Kitab Referensi

Ushul Fi Tafsir - Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin

BAB VII - Al-ISRAILIYYAT

Al-Israiliyyat adalah berita-berita yang dinukil dari Bani Israil dari kalangan Yahudi dan Nashrani, namun secara umum berasal dari Bani Israil. Berita-berita ini dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

1) Berita yang dikuatkan oleh Islam dan diakui kebenarannya, maka berita itu dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Contohnya: apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan juga perawi yang lainnya dari Ibnu Mas'ud , dia berkata: "Telah datang seorang pendeta kepada Rasulullah , kemudian dia berkata: "Ya Muhammad sesungguhnya kami mendapati bahwa Allah menjadikan langit dengan satu jari, menjadikan bumi dengan satu jari, menjadikan pohon dengan satu jari, menjadikan air dan kekayaan dengan satu jari dan menjadikan seluruh makhluk dengan satu jari, kemudian Dia berkata "Aku adalah penguasa (Raja)". Maka Rasululah tertawa sampai terlihat gigi geraham beliau, beliau membenarkan pendeta itu, kemudian Rasulullah membaca.

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal seluruhnya dalam genggamanNya pada hari kiamat, dan langit-langit di gulung dengan tangan kananNya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka persekutukan." (QS. Az-Zumar 67)

2. Berita yang diingkari oleh Islam dan diakui kedustaannya, maka berita itu batil.

Contohnya: apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Jabir , dia berkata "Seorang Yahudi berkata "Apabila menggaulinya (wanita) dari belakangnya, maka akan melahirkan anak yang juling matanya", maka turunlah ayat :

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

"Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 223)

3) Berita yang tidak dikuatkan atau ditetapkan oleh Islam dan tidak diingkari, maka wajib tawaqquf (diam) tentangnya.

Hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah , dia berkata: "Ahli kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan mereka menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada pemeluk Islam, maka Rasulullah berkata, "Janganlah kamu membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakan mereka," tetapi katakanlah,

آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ

"Kami beriman kepada Allah dan kepada apa-apa yang diturunkan kepada kami dan apa-apa yang diturunkan kepadamu." (QS. Al-Ankabut:46)

Akan tetapi menceritakan berita israiliyat dari jenis ini boleh apabila tidak dikhawatirkan ada bahayanya, berdasarkan sabda Nabi ,

بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةُ، وَحَدِّثُوْا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ وَلاَ حَرَجٌ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

"Sampaikan dariku meskipun satu ayat, dan kabarkanlah dari Bani Israil dan jangan merasa berat. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka disiapkan tempat duduknya di neraka." (HR. Al-Bukhari)

Pada umumnya, apa-apa yang diriwayatkan dari mereka, berita-beritanya tidak memiliki faedah atau manfaat dalam agama, seperti penentuan warna anjing ashabul kahfi dan semisalnya.

Adapun bertanya kepada ahli kitab tentang sesuatu dari perkara-perkara agama adalah haram, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, dia berkata: Bersabda Rasulullah :

لا تسألوا أهل الكتاب عن شئ؛ فإنهم لن يهدوكم، وقد ضلوا، فإنكم إما أن تصدقوا بباطل، أو تكذبوا بحق، وإنه لو كان موسى حيا بين أظهركم ما حل له إلا أن يتبعني

"Janganlah kalian bertanya kepada ahli kitab tentang sesuatu, sesungguhnya mereka tidak akan dapat memberi kalian petunjuk, dan sungguh mereka itu telah sesat, maka sesungguhnya kalian mungkin akan memberikan kebatilan atau mungkin mendustakan kebenaran. Sungguh seandainya Musa masih hidup di antara kalian, niscaya dia tidak menghalalkan dirinya kecuali untuk mengikutiku," (HR Bukhari)

Dan diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Abbas bahwa dia berkata, "Wahai sekalian kaum muslimia mengapa kalian bertanya kepada ahli kitab tentang sesuatu padahal kitab kalian yang diturunkan Allah kepada Nabi kalian adalah kabar-kabar yang terbaru tentang Allah, yang mumi, tidak tercampur atau ternodai, dan sesungguhnya Allah telah menceritakan kepada kalian bahwa ahli kitab itu telah mengganti kitabullah dan mereka merubahnya, kemudian mereka menulis dengan tangan-tangan mereka, kemudian mereka berkata: "Ini dari sisi Allah, vang agar dengan hal itu mereka membeli atau menukarnya dengan harga yang sedikit, atau apa-apa yang datang pada kalian berupa ilmu tidak melarang kalian dari bertanya kepada mereka, maka sekali-kali janganlah. Demi Allah, kami tidak melihat seseorang di antara mereka bertanya kepada kalian tentang apa-apa yang diturunkan kepada kalian."

Sikap Ulama Terhadap Kisah Israiliyyat

Sikap para ulama, apalagi mufassir, berbeda-beda terhadap kisah-kisah israiliyyat ini menjadi empat kelompok:

  1. Sebagian mereka adalah orang yang memperbanyak kisah-kisah tersebut disertai dengan sanad-sanadnya, dan dia berpendapat bahwa dengan menyebutkan sanad-sanadnya, maka dia lepas tanggung jawabnya. Contoh: Ibnu Jarir Ath-Thabari.
  2. Dan sebagian mereka adalah orang yang memperbanyak kisah-kisah tersebut dengan tanpa menyertakan sanad-sanadnya, maka dia seperti hathibu lail (pencari kayu bakar di malam hari) seperti: Al-Baghawi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata tentang tafsirnya: "Sesungguhnya dia (Al-Baghawi) meringkas dari Ats-Tsa'labi, akan tetapi dia tetap mempertahankan hadits-hadits maudhu' dan pendapat-pendapat yang bid'ah". Dan beliau (juga) berkata tentang Ats-Tsa'labi: "Sesungguhnya dia itu hathibul lail, dia menukil apa-apa yang dia dapati pada kitab-kitab tafsir, baik yang shahih, dha'if maupun maudhu'."
  3. Dan sebagian mereka adalah orang-orang yang banyak menyebutkan kisah-kisah israiliyyat dengan memberikan komentar dari apa yang disebutkan, apakah kisah itu dhaif atau mengingkarinya, misalnya: Ibnu Katsir.
Dan sebagian mereka adalah orang yang berlebih-lebihan dalam menolaknya, dan dia tidak menyebutkan sedikit pun kisah israiliyat yang dijadikannya sebagai tafsir bagi Al-Qur'an, Misalnya: Muhammad Rasyid Ridha.
Waktu Shalat
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya