Kitab Referensi

Kitab : Mabahits fi Ulumil Hadits - Syaikh Manna' al-Qatthan

ILMU MUKHTALAF DAN MUSYKIL HADITS

Yaitu ilmu yang menggabungkan dan memadukan antara hadits- hadits yang zhahimya bertentangan. Atau ilmu yang menerangkan ta'wil hadits yang musykil meskipun tidak bertentangan dengan hadits lain.

Oleh sebagian ulama dinamakan dengan "mukhtalaf al-hadits" atau "musykil al-hadits", atau semisal dengan itu. Ilmu ini tidak akan muncul kecuali dari dari orang yang menguasai hadits dan fikih.

Munculnya Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits

Ilmu ini muncul dan dibutuhkan pada saat lahirnya kelompok-kelompok aliran, dan menjamurnya golongan dan madzhab. Setiap orang menguatkan pendapat kelompoknya, dan berupaya menghancurkan pendapat dan kelompok orang lain. Sebagian di antara mereka seperti, Mu'tazilah, Murji'ah, Qadariyah, Rafidhah, dan Khawarij, mengobarkan isu dan keraguan terhadap sebagian hadits-hadits Nabi yang secara zhahimya bertentangan atau berlawanan dengan madzhab mereka. Maka para ahli hadits melakukan upaya dengan membantah semua keraguan mereka dengan menggabungkan dan mengumpulkan nash-nash tersebut.

Ibnu Qutaibah berkata, "Engkau telah memberitahukan kepadaku dari apa yang engkau ketahui tentang cacian dan hinaan ahli kalam terhadap ahli hadits, serta tuduhan terhadap mereka sebagai penyebar kebohongan dan riwayat bertentangan, yang mengakibatkan terjadinya perselisihan, munculnya banyak, aliran dan madzhab, terputusnya silaturrahim, kaum muslimin saling bermusuhan dan saling mengkafirkan sebagian terhadap yang lain, dan setiap madzhab bergantung pada hadits tertentu.

Misalnya, kaum Khawarij berargumen dengan riwayat-riwayat seperti

لا تزال طائفة من أمتى ظاهرين على الحق لا يضرهم خلاف من خالفهم

"Segolongan dari umatku akan selalu dalam kebenaran, meskipun orang lain memperselisihkan tidak akan mempengaruhinya",

من قتل دون ماله فهو شهيد

"Siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid".

Sementara kelompok yang tidak menyempal berhujjah dengan hadits-hadits seperti:

عليكم بالجماعة فإن يد الله عزَّ وجَلَّ عليها

"Kalian harus berjamaah karena tangan Allah bersama jamaah",

مَن فارق الجماعة قيد شبر فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه

"Barangsiapa yang memisahkan dari jamaah sejengkal pan. moka dia telah melepaskan Islam dari pundaknya ”,

كن عبد الله المقتول ولا تكن عبد الله القاتل

jadilah hamba Allah yang terbunuh dan jangan menjadi hamba-Nya yang membunuh".

اسمعوا وأطيعوا وإن تأمر عليكم عبد حبشى مجدع الأطراف

"Dengar dan taatilah (Umara), sekalipun budak Habasyi yang juling matanya"

Pengikut Murji'ah berargumen dengan hadits yang mereka riwayatkan

من قال لا إله إلا الله فهو فى الجنة ، قيل : وإن زنى وإن سرق ، قال : وإن زنى وإن سرق

"Barangsiapa yang berkata la ilaha illa Allah maka akan masuk surga. Ada yang bertanya 'Walaupun doa berana dam mencuri? " Dia berkata; 'Benar, walaupun dia berzina dan mencuri tetap masuk surga. '"

Sementara lawan Murji'ah berdalih dengan riwayat mereka:

لا يزنى الزانى حين يزنى وهو مؤمن ، ولا يسرق السارق حين يسرق وهر مؤمن

"Tidaklah dianggap berzina ketika searang melakukan zina sedang ia beriman, dan tidaklah dianggap pencuri ketda semang mencuri sedang ia masih beriman"

لم يؤمن من لا يأمن جاره بوائقه

"Tidak beriman orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya"

Pengikut Qadariyah bcrhujah dengan hadits yang mereka riwayatkan;

كل مولود يولد على الفطرة ، حتى يكون أبواه يهودانه أو ينصرانه

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi atau Nasrani"

Dan bahwa Allah berfirman –dalam hadits Qudsi

خلقت عبادى حنفاء ، فاجتالتهم الشياطين عن دينهم

"Aku ciptakan hambaKu dalam keadaan lurus. syetanlah yang menyesatkan mereka dari agamanya."

Pengikut Jabariyyah juga berhujjah dengan riwayat mereka:

اعملوا فكل ميسر لما خلق له

Beramallah karena tiap-tiap orang dimudahkan kepada apa yang sudah ditakdirkan baginya"

Para pengikut Rafidhah mengkafirkan para sahabat Rasulullah

ليردن على الحوض أقوام، ثم ليختلجن دونى، فأقول : أى ربى .. أسحابى أسحابى، فيقول : إنك لا تدرى ما أحدثوا بعدك ...

"Maka pasti akan ada kaumku yang menghapirikiu di telaga, lalu mereka dijauhkan dariku, maka aku berkata "Wahai Tuhanku... sahabatku, sahabatku, maka dikatakan padaku "Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu"

dan melebihkan Ali di atas yang lain. Mereka meriwayatkan sebuah hadits untuk menguatkan hujjah mereka:

أنت منى بمنزلة هارون من موسى غير أنه لا نبى بعدى .... اللهم ناد من والاه ، وعاد من عاداه

"Keberadaan kamu (Ali) dengan aku seperti Harun dengan Musa, walaupun sudah tidak ada nabi setelahku...,Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya, dan musuhilah orang yang memusuhinya."

Sedangkan kelompok yang tidak sepaham dengan Rafidhah, justru melebihkan dan mengutamakan Abu Bakar dan Umar dari pada yang lain. Riwayat yang dijadikan sebagai dalil mereka:

اقتدوا باللذين من بعدى ، أبى بكر وعمر

"Teladanilah dua orang sesudahku, yaitu Abu Bakar dan Umar",

يأبى الله ورسرله والمسلمون إلا أبا بكر

"Allah dan Rasul-Nya dan kaum muslimin tidak menyukai kecuali kepada Abu Bakar"."

Kemudian Ibnn Qutaibah menyebutkan ucapan orang Mu'tazilah seperti An-Nazhzham, Abu Al-Hudzail Al-'Alaf, dan yang lainnya.[1]

Buku-buku yang Terkenal dalam Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits:

  1. Kitab "Iklitilaf Al-Hadits" karya Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i (wafat 204 H). Buku ini paling dahulu sampai kepada kita di antara karya dalam ilmu ini. Telah dicetak dalam bentuk catatan pinggir pada jilid kelima dari kitab Al-Umm.
  2. Kitab "Ta’wil Mukhtalaf Al-Hadits" karya Imam Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Ad-Dainuri (wafat 276 H). Kitab ini disusun sebagai bantahan terhadap para musuh hadits yang menuduh bahwa ahli hadits membawa berita-berita yang bertentangan dan ikut meriwayatkan hadits-hadits bermasalah. Maka dikumpulkannya akhbar yang dituduhkan bertentangan tersebut, lalu dibantahnya.
  3. Kitab "Musykil Al-Atsar" karya Imam Al-Muhaddits Al-Faqih Abu Ja'far Ahmad bin Muhammad Ath-Thahawi (wafat 321 H). Kitab ini dicetak di India.
  4. Kitab "Musykil Al-Hadits wa Bayanuhu" karya Abu Bakar Muhammad bin Al-Hasan bin Faurak Al-Anshari Al-Ashbahani (wafat 406 H). Kitab ini juga dicetak di India.[2]

Contoh dari Ilmu Ini, dari Kitab Ta’wil Mukhtalaf Al Hadits Karya Ibnu Qutaibah:

1. Mereka berkata: Dua hadits yang bertentangan. Mereka berkata: Kalian meriwayatkan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda, "Jangan melebihkan aku atas Yunus bin Matta dan jangan mengutamakan di antara para nabi." Lalu ada riwayat lain mengatakan bahwa beliau bersabda, "Aku adalah tuan anak Adam namun tidak merasa bangga, dan Aku orang pertama darinya yang memberi syafaat pada saat bumi terbelah nanti, namun aku tidak bangga." Mereka berkata: hadits ini terdapat perbedaan dan pertentangan.

Abu Muhamad (Ibnu Qutaibah) berkata: dan kami berkata: Bahwa di sini tidak terdapat perbedaan dan pertentangan. Maksudnya bahwa beliau sebagai tuan anak Adam pada Hari Kiamat, karena sebagai pemberi syafaat dan sebagai saksi pada hari tersebut.

Sedangkan maksud perkataan Nabi: "Jangan melebihkan diriku atas Yunus" adalah cara untuk merendahkan hati. Seperti halnya pernyataan Abu Bakar sewaktu dinobatkan menjadi khalifah setelah Nabi , "Kalian telah mengangkatku, dan bukanlah diriku orang yang paling baik di antara kalian". Dan khusus Nabi Yunus karena dia yang paling rendah dibandingkan para Nabi yang lain, seperti: Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa. Maksud dari sabda beliau itu adalah: Jika aku tidak ingin dilebihkan dari Yunus, apalagi para Nabi yang lain di atasnya? Padahal Allah telah berfirman, "Maka bersabarlah kamu (hai Muhamad) terhadap ketetapan tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam perut ikan ketika ia berdo'a sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)."[3] Maksudnya bahwa Yunus tidak memiliki kesabaran seperti sabarnya para Nabi yang lain. Dalam ayat ini tidak menunjukkan bahwa Rasulullah lebih baik darinya, karena Allah mengatakan kepada beliau: jangan seperti dia. Sedang perkataan Nabi: "jangan memuliakan aku atau melebihkan aku", merupakan cara beliau untuk bertawadhu' dan merendahkan hati. Boleh jadi maksudnya: jangan melebihkan aku dalam masalah amal, karena bisa jadi dia lebih banyak amalnya daripada aku, juga dalam ujian dan cobaan, karena dia lebih banyak ujiannya daripada aku. Bukanlah Allah memberikan karunia dan keutamaan kepada Nabi Muhammad pada hari kiamat atas semua Nabi dan Rasul karena atas dasar amal beliau, akan tetapi karena karunia dan kemurahan Allah pada beliau Allah melebihkannya sebagai utusan-Nya dengan membawa ajaran yang lurus kepada umatnya sehingga menjadi umat yang paling baik atas karunia Allah.[4]

2. Mereka berkata: Hukum wasiat bertentangan dengan Al-Qur'an. Dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda,

"Tidak ada wasiat untuk ahli waris." Allah berfirman,

"Diwajibkan atas kamu apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda- tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf"[5] Kedua orangtua adalah termasuk ahli waris yang tidak dapat dihalangi oleh siapa pun untuk mendapatkan warisan. Riwayat ini jelas bertentangan dengan Al- Qur'an.

Abu Muhammad berkata: "Dan kami menjawab, bahwa ayat tersebut mansukh dengan ayat waris yang memberikan hak waris kepada kedua orangtua sehingga tidak berhak mendapatkan wasiat. Karena Allah telah menentukan kadar yang harus diterima oleh keduanya. Allah berfirman,

"Hukum-hukum tersebut itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rastil-Nya niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang benar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuanNya niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan"[6]. Allah menjanjikan pahala besar bagi orang yang taat pada ketentuan warisan, dan mengancam dengan siksa yang pedih bagi orang yang mengingkari ketentuan tersebut.[7]

3. Pendapat mereka: Dua hadits bertentangan dalam masalah yang menajiskan air. Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Air tidak dapat dinajiskan dengan sesuatu apapun." Riwayat lain mengatakan: "Jika air mencapai dua qullah maka tidak membawa najis." Ini menunjukkan bahwa air yang belum mencapai dua qullah dapat mendatangkan najis dan ini bertentangan dengan hadits yang pertama.

Abu Muhammad berkata, 'Dan kami menjawab bahwa ini bukan bertentangan dengan hadits pertama. Sabda Rasulullah "Air tidak dapat dinajiskan dengan sesuatu apapun" menunjukkan adanya suatu kebiasaan, karena biasanya sumur dan kolam terdapat air yang banyak. Kemudian beliau menjelaskan dua qullah sebagai ukuran minimal pada air untuk bercampurnya najis di dalamnya.[8]


[1] Ta'wil Mukhtalaf Al-Hadits, karya Ibnu Qutaibah, cet I, hal 2

[2] Ushul al-hadits Ulumuhu wa Musthalahuhu, hal 286

[3] Q.S Al-Qalam:48

[4] Ta'wil Mukhtalaf Al-Hadits, Hal 141-142

[5] Q.S Al-Baqarah : 180

[6] Q. S An-Nisa 13-14

[7] Ta'wil Mukhtalaf Al-Hadits, Hal 242-243

[8] Ta'wil Mukhtalaf Al-Hadits, Hal 431-434

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya