Kitab Referensi

Kitab : Mabahits fi Ulumil Hadits - Syaikh Manna' al-Qatthan

JALAN MENERIMA HADITS DAN BENTUK PENYAMPAIANNYA[1]

Yang dimaksud dengan "jalan menerima hadits" (thuruq at-tahammul) adalah cara-cara menerima hadits dan mengambilnya dari syaikh.

Dan yang dimaksud dengan "bentuk penyampaian" (shighah al-ada') adalah lafazh-lafazh yang digunakan oleh ahli hadits dalam meriwayatkan hadits dan menyampaikannya kepada muridnya, misalnya: "sami'tu..." (aku telah mendengar), atau "haddatsani" (telah bercerita kepadaku), atau yang semisal dengannya.

Dalam menerima hadits tidak disyaratkan seorang harus muslim dan baligh. Inilah pendapat yang benar, namun ketika menyampaikannya disyaratkan Islam dan baligh. Maka diterima riwayat seorang muslim yang baligh dari hadits yang diterimanya sebelum masuk Islam atau sebelum baligh, dengan syarat tamyiz atau dapat membedakan bagi yang belum baligh. Sebagian ulama memberikan batasan minimal berumur lima tahun. Namun yang benar adalah cukup dengan batasan tamyiz atau dapat membedakan. Jika ia dapat memahami pembicaraan dan memberikan jawaban dan pendengaran yang benar itulah tamyiz atau mumayyiz. Jika tidak, maka haditsnya ditolak.

Jalan untuk menerima hadits ada delapan, yaitu; as-sama’ atau mendengar lafazh syaikh, al-qira'ah atau membaca kepada syaikh, al-ijazah, al-munawalah, al-kitabah, al-I'lam, al-washiyyah, dan al-wijadah. Berikut ini penjelasannya berikut lafazh-lafazh penyampaian masing-masing:

1. As-sama' atau mendengar lafazh guru:

Gambarannya: seorang guru membaca dan murid mendengarkan, baik guru membaca dari hafalannya atau tulisannya, dan baik murid mendengar dan menulis apa yang didengarnya, atau mendengar saja dan tidak menulis. Menurut jumhur ulama, as-sama’ ini merupakan bagian yang paling tinggi dalam pengambilan hadits.

Lafazh-lafazh penyampaian hadits dengan cara ini adalah سمعتُ و حدّثنى: "aku telah mendengar dan telah menceritakan kepadaku". Jika perawinya banyak: سمعنا و حدّثنا "kami telah mendengar dan telah menceritakan kepada kami". Ini menunjukkan bahwasanya dia mendengar dari sang syekh bersama yang lain.

Adapun iafazh: لى أو ذكرلي "telah berkata kepadaku" atau "telah menyebutkan kepadaku", lebih tepat untuk mendengarkan dalam mudzakarah pelajaran, bukan untuk mendengarkan hadits.

2. Al-qira'ah artinya membaca kepada syaikh. Para ahli hadits menyebutnya. "Al-Ardh"

Bentuknya, seorang perawi membaca hadits kepada seorang syaikh, dan syaikh mendengarkan bacaannya untuk meneliti, baik perawi yang membaca atau orang lain yang membaca sedang syaikh mendengarkan, dan baik bacaan dari hafalan atau dari buku, atau baik syaikh mengikuti pembaca dari hafalannya atau memegang kitabnya sendiri atau memegang kitab orang lain yang tsiqah.

Mereka berselisih pendapat tentang membaca kepada syaikh, apakah dia setingkat dengan as-sama', atau lebih rendah darinya, atau lebih tinggi darinya? Yang benar adalah lebih rendah dari as-sama'.

Ketika menyampaikan hadits atau riwayat yang dibaca si perawi mengunakan lafazh-lafazh: "aku telah membaca kepada fulan", atau "telah dibacakan kepadanya dan aku mendengar orang membaca lalu ia menyetujuinya''

Lafazh as-sama' berikutnya adalah yang terikat dengan Iafazh qira'ah seperti: haddatsana qira'atan alaihi (ia menyampaikan kepada kami melalui bacaan orang padanya). Namun yang umum menurut para ahli hadits adalah dengan mengunakan lafazh “akhbarana" saja tanpa tambahan yang lain.

3. Al-Ijazah, yaitu seorang syaikh mengizinkan muridnya meriwayatkan hadits atau riwayat baik dengan ucapan atau tulisan. Gambarannya seorang syaikh mengatakan kepada salah seorang muridnya: "aku izinkan kepadamu untuk meriwayatkan dariku demikian". Di antara macam-macam ijazah adalah:

  1. Syaikh mengijazahkan sesuatu yang tertentu kepada seorang yang tertentu Misalnya dia berkata, "Aku ijazahkan kepadamu Shahih Bukhari " Di antara jenis-jenis ijazah, inilah yang paling tinggi derajatnya.
  2. Syaikh mengijazahkan orang yang tertentu dengan tanpa menentukan apa yang diijazahkan Seperti, "Aku ijazahkan kepadamu untuk meriwayatkan semua riwayatku."
  3. Syaikh mengijazahkan kepada siapa saja (tanpa menentukan) dengan juga tidak menentukan apa yang diijazahkan, seperti, "Aku ijazahkan semua riwayatku kepada semua orang pada zamanku. ”
  4. Syaikh mengijazahkan kepada yang tidak diketahui atau majhul umpamanya dia berkata, "Aku ijazahkan kepadamu Kitab Sunan, sedangkan dia meriwayatkan sejumlah Kitab Sunan", padahal ia meriwayatkan beberapa kitab Sunan. Atau mengatakan "Aku ijazahkan kepada Muhammad bin Khalid Ad-Dimasyqi', sedangkan di situ terdapat sejumlah orang yang mempunyai nama yang sama seperti itu.
  5. Syaikh memberikan ijazah kepada orang yang tidak hadir demi mengikutkan mereka dengan yang hadir dalam majlis, umpamanya, dia berkata. "Aku ijazahkan riwayat ini kepada si fulan dan keturunannya'

Bentuk yang pertama dari beberapa bentuk di atas adalah yang diperbolehkan oleh jumhur ulama dan ditetapkan sebagai sesuatu yang diamalkan. Dan inilah pendapat yang benar. Sedangkan bentuk-bentuk yaag lain terjadi banyak perselisihan di antara para ulama. Ada yang batil dan tidak berguna.

Larazh-lafazh yang dipakai dalam menyampaikan dalam riwayat yang diterima dengan jalur ijazah adalah: "Ajaza li fulan (beliau telah memberikan ijazah kepada si fulan), Haddatsana ijazatan, akhbarana ijazatan dan Anba'ana ijazatan (Beliau telah memberitahukan kepada kami secara ijazah)

4. Al-Munawalah atau menyerahkan.

Al-Munawalah ada 2 macam:

  1. Munawalah yang disertai dengan ijazah. Itu tingkatannya paling tinggi di antara macam-macam 'ijazah secara mutlak. Seperti jika seorang syaikh memberikan kitabnya kepada sang murid, lalu mengatakan kepadanya: "Ini riwayatku dari fulan, maka riwayatkanlah dariku." Kemudian buku tersebut dibiarkan bersamanya untuk dimiliki atau dipinjamkan untuk disalin. Maka diperbolehkan meriwayatkan dengan seperti ini, dan tingkatannya lebih rendah dari as-sama' dan al-qiraah.
  2. Munawalah yang tidak diiringi dengan ijazah. Seperti jika seorang syaikh memberikan kitabnya kepada sang murid dengan hanya mengatakan: "Ini adalah riwayatku." Yang semacam ini tidak boleh diriwayatkan berdasarkan pendapat yang shahih.

Lafazh-lafazh yang dipakai dalam menyampaikan hadits atau riwayat yang diterima dengan jalan munawalah ini adalah si perawi berkata: "Nawalani wa ajazani" atau "nawalani" atau “haddatsana munawalatan wa ijazatan" atau "akhbarana munawalatan".

5. Al-Kitabah

Yaitu: Seorang syaikh menulis sendiri atau dia menyuruh orang lain menulis riwayatnya kepada orang yang hadir di tempatnya atau yang tidak hadir disitu. Kitabah ada 2 macam:

  1. Kitabah yang disertai dengan ijazah, seperti perkataan sang syekh, "Aku ijazahkan kepadamu apa yang aku tulis untukmu", atau yang semisal dengannya. Dan riwayat dengan cara ini adalah shahih karena kedudukannya sama kuat dengan munawalah yang disertai dengan ijazah.
  2. Kitabah yang tidak disertai dengan ijazah, seperti syaikh menulis sebagian hadits untuk muridnya dan dikirimkan tulisan itu kepadanya, tapi tidak diperbolehkan untuk meriwayatkannya. Di sini terdapat perselisihan masalah hukum periwayatannya. Sebagian tidak membolehkan dan sebagian yang lain membolehkannya jika diketahui bahwa tulisan tersebut adalah karya syaikh itu sendiri.

6. Al-I'lam (memberitahu).

Yaitu seorang syaikh memberitahu seorang muridnya bahwa hadits ini atau kitab ini adalah riwayatnya dari fulan, dengan tidak disertakan izin untuk meriwayatkan dari padanya.

Para ulama barbeda tentang hukum meriwayatkan dengan "al-I'lam" sebagian membolehkan dan sebagian yang lain tidak

Ketika menyampaikan riwayat dari cara ini perawi berkata ‘A'lamanai syaikhi" artinya;. guruku telah memberi tahu kepadaku.

7. Al-Washiyyah (mewasiati)

Yaitu seorang syaikh mewasiatkan di saat mendekati ajalnya atau dalam perjalanan sebuah kitab yang ia wasiatkan kepada sang perawi.

Riwayat yang seorang terima dengan jalan wasiat ini boleh dipakai menurut sebagian ulama, namun yang benar adalah tidak boleh dipakai.

Ketika menyampaikan riwayat dengan wasiat ini perawi mengatakan "Ausha Ilayya fulanun bi kitabin" (si fulan mewasiatkan kepadaku sebuah kitab), atau "Haddatsani fulanun washiyyatan" (fulan telah bercerita kepadaku dengan sebuah wasiat),

8 Al-Wijadah (mendapat)

Yaitu seorang perawi mendapat hadits atau kitab dengan tulisan seorang syaikh dan ia mengenal syaikh itu, sedangkan hadits-haditsnya tak pernah didengarkan ataupun ditulis oleh si perawi.

Wijadah ini termasuk dalam jenis hadits munqathi', karena si perawi tidak menerima sendiri dari orang yang menulisnya.

Dalam menyampaikan hadits atau kitab yang didapati dengan jalan ini, si perawi berkata, "wajadtu bi khaththi fulaninin" (aku dapatkan buku ini dengan tulisan fulan), atau "qara'tu bi khati fulanin" artinya (aku telah membaca buku ini dengan tulisan fulan), kemudian menyebutkan sanad dan matannya.

PERBEDAAN ANTARA KALIMAT “MITSLUHU” DAN “NAHWUHU”

Kadang seorang muhaddits meriwayatkan sebuah hadits dengan satu sanad, kemudian diikutinya dengan sanad lain, dan ketika selesai, ia mengatakan "Mitsluhu" atau "Nahwuhu" (yang semisalnya atau sepertinya Apakah kedua kata ini maknanya sama?

Menurut para ulama muhaqqiq, terdapat perbedaan antara "Mitsluhu" dengan "nahwuhu". Seorang perawi tidak boleh mengatakan "mitsluhu", kecuali setelah mengetahui bahwa hadits tersebut mempunyai dua sanad dengan lafadz yang sama. Dan boleh mengatakan "nahwuhu", jika hadits pada sanad yang kedua maknanya seperti hadits yang pertama dengan lafazh yang berbeda.

Dan bila seorang ahli hadits meriwayatkan sebuah hadits dengan satu sanad kemudian diikutinya dengan sanad yang lain, dan ketika selesai mengatakan, "mitsluhu" maksudnya bahwasanya cukup dengan sanad yang kedua dan menyebutkan lafazh haditsnya setelah sanad yang pertama. Pada kenyataannya tidak diperbolehkan seperti itu. Begitu pula jika seorang muhaddits mengatakan "nahwuhu", Sebagian ulama membolehkan "mitsluhu", bukan "nahwuhu".

Dan bila seorang syaikh menyebutkan satu sanad dan tidak menyebutkan matannya secara lengkap tapi hanya sebagian saja, lalu mengatakan, ‘wa dzakara al-hadits" (dan ia pun menyebutkan haditsnya), atau mengatakan, "Wa dzakara al-hadits bi thulihi" (dan ia menyebutkan hadits secara lengkapnya), dengan bermaksud menyebutkan hadits secara lengkap dan secara panjang, maka ini lebih tidak diperbolehkan lagi daripada sebelumnya -seperti "mitsluhu" atau '‘nahwuhu"- Namun, harus dijelaskan sebagaimana mestinya, seperti jika ia mengatakan, “qala; dzakara al-hadits bi thulihi", maka kemudian ia harus menyebutkan hadits itu secara lengkap.

Karya-karya Terkenal dalam Ilmu Musthalah Hadits:

  1. Al-Muhaddits Al-faashil Baina Ar-Rawi wa Al-Waa'i, karya Al-Qadhi Abu Musa Al Hasan bin Abdirrahman bin Khallad Ar-Ramahurmuzy (wafat 360H), tetapi dia tidak mencakup semua pembahasan musthalah.
  2. Ma'rifatu 'Ulum Al-Hadits. karya Abu Abdiliah Muhammad bin Abdillah Al-Hakim An Naisabury (wafat 405 H), hanya saja pembahasan-pembahasannya belum diperbaiki, dan tidak disusunnya dengan menarik dan sistematik.
  3. Al-Mustakhraj 'ala Ma’rifati Ulumil Hadits, karya Abu Nu'aim Ahmad bin Abdiliah Al-Ashbahani (wafat tahun 430 H), di dalamnya ia melengkapi apa yang ditulis oleh Al-Hakim An-Naisaburi dalam kitabnya "Ma'rifatu Ulumil Hadits"
  4. Al-Kifayah fi 'Ilmi Ar-Riwayah, karya Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit AI-Khathib Al-Baghdadi yang masyhur itu (wafat 463 M),
  5. Al ]ami' Li Akhlaq Ar-Rawi wa Adabi As-Sami', karya AI-Khathib Al-Baghdadi juga.
  6. Al-Ilma’ ila Ma'rifati Ushuli Ar-Riwayah wa Taqyiidu As-Sami', karya . Al-Qadhi 'Iyadh bin Musa Al-Yakhshuby (wafat tahun 544 H).
  7. Maa Laa Yasa’u Al-Muhadditsu Jahluhu, karya Abu Hafsh Umar bin Abdulmajid Al-Mayanji (wafat 580 H).
  8. Ulumul Hadits, karya Abu Amr Utsman bin Abdirrahman Asy-Syahrazuri yang masyhur dengan sebutan Ibnu Ash-Shalah (wafat 643 H), dan kitabnya terkenal dengan nama 'Muqaddimah Ibnu Ash-Shalah", yang merupakan kitab terbaik dalam ilmu musthalah. Dalam kitab ini, penyusun mengumpulkan apa yang terpisah dalam karya Al-Khathib dan ulama sebelumnya. Buku ini kemudian menjadi pedoman bagi para ulama sesudahnya.
  9. At-Taqrib wa At-Taisir li Marifati Sunan Al-Basyiri wa An-Nadzir, karya Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi (wafat 676 H), ringkasan dari kitab Ulumul Hadits karangan Ibnu Ash-Shalah.
  10. Tadrib Ar-Rawi fi Syarhi Taqribi An-Nawawi, karya Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi (wafat 911 H), syarah dari kitab Taqrib An-Nawawi.
  11. Nudzm Ad-Duur fi Ilmi Al-Atsar, dalam bentuk nazham syair karya Zainuddin Abdurrahim bin Al-Husain Al-Iraqi (wafat 806 H), dikenal dengan nama "Alfiyah Al-Iraqi", berisi ringkasan kitab “Ulum Al-Hadits" karya Ibnu Ash-Shalah, dan terdapat beberapa syarah dari kitab tersebut di antaranya dua syarah karya penyusun sendiri.
  12. Fathul Mughits fi Syarhi Alfiyati Al-Hadits, karya Muhammad bin Abdirrahman As-Sakhawi (wafat 902 H) merupakan syarah paling lengkap atas Alfiyah Al-lraqi.
  13. Fathul Baqi ala Alfiyati Al-lraqi, karya Al-Hafizh Zainuddin Asy-Syaikh Zakaria bin Muhammad bin Ahmad bin Zakaria Al-Anshari (wafat 925 H).
  14. Nukhbatul Fikar fi Mushtalahi Ahli Al-Atsar, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H) merupakan buku kecil yang diringkas, namun termasuk ringkasan yang paling bagus dan paling baik susunan dan pembagiannya. Dan telah disyarah oleh penyusunnya dengan nama "Nuzhatu An-Nazhar" Sebagaimana ulama juga lain mensyarahnya.
  15. Al-Manzhumah Al-Baiquniyah, karya Umar bin Muhammad Al-Baiquni (wafat 1080 H) kumpulan syair-syair ringkas yang bermanfaat dan populer, dan terdapat beberapa syarh atas buku ini, diantaranya: Syarhu Az-Zarqani Ala Al-Baiquniyah karya Muhammad Az-Zarqani.
  16. Qawa 'id At-Tahdits, karya Jamaluddin Al-Qasimi (wafat 1332 H)
  17. Taisir Musthalah Al-Hadits, karya DR. Mahmud At-Thahhan, seorang ulama kontemporer. Semoga Allah memberkahi umurnya dan memberi manfaat dengannya, dan kitabnya ini termasuk di antara kitab-kitab yang pembahasannya mudah dipahami.


[1] Tadrib ar-Rawi hal 236, Ulum al-Hadits hal 118, Nuzhah An-Nazhar hal.76, Taisir Mushthalah Al-Hadits 158.

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya