Kitab Referensi

Ushul Fi Tafsir - Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin

BAB IV - TA’ARUDH DALAM AL-QUR’AN

Ta'arudh adalah pertentangan antara dua ayat, yakni keterangan dari kedua ayat tersebut saling berlawanan antara yang satu dengan yang lain, misalnya ada satu ayat yang menetapkan tentang sesuatu, sedangkan ada ayat lain yang menafikan hal tersebut.

Dan tidak mungkin terjadi ta'arudh antara dua ayat yang sifatnya khabar (keterangan), karena konsekuensi dari ta'arudh pada ayat khabar itu harus ada salah satu dari ayat tersebut yang bohong, dan hal itu mustahil terdapat dalam kabar-kabar Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman,

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثاً

"Dan siapakah yang lebih benar perkataan (Nya) dan pada Allah?" (QS. An-Nisaa: 87)

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلاً

"Dan siapakah yang lebih benar perkataan (Nya) dari pada Allah?" (QS. An-Nisaa': 122)

Dan tidak mungkin terdapat pertentangan antara dua ayat yang mengandung masalah hukum, karena ayat yang datang terakhir berfungsi sebagai nasikh (penghapus) terhadap ayat yang datang sebelumnya Allah Ta 'ala berfirman,

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا

"Apa-apa yang Kami hapuskan dari satu ayat atau yang Kami jadikan (manusia) melupakannya, maka Kami mendatangkan yang lebih baik dari padanya atau yang sebanding dengannya." (QS. Al-Baqarah: 106)

Dan jika nasakh (penghapusan) telah ditetapkan, maka hukum pertama tidak berlaku lagi dan tidak bertentangan dengan hukum yang datang sesudahnya.

Dan apabila kamu melihat adanya ta'arudh dalam masalah tersebut, maka cobalah kompromikan antara kedua nash tersebut- jika hal ini tidak dapat kamu lakukan, maka wajib atasmu untuk tawaqquf (diam) dan menyerahkan urusan tersebut kepada ahlinya (orang yang lebih kompeten).

Para ulama Rahimahumullah telah menyebutkan banyak contoh tentang masalah ta'arudh, mereka menjelaskan bagaimana cara untuk mengkompromikannya. Dan kitab yang paling bagus membahas tentang masalah ini adalah kitab Daf'u Ihami al-ldhthirab an Ayi al Kitab karya Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi Rahimahullah. Dibawah ini contoh masalah ta'arudh dan cara untuk mengkompromikannya seperti berikut,

Firman Allah Ta'ala,

هُدىً لِلْمُتَّقِينَ

"Petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 2)

Dan firman Allah Ta'ala,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاس

"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia." (QS. Al-Baqarah: 185)

Allah Ta'ala menjadikan hidayah (petunjuk) Al-Qur'an dalam ayat yang pertama adalah khusus bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan pada ayat kedua berlaku umum bagi manusia. Dan al jam'u (kompromi) dari kedua ayat tersebut adalah bahwa hidayah pada ayat pertama adalah hidayah taufik wal intifa' (hidayah taufik dan hidayah untuk mengambil manfaat), sedangkan hidayah pada ayal kedua adalah hidayah tabytn wal irsyad (hidayah penjelasan dan bimbingan)

Dan contoh lain yang semual dengan kedua ayat di atas adalah firman Allah Ta'ala tentang Rasul-Nya berikut ini,

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya." (QS. Al-Qashash: 56)

Dan firman-Nya,

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Al-Mu'minun: 73)

Maksud hidayah pada ayat pertama adalah hidayah taufik, sedangkan pada ayat kedua adalah hidayah tabyin.

Dan contoh yang lain dalam firman Allah Ta'ala,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)." (QS. Ali Imran: 18)

Dan firman-Nya,

وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّه

"Dan tidak ada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah." (QS. Ali Imran: 62)

Dan firman-Nya,

فَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ

"Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang diazab." (QS. Asy-Syu'ara : 213)

Dan firman-Nya,

فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

"Maka ilah-ilah yang mereka seru/sembah selain Allah itu tidak dapat mencukupi mereka sedikitpun ketika datang urusan (azab) Rabbmu, dan tidaklah mereka (ilah-ilah itu) menambah mereka kecuali kebinasaan belaka." (QS. Huud: 101)

Pada dua ayat yang pertama dinafikan uluhiyah kepada selain Allah Ta'ala, sedangkan pada dua ayat berikutnya diifsbflfkan (ditetapkan) uluhiyah kepada selain Allah Ta'ala.

Dan kompromi dari ayat-ayat tersebut adalah bahwa uluhiyah yang khusus bagi Allah 'Azza wa Jalla yaitu uluhiyah yang haq (benar), dan bahwa itsbat (penetapan) uluhiyah bagi selain-Nya yaitu uluhiyah yang batil, berdasarkan firman Allah Ta'ala:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

"(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Ilah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS. Al-Hajj: 62)

Dan di antara contoh yang lain adalah firman Allah Ta'ala,

قُلْ إِنَّ اللَّهَ لا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ

"Katakanlah, Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji." (QS. Al-A'raf: 28)

Dan firman-Nya:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَييْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيراً

"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." (QS. Al-Israa': 16)

Pada ayat pertama menunjukkan penafian bahwa Allah Ta 'ala memerintahkan perbuatan keji, sedangkan pada teks ayat kedua menunjukkan bahwa Allah Ta'ala memerintahkannya atas kefasikan.

Kompromi dari kedua ayat tersebut adalah bahwa perintah pada ayat pertama yaitu perintah syar'i, dan Allah tidak memerintahkan untuk berbuat kekejian secara syar'i berdasarkan firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْأِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

"Sesungguhnya Allah memerintahkan agar berbuat adil dan berbuat kebaikan serta memberikan kepada kaum kerabat. Dan Dia melarang dari perbuatan keji, munkar dan permusuhan." (QS. An-Nahl: 90)

Sedangkan perintah pada ayat kedua yaitu perintah kauni, dan Allah Ta'ala secara kauni memerintahkan kepada apa saja yang Dia kehendaki sesuai dengan ketetapan-Nya dan hikmah-Nya, berdasarkan firman-Nya:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

"Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepada-Nya "Jadilah", maka terjadilah ia." (QS. Yaasin: 82)

Bagi yang ingin untuk memperdalam tentang masalah ini beserta contoh-contohnya, hendaklah merujuk kepada kitab, "Daf'u ihami Al-ldhrabi 'An Ai Al-Kitab," karya Asy-Syinqithi.

Waktu Shalat
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya