Kitab Referensi

Ushul Fi Tafsir - Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin

BAB I – AL-QUR’AN AL-KARIM

A. Makna Al-Qur'an

1. Makna Al-Qur'an secara Bahasa

Secara bahasa kata Al-Qur'an adalah bentuk mashdar dari kata (قَرَأَ) yang bermakna (تَلَا) (membaca) atau bermakna (جَمَع) (mengumpulkan), seperti kamu mengatakan (قَرَأَ - قَرْءًا - وَقُرْآناًatau mengatakan (غَفَرَ - غَفْرًا - وَغُفْرَانًاberdasarkan maknapertama yaitu (تَلَا), maka Al-Qur'an adalah bentuk mashdar yang bermakna isim ma'ful, sehingga bermakna (مَتْلُو) (yangdibaca). Sedangkan berdasarkan makna kedua yaitu (جَمَعَ), maka Al-Qur'an adalah bentuk mashdar yang bermakna isim fail, sehingga bermakna (جَامِعٌ) (pengumpul), karena Al-Qur'an mengumpulkan kabar-kabar dan hukum-hukum.[1]

2. Makna Al-Qur'an secara Istilah

Secara istilah syar'i Al-Qur'an adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, penutup para Nabi yaitu Muhammad , yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.

Allah berfirman

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيلاً

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) Al-Qur'an sebagian demi sebagian (berangsur-angsur)" (QS. Al-Insan:23)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya." (QS. Yusuf:2)

Sungguh Allah Ta'ala telah menjaga Al-Qur'an yang agung ini dari segala perubahan, penambahan, pengurangan maupun penggantian. Sehingga Allah 'Azza wa Jalla menjamin untuk menjaga keaslian Al-Qur'an itu, sebagaimana tersebut dalam firman-NYA

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr:9)

Oleh sebab itu meski telah berabad-abad lamanya semenjak Al-Qur'an diturunkan, tidak ada seorang pun dari musuh-musuh Allah yang berusaha untuk merubah Al-Qur'an, dengan menambah, mengurangi ataupun menggantinya kecuali Allah pasti akan membuka kedok dan menyingkap usahanya itu.

Allah telah mensifati Al-Qur'an dengan sifat-sifat yang menunjukkan pada keagungan, keberkahan dan kesempurnaannya. Dan Al-Qur‘an merupakan hakim (pemimpin) bagi kitab-kitab sebelumnya.

Allah Ta'ala berfirman.

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعاً مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

"Dan sungguh Kami mendatangkan kepadamu tujuh yang diulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung." (QS. Al-Hjr:87)

وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ

"Dan Al-Qur'an yang mulia." (QS. Qaaf: 1)

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

"Itu adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya, dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." (QS. Shaad: 79)

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Dan ini adalah kitab yang Kami turunkan yang penuh dengan berkah, maka ikutilah ia dan bertakwalah kalian, semoga kalian dIrahmati. " [QS. Al-An'am: 155]

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia." [Q S. Al-Waqi'ah: 77]
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

"Sesungguhnya Al~Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus," [Qs. Al-Israa':9]

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعاً مُتَصَدِّعاً مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

"Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir." [QS. Al-Hasyr: 21]

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَاناً فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ. وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْساً إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُون.

"Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?". Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir." [QS. At-Taubah: 124-125]

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ

"Dan diwahyukan kepadaku Al-Qur'an ini agar aku memperingatkan kalian dengannya, dan semikian pula kepada orang-orang yang telah sampai kepadanya Al-Qur'an." [QS. Al-An'am:19]

فَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَاداً كَبِيراً

"Maka janganlah kamu mentaati orang-orang yang kafir, dan berjihadlah (melawan) mereka dengan jihad yang besar." [QS. Al-Furqan:52]

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدىً وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

"Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." [QS. An-Nahl:89]

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقاً لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَممُهَيْمِناً عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ

"Dan Kami telah menurunkan kepadamu kitab Al-Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. Maka, putuskanlah perkara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan." [QS. Al-Maidah:48]

Al-Qur'an Al-Karim merupakan mashdar(sumber) syari'at ajaran agama islam, yang dibawa oleh Muhammaddengan risalah kerasulannya kepada seluruh umat manusia, Allah Ta 'ala berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً

"Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur'an) kepada hamba Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam"[QS. Al-Furqaan: 1]

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ. اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيد

"(Ini adalah) kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dan gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih." [QS. Ibrahim: 1-2]

Dan sunnah Nabi juga merupakan mashdar (sumber) pensyariatan hukum-hukum Islam, sebagaimana ditetapkan oleh Al-Qur'an dalam firman Allah Ta'ala:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظاً

"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka." [QS. An-Nisaa': 80]

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالاً مُبِيناً

"Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya mala sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." [QS. Al-Ahzab:36]

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." [QS. Al-Hasyr: 7]

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌرَحِيمٌ

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dasa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang' [QS. Ali Imran: 31]

B. Turunnya Al-Qur'an

Al-Qur'an pertama kali turun kepada Rasulullah pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Allah Ta'ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan." [QS. Al-Qadr:1]
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ. فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." [QS. Ad-Dukhan: 3-4]
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

"Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil)" [QS. Al-Baqarah:185]

Menurut pendapat yang masyhur wahyu pertama kali turun ketika Nabi berusia 40 tahun. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas , Atha', Sa'id bin Al-Musayyib dan yang lainnya. Dan pada usia ini merupakan usia kematangan yang telah mencapai kedewasaan, kesempurnaan akal dan intelektualitas.

Malaikat yang menyampaikan –wahyu- Al-Qur'an dari Allah Ta'ala kepada Nabi adalah Jibril , salah satu malaikat al-muqarrabin (yang dekat dengan Allah). Allah Ta'ala berfirman

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ. نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ. عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ. بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ
"Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benarbenar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas."[QS, Asy-Syu'ara: 192-195]

Malaikat Jibril memiliki sifat-sifat yang terpuji dan agung serta kemuliaan; di antaranya adalah kekuatan, kedekatan kepada Allah Ta'ala, kedudukan, kehormatan di kalangan para malaikat lainnya, amanah, kebaikan dan kesucian. Semua itu menjadikannya patut menjadi utusan Allah untuk menyampaikan wahyu kepada para Rasul-Nya. Allah Ta'ala berfirman.

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ. ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ. مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

"Sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril). Yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy Yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya"[QS. At-Takwir: 19-21]

عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى

"Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas, dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, sedang dia berada di ufuk yang tinggi" (QS.An-Najm:5-7)

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدىً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

"Katakanlah: Ruhul Qudus (Jibril) menurunkannya (Al-Qur'an) dari Rabbmu dengan (membawa) kebenaran untuk menguatkan orang-orang yang beriman dan sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri."[QS. An-Nahl: 102]

Allah Ta'ala telah menjelaskan kepada kita sifat-sifat Jibril yang turun dengan membawa Al-Qur'an dari sisi-Nya. Hal ini menunjukkan akan keagungan Al-Qur'an dan penjagaan Allah Ta’ala terhadapnya, karena tidaklah malaikat yang agung diutus kecuali dengan membawa perkara-perkara yang agung.

C. Ayat Al-Qur'an yang Pertama Kali Turun

Ayat Al-Qur'an yang pertama kali turun, menurut riwayat yang masyhur dikalangan ulama adalah lima ayat pertama dari surat Al-'Alaq, yaitu firman Allah :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْأِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq: 1-5)

Kemudian wahyu terputus selang beberapa waktu, kemudian turun lima ayat pertama surat Al-Muddatstsir, yaitu firman Allah Ta'ala,

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّر (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5)

"Hai orang-orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabbmu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah."[QS. Al-Muddatstsir: 1-5]

Dan di dalam kitab Ash-Shahihain yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari 'Aisyah , pada permulaan turunnya wahyu dia berkata, "Hingga datang kepada Rasulullah "al-haq" (wahyu), Beliau sedang di dalam gua Hira', datang kepadanya malaikat jibril seraya berkata: "Iqra!" (Bacalah [wahai Muhammad])!", Nabi menjawab, "Ma ana biqaariin" (Sayatidak bisa membaca)" -yakni saya tidak mengenal bacaan-... dan seterusnya disebutkan dalam hadits tersebut, kemudian Nabi berkata, اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقsampai kepada firman-Nya: عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ. Dan tersebut juga di dalam kitab Ash-Shahihain, dari Jabir bahwa Nabi bercerita tentang selang waktu terputusnya wahyu: "Ketika aku berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit..., dan seterusnya sampai selesainya hadits...kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayatيَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرsampaikepada ayatوَالرُّجْزَ فَاهْجُر

Banyak ayat-ayat yang dikatakan sebagai ayat yang pertama kali diturunkan, padahal yang dimaksud adalah ayat yang pertama turun di sini adalah ditinjau dari sudut pandang atau sisi-sisi tertentu. Jadi, ayat tersebut merupakan ayat yang pertama turun tapi muqayyad (terikat oleh hal tertentu), seperti dalam hadits Jabir dalam kitab Ash-Shahihain, bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya kepadanya: "Makna Ayat Al-Qur'an yang pertamakali diturunkan?" Jabir menjawab يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ, Abu Salamah berkata: "Saya kabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya ayat yang diturunkan pertama kali adalah ayat: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ, maka Jabir berkata: "Saya tidaklah mengabarkan kepadamu kecuali apa-apa yang dikatakan oleh Rasulullah, Rasulullah telah berkata: "Aku berkhalwat (kontemplasi) di gua Hira', setelah selesai akupun turun dari gua itu ... dan seterusnya sampai akhir hadits ... maka aku mendatangi Khadijah, kemudian aku berkata: "Selimutilah aku dan sirami aku dengan air yang dingin." kemudian diturunkan kepadaku ayat: يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُsampai kepada firman-Nya:وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

Jadi permulaan ayat yang turun sebagaimana disebutkan oleh Jabir ini ditinjau dari ayat Al-Qur'an yang pertama kali turun setelah selang waktu terputusnya wahyu, atau ayat Al-Qur'an yang pertama kali turun pada masa kerasulan, karena dengan diturunkannya surat lqra' (Al-'Alaq) ditetapkanlah risalah Kenabian Muhammad , dan dengan diturunkannya surat Al-Muddatstsir ditetapkanlah risalah kerasulan Muhammad , berdasarkan firman-Nya: قُمْ فَأَنْذِرْ. Oleh sebab itu, para ulama berpendapat bahwa Nabi diangkat menjadi nabi dengan turunnya wahyu اقْرَأْ dan diangkat menjadi rasul dengan turunnya wahyuالْمُدَّثِّرُ

D. Turunnya Al-Qur’an Secara Ibtida’i dan Sababi

Turunnya Al-Qur'an dibagi menjadi dua macam, yaitu:

1. Secara ibtida'i, yaitu ayat Al-Qur'an yang turun tanpa didahului oleh suatu sebab yang melatarbelakanginya. Dan mayoritas ayat-ayat Al-Qur'an turun secara ibtida’i, di antaranya firman Allah Ta'ala:

وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ

"Dan di antara mereka ada yang menjanjikan kepada Allah bahwa jika sebagian karunia-Nya diberikan kepada kami, sungguh kami akan bershadaqah dan sungguh kami akan menjadi orang-orang yang termasuk dalam orang-orang yang shaleh". (QS. At-Taubah: 75)

Sesungguhnya ayat ini mula-mula turun untuk menjelaskan keadaan sebagian orang-orang munafik. Adapun mengenai berita yang masyhur bahwa ayat-ayat ini turun berkaitan dengan Tsa'labah bin Hathib dalam suatu kisah yang panjang yang disebutkan oleh mayoritas ahli tafsir dan dikuatkan oleh mayoritas da'i (pemberi nasehat), merupakan riwayat yang dha'if (lemah), yang tidak dapat dibenarkan.[2]

2. Secara sababi, yaitu ayat Al-Qur'an yang turun didahului oleh suatu sebab yang melatarbelakanginya. Sebab-sebab tersebut bisa berupa:

a) Pertanyaan yang dijawab oleh Allah .

Contoh:

يَسْأَلونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

"Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji." [QS. Al-Baqarah: 189]

b) Kejadian sebuah peristiwa yang membutuhkan penjelasan dan peringatan.

Contoh:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ

"Dan jika kamu bertanya kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." [QS. At-Taubah: 65]

Dua ayat di atas ini turun berkenaan seorang laki-laki dari golongan munafik yang berkata dalam suatu majlis pada waktu perang Tabuk: "Kami tidak melihat orang semisal para pembaca Al-Qur'an kita ini, mereka paling besar perutnya, paling dusta lisannya dan paling penakut ketika bertemu dengan musuh."

Yang dimaksud adalah Rasulullah dan para sahabat beliau. Kemudian hal itu sampai terdengar oleh Rasulullah , kemudian turunlah ayat Al-Qur'an. Kemudian laki-laki tersebut datang kepada Rasulullah untuk meminta maaf kepadanya, maka beliau menjawab dengan membacakan firman Allah Ta'ala,

أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ

"Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" [QS. At-Taubah: 65][3]

c) Adanya suatu permasalahan yang membutuhkan penjelasan hukumnya. Sebagaimana tersebut dalam firman Allah,

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّههُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (QS. Mujaadilah: 1)

E. Faedah Mengetahui Asbabun Nuzul

Mengetahui asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur'an) merupakan hal yang sangat penting, karena mengandung beberapa faedah, di antaranya:

1. Menjelaskan bahwa Al-Qur'an benar-benar turun dari Allah Ta'ala.

Hal ini dapat dilihat bahwa terkadang Nabi jika ditanya tentang suatu masalah, beliau terdiam dan tidak menjawab pertanyaan itu sampai turun wahyu kepadanya, atau beliau sedang menghadapi suatu permasalahan, kemudian turun wahyu kepada beliau sebagai penjelas atas hal tersebut.

Contoh Pertama:

Firman Allah Ta’ala,

وَيَسْأَلونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلاً

"Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah ruh itu termasuk urusan Rabbku, dan tidaklah datang kepada kalian ilmu (tentang hal itu) kecuali sedikit", [QS. Al-Israa': 85]

Dalam kitab Shahih Bukhari [4]dari Abdullah bin Mas'ud bahwa seorang laki-laki dari kalangan Yahudi berkata: "Wahai Abu Qasim -nama panggilan untuk Rasulullah-, apa ruh itu?" Maka Nabi diam tidak menjawab pertanyaan itu, dalam suatu lafazh disebutkan, maka Nabi menahan diri dan tidak menjelaskan sesuatu pun kepada mereka. Aku tahu bahwa beliau sedang menerima wahyu, kemudian aku berdiri di tempatku, ketika wahyu turun beliau berkata,

وَيَسْأَلونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي

"Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah ruh itu termasuk urusan Rabbku."

Contoh Kedua:

Firman Allah Ta'ala:

يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلّ

"Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita kembali ke Madinah, benar-benar orang yang lebih kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya." (QS. Al-Munafiqun: 8)

Dalam kital Shahih Bukhari[5] disebutkan bahwa Zaid bin Arqam mendengar Abdullah bin Ubay seorang pemimpin dari golongan munafik mengatakan bahwa menurut ayat di atas, yang dimaksud dengan orang yang lebih mulia adalah dia,sedangkan Rasulullah dan para sahabatnya adalah orang yang lebih hina Maka Zaid mengabarkan hal itu kepada pamannya, kemudian sang paman mengabarkannya kepada Nabi, maka Nabi memanggil Zaid, kemudian dia mengabarkan apa apa yang dia dengar kepada Nabi, kemudian Nabi dalang kepada Abdullah bin Ubay dan para sahabatnya, maka mereka bersumpah bahwa mereka tidak mengatakan hal itu, maka Rasulullah pun mempercayai mereka, Maka Allah Ta'ala menurunkan wahyu sebagai bentuk pembenaran kepada Zaid seperti yang tersebut dalam ayat ini, sehingga menjadi jelaslah urusan tersebut bagi Rasulullah .

2. Sebagai bukti pertolongan Allah Ta'ala dan pembelaan atas Rasul-Nya.

Contoh tentang hal itu tersebut dalam firman Allah Ta'ala:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلاً

"Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekati turun saja?'. Demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar)" (QS. Al-Furqaan: 32)

Begitu juga dengan ayat-ayat Al-Ifk (berita dusta), sesungguhnya ayat-ayat tersebut merupakan pembelaan terhadap tempat tidur (istri) Nabi dan pensucian atas dirinya dari kebohongan para pendusta.

3. Sebagai bukti pertolongan Allah Ta'ala kepada hamba-Nya, dengan melapangkan kesusahan dan menghilangkan kesedihan mereka.

Contoh yang berkenaan dengan hal ini terdapat dalam ayat tentang tayammum. Tersebut didalam kitab Shahih Bukhari[6]bahwa kalung milik Aisyah hilang, ketika itu dia sedang ikut bersama Nabi dalam suatu perjalanan, maka Nabi pun pergi untuk mencarinya. Dan orang-orang ketika itu tidak menemukan air, kemudian mereka mengadukan hal itu kepada Abu Bakar Radhiyallahu Anhu, disebutkan dalam hadits bahwa kemudian turunlah ayat tentang tayammum, maka merekapun melakukan tayammum. Berkata Ubaid bin Hudhair: "Ini bukanlah barakah kalian yang pertama kalinya wahai keluarga Abu Bakar". Hadits ini terdapat dalam Shahih Bukhari dengan lafazh yang panjang.

4. Memahami ayat dengan pemahaman yang benar.

Contoh tentang hal ini terdapat dalam firman Allah Ta'ala,

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا

"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah, maka barangsiapa yang beribadah ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya." (QS. Al-Baqarah: 158)

Sesungguhnya melihat dari teks ayat فَلا جُنَاحَ عَلَيْه("maka tidak ada dosa baginya") menunjukkan bahwa hakekat perintah mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah hanyalah merupakan perintah yang bersifat mubah saja.

Dalam kitab Shahih Bukhari[7] dari Ashim bin Sulaiman, dia berkata: "Saya bertanya kepada Anas bin Malik tentang Shafa dan Marwah", Anas menjawab: "Kami berpendapat bahwa keduanya termasuk perkara jahiliyyah, maka setelah datang Islam kami melestarikan atas keduanya." Kemudian Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya,

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah " sampai kepada firman-Nya:

أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا

"mengerjakan sa'i antara keduanya".

Dengan demikian dapat diketahui bahwa peniadaan dosa di sini bukan berarti sebagai pengelasan tentang asal hukum sa'i, tetapi yang dimaksudkan adalah peniadaan atas keberatan mereka atau anggapan bahwa hal itu dosa, sehingga mereka menahan diri dari mengerjakan ss'i antara keduanya, karena mereka berpendapat bahwa keduanya termasuk perkara jahiliyyah. Adapun asal hukum sa'i, maka telah jelas dengan firman Allah:مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ "Termasuk sebagian syi'ar-syi'ar Allah"

Keumuman Laf azh dan kekhususan Sebab

Apabila ada suatu ayat yang turun berhubungan dengan sebab tertentu secara khusus, sedangkan bentuk lafazhnya bersifat umum, maka cakupan hukum dalam lafazh itu disamping berlaku untuk sebab khusus tersebut, juga berlaku secara umum sesuai dengan keumuman lafazhnya, karena Al-Qur‘an turun sebagai syari'at yang umum berlaku untuk semua umat, maka pengambilan dasar hukum atas nash itu didasarkan kepada keumuman lafazh tidak didasarkan kepada kekhususan sebabnya.

Contoh tentang masalah ini terdapat dalam ayat-ayat li'an, yakni firman Allah Ta'ala.

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ

"Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri." (QS. An-Nuur 6)

sampai firman-Nya:

إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ

"Jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar." (QS. An-Nuur: 9)

Dalam kitab Shahih Bukhari[8] dari hadits Ibnu Abbas, bahwa Hilal bin Umayyah menuduh istrinya berzina dengan Syarik bin Sahma', maka Nabi berkata:"Al Bayyinah" (hendaklah kamu mendatangkan bukti) atau kamu akan dirajam. Maka Hilal berkata: "Demi Dzat yang B mengutusmu dengan Al-Haq (kebenaran), sungguh aku benar, semoga Allah menurunkan ayat yang dapat membebaskan punggungku dari hukum (had)", kemudian Jibril turun dan membawa wahyu kepada beliau,

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ

"Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina) "

Beliau membaca hingga sampai kepada ayat,

إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ

"Jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar,"

Jadi, ayat ini turun dengan sebab tuduhan Hilal bin Umayyah kepada istrinya, akan tetapi kandungan hukumnya bersifat umum, baik untuk dirinya maupun untuk orang yang lain, hal ini berdasarkan dalil yang diriwayatkan oleh Bukhari dari hadits Sahi bin Sa'd bahwa Uwaimir Al-'Ajlani datang kepada Nabi , kemudian dia berkata: "Wahai Rasulullah, seorang laki-laki mendapati istrinya bersama dengan laki-laki lain, apakah dia (boleh) membunuhnya (laki-laki yang bersama istrinya tersebut) maka kalian (boleh) membunuhnya, atau apa yang harus dia lakukan?" Nabi menjawab: "Allah telah menurunkan Al-Qur'an tentangmu dan tentang istrimu", maka Rasulullah memerintahkan atas keduanya denganmula'anah(melaknat) sesuai dengan apa yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya, maka dia meli'an istrinya. (Al-Hadits)[9]

Jadi, Nabi menjadikan hukum dalam ayat-ayat ini mencakup masalah Hilal bin Umayyah dan juga yang lainnya.

F. Ayat Makkiyah dan Madaniyah

Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Dan sebagain besar wahyu Al-Qur'an itu Rasulullah terima di Makkah,

Allah Ta'alaberfirman,

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلاً

"Dan Al-Qur‘an, Kami menganesur-angsurkannya agar kamu membacakannya kepada manusia sehingga menetap (kokoh di hati) dan Kami menurunkannya sebagian demi sebagian," (QS. Al-Israa': 106)

Oleh karena itu, para ulama Rahimahumullah membagi ayat-ayat Al-Qur'an dalam dua kategori, yaitu Makkiyah dan Madaniyah. Ayat Makkiyah adalah ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi sebelum hijrah ke Madinah. Ayat Madaniyah adalah ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi setelah hijrah ke Madinah. Berdasarkan definisi tersebut, maka firman Allah Ta’ala:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسلامم دِيناً

"Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Maidah: 3) adalah termasuk ayat madaniyah meskipun ayat tersebut turun kepada Nabi pada haji Wada' di 'Arafah.

Dalam Shahih Bukhari dari Umar , ia berkata: "Sungguh kami benar-benar mengetahui hari dan tempat diturunkannya (ayat) tersebut kepada Nabi tersebut turun ketika beliau sedang berada di Arafah pada ahri Jum'at.

Perbedaan Makkiyyah dan Madaniyyah

a) Dari Sisi Uslub

1) Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya uslub (gaya bahasa)nya sangat kuat dan khitab (pembicaraan)nya tegas, karena mukhathab (orang yang diajak bicara) mayoritas adalah para pembangkang dan orang-orang yang sombong, tidak ada yang lebih patut bagi mereka kecuali hal itu. Silahkan baca dua surat yaitu Al-Muddatstsir dan Al-Qamar.

Adapun ayat-ayat Madaniyah, pada umumnya uslubnya halus dan khitab (pembicaraan)nya mudah, karena mayoritas orang yang diajak bicara adalah orang-orang yang menerima dan tunduk. Silahkan baca surat Al-Maidah.

2) Ayat Makkiyyah pada umumnya pendek-pendek dan kuat hujjahnya, karena mayoritas orang yang diajak bicara adalah orang-orang yang membangkang dan durhaka, maka mereka diajak bicara sesuai dengan kondisi dan keadaan meereka. Silahkan baca surat Ath-Thuur.

Adapun ayat-ayat Madaniyah pada umumnya panjang-panjang dan menyebutkan hukum-hukum yang, disampaikan dengan tanpa banyak alasan, karena kondisi dan keadaan mereka menuntut halitu. Silahkan baca ayat tentang masalah hutang dalam surat Al-Baqarah.

b) Dari sisi materi pembahasan

1) Ayat-ayat Makkiyah pada umumnya berisi tentang pemantapan atau penguatan tauhid dan akidah yang lurus, khususnya yang berkaitan dengan tauhid uluhiyah dan iman kepada hari kebangkitan, karena orang yang diajak bicaranya mayoritas mengingkari hal tersebut.

Adapun ayat-ayat Madaniyah, pada umumnya berisi tentang penjelasan ibadah dan muamalah, karena tauhid dan akidah yang lurus telah menetap pada jiwa-jiwa orang yang diajak bicara, sedangkan mereka membutuhkan penjelasan tentang ibadah dan muamalah.

2) Pada ayat-ayat Madaniyah banyak disebutkan tentang hukum masalah jihad dan karakteristik orang-orang munafik. Hal itu karena ketika disyariatkan ayat-ayat tersebut, telah muncul benih-benih kemunafikan, berbeda dengan ayat-ayat Makkiyah.

Beberapa Faedah Mengetahui Ayat Madaniyah dan Makkiyah

Mengetahui perbedaan ayat-ayat Makkiyah danMadaniyah merupakan bagian terpenting dari ilmu-ilmuAl-Qur'an, kerena hal itu mengandung beberapa faedah, diantaranya:

a. Menunjukkan ketinggian balaghah dan uslub dalam Al-Qur'an, sehingga dalam berdakwah atau mengajak kepada setiap kaum selalu disesuaikan dengan kondisi dan keadaan mereka, baik menyangkut tentang keras lembutnya bentuk ajakan maupun berat ringannya suatu perintah.

b. Menunjukkan hikmah pensyariatan hukum-hukum yang sangat sempurna, yakni hukum-hukum itu diturunkan secara bertahap sesuai dengan keadaaan, kondisi dan tuntutan mukhathabin (umat manusia) serta kesiapan mereka untuk menerima dan melaksanakan hukum-hukum tersebut.

c. Pendidikan dan pengarahan bagi para da'i agar mereka menerapkan prinsip-prinsip Qurani di dalam dakwah mereka, baik menyangkut pemilihan uslub ataupun tahapan-tahapan materi yang tepat, disesuaikan dengan audien dakwah mereka.

d. Memprioritaskan ayat yang nasikh (menghapuskan) dari ayat yang mansukh (yang dihapuskan) jika kedua ayat ini yakni ayatMakkiyah dan ayat Madaniyah membahas suatu hukum yang sama yang mengharuskan adanya naskh (penghapusan), karena ayat Madaniyah adalah penghapus bagi ayat Makkiyah, karena ayat Madaniyah lebih belakangan turunnya daripada ayat Makkiyah.

G. Hikmah Diturunkannya Al-Qur'an secara Berangsur-angsur

Pembagian ayat-ayat dalam Al-Qur'an menjadi Makkiyah dan Madaniyah, menunjukkan bahwa Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi secara berangsur-angsur. Turunnya Al-Qur'an yang demikian itu memiliki hikmah yang banyak, di antaranya:

1. Untuk menguatkan hati Nabi berdasarkan firman Allah Ta'ala,

وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ ٱلْقُرْءَانُ جُمْلَةً وَٰحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَٰهُ تَرْتِيلًا . وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَٰكَ بِٱلْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

"Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?", Demikianlah (yaitu demikianlah Kami menurunkannya secara berangsur-angsur) supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah x>rang-orang kafir itu datangi kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang bekar dan yang paling baik penjelasannya." (QS. Al-Furqaan:32-33)

2. Untuk memudahkan manusia dalam menghafal, memahami dan mengamalkannya, sehingga dibacakankepada mereka setahap demi setahap, berdasarkan firman Allah Ta'ala,

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلاً

"Dan Al-Qur’an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur supaya kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya sebagian demi sebagian." (QS. Al-Israa': 106)

3. Menambah keinginan untuk menerima dan melaksanakan perintah yang datang dari Al-Qur'an, sehingga manusia merindukan dengan penuh harap akan turunnya ayat, terutama berkenaan dengan hal-hal yang sangatmembutuhkan jawaban atau penjelasan, sebagaimana dalam ayat-ayat tentang Al-Ifk (berita dusta) dan li'an.

4. Pensyari'atan hukum secara berangsur-angsur hingga sampai kepada kesimpulan hukum yang sempurna seperti dalam ayat-ayat khamr, yang mana manusia hidup dalam kultur dan budaya meminum khamr, maka sangatlah sulit dan berat bagi mereka untuk menerima larangan dengan meninggalkan tradisi mereka itu secara mutlakysehingga pensyariatan hukum dalam pelarangan minum khamr secara bertahap hingga sampai kepada pengharaman khamr secara mutlak.

Tahapan-tahapan hukum pengharaman khamr adalah sebagai berikut:

1. Firman Allah Ta'ala,

يَسْأَلونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

"Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." (QS. Al-Baqarah: 219)

Maka dalam ayat ini mengandung persiapan bagi jiwa-jiwa untuk menerima pengharaman khamr, karena sesungguhnya akal menghendaki agar tidak melakukan suatu perbuatan yang dosanya lebih besar daripada manfaatnya.

2. Firman Allah Ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan." (QS. An-Nisaa': 43)

Maka dalam ayat ini terdapat latihan untuk meninggalkan khamr pada sebagian waktu, yaitu waktu-waktu shalat.

3. Firman Allah Ta'ala,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ فِى ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَعَنِ ٱلصَّلَوٰةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ . وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَٱحْذَرُواْ ۚ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَٱعْلَمُوٓاْ أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا ٱلْبَلَٰغُ ٱلْمُبِينُ

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasukperbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syetan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantar a kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat AJlah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka katahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul kami hanyalah menyampaikan (amanatkah) dengan terang." (QS. Al-Maidah: 90-92)

Maka dalam beberapa ayat ini terdapat larangan terhadap khamr secara mutlak dalam semua waktu, setelah sebelumnya jiwa-jiwa disiapkan kemudian dilatih dengan melarang minum khamr hanya pada sebagian waktu saja.

H. Tartib Dalam Al-Qur'an

Yang dimaksud dengan tartib dalam Al-Qur'an adalah membaca Al-Qur'an secara berkesinambungan dan berurutan sesuai dengan yang tertulis dalam mushaf-mushaf dan yang dihafal oleh para shahabat.

Tartib dalam Al-Qur'an ada 3 macam, yaitu:

1. Tartib kalimat (kata), yakni setiap kata dalam suatu ayat harus diletakkan pada tempat yang semestinya. Hal ini berdasarkan dalil nash dan ijma', dan kami tidak mengetahui ada seorang pun yang memperselisihkannya tentang masalah ini. Sebagai contoh, tidak boleh membaca ayat dalam surat Al Fatihah:

لله الحمد رب العالمين sebagai pengganti dari الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

2. Tartib ayat, yakni setiap ayat dari suatu surat harus diletakkan pada tempat yang semestinya. Hal ini berdasarkan dalil nash dan ijma', yang demikian ini adalah wajib menurut pendapat yang rajih (kuat) dan menyelisihinya hukumnya haram. Sebagai contoh, tidak boleh membaca ayat:

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ sebagai pengganti مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ.

Dan dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa Abdullah bin Zubair berkata kepada Utsman bin Affan tentang firman Allah Ta’ala :

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجاً وَصِيَّةً لِأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعاً إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ

Dan orang-orang yang akan meningal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaknya berwasiat kepada istri-istrinya (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya)” (Q.S Al-Bagarah:240) bahwa ayat ini telah di nasakh (dihapus) oleh ayat lainnya, yaitu firman Allah Ta’ala lainnya :

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجاً يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْراً

Orang-orang yang meninggal dunia diantaramu dengan neninggalkan istri-istri (hnedaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari” (Q.S. Al-Baqarah:234)

Dan ayat ini dibaca sebelum ayat yang tadi, dia (Abdullah bin Zubair berkata : “Kenapa engkau menulisnya ?” (yakni penulis apa yang telah dihapus tersebut). Maka Utsman menjawab, "Wahai anak saudaraku, aku tidak mau merubah Al-Qur'an sedikitpun dari tempatnya.” Dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i dan Tirmidzi dari hadita Utsman bahwa diturunkan kepada Nabi surat-surat yang memiliki sejumlah (ayat-ayat), maka apabila turun kepada beliau suatu ayat, beliau memanggil sebagian orang yang mampu menulis, kemudian beliau berkata, "Letakkanlah ayat-ayat ini pada satu surat yang disebutkan di dalamnya begini dan begini."

3. Tartib surat, yakni setiap surat dari satu mushaf harus diletakkan pada tempat yang semestinya. Hal ini berdasarkan ijtihad para ulama, sehingga hukumnya tidak wajib.

Dalam kitab Shahih Muslim dari Hudzaifah bin Al-Yaman bahwa pada suatu malam ia shalat bersama Nabi , maka Nabi membaca surat Al-Baqarah kemudian surat An-Nisaa' kemudian surat Ali Imran (dengan kata lain, Nabi membaca surat ke-2 dalam urutan mushaf, kemudian surat ke-4 dan kemudian ke-3).

Dan diriwayatkan oleh Bukhari sebagai ta’liq (komentar) : tentang Al-Ahnaf bahwa beliau (Al-Ahnaf) pada rakaat pertama membaca surat Al-Kahfi, dan pada rakaat kedua membaca surat Yusuf atau surat Yunus. Dan disebutkan bahwa beliau shalat Shubuh bersama Umar bin Al-Khaththab dengan membaca kedua surat tersebut (yakni surat Yusuf dan surat Yunus).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: "Diperbolehkan membaca surat ini sebelum (surat) ini (secara tidak urut -pent), dan demikian pula dalam penulisannya. Oleh karena itu, mushaf-mushaf para sahabat Radhiyallahu Anhum berbeda-beda dalam hal penulisannya, akan tetapi ketika mereka telah menyepakati mushaf pada masa utsman , maka hal ini menjadi sunnah khulafa'ur rasyidin, dan hadits telah menunjukkan bahwa sunnah mereka wajib diikuti."

I. Penulisan dan Pengumpulan Al-Qur'an

Dalam Penulisan dan pengumpulan Al-Qur'an ada 3 tahap, yaitu:

1. Tahap Pertama

Yaitu pada masa Nabi , pada tahap ini lebih banyak berpegang kepada hafalan daripada tulisan, hal ini disebabkan karena kuatnya ingatan para shahabat dan cepatnya hafalan mereka, sedikitnya penulis dan sedikitnya sarana untuk menulis. Oleh karena itulah Al-Qur'an tidak dikumpulkan dalam satu mushaf, tetapi siapapun yang mendengar satu ayat, dia menghafalnya atau menulisnya pada sesuatu yang mudah baginya, seperti pada pelepah kurma, papan, kulit (binatang), tanah keras, batu, kepingan logam dan sebagainya. Dan pada waktu itu terdapat Qurra' (para pembaca Al-Qur'an) dalam jumlah besar.

Dalam Shahih Bukhari dari Anas bin Malik bahwa Nabi mengutus tujuh puluh shahabat yang kenal sebagai Qurra' (para pembaca Al-Qur'an), maka Hiban bin Salim menghadang mereka dengan sekawanan penunggang kuda dan algojo di sisi sumur Ma'unah, kemudian membunuh para Qurra' tersebut. Selain mereka, masih banyak lagi sahabat lainnya (yang hafal Al-Qur'an) seperti khalifah yang empat, Abdullah bin Mas'ud, Salim budaknya Abu Huzaifah, Ubay bin Ka'ab, Mu'adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Darda' .

2. Tahap kedua

Pada masa Abu Bakar , yaitu pada tahun 12 H. Sebabnya adalah sejumlah besar para qurra' terbunuh pada perang Al-Yamamah, di antaranya Salim budak Abu Hudzaifah, beliau adalah salah seorang golongan shahabat yang mana Nabi Muhammad memerintahkan kepada umatnya agar mengambil (merujuk) Al-Qur'an dari mereka.

Maka Abu Bakar memerintahkan untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an agar tidak hilang. Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Umar bin Al-Khaththab bermusyawarah dengan Abu Bakar tentang pengumpulan Al-Qur'an setelah perang Al-Yamamah, maka beliau diam, Umar terus, berulang kali membujuk Abu Bakar sehingga Allah Ta'ala membukakan hati Abu Bakar untuk menerima pendapat Umar itu, kemudian Abu Bakar memanggil Zaid bin Tsabit, maka Zaid datang kepada beliau dan di sisi beliau ada Umar, kemudian Abu Bakar berkata kepadanya: "Sesungguhnya engkau adalah seorang pemuda yang cerdas, kami tidak meragukanmu, dan engkau adalah penulis wahyu bagi Rasulullah, maka periksalah Al-Qur'an dan kumpulkanlah". Dia (Zaid bin Tsabit) berkata: "Maka aku memeriksa Al-Qur'an dan mengumpulkannya dari pelepah dan tanah keras (batu) serta sahabat-sahabat yang hafal Al-Qur'an". Kemudian mushaf (yang ditulis oleh Zaid) tersebut disimpan oleh Abu Bakar sampai beliau wafat, kemudian mushaf itu disimpan oleh Umar semasa hidupnya, kemudian disimpan oleh Hafshah putri Umar .

Diriwayatkan oleh Bukhari dengan kisah yang panjang bahwa kaum muslimin telah menyetujui Abu Bakar tentang hal tersebut, dan mereka menganggap bahwa usaha pengumpulan Al-Qur'an itu sebagai kebaikan beliau. Berkata Ali : "Manusia yang paling besar jasanya dalam hal mushaf adalah Abu Bakar, semoga rahmat Allah tercurahkan kepada Abu Bakar, beliau adalah orang pertama yang mengumpulkan kitabullah."

3. Tahap ketiga

Pada masa amirul mukminin Utsman bin Affan , yaitu pada tahun 15 H. Berawal dari adanya perbedaan bacaan Al-Qur'an di kalangan umat Islam sesuai lembaran-lembaran mushaf yang ada di tangan mereka (para sahabat ), dan adanya kekhawatiran dari perbedaan itu akan dapat memicu timbulnya fitnah, maka Utsman menyatukan lembaran-lembaran tersebut menjadi satu mushaf agar umat Islam tidak berselisih dan berbantah-bantahan tentang kitabullah, sehingga mereka akan berpecah belah.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Hudzaifah bin Al-Yaman menghadap kepada Utsman setelah penaklukan Armenia dan Azerbaijan. Ia menceritakan kepada Utsman tentang perselisihan mereka (umat Islam) dalam membaca Al-Qur'an, kemudian ia berkata, "Wahai amirul mu'minin, susullah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Al-Kitab (Al-Qur'an) seperti berselisihnya orang-orang Yahudi dan Nashrani". Maka Ustman meminta kepada Hafshah, "Kirimkanlah kepada kami lembaran-lembaran (Al-Qur'an), kami akan menyalinnya pada mushaf-mushaf, kemudian kami akan mengembalikannya lagi kepada kamu". Maka Hafshah memenuhi permintaannya.

Kemudian Utsman memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Az-Zubair, Sa'id bin Al-Ash dan Abdurahman bin Al-Harits bin Hisyam, maka mereka menyalinnya pada beberapa mushaf. Zaid bin Tsabit adalah orang Anshar sedangkan tiga orang lainnya adalah orang Quraisy. Ustman berkata kepada tiga orang Quraisy tersebut, "Apabila kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit tentang sesuatu dalam Al-qur'an maka tulislah dengan lisan Quraisy karena Al-Qur'an Turun dengan lisan-lisan mereka (Quraisy)", maka mereka pun mengerjakannya.

Setelah mereka selesai menyalin lembaran-lembaran tersebut pada mushaf, Utsman mengembalikan lembaran-lembaran tersebut kepada Hafshah. Dan beliau mengirimkan kepada setiap penjuru (wilayah umat Islam) satu mushaf yang telah mereka salin itu, dan beliau memerintahkan untuk membakar semua mushaf Al-Qur'an selain yang telah disalin itu, baik yang ada dalam bentuk lembaran maupun mushaf, Utsman melakukan hal itu setelah beliau bermusyawarah dengan para sahabat . Hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dawud dari Ali bahwa ia berkata, "Demi Allah, tidaklah beliau melakukan sesuatu terhadap mushaf-mushaf kecuali berasal dari kesepakatan kami" Beliau (Utsman) berkata "Saya berpendapat hendaknya kita mengumpulkan manusia pada satu mushaf sehingga tidak ada perpecahan dan tidak pula ada perselisihan," kami berkata: "Alangkah baiknya pendapatmu". Berkata Mush'ab bin Sa'd: "Aku melihat banyak sekali umat Islam yang menyaksikan ketika Utsman membakar mushaf-mushaf". Hal itu mengherankan mereka - atau dia berkata: "Tidak ada seorangpun diantara mereka yang mengingkari hal itu." - Hal itu termasuk kebaikan-kebaikan amirul mu'minin Utsman yang mana kaum muslimin telah menyetujui dan menyepakati beliau akan hal tersebut. Dan hal ini merupakan penyempurnaan dari pengumpulan yang dilakukan oleh para khalifah Rasulullah , yakni Abu Bakar .

Perbedaan antara pengumpulan Al-Qur'an di masa Utsman dan pengumpulan Abu Bakar adalah bahwa tujuan pengumpulan Al-Qur'an pada masa Abu Bakar adalah menghimpun semua ayat-ayat Al-Quran ke dalam satu mushaf, sehingga tidak ada sesuatupun yang hilang, tanpa membawa manusia bersatu pada satu mushaf. Hal ini karena tidak terlintas dalam benak Abu Bakar akan terjadi perselisihan dalam bacaan umat Islam, yang mendorong beliau untuk mengajak mereka bersepakat dalam satu mushaf.

Adapun tujuan pengumpulan Al-Qur'an pada masa Utsman adalah penyeragaman dari beberapa mushaf Al-Qur'an yang ada dalam satu mushaf, agar umat manusia sepakat atau merujuk pada satu mushaf tersebut, karena adanya kekhawatiran akan timbul perpecahan umat Islam akibat dari perbedaan bacaan mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur'an.

Hikmah di balik pengumpulan Al-Qur'an ini dapat membawa kemaslahatan yang besar bagi umat Islam, yakni mempersatukan jamaah umat Islam, menyatukan persepsi, mempererat ukhuwah dan kasih sayang di antara mereka, serta menolak mafsadah (bencana) yang lebih besar yaitu perpecahan di kalangan umat Islam, perbedaan persepsi dan pendapat, serta munculnya kebencian dan permusuhan. Hingga saat ini kaum muslimin sepakat atas kesepakatan yang telah disepakati di kalangan umat Islam terdahulu dengan jalan mutawatir, orang yang masih kecil mengambil Al-Qur'an dari orang yang sudah besar, tidak mencampurinya dengan tangan-tangan orang yang merusak dan tidak membinasakannya dengan hawa nafsu orang-orang yang menyimpang.

Maka bagi Allahlah segala puji, Rabb pencipta langit dan bumi, Rabb semesta alam.

 


[1] Mungkin juga bermakna isim maf'ul yang bermakna (مَجْمُوعٌ) (مَجْمُوعٌ) (yang dikumpulkan) karena Al-Qur'an dikumpulkan dalam mushaf-mushaf dan hati (hafalan) para shahabat.

[2] Diriwayatkan oleh Ath-thabrani,

[3] Dijelaskan oleh ibn Katsir pada Tafsirnya

[4] HR Bukhari 125 Kitab Ilmu, HR. Muslim 2794

[5] HR. Bukhari 4900, HR Muslim 367

[6] HR. Bukhari 334

[7] HR. Bukhari 1278

[8] HR. Bukhari 2671

[9] HR. Bukhari 423, HR. Muslim 1492

Waktu Shalat
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya