Kitab Referensi

Ushul Fi Tafsir - Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin

BAB II - TAFSIR

A. Makna Tafsir Secara Bahasa dan Istilah

Secara bahasa tafsir berasal dari kata الفسر yaitu menyingkap sesuatu yang ditutup.

Dan secara istilah tafsir adalah menjelaskan makna-makna Al-Qur'an. Mempelajari tafsir hukumnya wajib, berdasarkan firman Allah Ta'ala,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shaad: 29J

Dan berdasarkan firman Allah Ta'ala:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?" (QS. Muhammad: 24)

Istidhlal (konklusi) dari ayat pertama adalah bahwa Allah Ta'ala menjelaskan hikmah diturunkannya Al-Qur'an yang penuh berkah ini adalah agar manusia memperhatikan ayat-ayatnya dan mengambil pelajaran yang terkandung di dalamnya. Tadabbur adalah memperhatikan, mempelajari dan merenungi lafazh-lafazh untuk mencapai kepada maknanya (yang hakiki). Jika hal ini tidak dilakukan, maka luputlah hikmah diturunkannya Al-Qur'an, dan jadilah Al-Qur'an hanya sekedar lafazh-lafazh yang menjadi bacaan rutinitas yang tidak dapat memberikan pengaruh bagi orang yang membacanya.

Hal ini disebabkan karena pengambilan ibrah (pelajaran) itu tidak mungkin dapat dilakukan tanpa memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur'an.

Istidhlal (konklusi) dari ayat yang kedua adalah bahwa Allah Ta'ala mencela orang-orang yang tidak memperhatikan Al-Qur'an, serta mengisyaratkan bahwa hal tersebut termasuk penutup dan penghalang hati mereka, sehingga kebenaran itu tidak sampai kepada hati mereka.

Dulu, para salaful ummah (umat terdahulu) berada di atas jalan yang wajib ini, mereka mempelajari Al-Qur'an, baik latazhnya maupun maknanya, karena dengan cara itulah mereka akan mampu mengamalkan Al-Qur'an sesuai dengan vang dikehendaki Allah Ta'ala. Karena mengamalkan sesuatu yang tidak diketahui maknanya adalah hal yang mustahil.

Abu Abdurrahman As-Salami berkata, "Telah menceritakan kepada kami orang-orang yang membacakan Al-Qur'an kepada kami seperti Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas'ud dan juga yang lainnya, bahwa apabila mereka mempelajari dari Nabi sepuluh ayat, mereka tidak menambahnya sampai mereka mempelajari pelajaran apa yang ada di dalam ayat-ayat tersebut, kemudian berusaha untuk mengamalkannya." Mereka berkata, "Maka kami mempelajari Al-Qur'an, mengambil ilmu dari Al-Qur'an dan sekaligus mengamalkannya."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Adat (tradisi) menghalangi suatu kaum untuk membaca sebuah kitab tentang suatu macam ilmu, seperti ilmu kedokteran dan ilmu hisab, tanpa menuntut penjelasan untuk hal itu. Maka bagaimana dengan kalamullah yang merupakan tali pegangan mereka, dan dengannyalah (dapat diraih) keselamatan dan kebahagiaan mereka, serta tegaknya agama dan dunia mereka."

Wajib atas ahli ilmu untuk menjelaskan hal tersebut kepada umat manusia, baik dengan tulisan maupun dengan lisan, berdasarkan firman Allah Ta'ala,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلا تَكْتُمُونَهُ

"Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang orang yang telah diberi kitab (yaitu): Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya." (QS. Ali Imran: 187)

Dan penjelasan tentang Al-Qur'an kepada manusia itu bersifat menyeluruh, meliputi penjelasan tentang lafazh-lafazh dan makna-maknanya. Jadi, tafsir Al-Qur'an itu termasuk janji yang akan Allah minta pertanggungjawabannya kepada ahli ilmu untuk menjelaskannya.

Tujuan mempelajari tafsir adalah tercapainya tujuan yang terpuji dan buah yang mulia, yaitu At-Tasdiq (membenarkan) kabar-kabar Al-Qur'an dan mengambil manfaat dari kabar-kabar tersebut, serta menerapkan hukum-hukumnya sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh Allah, yaitu agar dalam menyembah Allah Ta'ala didasari atas bashirah (ilmu).

B. Kewajiban Bagi Seorang Muslim Dalam Menafsirkan Al-Qur'an

Kewajiban bagi seorang muslim dalam menafsirkan Al-Qur'an adalah; hendaknya ketika menafsirkan Al-Qur'an ia merasa bahwa dirinya adalah penerjemah Allah Ta'ala, sebagai saksi atas-Nya tentang apa-apa yang Dia kehendaki dari kalam-Nya, sehingga dia mengagungkan persaksian ini dan takut mengatakan tentang Allah tanpa ilmu, karena hal itu bisa mengakibatkan dia terjerumus kepada hal-hal yang Allah haramkan yang bisa membuatnya hina di hari kiamat nanti. Allah Ta'ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْأِثثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْللَمُونَ

"Katakanlah: "Rabbku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-A'raaf: 33)

Allah Ta'ala berfirman,

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوىً لِلْمُتَكَبِّرِينَ

"Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam Neraka jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri" (QS. Az-Zumar: 60)

C. Sumber Rujukan dalam Menafsirkan AI-Qur'an

Sumber rujukan dalam menafsirkan Al-Qur'an adalah sebagai berikut:

1. Al-Qur'an

Yakni Al-Qur'an ditafsirkan dengan Al-Qur'an, karena Allah Ta'ala Dialah Dzat yang menurunkan Al-Qur'an dan Dia-lah yang paling mengetahui maksud yang terkandung di dalamnya.

1) Firman Allah Ta'ala:

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Yunus: 62) dalam ayat ini kata Auliya'ullah (wali-wali Allah) ditafsirkan oleh firman Allah pada ayat berikutnya, yaitu:

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa." (QS. Yunus: 63)

2) Firman Allah Ta'ala,

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ

"Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?" (QS. Ath-Thariq: 2) kata Ath-Thahq ditafsirkan dengan firman Allah Ta'ala pada ayat ketiganya:

النَّجْمُ الثَّاقِبُ
"(Yaitu) btntang yang cahayanya menembus," (QS. Ath-Thariq: 3)

3) Firman Allah Ta'ala:

وَٱلْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ

"Dan bumi sesudah itu dihamparkanNya." (QS. An-Naaziat 30) Kata دَحَىٰهَآ ditafsirkan dengan dua ayat sesudahnya

أَخْرَجَ مِنْهَا مَآءَهَا وَمَرْعَىٰهَا. وَٱلْجِبَالَ أَرْسَىٰهَا

"la memancarkan daropadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh," (QS. An-Nazi'aat: 31-32)

2. Sunnah Rasul

Yakni Al-Qur'an ditafsirkan dengan As-Sunnah karena Rasulullah adalah muballigh (penyampai risalah) dari Allah Ta'ala, maka beliau adalah manusia yang paling mengetahui maksud-maksud yang terkandung dalam firman Allah Ta'ala

Di antara contoh penafsiran Al-Qur'an dengan As-sunnah adalah sebagai berikut:

1) Firman Allah Ta'ala:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

"Bagi orang-orang yang berbuat baik (akan mendapatkan) kebaikan dan tambahan (atas kebaikan tersebut)." (QS. Yunus:26)

Nabi telah menafsirkan kata الزيادة (tambahan) dengan "melihat wajah Allah Ta'ala" dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim secara jelas dari hadits Abu Musa dan Ubay bin Ka'ab dan diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari hadits Ka'ab bin Ujrah, dan dalam Shahih Muslim dari Shuhaib bin Sinan dari Nabi dalam suatu hadits beliau berkata, "Maka disingkapkanlah hijab, maka tidaklah mereka diberi sesuatu yang lebih mereka cintai, dari pada melihat Rabb mereka 'Azza wa Jalla," kemudian beliau membaca ayat ini:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

"Bagi orang-orang yang perbuat baik (akan mendapatkan) kebaikan dan tambahan (atas kebaikan tersebut). " (Q.S. Yunus : 26)

2) Firman Allah Ta'ala:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

"Dan persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa saja yang kamu mampu berupa Al-Quwwah." (QS. Al-Anfaal: 60)

Nabi menafsirkan kata "Al-Quwwah" dengan "ar-ramyu" (melempar).

Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya dari hadits Uqbah bin Amir .

3. Ucapan Sahabat

Yakni menafsirkan Al-Qur'an dengan perkataan sahabat Radhiyallahu Anhum, terutama kalangan shahabat yang menguasai tafsir, karena Al-Qur'an turun dengan bahasa mereka dan pada zaman mereka, karena merekalah generasi -setelah para Nabi- yang paling jujur dalam mencari Al-Haq (kebenaran), paling selamat dari hawa nafsu, dan paling bersih dari penyimpangan-penyimpangan yang dapat menghalangi seseorang untuk mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala.

Di antara contoh penafsiran Al-Qur'an dengan ucapan shahabat adalah sebagai berikut:

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ

"Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus)ftau menyentuh perempuan." (QS. Al-Maidah: 6) tersebut dalam riwayat yang shahih dari Ibnu Abbas bahwa beliau menafsirkan al-mulaamasah (menyentuh [wanita]) dengan jima' (bersetubuh).

4. Ucapan Pemuka Tabi'in

Yakni menafsirkan Al-Qur'an dengan ucapan para pemuka tabi'in yang konsisten dalam penafsiran mereka atas ayat-ayat Al-Qur'an selalu merujuk kepada para sahabat , karena para tabi'in adalah sebaik-baik manusia setelah para sahabat dan paling selamat dari hawa nafsu daripada generasi sesudahnya, dan bahasa Arab belum banyak berubah pada masa mereka, sehingga mereka adalah orang-orang yang lebih dekat kepada kebenaran dalam memahami Al-Qur'an daripada generasi sesudahnya.

Berkata syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu' Fatawa, "Apabila mereka (para tabi'in) bersepakat atas sesuatu, maka tidak diragukan akan keberadaannya sebagai hujjah, akan tetapi jika mereka berselisih, maka perkataan sebagian mereka tidak menjadi hujjah atas sebagian yang lainnya dan tidak pula menjadi hujjah atas orang-orang setelah mereka, maka hal tersebut dikembalikan kepada bahasa Al-Qur'an, As-Sunnah, keumuman bahasa Arab, atau perkataan shahabat tentang hal itu."

Beliau juga berkata: "Siapa yang menyimpang dari madzhab-madzhab para sahabat dan para tabi'in serta tafsir mereka, maka dia telah berbuat kesalahan dalam hal tersebut, bahkan dia bisa menjadi mubtadi' (orang yang mengada-ada)". Jika dia adalah orang yang berijtihad, (mujtahid), maka diampuni kesalahan-kesalahannya." kemudian beliau berkata: "Maka barangsiapa menyelisihi perkataan mereka dan menafsirkan Al-Qur'an berbeda dengan tafsir mereka, maka dia telah berbuat kesalahan dalam hal dalil dan madlul (makna)."

5. Pemaknaan kalimat dari tinjauan syar'i atau lughawi (bahasa) sesuai dengan kesesuaian makna dalam kalimat. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala:

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ

"Sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) Al-Haq supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa-apa yang telah Allah wahyukan kepadamu." (QS. An-Nisa: 105)

Dan firman Allah Ta'ala:

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

"Sesungguhnya kami telah menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agarhcamu memahaminya." (QS. Yusuf: 2 / QS Az-Zukhruf : 3)

Dan juga firman Allah Ta'ala

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

"Tidakkah kami mengutus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya supaya dia (dapat) menjelaskan kepada mereka " (QS, Ibrahim: 4)

Apabila makna syar'i dan makna lughawi (bahasa) berbeda, maka yang diambil adalah makna syar'i, karena Al-Qur'an diturunkan untuk menjelaskan syariat, bukan untuk menjelaskan bahasa, kecuali jika terdapat dalil yang lebih menguatkan makna lughawi, maka yang dipakai makna lughawi tersebut.

Contoh ayat yang mengandung perbedaan makna syar'i dan makna lughawi, kemudian yang didahulukan makna syar'i.

Firman Allah Ta 'ala tentang orang-orang munafik:

وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَداً

"Dan janganlah kamu sekali-kali menshalati salah seorang pun di antara mereka (orang-orang munafik) yang mati." (QS. At-Taubah: 84)

Sesungguhnya makna shalat secara bahasa berarti do'a, dan secara syar'i makna shalat disini adalah berdiri di hadapan orang yang meninggal dunia untuk mendo'akannya dengan syarat dan rukun tertentu. Maka didahulukanlah makna syar'i, karena maksud dari mutakallim (orang yang bicara) adalah apa yang difahami oleh mukhathab (orang yang diajak bicara).

Adapun larangan mendoakan mereka secara mutlak, maka berasal dari dalil yang lainnya.

Contoh ayat yang di dalamnya mengandung perbedaanmakna syur'i dan makna lughawi, kemudian didahulukan makna lughawi karena ada dalil yang menguatkan.

Firman Allah Ta'ala:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka." (QS. At-Taubah: 103) yang dimaksud dengan "shalat" di sini adalah doa, dengan dalil apa yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Abi Aufa, dia berkata: "Apabila Nabi dikirimi shadaqah dari suatu kaum, beliau mendoakan mereka". Maka bapakku mendatangi beliau dengan membawa shadaqah, beliau berdoa: "Ya Allah berilah keselamatan atas keluarga Abu Aufa."

Dan contoh ayat yang mengandung kecocokan makna syar'i dan makna lughawi banyak sekali, seperti اَلسَّمَاء (langit), اَلأَرْضُ (bumi); اَلصِّدْقُ (kejujuran), اَلكَذِبُ (kedustaan), اَلْحَجَر (batu) dan اَلإِنْسَانُ (manusia).

D. Jenis-jenis Ikhtilaf (perbedaan) yang terdapat dalam Tafsir al-Ma'tsur

Perbedaan (ikhtilaf) yang terdapat dalam tafsir yang ma'tsur ada 3 macam, yaitu:

1) Perbedaan dalam lafazh tapi maknanya tidak berbeda. Perbedaan seperti ini tidak mempengaruhi makna ayat. Contoh dalam firman Allah Ta'ala,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ

"Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia." (QS. Al-Israa': 23)

Ibnu Abbas berkata, "Maksud dari kata قضي adalah أمر (memerintahkan)." Mujahid berkata, "Maksud dari kata قضي adalah وصي (mewasiatkan)", dan Ar-Rabi' bin Anas berkata, "Maksud dari kata قضي adalah أوجب (mewajibkan)." Semua tafsiran ini inti maknanya adalah sama, sehingga perbedaan ini tidak mempengaruhi makna dalam ayat.

2) Perbedaan dalam lafazh dan makna, tetapi ayat tersebut dapat ditafsirkan dengan dua makna tersebut tanpa ada kontradiksi (pertentangan) antara keduanya, jadi, ayat tersebut dapat dimaknai dan ditafsirkan dengan keduanya, dan kompromi dari perbedaan-perbedaan ini adalah bahwa masing-masing dari dua pendapat tersebut disebutkan sebagai contoh dari maksud ayat, atau sebagai bentuk keanekaragaman.

Contohnya firman Allah Ta’ala.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ. وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syetan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah"(QS. Al-A'raaf: 175-176)

Ibnu Mas'ud berkata, "Dia adalah seorang laki-laki dari Bani Israil." Ibnu Abbas berkata, "Dia adalah seorang laki-laki dari penduduk Yaman", dan dikatakan: "Seorang laki-laki dari penduduk Balqa."

Dan kompromi dari pendapat-pendapat ini, bahwa ayat tersebut bisa dimaknai dengan semua penafsiran tersebut, karena penafsiran tersebut tidak menimbulkan kontradiksi. Jadi, semua pendapat yang disebutkan itu sebenarnya mempunyai makna yang sama.

Contoh lain dalam firman Allah Ta'ala:

وَكَأْساً دِهَاقاً

"Dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman)" (QS. An-Naba': 34)

Ibnu Abbas berkata, دهاقاً artinya مملوءة (penuh)", Mujahid berkata, دهاقاً artinya متتابعة (berturut-turut)", dan Ikrimah berkata, دهاقاً artinya صافية (jernih)". Pendapat-pendapat tersebut tidak saling menafikan, dan ayat tersebut memungkinkan dimaknai dengan semua pendapat tersebut, maka jadilah semua pendapat itu sebagai bentuk keanekaragaman makna.

3) Perbedaan lafazh dan makna, sedangkan ayat tersebut tidak mungkin dimaknai dengan kedua makna tersebut secara bersama-sama karena saling berlawanan. Jadi, ayat tersebut harus dimaknai dengan makna yang lebih kuat dari keduanya dengan dasar kesesuaian makna ayat atau yang lainnya.

Contoh untuk hal itu adalah firman Allah Ta'ala:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 173)

Ibnu Abbas berkata, "Tidak menginginkan bangkai dan tidak pula melampaui batas dalam memakannya." Dan dikatakan: "Tidak keluar memberontak kepada imam dan tidak bermaksiat dalam safarnya".

Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat yang pertama, karena tidak ada dalil untuk pendapat kedua dalam ayat tersebut, karena maksud apa yang dihalalkan dalam ayat adalah dalam keadaan dharurah (terpaksa), dan (memakan bangkai dalam keadaan terpaksa itu) bisa terjadi dalam keadaan keluar dari Imam dan dalam keadaan safar yang diharamkan atau lainnya. Dan contoh lainnya adalah firman Allah Ta'ala:

وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصصْفُ مَا فَرَضْتُمْ إِلا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ

"Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah." (QS. AI-Baqarah: 237)

Berkata Ali bin Abu Thalib tentang orang yang memegang atau berwenang atas ikatan nikah (maksudnya) adalah suami. Sedangkan Ibnu Abbas berkata: "maksudnya adalah wali". Dan yang rajih (lebih kuat) adalah yang pertama kerena maknanya menunjukkan kepada (pendapat) pertama (yaitu suami) dan hal tersebut diriwayatkan dalam suatu hadits dari Nabi .

E. Penerjemahan Al-Qur'an

Secara bahasa terjemah bermakna penjelasan atau keterangan.

Dan secara istilah terjemah bermakna: mengungkapkan perkataan atau kalimat dengan menggunakan bahasa lain.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa menerjemahkan Al-Qur’an adalah mengungkapkan makna-makna Al-Qur’an dengan menggunakan bahasa lain. Terjemah ada dua macam, yaitu:

  1. Terjemah harfiah, yaitu terjemah dengan cara kata perkata.
  2. Terjemah maknawiyah atau tafsiriyah, yaitu mengungkapkan makna perkataan atau kalimat dengan menggunakan bahasa lain tanpa merubah mufradai (kosa kata) dan tartib (susunan kata).

Contoh untuk hal itu adalah firman Allah Ta’ala.

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

"Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya."(QS. Yusuf: 2)

Maka terjemah harfiahnya adalah dengan cara menerjemahkan kata perkata dalam ayat ini, jadi إنا diterjemahkan, kemudian جعلناه, kemudian قرآنا, kemudian عربيا dan seterusnya.

Dan terjemah maknawiyahnya yaitu dengan menerjemahkan makna ayat secara keseluruhan tanpa memperhatikan makna kata perkata dan tartib (urutan)nya, penerjemahan semacam ini lebih dekat kepada makna tafsir ijmali (umum).

Hukum Terjemah Al-Qur'an

Menurut jumhur ulama jijprjemah Al-Qur'an secara harfiah adalah hal yang mustahil, karena dalam metode penterjemahan semacam ini ada beberapa syarat yang tidak bisa terpenuhi, di antaranya:

  1. Harus ada kesesuaian antara mufradat (kosa kata) antara bahasa asli dengan bahasa terjemahan,
  2. Harus ada kesesuaian perangkat-perangkat makna antara bahasa asli dengan bahasa terjemahan,
  3. Adanya kesamaan antara bahasa asli dengan bahasa terjemahan dalam hal susunan kata dalam kalimat, sifat dan idhafah (penyandaran). Menurut sebagian ulama terjemah harfiah ini dapat diterapkan pada sebagian ayat atau semisalnya, akan tetapi meski demikian tetap diharamkan, karena terjemah harfiah itu tidak mungkin dapat mengungkapkan makna secara sempurna dan tidak bisa memberi pengaruh jiwa seperti pengaruh Al-Qur'an yang berbahasa Arab, dan tidak ada hal yang mendesak untuk menggunakan terjemah secara harfiah, karena sudah cukup dengan terjemah secara maknawiyah. Berdasarkan uraian di atas, meskipun dirasa memungkinkan menggunakan terjemah harfiah pada sebagian kata, namun hal itu tetap juga terlarang secara syar'i, kecuali untuk menerjemahkan suatu kata yang khusus dengan bahasa orang yang diajak bicara supaya dia memahaminya, tanpa menerjemahkan seluruh susunannya, maka hal ini diperbolehkan.

Adapun menerjemahkan Al-Qur'an secara maknawiyah, maka hal itu diperbolehkan, karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam hal tersebut. Dan terkadang hal itu justru menjadi wajib ketika menjadi wasilah (perantara) untuk menyampaikan Al-Qur'an dan Islam kepada orang-orang yang tidak bisa berbahasa Arab, karena menyampaikan hal itu adalah wajib, sedangkan segala sesuatu yang tidak akan menjadi sempurna kecuali dengannya, maka ia menjadi wajib hukumnya.

Akan tetapi dibolehkannya terjemah Al-Qur'an secara maknawiyah dengan beberapa syarat berikut:

  1. Tidak menjadikan terjemahan maknawiyah tersebut sebagai pengganti dari Al-Qur'an, sehingga merasa cukup dengan terjemah maknawiyah saja dan tidak butuh lagi kepada Al-Qur'an. Oleh karena itu, mesti menuliskan Al-Qur'an dengan bahasa Arab, kemudian meletakkan terjemahan tersebut disampingnya, sehingga kedudukannya seperti tafsir bagi ayat Al-Qur'an.
  2. Orang yang menerjemahkan harus benar-benar menguasai kedua bahasa tersebut, yaitu bahasa asli dan bahasa terjemahan, baik menyangkut lafazh, arti, pola kalimat dan kesesuaian makna dalam kalimat.
  3. Orang yang menerjemahkan harus benar-benar mengetahui makna-makna lafazh syar'i dalam Al-Qur'an.

Dan tidaklah diterima terjemah Al-Qur'an, kecuali dari orang-orang yang dapat dipercaya untuk melakukannya, yaitu seorang muslim yang yang istiqamah dalam agamanya.

F. Biografi Ulama Tafsir dari Kalangan Shahabat

Menurut Imam Suyuti ada segolongan shahabat yang terkenal sebagai ahli tafsir, mereka adalah khulafaur-rasyidin yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali , hanya saja riwayat dari tiga khalifah yang pertama hanya sedikit karena kesibukan mereka dengan urusan-urusan kekhalifahan, dan juga sedikitnya hajat (kebutuhan) untuk menukilnya karena banyak shahabat yang faham tentang tafsir.

Dan dari kalangan shahabat yang terkenal sebagai ahli tafsir adalah: Abdullah bin Mas'ud dan Abdullah bin Abbas. Maka kami akan menuliskan biografi kehidupan Ali bin Abu Thalib serta Abdullah bin Mas'ud dan Abdullah bin Abbas .

1. Ali bin Abu Thalib

Ali bin Abu Thalib adalah putra paman Rasulullah dan suami dari putri beliau, yaitu Fatimah . Ia adalah orang pertama yang beriman kepada Allah Ta'ala dari kalangan kerabat Nabi. Selain namanya yang masyhur, Ali juga dikenal dengan julukan Abu Hasan dan Abu Thurab.

Beliau dilahirkan sepuluh tahun sebelum risalah kerasulan Nabi , dididik di pangkuan Nabi, dan menyaksikan semua peperangan bersama Nabi, bahkan sebagai pembawa bendera dalam setiap peperangan. Ada satu peperangan yang tidak beliau ikuti yaitu perang Tabuk, karena Nabi menjadikan beliau sebagai penggantinya dalam menjaga keluarga Nabi, Nabi berkata kepada Ali: "Apakah kamu, tidak ridha menjadi penggantiku seperti kedudukan Harun bagi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku".

Diserahkan kepada beliau kedudukan-kedudukan dan keutamaan-keutamaan yang tidak pernah diserahkan kepada orang lain.

Dengan kedudukan Ali yang diberikan oleh Rasulullah itu, ada dua golongan yang binasa:

  1. Golongan An-Nawashib yang mengumumkan permusuhan terhadap Ali bin Abi Thalib dan tidak mengakui kedudukan beliau.
  2. Golongan Rafidhah yang terlalu fanatik dalam memanifestasikan kecintaan mereka kepada beliau, dan mengada-adakan kedudukan untuk beliau yang sebenarnya beliau sendiri tidak membutuhkannya, bahkan menurut orang-orang yang mengerti justru merupakan bentuk celaan bagi beliau.

Ali adalah salah seorang shahabat yang terkenal dengan keberanian, kecerdasan dan kejernihan fikirannya, sampai-sampai Amirul Mu'minin Umar bin Al-Khaththab berlindung kepada Allah dari setiap urusan jika Abu Hasan (julukan bagi Ali) tidak ada di sisinya.

Diriwayatkan dari Ali bahwa beliau berkata: "Bertanyalah kepadaku, bertanyalah kepadaku, bertanyalah kepadaku tentang kitabullah. Demi Allah! tidak ada satu ayat pun kecuali saya mengetahui apakah dia (ayat tersebut) turun pada malam atau siang hari."

Ibnu Abbas berkata, "Apabila datang kepada kami ketetapan dari Ali, kami tidak menyelisihinya."

Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Apa-apa yang aku ambil berupa tafsir Al-Qur'an, maka itu berasal dari Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah termasuk salah satu ahli syura yang dicalonkan oleh Umar Radhiyallahu Anhu untuk menentukan khalifah, maka kekhalifahan disodorkan kepadanya oleh Abdurrahman bin Auf, kemudian beliau menolak, kecuali dengan beberapa syarat yang sebagiannya tidak dapat diterima, kemudian Utsman dibaiat, maka Ali dan umat Islam membaiatnya, kemudian beliau dibaiat menjadi khalifah setelah Utsman, sampai beliau dibunuh sebagai syahid di Kufah pada malam ke-17 bulan Ramadhan tahun 40 H, semoga Allah meridhai beliau."

2. Abdullah bin Mas'ud

Beliau adalah Abdullah bin Mas'ud bin Ghafal Al-Hudzail, putra dari seorang ibu bernama Ummu Abdin. Beliau kadang-kadang dinasabkan kepada ibunya[1], beliau termasuk golongan As-Sabiqun Al-awwalun (orang-orang yang pertama kali masuk Islam), beliau turut serta hijrah dua kali dan turut serta dalam pedang Badar dan peperangan sesudahnya.

Beliau menimba ilmu dari Nabi lebih dari tujuh puluh surat dalam Al-Qur'an. Nabi berkata kepada beliau pada awal perkembangan agama Islam, "Sesungguhnya engkau adalah seorang anak yang terpelajar (cerdas)." Dan beliau pun berkata, "Barangsiapa ingin belajar Al-Qur'an secara jela», sebagaimana dia diturunkan, maka bacalah sesuai dengan bacaan Ibnu Ummi Abdin (Ibnu Mas'ud)". Dan dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Ibnu Mas'ud berkata, "Para sahabat Rasulullah telah mengetahui bahwa sesungguhnya aku termasuk orang yang paling mengetahui Kitabullah di antara mereka". Dan dia berkata, "Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, tidaklah diturunkan satu surat dalam kitabullah, kecuali aku mengetahui di mana dia turun. Dan tidak ada satu ayat dalam kitabullah kecuali aku mengetahui tentang apa ayat tersebut diturunkan. Dan seandainya aku mengetahui ada seseorang yang lebih mengetahui dariku tentang kitabullah yang dapat dicapai dengan unta, sungguh aku akan mengendarai unta itu untuk datang (belajar) kepadanya."

Ibnu Mas'ud adalah termasuk salah seorang pelayan Nabi , shahabat yang selalu membawakan kedua sandal dan air untuk bersuci serta bantal Nabi, hingga Abu Musa Al-Asy'ari berkata, "Aku dan saudaraku baru tiba dari Yaman, kemudian jkami singgah sesaat, kami tidak melihat kecuali bahwa Abdullah bin Mas'ud adalah seorang laki-laki yang termasuk ahli bait Nabi, Ibnu Mas'ud dan ibunya masuk keluar rumah Nabi, dan karena kedekatannya itu, petunjuk Nabi telah memberikan pengaruh kepada dirinya," sehingga mengomentari tentang Ibnu Mas'ud, Hudzaifah berkata, "Aku tidak mengetahui seorang pun yang lebih dekat petunjuk dan perangainya dengan Nabi dari pada Ibnu Ummi Abdin"

Umar bin Al-Khaththab mengutus beliau ke Kufah untuk mengajari umat Islam tentang masalah-masalah agama, dan Umar pun mengutus Ammar sebagai pemimpin, Umar berkata: "Sesungguhnya keduanya termasuk orang-orang yang mulia dari kalangan sahabat Muhammad maka ikutilah keduanya." Kemudian Ustman memindahkannya dari Kufah, dan menyuruhnya kembali ke Madinah, sampai beliau wafat di Madinah tahun 32 H, dan beliau dikubur di Baqi pada usia lebih dari tujuh puluh tahun.

3. Abdullah bin Abbas

Abdullah bin Abbas adalah anak paman Rasulullah , lahir tiga tahun sebelum hijrah, beliau tinggal bersama dengan Nabi karena beliau adalah anak paman Nabi dan bibi Nabi yaitu Maimunah yang berada dibawah tanggungan Nabi. Nabi mendekap dan memeluk beliau seraya berkata, "Ya Allah ajarkan kepadanya Al-Hikmah" dalam suatu riwayat disebutkan "Al-Kitab ". Dan Nabi berkata kepadanya ketika beliau meletakkan air wudhu untuk beliau, "Ya Allah berilah dia kefahaman dalam agama" Maka dengan do'a yang penuh berkah itu, beliau menjadi pemimpin umat dalam menyebarkan tafsir dan fiqh (ilmu agama), karena Allah Ta'ala memberinya taufik untuk bersemangat terhadap ilmu dan bersungguh-sungguh dalam menuntutnya serta bersabar dalam mengambil ilmu dan memberikan ilmu, maka dengan hal itu beliau mencapai kedudukan yang tinggi, hingga amirul mu'minin Umar bin Al-Khaththab memanggil beliau ke majelisnya dan mengambil perkataannya, maka berkatalah orang-orang Muhajirin, "Mengapa engkau tidak memanggil anak-anak kami sebagaimana engkau mengundang Ibnu Abbas?!" Umar berkata kepada mereka: "Demikianlah kalian, (dia yaitu Ibnu Abbas) seorang pemuda yang matang memiliki lisan yang sering bertanya dan hati yang cerdas," kemudian Umar memanggil mereka (orang Muhajirin) pada suatu hari, beliau (Umar) mempertemukan Ibnu Abbas kepada mereka untuk memperlihatkan kepada mereka sebagian apa yang beliau lihat pada diri Ibnu Abbas. Maka beliau berkata: "Apa yang akan kalian katakan tentang firman Allah Ta'ala

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan." (QS. An-Nashr:1) Beliau (Umar) membacanya sampai akhir surat.

Maka sebagian mereka mengatakan: "Kita diperintahkan agar memuji Allah dan memohon ampun kepada-Nya apabila kita mendapat kemenangan", dan sebagian yang lain diam. Kemudian Umar berkata kepada Ibnu Abbas "Apakah demikian yang engkau katakan?" Beliau menjawab: "Bukan". Umar berkata: "Jadi apa yang engkau katakan?" Beliau menjawab: "(Maksudnya) adalah waktu akhir (ajal) Rasulullah Allah memberitahukan kepada beliau bahwa apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan yaitu Fathu Mekkah, maka itu adalah tanda ajalmu (hai Muhammad), maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha penerima taubat". Umar berkata, "Aku tidak mengetahui tentang firman Allah tersebut kecuali seperti apa yang kamu ketahui."

Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu berkata, "Sungguh, sebaik-baik orang yang menafsirkan Al-Qur'an itu adalah Ibnu Abbas, seandainya beliau dikaruniai panjang umur (hingga hidup bersama kami), maka tidak ada seorang pun diantara kami yang setara dengan beliau", padahal Ibnu Abbas itu hidup tiga puluh enam tahun setelah Ibnu Mas'ud, maka bagaimana perkiraanmu tentang ilmu yang beliau dapat setelah Ibnu Mas'ud?

Ibnu Umar berkata kepada seorang penanya yang bertanya kepadanya tentang satu ayat, "Pergilah kamu kepada Ibnu Abbas, kemudian bertanyalah kepada beliau, sesungguhnya beliau lebih mengetahui apa-apa yang diturunkan kepada Muhammad daripada sahabat lain yang masih ada."

Dan Atha' berkata, "Saya tidak ^pelihat sama sekali pemahaman ilmu yang lebih mulia dan khasyyah (rasa takut kepada Allah) yang lebih besar daripada majelis ilmu Ibnu Abbas. Sesungguhnya para ahli fikih ada di majelisnya, para ahli Qur'an ada di majelisnya, dan para ahli syair ada di majelisnya, mereka semua berasal dari lembah yang luas".

Abu Wail berkata, "Ibnu Abbas berceramah kepada kami, beliau diberi kuasa oleh Utsman untuk memimpin pada musim haji, kemudian beliau membuka dengan surat An-Nur dan beliau mulai membaca dan menafsirkannya". Maka beliau membuatku berkata, "Aku belum pernah melihat dan belum pernah mendengar perkataan seseorang seperti ini, seandainya orang Persia atau Romawi atau Turki mendengarnya, tentu mereka akan masuk Islam."

Ustman memberinya kuasa untuk memimpin pada musim haji tahun 35 H dan Ali memberinya kuasa untuk memimpin Bashrah, dan ketika Ali terbunuh, beliau pindah ke Hijaz, beliau tinggal di Mekkah kemudian pindah ke Thaif, beliau meniggal dunia di Thaif pada tahun 68 H pada umur 71 tahun.

G. Ulama Tafsir dari kalangan Tabi'in

Banyak ulama tafsir dari kalangan tabi'in, diantaranya:

  1. Penduduk Mekah, mereka adalah pengikut Ibnu Abbas, seperti Mujahid, Ikrimah, Atha' bin Abi Rabah.
  2. Penduduk Madinah, meraka adalah pengikut Ubay bin Ka'ab, seperti Zaid bin Aslam, Abu 'Aliyah, Muhammad bin Kaib Al-Qurthubi.
  3. Penduduk Kufah, mereka adalah pengikut Ibnu Mas'ud, seperti Qatadah, Alqamah dan Asy-Sya'bi.

Dalam pembahasan kali ini, kami hanya akan menuliskan biografi dua ulama tafsir di antara mereka, yaitu Mujahid dan Qatadah.

1. Mujahid

Beliau adalah Mujahid bin Jabar Al-Makki pelayan As-Saib bin Abi Saib Al-Makhzumi, lahirkan pada tahun 21 H, dan beliau belajar tafsir Al-Qur'an dari Ibnu Abbas . Ibnu Ishaq meriwayatkan darinya bahwa dia berkata, "Aku memperlihatkan mushaf kepada Ibnu Abbas tiga kali pertemuan, dari surat Al-Fatihah sampai akhir Al-Qur'an, aku mempelajari dan memahami setiap ayat dari beliau dan menanyakan kepadanya."

Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Apabila sampai kepadamu tafsir dari Mujahid, maka cukuplah hal itu bagimu." Asy-Syafi'i dan Al-Bukhari berpegang kepada tafsir beliau, dan banyak yang beliau nukil dari Mujahid dalam kitab Shahihnya.

Berkata Adz-Dzahabi pada akhir biografi beliau: "Umat bersatu di atas kepemimpinan imamah Mujahid dan berhujjah kepadanya." Beliau wafat di Mekah pada tahun 104 H dalam keadaan sujud.

2. Qatadah

Beliau adalah Qatadah bin Di'amah As-Sudusi Al-Bashri, lahir pada tahun 61H dalam keadaan buta. Beliau bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Beliau memiliki hafalan yang kuat, sampai-sampai dia berkata tentang dirinya; "Aku tidak berkata kepada orang yang mengabarkan berita kepadaku sama sekali, (kecuali) aku mempertimbangkannya dulu, dan tidaklah kedua telingaku mendengar sesuatu apapun kecuali hatiku menghafalnya."

Imam Ahmad menyebut tentang beliau dan mengagungkannya, kemudian Imam Ahmad mulai menyebarkan ilmu, pemahaman dan pengetahuannya tentang ikhtilaf (perbedaan) dan tafsir, serta menyifati beliau sebagai orang yang sangat kuat hafalannya dan tinggi pemahaman agamanya.

Imam Ahmad berkata, "Sedikit sekali kamu dapati orang yang melebihi beliau, adapun yang semisal dengan beliau, maka mungkin saja."

Dan beliau berkata, "Beliau (Qatadah) adalah penduduk Bashrah yang paling kuat hafalannya, dia tidak mendengar sesuatu kecuali dihafalnya". Beliau wafat di Wasith pada tahun 117 H pada usia 56 tahun.


[1] Hal ini karena bapaknya meninggal dunia pada masa Jahiliyah. Dan ibunya mengalami masa Islam, kemudian dia masuk Islam.

Waktu Shalat
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya