Kitab Referensi

Kitab : Mabahits fi Ulumil Hadits - Syaikh Manna' al-Qatthan

ILMU MUSTHALAH HADITS

Pada pembahasan yang lalu telah kita sebutkan bahwa para ulama hadits menamakan ilmu hadits dirayah dengan sebutan Musthalah Hadits.

  • Ilmu Musthalah hadits ialah ilmu tentang dasar dan kaidah yang dengannya dapat diketahui keadaan sanad dan matan dari segi diterima dan ditolaknya.
  • Obyeknya ialah sanad dan matan dari segi diterima dam ditolaknya
  • Buah dari ilmu ini membedakan hadits shahih dan hadits yang tidak shahih.
Sebelum ini sudah kita sebutkan definisi sanad, matan, isnad, dan musnid, dan pengertian hadits, khabar dan atsar. Berikut ini pengertian dari sebagian istilah-istilah yang perlu diketahui, yaitu:
  • Al-Musnad: secara bahasa berarti yang disandarkan kepadanya. Sedangkan Al-musnad menurut istilah ilmu hadits mempunyai beberapa arti:
    1. Setiap buku yang berisi kumpulan riwayat setiap sahabat secara tersendiri
    2. Hadits marfu' yang sanadnya bersambung
    3. Yang dimaksud dengan Al-Musnad adalah sanad, maka dengan makna ini menjadi masdar yang diawali huruf mim.
  • Al-Muhaddits adalah orang yang berkecimpung dengan ilmu hadits riwayah dan dirayah dan meneliti riwayat-riwayat dan keadaan para perawinya.
  • Al Hafizh adalah:
    1. Menurut kebanyakan ahli hadits sepadan dengan Al-Muhaddits
    2. Pendapat lain mengatakan bahwa Al-Hafizh derajatnya lebih tinggi dari Al-Muhaddits karena yang diketahuinya pada setiap thabaqah (tingkatan generasi) lebih banyak daripada yang tidak diketahuinya
  • Al-Hakim, menurut sebagian ulama adalah orang yang menguasai semua hadits kecuali sebagian kecil saja yang tidak diketahuinya.

PEMBAGIAN HADITS DILIHAT DARI SEGI SAMPAINYA KEPADA KITA

Pembagian hadits bila dilihat dari segi sampainya kepada kita terbagi menjadi dua bagian utama: Mutawatir dan Ahad.

HADITS MUTAWATIR:

Secara bahasa, mutawatir adalah isim fa'il dari at-tawatur yang artinya berurutan.

Sedangkan mutawatir menurut istilah adalah "apa yang diriwayatkan oleh sejumlah banyak orang yang menurut kebiasaan mereka terhindar dari melakukan dusta mulai dari awal hingga akhir sanad". Atau "hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang banyak pada setiap tingkatan sanadnya menurut akal tidak mungkin para perawi tersebut sepakat untuk berdusta dan memalsukan hadits, dan mereka bersandarkan dalam meriwayatkan pada sesuatu yang dapat diketahui dengan indera seperti pendengaran dan semacamnya".

Syarat-syaratnya:

Dari definisi di atas jelaslah bahwa hadits mutawatir tidak akan terwujud kecuali dengan empat syarat berikut ini:

  1. Diriwayatkan oleh jumlah yang banyak
  2. Jumlah yang banyak ini berada pada semua tingkatan (thabaqat) sanad
  3. Menurut kebiasaan tidak mungkin mereka bersekongkol/bersepakat untuk dusta
  4. Sandaran hadits mereka dengan menggunakan indera seperti perkataan mereka: kami telah mendengar, atau kami telah melihat atau kami telah menyentuh, atau yang seperti itu. Adapun jika sandaran mereka dengan menggunakan akal, maka tidak dapat dikatakan sebagai hadits mutawatir.
Apakah Untuk Mutawatir Disyaratkan Jumlah Tertentu?
  1. Jumhur ulama berpendapat bahwasanya tidak disyaratkan jumlah tertentu dalam mutawatir. Yang pasti harus ada sejumlah bilangan yang dapat meyakinkan kebenaran nash dari Rasulullah .
  2. Di antara mereka ada yang mensyaratkan dengan jumlah tertentu dan tidak boleh kurang dari jumlah tersebut.
    1. Ada yang berpendapat: ]umlahnya empat orang berdasarkan pada kesaksian perbuatan zina
    2. Ada pendapat lain: jumlahnya lima orang berdasarkan pada masalah li'an.
    3. Ada pendapat lain juga yang mengatakan jumlahnya 12 orang seperti jumlah pemimpin dalam firman Allah, "Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin."'[1]

    Ada yang berpendapat selain itu berdasarkan kesaksian khusus pada hal-hal tertentu, namum tidak ada bukti yang menunjukkan adanya syarat jumlah ini dalam kemutawatiran hadits.

Pembagian Hadits Mutawatir

Hadits mutawatir terbagi menjadi dua bagian: Mutawatir Lafzhi, dan Mutawatir Ma'nawi.

  1. Mutawatir Lafzhi ialah apabila lafazh dan maknanya mutawatir. Misalnya, hadits: "Barangsiapa yang sengaja berdusta dengan atas namaku maka dia akan mendapatkan tempat duduknya dari api neraka."[2] Hadits ini telah diriwayatkan lebih dari 70 sahabat, dan di antara mereka termasuk 10 orang yang dijamin masuk surga.
  2. Mutawatir Maknawi iaiah maknanya yang mutawatir sedang iafazhnya tidak. Misalnya, hadits-hadits tentang mengangkat tangan dalam berdoa. Hadits ini telah diriwayatkan dari Nabi sekitar 100 macam hadits tentang mengangkat tangan ketika berdoa. Dan setiap hadits tersebut berbeda kasusnya dari hadits yang lain. Sedangkan setiap kasus belum mencapai derajat mutawatir Namun bisa menjadi mutawatir karena adanya beberapa jalan dan persamaan antara hadits-hadits tersebut yaitu tentang mengangkat tangan ketika berdoa.

Keberadaannya

Sebagian di antara mereka mengira bahwa hadits mutawatir hdak ada wujudnya sama sekali. Yang benar, bahwa hadits mutawatir jumlahnya cukup banyak di antara hadits-hadits yang ada. Akan tetapi bila dibandingkan dengan hadits ahad maka jumlah sangat sedikit. Misalnya: Hadits mengusap dua khuf, hadits mengangkat tangan dalam shalat, hadits tentang telaga, dan hadits: "Allah merasa senang kepada seseorang yang mendengar ucapanku ....." dan hadits: "Al-Qur'an diturunkan dalam tujuh huruf", Hadits "Barang siapa yang mambangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun untuknya rumah dt surga". Hadits. "Setiap yang memabukkan adalah haram" hadits "Tentang melihat Allah di akhirat", Hadits; "Tentang larangan menjadikan kuburan sebagai masjid".

Mereka yang mengatakan bahwa hadits mutawatir keberadaannya sedikit, seakan yang dimaksud oleh mereka adalah mutawatir lafzhi, sebaliknya mutawatir maknawi banyak jumlahnya Dengan demikian maka perbedaan hanyalah bersifat lafzhi saja,

Hukum Hadits Mutawatir

Hadits mutawatir mengandung ilmu yang harus diyakini yang mengharuskan kepada manusia untuk mempercayainya dengan sepenuh hati sehingga tidak perlu lagi untuk mengkaji dan menyelidiki, seperti pengetahuan kita akan adanya Makkah Al-Mukarramah, Madinah Al-Munawwarah, Kairo, Damaskus, dan Baghdad, tanpa membutuhkan adanya penelitian dan pengkajian Maka hadits mutawatir adalah qath'i tidak perlu adanya penelitian dan penyelidikan tentang keadaan para perawinya.

Buku-Buku Tentang Hadits Mutawatir

Sebagian ulama telah mengumpulkan hadits-hadits mutawatir dalam sebuah buku tersendiri. Di antara buku-buku tersebut adalah:

  1. Al-Azhar Al-Mutanatsirah fil Akhbar Al-Mutawatirah, karya As-Suyuthi, berurutan berdasarkan bab.
  2. Qathful Azhar, karya As-Suyuthi, ringkasan dari kitab di atas.
  3. Al-La'ali' Al-Mutanatsirah fil Ahadits Al-Mutaioatirah, karya Abu Abdillah Muhammad bin Thulun Ad-Dimasyqi.
  4. Nazhmul Mutanatsirah minal Hadits Al-Mutawatirah, karya Muhammad bin Ja'far Al-Kittani.[3]

HADITS AHAD

Ahad manurut bahasa mempunyai arti satu. Dan khabarul wahid adalah yang diriwayatkan oleh satu orang. Sedangkan hadits ahad menurut istilah adalah hadits yang belum memenuhi syarat-syarat mutawatir. Hadits ahad terbagi menjadi 3 macam yaitu: Masyhur, 'Aziz, dan Gharib.

1. Hadits Masyhur

Masyhur menurut bahasa nampak. Sedangkan menurut istilah adalah yang diriwayatkan oleh tiga perawi atau lebih pada setiap thabaqah (tingkatan) dan belum mencapai batas mutawatir.

Contohnya, sebuah hadits berbunyi: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengambil ilmu dengan melepaskan dari dada seorang hamba, akan tetapi akan melepaskan ilmu dengan mengambil para ulama, sehingga apabila sudah tidak terdapat seorang yang alim, maka orang yang bodoh akan dijadikan sebagai pemimpin, lalu memberikan fatwa tanpa didasari ilmu, mereka sesat dan menyesatkan."[4]

Hadits masyhur ini disebut juga dengan nama Al-Mustafidh.

Hadits masyhur di luar istilah tersebut dapat terbagi menjadi beberapa macam yang meliputi: mempunyai satu sanad, mempunyai beberapa sanad, dan tidak ada sanad sama sekali, seperti:

  1. Masyhur di antara para ahli hadits secara khusus, misalnya hadits Anas: 'Bahwasanya Rasulullah pernah melakukan qunut selama satu bulan setelah berdiri dari ruku' berdo a untuk (kebinasaan) Ra'l dan Dzakwan."[5]
  2. Masyhur di kalangan ahli hadits dan ulama dan orang awam, misalnya: "Orang muslim adalah orang yang selamat dari lisan dan tangannya."[6]
  3. Masyhur di antara para ahli fikih, misalnya: "Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak. "[7]
  4. Masyhur di antara ulama ushul fikih, misalnya: "Telah dibebaskan dan umatku kesalahan dan kelupaan... "[8]
  5. Masyhur di kalangan masyarakat umum, misalnya: "Tergesa-gesa adalah bagian dari perbuatan Syetan. "[9]

Buku-buku yang berisi tentang kumpulan hadits masyhur, antara lain:

  1. Al-Mayashid Al-Hasanah fi Ma Isytahara' alal Alsinah, karya As-Sakhawi.
  2. Kasyful Khafa' wa Muzilul llbas fi Ma Isytahara minal Hadits ‘ala Alsinatin-Nas, karya Al-Ajluni.
  3. Tamyizut Thayyibi minal Khabitsi fi Ma Yaduru 'ala Alsinatin-nas minal Hadits, karya Ibnu Daiba' As-Syaibani.

2. Hadits ‘Aziz

'Aziz artinya: yang sedikit, yang gagah, atau yang kuat.

'Aziz menurut istilah ilmu hadits, ialah: Satu hadits yang diriwayatkan dengan minimal dua sanad yang berlainan rawinya.

Contohnya: Nabi bersabda, ''Tidak (sesungguhnya) beriman salah seorang dari kamu, sehingga adalah aku (Nabi) lebih dicintai olehnya daripada ia (mencintai) bapaknya dan anaknya serta semua orang.[10]

Keterangan: Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari jalan Anas. Dan diriwayatkan juga oleh Bukhari dari jalan Abu Hurairah.

Susunan sanad dari dua jalan itu adalah: yang meriwayatkan dari Anas: Qatadah dan Abdulaziz bin Shuhaib. Yang meriwayatkan dari Qatadah: Syu’bah dan Said. Yang meriwayatkan dari Abdulaziz: Ismail btn Illiyyah dan Abdul Warits.

3. Hadib Gharib

Gharib secara bahasa berarti yang jauh dari kerabatnya Sedangkan hadits gharib secara istilah adalah hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi secara sendiri.

Dan tidak dipersyaratkan periwayatan seorang perawi itu terdapat dalam setiap tingkatan periwayatan, akan tetapi cukup terdapat pada satu tingkatan atau lebih- Dan bila dalam tingkatan yang lain jumlahnya lebih dan satu, maka itu tidak mengubah statusnya (sebagai hadits gharib)

Sebagian ulama juga menyebut jenis hadits ini dengan nama lain, yaitu al-fard

Pembagian Hadits Gharib

Hadits gharib dilihat dari segi letak kesendiriannya dapat terbagi menjadi dua macam

  1. Gharib mutlaq disebut juga: al-fardul mutlaq, yaitu bilamana kesendirian (gharabah) periwayatan terdapat pada asal sanadnya (sahabat). Misalnya, hadits Nabi,
    إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ

    "Bahwa setiap perbuatan itu tergmtung dengan niatnya."[11]

    Hadits ini diriwayatkan sendiri oleh Umar, lalu dan beliau hadits ini diriwayatkan oleh Alqamah, Muhammad bin Ibrahim lalu meriwayatkannya dari Alqamah, kemudian Yahya bin Sa'id meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim, kemudian setelah itu ia diriwayatkan oleh banyak perawi melalui Yahya bin Sa'id. Dalam gharib mutlaq ini yang menjadi pegangan adalah apabila seorang sahabat hanya sendiri meriwayatkan sebuah hadits.

  2. Gharib Nisbi, disebut juga Al-Fardu An-Nisbi, yaitu apabila keghariban terjadi pada pertengahan sanadnya bukan pada asal sanadnya. Maksudnya satu hadits yang diriwayatkan oleh lebih dari satu orang perawi pada asal sanadnya, kemudian dari semua perawi itu hadits ini diriwayatkan oleh satu orang perawi saja yang mengambil dari para perawi tersebut, Misalnya: hadits Malik, dari Zuhri, dari Anas , "Bahwa Nabi masuk kota Makkah dengan mengenakan penutup kepala di atas kepalanya,"[12]. Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Malik dari Zuhri. Dinamakan dengan gharib nisbi karena kesendirian periwayatan hanya terjadi pada perawi tertentu.[13]

PEMBAGIAN KHABAR AHAD MENURUT KUAT DAN LEMAHNYA

Khabar ahad dengan tiga macam pembagian di atas yaitu masyhur, 'aziz, dan gharib, bila dilihat dari segi kuat dan lemahnya dapat dibagi lagi menjadi dua macam: maqbul (diterima) dan mardud (ditolak).

Maqbul dan Pembagiannya

Hadits maqbul ialah: hadits yang kebenaran orang yang membawanya terbukti kuat.

Hukumnya: wajib digunakan sebagai hujjah dan diamalkan.

Pembagian Hadits Maqbul

Hadits maqbul memiliki beberapa tingkatan, maka dari itu para ulama membaginya pada dua bagian utama yaitu: Shahih dan Hasan. Shahih sendiri ada dua macam: shahih li dzatihi dan shahih li ghairihi. Sedangkan hasan juga ada dua macam: hasan li dzatihi dan hasan li ghairihi. Berikut ini empat bagian tersebut:

  1. Shahih li dzatihi
  2. Hasan li dzatihi
  3. Shahih li ghairihi
  4. Hasan li ghairihi

PENGERTIAN HADITS SHAHIH

Shahih menurut bahasa adalah lawan dari sakit. Ini adalah makna hakiki pada jasmani. Sedangkah dalam penggunaannya pada hadits dan makna-makna yang lain, ia adalah makna yang majazi.

Shahih menurut istilah ilmu hadlts ialah: "Satu hadits yang sanadnya bersambung dari permulaan sampai akhir, disampaikan oleh orang-orang yang adil, memiliki kemampuan menghafal yang sempurna (dhabith), serta tidak ada penyelisihan dengan perawi yang lebih terpercaya darinya (syadz) dan tidak ada 'illat yang berat."

Dari definisi ini jelaslah bahwa untuk hadits shahih dipersyaratkan adanya 5 syarat berikut:

  1. Sanadnya bersambung: yaitu setiap perawi telah mengambil hadits secara langsung dari gurunya mulai dari permulaan sampai akhir sanad.
  2. Para perawi yang adil: yaitu setiap perawi harus seorang yang muslim, baligh, berakal, tidak fasik, dan berperangai yang baik.
  3. Dhabth yang sempurna, yaitu setiap perawi harus sempurna hafalannya. Dhabth ada dua macam: dhabth shadr, dan dhabth kitab.

    Dhabth shadr adalah bila seorang perawi benar-benar hafal hadits yang telah didengarnya dalam dadanya, dan mampu mengungkapkannya kapan saja.

    Dhabth kitab adalah bila seorang perawi "menjaga" hadits yang telah didengarnya dalam bentuk tulisan.

  4. Tidak ada syudzudz (syadz), yaitu hadits tersebut tidak syadz. Syudzudz adalah jika seorang perawi yang tsiqah menyelisihi perawi yang lebih tsiqah darinya.
  5. Tidak ada 'Illat yang berat, yaitu hadits tersebut tidak boleh ada cacat 'Illat adalah suatu sebab yang tersembunyi yang dapat merusak status keshahihan hadits meskipun zhahimya tidak nampak ada cacat.

Jika salah satu dari lima syarat tersebut tidak terpenuhi, maka ia tidak dapat dinamakan sebagai hadits shahih.

Contohnya:

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Shahihnya, dia berkata: telah bercerita kepada kami AbduUah bin Yusuf, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Ibnu Syihab, dari Muhammad bin jubair bin Muth'im, dari bapaknya, dia berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah membaca surat Ath-Thur dalam shalat maghrib."

Maksud Perkataan Mereka: "Hadza Haditsun Shahih, ” atau "Hadza Haditsun Ghairu Shahih

Jika dikatakan: "Hadza haditsun shahih" (Ini adalah hadits shahih), maka maksudnya adalah bahwa kelima syarat tersebut telah terpenuhi. Sedangkan jika dikatakan: "Hadza haditsun ghairu shahih" (Ini adalah hadits yang tidak shahih), maka yang dimaksud adalah bahwa kelima syarat shahih itu belum terpenuhi, baik sebagian ataupun semuanya.

Maksud Perkataan: "Innahu Ashahhul Asanid” (Ini Adalah Sanad yang paling shahih)

Kekuatan hadits shahih mempunyai tingkatan derajat berdasarkan pada syarat-syarat di atas. Oleh karena itu, sebagian ulama hadits menyebut untuk tingkatan sanad yang paling tinggi dengan istilah: "Innahu ashahhul asanid," dan setiap imam menguatkan sanad yang menurutnya paling kuat. Di antara mereka adalah:

  1. Ibnu Syihab Az-Zuhri, dari Salim bin Abdullah bin Umar, dari bapaknya.
  2. Muhammad bin Sirin, dari Ubaidah bin Amru, dari Ali bin Abi Thalib.
  3. Ibrahim An-Nakha'i, dari 'Alqamah bin Qais, dari Abdullah bin Mas'ud.
  4. Malik, dari Nafi', dari Ibnu Umar.

Namun pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah bahwa kita tidak dapat menentukan sebuah sanad tertentu sebagai sanad yang paling shahih, karena perbedaan tingkat keshahihan sangat ditentukan oleh pemenuhan sanad tersebut atas syarat-syarat keshahihan sebuah hadits. Dan sangat sulit menemukan derajat tertinggi dalam setiap perawi hanya dengan membaca salah satu biografinya, bila dibandingkan dengan seluruh perawi yang ada. Dari penyebutan para ulama bahwa sanad tertentu adalah "sanad yang paling shahih", kita hanya dapat menyimpulkan bahwa sanad itu lebih kuat dari sanad yang tidak mendapatkan predikat tersebut. Tidak lebih dari itu.

KARYA-KARYA YANG HANYA MEMUAT HADITS-HADITS YANG SHAHIH

Di antaranya adalah:

  1. Shahih Bukhari
  2. Shahih Muslim

Namun, para ulama berselisih pendapat tentang mana yang paling shahih di antara keduanya:

  1. Jumhur ulama mengatakan bahwa Shahih Bukhari lebih shahih daripada Shahih Muslim, karena syarat-syarat yang ada pada Shahih Bukhari lebih sempurna dan lebih ketat daripada Shahih Muslim. Dari segi bersambungnya sanad, Imam Bukhari mengharuskan bagi seorang perawi untuk bertemu langsung dengan gurunya meskipun hanya sekali, sementara Muslim hanya mencukupkan dengan syarat perawi hidup semasa dengan gurunya dan memungkinkan untuk bertemu. Dari segi kedhabithan dan ke'adilan, para perawi yang dimuat haditsnya oleh Imam Muslim lebih banyak mendapat kritikan dari pada perawi yang dimuat oleh Imam Bukhari. Dari segi syudzudz dan ‘illat, hadits Shahih Bukhari mendapatkan kritikan yang jumlahnya lebih sedikit dari pada hadits-hadits Shahih Muslim. Hadits-hadits yang dikritik dalam kedua kitab ini mencapai 210 hadits, kurang dari 80 hadits terdapat dalam Shahih Bukhari, 32 hadits terdapat dalam keduanya, dan sisanya (sekitar 98 hadits) terdapat dalam Shahih Musltm.
  2. Pendapat lain mengatakan, Shahih Muslim lebih shahih dari Shahih Bukhari. Dinukil dari perkataan Abu Ali An-Naisaburi yang menyatakan, "Tidak ada buku yang lebih shahih di bawah langit ini kecuali Shahih Muslim."

    Pendapat ini dibantah, bahwa An-Naisaburi dalam pernyataannya tidak secara jelas mengatakan bahwa Shahih Muslim lebih shahih dari pada Shahih Bukhari, akan tetapi menafikan adanya buku yang lebih Shahih dari Muslim, bukan menafikan adanya buku yang sama tingkat keshahiharinya dengan Shahih Muslim.

    Dinukil pula dari sebagian ulama Maghrib pendapat yang lebih mengutamakan Shahih Muslim atas Shahih Bukhari.

    Jumhur ulama menjelaskan pendapat-pendapat ini dengan menyatakan bahwa melebihkan Shahih Muslim atas Shahih Bukhari mungkin karena dari sisi sistematika dan pembahasannya, Shahih Muslim lebih baik dan Shahih Bukhari. Namun tidak seorang pun di antara mereka yang menyatakan Shahih Muslim lebih shahih daripada Shahih Bukhari.

    Jumlah hadits dalam Shahih Bukhari sebanyak 7275 hadits termasuk yang diulang, dan 4000 hadits tanpa pengulangan. Sedangkan dalam Shahih Muslim sebanyak 12.000 hadits termasuk yang diulang, dan 4000 hadits tanpa pengulangan.

  3. Murtadrak Al-Hakim: Berisi tentang hadils-hadits shahih yang sesuai dengan syarat-syarat Imam Bukhari dan Muslim, atau syarat salah satu di antara keduanya, namun tidak diriwayatkan oleh keduanya. Di dalamnya juga berisi hadits-hadits yang shahih menurut penyusunnya (Imam Al-Hakim), meskipun tidak sesuai syarat-syarat Bukhari-Muslim. Namun dalam hal penentuan keshahihan hadits, Al-Hakim termasuk ulama yang menggampangkan (mutasahil).
  4. Shahih Ibnu Hibban: Namun beliau belum menyusunnya berdasarkan sistematika bab dan musnad[14], sehingga mempersulit dalam penelitian terhadap hadits-hadits yang dalam di dalam kitab tersebut. Beliau juga termasuk orang yang mempermudah dalam menghukumi keshahihan sebuah hadits, namun tidak terlalu lunak dan mempermudah seperti Al-Hakim.
  5. Shahih Ibnu Khuzaimah; derajat dan tingkatannya lebih tinggi dari pada Shahih Ibnu Hibban, karena penyusunnya (Ibnu Khuzaimah) sangat hati-hati dalam menghukumi sebuah hadits.

Tingkatan Hadits Shahih

  1. Bila diriwayatkan dengan sanad-sanad dari "ashahhul asanid" (sanad paling shahih) seperti Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar.
  2. Bila disepakati oleh Bukhari dan Muslim (muttafaq 'alaihi).
  3. Bila diriwayatkan oleh Bukhari saja.
  4. Bila diriwayatkan oleh Muslim saja.
  5. Bila sesuai syarat keduanya meskipun tidak diriwayatkan oleh keduanya.
  6. Bila sesuai syarat Bukhari saja meskipun tidak diriwayatkan olehnya.
  7. Bila sesuai syarat Muslim saja meskipun tidak diriwayatkan olehnya,
  8. Apabila shahih menurut para ulama selain Bukhari dan Muslim seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan tidak sesuai syarat keduanya.

Kemudian Imam Ibnu Taimiyah Majduddin Abdussalam bin Abdillah Al-Harrani (kakek dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) telah menyebutkan dalam kitabnya "Muntaqal Akhbar min Ahaditsi Sayyidil Akhyar” setiap yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad dengan istilah 'muttafaq 'alaihi, dan menyebut hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan istilah "akhrajaahu" (dikeluarkan atau diriwayatkan oleh keduanya).

PENGERTIAN HADITS HASAN

Hasan menurut bahasa artinya baik dan bagus. Menurut istilah: "Hadits yang sanadnya bersambung dari permulaan sampai akhir, diceritakan oleh orang-orang yang 'adil, kurang dhabthnya, serta tidak ada syudzudz dan 'Ilat yang berat didalamnya."

Perbedaan antara hadits hasan dengan shahih terletak pada dhabith yang sempurna untuk hadits shahih dan dhabith yang kurang untuk hadits hasan.

Kekuatan hukumnya:

Hadits hasan sama seperti hadits shahih dalam pemakaiannya sebagai hujjah, walaupun kekuatannya lebih rendah di bawah hadits shahih. Semua ahli fikih, ahli hadits, dan ahli ushul fikih menggunakan hadits hasan ini sebagai hujjah.

Contohnya:

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dia berkata: telah bercerita kepada kami Qutaibah, telah bercerita kepada kami Ja'far bin Sulaiman Ad-Dhab'i, dari Abi Imran Al-Jauni, dari Abu Bakar bin Abu Musa Al-Asy'ari, dia berkata, "Aku telah mendengar ayahku berkata dihadapan musuh, 'Rasulullah bersabda,

إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوفِ

"Sesungguhnya pintu-pintu surga berada di bawah naungan pedang... (Al-Hadits.)"

Empat perawi hadits tersebut adalah tsiqah kecuali Ja'far bin Sulaiman Ad-Dhab'i, sehingga menjadikan hadits ini sebagai hadits hasan.

Tingkatan Hadits Hasan:

Seperti halnya hadits shahih, hadits hasan juga mempunyai tingkatan-tingkatan yang berbeda.

Makna istilah mereka: "haditsun shahihul isnad," (hadits yang shahih sanadnya) atau "hasanul isnad" (hasan sanadnya)

Perkataan para ahli hadits: "hadza haditsun shahihul isnad" (ini adalah hadits yang shahih sanadnya) berbeda dengan perkataan mereka: "hadza haditsun shahih” (ini adalah hadits yang shahih). Dan perkataan mereka: "hadza haditsun hasanul isnad” (ini adalah hadits yang hasan sanadnya) berbeda pula dengan: "hadza haditsun hasan" (ini adalah hadits yang hasan). Karena suatu hadits kadang shahih atau hasan sanadnya saja, sedangkan matannya lemah karena syadz atau adanya 'Illat.

Perkataan At-Tirmidzi dan yang lainnya: "Hadits ini hasan shahih", apa maksudnya?

Sebagaimana telah dijelaskan, hadits hasan derajat dan tingkatannya lebih rendah dari shahih. Tapi At-Tirmidzi mengatakan pada sebagian hadits: "Hadits Hasan Shahih", bagaimana mungkin keduanya digabungkan?

Ibnu Hajar menjawab pertanyaan itu yang kesimpulannya sebagai berikut:

  1. Bila suatu hadits mempunyai dua sanad atau lebih, maka istilah itu maksudnya adalah salah satu sanad berderajat hasan, dan yang lain berderajat shahih.
  2. Bila mempunyai hanya satu sanad saja, maka lafazh itu berarti bahwa hadits itu hasan menurut pandangan sekelompok ulama, dan shahih menurut pandangan ulama lain. Jadi seolah-olah orang yang memakai sebutan itu berkata," Hadits ini hasan atau shahih."

Imam Al-Bagahwi, dalam kitabnya "Mishbah As-Sunnah" -yang dipilih hadits-haditsnya dari Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Arba'ah (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah), dan Sunan Ad-Darimi, kemudian diperbaiki oleh Al-Khathib At-Tabrizi dalam karyanya "Misykat Al-Mashabih"- membuat rumus dan kode untuk hadits yang ada pada Bukhari dan Muslim atau salah satunya dengan kata "shahih", Sedangkan untuk hadits yang ada dalam sunan yang empat diberi rumus atau tanda "hasan". Istilah ini adalah khusus baginya, padahal dalam kitab sunan itu ada juga hadits yang shahih, hasan, dan dhaif.

BUKU-BUKU YANG MENGANDUNG HADITS HASAN

Para ulama belum menyusun kitab khusus tentang hadits hasan secara terpisah sebagaimana mereka melakukannya dalam hadits shahih, akan tetapi hadits hasan banyak kita dapatkan pada sebagian kitab, di antaranya:

  1. Jami' At-Tirmidzi, dikenal dengan Sunan At-Tirmidzi, merupakan sumber untuk mengetahui hadits hasan.
  2. Sunan Abu Dawud
  3. Sunan Ad-Daruquthni

SHAHIH LI GHAIRIHI

Hadits shahih li ghairihi adalah hadits hasan li dzatihi bila diriwayatkan melalui jalan lain (lebih dari satu jalur sanad) yang semisal dengannya, atau lebih kuat darinya. Dinamakan shahih li ghairihi karena keshahihannya bukan berasal dari sanad hadits itu sendiri, melainkan datang dari penggabungan riwayat lain. Kedudukannya lebih tinggi dari hasan li dzatihi dan masih di bawah shahih li dzatihi.

Contohnya:

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadits Muhammad bin Amru, dari Abi Salamah, dari Abi Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda,

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسَّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

"Seandainya tidak memberatkan umatku , niscaya aku perintah mereka untuk bersiwak di waktu tiap-tiap hendak shalat".

Di sini kita dapatkan, Muhammad bin Amru bukanlah termasuk orang yang mutqin. Sebagian ulama menganggapnya dhaif karena buruk dalam hafalannya. Sebagian yang lain menganggapnya tsiqah kanena kejujuran dan kemuliaannya. Maka haditsnya adalah hasan. Dan ketika riwayat lain dipadukan dengan hadits ini, maka tertutuplah kelemahan tersebut, sehingga sanadnya menjadi shahih dan menempati derajat yang shahih, sebagaimana Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits ini dari jalur Abu Az-Zinad dari Al-A'raj dari Abu Hurairah .

HASAN LI GHAIRIHI

Hadits hasan lighairihi adalah hadits yang dhaif dikuatkan dengan beberapa jalan, dan sebab kedhaifannya bukan karena kefasikan perawi (yang keluar dari jalan kebenaran) atau kedustaannya.

Seperti satu hadits yang dalam sanadnya ada perawi yang mastur (tidak diketahui keadaannya), atau rawi yang kurang kuat hafalannya, atau rawi yang tercampur hafalannya karena tuanya, atau rawi yang pernah keliru dalam meriwayatkan, lalu dikuatkan dengan jalan lain yang sebanding dengannya, atau yang lebih kuat darinya. Hadits ini derajatnya lebih rendah dari pada hasan li dzatihi dan dapat dijadikan sebagai hujjah.

Contohnya:

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari jalur Syu'bah, dari 'Ashim bin Ubaidillah, dari Abdillah bin 'Amir bin Rabi'ah, dari ayahnya, bahwasanya seorang wanita dari Bani Fazarah menikah dengan mahar sepasang sandal, lalu Rasulullah bersabda,

"Apakah kamu rela dengan sepasang sandal?"

Dia menjawab, "Benar." Maka beliau pun membolehkannya.

At-Tirmidzi berkata, "Pada bab ini juga diriwayatkan (hadits yang sama) dari Umar, Abi Hurairah, 'Aisyah, dan Abi Hadrad." Sedangkan 'Ashim adalah dhaif karena buruk hafalannya, kemudian hadits ini dihasankan oleh At-Tirmidzi melalui jalur riwayat yang lain.

HADITS AHAD YANG DITERIMA BERDASARKAN DALIL BUKTI YANG MENGELILINGINYA

Pada dasarnya hadits ahad ymg diterima itu menunjukkan zhan kuat akan kebenaran hadits tersebut, dan tidak menunjukkan keyakinan yang aksiomatik seperti yang dttunjukkan oleh hadits yang mutawatir.

Namun hadits ahad yang memiliki qarinah (dalil penguat) Itu jauh lebih kuat dan didahulukan daripada hadits ahad yang tidak mempunyai qarinah. Sampai-sampai para ulama hadits berkata bahwa hadits ahad yang tidak memiliki qarinah itu memberikan setingkat ilmu nazhary yaitu butuh dicarikan dalil dan diteliti.

Hadits ahad yang memiliki qarinah (dalil penguat) bermacam-macam jenisnya

  1. Hadits ahad yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Dimana hadits-hadits tersebut tidak sampai kepada tingkat mutawatir. Sedangkan qarinah yang dimilikinya adalah
    1. Keahlian mereka berdua dalam bidang ini.
    2. Keketatan mereka dalam memilah hadits shahih dari pada ulama-ulama lain.
    3. Umat Islam telah menerima karya hadits mereka berdua. Penerimaan itu saja sudah merupakan qarinah yang lebih kuat dalam menunjukkan ilmu daripada qarinah melalui banyaknya jalur sanad.
  2. Hadits masyhur yang memiliki banyak jalur sanad yang kesemua jalur tersebut berbeda-beda dan didalamnya tidak ada perawi-perawi yang lemah serta selamat dari 'illat hadits (sebab yang sulit terdeteksi yang dapat menjadikan sebuah hadits tertolak, yang jika dilihat sepintas seakan-akan hadits tersebut shahih)
  3. Hadits yang diriwayatkan secara berkelanjutan (musalsal) oleh para ulama hadits yang tcrpercaya dan teliti, sehingga hadits tersebut tidak asing lagi. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Imam Asy-Syafi'i dan diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi'i dari Imam Malik. Ketika imam Ahmad meriwayatkannya ada ulama lain yang menyertainya, dan tatkala Imam Asy-Syafi'i meriwayatkannya dari imam Malik pun ada ulama yang menyertainya dalam periwayatan.

Ketiga jenis hadits Ahad tersebut di atas dikategorikan menjadi tiga bagian:

Bagian pertama mencakup hadits-hadits yang ada dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim.

Bagian kedua mencakup hadits-hadits yang mempunyai banyak jalur sanad.

Bagian ketiga adalah mencakup hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para imam dan ulama.

Jika ada hadits Ahad yang mempunyai ketiga kriteria di atas, maka kita dapat memastikan keabsahan hadits tersebut.

PEMBAGIAN KHABAR YANG MAQBUL (DITERIMA) YANG DAPAT DIAMALKAN DAN YANG TIDAK DAPAT DIAMALKAN

Khabar atau hadits yang maqbul terbagi menjadi dua bagian: yang diamalkan dan tidak diamalkan. Kemudian dari pembagian ini muncul dua hal yang termasuk dalam pembahasan ilmu hadits yaitu:"Al-Muhkam dan Mukhtalif Al-Hadits," serta "Nasikh dan Mansukh."

Al-Muhkam dan Mukhtalif Al-Hadits

Sebelumnya telah dibahas tentang ilmu Mukhtalif dan Musykil Al-Hadits, maka yang menjadi perhatian kita di sini sekarang adalah bagaimana cara menyatukan jika terjadi pertentangan.

Definisi Al-Muhkam

Al-Muhkam menurut bahasa artinya yang dikokohkan, atau yang diteguhkan. Sedangkan menurut istilah ilmu hadits: "hadits yang diterima yang maknanya tidak bertentangan dengan hadits lain yang semisal dengannya"

Kebanyakan hadits adalah termasuk jenis ini, sedangkan hadits yang bertentangan jumlahnya sedikit.

Definisi Mukhtalif Al-Hadits

Mukhtalif artinya yang bertentangan atau yang berselisih. Mukhtalif Al-Hadits adalah hadits yang sampai kepada kita, namun saling bertentangan maknanya satu sama lain. Sedangkan definisi menurut istilah adalah: "hadits yang diterima namun pada zhahirnya kelihatan bertentangan dengan hadits maqbul lainnya dalam maknanya, akan tetapi memungkinkan untuk dikompromikan antara keduanya."

Apa yang Harus Dilakukan untuk Mendudukkan Dua Hadits Maqbul yang Mukhtalaf Ini?

Para ulama menggunakan dua jalan:

  1. Thariyah Al-Jam'i, yaitu bila memungkinkan untuk menggabungkan dan mengkompromikan antara keduanya, maka keduanya dikompromikan dan wajib diamalkan.
  2. Thariqah At-Tarjih, yaitu bila tidak memungkinkan untuk dikompromikan, maka:
    1. Jika diketahui salah satunya nasikh dan yang lain mansukh, maka kita dahulukan yang nasikh lalu kita amalkan, dan kita tinggalkan yang mansukh.
    2. Jika tidak diketahui nasikh dan mansukhnya, maka kita cari mana yang lebih kuat di antara keduanya lalu kita amalkan, dan kita tinggalkan yang lemah.
    3. Jika tidak memungkinkan untuk ditarjih, maka tidak boleh diamalkan keduanya sampai jelas dalil yang lebih kuat.

HADITS NASIKH DAN MANSUKH

Definisi

Naskh menurut bahasa mempunyai dua makna, menghapus dan menukil. Sehingga seolah-olah orang yang menasakh itu telah menghapuskan yang mansukh, lalu memindahkan atau menukilkannya kepada hukum yang lain. Sedangkan menurut istilah, adalah "pengangkatan yang dilakukan oleh penetap syariat terhadap suatu hukum yang datang terdahulu dengan hukum yang datang kemudian."

Bagaimana Cara Mengetahui Nasikh dan Mansukh?

Nasikh dan mansukh dalam hadits dapat diketahui dengan salah satu dari beberapa hal berikut ini:

  1. Pernyataan dari Rasulullah , seperti sabda beliau,
    كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَاِنَّهَا تُذَكِّرُ الاَخِرَةَ

    "Aku dahulu telah melarang kalian untuk ziarah kubur, maka (sekarang) lakukanlah ziarah karena dapat mengingatkan akhirat,"[15]

  2. Perkataan sahabat
  3. Mengetahui sejarah, seperti hadits Syaddad bin Aus,
    أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُوْمُ

    "Orang yang membakam dan yang dibekam batal puasanya."[16] Dinasakh oleh hadits Ibnu Abbas, "Bahwasanya Rasulullah berbekam sedangkan beliau sedang ihram dan puasa."[17].

    Dalam salah satu jalur sanad Syaddad dijelaskan bahwa hadits itu diucapkan pada tahun 8 hijriyah ketika terjadi pembukaan kota Makkah, sedangkan Ibnu Abbas menemani Rasulullah dalam keadaan ihram pada saat haji wada' tahun 10 hijriyah.

  4. Ijma' ulama. Seperti hadits yang berbunyi,
    مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فَاجْلِدُوهُ فإن عَادَ فِي الرَّابِعَةِ فَا قْتُلُوهُ

    "Barangsiapa yang minum khamr maka cambuklah dia, dan jika kembali mengulangi yang keempat kalinya, maka bunuhlah ia."[18]

    Imam An-Nawawi berkata, "Ijma' ulama menunjukkan adanya naskh terhadap hadits ini." Dan ijma' tidak bisa dinasakh dan tidak bisa menasakh, akan tetapi menunjukkan adanya nasikh.

Pentingnya Ilmu Nasikh dan Mansukh Hadits

Mengetahui nasikh dan mansukh merupakan suatu keharusan bagi siapa saja yang ingin mengkaji hukum-hukum syariah, karena tidak mungkin dapat menyimpulkan suatu hukum tanpa mengetahui dalil-dalil nasikh dan mansukh. Oleh sebab itu para ulama sangat memperhatikan ilmu tersebut dan menganggapnya sebagai satu ilmu yang sangat penting dalam bidang ilmu hadits.

Mereka mendefinisikannya sebagai berikut: "Ilmu nasikh dan mansukh adalah ilmu yang membahas tentang hadits-hadits yang bertentangan yang tidak mungkin dikompromikan, dimana salah satu hadits dihukumi sebagai nasikh dan yang lain sebagai mansukh. Hadits yang lebih dahulu disebut mansukh, dan hadits yang datang kemudian menjadi nasikh."

Karya-karya yang Disusun Tentang Nasikh dan Mansukh Hadits

Sebagian ulama menyusun buku tentang nasikh dan mansukh dalam hadits, di antaranya:

  1. An-Nasikh wa Al-Mansukh, karya Qatadah bin Di'amah As-Sadusi (wafat 118 H), namun tidak sampai ke tangan kita.
  2. Nasikh Al-Hadits wa Mansukhihi, karya Al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al-Atsram (wafat 261 H), sahabat Imam Ahmad.
  3. Nasikh Al-Hadits wa Mansukhihi, karya ahli hadits Irak, Abu Hafsh Umar Ahmad Al-Baghdadi, dikenal dengan Ibnu Syahin (wafat 385 H).
  4. Al-I'tibar fi An-Nasikh wa Al-Mansukh min Al-Atsar, karya Imam Al-Hafizh An-Nassabah Abu Bakar Muhammad bin Musa Al-Hazimi Al-Hamadani (wafat 584 H).
  5. An-Nasikh wa Al-Mansukh, karya Abui Faraj Abdurrahman bin Ali, atau yang lebih dikenal Ibnu Al-Jauzi.

HADITS DHAIF

Definisi

Dhaif menurut bahasa adalah lawan dari kuat. Dhaif ada dua macam yaitu lahiriah dan maknawiyah. Sedangkan yang dimaksud di sini adalah dhaif maknawiyah.

Hadits Dhaif menurut istilah adalah "hadits yang didalamnya tidak didapati syarat hadits shahih dan tidak pula didapati syarat hadits hasan."

Karena syarat diterimanya suatu hadits sangat banyak sekali, sedangkan lemahnya hadits terletak pada hilangnya salah satu syarat tersebut atau bahkan lebih, maka atas dasar ini hadits dhaif terbagi menjadi beberapa macam, seperti Syadz, Mudhtharib, Maqlub, Mu'allal, Munqathi', Mu’dhal, dan lain sebagainya.

Tingkatan Hadits Dhaif

Hadits Dhaif bertingkat-tingkat keadaannya berdasarkan pada lemahnya para perawi antara lain: dhaif, dhaif jiddan, wahi, munkar. Dan seburuk-buruk tingkatan hadits adalah hadits Maudhu' (palsu).

Sebagaimana dalam hadits shahih, ada yang disebut oleh para ulama dengan istilah "ashahhul asanid", maka dalam hadits dhaif ada juga yang disebut dengan "awhal asanid" (sanad paling lemah) bila disandarkan kepada sebagian sahabat dan kota. Contohnya:

  1. Sanad paling lemah dari Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah Shadaqah bin Musa Ad-Daqiqy, dari Farqad As-Sabakhy, dari Murrah At-Thib, dari Abu Bakar.
  2. Sanad paling lemah dari Ibnu Abbas adalah Muhammad bin Marwan, dari Kalaby, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, "Ini adalah silsilah pendusta bukan silsilah emas."
  3. Sanad paling lemah dari Abu Hurairah adalah As-Sariy bin Ismail, dari Dawud bin Yazid Al-Azdy, dari bapaknya, dari Abu Hurairah.
  4. Sanad paling lemah bila dinisbatkan kepada Syamiyyin (orang-orang Syam) adalah Muhammad bin Qais Al-Maslub, dari Ubaidillah bin Zahr, dari Ali bin Yazid, dari Qasim, dari Abu Umamah.[19]

Contoh:

Sebuah hadits yang mengatakan, "Barangsiapa yang shalat 6 raka'at setelah shalat maghrib dan tidak berbicara sedikit pun di antara shalat tersebut, maka baginya sebanding dengan pahala ibadah selama 12 tahun."

Diriwayatkan oleh Umar bin Rasyid dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah. Imam Ahmad dan Yahya bin Ma'in dan Ad-Daruquthni mengatakan bahwa Umar ini adalah dhaif. Imam Ahmad juga berkata, "Haditsnya tidak bernilai sama sekali." Bukhari berkata, "Hadits yang munkar dan dhaif jiddan (lemah sekali)." Ibnu Hibban berkata, "Tidak halal menyebut hadits ini kecuali untuk maksud mencacatnya, karena dia memalsukan hadits atas nama Malik dan Ibnu Abi Dzi'b dan selain keduanya dari orang-orang yang tsiqah."

Mengamalkan Hadits Dhaif

Hadits Dhaif pada dasarnya adalah tertolak dan tidak boleh diamalkan, bila dibandingkan dengan hadits shahih dan hadits hasan. Namun para ulama melakukan pengkajian terhadap kemungkinan dipakai dan diamalkannya hadits dhaif, sehingga terjadi perbedaan pendapat diantara mereka:

  1. Para ulama muhaqqiq berpendapat bahwa hadits dhaif tidak boleh diamalkan sama sekali, baik bekaitan dengan masalah akidah atau hukum-hukum fikih, targhib dan tarhib maupun dalam fadha'ilul a'mal (keutamaan amal). Inilah pendapat imam-imam besar hadits seperti Yahya bin Ma'in, Bukhari, dan Muslim. Pendapat ini juga diikuti oleh Ibnul Arabi ulama fikih dari madzhab Malikiyah, Abu Syamah Al-Maqdisi ulama dari madzhab Syafi'iyah, dan Ibnu Hazm.
  2. Pendapat kebanyakan ahli fikih membolehkan untuk mengamalkan dan memakai hadits dhaif secara mutlak jika tidak didapatkan hadits lain dalam permasalahan yang sama. Dikutip dari pendapat Abu Hanifah, Asy-Syafi'i, Malik, dan Ahmad. Akan tetapi pendapat yang terkenal dari Imam Ahmad bahwa hadits dhaif adalah kebalikan dari hadis shahih menurut terminologi ulama-ulama terdahulu.
  3. Sebagian ulama membolehkan untuk mengamalkan dan memakai hadits dhaif dengan catatan sebagai berikut: mereka membolehkan mengamalkan hadits dhaif khusus dalam targhib dan tarhib (motivasi beramal dan ancaman bermaksiat) dan fadhilah-fadhilah amal, sedangkan untuk masalah akidah dan hukum halal serta haram, mereka tidak membolehkannya.

Ulama-ulama yang mempergunakan hadits dhaif dalam fadhilah amal, mensyaratkan kebolehan mengambilnya itu dengan tiga syarat:

  1. Kelemahan hadits itu tiada seberapa
  2. Apa yang ditunjukan hadits itu juga ditunjukkan oleh dasar lain yang dapat dipegangi, dengan arti bahwa memeganginya tidak berlawanan dengan sesuatu dasar hukum yang sudah dibenarkan.
  3. Jangan diyakini kala menggunakannya bahwa hadits itu benar dari Nabi. Ia hanya dipergunakan sebagai ganti memegangi pendapatyang tiada berdasarkan nash sama sekali.

KITAB-KITAB YANG DIDUGA MENGANDUNG HADITS DHAIF

Hadits-hadits dhaif banyak terdapat pada sebagian karya berikut ini:

  1. Ketiga Mu'jam At-Thabarani - Al-Kabir, Al-Awsath, As-Shaghir
  2. Kitab Al-Afrad, karya Ad-Daruquthni. Di dalam hadits-hadits Al-Afrad terdapat hadits-hadits Al-Fardu Al-Muthlaq, dan Al-Fardu An-Nisbi.
  3. Kumpulan karya Al-Khathib Al-Baghdadi
  4. Kitab Hilyatul Auliya' wa Thabaqatul Ashfiya' karya Abu Nu'aim Al-Ashbahani.

HADITS YANG TERTOLAK KARENA GUGURNYA SANAD[20]

Keguguran dalam sanad ada dua macam:

  1. Keguguran secara zhahir dan dapat diketahui oleh ulama hadits karena faktor perawi yang tidak pernah bertemu dengan guru (syaikhnya), atau tidak hidup di zamannya.

    Keguguran sanad dalam hal ini, ada yang gugur pada awal sanad, atau akhirnya, atau tengahnya. Para ulama memberikan nama hadits yang sanadnya gugur secara zhahir tersebut itu dengan 4 istilah sesuai dengan tempat dan jumlah perawi yang gugur;

    1. Mu'allaq
    2. Mursal
    3. Mu'dhal
    4. Munqathi’
  2. Keguguran yang tidak jelas dan tersembunyi. Ini tidak dapat diketahui kecuali para ulama yang ahli dan mendalami jalan hadits dan Illat-Illat sanadnya. Ada dua nama untuk jenis ini:
    1. Mudallas
    2. Mursal

Dan berikut ini penjelasannya:

MU'ALLAQ

Definisi

Mu'allaq menurut bahasa adalah isim maf'ul yang berarti terikat dan tergantung. Sanad yang seperti ini disebut Mu'allaq karena hanya terikat dan tersambung pada bagian atas saja sementara bagian bawahnya terputus, sehingga menjadi seperti sesuatu yang tergantung pada atap dan yang semacamnya.

Hadits Mu'allaq menurut istilah adalah hadits yang gugur perawinya, baik seorang, baik dua orang, baik semuanya pada awal sanad secara berurutan.

Di antara bentuknya adalah bila semua sanad digugurkan dan dihapus, kemudian dikatakan: "Rasulullah bersabda begini..." Atau dengan menggugurkan semua sanad kecuali seorang sahabat, atau seorang sahabat dan tabi'in.

Contohnya:

1. Bukhari meriwayatkan dari Al-Majisyun dari Abdullah bin Fadhl dari Abu Salamah dari Abu Hurairah , dari Nabi bersabda,

لاَتُفَاضِلُوْا بَيْنَ الْأَنْبِيَاءِ

"Jangartlan kalian melebih-lebihkan di antara para nabi."

Pada hadits ini, Bukhari tidak pernah bertemu Al-Majisyun.

2. Diriwayatkan oleh Bukhari pada mukaddimah "Bab Ma Yudzkaru fil Fakhidzi" (bab tentang apa yang disebutkan tentang paha), Abu Musa Al-Asy'ari berkata, "Rasulullah menutup kedua pahanya ketika Utsman masuk". Hadits ini adalah mu'allaq karena Bukhari menghilangkan semua sanadnya kecuali seorang sahabat yaitu Abu Musa Al-Asy'ari.

Hukumnya:

Hadits mu'allaq adalah hadits yang mardud (ditolak) karena gugur dan hilang salah satu syarat diterimanya suatu hadits yaitu bersambungnya sanad, dengan cara menggugurkan seorang atau lebih dari sanadnya tanpa dapat kita ketahui keadaannya.

Hadits-hadits Mu’allaq dalam Shahih Bukhari dan Muslim

Dalam Shahih Bukhari terdapat banyak hadits mu'allaq, namun hanya terdapat pada judul dan mukaddimah bab saja. Tidak terdapat sama sekali hadits mu'allaq pada inti dan kandungan bab. Adapun Shahih Muslim, hanya terdapat satu hadits saja, yaitu pada bab tayammum.

Hukum Hadits Mu’allaq dalam Shahih Bukhari dan Muslim:

1. Jika diriwayatkan dengan tegas dan jelas yakni dengan shighat jazm (kata kerja aktif) seperti: qala (dia telah berkata), dzakara (dia telah menyebutkan), dan haka (dia telah bercerita), maka haditsnya dihukumi shahih.

2. Jika diriwayatkan dengan shighat tamridh (kata kerja pasif) seperti: dikatakan, disebutkan, dan diceritakan, maka tidak dipandang shahih semuanya, akan tetapi ada yang shahih, hasan, dan dhaif. Hanya saja tidak terdapat di dalamnya hadits yang dhaif karena keberadaannya dalam kitab yang dijuluki dengan "Shahih."

MURSAL

Definisi

Mursal menurut bahasa isim maf'ul yang berarti yang dilepaskan. Sedangkan hadits Mursal menurut pengertian istilah adalah hadits yang gugur perawi dari sanadnya setelah tabi'in, seperti bila seorang tabi'in mengatakan, "Rasulullah bersabda begini atau berbuat seperti ini."

Contohnya

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya pada Kitab Al-Buyu' berkata: telah bercerita kepadaku Muhammad bin Rafi', (ia mengatakan) telah bercerita kepada kami Hujain, (ia mengatakan) telah bercerita kepada kami Laits dari Aqil dari Ibnu Syihab dari Said bin Al-Musayyib, "Bahwa Rasulullah telah melarang Muzabanah (jual beli dengan cara borongan hingga tidak diketahui kadar timbangannya;."

Said bin Al-Musayyib adalah seorang tabi'in senior, meriwayatkan hadits ini dari Nabi tanpa menyebutkan perantara antara dia dan Nabi. Maka sanad hadits ini telah gugur pada akhimya, yaitu perawi setelah tabiin. Setidaknya telah gugur dari sanad ini sahabat yang meriwayatkannya. Dari sangat mungkin telah gugur pula bersamanya perawi lain yang selevel dengannya dari kalangan tabiin.

Inilah hadits Mursal menurut ahli hadits. Sedangkan menurut ulama fikih dan ushul fikih lebih umum dari itu, bahwa setiap hadits yang j murufathi' menurut mereka adalah mursal.

Hukumnya

  1. Jumhur (mayoritas) ahli hadits dan ahli fikih berpendapat bahwa hadits mursal adalah dhaif dan menganggapnya sebagai bagian dari hadits yang mardud (tertolak), karena tidak diketahui kondisi perawinya. Bisa jadi perawi yang gugur dari sanad adalah sahabat atau tabiin. Jika yang gugur itu sahabat, maka tidak mungkin haditsnya ditolak, karena semua sahabat adalah 'adil. Jika yang gugur tabiin, maka sangat dimungkinkan hadits itu adalah dhaif. Namun dengan kemungkinan seperti ini, tetap tidak bisa dipercaya dan dipastikan bahwa perawi yang gugur itu seorang yang 'adil. Dan meskipun diketahui bahwa sang tabiin tidak akan meriwayatkan kecuali dari seorang yang tsikah, maka hal inipun tidak cukup untuk mengangkat ketidakjelasan kondisi sang rawi.
  2. Pendapat lain mengatakan bahwa hadits mursal adalah shahih dan dapat dijadikan sebagai hujjah, terlebih lagi jika tabiin tidak meriwayatkan kecuali dari orang-orang yang tsiqah dan dapat dipercaya. Pendapat ini yang masyhur dalam madzhab Malik, Abu Hanifah, dan salah satu dari dua pendapat Imam Ahmad-
  3. Imam Asy-Syafil berpendapat bahwa hadits-hadits mursal para tabi'in senior dapat diterima apabila terdapat hadits mursal dari jalur lain meskipun mursal juga, atau dibantu dengan perkataan sahabat (qaul ash-shahaby)

Mursal Shahabi (Mursal yang Diriwayatkan oleh sahabat)

Jumhur Muhadditsin (ulama hadits) dan ulama ushul fikih berpendapat bahwa mursal shahabi adalah shahih dapat dijadikan sebagai hujjah, yaitu apa yang dikhabarkan oleh seorang sahabat tentang sesuatu yang telah dikerjakan oleh Nabi atau semisalnya, yang menunjukkan bahwa dia tidak menyaksikan secara langsung karena faktor usianya yang masih kecil seperti Abdullah bin Abbas dan lainnya dari kalangan sahabat yang masih kecil, atau karena faktor keterlambatan masuk Islam.

Contohnya

Hadits yang diriwayatkan Aisyah dalam Shahih Bukhari dan Muslim mengatakan,"Awal mula wahyu datang kepada Rasulullah adalah mimpi yang benar. Maka tidaklah beliau melihat sebuah mimpi melainkan datang dalam wujud seperti bintang di subuh hari. Lalu kemudian beliau dibuat senang menyendiri, sehingga beliau sering menyendiri di Gua Hira dimana beliau bertahannuts (beribadah) selama beberapa malam sebelum kemudian kembali menemui keluarganya..." sampai akhir hadits.

Dalam hal ini, Aisyah dilahirkan empat atau lima tahun setelah kenabian, lalu dimanakah posisi dia pada saat diturunkan wahyu?

Maka pendapat ini adalah yang benar, karena semua sahabat 'adil. Dan pada zhahimya, seorang sahabat tidak memursalkan sebuah hadits kecuali dia telah mendengarnya dari Rasulullah , atau dari seorang sahabat lain yang telah mendengar dari Rasulullah. Oleh karena itu, para ulama hadits menganggap mursal shahabi sama hukumnya dengan hadits yang bersambung sanadnya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim terdapat banyak hadits yang seperti itu. Ada yang mengatakan bahwa mursal shahabi sama hukumnya dengan mursal-mursal yang lain, namun perkataan ini lemah dan ditolak.

MU’DHAL

Definisi

Mu'dhal secara bahasa adalah sesuatu yang dibuat lemah dan letih. Disebut demikian, mungkin karena para ulama hadits dibuat lelah dan letih untuk mengetahuinya karena beratnya ketidakjelasan dalamhadits itu. Adapun menurut istilah ahli hadits adalah "hadits yang gugur pada sanadnya dua atau lebih secara berurutan"

Contohnya:

Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam kitab "Ma'rifat Ulum Al-Hadits" dengan sanadnya kepada Al-Qa'naby dari Malik bahwasanya dia menyampaikan, bahwa Abu Hurairah berkata, "Rasulullah bersabda,

لِلْمَمْلُوكِ طَعَامُهُ وَكِسْوَتُهُ بِلْمَعْرُوفِ وَلَا يُكَلَّفُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَايُطِيقُ

"Seorang hamba sahaya berhak mendapatkan makanan dan pakaian sesuai kadarnya baik, dan tidak dibebani pekerjaan melainkan apa yang dia mampu mengerjakannya." Al-Hakim berkata, "Hadits ini mu'dhal dari Malik dalam Kitab Al-Muwaththa."

Hadits ini kita dapatkan bersambung sanadnya pada kita selain Al-Muwaththa', diriwayatkan dari Malik bin Anas dari Muhammad bin 'Ajlan, dari bapaknya, dari Abu Hurairah. Letak kemu'dhalannyn karena gugurnya dua perawi dari sanadnya yaitu Muhammad bin Ajian dan bapaknya. Kedua perawi tersebut gugur secara berurutan.

Hukumnya

Para ulama sepakat bahwasanya hadits Mu'dhal adalah dhaif, lebih buruk statusnya daripada Mursal dan Munqathi', karena sanadnya banyak yang terbuang.

Hubungan Antara Mu’allaq dan Mu ’dhal

Antara Mu'dhal dan Mu'allaq ada kaitan secara umum dan khusus:

  1. Mu'dhal dengan Mu'allaq bertemu dalam satu bentuk, yaitu jika dihilangkan pada permulaan sanadnya dua orang perawi secara berurutan, maka dalam kasus seperti ini hadits itu menjadi Mu'dhal dan Mu'allaq pada saat yang bersamaan.
  2. Antara keduanya terdapat perbedaan:
    1. Jika pada tengah isnadnya dihilangkan dua orang perawi secara berurutan, maka disebut Mu'dhal, dan bukan Mu'allaq.
    2. Jika seorang perawi saja yang dihilangkan pada awal isnadnya maka disebut Mu'allaq dan bukan Mu'dhal,

MUNQATHI'

Definisi

Munqathi' menurut bahasa Isim fa'il yang berarti terputus, lawan kata dari muttashil bersambung.

Sedangkan menurut istilah, para ulama terdahulu mendefinisikannya sebagai; "hadits yang sanadnya tidak bersambung dari semua sisi."

Ini berarti bahwa sanad hadits yang terputus, baik dari awal sanad, atau tengah, atau akhirnya, maka menjadi hadits yang munqathi'. Dengan definisi ini, maka hadits munqathi' meliputi mursal, muallaq dan mu'dhal.

Dan para ulama hadits belakangan mendefinisikan hadits munqathi' sebagai "satu hadits yang di tengah sanadnya gugur seorang perawi atau beberapa perawi tetapi tidak berturut-turut." Jadi yang gugur adalah satu saja di tengah sanadnya, atau dua tetapi tidak berturut-turut pada dua tempat dari sanad, atau lebih dari dua dengan syarat tidak berturut-turut juga. Dan atas dasar ini, maka munqathi' tidak mencakup nama mursal, mu'allaq atau mu'dhal.

Contohnya:

1. Diriwayatkan Abu Dawud dari Yunus bin Yazid dari Ibnu Syihab bahwasanya Umar bin Al-Khaththab berkata sedang dia berada di atas mimbar, "Wahai manusia, sesungguhnya ra'yu (pendapat rasio) itu jika berasal dari Rasulullah maka ia akan benar, karena Allah yang menunjukinya, sedangkan ra'yu yang berasal dari kita adalah zhan [prasangka] dan berlebih-lebihan."

Hadits ini jatuh dari tengah sanadnya satu perawi, karena Ibnu Syihab tidak bertemu dengan Umar .

2. Diriwayatkan Abdur Razzaq dari Sufyan At-Tsauri dan Abu lshaq dari Zaid bin Yutsai' dari Hudzaifah secara marfu': "Jika kalian menyerahkan kepemimpinan kepada Abu Bakar, maka dia adalah orang kuat lagi amanah."

Hadits ini sanadnya terputus dalam dua tempat; pertama, bahwa AbdurRazzaq tidak mendengarnya dari Ats-Tsauri, dia hanya mendengar dari Nu'man bin Abi Syaibah dari Ats-Tsauri. Kedua, Ats-Tsauri tidak mendengarnya dari Abu Ishaq, ia hanya mendengar dari Syuraik dari Abu Ishaq.

Hukumnya

Para ulama telah sepakat bahwasanya hadits munqathi' itu dhaif, karena tidak diketahui keadaan perawi yang dihapus (majhul)

Tempat-tempat yang diduga terdapatnya hadits-hadits munqathi, mu’dhal, dan mursal

  1. Kitab "As-Sunan" karya Sa'id bin Manshur
  2. Karya-karya Ibnu Abi Ad-Dunya.

MUDALLAS

Definisinya

Mudallas menurut bahasa adalah isim maf'ul dari "at-tadlis", dan tadlis dalam bahasa adalah penyembunyian aib barang dagangan dari pembeli. Diambil dari kata "ad-dalsu" yaitu kegelapan atau percampuran kegelapan, maka seakan akan seorang mudallis karena penutupannya terhadap orang yang memahami hadits telah menggelapkan perkaranya maka lalu hadits itu menjadi gelap.

Tadlis menurut istilah: "Penyembunyian aib dalam hadits dan menampakkan kebaikan pada zhahirnya."

Pembagian Tadlis

Tadlis ada 2 macam. Tadlis Al-lsnad dan Tadlis Asy-Syuyukh.

Tadlis Al-lsnad adalah bila seorang perawi meriwayatkan hadits dari orang yang dia temui apa yang dia tidak dengarkan darinya, atau dari orang yang hidup semasa dengan perawi namun dia tidak menjumpainya, dengan menyamarkan bahwa dia mendengarnya darinya, seperti dengan mengatakan, "dari fulan..." atau "berkata fulan...", atau yang semisal dengan itu dan dia tidak menjelaskan bahwa ia telah mendengarkan langsung dari orang tersebut. Adapun bila perawi menyatakan telah mendengar atau telah bercerita, padahal sebenarnya dia tidak mendengar dari gurunya dan tidak membacakan kepada syaikhnya, maka dia bukanlah seorang mudallis tetapi seorang pendusta yang fasik.

Contohnya:

Diriwayatkan oleh Al-Hakim dengan sanadnya kepada Ali bin Khusyrum dia berkata, "Telah meriwayatkan kepada kami Ibnu 'Uyainah, "Dari Az-Zuhri...," maka dikatakan kepadanya, "Apakah Anda telah mendengarnya dari Az-Zuhri?" Dia menjawab, "Tidak, dan tidak pula dari orang yang mendengarnya dari Az-Zuhri. Aku telah diberitahu oleh Abdur Razzaq dari Ma'mar dari Az-Zuhri."

Sufyan bin 'Uyainah -sebagaimana Anda lihat- dia hidup semasa dengan Az-Zuhri dan pernah menjumpainya, tetapi ia tidak mendengar darinya, namun dia mendengar dari Abdur Razzaq dan Abdur Razzaq mendengar dari Ma'mar, dan Ma'mar inilah yang mengambil dari Az-Zuhri dan mendengar darinya.

Perbedaan antara tadlis dan mursal, bahwasanya mursal itu periwayatnya meriwayatkan dari orang yang tidak mendengar darinya.

Tadlis Taswiyah

Di antara tadlis isnad ada yang dikenal dengan tadlis taswiyah. Yang memberikan nama demikian adalah Abu Al-Hasan bin Al-Qaththan. Definisinya adalah: Periwayatan rawi akan sebuah hadits dari syekhnya, yang disertai dengan pengguguran perawi yang dhaif yang terdapat di antara dua perawi yang tsiqah yang pernah bertemu, demi memperbaiki hadits tersebut.

Gambarannya adalah: seorang perawi meriwayatkan dari seorang syaikh yang tsiqah, dan syaikh yang tsiqah ini meriwayatkannya dari perawi yang tsiqah pula namun diantarai oleh perawi yang dhaif. Dan kedua perawi yang tsiqah itu pernah berjumpa satu dengan yang lainnya. Maka datang sang mudallis yang mendengarkan hadits itu dari syekh tsiqah tersebut, ia kemudian menggugurkan perawi yang dhaif dalam sanad, dan langsung menyambung jalur sanad antara syaikhnya dengan perawi tsiqah lainnya dengan menggunakan lafazh yang mengecoh agar sanad hadits itu menjadi tsiqah semua.

Contohnya:

Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dalam kitab "Al-'llal", dia berkata, "Aku telah mendengar bapakku -lalu ia menyebutkan hadits yang diriwayatkan Ishaq bin Rahawaih dari Baqiyyah[21], (ia mengatakan) telah menceritakan kepadaku Abu Wahb Al-Asady dari Nafi' dari Ibnu Umar sebuah hadits, "Janganlah engkau memuji keislaman seseorang hingga engkau mengetahui simpul pendapatnya."

Bapakku berkata, "Hadits ini mempunyai masalah yang jarang orang yang memahaminya. Hadits ini diriwayatkan oleh Ubaidillah bin 'Amru dari Ishaq bin Abi Farwah dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan Ubadillah bin 'Amru gelarnya adalah Abu Wahb dan dia seorang asady (dari kabilah Asad), maka Baqiyyah sengaja menyebut namanya hanya dengan gelar dan penisbatannya kepada Bani Asad agar orang-orang tidak mengetahuinya. Sehingga apabila dia meninggalkan Ishaq bin Abi Farwah, ia tidak dapat dilacak."

Hukumnya

Tadlis taswiyah meskipun termasuk dalam tadlis isnad, namun dia yang paling buruk di antara macam-macam tadlis. Al-Iraqi berkata, "(Jenis tadlis) ini mencemarkan siapa yang sengaja melakukannya." Dan di antara orang yang paling sering melakukannya adalah Baqiyyah bin Al-Walid. Abu Mishar berkata, "Hadits-hadits Baqiyyah tidaklah bersih, maka berjaga-jagalah engkau darinya."

Riwayat Seorang Mudallis

  1. Sebagian ahli hadits dan para fuqaha' menolak riwayat mudallis secara mutlak, baik dia menegaskan bahwa ia mendengarkan hadits itu ataupun tidak. Meskipun dia hanya melakukan tadlis sekali, sebagaimana dikutip dari pendapat Imam Asy-Syafi'i Rahimahullah.
  2. Ibnu Ash-Shalah sendiri memerinci pendapatnya

    Apa yang diriwayatkan oleh mudallis dengan lafazh yang memiliki banyak kemungkinan (muhtamal) dan tidak menjelaskan bahwa dia telah mendengar atau bersambung sanadnya, maka hukumnya adalah mursal, ditolak dan tidak dijadikan sebagai hujjah

    Sedangkan bila lafazh periwayatannya jelas menunjukkan bahwa sanadnya bersambung, seperti: "Aku telah mendengar", "Telah menceritakan kepadaku", "telah mengabarkan kepadaku", maka diterima dan dijadikan sebagai hujjah.

    Dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dan kitab-kitab lainnya, banyak hadits-hadits yang sang mudallis berkata didalamnya: "Telah menceritakan kepadaku", "Aku telah mendengar", "Telah mengabarkan kepadaku", semua itu datang dari Sufyan bin 'Uyainah, Sufyan Ats-Tsaur , Al-A'masy, Qatadah dan Hasyim bin Basyir.

    Ibn Ash-Shalah berkata, "Dan yang benar adalah membedakan antara keduanya. Apa yang dijelaskan didalamnya adanya pendengaran langsung diterima, sedangkan yang menggunakan lafazh muhtamal ditolak."

    Dia berkata, "Dan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim terdapat semacam ini dari hadits sejumlah perawi seperti, Dua Sufyan (Ats-Tsauri dan Ibnu Uyainah), Al A'masy, Qatadah, Hasyim, dan selain mereka."

Tadlis Asy-Syuyukh

Yaitu satu hadits yang dalam sanadnya, perawi menyebut syaikh yang ia mendengar daripadanya dengan sebutan yang tidak terkenal dan masyhur tentangnya. Sebutan di sini maksudnya: nama, gelaran, pekerjaan atau kabilah dan negeri yang disifatkan untuk seorang syaikh, dengan tujuan supaya keadaan syaikh itu yang sebenarnya tidak diketahui orang.

Contohnya:

Perkataan Abu Bakar bin Mujahid salah seorang dari para imam ahli qiraat, "Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abi Abdillah", yang dimaksud adalah Abu Bakar bin Abu Dawud As-Sijistani.

Hukumnya:

Tadlis Asy-Syuyukh lebih ringan daripada Tadlis Isnad, karena sang mudallis ini tidak menggugurkan seorang perawi pun, dan kemakruhannya disebabkan karena sulitnya mengetahui riwayat darinya bagi yang mendengarnya. Dan hukum ini bisa berubah bergantung maksud dari sang mudallis. Kadang menjadi makruh, seperti halnya orang yang meriwayatkan dari perawi yang lebih kecil umurnya, dan kadang menjadi haram, seperti riwayat orang yang tidak tsiqah lalu melakukan tadlis agar tidak diketahui keadaannya, atau membuat pengaburan agar dikira sebagai orang lain yang tsiqah dengan menyamakan nama atau sebutannya.

Kitab-kitab Terkenal dalam Tadlis dan Para Mudallis:

  1. Karya-karya Al-Khathib Al-Baghdadi tentang nama-nama para mudallis - masih dalam bentuk manuskrip dan belum dicetak.
  2. At Tabyiin li Asmaa'i Al-Mudallisin, karya Burhanuddin bin Al-Halabi -dicetak.
  3. Ta'rifu Ahli At-Taqdis bi Maratibi Al Maushuufiin bi At-Tadlis, karya Ibnu Hajar-dicetak.

MURSAL KHAFI

Pengertiannya

Mursal menurut bahasa adalah isim maf'ul dari "al-irsal" yang berarti "al-ithlaq" (melepaskan), seakan seorang pelaku irsal (mursil) membiarkan sanad tidak bersambung. Sedangkan "khafi" (tersembunyi) lawan kata dari "jaliy" (nampak), karena irsal ini tidak nampak, maka tidak dapat diketahui kecuali dengan penelitian.

Mursal Khafi menurut istilah adalah "sebuah hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari seorang syaikh yang semasa dengannya atau bertemu dengannya, tetapi ia tidak pernah menerima satu pun hadits daripadanya, namun ia meriwayatkannya dengan lafazh yang menunjukkan adanya kemungkinan ia mendengar dari syaikh itu."

Contohnya:

Diriwayatkan Ibnu Majah dari jalur Umar bin Abdul Aziz dari 'Uqbah bin 'Arnir secara marfu',

"Allah telah merahmnti orang yang menjaga pasukan."

Al-Mizzi, dalam kitab Al-Athraf mengatakan, "Umar tidak pernah bertemu dengan 'Uqbah."

Ibnu Katsir berkata, "Dan macam ini hanya dapat diketahui oleh para peneliti hadits dan orang orang yang ahli pada zaman dulu dan zaman sekarang, dan guru kami Al-Hafizh Al-Mizzi adalah seorang imam dalam hal itu, dan sungguh menakjubkan, semoga Allah merahmatinya dan melimpahkan kuburnya dengan ampunan."

Kadang terdapat satu hadits dengan satu sanad dari dua jalan, tetapi pada salah satu diantara keduanya ada tambahan perawi, dan yang seperti ini menyamarkan bagi kebanyakan para ahli hadits, tidak dapat diketahui kecuali orang-orang yang berpengalaman dan orang-orang yang teliti. Terkadang tambahan itu menjadi penguat dengan banyaknya perawi. Dan terkadang pula perawi tambahan itu dianggap telah salah berdasarkan hasil tarjih dan kritik hadits.

Bila ternyata keberadaan tambahan itu yang lebih rajih, maka berarti kekurangannya termasuk mursal khafiy. Namun bila yang rajih adalah kekurangannya, maka berarti tambahan yang ada adalah termasuk tambahan dalam sanad yang bersambung.

Hukumnya

Mursal Khafi hukumnya dhaif, karena ia termasuk dari bagian hadits munqathi’, maka apabila nampak sanadnya terputus maka hukumnya adalah munqathi'.

HADITS YANG MARDUD (TERTOLAK) DISEBABKAN CACAT PADA PERAWINYA

Cacat pada perawi adalah pemberian cacat dan cela padanya terhadap ke'adalahan dan agamanya, atau pada kedhabithannya, hafalan dan ingatannya.

Sebab-sebab Cacat pada Perawi

  • Sebab-sebab cela pada perawi yang berkaitan dengan ke'adalahan perawi ada lima, dan yang berkaitan dengan kedhahithannya juga ada lima.
  • Adapun yang berkaitan dengan ke'adalahannya, yaitu:

    1. Dusta
    2. Tuduhan berdusta
    3. Fasik
    4. Bid'ah
    5. Al-Jahalah (ketidakjelasan)

    Dan yang berkaitan dengan kedhabithannya, yaitu:

    1. Kesalahan yang sangat buruk
    2. Buruk hafalan
    3. Kelalaian
    4. Banyaknya waham
    5. Menyelisihi para perawi yang tsiqah.

    Dan berikut ini macam-macam hadits yang dikarenakan sebab-sebab di atas:

    MAUDHU'[22]

    Apabila sebab kecacatan pada perawi itu disebabkan oleh kedustaan atas Rasulullah , maka haditsnya dinamakan "Maudhu'".

    Pengertiannya

    Maudhu' menurut bahasa artinya sesuatu yang diletakkan. Sedangkan menurut istilah:

    "Sesuatu yang diciptakan dan dibuat-buat lalu dinisbatkan kepada Rasulullah secara dusta."

    Hadits ini adalah yang paling buruk dan jelek di antara hadits-hadits dhaif lainnya. Sebagian ulama membagi hadits menjadi empat bagian: shahih, hasan, dhaif dan maudhu'. Maka maudhu' menjadi satu bagian tersendiri.

    Hukum Meriwayatkannya

    Para ulama sepakat bahwasanya diharamkan meriwayatkan hadits maudhu' dari orang yang mengetahui kepalsuannya dalam bentuk apapun, kecuali disertai dengan penjelasan akan ke maudhuannya, berdasarkan sabda Nabi ,

    مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيْثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

    "Barangsiapa yang menceritakan hadits dariku sedangkan dia mengetahui bahwa itu dusta, maka dia termasuk para pendusta" (HR. Muslim)

    Bagaimana Mengetahui Hadits Maudhu’?

    Hadits maudhu' dapat diketahui dengan beberapa hal, antara lain:

    1. Pengakuan dari orang yang memalsukan hadits: seperti pengakuan Abi 'Ishmat Nuh bin Abi Maryam, yang digelari dengan Nuh Al-Jami', bahwasanya dia telah memalsukan hadits-hadits atas Ibnu Abbas tentang keutamaan-keutamaan Al-Qur'an surat per surat, dan seperti pengakuan Maisarah bin Abd Rabbih Al-Farisi bahwasanya dia telah memalsukan hadits tentang keutamaan Ali sebanyak tujuh puluh hadits.
    2. Apa yang diposisikan sama dengan pengakuannya: Seperti bila seseorang menyampaikan hadits dari seorang syaikh, dan hadits itu tidak diketahui kecuali dari syaikh tersebut, ketika si perawi itu ditanya tentang kelahirannya lalu menyebutkan tanggal tertentu. Setelah diteliti dari perbandingan tanggal kelahiran perawi dengan tanggal kematian sang syaikh yang diriwayatkan darinya, ternyata perawi dilahirkan j sesudah kematian syaikh, atau pada saat syaikh itu meninggal dia j masih kecil dan tidak mendapatkan periwayatan.
    3. Adanya indikasi pada perawi yang menunjukkan akan kepalsuannya: misalnya seorang perawi yang Rafidhah dan haditsnya berisi tentang keutamaan ahlul bait.
    4. Adanya indikasi pada isi hadits, seperti: isinya bertentangan dengan akal sehat, atau bertentangan dengan indra dan kenyataan, atau berlawanan dengan ketetapan agama yang kuat dan terang, atau susunan lafazhnya lemah dan kacau.

      Misalnya apa yang diriwayatkan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari bapaknya dari kakeknya secara mnrfu', "Bahwasanya kapal nabi Nuh thawaf mengelilingi ka'bah tujuh kali dan shalat dua rakaat di maqam Ibrahim."

      Dan seperti, "Anak zina tidak masuk surga sampai tujuh keturunan," karena bertentangan dengan firman Allah,

      وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ

      "Dan seorang yang berdosa tidak menanggung dosa orang lain." (Al An'am:164)

    Motivasi-motivasi yang Mendorong Melakukan Pemalsuan

    1. Cerita-cerita dan nasehat

    Para tukang cerita ingin menarik perhatian orang awam untuk mengajak mereka kepada kebaikan dan menghindari kemungkaran. Untuk maksud itu mereka memalsukan hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah , dengan tujuan mencari penghidupan dan mendekatkan pada orang-orang awam dengan riwayat yang aneh, misalnya, "Barangsiapa yang mengucapkan kalimat Laa llaaha illa Allah, maka Allah menciptakan dari setiap kata itu seekor burung yang paruhnya dari emas dan bulunya dari marjan." Di antara mereka adalah Maisarah bin Abdu Rabbih. Ketika ditanya, "Dari mana Anda dapatkan hadits-hadits ini?" Dia menjawab, "Aku memalsukannya untuk menggembirakan orang."

    2. Membela suatu madzhab

    Khususnya madzhab kelompok politik pasca terjadinya fitnah, dan yang paling banyak melakukan kebohongan adalah kelompok Syiah Rafidhah. Imam Malik ketika ditanya tentang mereka, mengatakan, "Jangan mengajak bicara mereka dan jangan meriwayatkan dari mereka karena mereka para pendusta." Contoh hadits buatan mereka adalah: "Aku (Muhammad) adalah timbangan ilmu, dan Ali sebagai piringan timbangannya, Hasan dan Husain sebagai benang-benangnya, Fatimah pengaitnya, dan para imam sebagai tiang penimbang amalan orang-orang yang mencintai kami dan orang-orang yang membenci kami."

    Dan kelompok paling jauh dari tindakan pemalsuan itu adalah Khawarij, karena mereka mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar, sedangkan dusta termasuk dosa besar, apalagi dusta terhadap Rasulullah .

    3. Zindiq

    Para pemimpin dan penguasa negeri yang ditaklukkan telah tunduk pada kekuasaan Islam, akan tetapi mereka masih memendam rasa kedengkian di dalam hati, namun mereka tidak mampu terang-terangan memusuhinya, akhirnya mereka memalsukan hadits yang berisi kelemahan dan ejekan yang tujuannya merusak agama, seperti: "Allah telah menciptakan malaikat dari kedua bulu siku dan dada-Nya." Dan "Melihat wajah yang cantik adalah ibadah."

    Dan di antara orang-orang zindiq itu adalah Abdul Karim bin Abi Al-Auja', yang dibunuh oleh Muhammad bin Sulaiman Al-Abbasi gubernur Basrah. Ketika akan dibunuh Abdul Karim berkata, "Aku telah memalsukan atas kalian empat ribu hadits, aku haramkan yang halal dan aku halalkan yang haram." Dan Bayan bin Sam'an Al-Hindi yang dibunuh oleh Khalid bin Abdillah Al-Qusari, kemudian Muhammad bin Sa'id Al-Mashlub yang dibunuh oleh Abu Ja'far Al-Manshur.

    4. Mendekatkan diri kepada para penguasa demi menuruti hawa nafsu mereka

    Seperti kisah Ghiyats bin Ibrahim An-Nakha'i bersama Amirul Mukminin Al- Mahdi, ketika datang kepadanya dan dia sedang bermain merpati. Lalu dia menyebut hadits dengan sanadnya secara berturut-turut sampai kepada Nabi bahwasanya beliau bersabda, "Tidak ada perlombaan kecuali dalam anak panah, ketangkasan, atau menunggang kuda atau sayap." Maka dia menambahkan kata: "atau burung." Itu dilakukan untuk menyenangkan Al-Mahdi, lalu Al-Mahdi memberinya sepuluh ribu dirham. Setelah ia berpaling, sang Amir berkata, "Aku bersaksi bahwa tengkukmu adalah tengkuk pendusta atas nama Rasulullah ", lalu beliau memerintahkan untuk menyembelih merpati itu.

    Kesalahan Sebagian Ahli Tafsir dalam Menyebutkan Hadits-hadits Palsu

    Sebagian ulama tafsir melakukan kesalahan dengan menyebutkan hadits-hadits palsu dalam tafsir mereka tanpa menjelaskan kepalsuannya, khususnya riwayat tentang fadhilah Al-Qur'an surat per surat. Di antara mereka adalah: As-Tsa'labi, Al-Wahidi, Az-Zamakhsyari, dan Al-Baidhawi.

    Karya-karya dalam Hadits Maudhu'

    1. Al-Maudhu'at, karangan Ibn Al-Jauzi -beliau paling awal menulis dalam ilmu ini.
    2. Al-La'ali Al-Mashnu'ah fi Al-Ahadits Al-Maudhu'ah, karya As-Suyuthi -ringkasan kitab Ibnu Al Jauzi dengan beberapa tambahan.
    3. Tanzihu Asy-Syari’ah Al-Marfu'ah 'An Al-Ahadits Asy-Syani'ah Al -Maudhu’ah, karya Ibnu 'Iraq Al-Kittani, ringkasan dari kedua kitab tersebut.
    4. Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha'ifah, karyan Al-Albani.

    MATRUK

    Apabila penyebab kecacatan pada perawi adalah tuduhan berdusta -yaitu sebab kedua- maka haditsnya dinamakan hadits Matruk.

    Pengertiannya

    Al-Matruk menurut bahasa artinya yang dibuang, yang ditinggalkan.

    Sedangkan menurut istilah adalah "hadits yang di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang dituduh berdusta."

    Tuduhan berdusta kepada perawi karena salah satu dari dua hal berikut ini:

    Pertama, hadits itu tidak diriwayatkan kecuali dari jalur dia saja, dan bertentangan dengan kaidah-kaidah umum yang digali oleh para ulama dari nash-nash syar'i.

    Kedua, dikenal berdusta dalam perkataan biasa, tetapi tidak nampak kedustaannya dalam hadits.

    Contohnya:

    Hadits Amru bin Syamr Al-Ju'fi Al-Kufi Asy-Syi'i dari Jabir, dari Abu Thufail, dari Ali dan Ammar keduanya berkata, "Adalah Nabi melakukan qunut pada shalat fajar, dan bertakbir pada hari Arafah dalam sholat zhuhur dan memotong sholat ashar pada akhir hari tasyriq."

    Imam An-Nasa'i dan Ad-Daruquthni dan ulama lainnya berkata tentang Amru bin Syamr, "Haditsnya matruk."

    Dan jika hadits maudhu' adalah seburuk-buruk tingkatan dhaif, maka hadits matruk berada pada peringkat berikutnya.

    MUNKAR

    Apabila sebab kecacatan perawi adalah karena banyaknya kesalahan, sering lupa, atau kefasikan, maka dinamakan hadits Munkar.

    Pengertiannya

    Munkar menurut bahasa adalah isim maf'ul dari kata "al- inkaar" lawan kata dari "al-iqrar" (pengakuan).

    Adapun hadits munkar menurut istilah, para ulama mendefinisikannya dengan dua pengertian berikut ini:

    Pertama: yaitu sebuah hadits dengan perawi tunggal yang banyak kesalahan atau kelalaiannya, atau nampak kefasikannya atau lemah ketsiqahannya.

    Contohnya:

    Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Ibnu Majah dari riwayat Abi Zakir Yahya bin Muhammad bin Qais, dari Hisyam bin Urwah, dari bapaknya dari Aisyah secara marfu',

    "Makanlah balah (kurma mentah) dengan tamr (kurma matang), karena syetan akan marah jika anak Adam memakannya."

    An-Nasa'i berkata, "Ini hadits munkar, Abu Zakir meriwayatkannya sendiri, dia adalah seorang syaikh yang saleh, Imam Muslim meriwayatkannya dalam mutaba’at. Hanya saja ia tidak sampai pada derajat perawi yang dapat meriwayatkan hadits secara sendiri."

    Kedua: yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang lemah dan bertentangan dengan riwayat perawi yang tsiqah.

    Perbedaan antara Munkar dan Syadz adalah:

    1. Syadz adalah hadits yang diriwayatkan perawi yang maqbul bertentangan dengan yang perawi lebih utama darinya.
    2. Munkar adalah yang diriwayatkan oleh perawi yang dhaif bertentangan dengan perawi yang tsiqah.

    Dengan demikian, menjadi jelas bahwa keduanya terdapat persamaan dalam poin "menyelisihi riwayat yang lebih kuat darinya", namun terdapat perbedaan di mana hadits syadz perawinya masih maqbul, sedang hadits munkar perawinya dhaif.

    Contohnya

    Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Habib bin Habib Az-Zayyaat -tidak tsiqah- dari Abu lshaq dan Aizar bin Haris, dari Ibnu Abbas, dari Nabi bersabda,

    "Barangsiapa yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, berpuasa, dan menghormati tamu, dia masuk Surga."

    Abu Hatim berkata, "Hadits ini Munkar, karena para perawi yang tsiejah selain (Habib Az-Zayyat) meriwayatkannya dari Abu lshaq hanya sampai kepada sahabat (mauquf), dan riwayat inilah yang dikenal."

    Dan hadits munkar sangat lemah, menempati urutan setelah matruk.

    Dan karena definisi kedua dari hadits munkar adalah lawan dari hadits yang ma'ruf, maka berikut ini kami sebutkan penjelasan tentang hadits yang ma'ruf, meskipun ia termasuk dalam bagian hadits yang maqbul yang dapat dijadikan hujjah.

    MA'RUF

    Pengertiannya:

    Al-Ma'ruf artinya yang dikenal atau yang terkenal dan menurut bahasa berbentuk isim maf'ul.

    Dan hadits ma'ruf menurut istilah adalah "sebuah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah, yang bertentangan dengan yang diriwayatkan oleh perawi yang lemah."

    Contohnya:

    Hadits yang diriwayatkan sebagian perawi tsiqah pada hadits Habib bin Habib Az-Zayyat-yang tersebut di atas- dari Abu Ishaq, dari Al-Aizar bin Harits, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma secara mauquf (hanya sampai kepada sahabat), tidak dimarfu'kan kepada Nabi , artinya bahwa perkataan ini tidak dinisbatkan kepada Nabi , tetapi dinisbatkan kepada Ibnu Abbas.

    Maka, Habib tidak tsiqah, dan ia telah memarfu'kan hadits, lalu menjadikannya sebagai perkataan Rasulullah , sedangkan sebagian perawi tsiqah menjadikannya sebagai hadits yang muquf. Maka terjadilah perselisihan.

    Berdasarkan contoh ini, maka hadits yang datang dari jalur para perawi yang tsiqah dinamakan Ma'ruf, dan yang datang dari jalur perawi yang tidak tsiqah dinamakan Munkar.

    MU'ALLAL

    Apabila sebab kecatatan pada perawi itu adalah wahm (keraguan), maka haditsnya dinamakan mu'allal.

    Pengertiannya

    Mu'allal menurut bahasa artinya yang ditimpa penyakit.

    Hadits Mu'allal menurut istilah adalah "hadits yang zhahimya shahih, tetapi setelah diperiksa terdapat ‘Illat yang dapat merusak keshahihan hadits itu."

    'Illat adalah sebab tersembunyi yang dapat merusak keshahihan sebuah hadits.

    Salah satu hal yang dapat menolong untuk mengetahui 'illat sebuah hadits adalah bila si perawi meriwayatkan hadits itu sendiri, atau riwayat orang lain menyelisihi hadits yang ia riwayatkan, atau indikasi lainnya yang hanya diketahui oleh orang yang ahli dalam ilmu ini, seperti terjadinya keraguan dan kesamaran pada perawi. Ini dapat dilakukan baik dengan menyingkap hadits yang sebenarnya mursal, atau memarfu'kan hadits yang mauquf, atau memasukkan suatu hadits ke dalam hadits yang lain, atau pengaburan yang serupa itu. Maka hadits seperti ini dihukumi tidak shahih.

    Dan 'illat kadang terdapat pada sanad, dan kadang terdapat pada matan, dan kadang terdapat pada keduanya secara bersamaan. Contoh tentang itu telah kita jelaskan pada pembahasan yang lalu tentang "Ilmu 'Ilal Al-Hadits."

    MUKHALAFAH LI ATS-TSIQAT (Mcnyelisihi Perawi yang Lebih Kuat)

    Apabila sebab kecacatan pada perawi adalah karena penyelisihannya terhadap periwayatan yang lebih tsiqah, maka akan menghasilkan empat macam pembahasan ilmu hadits, yaitu: Mudraj, Maqlub, Mazid fi Muttasil As-Sanad, Mudhtharib dan Mushahhaf.

    1. Jika penyelisihan terjadi dengan pengubahan bentuk sanad atau penggabungan mauquf dengan marfu', maka dinamakan Mudraj.
    2. Jika penyelisihan terjadi dengan mendahulukan atau mengakhirkan hadits, maka dinamakan Maqlub.
    3. Jika penyelisihan terjadi dengan penambahan seorang perawi, maka dinamakan Al-Mazid fi Muttashil As-Sanad.
    4. Jika penyelisihan terjadi dengan penggantian perawi dengan perawi yang lain atau dengan terjadinya pertentangan dalam matan tanpa ada yang mentarjihkan, maka dinamakan mudhtharib.
    5. Jika penyelisihan terjadi dengan pengubahan lafazh dengan bentuk yang tetap maka dinamakan mushahhaf.

    Berikut ini penjelasannya secara berurutan:

    MUDRAJ

    Pengertian:

    Mudraj menurut bahasa artinya yang termasuk, yang tercampur, atau yang dicampurkan.

    Hadits mudraj menurut istilah: "sebuah hadits yang asal sanadnya berubah atau matannya tercampur dengan sesuatu yang bukan bagiannya tanpa ada pemisah."

    Menurut definisi ini, mudraj itu ada dua bagian: Mudraj Isnad dan Mudraj Matan.

    Mudraj Sanad

    Ada beberapa bentuk dan gambaran, diantaranya:

    Seorang perawi sedang menyebut satu sanad, tiba-tiba ada yang menghalanginya, lalu ia mengeluarkan satu omongan dari dirinya sendiri. Maka sebagian dari yang mendengarkan menyangka, bahwa ucapannya itu adalah matan bagi sanad yang ia sebut tadi, kemudian si pendengar meriwayatkan omongan si perawi tersebut dengan memakai sanad itu.

    Contohnya:

    Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan kisah Tsabit bin Musa Az-Zahid dalam riwayatnya: "Barangsiapa yang banyak shalat malam, maka wajahnya menjadi indah pada siang hari."

    Penjelasannya: sewaktu Syuraik bin Abdillah Al-Qadhi mendiktekan, "Dari A'masy, dari Abi Sufyan, dari Jabir, ia berkata, Telah bersabda Rasulullah ...,' kemudian ia diam sejenak untuk memberikan kesempatan yang hadir untuk menulis. Tiba-tiba masuklah Tsabit, padahal belum habis Syuraik menyebut matannya. Sewaktu melihat kepada Tsabit, Syuraik mengatakan, "Barangsiapa yang banyak shalat malam, akan indahlah wajahnya di siang hari," yang ia tujukan kepada Tsabit sebagai pujian tentang kezuhudan dan kewara'an Tsabit.

    Tsabit menyangka omongan Syuraik itu adalah kelanjutan bagi sanad yang ia sebut tadi, maka ia riwayatkanlah sebagai sabda Nabi .

    Mudraj Matan

    Yaitu hadits yang dimasukkan padanya sesuatu dari ucapan perawi yang bukan bagian darinya, tanpa ada pemisah.

    Mudraj matan ada tiga macam:

    1. Di awal matan
    2. Di pertengahan matan
    3. Di akhir matan.

    Contohnya:

    1. Contoh mudraj pada awal matan:

    Diriwayatkan Al-Khathib dari riwayat Abi Qathn dan Syababah, dari Syu'bah, dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Hurairah, dia berkata, "Bersabda Rasulullah ,

    أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ وَيْل لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

    "Sempurnakanlah wudhu, kecelakaan api nerakalah (akan menimpa orang yang tidak membereskan wudhu’ di tumit-tumit mereka."

    Perkataan "sempurnakanlah wudhu" sebenarnya adalah ucapan Abu Hurairah sendiri yang dimasukkan perawi ke situ, bukan hadits Nabi. Hai ini ditegaskan oleh riwayat Bukhari dari Adam, dari Syu'bah, dari Muhammad bin Ziyad, dari Abu Hurairah berkata, "Sempurnakanlah wudhu, karena Abui Qasim pernah berkata,

    وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

    "Kecelakaan api nerakalah (akan mengenai orang-orang yang tidak membereskan wudhu’ di tumit-tumit mereka."

    Al-Khathib meriwayatkan hadits mudraj tersebut dari dua jalan: yang pertama dari jalan Abu Qathn, kedua dari jalan Syababah. Kata Al-Khathib, bahwa kedua rawi inilah yang ragu-ragu, hingga bercampurlah omongan Abu Hurairah dengan sabda Nabi. Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh sejumlah orang, dan sama seperti riwayat Adam.

    2. Contoh Mudraj pada bagian tengah matan: hadits' Aisyah dalam Shahih Bukhari bab bad'u al-wahyi (Permulaan Wahyu),

    يَتَحَنَّثُ فِى غَارِ حِرَاء وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ

    "Adalah Nabi menyepi dalam gua Hira -yaitu beribadah- selama beberapa malam." Perkataan "yaitu beribadah" adalah mudraj yang berasal dari perkataan Az-Zuhri.

    3. Contoh Mudraj pada akhir matan: Hadits Abu Hurairah yang marfu’: "Bagi hamba sahaya dua pahala, demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, seandainya bukan karena jihad di jalan Allah, haji, dan berbakti kepada ibuku, aku lebih suka untuk mati sebagai seorang hamba sahaya.

    Hadits ini jelas bahwa perkataan: "demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya... dst" adalah mudraj dari perkataan Abu Hurairah, karena tidak mungkin ucapan Rasulullah, sebab ibu beliau telah meninggal sejak beliau masih kecil. Bagaimana akan berbakti sedangkan ibunya sudah meninggal? Dan juga tidak mungkin beliau berangan-angan menjadi seorang hamba sahaya, sedangkan beliau adalah makhluk paling mulia.

    Bagaimana Mengetahui Mudraj?

    Mudraj dapat diketahui dengan:

    1. Keberadaannya terpisah dalam riwayat lain
    2. Dinyatakan oleh si perawi sendiri
    3. Diterangkan oleh ahli hadits yang benar-benar hafizh
    4. Mustahil Rasulullah mengatakan seperti itu

    Hukum Melakukan Idraj (Penyisipan dalam Hadits)

    Jika idraj dimaksudkan untuk penafsiran makna hadits didalamnya maka ada sedikit toleransi, dan sebaiknya perawi memberikan penjelasannya.

    Jika idraj terjadi karena kesalahan tanpa disengaja oleh perawi, maka tidak mengapa, kecuali jika salahnya terlalu banyak sehingga merusak kredibilitas hafalan dan ketelitiannya.

    Adapun jika idraj terjadi kerena disengaja oleh perawi, maka hukumnya haram dalam bentuk apapun, menurut kesepakatan ahli hadits, ahli fikih, dan ahli ushul fikih.

    Karya-karya Tentang Hadits Mudraj:

    1. "Al-Fashlu li Al-Washli Al-Mudraj fi Ati-Naqli" karya Al-Khathib Al-Baghdadi.
    2. "Taqrib Al-Manhaj bi Tartib Al-Mudraj", karya Ibnu Hajar, ringkasan dari kitab Al-Khathib dengan beberapa tambahan atasnya.

    MAQLUB[23]

    Definisi:

    Menurut bahasa, kata "maqlub" adalah isim maf'ul dari kata "qalb" yang berarti membalik sesuatu dari bentuk yang semestinya.

    Menurut istilah, hadits maqlub adalah: mengganti salah satu kata dari kata-kata yang terdapat pada sanad atau matan sebuah hadits, dengan cara mendahulukan kata yang seharusnya diakhirkan, mengakhirkan kata yang seharusnya didahulukan atau dengan cara yang semisalnya.

    Bagian-bagiannya

    Hadits maqlub terbagi menjadi dua bagian: maqlub sanad dan maqlub matan

    1. Maqlub Sanad

    Maqlub sanad adalah hadits maqlub yang penggantian-nya terjadi pada sanadnya. Maqlub sanad ini mempunyai dua bentuk:

    Bentuk pertama: Seorang perawi mendahulukan dan mengakhirkan salah satu nama dari nama-nama dari para perawi dan nama ayahnya. Misalnya sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ka'ab bin Murrah, namun seorang perawi meriwayatkan hadits tersebut dengan mengatakan "Murrah bin Ka'ab".

    Tentang masalah ini Al-Khathib Al-Baghdadi menulis sebuah buku yang beliau beri nama dengan "Raf'u Al-lrtiyab fi Al-Maqlub min Al-Asma' wa Al-Ansab".

    Bentuk kedua: Seorang perawi mengganti salah satu nama dari nama-nama para perawi sebuah hadits dengan nama lain, dengan bertujuan supaya nama perawi tersebut tidak dikenal. Seperti hadits yang sudah terkenal diriwayatkan dari Salim, namun seorang perawi mengganti namanya dengan nama Nafi'.

    Contoh:

    Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hammad bin Amr An Nashibi (seorang pendusta), dari Al-A'masy, dari Abu Shalih dari Abu Hurairah secara marfu’,

    فَإِذَا لَقِيْتُمُ الْمُشْرِكِيْنَ فِي الطَّرِيْقِ فَلَا تَبْدَءوهُمْ بِالسَّلاَمِ

    "Jika kalian bertemu dengan orang-orang musyrik di suatu jalan, maka janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada mereka."

    Hadits ini adalah hadits yang maqlub, karena Hammad membaliknya, dimana dia menjadikan hadits ini diriwayatkan dari Al-A'masy. Padahal sudah diketahui bersama bahwa hadits ini diriwayatkan dari Suhail bin Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Seperti inilah Imam Muslim meriwayatkannya dalam kitabnya, beliau meriwayatkannya dari Syu'bah, Ats-Tsauri, Jarir bin Abdul Hamid dan Abdul Aziz Ad-Daruwardi, kesemuanya dari Suhail.

    Pelaku dari perbuatan ini jika ia melakukannya dengan sengaja, maka ia dijuluki "pencuri hadits". Perbuatan ini kadang-kadang dilakukan oleh perawi yang terpercaya karena keliru, bukan karena kesengajaan sebagaimana yang dilakukan oleh para perawi pendusta.

    2. Maqlub Matan

    Maqlub matan adalah hadits maqlub yang penggantiannya terjadi pada matannya. Maqlub matan ini mempunyai dua bentuk:

    Bentuk pertama: Seorang perawi mendahulukan sebagian matan yang seharusnya diakhirkan dari sebuah hadits dan mengakhirkan sebagian matan yang seharusnya didahulukan.

    Contoh:

    Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah. Yaitu hadits tentang tujuh golongan yang dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya, dimana hari itu tidak ada naungan selain naungan-Nya. Di dalamnya disebutkan salah satu dari ketujuh golongan tersebut:

    وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِيْنُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ

    "Dan seorang laki-laki yang bersedekah kemudian ia menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya." Ini adalah salah satu dari riwayat yang terbalik yang dilakukan oleh salah seorang perawi.

    Sedangkan riwayat yang benar adalah:"Sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oeh tangan kanannya. Seperti inilah hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Kitab Muwaththa'nya, Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya dan para ahli hadits yang lain. Itulah contoh dari bagian yang pertama, dimana ada keterbalikan dalam matannya karena sudah menjadi sesuatu yang maklum bahwa bersedekah itu dilakukan dengan tangan kanan.

    Bentuk kedua: Seorang perawi menyambungkan sebuah matan hadits dengan sanad hadits lain dan menyambungkan sebuah sanad hadits dengan matan hadits lain. Penggantian ini dilakukan dalam rangka menguji sebagian ulama hadits, supaya bisa diketahui sampai dimana tingkat kekuatan hafalannya sebagaimana yang dilakukan oleh ulama Baghdad terhadap Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari tatkala datang menemui mereka.

    Al-Khathib Al-Baghdadi meriwayatkan bahwa para ulama Baghdad berkumpul dan bersepakat untuk membolak-balikkan matan dan sanad seratus hadits, dimana mereka menyambungkan matan dengan sanad lain dan menyambungkan sanad dengan matan lain. Kemudian mereka memberikan hadits-hadits yang mereka balik matan dan sanadnya kepada Imam Bukhari dan menanyakan kepadanya. Maka satu persatu beliau mampu mengembalikan matan ke sanadnya dan mengembalikan sanad ke matannya tanpa melakukan kesalahan sedikit pun.

    Hukum Melakukan Pembalikan Matan atau Sanad

    Hadits maqlub termasuk salah satu dari jenis-jenis hadits yang dhaif. Akan tetapi hukumnya berubah-ubah menurut sebab terjadinya pembalikan (qalb).

    1. Jika pembalikan pada sebuah matan atau sanad hadits dilakukan bertujuan agar sanad atau matannya tidak diketahui. Maka perbuatan ini tidak diperbolehkan karena perbuatan tersebut sama dengan merubah hadits, sedangkan merubah hadits adalah perbuatan para perawi pendusta.
    2. Jika dilakukan untuk menguji yang bertujuan mengecek tingkat kekuatan hafalan dan kelayakan seorang menjadi ahli hadits, maka hal ini diperbolehkan. Kebolehan melakukan pembalikan ini harus memenuhi syarat. Yaitu seorang perawi yang melakukan pembalikan harus menjelaskan matan dan sanad hadits tersebut sebelum ia meninggalkan tempat.

    AL-MAZID FI MUTTASHIL AL-ASANID[24]

    Definisi

    Al-Mazid adalah bentuk isim maf'ul dari kata "ziyadah" yang berarti tambahan.

    Al-Muttashil adalah lawan kata dari Al-Munqathi' yang berarti bersambung.

    Sedangkan Al Asanid adalah bentuk jama' dari Isnad yang berarti mata rantai para perawi untuk sebuah hadits.

    Berdasarkan pada uraian di atas, maka "Al-Mazid fi Muttashil Al-Asanid" artinya: Perawi yang ditambahkan dalam sebuah sanad hadits, dimana sanad tersebut jika dilihat maka tampak secara lahiriah seakan-akan bersambung.

    Contoh:

    Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mubarak, ia berkata, "Sufyan telah menceritakan kepadaku dari Abdurrahman bin Yazid, ia berkata: Bisr bin Ubaidillah menceritakan kepadaku: la berkata: Saya mendengar Abu Idris berkata: Saya mendengar Watsilah berkata: Saya mendengar Abu Martsad berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda,

    "Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah kalian shalat menghadapnya."[25]

    Dalam hadits di atas ada dua perawi yang ditambahkan. Yaitu Sufyan dan Abu Idris. Diperkirakan Sufyan tersebut ditambahkan ke dalam sanad hadits di atas oleh perawi sebelum Ibnu Al-Mubarak. Karena para perawi yang terpercaya meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Al-Mubarak dari Abu Yazid. Bahkan sebagian dari mereka ada yang menyatakan dengan tegas bahwa Ibnu Al-Mubarak mendengar langsung dari Abu Yazid.

    Sedangkan Abu Idris diperkirakan ditambahkan oleh Ibnu Al-Mubarak. Karena para perawi yang terpercaya meriwayatkan hadits ini dari Abdurrahmman bin Yazid dan tidak ada satupun dari mereka yang menyebutkan Abu Idris. Bahkan sebagian dari mereka ada yang mengatakan dengan tegas bahwa Bisr mendengar langsung dari Watsilah. Para ulama hadits yang terpercaya menghukumi bahwa Ibnu Al-Mubarak melakukan kesalahan pada kasus ini.

    Tambahan di atas dapat ditolak dan dijadikan alasan untuk melemahkan perawi yang menambahkannya dengan syarat:

    1. Perawi yang tidak menambahkan lebih kuat hafalannya dari pada perawi yang menambahkannya.
    2. Terdapat dalam penambahan tersebut penjelasan yang tegas bahwa perawi satu dengan yang lain betul-betul mendengar.

    Oeh karena itu, jika dua syarat di atas tidak terpenuhi atau salah satu dari keduanya, maka penambahan tersebut dimenangkan dan diterima. Sedangkan sanad yang tidak ada tambahannya dianggap terputus (Munqathi'), akan tetapi keterputusan sanad tersebut masih dianggap ringan.

    Inilah yang dimaksud dengan hadits mursal khafi.

    Dalam hal ini, Imam Al-Khatib Al-Baghdadi telah mengarang sebuah buku yang beliau namakan dengan "Tamyiz Al-Mazid Fi Muttashil Al-Asanid."

    MUDHTHARIB[26]

    Definisi

    Secara bahasa, kata "mudhtharib" adalah kata benda yang berbentuk isim fa’il (pelaku) dari kata "Al-ldhthirab" yang berarti urusan yang diperselihkan dan rusak aturannya.

    Secara istilah hadits Mudhtharib adalah hadits yang diriwayatkan dari jalur yang berbeda-beda serta sama dalam tingkat kekuatannya, dimana satu jalur dengan yang lainnya tidak memungkinkan untuk disatukan atau digabungkan dan tidak memungkinkan pula untuk dipilih salah satu yang terkuat.

    Akan tetapi jika antara jalur satu dengan yang lainnya dapat disatukan atau digabungkan, maka hilanglah ketidaktetapan (Al-ldhthirab) itu, dan dibolehkan mengamalkan semua riwayat. Jika dapat dipilah salah satu yang terkuat, maka yang dibolehkan untuk diamalkan adalah riwayat yang terkuat tersebut saja.

    Bagian-bagian Hadits Mudhtharib

    Ketidaktetapan (Al-ldhthirab) kadang-kadang terjadi pada sanad hadits dan kadang-kadang terjadi pada matannya. Namun terjadinya ketidaktetapan (Al-ldhthirab) pada sanad lebih banyak dari pada terjadi pada matannya.

    1. Mudhtharib Sanad

    Contohnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar, ia berkata, "Wahai Rasulullah, aku melihat rambutmu beruban" Maka beliau bersabda,

    "Yang telah membuat rambutku beruban adalah Hud dan saudara-saudaranya. " (HR. At-Tirmidzi)

    Iman Ad-Daruquthni berkata, "Hadits ini adalah hadits mudhtharib karena hadits ini tidak diriwayatkan kecuali dari satu jalan, yaihi dari Abu Ishaq. Periwayatan dari Abu Ishaq diperselisihkan oleh para ulama ahli hadits:

    Di antara mereka ada yang meriwayatkannya secara mursal (dari tabi'in langsung kepada Rasulullah).

    Sebagian yang lain ada yang meriwayatkannya secara maushul (sambung sampai Rasulullah).

    Sebagian yang lain ada yang menjadikannya termasuk ke dalam Musnad Abu Bakar (Kumpulan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar).

    Sebagian yang lain lagi ada yang menjadikannya termasuk ke dalam Musnad Sa'ad.

    Sebagian yang lain ada yang menjadikannya termasuk ke dalam Musnad 'Aisyah. Dan lain sebagainya.

    Semua perawi hadits tersebut semuanya terpercaya. Oleh karena itu, maka kesemua jalur sanad yang dimiliki oleh hadits tersebut tidak memungkinkan untuk dipilih salah satu yang terkuat dan tidak pula untuk disatukan atau digabungkan."

    2. Mudhtharib Matan

    Contohnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, dari Syuraik, dari Abu Hamzah, dari As-Sya'bi, dari Fatimah binti Qais , ia berkata, "Rasulullah ditanya tentang zakat. Maka beliau bersabda,

    "Sesungguhnya dalam harta ada kewajiban yang lain selain kewajiban zakat." Sedangkan Imam Ibnu Majah meriwayatkan hadits ini dari jalur sanad yang sama dengan menggunakan ungkapan,

    "Tidak ada kewajiban dalam harta selain kewajiban zakat.

    Imam Al Iraqi berkata, "Ketidaktetapan (Al-ldhthirab) yang ada pada hadits di atas tidak memungkinkan untuk ditakwilkan."

    Hukumnya

    Al-Idhthirab menyebabkan hadits menjadi lemah. Hal ini karena dalam hadits mudhtharib terdapat isyarat yang menunjukkan ketidaktelitian, baik pada sanad ataupun matan.

    Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar telah mengarang buku tentang hal ini dan beliau namakan ”Al-Muqtarib fi Bayani Al-Mudhtharib”. Buku tersebut beliau nukil dari kitab "Al-'llal" karya Imam Ad-Daruquthni. Kemudian beliau berikan tambahan dan sempurnakan.

    MUSHAHHAF[27]

    Definisi

    Secara bahasa kata "mushahhaf'' adalah isim maf'ul dari kata "At-Tashhif", yang berarti kesalahan tulis yang ada pada kitab-kitab hadits.

    Sedangkan "as-shahafi" adalah sebutan bagi perawi yang meriwayatkan hadits dengan membacakan buku, sehingga ia melakukan kesalahan Karena kesulitan membedakan huruf-huruf yang mirip.

    Ada yang mengatakan bahwa asal-mula dinamakan dengan sebutan tersebut karena ada sekelompok orang yang mengambil ilmu dari membaca buku saja tanpa berguru, sehingga ketika mereka meriwayatkan ilmunya mereka melakukan perubahan. Maka saat itu orang-orang berkata tentang mereka, ”Qad shahhafu” (pantas saja demikian, mereka telah meriwayatkan hadits dari buku saja). Mereka dinamakan "Mushahhifun" orang-orang yang meriwayatkan ilmunya dari buku). Sedangkan bentuk nasdar dari kata tersebut adalah "At-Tashhif"

    Pembagiannya

    Jika ditinjau dari tempat terjadinya kesalahan, maka hadits mushahhaf dibagi menjadi dua:

    1. Yang mengalami tashhif dalam sanad

    Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Syu'bah, dari Al-Awwam bin Murajim Al-Qaisi, dari Abu Utsman An-Nahdi. Namun Yahya bin Ma'in melakukan kesalahan dalam menyebut nama ayah dari Al-Awwam, beliau mengatakan dengan: "Dari Al-Awwam bin Muzahim", dengan menggunakan huruf Za' dan Ha' yang dikasrah.

    2. Tashhif dalam matan.

    Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: "Ihtajara Rasulullah fi Al masjid" yang artinya: "Sesungguhnya Rasulullah membuat kamar dalam masjid". Namun Ibnu Lahi'ah melakukan kesalahan dalam meriwayatkan hadits di atas dengan menggunakan kalimah; "Ihtajama fi Al Masjid". Yang artinya: "Rasulullah berbekam di dalam masjid"

    Ditinjau dari sebab terjadinya kesalahan, maka hadits Mushahhaf dibagi menjadi dua bagian:

    1. Tashhif Bashar (Penglihatan).

    Tashhif bashar ini adalah sebab kesalahan yang sering terjadi. Sedangkan yang dimaksudkan dengan tashhif bashar adalah ketidakjelasan tulisan suatu hadits bagi yang membacanya. Hal ini bisa disebabkan karena tulisannya yang jelek atau huruf-hurufnya tidak bertitik.

    Contohnya adalah hadits yang berbunyi: "Man shama ramadhana wa Atba'ahu sittan min syawwal..." yang artinya: "Barangsiapa yang telah berpuasa Ramadhan kemudian ia berpuasa enam hari dari bulan syawal....". Disebabkan karena ketidak jelasan tulisan maka seorang perawi meriwayatkan hadits tersebut dengan menggunakan kata "syaian" sebagai ganti dari kata yang seharusnya, yaitu: "sittan"

    2. Tashhif As Sam'u (Pendengaran)

    Tashhif ini terjadi disebabkan karena pendengaran yang lemah, jarak antara pendengar dengan yang di dengarkan sangat jauh dan lain sebagainya. Hal ini menyebabkan sebagian kata menjadi tidak jelas bagi seorang perawi karena sebagian kata tersebut terbentuk dari pola yang sama.

    Contohnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ashim bin Al Ahwal. Namun sebagian perawi hadits tersebut meriwayatkannya dari Washil bin Al Ahdab.

    Ditinjau dari segi kata atau maknanya, maka hadits Mushahhaf terbagi menjadi dua bagian:

    1. Tashhif dalam lafal.

    Tashhif inilah yang banyak terjadi seperti pada contoh-contoh di atas.

    2. Tashhif dalam makna.

    Yang dimaksukan dengan Tashhif ini adalah: Seorang perawi mushahhif (yang melakukan kesalahan) meriwayatkan sebuah hadits dengan menggunakan kalimat-kalimat sesuai dengan aslinya. Namun ia memberikan makna yang menunjukkan bahwa ia memahami hadits tersebut dengan pemahaman yang tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh hadits tersebut.

    Contohnya adalah apa yang diucapkan oleh Abu Musa Muhammad bin al Mutsanna Al-'Anzi, seorang laki-laki dari kabilah 'Anazah. Ia berkata: "Kami adalah kabilah 'Anazah. Kami adalah suatu kaum yang mempunyai kemuliaan sebab Rasulullah shalat menghadap ke arah kami". Makna tersebut beliau fahami dari sebuah hadits yang berbunyi: "Sesungguhnya Rasulullah shalat menghadap ke 'Anazah" . Maka beliau memahaminya bahwa Rasulullah shalat menghadap ke arah mereka. Padahal kata 'Anazah (huruf 'Ain dan Nun difathah) berarti tombak kecil yang bermata dua, bentuknya persis seperti 'Ukazah. Dimana Rasulullah menancapkannya di hadapan beliau sebagai pembatas ketika beliau shalat di tanah lapang.

    Al-hafith Ibnu Hajar membagi hadits Mushahhaf menjadi dua bagian:

    Bagian pertama beliau namakan dengan sebutan "Tashhif". Yaitu jika perubahannya adalah merubah titik-titik yang ada pada satu atau beberapa huruf, sedangkan bentuk katanya masih berupa bentuk yang semula.

    Bagian yang kedua beliau namakan "Tahrif". Sebutan ini beliau berikan pada perubahan yang terjadi pada bentuk kata. Ini adalah pembagian yang baru.

    jika seorang perawi sering melakukan Tashhif (kesalahan), maka hai itu dapat mengurangi tingkat kekuatan hafalannya. Namun jika kadang-kadang saja ia melakukannya, maka mustahil orang selamat dari kesalahan.

    Beberapa buku tentang tashhif yang terkenal:

    1. "At Tashhif" karya Al-Hafidh Ali bin Umar Ad-Daruqutni.
    2. "Ishlah Khata' Al-Muhadditsin" karya Imam Ahli hadits Ahmad bin Muhammad Al-Khatthabi.
    3. "At-Tashhif wa At Tahrif wa Syarhu ma Yaqa'u fih" karya Imam Al Hasan bin Abdullah Abu Ahmad Al-Askari

    HADITS SYADZ DAN MAHFUZH[28]

    Definsi

    Kata "Syadz" secara bahasa adalah kata benda yang berbentuk isim Fa'il berasal yang berarti sesuatu yang menyendiri. Menurut mayoritas ulama, kata "syadz" bermakna: "yang menyendiri".

    Adapun secara istilah, menurut Ibnu Hajar hadits Syadz adalah: "Hadits yang diriwayatkan oleh perawi terpercaya yang bertentangan dengan perawi yang lebih terpercaya, bisa karena perawi yang lebih terpercaya tersebut lebih kuat hafalannya, lebih banyak jumlahnya atau karena sebab-sebab lain yang membuat riwayatnya lebih dimenangkan, seperti karena jumlah perawi dalam sanadnya lebih sedikit."

    Sedangkan kata "Mahfuzh" secara bahasa adalah kata benda yang berbentuk isim maf'ul dari kata "Al-Hifzh" yang bermakna kekuatan hafalan. Oleh sebab itu para ulama berkata: "Orang yang hafal adalah hujjah bagi orang yang tidak hafal."

    Menurut istilah, hadits Mahfuzh adalah: "hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang lebih kuat hafalannya, lebih banyak jumlahnya atau hal-hal lain yang membuat riwayatnya dimenangkan, dimana riwayat tersebut bertentangan dengan riwayat perawi yang kuat."

    Contoh-contoh (Syadz dapat terjadi dalam sanad dan matan)

    1. Contoh syadz yang terjadi dalam sanad:

    Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah dari jalur Ibnu 'Uyainah dari Amr bin Dinar dari Ausajah dari Ibnu Abbas, "Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang meninggal di masa Rasulullah dan ia tidak meninggalkan ahli waris kecuali bekas budaknya yang ia merdekakan. Maka Rasulullah memberikan semua harta warisannya kepada bekas budaknya."

    Imam At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah juga meriwayatkan hadits tersebut dengan sanad mereka dari jalur Ibnu Juraij dari Amr bin Dinar dari Auzsajah dari Ibnu Abbas: "Sesungguhnya seorang laki-laki meninggal...."

    Hammad bin Yazid menyelisihi Ibnu Uyainah, karena ia meriwayatkan hadits tersebut dari Amr bin Dinar dari Ausajah tanpa menyebutkan Ibnu Abbas.

    Masing-Masing dari Ibnu Uyainah, Ibnu Juraij dan Hammmad bin Yazid adalah para perawi yang terpercaya. Namun Hammad bin Yazid menyelisihi Ibnu Uyainah dan Ibnu Juraij, karena ia meriwayatkan hadits di atas secara mursal (tanpa menyebutkan sahabat: Ibnu Abbas). Sedangkan keduanya meriwayatkannya secara bersambung dengan menyebut perawi sahabat. Oleh karena keduanya lebih banyak jumlahnya, maka hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Juraij. dan Ibnu Uyainah dinamakan hadits mahfudz. Sedangkan hadits Hammad bin Yazid dinamakan Hadits syadz.

    2. Contoh syadz yang terjadi pada matan.

    Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari hadits Abdul Wahid bin Ziyad, dari Al-A'masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah secara marfu':

    "Jika salah seorang di antara kalian selesai shalat sunnah fajar, maka hendaklah ia berbaring di atas sebelah badannya yang kanan."

    Imam Al-Baihaqi berkata, "Abdul Wahid menyelisihi banyak perawi dalam hadits ini. Karena mereka meriwayatkan hadits tersebut dari perbuatan Rasulullah bukan dari sabda beliau. Berarti Abdul Wahid menyendiri dengan lafazh tersebut dari para perawi yang terpercaya dari teman-teman Al-A'masy. Maka hadits yang diriwayatkan dari jalur Abdul Wahid (ia adalah perawi yang terpercaya) adalah hadits syadz. Sedangkan yang diriwayatkan dari para perawi terpercaya yang lain dinamakan hadits mahfudz.

    Hukum IIadits Syadz dan Mahfudz

    Hadits syadz termasuk dari hadits-hadits yang tertolak. Sedangkan hadits mahfudz termasuk hadits-hadits yang diterima.

    KETIDAKTAHUAN AKAN KONDISI PERAWI (JAHALAH AR-RAWI)

    Definisi

    Kata "Al-Jahalah" secara bahasa adalah lawan dari mengetahui. Sedangkan lafazh "Al-Jahalatu bi Ar-Rawi" artinya: "ketidaktahuan akan perawi."

    Sebab-sebab Ketidaktahuan akan Kondisi Perawi

    1. Banyaknya sebutan untuk perawi. Mulai dari nama, kunyah, gelar, sifat, pekerjaan sampai nasabnya. Bisa jadi seorang perawi terkenal dengan salah satu dari yang disebutkan di atas, kemudian ia disebut dengan sebutannya yang tidak terkenal untuk suatu tujuan tertentu, sehingga ia dikira sebagai perawi lain. Misalnya seorang perawi yang bernama "Muhammad bin As-Sa'ib bin Bisyr Al-Kalbi". Sebagian ulama ahli hadits menghubungkan namanya dengan nama kakeknya, sebagian yang lain menamakannya dengan "Hammad bin As-Sa'ib", sedangkan sebagian yang lain lagi memberinya kunyah dengan Abu An-Nadhr, Abu Sa'id dan Abu Hisyam.
    2. Sedikitnya riwayat seorang perawi dan sedikit pula orang yang meriwayatkan hadits darinya. Seperti seorang perawi yang bernama Abu Al-Asyra' Ad-Darimi, ia salah satu dari ulama tabi'in. Tidak ada orang yang meriwayatkan hadits darinya kecuali Hammad bin Salamah.
    3. Ketidakjelasan penyebutan namanya. Seperti seorang perawi berkata, "Seseorang, Syekh atau sebutan yang lain telah mengabarkan kepadaku."

    Definisi "Al-Majhul

    Kata "Al-Majhul" artinya: "orang yang tidak diketahui jati dirinya atau sifat-sifatnya." Majhul mencakup dua hal:

    1. Majhul Al-Ain.

    Majhul Al-Ain artinya: "Seorang perawi yang disebut namanya dan tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali seorang perawi saja. Orang ini tidak diterima riwayatnya kecuali ada ulama yang mengatakan bahwa ia adalah perawi yang dapat dipercaya".

    2. Majhul Al-Hal.

    Majhul Al-Hal dinamakan juga Al-Mastur (yang tertutupi). Yang dimaksud dengan Majhul Al-Hal adalah: "Seorang perawi yang mana ada dua orang atau lebih meriwayatkan hadits darinya dan tidak ada ulama yang mengatakan bahwa ia adalah perawi yang dapat dipercaya." Riwayat orang seperti ini menurut pendapat yang paling benar adalah ditolak.

    3. Al-Mubham.

    Al-Mubham artinya: "Seorang perawi yang tidak disebut namanya dengan jelas dalam sanad". Maka riwayat orang seperti ini adalah ditolak sampai namanya dapat diketahui. Seandainya ketidakjelasan dalam menyebut namanya dengan menggunakan lafazh ta'dil (menyatakan ia adalah orang yang terpercaya) seperti perkataan: "Seorang yang tepercaya telah mengabarkan kepadaku)", maka menurut pendapat yang paling kuat, tetap saja riwayatnya tidak diterima.

    Buku-Buku yang Membahas Tentang Sebab-sebab yang Membuat Perawi Tidak Dikenal:

    1. "Muwadhdhih Awham Al-Jam' wa At-Tafriq" karya Al-Khatib Al-Baghdadi. Buku ini membahas tentang sebutan-sebutan para perawi hadits.
    2. "Al-Wihdan" karya Imam Muslim. Buku ini membahas tentang riwayat perawi yang jumlahnya sedikit.
    3. "Al-Asma’ Al-Mubham fi Al-Anba Al-Muhkam" karya Al-Khatib Al-Baghdadi. Buku ini membahas tentang nama-nama para perawi yang disebut dengan tidak jelas.

    BID'AH[29]

    Defenisi

    Secara bahasa, kata bid'ah berarti: "segala sesuatu yang diada-adakan tanpa ada contohnya di masa dahulu".

    Sedangkan secara istilah, bid'ah adalah: "Sesuatu dari urusan agama yang diada-adakan setelah wafatnya Rasulullah tanpa ada dasarnya".

    Jenis-jenisnya

    Bid'ah dibagi menjadi dua: bid'ah mukaffirah dan bid'ah mufassiqah.

    1. Bid'ah mukaffirah.

    Bid'ah mukaffirah adalah bid'ah yang dapat menjadikan pelakunya menjadi kafir. Kaidah bagi pelaku bid'ah mukaffirah ini adalah: "setiap orang yang mengingkari suatu urusan yang mutawatir dan wajib diketahui dari urusan-urusan agama atau orang yang meyakini kebalikannya." Orang seperti ini tidak diterima riwayatnya.

    2. Bid'ah mufassiqah:

    Bid'ah mufassiqah adalah bid'ah yang hanya menjadikan pelaku sebagai orang yang fasik. Bid'ah ini jika dilakukan tidak menyebabkan pelakunya menjadi kafir. Orang seperti ini riwayatnya tetap diterima dengan dua syarat:

    1. Dia tidak mengajak orang untuk melakukan bid'ahnya.
    2. Dia tidak meriwayatkan sesuatu yang dapat ia gunakan untuk melariskan bid'ahnya.

    SU'UL HIFZH (HAFALAN YANG BURUK)

    Pengertiannya

    Sayyi'ul hifzh (orang yang memiliki sifat su’ul hifzh) yaitu "perawi yang tidak dapat dikuatkan sisi kebenaran hafalannya atas keburukan hafalannya".

    Dan Su'ul hifhz ada dua macam:

    1. Su'ul hifzh yang muncul sejak lahir dan masih tetap padanya, dan menjadikan riwayatnya ditolak. Menurut pendapat sebagian ahli hadits, khabar yang dibawanya dinamakan "syadz".
    2. Sesuatu yang menimpa perawi seiring perjalanan waktu, baik karena lanjut usianya, atau karena hilang penglihatannya (buta), atau karena kitab-kitabnya terbakar. Yang demikian ini dinamakan "Al-Mukhtalith" (yang rusak akalnya, fikirannya atau hafalannya). Hukum periwayatannya adalah:
      1. Jika terjadi sebelum rusak hafalannya dan masih dapat dibedakan, maka diterima riwayatnya.
      2. Jika terjadi setelah rusak hafalannya, maka ditolak riwayatnya.
      3. Adapun jika tidak bisa ditentukan apakah terjadi sebelum rusak atau sesudahnya, maka hukum riwayat seperti ini adalah tawaqquf, yakni tidak diterima dan tidak pula ditolak sampai ada ketentuan yang bisa membedakan.

    PEMBAGIAN HADITS MENURUT SANDARANNYA

    Hadits menurut sandarannya terbagi menjadi dua: maqbul (diterima) dan mardud (ditolak). Dan berdasarkan pembagian ini terbagi lagi menjadi empat macam, yaitu;

    1. Hadits Qudsi (sudah dijelaskan pada pembahasan yang lalu)
    2. Marfu'
    3. Mauquf
    4. Maqthu'

    Berikut ini penjelasan tiga macam hadits terakhir yang disebutkan di atas:

    MARFU'

    Definisi

    Al-Marfu’ menurut bahasa: isim maf'ul dari kata rafa'a (mengangkat), dan ia sendiri berarti "yang diangkat". Dinamakan demikian karena disandarkannya ia kepada yang memiliki kedudukan tinggi, yaitu Rasulullah .

    Hadits marfu' menurut istilah adalah "sabda, atau perbuatan, atau taqrir (penetapan), atau sifat yang disandarkan kepada Nabi , baik yang bersifat jelas ataupun secara hukum, baik yang menyadarkan itu sahabat atau bukan, baik sanadnya muttashil (bersambung) atau munqathi’ (terputus).

    Macam-macamnya

    Dari definisi di atas, jelaslah bahwa hadits marfu’ ada 8 macam, yaitu; berupa perkataan, perbuatan, taqrir, dan sifat. Masing-masing dari empat macam ini mempunyai bagian lagi, yaitu; marfu' secara tashrih (tegas dan jelas), dan marfu' secara hukum.

    Contohnya:

    1. Marfu’ secara tashrih: perkataan seorang sahabat, "Aku telah mendengar Rasulullah bersabda begini", atau "Rasulullah telah menceritakan kepadaku begini" , "Rasulullah bersabda begini", atau "dari Rasulullah bahwasanya bersabda begini", atau yang semisal dengan itu.
    2. Marfu’ dari sabda secara hukum[30]: perkataan dari sahabat yang tidak mengambil dari cerita Isra'iliyat berkaitan dengan perkara yang terjadi di masa lampau seperti: awal penciptaan makhluk, berita tentang para nabi, atau berkaitan dengan masalah yang akan datang, seperti: tanda-tanda hari kiamat, dan keadaan di akhirat. Di antaranya perkataan sahabat: "kami diperintah seperti ini", atau "kami dilarang untuk begini", atau "termasuk sunnah melakukan yang begini".
    3. Perbuatan yang marfu’ secara tashrih: seperti perkataan seorang sahabat "Aku telah melihat Rasulullah melakukan begini".
    4. Perbuatan yang marfu' secara hukum: seperti perbuatan sahabat yang tidak ada celah untuk berijtihad di dalamnya, menunjukkan bahwa hal itu bukan dari sahabat, melainkan dari dari Nabi , sebagaimana disebutkan dalam riwayat Bukhari: "Adalah Ibnu Umar dan Ibnu Abbas berbuka puasa dan mengqashar shalat pada perjalan empat burd[31]"
    5. Penetapan (taqrir) yang dimarfu'kan secara tashrih: seperti perkataan sahabat, "Aku telah melakukan perbuatan demikian di hadapan Rasulullah", atau "Si Fulan telah melakukan perbuatan demikian di hadapan Rasulullah ", dan dia tidak menyebutkan adanya pengingkaran Rasulullah terhadap perbuatan itu.
    6. Penetapan yang dimarfu'kan secara hukum: seperti perkataan sahabat, "Adalah para sahabat melakukan begini pada zaman Nabi ”.
    7. Sifat yang dimarfu’kan secara tashrih: seperti seorang sahabat menyebutkan sifat Rasulullah seperti dalam hadits Ali , "Nabi itu tidak tinggi dan tidak pula pendek." "Adalah Nabi berkulit cerah, peramah dan lemah lembut."
    8. Sifat yang dimarfu'kan secara hukum: seperti perkataan sahabat: "Dihalalkan untuk kami begini", atau "telah diharamkan atas kami demikian". Ungkapan seperti secara zhahir menunjukkan bahwa Nabi yang menghalalkan dan mengharamkan. Ini dikarenakan sifat yang secara hukum menunjukkan bahwa perbuatan adalah sifat dari pelakunya, dan Rasulullah adalah yang menghalalkan dan mengharamkan, maka penghalalan dan pengharaman itu sifat baginya. Poin ini sebenarnya banyak mengandung unsur tolerir yang tinggi, meskipun bentuk seperti ini dihukumi sebagai sesuatu yang marfu'.

    MAUQUF

    Pengertian

    Al-Mauquf berasal dari waqf yang berarti berhenti. Seakan-akan perawi menghentikan sebuah hadits pada sahabat.

    Hadits Mauquf menurut istilah adalah: perkataan, atau perbuatan, atau taqrir yang disandarkan kepada seorang sahabat Nabi , baik bersambung sanadnya kepada Nabi maupun tidak bersambung.

    Contohnya:

      Mauquf Qauli (perkataan): seperti perkataan seorang perawi,, "Telah berkata Ali bin Abi Thalib , "Berbicaralah kepada manusia deriganapa yang mereka ketahui, apakah kalian ingin mereka mendustakan Allah dan RasulNya?"
    1. Mauquf Fi'li (perbuatan): seperti perkataan Imam Bukhari, "Ibnu Abbas menjadi imam sedangkan dia (hanya) bertayammum."
    2. Mauquf Taqriri: seperti perkataan seorang tabi'in, "Aku telah melakukan begini di depan seorang sahabat dan dia tidak mengingkari atasku."

    Riwayat Mauquf sanadnya ada yang shahih, atau hasan, atau dhaif. Hukum asal pada hadits mauquf adalah tidak boleh dipakai berhujjah dalam agama, karena perkataan dan perbuatan sahabat, tetapi jika dia kuat maka dapat menguatkan sebagian hadits-hadits dhaif.

    MAQTHU’

    Pengertian

    Al-Maqthu' artinya yang diputuskan atau yang terputus. Hadits Maqthu' menurut istilah yaitu perkataan dan perbuatan yang disandarkan kepada tabi'in atau orang yang di bawahnya, baik bersambung sanadnya atau tidak bersambung

    Dan perbedaan antara Al-Maqthu dan Al-Munqathi', bahwasanya Al-Maqthu' adalah bagian dari sifat matan, sedang Al-Munqathi' bagian dari sifat sanad. Hadits yang maqthu' itu dari perkataan tabi'i dan orang yang dibawahnya, dan bisa jadi sanadnya bersambung sampai kepadanya, sedang yang munqathi' sanadnya tidak bersambung dan tidak kaitannya dengan matan.

    Sebagian ulama hadits -seperti Imam As-Syafi’i dan At-Thabarani-menamakan Al Maqthu’ dengan Al-Munqathi‘ yang tidak bersambung sanadnya, ini adalah istilah yang tidak populer, hal itu terjadi sebelum adanya penetapan istilah-istilah dalam ilmu hadits, kemudian menjadi istilah Al-Maqthu' sebagai pembeda untuk istilah Al Munqathi'.

    Contohnya:

    1. Al-Maqthu Al-Qauli (yang berupa perkataan): seperti perkataan Hasan Al-Basri tentang shalat di belakang ahli bid’ah, 'Shalatlah dan dialah yang menganggung bid'ahnya"
    2. Al-Maqthu' Al-Fi'li (yang berupa perbuatan) seperti perkataan Ibrahim bin Muhammad Al-Muntasyir, "Adalah Masruq membentangkan pembatas antara dia dan keluarganya, dan menghadapi shalatnya, dan membiarkan mereka dengan dunia mereka."

    Tempat yang diduga Terdapatnya Hadits Mauquf dan Maqthu'

    Kebanyakan ditemukan hadits mauquf dan maqthu' dalam :

    1. Mushannaf Ibnu Abi Syaibah
    2. Mushannaf Abdurrazaq
    3. Kitab-kitab Tafsir: Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Al-Mundzir

    ZIYADAH ATS-TSIQAH

    Yang dimaksud dengan "ziyadah ats-tsiqah" adalah hadits yang terdapat padanya tambahan perkataan dari sebagian perawi yang tsiqah sedang hadits itu diriwayatkan juga oleh perawi lain (tetapi tidak memakai tambahan itu)

    Para ulama hadits telah memperhatikan hal ini, di antara mereka yang terkenal

    1. Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ziyad An-Naisbury
    2. Abu Nu'aim Al-Jurjani
    3. Abu Al-Walid Hasan bin Muhammad Al-Qurasyi

    Tempat Terdapatnya Ziyadah Ats-Tsiqah dan Kondisi-Kondisinya

    Ziyadah Ats-Tsiqah terdapat pada matan dengan tambahan satu kata atau kalimat. Atau terdapat pada sanad dengan mengangkat hadits mauquf atau menyambung hadits mursal.

    Dan tambahan itu

    1. Kadang terjadi dari satu orang, yang meriwayatkan hadits dalam keadaan kurang dalam satu riwayat, sedangkan dalam riwayat lain terdapat penambahan
    2. Dan kadang terjadi tambahan dari orang lain selain yang meriwayatkannya dalam keadaan kurang.

    Hukumnya

    Ibnu Ash-Shalah telah membagi -dan diikuti oleh Imam An-Nawawi- Ziyadah Ats-Tsiqah bila ditinjau dari sudut sah dan tidaknya, dibagi kepada tiga bagian:

    1. Tambahan yang tidak bertentangan dengan riwayat para perawi yang tsiqah. Bagian ini hukumnya sah atau maqbul.
    2. Tambahan yang bertentangan dengan riwayat para perawi yang tsiqah dan tidak mungkin untuk dikumpulkan antara keduanya, dimana jika diterima salah satunya maka ada yang tertolak pada riwayat lain, maka bagian ini harus ditarjih antara riwayat tambahan dan riwayat yang menentangnya. Yang kuat atau rajih diterima, sedang yang marjuh atau yang lemah ditolak.
    3. Tambahan yang didalamnya terdapat semacam pertentangan dari riwayat para perawi yang tsiqah, seperti mengikat yang mutlak, atau mengkhususkan yang umum, maka pada bagian ini hukumnya sah dan diterima.

    Contoh Tambahan Lafazh Pada Matan:

    1. Contoh tambahan yang tidak terdapat pertentangan: Diriwayatkan Muslim dari jalan Ali bin Mushar, dari Al-A'masy, dari Abi Razin dan Abi Shalih dari Abu Hurairah , dari tambahan lafadz: "falyuriqhu" artinya: "maka hendaklah ia buang isinya", dalam hadits jilatan anjing. Semua ahli hadits dari para murid Al-A'masy tidak ada yang menyebut lafadz tersebut, yang mereka riwayatkan adalah begini: "Apabila anjing menjilat di bejana salah seorang dari kamu, maka hendaklah ia cuci bejana itu tujuh kali". Maka tambahan kalimat: "hendaklah ia buang isinya" adalah riwayat dari Ali bin Mushar sendirian, sedang dia seorang yang tsiqah, maka diterima haditsnya.
    2. Contoh tambahan yang terdapat perselisihan: seperti tambahan "Hari Arafah" yan ada pada hadits yang berbunyi: "Hari Arafah, hari berkorban dan hari tasyriq, hari raya kita orang Islam, hari raya kita umat islam, adalah hari-hari makan dan minum.". Hadits ini dilihat dari semua jalannya adalah tanpa kalimat 'Hari Arafah" hanya terdapat pada riwayat Musa bin Ali bin Rabah, dari Bapaknya, dari 'Uqbah bin 'Amir, dan tambahan ini sudah ditarjih.
    3. Contoh tambahan lafazh yang terjadi semacam pertentangan: diriwayatkan oleh Muslim, dari jalan Abu Malik Al-Asyja'i, dari Rib'i, dari Hudzaifah berkata: Rasulullah bersabda, "Telah dijadikan semua bumi untuk kami sebagai masjid dan dijadikan debunya untuk kami sebagai alat bersuci". Di sini terdapat Abu Malik Sa'ad bin Thariq Al-Asyja'i dengan tambahan lafadz: "debunya", sedangkan para perawi yang lain tidak menyebutkannya. Hadits yang mereka riwayatkan adalah: "Telah dijadikan untuk kami bumi sebagai masjid dan tempat yang suci."

    Madzhab As-Syafi'i dan Malik menerima tambahan lafadz seperti ini, dan ini pendapat yang benar. Sedangkan pengikut madzhab Hanafi mereka menjadikan tambahan ini sebagai tambahan yang bertentangan, dan menerapkan aturan tarjih antara lafadz tambahan dan hadits asli. Oleh karena itu, mereka tidak mengamalkan tambahan seperti ini.

    Hukum Tambahan dalam Sanad

    Yang dimaksud tambahan dalam sanad di sini adalah menjadikan hadits mauquf menjadi marfu', atau menyambung sanad yang mursal, ada dengan kata lain terjadinya pertentangan antara memarfu’kan dengan memauqufkan, dan memaushulkan dengan memursalkan.

    Para ulama berbeda pendapat dalam menghukumi tambahan seperti ini:

    1. Jumhur fuqaha dan ahli ushul fikih menerima tambahan ini
    2. Kebanyakan ahli hadits menolak adanya tambahan.
    3. Sebagian ahli hadits berpendapat agar dilakukan tarjih, yang terbanyak flfitulah yang diterima.

    Contohnya:

    Hadits "Tidak sah nikah seseorang kecuali dengan adanya wali." Hadits ini diriwayatkan oleh Yunus bin Abi Ishak As-Sabi'i dan anaknya Isra'il, dan Qais bin Ar-Rabi', dari Abi Ishak dengan sanad bersambung. Dan diriwayatkan oleh Sufyan Ats-Tsauri dan Syu'bah bin Al-Hajjaj, dari Abi Ishak dengan sanad mursal.

    AL-MUTABI’ DAN AS-SYAHID, SERTA JALAN MENCAPAI KEDUANYA (AL-I’TIBAR)

    Contoh:

    Rasulullah bersabda,

    الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ فَلَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ الْهِلَالِ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوالَهُ

    "Bulan itu bilangannya 29 hari, jangan berpuasa sebelum kamu melihat hilal, dan jangan kamu berbuka sebelum melihat dia, maka jika tertutup awan atas kamu, perkirakanlah baginya."

    Hadits ini diriwayatkan oleh Malik, Bukhari, Muslim, An-Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah.

    Diriwayatkan oleh sahabat Malik dari Malik, dari Abdullah bin Dinar, dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah bersabda,

    "... maka jika tertutup awan atas kamu, maka perkirakanlah baginya."

    Diriwayatkan oleh As-Syafi'i, dari Malik, dari Abdullah bin Dinar, dari Abdullah bin Umar dengan lafazh yang sama bahwa Rasulullah bersabda,

    "... maka jika tertutup awan atas kamu, sempurnakanlah bilangannya 30 hari."

    Diriwayatkan oleh Abdullah bin Salamah Al-Qa'nabi, dari Malik, dari Abdullah bin Dinar bin Abdullah bin Umar dengan lafazh yang sama bahwasanya Rasulullah bersabda,

    "... maka jika tertutup awan atas kamu, sempurnakanlah bilangannya 30 hari."

    Dan diriwayatkan oleh Ashim bin Muhammad, dari bapaknya Muhammad bin Zaid, dari kakeknya Abdullah bin Umar dengan lafazh yang sama bahwasanya Rasulullah bersabda,

    "... maka jika tertutup awan atas kamu, maka sempurnakanlah bilangannya 30 hari."

    Dan diriwayatkan oleh Muhammad bin Hunain, dari Ibnu Abbas dengan lafazh bahwasanya Rasulullah bersabda,

    "... maka jika tertutup awan atas kamu, maka sempurnakanlah bilangannya 30 hari."

    Dan diriwayatkan Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah dengan lafazh yang sama bahwasanya Rasulullah bersabda,

    "...maka jika terhalangaiuan atas kamu, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya'ban 30 hari."

    Di sini ada beberapa permasalahan;

    1. Sebagian kaum mengira bahwa Imam Asy-Syafi'i hanya sendiri dalam meriwayatkan hadits Ibnu Umar dengan lafazh: "maka sempurnakanlah bilangan 30 hari."
    2. Para ulama telah membahas dan meneliti matan dan sanad-sanad, dan mereka mendapatkan:
      1. Bahwasanya Al-Qa'nabi telah menyertai Imam Asy-Syafi'i mulai dari awal sanad sampai ke Ibnu Umar dengan lafazh: "...maka sempurnakanlah bilangan 30 Hari."
      2. Bahwasanya Muhammad bin Zaid telah menyertai Imam Asy-Syafi'i dalam meriwayatkan hadits Ibnu Umar dengan lafazh: "...maka sempurnakanlah bilangan tiga puluh."
    3. Dan para ulama telah membahas dan menguji matan dan sanad-sanad, dan mereka mendapatkan:
      1. Bahwasanya Muhammad bin Hunain telah menyertai guru dari guru Imam Asy-Syafi'i, akan tetapi hanya sampai pada Ibnu Abbas dengan lafazh: "....maka sempurnakanlah bilangan 30 hari."
      2. Bahwasanya Muhammad bin Ziyad telah menyertai guru dari guru Imam Asy-Syafi'i, namun hanya sampai kepada Abu Hurairah dengan lafazh: "... Maka jika tertutup awan atas kamu, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya'ban 30 hari."

    Dengan demikian menjadi jelas bahwa apa yang diriwayatkan Imam Asy-Syafi'i bukanlah gharib karena terdapat persamaan dan penyertaan dalam lafazh atau makna dari riwayat Ibnu Umar itu sendiri atau dari sababat yang lain.

    Maka riwayat yang menyertai hadits, baik dalam hal Lafazh ataupun makna, dan sahabat yang meriwayatlcannya adalah satu, maka riwayat itu dinamakan mutabi'

    Sedangkan hadits yang menyertai hadits, baik lafazh ataupun maknanya, dan sahabat yang meriwayatkannya berbeda maka dinamakan syahid.

    Dan kesamaan sahabat dalam periwayatan hadits, menurut Imam Asy-Syafi'i:

    1. Jika terjadi pada awal sanad maka dinamakan mutaba'ah yang sempurna.
    2. Jika tidak dimulai pada awal sanad maka dinamakan mutaba'ah yang kurang sempurna.

    Atas dasar ini, maka:

    Al-Mutabi', disebut juga At-Tabi menurut bahasa adalah isim fa'il dari taba’a yang artinya yang mengiringi atau yang mencocoki. Sedangkan menurut istilah adalah satu hadits yang sanadnya menguatkan sanad lain dari hadits itu juga, dan sahabat yang meriwayatkan adalah satu.

    Asy-Syahid, menurut bahasa isim fa'il yang artinya adalah yang menyaksikan, sedangkan menurut istilah adalah satu hadits yang matan sama dengan hadits lain dan biasanya sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut berlainan.

    Al-Mutabaah, menurut bahasa adalah pengiringan. Sedangkan menurut istilah adalah penyertaan seorang perawi kepada perawi yang lain dalam periwayatan hadits. Dan Al-Mutaba ah ada 2 macam .

    1. Mutaba'ah tammah (yang sempurna): apabila seorang perawi menyertai mulai dari awal sanad.
    2. Mutaba'ah qashirah (yang kurang sempurna); apabila seorang perawi menyertai di tengah sanad.

    Al-I'tibar, menurut bahasa yaitu memperhatikan perkara-perkara tertentu untuk mengetahui jenis lain yang ada didalamnya- Sedangkan menurut istilah adalah penelitian jalan-jalan hadits yang diriwayatkan oleh satu orang perawi untuk mengetahui apakah ada orang lain dalam meriwayatkan hadits itu atau tidak, yakni kondisi menuju kepada mutabi' dan syahid.



    [1] Al-Maidah: 12

    [2] HR Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ali, Zubair, dan Anas dan lainnya.

    [3] Nuzhat An-Nazhar Syarh Nukhbatul Fikr, Ibnu Hajar Al-Asqaiani hal. 24, Tafsir Musthalah Hadits, Dr. Muhammad Ath-Thahhan hal. 19. Tadrib Ar-Rawi hal 533.

    [4] HR. Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi

    [5] HR. Bukhari dan Muslim

    [6] HR. Bukhari dan Muslim

    [7] Dishahihkan oleh Al-Hakim

    [8] HR Al-Hakim dan Ibnu Hibban

    [9] Diriwayatkan At-Tirmidzi: Hasan. Lihat Nuzhatun Nazhar hal. 26, dan Tadrib Ar-Rawi hal 533.

    [10] Bukhari dan Muslim (dengan sanad-sanad yang tidak sama: penj.)

    [11] Bukhari dan Muslim

    [12] Bukhari dan Muslim.

    [13] Nuzhatu An-Nazhar hal 28, Taysir Musthalah Al-Hadits hal 28.

    [14] Sistematika musnad adalah penyusunan hadits yang dikelompokkan berdasarkan perawinya -dalam hal ini yang biasanya dipakai adalah berdasarkan sahabat-sahabat Nabi- jadi, semua hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah -misalnya- dikumpulkan menjadi satu bab, dan seterusnya.

    [15] HR Muslim

    [16] HR. Abu Dawud

    [17] HR Muslim

    [18] HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi

    [19] Tadrib As-Rawi hal 106

    [20] Nuzhat An-Nazhar hal. 35 dan seterusnya, dan Taysir Musthalah Al-Hadits hal. 67 dan seterusnya

    [21] Baqiyyah bin Al-Walid dikenal sebagai salah satu perawi yang banyak melakukan tadlis (Edt)

    [22] Tadrib Ar-Rawi hal. 178, Al-Ba'its AI-Hatsits hal 78, Taisir Mushthalah Al-Hadits hal 89

    [23] Nuzhah An-Nazhar hal 47, Taisir Mustahalah AI-Hadits hai.107, Ulumul Hadits hal.91, Al-Bai'ts Al- Hatsits hal.78, Tadrib Ar-Rawi hal 191

    [24] Taisir Mushthalah Al-Hadits, hal .110, Nuzhah An-Nazhar hai.48, Al-Bai'ts Al-Hadits hal. 176, Tadrib Ar-Rawi hal.392

    [25] HR. Muslim dan at-Tirmidzi, keduanya dengan tambahan dan membuang "Abu Idris"

    [26] Nuzhah An-Nazhar hal.48, Taisir Mushthalah Ai-Hadits hal 112 Tadrib Ar-Rawi 169, Ulumul Hadits haL 83, Al-Ba'its Al-Hatsits hal .72

    [27] Ulumul Hadits hal. 252. Al-Ba'its Al-Hatsits hal.170, Tadrib Ar-Rawi hal.384, Nuzhah An-Nazhar hal 49, Taisir Mushthalah AI-Hadits hal. 114

    [28] Ulumul Hadits, hal.68-72, Al-Ba’its Al-Hatsits hal .56, Tadrib Ar-Rawi hal.533, Nuzhah An-Nazhar hal.55, Taisir Mushthalah AI-Hadits hal. 117

    [29] Nuzhah Att-Nazhar hal. 53, Ulumul Hadits hal 103, Al-Ba'its AI-Hatsits hal. 100, Tadrib At-Rawi hal-216, Taisir Musthalah Al-Hadits hal, 123

    [30] Secara hukum, maksudnya bahwa isinya tidak terang dan tegas menunjukkan marfu' tetapi dihukumkan marfu ' karena bersandar kepada beberapa indikasi, (penj.)

    [31] Burud jamak dari bard, salah satu satuan jarak yang digunakan di zaman itu, sekitar 80 km (Edt)

    Waktu Shalat
    UPDATE TERBARU
    Donasi & Infaq - Shadaqah

    a.n. MULYATI
    No. Rek : [147] 8010104978

    a.n. IRWAN SUPRIATNA
    No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

    Your Donation Give us Support
    Comment
    • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
    • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya