Kitab Referensi

Kitab : Mabahits fi Ulumil Hadits - Syaikh Manna' al-Qatthan

SANAD DAN HAL-HAL SEPUTARNYA

Ada beberapa hal-hal ringan di seputar sanad yang dituangkan oleh para ulama ahli hadits dalam buku-buku mereka dan mereka memberinya nama-nama yang sesuai dengan kandungannya.

Di bab ini kami akan mengetengahkan sebagiannya:

SANAD 'ALIY DAN NAZIL

Definisi

Sanad ‘aliy adalah sebuah sanad yang jumlah perawinya lebih sedikit[1] jika dibandingkan dengan sanad yang lain. Dimana hadits dengan sanad yang jumlah perawinya sedikit tersebut akan tertolak dengan sanad yang sama jika jumlah perawinya lebih banyak.

Sanad Nazil adalah sebuah sanad jumlah perawinya lebih banyak jika dibandingkan dengan sanad yang lain. Dimana hadits dengan sanad lebih banyak tersebut akan tertolak dengan sanad yang sama jika jumlah perawinya lebih sedikit.

Jenis-jenis Sanad ‘Aliy

Sanad 'aliy.dibagi menjadii dua bagian: yang mutlak dan yang nisbi (relatif).

1. Yang bersifat Mutlak.

Sanad 'aliy yang bersifat mutlak adalah sebuah sanad yang jumlah perawinya hingga sampai kepada Rasulullah lebih sedikit jika dibandingkan dengan sanad yang lain. Jika sanad tersebut shahih, maka sanad itu menempati tingkatan tertinggi dari jenis-jenis sanad 'aliy.

2. Yang bersifat nisbi (relatif).

Yang dimaksud adalah sebuah sanad yang jumlah perawi di dalamnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan para imam ahli hadits. Seperti Syu'bah, Al-A'masy, Ibnu Juraij, Ats-Tsauri, Malik, Asy-Syafi'i, Bukhari, Muslim, dan sebagainya, meskipun jumlah para perawi setelah mereka hingga sampai kepada Rasulullah lebih banyak.

Sanad 'aliy yang bersifat nisbi ini terbagi menjadi empat bagian: muwafaqah, badal, musawah dan mushafahah.

1. Muwnfaqah

Muwafaqah adalah seorang meriwayatkan sebuah hadits hingga sampai kepada guru salah seorang penulis kitab hadits melalui jalur sanad lain yang jumlah para perawinya lebih sedikit dari pada jumlah para perawi yang ada pada jalur sanadnya sendiri melalui gurunya.

Sebagai contoh: Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Qutaibah, dari Malik. Seandainya kita meriwayatkannya melalui jalur sanad Imam Bukhari, maka jumlah para perawi antara kita dengan Qutaibah sebanyak delapan perawi. Akan tetapi jika kita meriwayatkannya dari jalur sanad Abu Al-Abbas As-Siraj (salah satu dari guru Imam Bukhari), maka kita dapatkan jumlah para perawi antara kita dengan Qutaibah sebanyak tujuh perawi.

Dari contoh di atas jelaslah bagi kita bahwa terjadi muwafaqah (kecocokan) antara Imam Bukhari dengan gurunya tentang jalur sanad.

Namun jalur sanad gurunya lebih tinggi dari pada jalur sanadnya.

2. Badal

Badal adalah seorang meriwayatkan sebuah hadits hingga sampai kepada guru dari guru seorang penulis kitab hadits melalui jalur sanad lain yang jumlah para perawinya lebih sedikit dari pada jumlah para perawi yang ada pada jalur sanadnya sendiri melalui gurunya.

Contoh badal ini sama dengan contoh muwafaqah yang tersebut di atas. Yaitu jika terdapat jalur sanad lain hingga sampai kepada Al-Qa'nabi (guru dari guru Imam Bukhari) dari Malik. Maka Al-Qa'nabi dalam jalur sanad ini sebagai badal (pengganti) dari Qutaibah.

3. Musawah

Musawah adalah kesamaan jumlah para perawi dalam sebuah sanad yang dimiliki oleh seorang perawi dengan jumlah para perawi yang ada dalam sanad lain milik seorang penulis kitab hadits dari awal sampai akhir,

Contohnya: Imam An Nasa'i meriwayatkan sebuah hadits yang jumlah perawinya dari beliau sampai kepada Rasulullah sebanyak sebelas perawi. kemudian kita meriwayatkan hadits tersebut melalui jalur sanad lain yang jumlah perawinya dari kita sampai Rasulullah sebanyak sebelas perawi. Berarti terjadi "Musawah (persamaan) di antara kita dengan Imam An-Nasa'i dalam hal jumlah perawi.

4. Mushafahah

Mushafahah adalah kesamaan jumlah perawi dalam sebuah sanad dengan jumlah perawi dalam sanad seorang murid salah satu penulis kitab hadits dari awal sampai akhirnya.

Dinamakan mushafahah karena pada umumnya jika dua orang bertemu mereka melakukan jabat tangan. Sedangkan kita pada bagian yang keempat ini seakan-akan bertemu dengan Imam An-Nasa'i dan seakan-akan kita menjabat tangan beliau.

Jenis-jenis Sanad yang Rendah (Isnad Nazil)

Setiap Jenis dari Jenis-Jenis sanad yang 'aliy mempunyai lawan dari sanad yang nazil, karena sesuatu yang tinggi dapat diketahui dengan lawannya yaitu sesuatu yang rendah.

Sanad yang 'aliy (sedikit jumlah perawi) sangat dicari karena semakin sedikit jumlah perawi maka semakin dekat dengan keshahihan dan kesalahan menjadi sedikit. Hal ini disebabkan karena tidak ada seorang pun dari para perawi hadits kecuali ada kemungkinan melakukan kesalahan. Maka semakin panjang sebuah sanad dan semakin besar jumlah para perawinya, maka kemungkinan terjadi kesalahan pun semakin besar pula. Begitu juga semakin pendek sebuah sanad dan semakin sedikit para perawinya, maka kemungkinan terjadinya kesalahan pun semakin sedikit

Akan tetapi jika dalam sanad yang nazil (terapat kelebihan yang tidak ada pada sanad yang 'aliy, misalnya para perawinya lebih terpercaya, lebih kuat hafalannya, atau lebih faham terhadap agama, maka sanad yang nazil itu lebih utama dari pada sanad yang 'aliy tersebut.

Para ulama ahli hadits telah memberikan perhatian mereka terhadap sanad yang ‘aliy. Sehingga mereka membukukan sebagian di antaranya dan mereka menamakannya dengan "Ats-Tsulatsiyyat". Yang Yang dimaksudkan dengan "Ats-Tsulatsiyyat" adalah hadits-hadits yang jumlah perawi dalam sanadnya antara perawi yang menulisnya dengan Rasulullah berjumlah tiga orang perawi,

Di antara kitab-kitab tersebut:

  1. "Tsulatsiyyat Al-Bukhari” karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani
  2. "Tsulatsiyyat Ahmad bin Hanbal” karya Imam As-Safarini.

HADITS MUSALSAL

Definisi

Musalsal secara bahasa artinya: "Tersambungnya sesuatu dengan yang lain."

Secara istilah, hadits musalsal adalah; "Sebuah hadits yang dalam sanadnya antara satu perawi dengan perawi setelahnya melakukan hal yang sama, baik berupa perkataan, perbuatan ataupun keduanya."

Contoh:

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal, bahwa sesungguhnya Rasulullah bersabda kepadanya, “Wahai Mu'adz, aku mencintaimu, maka berdo'alah di setiap selesai shalat: 'Ya Allah, Berilah kepadaku pertolongan sehingga aku selalu mengingat-Mu, bersyukur atas nikmat-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya'". Dalam hadits ini setiap perawinya tatkala meriwayatkan hadits ini selalu berkata, “Wa Ana Uhibbuka“, yang artinya: “Dan aku mencintaimu."
  2. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah memasukkan jari-jarinya ke dalam jari-jariku dan bersabda, "Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu." Setiap perawi hadits ini tatkala meriwayatkan hadits ini selalu memasukkan jari-jarinya ke dalam jari-jari orang yang meriwayatkan hadits ini darinya.
  3. Hadits yang diriwayatkan oleh Anas, ia berkata "Rasulullah bersabda, 'Seorang hamba tidak akan mendapatkan manisnya iman sampai ia beriman kepada takdir Allah, baik maupun buruknya, manis maupun pahitnya" Kemudian Rasulullah memegang jenggot beliau dan bersabda, “Aku. Beriman kepada takdir Allah, baik dan buruknya serta manis dan pahitnya'' Setiap perawi hadits ini tatkala meriwayatkannya selalu memegang jenggotnya dan berkata "Aku beriman kepada takdir Allah, baik dan buruknya serta manis dan pahitnya."
  4. Tasalsul di dalam meriwayatkan dan menerima hadits. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh setiap perawinya dengan mengatakan, "Saya mendengar Fulan", "Fulan meriwayatkan kepadaku'' atau "Fulan menceritakan kepadaku''. Tasalsul seperti ini banyak terjadi pada kebanyakan sanad.

Manfaat dari mengetahui bentuk hadits ini adalah dapat menambah pangkat kekuatan hafalan bagi para perawinya. Sedangkan buku-buku ;yang terkenal membahas hal ini di antaranya:

  1. "Al-Musalsalat Al-Kubra" karya Imam As-Suyuthi. Buku ini memuat 85 hadits.
  2. "Manahil As Silsilah fi Al-Ahadits Al-Musalsalah" karya Imam Muhammad Abdul Baqi Al-Ayyubi. Buku ini memuat 212 hadits.

RIWAYAT YANG TUA DARI YANG LEBIH MUDA

Definisi

Maksudnya adalah orang yang lebih tua meriwayatkan hadits dari yang lebih muda darinya.

Secara istilah maksudnya adalah: "seorang yang lebih tua meriwayatkan hadits dari orang yang lebih muda usianya dan lebih rendah tingkatannya atau ilmu dan hafalannya".

Contoh:

  1. Sahabat meriwayatkan hadits dari tabi'in. Seperti empat sahabat yang mempunyai nama Abdullah dan juga sahabat yang lainnya meriwayatkan hadits dan tabi'in. Yaitu Ka'ab Al-Ahbar,
  2. Tabi'in meriwayatkan hadits dari tabi'ut tabi'in: Seperti Yahya bin Sa’id Al-Anshari meriwayatkan hadits dari Imam Malik.
  3. Seorang yang lebih besar kemampuannya dari orang yang lebih rendah kemampuannya Seperi imam Malik meriwayatkan hadits dari Ibnu Dinar,
  4. Orang yang lebih besar kemampuannya serta lebih tua umurnya meriwayatkan hadits dari orang yang lebih rendah kemampuannya serta lebih muda umurnya. Seperti Imam Al-Barqani meriwayatkan hadits dari Imam Al-Khatib.

Adapun manfaat dari mengetahui jenis riwayat ini adalah:

  1. Supaya tidak salah persepsi bahwa orang yang diambil haditsnya itu lebih utama dan besar kemampuannya dari pada yang meriwayatkan hadits darinya. Sebab biasanya orang yang diambil haditsnya itu lebih utama dari pada orang meriwayatkan hadits darinya.
  2. Supaya tidak terjadi salah faham bahwa dalam sanad terjadi keterbalikan. Sebab biasanya yang berlaku adalah orang yang lebih muda meriwayatkan hadits dari orang vang lebih tua.

RIWAYAT AYAH DARI ANAKNYA [2]

Definisi

Yang dimaksud dengan riwayat ayah dari anaknya adalah "Dalam sebuah sanad terjadi seorang ayah meriwayatkan hadits dari anaknya".

Contoh;

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Abbas bin Abdul Muththalib dari anaknya, Al-Fadhl. "Sesungguhnya Rasulullah menjamak dua shalat di Muzdalifah,"

RIWAYAT ANAK DARI BAPAKNYA[3]

Definisi

Yang dimaksud dengan riwayat anak dari bapaknya adalah: "seorang anak meriwayatkan hadits dari ayahnya saja".

Contoh;

  1. Riwayat Abu Al-Asyra' dari ayahnya[4]
  2. Riwayat Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya

Nama lengkap dari Amr bin Syu'aib adalah Amr bin Syu'ain bin Muhammad bin Abdullah bin Amr bin Al-'Ash, Kakek Amr adalah Muhammad. Akan tetapi setelah para ulama hadits mengadakan penelitian mereka mendapatkan bahwa Dhamit (kata Ganti) berupa "Hu" (nya) yang terdapat pada kata "Jadduhu" (kakeknya) yang dimaksudkan : adalah Syu'aib. Berarti kata maksud dalam kata jadduhu adalah Abdullah bin Al-Amr sahabat Rasulullah yang terkenal.

MUDABBAJ DAN RIWAYAT TEMAN DEKAT (AL-AQRAN)[5]

Definisi "Aqran":

Kata 'Aqran" secara bahasa adalah bentuk jamak (Plural) dari kata "Qarin" yang berarti teman dekat.

Secara istilah kata "Aqran" artinya: "orang-orang yang sebaya dalam umur dan periwayatan." Sedangkan yang dimaksud dengan sebaya dalam riwayat adalah: "Mereka yang meriwayatkan hadits dari guru-guru yang ada pada satu tingkatan."

Sedangkan kata "riwayat al-aqran" artinya: "Seorang meriwayatkan hadits dari temannya."

Contoh:

Sulaiman At-Taimi meriwayatkan hadits dari Mus'ir bin Kaddam. Keduanya adalah teman dekat yang sebaya. Akan tetapi kita tidak mengetahui bahwa Mus'ir meriwayatkan hadits dari Sulaiman At-Taimi.

Definisi “Mudabbaj":

Kata "Mudabbaj" secara bahasa adalah yang dihiasi. Bentuk hadits seperti ini dinamakan Mudabbaj karena kesamaan orang meriwayatkan 'dan yang diriwayatkap haditsnya, sebagaimana kesamaan pada dua pipi.

Secara istilah hadits mudabbaj adalah: "Dua teman yang masing-masing saling meriwayatkan hadits dari yang lain".

Contoh: .

  1. Dari golongan sahabat: 'Aisyah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah begitu juga sebaliknya, Abu Hurairah meriwayatkan hadits dari'Aisyah
  2. Dari golongan Tabi'in.Imam Az-Zuhri meriwayatkan hadits dari Umar bin Abdul Aziz begitu juga sebaliknya, Umat bin Abdul Aziz meriwayatkan hadits dari Az-Zuhri.
  3. Dari golongan Tabi'ut Tabi'in: Imam Malik meriwayatkan hadits dari Imam Al-Auza'i, dari Imam Al-Auza'i meriwayatkan hadits dari Imam Malik.

SABIQ DAN LAHIQ

Definisi:

Kata "Sabiq" adalah kata benda yang bermakna: "sesuatu yang terdahulu".

Sedangkan kata "Lahiq" adalah kata benda yang bermakna: "Sesuatu yang datang menyusul". Yang dimaksud dengan kata "Sabiq" adalah perawi yang wafatnya lebih dahulu. Sedangkan kata "Lahiq" maksudnya adalah perawi yang wafatnya belakangan.

Menurut istilah "Sabiq" dan "Lahiq" artinya: '"Dua perawi yang bersama-sama meriwayatkan hadits dari seorang syaikh, sedangkan waktu wafat keduanya berselang jauh. ” ;

Contoh:

  1. Imam Bukhari (wafat tahun 256 H) bersama dengan Imam Al- Khaffaf (wafat tahun 393 H) meriwayatkan hadits dari Muhammad bin Ishaq As-Saraj (lahir tahun 216 dan wafat tahun 313 H). Padahal jarak waktu wafat antar Imam Bukhari dengan AI-Khaffaf berselang 137 tahun.
  2. Imam Az-Zuhri (wafat tahun 124 H) bersama dengan Imam Ahmad bin Ismail As-Sahmi (wafat tahun 259 H) meriwayatkan hadits dari Imam Malik. Sedangkan jarak waktu wafat keduanya sangat jauh, yaitu 135 tahun. Imam Az-Zuhri lebih tua dari pada Imam Malik, karena beliau termasuk golongan tabi'in, sedangkan Imam Malik termasuk golongan tabi'ut tabi'in;

PENGENAL PARA PERAWI

Ulama ahli hadits sangat memperhatikan pengetahuan mereka terhadap para perawi dan tingkatan mereka, baik dari golongan sahabat maupun tabi'in, nasab dan panggilan, serta gelar mereka dan apa saja yang berkaitan dengan mereka. Hal ini mereka lakukan karena takut melakukan kesalahan. Oleh karena itu, mereka menulis buku-buku tentang hal ini. Di bab ini cukup kami mengetengahkan poin-poin terpenting dari masalah tersebut:

MUTTAFAQ DAN MUFTARAQ

Definisi:

Yang dimaksud dengan "Muttafaq" dan "Muftaraq" adalah: "Nama perawi sama dengan nama ayahnya, baik sama dalam tulisan ataupun bacaannya, Sedangkan sebenarnya mereka orang yang berbeda,"

Contoh:

  1. Nama Al-Khalil bin Ahmad menjadi nama untuk enam orang. Orang pertama yang mempunyai nama itu adalah guru Sibawaihi.
  2. Nama Ahmad bin Ja'far bin Hamdan adalah nama yang dimiliki oleh empat orang yang hidup dalam satu masa.

Adapun manfaat dari mengetahui hal ini adalah menghindari kerancuan. Bisa jadi orang banyak yang mempunyai nama yang sama dianggap satu orang. Bisa jadi salah satu dari mereka lemah hafalannya. Dikarenakan tidak dapat membedakan maka perawi yang terpercaya dianggap lemah dan sebaliknya perawi yang lemah dianggap terpercaya.

MU’TALAF DAN MUKHTALAF

Definisi:

Yang dimaksud dengan "Mu'talaf' dan "Muhtalaf' adalah: "Sesuatu yang sama tulisannya akan tetapi berbeda bacaannya, baik berupa nama, gelar, panggilan dan nasab".

Contoh:

  1. "Salam" dengan "Sallam" tulisannya sama, akan tetapi bacaannya berbeda. Yang pertama huruf Lamnya tidak ditasydid, dan yang kedua huruf lamnya ditasydid,
  2. "Miswar" dan "Musawwar" tulisannya sama namun bacaannya berbeda- Yang pertama huruf Mimnya dikasrah, huruf Sinnya disukun dan huruf Wawunya difathah. Sedangkan yang kedua huruf Mimnya didhammah, huruf Sinnya difathah dan huruf Wawunya ditasydid.
  3. Al-Baszaz' dan “Al-Bazzar" yang pertama diakhiri dengan huruf Za‘ sedangkan yang kedua dengan huruf Ra'

Adapun manfaat dari mengetahui hal ini adalah dapat terhindar dari tashhif (kesalahan membaca nama perawi karena tulisannya tidak jelas).

MUTASYABIH

Definisi:

Mutasyabih adalah “kesamaan nama-nama para perawi baik tulisannya maupun bacaannya, sedangkan nama-namma ayah mereka berbeda bacaannya namun tulisannya sama atau sebaliknya, nama ayah mereka sama tulisan dan bacaannya sedangkan nama mereka berbeda bacaannya namun sama tulisannya"

Jenis ini terbentuk dari dua jenis hadits sebelumnya, yaitu ‘Muttafaq dan Muftaraq” dengan "Mu'talaf dan Mukhtalaf."

Contoh:

  1. "Muhammad bin Uqail" dengan "Muhammad bin Aqil", yang pertama huruf ‘Ain dalam nama ayahnya dibaca dhammah sedangkan yang kedua dibaca fathah.
  2. "Syuraih bin An-Nu'man" dengan "Suraij bin An-Nu'man", yang pertama nama perawi tersebut dimulai ciengan huruf “Syin” dan diakhiri dengan huruf "Ha'", sedangkan yang kedua diawali dengan huruf "Sin" dan diakhiri dengan huruf "Jim"

Sedangkan yang dikategorikan oleh para ulama hadits sebagai "Mutasyabih" adalah nama-nama yang sama tulisan dan bacaannya, nama-nama yang berbeda urutannya seperti "Al-Aswad bin Yazid" dengan "Yazid bin Al-Aswad" dan nama-nama yang berbeda satu huruf atau dua hurufnya saja seperti "Mutharrif bin Wasil" dengan "Mu'arrif bin Wasil". Di mana kedua nama ini berbeda yang pertama menggunakan huruf "Tha" dibaca fathah sedangkan yang kedua menggunakan huruf "Ain". Sebagai contoh yang lain adalah hama "Muhammad bin Hunain"dengan "Muhammad bin Jubair'.

Adapun manfaat dari mengetahui hal ini adalah dapat terhindar dari kerancuan dalam membaca nama dan tidak melakukan tashhif serta keraguan.

Dan pada akhir pembahasan ilmu hadits tersebut, kami memohon kepada Allah Ta'ala agar memberikan manfa'at dengannya, dan menjadikan amal kita ikhlas karena Allah, dan Akhir doa kami Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam.



[1] Maksudnya rentang sanadnya pendek dan tidak panjang.

[2] Tadrib ar-Rawi hal 431, Nuzhah an-Nazhar hal. 73

[3] Tadrib ar-Rawi hal 433, Nuzhah an-Nazhar hal. 73

[4] Namanya diperselisihkan, juga nama ayahnya. Namun yang paling masyhur adalah Usamah.

[5] Ulumul Hadits hal 278, Tadrib Ar-Rawi hal 426



Manna' bin Khalil Al-Qatthan

Dosen di Universitas Imam Muhammad bin Su'ud Al-Islamiyah

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya