Kitab Referensi

Kitab : Mabahits fi Ulumil Hadits - Syaikh Manna' al-Qatthan

ILMU TAKHRIJ DAN STUDI SANAD

Pengertian Takhrij

TAKHRIJ menurut bahasa mempunyai beberapa makna, yang paling mendekati di sini adalah berasal dari kata kharaja yang artinya mampak dari tempatnya, atau keadaannya, dan terpisah, dan kelihatan. Demikian juga kata al-ikhraj yang artinya menampakkan dan memperlihatkannya, dan al-makhraj artinya tempat keluar, dan akhraja al-hadits wa kharrajahu artinya menampakkan dan memperlihatkan hadits kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya

Takhrij menurut istilah adalah menunjukkan tempat hadits pada sumber aslinya yang mengeluarkan hadits tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika diperlukan

Sejarah Takhrij

Penguasaan para ulama terdahulu terhadap sumber-sumber As-Sunnah begitu luas sekali, sehingga mereka tidak merasa sulit jika disebutkan suatu hadits untuk mengetahuinya dalam kitab-kitab As-Sunnah, Ketika semangat belajar sudah melemah, mereka kesulitan untuk mengetahui tempat-tempat hadits yang dijadikan sebagai rujukan para penulis dalam ilmu-ilmu syar’i. Maka sebagian dari ulama bangkit dan memperlihatkan hadits-hadits yang ada pada sebagian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab-kitab As-Sunnah yang asli, menjelaskan metodenya, dan menerangkan hukumnya dan yang shahih atas yang dhaif, muncullah apa yang dinamakan dengan "kutub ai takhrij" diantaranya yang terkenal adalah

  1. Takhrij Ahaditsi Al-Muhadzdzab, karya Muhammad bin Musa Al-Hazimi Asy-Syafi'i (wafat 548 H). Dan kitab Al-Muhadzdzab ini adalah kitab mengenai fikih madzhab Asy-Syafi'i karya Abu Ishaq Asy-Syairazi.
  2. Takhrij Ahadits Al-Mukhtashar Al-Kabir Li Ibni Al-Hajib, karya Muhammad bin Ahmad AbdulHadi Al-Maqdisi (wafat 744 H).
  3. Nashbu Ar-Rayah li Ahadits Al-Hidayah li Al-Marghinani, karya Abdullah bin Yusuf Az-Zaila'i (wafat 762 H)
  4. Takhrij Ahadits Al-Kasyaf li Az-Zamakhsyari, karya Al-Hafizh Az-Zaila'i juga [1]
  5. Al-Badru Al-Munir fi Takhriji Al-Ahadits wa Al-Atsar Al-Waqi'ah fi Asy-Syarhi Al-Kabir li Ar-Rafi'i, karya Umar bin Ali bin Al-Mulaqqin (wafat tahun 804 H)
  6. Al Mughni 'an Hamli Al-Asfaar fi Al-Asfaarfi Takhriji ma fi Al-Ihya' min Al-Akhbar, karya Abdurrahman bin Al-Husain Al-'Iraqi (wafat tahun 806 H)
  7. Takhrij Al-Ahadits allati Yusyiiru ilaiha At-Turmudzi fi Kulli Bab, karya Al-Hafizh Al-'Iraqi juga.
  8. At-Talkhish Al-Habir fi Takhrij Ahaditsi Syarh Al-Wajiz Al-Kabir li Ar-Rafi'i, karangan Ahmad bin Ali bin Hajar Al-'Asqalani (wafat tahun 852 H)
  9. Ad-Dirayah fi Takhrij Ahaditsi Al-Hidayah, karangan Al-Hafizh Ibnu Hajar juga.
  10. Tuhfatu Ar-Rawi fi Takhrij Ahaditsi Al-Baidhawi, karya Abdurrauf Ali Al-Manawi (wafat tahun 1031 H)

Contoh:

Berikut ini contoh takhrij dari kitab "At-Talkhis Al-Habir"

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, "Hadits Ali bahwasanya Al-Abbas meminta kepada Rasulullah tentang mempercepat pembayaran zakat sebelum sampai tiba haulnya, maka Rasulullah memberikannya keringanan untuknya. Diriwayatkan oleh Ahmad, para penyusun kitab-kitab Sunan, Al-Hakim, Ad-Daruquthni, dan Al Baihaqi dari hadits Al-Hajjaj bin Dinar, dari Ai-Hakam dari Hajiyah bin Adi dari Ali. Dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari riwayat Israil dari Al-Hakam dari Hajar Al-Adawi dari Ali. Ad-Darquthni menyebutkan adanya perbedaan tentang riwayat dari Al-Hakam. Dia menguatkan riwayat Manshur dari Al-Hakam dari Al-Hasan bin Muslim bin Yanaq dari Nabi dengan derajat mursal. Begiry juga Abu Dawud menguatkannya. Al-Baihaqi berkata "Imam Asy-Syafi'i berkata, 'Diriwayatkan dari Nabi bahwasanya beliau mendahulukan zakat harta Al-Abbas sebelum tiba masa haul (setahun), dan aku tidak mengetahui apa ini benar atau tidak ?' Al-Baihaqi berkata, 'Demikian riwayat hadits ini dari saya. Dan diperkuat dengan hadits Abi Al-Bakhtari dari Ali; bahwasanya Nabi bersabda, "Kami sedang membutuhkan lalu kami minta al-Abbas untuk mendahulukan zakatnya untuk dua tahun". Para perawinya tsiqah hanya saja dalam sanadnya terdapat yang munqathi'. Dan sebagian lafazh menyatakan bahwa Nabi bersabda kepada Umar, "Kami pernah mempercepat zakat harta Al-Abbas pada awal tahun." Diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath-Thayalisi dari hadits Abi Rafi.[2]

METODE TAKHRIJ

Dalam takhrij terdapat beberapa metode yang kami ringkas pokoknya saja sebagai berikut:

Metode Pertama, takhrij dengan cara mengetahui perawi hadits dari sahabat.

Metode ini dikhususkan jika kita mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan hadits, lalu kita mencari bantuan dari tiga macam karya hadits :

  1. Al-Masanid (musnad-musnad) dalam kitab ini disebutkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh setiap sahabat secara tersendiri. Selama kita sudah mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan hadits, maka kita mencari hadits tersebut dalam kitab al-masanid hingga mendapatkan petunjuk dalam satu musnad dari kumpulan musnad tersebut.
  2. Al Ma'ajim (Mu'jam-mu'jam) susunan hadits di dalamnya berdasarkan urutan musnad para sahabat atau syuyukh (guru-guru) atau bangsa (tempat asal) sesuai huruf kamus (hijaiyah). Dengan mengetahui nama sahabat dapat emudahkan untuk merujuk haditsnya.
  3. Kitab-kitab Al-Athraf[3] kebanyakan kitab-kitab al-athraf disusun berdasarkan musnad-musnad para sahabat dengan urutan nama mereka sesuai huruf kamus. Jika seorang peneliti mengetahui bagian dari hadits itu, maka dapat merujuk pada sumber-sumber yang ditunjukkan oleh kitab-kitab al-athraf tadi untuk kemudian mengambil hadits secara lengkap,

Metode kedua, takhrij dengan cara mengetahui permulaan lafazh dari hadits. Cara ini dapat dibantu dengan:

  1. Kitab-kitab yang berisi tentang hadits-hadits yang dikenal oleh orang banyak, misalnya; "Ad-Durar Al-Muntatsirah fil Ahaditsi Al-Musytaharah" karya As-Suyuti, "Al-Laali' Al-Mantsurah fi Al-Ahadits Al-Masyhurah" karya Ibnu Hajar, "Al-Maqashid Al-Hasanah fi Bayaani Katsitrin min Al-Ahadits Al-Musytahirah ‘alal Alsinah," karya As-Sakhawy, "Tamyiizu At-Thayyib min Al-Khabits fima Yaduru 'Ala Alsinati An-Naas min Al-Hadits" karya Ibnu Ad Dabi' Asy-Syaibany, “Kasyful Khafa' wa Muziilu Al-Ilbaas 'amma Isytahara min Al-Ahadits 'ala Alsinati An-nas" karya Al-'Ajluni.
  2. Kitab-kitab hadits yang disusun berdasarkan urutan huruf kamus, misalnya: ''Al-Jami'u Ash-Shaghir min Ahadits Al-Basyir An-Nadzir" karya As-Suyuti.
  3. Petunjuk-petunjuk dan indeks yang disusun para ulama untuk kitab-kitab tertentu, misalnya: "Miftah Ash-Shahihain" karangan At-Tauqadi, "Miftah At-Tartiibi li Ahadits Tarikh Al-Khathib" karya Sayyid Ahmad Al-Ghumari, "Al-Bughiyah fi Tartibi Ahadits Al-Khilyah" karya Sayyid Abdulaziz bin Al-Ghumari, "Fihris li Tartibi Ahadits Shahih Muslim" karya Muhammad Fuad Abdul Baqi, "Miftah Muwattha' Malik" karya Muhammad Fuad Abdul Baqi.

Metode ketiga, takhrij dengan cara mengetahui kata yang jarang penggunaannya oleh orang dari bagian mana saja dari matan hadits.

Metode ini dapat dibantu dengan kitab Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfaadzi Al-Hadits An-Nabawi, berisi Sembilan kitab yang paling terkenal di antara kitab-kitab hadits, yaitu: Kutubus Sittah, Muwattha' Imam Malik, Musnad Ahmad dan Musnad Ad-Darimi. Kitab ini disusun oleh seorang orientalis, DR. Vensink (wafat 1939 M), guru bahasa Arab di Universitas Leiden Belanda, dan ikut dalam menyebarkan dan mengedarkannya kitab ini Muhammad Fuad Abdul Baqi

Metode keempat, takhrij dengan cara mengetahui topik pembahasan hadits

Jika telah diketahui topik dan obyek pembahasan hadits, maka bisa dibantu dalam takhrijnya dengan karya-karya hadits yang disusun berdasarkan bab-bab dan judul-judul. Cara ini banyak dibantu dengan kitab Miftah Kunuz As-Sunnah yang berisi daftar isi hadits yang disusun berdasarkan judul-judul pembahasan. Disusun oleh seorang orientalis berkebangsaan Belanda, DR. Arinjan Vensink juga. Kitab ini mencakup daftar isi untuk 14 kitab hadits yang terkenal, yaitu:

  1. Shahih Bukhari
  2. Shahih Muslim
  3. Sunan Abu Dawud
  4. Jami' At-Tirmidzi
  5. Sunan An-Nasa'i
  6. Sunan Ibnu Majah
  7. Muwaththa Malik
  8. Musnad Ahmad
  9. Musnad Abu Dawud Ath-Thyalisi
  10. Sunan Ad-Darimi
  11. Musnad Zaid bin Ali
  12. Sirah Ibnu Hisyam
  13. Maghazi Al-Waqidi
  14. Thabaqat Ibnu Said

Dalam menyusun kitab ini, penyusun menghabiskan waktunya selama 10 tahun, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan diedarkan oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi, yang inenghabiskan waktu untuk itu selama empat tahun.

STUDI SANAD HADITS

Yang dimaksudkan dengan studi sanad hadits adalah mempelajari mata rantai para perawi yang ada dalam sanad hadits. Yaitu dengan menitikberatkan pada mengetahui biografi, kuat dan lemahnya hafalan serta penyebabnya, mengetahui apakah mata rantai sanad antara seorang perawi dengan yang lain bersambung ataukah terputus, dengan mengetahui waktu lahir dan wafat mereka, dan mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan al-Jarh wa At-Ta'dil (menyebutkan hal-hal yang menunjukkan kekuarangan seorang perawi dan hal-hal yang menunjukkan kelebihannya)

Setelah mempelajari semua unsur yang tersebut di atas, kemudian kita dapat memberikan hukum kepada sanad hadits. Seperti mengatakan, "Sanad ini shahih," "Sanad ini lemah," atau "Sanad ini dusta." Ini terkait dengan memberikan hukum kepada sanad hadits.

Sedangkan dalam memberikan hukum kepada matan hadits, disamping melihat semua unsur yang tersebut di atas, kita harus melihat unsur-unsur yang lain. Seperti meneliti lebih jauh matannya untuk mengetahui apakah isinya bertentangan dengan riwayat perawi yang lebih terpercaya atau tidak? Dan apakah di dalamnya ada illat yang dapat menjadikannya tertolak atau tidak? Kemudian setelah itu kita memberikan hukum terhadap matan tersebut. Seperti dengan mengatakan, "Hadits ini shahih" atau "hadits ini dhaif". Memberikan hukum kepada matan hadits lebih sulit dari pada memberikan hukum kepada sanad. Tidak ada yang mampu melakukannya kecuali yang ahli dalam bidang ini dan sudah menjalaninya dalam kurun waktu yang lama.

Dalam studi sanad ini, buku-buku yang dapat digunakan untuk membantu adalah buku-buku yang membahas tentang Al-Jarh wa At-Ta'dil, serta biografi para perawi. Kami sudah menyebutkan beberapa buku terkenal yang membahas bidang ini ketika kami membicarakan tentang Ilmu Al-Jarh wa At-Tadil serta biografi para perawi hadits.

Oleh karena itu, hadits-hadits yang sudah diteliti oleh ulama ahli hadits terdahulu tentang keshahihan sanad dan matannya tidak perlu lagi dikaji ulang. Seperti:

  • Hadits-hadits yang ada dalam Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim atau yang ada pada salah satunya.
  • Hadits-hadits yang ada pada kitab hadits yang hanya memuat hadits shahih saja, seperti buku hadits yang memuat hadits-hadits dan Shahih Bukhari-Muslim, Shahih khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban dan Al-Mustadrak ala Ash-Shahihain.
  • Serta hadits-hadits yang sudah ditetapkan oleh para ulama ahli hadits terpercaya sebagai hadits yang shahih. Seperti hadits-hadits yang ada dalam kitab hadits yang terkenal dan dapat dipercaya.


[1] Ibnu Hajar juga menulis takhrij untuk kitab ini dengan judul Al-Kafi Asy-Syafi fi Takhrij Ahadits Asy-Syafi

[2] At-Talkhis Al-Habir hal 162-163

[3] Yang dimaksud athraf adalah bagian, penggalan atau potongan kalimat sebuah hadits (Edt)

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya