAN TINGGALKAN SUNNAH

Wahai orang yang sangat berkeinginan kepada apa yang bermanfaat baginya. Wahai orang yang mencari karunia Allah Ta’ala yang banyak. Perbaikilah dirimu, dan merenunglah bersamanya dengan jujur guna meluruskannya.

Apakah engkau telah meneliti keadaanmu pada hari ini; lalu engkau berkata kepada dirimu: di manakah aku dari melaksanakan Sunnah-sunnah?!

Sunnah! Syi’ar orang-orang yang beruntung, dan tanda orang-orang yang benar!

Tahukah engkau, apakah Sunnah itu?!

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata mengenai definisinya, “Sunnah ialah apa yang datang dari Nabi berupa perkataan, perbuatan, taqrir (persetujuan), dan apa yang beliau hasratkan untuk beliau lakukan.”

Saudaraku sesama muslim!

Keutamaan Sunnah itu telah dikenal orang-orang shalih, dan ditempuh orang-orang ikhlas. Karena keutamaannya, Nabi berwasiat di akhir hayatnya agar berpegang teguh dengannya, dan berpegang kuat dengan talinya.

Dari al-Irbadh bin Sariyah, ia berkata, Rasulullah mengimami kami shalat pada suatu hari, kemudian menghadapkan wajahnya ke arah kami, lalu memberi nasihat kepada kami dengan nasihat yang sangat mendalam, yang menyebabkan mengalirnya air mata, dan hati gemetar karenanya. Maka seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, seolah-olah ini nasihat orang yang akan berpisah, maka berwasiatlah kepada kami."

Beliau bersabda:

أوصيكم بتقوى الله، والسمع والطاعة، وإن كان عبدًا حبشيًا، فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافًا كثيرًا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة

"Aku berwasiat kepada kalian supaya bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan patuh, sekalipun orang (yang memimpin kalian) itu seorang hamba Habasyi. Sesungguhnya barang siapa yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpeganglah dengan Sunnahku dan Sunnah al-Khulafa' ar-Rasyidin al-Mahdiyyin. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan keras dan erat. Hati-hatilah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.[1]

Ibnu ‘Aun berkata, “Ada tiga perkara yang aku sukai untuk diriku dan saudara-saudaraku:

  1. Sunnah ini yang mereka pelajari dan mereka tanyakan,
  2. Al-Qur-an yang mereka pahami dan mereka tanyakan, dan
  3. Mereka meninggalkan manusia kecuali dari kebaikan.”

Saudaraku sesama muslim!

Sunnah adalah bukti kebenaran mutaba'ah (ikut) dan cintamu kepada Nabi . Lalu apakah yang telah engkau lakukan di dalamnya?!

Mengerjakan Sunnah-sunnah adalah perhiasan amal shalih, dan keindahannya yang menawan. Karena itu, orang-orang yang memelihara Sunnah-sunnah adalah orang yang paling sempurna amalnya, dan paling dekat kepada kebenaran.

Anda tidak dapati pengikut Sunnah pun melainkan ia senantiasa berusaha menggapai derajat tertinggi dalam amal shalih.

Karena itu para Sahabat adalah orang yang paling sempurna jalannya, dan paling benar dalam mengikuti Nabi .

Ibnu Mas’ud berkata, “Barang siapa yang ingin mencontoh maka contohlah orang yang sudah mati, karena orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah. Mereka adalah Sahabat Rasulullah, mereka adalah sebaik-baik umat ini; yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling sedikit memaksakan diri. Allah Azza wa Jalla telah memilih mereka untuk menyertai Nabi-Nya, dan menegakkan agama-Nya. Karena itu, kenalilah keutamaan mereka, ikutilah atsar mereka, dan berpegang teguhlah dengan akhlak dan sirah mereka menurut kesanggupan kalian, karena mereka berada di atas jalan yang lurus.”

Jadi, kita sekarang berada pada zaman yang banyak orang meninggalkan Sunnah-sunnah, baik karena kejahilan maupun karena berpaling. Sampai-sampai banyak dari rambu-rambu Sunnah yang terkikis, dan agama bagi banyak orang menjadi perkara yang diwariskan secara turun temurun, dan mereka tidak beranjak darinya.

Bentuk ketidaksukaan manusia dari Sunnah-sunnah, ialah menjauh dari mempelajarinya dan jauh dari bertanya mengenainya. Sementara orang yang mengetahui sesuatu darinya di antara mereka, engkau lihat ia tidak berkeinginan untuk mengamalkannya.

Betapa mengherankannya orang yang menyembah Allah Ta’ala dengan tanpa ajaran dan petunjuk dari Sunnah Nabi! Dari manakah orang ini bisa digolongkan sebagai orang-orang yang mendapatkan petunjuk?!

Rasulullah bersabda:

تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما؛ كتاب الله، وسنة رسوله

Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh dengan keduanya: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.[2]

Ibnu Baththal berkata, “Tiada perlindungan bagi seorang pun kecuali dalam kitabullah, Sunnah Rasulullah, atau dalam ijma ulama menurut pengertian salah satu dari keduanya.”

Apakah engkau, wahai saudaraku, termasuk orang-orang yang suka mengerjakan Sunnah-sunnah?! Ataukah termasuk orang-orang yang meremehkan dalam melakuku Sunnah-sunnah?!

Tanyakanlah hal itu kepada dirimu sendiri, dan simpanlah jawabannya! Sebab engkau tidak akan melampaui salah satu dari dua golongan tersebut.

Perkara paling berbahaya berkenaan dengan berpaling dari Sunnah-sunnah bahwa jika manusia berpaling dari Sunnah-sunnah, maka posisi Sunnah-sunnah itu ditempat bid’ah-bid’ah dan perkara-perkara yang diada-adakan. Ini bisa dilihat dalam realitas banyak dari kaum Muslimin.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Tidak datang satu tahun pun kepada manusia melainkan mereka mengadakan satu bid’ah di dalamnya dan mematikan Sunnah, hingga bid’ah-bid’ah hidup dan Sunnah-sunnah mati.”

Luqman bin Abi Idris al-Khaulani berkata, “Tidaklah suatu umat mengadakan bid’ah dalam agamanya melainkan berakibat Sunnah dicabut dari mereka.”

Sungguh Sunnah-sunnah pada zaman ini telah menjadi sangat asing, hingga banyak orang ketika melihat Sunnah mereka mengingkarinya. Akibatnya bagi mereka, Sunnah menjadi bid’ah dan bid’ah menjadi Sunnah.

Ibnu Mas’ud benar ketika menyifati keadaan mereka pada saat ia mengatakan, “Bagaimana dengan kalian, ketika kalian diliputi fitnah yang ketika orang dewasa menjadi tua renta dan anak-anak tumbuh dewasa. Maka orang-orang berjalan di atasnya karena menganggapnya Sunnah. Jika dirubah dan selainnya diamalkan, maka dikatakan: ini kemungkaran.”

Saudaraku sesama muslim!

Jika engkau ingin mengilustrasikan dengan sebenarnya tentang keasingan Sunnah pada zaman ini, mari kita bersama merenungkan kata-kata dibawah ini.

Abu ad-Darda’ berkata, “Seandainya Rasulullah keluar kepada mereka, niscaya beliau tidak mengenali sedikit pun dari apa yang telah beliau dan para sahabat lakukan kecuali shalat.”

Dari Anas bin Malik , ia berkata, “Aku tidak mengenali dari kalian apa yang dulu aku lakukan pada masa Rasulullah kecuali ucapan kalian: Laa ilaaha illallaah!” Kami menimpali, “Tidak, wahai Abu Hamzah.” Ibnu Mas’ud berkata, “Kalian mengerjakan shalat hingga matahari terbenam! Apakah itu shalat Rasulullah?!”

Maimun bin Mahran berkata, “Seandainya seorang dari salaf dibangkitkan di tengah kalian, niscaya ia tidak mengenali kecuali kiblat ini.”

Orang-orang yang mulia itu mengingkari keadaan manusia dan mengabarkan duka cita kepada mereka tentang keasingan Sunnah-sunnah pada zaman ketika agama masih kuat dan nafas-nafasnya bercampur dengan petunjuk pertama! Maka bagaimana halnya ketika mereka mengetahui zaman kita?!

Pertimbangkanlah hal itu, hingga engkau mengetahui apa yang dilakukan manusia pada zaman ini berupa jauh dari Sunnah.

Sampai-sampai orang yang berpegang teguh dengan Sunnah-sunnah itu menjadi asing dan terbuang dari komunitas mereka! Ini sejalan dengan apa yang disampaikan Rasulullah lewat sabdanya:

يأتي على الناس زمان الصابر فيهم على دينه كالقابض على الجمر!

"Akan datang pada manusia suatu zaman yang ketika itu orang yang bersabar di antara mereka atas perkara agamanya seperti orang yang menggenggam bara api." [3]

Dalam suatu riwayat:

يأتي على الناس زمان المتمسك فيه بسنتي عند اختلاف أمتي كالقابض على الجمر!

“Akan datang pada manusia suatu zaman yang ketika itu orang yang berpegang teguh dengan Sunnahku, ketika umatku berselisih, seperti orang yang menggenggam bara api.”[4]

Sungguh Nabi memisalkan gangguan yang ditemui orang-orang yang berpegang teguh dengan Sunnah seperti orang yang menggenggam bara api.

Ini adalah pernyataan yang paling mendalam untuk mengilustrasikan fenomena orang-orang yang berpegang teguh dengan Sunnah. Ini berisikan hiburan bagi mereka, dan perintah supaya berpegang teguh pada Sunnah; hingga tekad mereka tidak menjadi kendur karena gangguan yang mereka dapati dalam perkara itu. Ini adalah isyarat yang mencengangkan dari sabda Nabi , dan ini termasuk jawami' kalim (kata-kata yang ringkas tapi padat makna) beliau.

Duhai orang yang diberi Allah Ta’ala anugerah untuk melakukan Sunnah-sunnah, janganlah engkau dilemahkan oleh pendapat yang lemah, dan janganlah tekadmu digoyahkan oleh godaan para penyesat.

Wahai orang yang berkeinginan untuk melakukan Sunnah-sunnah, janganlah kebohongan orang-orang yang sesat dapat menghalangimu darinya.

Sebab, jika engkau telah diberi taufik kepadanya, maka sungguh engkau telah berpegang teguh dengan dasar yang sangat besar, dan engkau telah berlindung dengan benteng yang sangat kokoh.

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Tempuhlah jalan kebenaran, dan jangan merasa kesepian karena sedikitnya orang yang menempuh jalan itu."

Hisablah dirimu dan biasakanlah untuk melakukan Sunnah-sunnah. Janganlah bersikap seperti bunglon (tidak punya pendirian), dengan mengatakan, “Aku bersama orang banyak!”

Jangan hiraukan pendapat orang; karena mencari keridhaan makhluk adalah tujuan yang tidak akan tercapai. Karena itu jadikanlah keinginan itu satu, dan berlaku jujurlah bersama Allah, maka Dia menyampaikanmu kepada harapanmu, dan menghinakan musuhmu.

Saudaraku sesama muslim!

Apakah engkau termasuk orang-orang yang sangat berkeinginan untuk mengetahui Sunnah-sunnah dan mempelajarinya?!

Sungguh orang-orang terdahulu dari Salaf umat ini sangat berkeinginan untuk mengetahui Sunnah Nabi mereka. Berikut ini aku kemukakan kepadamu kisah ini dari salah seorang dari mereka yang menunjukkan atas hal itu.

Dari Ibnu 'Abbas bahwa ia menginap di rumah Maimunah, bibinya.

فاضطجعت في عرض وسادة، واضطجع رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأهله في طولها، فنام حتى انتصف الليل أو قريبًا منه، فاستيقظ يمسح النوم عن وجهه، ثم قرأ عشر آيات من آل عمران، ثم قام رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلى شنٍّ معلقة، فتوضأ فأحسن الوضوء، ثم قام يصلي، فصنعت مثله، فقمت إلى جنبه، فوضع يده اليمنى على رأسي، وأخذ بأذني يفتلها، ثم صلى ركعتين، ثم ركعتين، ثم ركعتين، ثم ركعتين، ثم ركعتين، ثم ركعتين، ثم أوتر، ثم اضطجع حتى جاء المؤذن، فقام فصلى ركعتين، ثم خرج فصلى الصبح

Aku berbaring pada sisi bantal, sedang Rasulullah dan istrinya tidur pada bagian atasnya. Beliau tidur hingga separuh malam atau hampir separuh malam, lalu beliau bangun seraya mengusap tidur dari wajahnya, kemudian beliau membaca sepuluh ayat dari surat Ali Imran. Kemudian beliau bangkit menuju bejana tergantung, lalu beliau berwudhu dengan sempurna, kemudian beliau berdiri mengerjakan shalat. Aku juga melakukan hal yang semisalnya, lalu aku berdiri di sampingnya, maka beliau meletakkan tangan kanannya pada kepalaku, dan menjewer telingaku. Kemudian beliau mengerjakan shalat dua raka’at, dua raka’at, dua raka’at, dua rakaat, dua raka’at, dua raka’at, kemudian melaksanakan Witir, kemudian beliau berbaring hingga datang muadzdzin, lalu beliau shalat dua raka’at, kemudian beliau keluar untuk melaksanakan shalat Shubuh.[5]

Saudaraku sesama muslim!

Sungguh Ibnu ‘Abbas pada saat menyaksikan hal itu masih anak-anak, tapi kemauannya mendorongnya untuk belajar dari Nabi . Maka tidak heran bila kelak ia menjadi Habarul Ummah (ulama umat) dan Turjumanul Qur'an (juru bicara al-Qur-an).

Karena itu, hisablah dirimu, dan berusahalah mengetahui di manakah posisimu dan bumi Sunnah-sunnah?!

Jika engkau ingin mengoreksi dirimu mengenai hal itu, maka baliklah semua halaman bukumu, agar engkau tahu apakah engkau termasuk orang-orang yang berkeinginan untuk melakukan Sunnah-sunnah?!


APAKAH ENGKAU MENCUKUR JENGGOTMU?

Nabi bersabda:

أحفوا الشوارب، وأعفوا اللحى

"Tipiskanlah kumis, dan biarkanlah jenggot"[6]


APAKAH ENGKAU MEMENDEKKAN PAKAIANMU (TIDAK ISBAL)?

Rasulullah bersabda

إزرة المسلم إلى نصف الساق، ولا حرج - أو: لا جناح - فيما بينه وبين الكعبين، ما كان أسفل من الكعبين فهو في النار، من جر إزاره بطرًا لم ينظر الله إليه

"Kain sarung orang muslim itu hingga separuh betisnya, dan tidak ada dosa pada apa yang ada di antara separuh betis itu dengan mata kaki. Apa yang ada di bawah mata kaki, maka itu berada di Neraka. Barangsiapa menyeret kain sarungnya karena kesombongan, maka Allah tidak memandangnya."[7]


APAKAH ENGKAU TERMASUK ORANG YANG MENJAGA SHALAT-SHALAT SUNNAH?

Dari Ummul Mukminin , ia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda:

من صلى اثنتي عشرة ركعة في يومٍ وليلة، بُنِي له ِبهنَّ بيت في الجنة! قالت أم حبيبة: فما تركتهن منذ سمعتهن من رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وقال عنبسة: فما تركتهن منذ سمعتهن من أم حبيبة، وقال عمرو بن أوس: ما تركتهن منذ سمعتهن من عنبسة، وقال النعمان بن سالم: ما تركتهن منذ سمعتهن من عمرو بن أوس

Barang siapa yang mengerjakan shalat dua belas raka’at dalam sehari semalam, maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di Surga, yaitu: empat raka’at sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua raka’at setelah Maghrib, dua raka’at setelah Isya, dan dua raka’at sebelum shalat Shubuh.” Ummu Habibah berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengarnya dari Rasulullah.” Anbasah -salah seorang perawi hadits ini- berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengarnya dari Ummu Habibah.” ‘Amr bin Aus berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengarnya dari Anbasah.” An-Nu’man bin Salim berkata, “Aku tidak pernah meninggalkannya sejak aku mendengarnya dari ‘Amr bin Aus.”[8]

Saudaraku sesama muslim!

Ambillah bagianmu dari shalat-shalat sunnah; karena ia adalah sebaik-baik perbendaharaan yang engkau simpan untuk hari yang engkau butuhkan kelak.


APAKAH ENGKAU TERMASUK ORANG YANG MENGERJAKAN SHALAT SEBAGAIMANA SHALAT NABI ?

Nabi telah mengajarkan kepada para sahabatnya tata cara shalat dan memerintahkan mereka agar mengerjakan shalat sebagai shalatnya, dan beliau sangat menekankan hal itu. Tapi kendati demikian, banyak orang yang tidak bersemangat untuk mengerjakan shalat sebagaimana shalat yang dikerjakan Nabi .


APAKAH ENGKAU TERMASUK ORANG YANG BERKEINGINAN UNTUK MELURUSKAN SHAFF DALAM SHALAT?

Meluruskan shaff dalam shalat merupakan Sunnah agung yang diperintahkan Nabi . Bahkan, ada ancaman dari Beliau terhadap orang yang tidak meluruskan shaff.

Rasulullah bersabda:

سووا صفوفكم، وحاذوا بين مناكبكم، ولِينُوا في أيدي إخوانكم، وسدوا الخلل، فإن الشيطان يدخل فيما بينكم بمنزلة الحذف

Luruskanlah shaff kalian, sejajarkan di antara pundak-pundak kalian, berlaku lunaklah pada tangan saudara-saudara kalian, dan tutuplah celah, karena syaitan masuk di antara kalian tidak ubahnya anak kambing.[9]

Nabi bersabda:

لَتُسَوُّنَّ صفوفكم، أو ليخالفن الله بين وجوهكم!

Hendaklah kalian meluruskan shaff kalian, atau Allah akan membuat wajah-wajah kalian berselisih.[10]

Dalam hadits ini terdapat ancaman keras yang dilalaikan banyak orang, yaitu mereka tidak peduli untuk meluruskan shaff. Tidak mengherankan bila engkau melihat ketidakramahan di antara banyak kaum Muslimin, dan ini membuktikan kebenaran berita yang disampaikan Nabi .


APAKAH ENGKAU TERMASUK ORANG YANG MENJAGA SHALAT DENGAN MENGHADAP KE SUTHRAH (PEMBATAS)?

Diriwayatkan secara shahih dari Nabi bahwa beliau berkeinginan mengerjakan shalat dengan menghadap kepada sesuatu yang menutupinya dari orang lain. Penjelasan tentang masalah ini terdapat dalam hadits shahih.

لاتصل إلا إلى سترة، ولا تدع أحدا يمر بين يديك، فإن أبى فلتقاتله، فإن معه القرين

Janganlah engkau shalat kecuali menghadap ke pembatas. Dan janganlah engkau biarkan seorang pun lewat di depanmu. Jika dia membantah, maka perangilah (lawanlah) ia. Karena sesungguhnya ia bersama syaitan.”[11]


APAKAH ENGKAU SANGAT BERKEINGINAN, KETIKA ENGKAU BER-WUDHU’ SEBAGAIMANA WUDHU’ NABI ?

Wudhu’ adalah pintu yang memasuk-kanmu ke dalam shalat, karena tidak sah shalat dengan tanpa berwudhu’. Sedikit dari mereka yang berkeinginan untuk berwudhu’ secara benar sebagaimana wudhu’ Nabi kita Muhammad dengan wudhu’ yang sempurna.

Rasulullah bersabda:

من توضأ فأحسن الوضوء خرجت خطاياه من جسده، حتى تخرج من تحت أظفاره!

Barang siapa berwudhu’ dengan sempurna, maka dosa-dosanya keluar dari tubuhnya, hingga keluar dari bawah kuku-kukunya".[12]

Keutamaan ini tidak akan diraih kecuali oleh orang yang berwudhu’ dengan sempurna. Ia berwudhu' sebagaimana Nabi berwudhu’.


APAKAH ENGKAU TERMASUK ORANG YANG MENJAGA DZIKIR-DZIKIR SESUDAH SHALAT?

Diriwayatkan dari Nabi sejumlah dzikir yang diucapkan sesudah shalat. Tapi sebagian orang ketika imam selesai dari shalat, mereka terburu-buru keluar dari masjid.

Dari Mu’adz bin Jabal :

أن رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أخذ بيده وقال: «يا معاذ، والله إني لأحبك» فقال: «أوصيك يا معاذ لا تدعن في دبر كل صلاة تقول: اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

Bahwa Rasulullah memegang tangannya seraya bersabda, ‘Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku benar-benar mencintaimu' Lalu bersabda, “Aku berwasiat kepadamu, wahai Mu’adz, janganlah meninggalkan sesuatu diakhir tiap-tiap shalat membaca: 'Ya Allah, berilah aku kemampuan untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.[13]


APAKAH ENGKAU TERMASUK ORANG YANG BERKEINGINAN UNTUK MEMULAI BAGIAN KANAN DALAM SEMUA URUSAN?

Berkeinginan untuk mendahulukan bagian kanan -dalam makan, minum, memakai sandal, bersuci, masuk masjid, dan selainnya- merupakan perkara yang sangat disukai Nabi .

Dari ‘Aisyah , ia berkata:

كان النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يعجبه التيمن في تنعله وترجله وطهوره، وفي شانه كله

Nabi sangat menyukai memulai dari sebelah kanan dalam memakai sandal, bersisir, bersuci, dan dalam segala urusannya.[14]


JIKA ENGKAU BERPUASA, APAKAH ENGKAU BERKEINGINAN UNTUK MENGAKHIRKAN SAHUR DAN MENYEGERAKAN BERBUKA?

Sunnahnya ialah orang yang berpuasa berkeinginan keras untuk makan sahur. Begitu juga mengakhirkan sahur, dan menyegerakan berbuka. Ini termasuk sunnah-sunnah yang dilalaikan banyak orang.

Rasulullah bersabda:

فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب؛ أكلة السَّحَر

Yang membedakan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab, ialah makan sahur.[15]

Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata:

تسحَّرنا مع النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثم قام إلى الصلاة، قلت: كم كان بين الأذان والسحور؟ قال: قدر خمسين آية

Kami makan sahur bersama Nabi , kemudian beliau berdiri untuk mengerjakan shalat." Aku (Anas) bertanya, “Berapa jarak antara adzan dan sahur?* Ia (Zaid) menjawab, “Seukuran lima puluh ayat."[16]

Rasulullah bersabda:

لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر
Manusia berada dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka.[17]


APAKAH ENGKAU TELAH MENCOBA BERITIKAF DI BULAN RAMADHAN?

Sungguh di antara petunjuk Nabi ialah beliau beritikaf di sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Apakah engkau, wahai saudaraku, telah mencoba Sunnah ini?

Dari ‘Aisyah :

أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان يعتكف العشر الأواخر من رمضان حتى توفاه الله، ثم اعتكف أزواجه من بعده

Bahwa Nabi selalu beritikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkannya. kemudian istri-istrinya beri’tikaf sepeninggalnya."[18]

Saudaraku sesama muslim!

Itulah sebagian Sunnah-sunnah, aku palingkan pandanganmu kepadanya. Ini adalah contoh kecil dari taman-taman Sunnah Nahawiyah yang suci» dan sekelumit dari petunjuknya yang indah. Tujuan saya darinya ialah menarik hasratmu kepada keinginan keras untuk berhenti pada Sunnahnya, dan berbekal dari mata airnya yang mengalir. Hisablah dirimu, dan kuatkanlah tekadmu agar engkau termasuk orang-orang yang meneladani Rasul Sang Pemberi petunjuk, dan berpetunjukkan dengan petunjuknya. Mudah-mudahan kelak engkau termasuk golongan orang yang dikumpulkan di bawah panjinya, minum dari telaganya, lagi beruntung mendapat syafa’atnya.


[1] HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan Syaikh al-Albani dalam al-Misykah, 165.

[2] HR. Malik dalam al-Muwaththa', dihasankan Syaikh al-Albani dalam al-Misykah, 186.

[3] HR. At-Tirmidzi. Shahiih at-Tirmidzi, Syaikh al-Albani: 2260.

[4] As-Silsilah ash-Shahiihah, 2/646.

[5] HR. Al-Bukhari dan Muslim.

[6] Al-Bukhari dan Muslim

[7] HR. Abu Dawud dan selainnya. Shahih Abu Dawud, Syaikh al-Albani, 4093

[8] HR. Muslim

[9] HR. Ahmad, ath-Thabrani dan selainnya. Shahiih at-Targhiib, Syaikh al-Albani 491.

[10] HR. Al-Bukhari dan Muslim.

[11] Shahih. Shifatush Shalaah (hal. 62) dan Shahiih Ibni Khuzaimah (II/9 no. 800)

[12] HR. Muslim.

[13] HR. Abu Dawud -dan ini redaksi darinya- dan an-Nasa-i. Shahiih Abi Dawud, Syaikh al-Albani 1522.

[14] HR. Al-Bukhari dan Muslim.

[15] HR. Muslim.

[16] HR. Al-Bukhari dan Muslim.

[17] HR. Al-Bukhari dan Muslim.

[18] HR. Al-Bukhari dan Muslim.

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya