Kitab Referensi

Ushul Fi Tafsir - Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin

BAB VIII - DHAMIR (KATA GANTI)

A. Makna Dhamir secara Bahasa dan Istilah

Secara bahasa kata 'dhamir' berasal dari kata الضمير yang bermakna الهزال (kurus, kering) karena sangat sedikit jumlah hurufnya, atau berasal dari الإضمار yang bermakna الإخفاء (sembunyi) karena keberadaanya selalu tersembunyi,

Secara istilah, dhamir adalah sesuatu yang dijadikan pengganti sebutan yang zhahr sebagai bentuk ringkasnya. Ada pula yang mendefinisikan. dhamir adalah aesuatu yang menunjukkan hudhur (nampak) atau ghaib (tidak nampak) atas sesuatu bukan dari dzatnya.

Dhamir yang menunjukkan hudhur (nampak) ada dua macam

1. Dhamir untuk Al-mutakallim (orang yang berbicara-orang pertama), contoh

وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّه

"Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah." (QS. Al-Ghafir : 44)

2. Dhamir untuk AI-Mukhathab (orang yang diajak bicara -orang kedua), contoh:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
"Jalan orang-orang yang Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka." (QS. Al-Fatihah: 7)

Dua macam dhamir ini tidak butuh kepada marja' (rujukan), sudah cukup dengan petunjuk nampaknya dhamir saja.

Dhamir yang menunjukkan kepada ghaib, yakni dhamir yang digunakan untuk ghaib (kata ganti orang yang tidak ada), dan dia mesti memiliki marja' (rujukan), sebagai kata ganti dari -yang ghaib- itu.

Pada dasarnya, hendaknya marja' (rujukan) diletakkan lebih dahulu sebelum dhamir secara lafazh dan kedudukan, dan harus sesuai dengan dhamir secara lafazh dan makna. Contoh:

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ
"Dan Nuh menyeru Rabbnya." (QS. Huud: 45)

Penjelasan: Marja’ yaitu Nuh (نُوحٌ) mendahului dhamir (ه) secara lafazh, dan juga secara kedudukan karena نُوحٌ adalah fa'il, karena pada dasarnya fa'il itu mengiringi atau mengikuti fi'il (kata kerja), baru kemudian maf'ul bih (objek) yaitu رَبَّهُ.

Dan kadang-kadang, marja’ sudah dapat dipahami dari fiil sebelumnya, misalnya:

اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

"Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Maidah: 8)

Kadang-kadang, marja' didahulukan secara lafazh, tapi tidak secara kedudukan. Misalnya:

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ ربُه

"Dan ketika Rabbnya menguji Ibrahim." (QS. Al-Baqarah: 124)

Penjelasan: marja' yaitu Ibrahim mendahului dhamir (ه)secara lafazh, tapi tidak secara kedudukan karena Ibrahim adalah maful bih, sedangkan (ربُه) adalah failnya, padahal seharusnya adalah 'amil, kemudian fa'il (pelaku), kemudian maful bih ?(objek).

Dan kadang-kadang marja' didahului oleh dhamir secara kedudukan, tapi tidak secara lafazh, misalnya:

حمل كتابه الطالب

(Pelajar itu membawa kitabnya).

Dan kadang-kadang sudah dipahami dari susunan kalimat misalnya:

وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَد

"Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meniggal itu mempunyai anak." (QS. An-Nisaa': 11)

Maka dhamir tersebut kembali kepada mayit (orang yang meninggal), hal tersebut dipahami dari firman-Nya: مما ترك (dari harta yang ditinggalkan).

Dan kadang-kadang dhamir tidak sesuai dengan maknanya, misalnya:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٍ مِّن طِينٍ. ثُمَّ جَعَلْنَٰهُ نُطْفَةً فِى قَرَارٍ مَّكِينٍ

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah, kemudian Kami menjadikannya air mani " (QS. Al-Mu'minuun; 12-13)

Maka dhamir tersebut kembali kepada الإنسان (manusia) ditinjau dari sisi lafazh, padahal yang dijadikan sebagai nutfah bukanlah manusia yang pertama tadi.

Dan apabila marja'nya coook untuk mufrad dan jamak, maka boleh mengembalikan dhamir itu kepada salah satu di antara keduanya, misalnya:

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحاً يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً قَدْ أَحْسَنَ اللَّهُ لَهُ رِزْقاً

"Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan beramal shaleh, Dia akan memasukkannya ke surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selamanya, sungguh Allah membaguskan baginya rezeki." (QS. Ath-Thalaaq: 11)

Pada dasarnya, marja' dhamir-dhamrr itu adalah satu, jika dhamir-dhamir tersebut berbilang (lebih dari satu), misalnya:

عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وهو بالأفق الأعلي. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى. فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى

"Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi, kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan." (QS. An-Najm: 5-10)

Maka, dhamir-dhamir rafa' pada ayat-ayat tersebut kembali kepada (شديد القوى) (yang sangat kuat), yaitu Jibril.

Pada asalnya, dhamir dikembalikan kepada yang disebutkan paling dekat, kecuali pada susunan idhafah (mudhaf-mudhaf ilaih), maka dhamir kembali kepada mudhaf, karena mudhaf-lah yang sedang dibicarakan.

Contoh 1:

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدىً لِبَنِي إِسْرائيل

"Dan Kami mendatangkan (memberikan) kepada Musa Al-Kitab, dan Kami menjadikannya petunjuk bagi Bani Israil." (QS. Al-Isra': 2)

Contoh 2:

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدىً لِبَنِي إِسْرائيل

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34)

Dan kadang-kadang terjadi hal yang menyimpang dan kaedah pokok tadi, dengan berdasarkan dalil yang menguatkannya

B, Isim Zhahir Menempati Dhamir

Pada dasarnya, tempat dhamir harus ditempati oleh dhamir karena hal itu lebih memperjelas makna dan lebih menguatkan lafazh, oleh sebab itu dhamir menggantikannya, seperti dalam firman Allah Ta'ala:

أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

"Allah telah mempersiapkan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Ahzab: 35)

Dari duapuluh kata yang disebutkan sebelumnya, mungkin bisa jadi yang menempati posisi dhamir adalah isim zhahir, inilah yang disebut dengan "lsim-isim zhahir pada posisi isim-tsim dhamir."

Hal ini mempunyai faedah-faedah tersendiri sesuai dengan kedudukannya dalam kalimat, di antaranya:

  1. Hukum bagi marja'nya sesuai dengan kedudukan isim zhahir.
  2. Menjelaskan illah (alasan) hukum tersebut.
  3. Keumuman hukum bagi masing-masing yang disifati sesuai dengan isim zhahir.

Sebagai contoh dalam firman Allah Ta'ala:

من كَانَ عَدُوّاً لِلَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

"Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah, Malaikat-Nya, para Rasul-Nya dan Jibril serta Mikail, maka sesugguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 98)

Dan Allah tidak mengatakan فَإِنَّ الله عَدُوِّلَّهُ (maka sesungguhya Allah adalah mushnya). Jadi isim zhahir ini memberi faedah:

  1. Menghukumi dengan kekufuran terhadap orang-orang yang memusuhi Allah, malaikat-Nya, para Rasul-Nya dan Jibril serta Mikail.
  2. Bahwa Allah adalah musuh bagi mereka karena kekufuran mereka.
  3. Bahwa setiap orang yang kafir kepada Allah adalah musuh-Nya.

Contoh lain dalam firman Allah Ta'ala,

وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ إِنَّا لا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ

"Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Kitab (Al-Qur'an) dan mendirikan shalat, sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang shalih." (QS. Al-A'raaf: 170)

Dan Allah tidak berfirman: لاَ نُضِيْعُ أَجْرَهُمْ (Kami tidak menyia-nyiakan pahala mereka). Hal tersebut memberi faedah sebagai berikut:

  1. Menghukumi dengan islah (perbaikan) bagi orang-orang yang berpegang dengan al-kitab dan mendirikan shalat.
  2. Bahwa Allah Ta'ala memberi mereka pahala karena islah (perbaikan) mereka.
  3. Sesungguhnya setiap keshalihan, maka baginya pahala yang tidak disia-siakan di sisi Allah Ta'ala.

Kadang-kadang isim-isim zhahir tersebut sudah tertentu sebagaimana kalau engkau menampakkan dhamir, yang (memungkinkan ada) dua marja' yang cocok menjadi tempat kembali bagi dhamir tersebut, padahal yang dimaksud adalah salah satunya saja, misalnya:

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وُلاَةَ أُمُوْرِهِمْ وَبِطَانَةَ وُلاَةِ أُمُوْرِهِمْ

"Ya Allah, perbaikilah untuk kaum muslimin para penguasa mereka dan orang-orang yang dekat para penguasa mereka,"

Seandainya dikatakan وبطانتهم (dan orang-orang dekat mereka) maka akan diduga bahwa yang dimaksud adalah oramh-orang dekat kaum muslimin.

C. Dhamir Munfashil

Dhamir munfashil adalah suatu huruf dalam bentuk dhamir rafa' munfashil yang terletak antara mubtada' dan khabar apabila keduanya dalam bentuk ma'rifah.

Dhamir munfashil bisa berupa dhamir mutakallim seperti firman Allah Ta'ala

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا أَنَا

"Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Aku". (QS. Thaha :14)

Dan firmanNya

وَإِنَّا لَنَحْنُ الصَّافُّونَ

"Dan sesungguhnya kami (malaikat) benar-benar bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah)" (QS. Ash-Shaaffaat : 165)

Dan juga bis berupa dhamir mukhathab, seperti firman Allah Ta'ala

كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِم
"Kamu adalah pengawas mereka" (QS. Al-Maidah:117)

Dan bisa berupa dhamir ghaib, seperti firman Allah Ta'ala

أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

"Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung". (QS. Al'Baqarah: 5)

Dhamir munfashil mempunyai tiga faedah:

  1. Taukid (penguatan), sesungguhnya perkataanmu; زيد هو أخوك (Zaid, dia adalah saudaramu) lebih kuat dari perkataanmu: زيد أخوك (Zaid adalah saudaramu).
  2. Penekanan, yaitu pengkhususan bagi kata sebelum dan sesudahnya. Sesungguhnya perkataanmu: المجتهد هو الناجح (orang yang rajin akan berhasil) ini menunjukkan pengkhususan bahwa keberhasilan itu bagi orang yang rajin.
  3. Pemisah atau pembeda, yaitu untuk membedakan keadaan sebelumnya, bisa berupa khabar atau tabi'. Sesungguhnya perkataanmu زيد الفاضل bisa diartikan, bahwa الفاضل adalah sifat bagi Zaid dan khabarnya (masih) ditunggu dan bisa pula diartikan bahwa الفاضل adalah khabarnya. Maka apabila kamu berkata زيد هو الفاضل (Zaid, dia adalah yang utama), maka sudah ditentukan bahwa الفاضل adalah khabar karena ada dhamir munfashil.

D. Al-lltifat (Pengalihan)

Al-lltifat; pengalihan uslub kalimat dari satu bentuk ke bentuk lain, al-iltifat memiliki beberapa bentuk, di antaranya:

1. Al-lltifat dari bentuk ghaib (kata ganti orang ketiga) ke bentuk khitab (kata ganti orang kedua), seperti dalam firman Allah Ta’ala,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ. إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

"Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 2-5)

Maka kalimat tersebut dialihkan dari bentuk ghaib (kata ganti orang ketiga) kepada bentuk khithab (kata ganti orang kedua), yaitu dalam firman-Nya: (إياك) (Hanya kepada Engkau)

2. Al-Iltifat dari bentuk khithab ke bentuk ghaib, seperti firman Allah Ta'ala,

حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ

"Sehingga apabila kamu telah berada di bahtera, melajulah bahtera tersebut membawa mereka." (QS. Yunus: 22)

Maka kalimat tersebut dialihkan dari bentuk khithab ke bentuk ghaib sebagaimana dalam firman-Nya (وجرينا بهم)

3, Al-Iltifat dari bentuk ghaib ke bentuk mutakallim (kata ganti orang pertama), seperti firman Allah Ta'ala.

وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرائيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيباً

"Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara meraka dua belas orang pemimpin " (QS. Al-Maidah: 12)

Maka kalimat tersebut dialihkan dan bentuk ghaib kepada mutakallim dalam firman-Nya: وبعثنا (dan Kami telah mengutus)

4. Al-Iltifat dari bentuk mutakallim ke bentuk ghaib seperti firman Allah Ta'ala,

إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak maka dirikanlah shalat karena Rabbmu." (QS. Al-Kautsar:1-2)

Maka kalimat tersebut dialihkan dari bentuk mutakallim ke bentuk ghaib dalam firman-Nya: (لربك) (karena Rabbmu) Al-Iltifat ini mempunyai beberapa faedah, di antaranya:

  1. Untuk menarik perhatian kepada orang yang diajak bicara disebabkan dengan adanya perubahan bentuk uslub dalam kalimat tersebut.
  2. Mengajak untuk merenungkan dan memikirkan maknanya, karena perubahan bentuk uslub mengajak memikirkan tentang sebabnya.
  3. Menghindari kejemuan dan kebosanan, karena uslub yang monoton secara umum akan membawa pada kebosanan.

Faedah-faedah ini bersifat umum untuk semua iltifat dengan segala bentuknya.

Adapun faedah-faedah Al-Iltifat secara khusus, maka tergantung kepada bentuk masing-masing sesuai dengan kedudukannya.

Wallahu A'lam, Allah-lah Yang Lebih Mengetahui. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad beserta keluarganya dan para sahabat beliau.

Waktu Shalat
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya