Kitab Referensi

Kitab : Mabahits fi Ulumil Hadits - Syaikh Manna' al-Qatthan

ILMU AL-JARH WA AT-TA’DIL

  • Al-Jarh secara bahasa: isim mashdar yang berarti luka yang mengalirkan darah. Atau sesuatu yang dapat menggugurkan ke'adalahan seseorang.[1]
  • Al-Jarh menurut istilah: yaitu terlihatnya sifat pada seorang perawi yang dapat menjatuhkan ke’adalahannya, dan merusak hafalan dan ingatannya, sehingga menyebabkan gugur riwayatnya, atau melemahkannya hingga kemudian ditolak.
  • At-Tajrih yaitu memberikan sifat kepada seorang perawi dengan sifat yang menyebabkan pendhaifan riwayatnya, atau tidak diterima riwayatnya.
  • Al- 'Adlu secara bahasa: apa yang lurus dalam jiwa, lawan dari durhaka, dan seorang yang 'adil artinya kesaksiannya diterima, dan At-ta'dil artinya mensucikannya dan membersihkannya.
  • Al-'Adlu menurut istilah: Orang yang tidak nampak padanya apa yang dapat merusak agamanya dan perangainya, maka oleh sebab itu diterima beritanya dan kesaksiannya apabila memenuhi syarat-syarat menyampaikan hadits.[2]
  • At-Ta'dil yaitu pensifatan perawi dengan sifat sifat yang mensucikannya, sehingga nampak ke'adalahannya, dan diterima beritanya.

Dan atas dasar ini, maka ilmu Al-Jarh wa At-Tadil adalah ilmu yang menerangkan tentang cacat-cacat yang dihadapkan kepada para perawi dan tentang penta'dilannya (memandang lurus perangai para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan untuk menerima atau menolak riwayat mereka,[3]

Pensyariatan Al-Jarh wa At-Ta’dil

Para ulama menganjurkan untuk melakukan jarh dan ta'dil, dan tidak menganggap hal itu sebagai perbuatan ghibah yang terlarang berdasarkan dalil-dalil berikut ini, antara lain:

  • Sabda Rasulullah kepada seorang laki laki,
    بِئْشَ أَخُو الْعَشِيْرَةِ
    "(Dia) itu seburuk-buruk saudara di tengah-tengah keluarga-nya.[4]
  • Sabda beliau Rasulullah kepada Fatimah binti Qais yang menanyakan tentang Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan Abi Al-Jahm yang tengah melamarnya,
    أما أبو جهم نلا يضع عماه عن عاتقه، وأما معاوية فصملوك لا مال له
    "Adapun Abu Jahm dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya (suka memukul), sedangkan Mu'awiyah seorang yang miskin tidak mempunyai harta"
  • [5]

Perkataan Rasulullah ini meskipun konteksnya sebagai saran dalam kasus pribadi seseorang, namun menunjukkan dibolehkannya mencela kepada orang-orang yang lemah guna menjelaskan keadaan mereka, dan menampakkan cela dalam perkara yang berkenaan dengan halal dan haram -yaitu hadits- lebih utama daripada menjelaskan cela dalam konteks memberi saran tertentu.

Dan dalam ta'dil, Rasulullah bersabda,

نِعْمَ عبد الله خالد بن الوليد سيف من سيوف الله

"Sebaik sebaik hamba Allah Khalid bin Walid, salah satu pedang di antara pedang-pedang Allah."[6]

Dan oleh karena itu, para ulama membolehkan Al-]arh wa At-Ta'dil guna menjaga syariat/agama ini, bukan untuk mencela manusia. Dan sebagaimana dibolehkan jarh dalam persaksian, maka pada perawi pun juga dibolehkan, bahkan memperteguh dan mencari kebenaran dalam masalah agama lebih utama daripada masalah hak dan harta.

Perkembangan Ilmu Al-Jarh wa At-Ta’dil

Awal mula pertumbuhan ilmu ini adalah seperti yang dinukil dari Nabi sebagaimana telah kami sebutkan tadi. Lalu menjadi banyak dari para sahabat, tabi'in, dan orang setelah mereka, karena takut terjadi seperti apa yang diperingatkan oleh Rasulullah , sebagaimana sabdanya,

سَيَكُونُ فِى آخِرِ أُمَّتِى أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ مَالَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ

"Akan ada pada umatku yang terakhir nanti orang-orang yang menceritakan hadits kepada kalian apa yang belum pernah kalian dan juga bapak-bapak kalian mendengar sebelumnya. Maka waspadalah terhadap mereka dan waspadailah mereka."[7]

Dari Yahya bin Sa'id Al-Qatthan dia berkata, "Aku telah bertanya kepada Sufyan Ats-Tsaury, Syu'bah dan Malik serta Sufyan ibn 'Uyainah tentang seseorang yang tidak teguh dalam hadits, lalu seseorang datang kepadaku dan bertanya tentang dia, mereka berkata, mereka berkata, "Kabarkan tentang dirinya bahwa haditsnya tidaklah kuat."[8]

Dari Abu lshaq Al-Fazary dia berkata, "Tulislah dari Baqiyyah apa yang telah dia riwayatkan dari orang-orang yang dikenal, dan jangan engkau tulis darinya apa yang telah dia riwayatkan dari orang-orang yang tidak dikenal, dan janganlah kamu menulis dari Isma'il bin Tyasy apa yang telah dia riwayatkan dari orang-orang yang dikenal maupun dari selain mereka."[9]

Dari Bisyr bin Umar dia berkata, "Aku telah bertanya kepada Malik bin Anas tentang Muhammad bin Abdurrahman yang meriwayatkan dari Sa'id bin Musayyib, maka dia berkata, "Dia tidak tsiqah, dan aku bertanya kepadanya tentang Shalih budak At-Tauamah, dia berkata, "Tidak tsiqah", dan aku bertanya kepadanya tentang Abu Al-Khuwairits, maka dia berkata, "Tidak tsiqah", dan aku bertanya kepadanya tentang Syu'bah yang telah meriwayatkan daripadanya Ibnu Abi Dzi'b, maka dia berkata, "Dia tiak tsiqah", dan aku bertanya kepadanya tentang Haram bin Utsman, maka dia berkata, "Dia tidak tsiqah."[10]

Dan dari Syu'bah dari Yunus bin'Ubaid dia berkata, "Adalah Amr bin l'baid dia berdusta dalam hadits."

Diketahuinya hadits-hadits yang shahih dan yang lemah hanyalah dengan penelitian para ulama yang berpengalaman yang dikaruniakan oleh Allah kemampuan untuk mengenali keadaan para perawi. Dikatakan kepada Ibnu Al-Mubarak, "(Bagaimana dengan) hadits-hadits yang dipalsukan ini?" Dia berkata, "Para ulama yang berpengalaman yang akan menghadapinya."

Maka penyampaian hadits dan periwayatannya itu adalah sama dengan penyampaian untuk agama. Oleh karenanya kewajiban syar'i menuntut akan pentingnya meneliti keadaan para perawi dan ke-adilanan mereka, yaitu seorang yang amanah, alim terhadap agama, bertaqwa, hafal dan teliti pada hadits, tidak sering lalai dan tidak peragu, karena melalaikan itu semua akan menyebabkan kedustaan kepada Rasulullah .

Dikatakan kepada Yahya bin Sa'id Al-Qatthan, "Apakah kamu tidak takut terhadap orang-orang yang kamu tinggalkan haditsnya akan menjadi musuh-musuhmu di hadapan Allah?" Dia berkata, "Mereka menjadi musuhku lebih baik bagiku daripada Rasulullah yang menjadi musuhku. Beliau akan berkata, 'Mengapa kamu mengambil hadits atas namaku padahal kamu tahu itu adalah kedustaan?'"[11]

Perbedaan Tingkatan Para Perawi

Tingkatan para perawi itu berbeda-beda:

Di antara mereka Ats-Tsabt (yang teguh), Al-Hafizh (yang hafalannya kuat), Al-Wari' (yang saleh), Al-Mutqin (yang teliti), An-Naqid (yang kritis terhadap hadits). Yang mendapatkan predikat demikian ini tidak lagi diperselisihkan, dan dijadikan pegangan atas Jarh dan Ta'dil-nya, dan pendapatnya tentang para perawi dapat dijadikan sebagai hujjah.

Di antara mereka ada yang memiliki sifat Al-'Adl dalam dirinya, tsabt teguh dalam periwayatannya, shaduq jujur dan benar dalam penyampaiannya, wara' dalam agamanya, hafizh dan mutqin pada haditsnya. Demikian itu adalah perawi yang 'adil yang bisa dijadikan hujjah dengan haditsnya, dan dipercaya pribadinya.

Di antara mereka ada yang shaduq, wara’, shaleh dan bertaqwa, tsabt namun terkadang salah periwayatannya. Para ulama yang peneliti hadifs masih menerimanya dan dapat dijadikan sebagai hujjah haditsnya.

Di antara mereka ada yang shaduq, wara', bertaqwa namun seringkali lalai, ragu, salah, dan lupa. Yang demikian ini boleh ditulis haditsnya bila terkait dengan targhib (motivasi) dan tarhib (ancaman), kezuhudan, dan adab, sedangkan dalam masalah halal dan haram tidak boleh berhujjah dengan haditsnya.

Adapun orang yang nampak darinya kebohongan maka haditsnya ditinggalkan dan riwayatnya dibuang.[12]

Orang-orang yang Paling Masyhur Berbicara Mengenai Perawi

Para ulama menyebutkan bahwasanya sebagian sahabat dikenal sering berbicara mengenai perawi, mereka adalah: Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Salam, 'Ubadah bin Ash-Shamit, Anas bin Malik, Aisyah, berdasarkan apa ditemukan dari mereka berupa pendustaan dan penolakan kepada sebagian orang yang menyampaikan hadits kepada mereka.

Maka ketika muncul gerakan pemalsuan dalam hadits, para ulama bangkit untuk memeranginya, mereka memperhatikan para perawi dan mengenali mereka. Dan sejumlah tabi'in juga berbicara mengenai jarh dan ta'dil, diantara mereka yang paling terkenal:

  1. Sa'id bin Jubair (wafat tahun 95 H)
  2. Sa'id bin Al-Musayyib (wafat tahun 94 H)
  3. 'Amir Asy-Sya'bi (wafat tahun 103 H)
  4. Muhammad bin Sirin (wafat tahun 110 H)

Mereka adalah generasi pertama.

Dan pada pertengahan abad Hijriah mulai muncul sejumlah ulama peneliti dan ulama besar hadits yang pandai dalam mengetahui ihwal para perawi, sehingga penilaian mereka terhadap para tokoh sanad diterima, karena mereka mempunyai kelebihan dalam ketelitian. Diantara mereka ini adalah:

  1. Ma'mar bin Rasyid (wafat tahun 153 H)
  2. Hisyam Ad-Dustawa'i (wafat tahun 153 H)
  3. Abdurrahman bin 'Amru Al-Auza'i (wafat tahun 157 H)
  4. Syu'bah bin Al-Hajjaj (wafat tahun 160 H)
  5. Sufyan At-Tsaury (wafat tahun 161 H)
  6. Abdul Aziz bin Al-Majisun (wafat tahun 164 H)
  7. Hammad bin Salamah (wafat tahun 167 H)
  8. Hammad bin Zaid (wafat tahun 179 H)
  9. Malik bin Anas (wafat tahun 179 H)
  10. Abdullah bin Al-Mubarak (wafat tahun 181 H)
  11. Hasyim bin Basyir (wafat tahun 183 H)
  12. Abu Ishaq Al-Fazari (wafat tahun 188 H)
  13. Abdurrahman bin Mahdi (wafat tahun 198 H)
  14. Yahya bin Sa'id Al-Qaththan (wafat tahun 198 H)

Mereka ini adalah generasi kedua.

Kemudian generasi ketiga, diantara para tokoh adalah

  1. Abdullah bin Az-Zubair Al-Humaidi (wafat tahun 219 H)
  2. Abu Al-Walid Ath-Thayalisi (wafat tahun 227 H)
  3. Yahya bin Ma'in (wafat tahun 233 H), Imam Al-Jarh wa At-Ta'dil pada masanya
  4. Ali bin Abdillah Al-Madini (wafat tahun 234 H)
  5. Imam Ahmad bin Hanbal (wafat tahun 241 H)
Kemudian datang setelah mereka generasi berikutnya, diantara para tokoh yang paling terkenal:
  1. Imam Muhammad bin Isma'il Al-Bukhari (wafat tahun 256 H)
  2. Abu Zur'ah Ubaidillah bin Abdul Karim Ar-Razi (wafat tahun 277 H)
  3. Abu Hatim Muhammad bin Idris Ar-Razi (wafat tahun 277 H)

Dan sebagian mereka ini tidak tertandingi dalam Al-Jarh wa At-Ta’dil karena ketelitian mereka yang sempurna, dan terutama Yahya bin Ma'in, Ali bin Al-Madini, dan Yahya bin Sa'id Al-Qatthan, hal ini dapat dilihat bagi orang yang menelaah kitab-kitab Al-Jarh wa At-Ta’dil.

Tingkatan-tingkatan Al-Jarh wa At-Ta'dil

Para perawi yang meriwayatkan hadits bukanlah semuanya dalam satu derajat dari segi keadilan, kedhabithan, dan hafalan mereka sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya. Diantara mereka ada yang hafalannya sempurna, ada yang kurang dalam hafalan dam ketepatan, dan ada pula yang sering lupa dan salah padahal mereka orang yang 'adil dan amanah, serta ada juga yang berdusta dalam hadits, maka Allah menyingkap perbuatannya ini melalui tangan ulama yang sempurna pengetahuan mereka. Oleh karena itu, para ulama menetapkan tingkatan jarh dan ta'dil, dan lafazh-lafazh yang menunjukkan pada setiap tingkatan, sehingga tingkatan ta’dil ada enam tingkatan, dan tingkatan jarh ada enam juga.

1. Tingkatan At-Ta'dil:

Tingkatan pertama: yang menggunakan bentuk superlatif dalam penta'dilan, atau dengan menggunakan wazan "af ala", seperti: "Fulan kepadanyalah puncak ketepatan dalam periwayatan", atau "fulan orang yang paling tepat periwayatan dan ucapannya", atau "fulan orang yang sangat terpercaya", atau "fulan orang yang paling kuat hafalan dan ingatannya".

Tingkatan kedua: dengan menyebutkan sifat yang menguatkan ketsiqahannya, ke adilan dan ketepatan periwayatannya, baik dengan lafazh maupun dengan makna, seperti: °tsiqah-tsiqah", atau "tsiqah-tsabt", atau “tsiqah dan terpercaya (ma'mun)", atau “tsiqah dan hafizh”.

Tingkatan ketiga: yang menunjukkan adanya pentsiqahan tanpa adanya penguatan atas hal itu, seperti: tsiqah, tsabt, hujjah, mutqin.

Tingkatan keempat: yang menunjukkan adanya keadilan dan kepercayaan tanpa adanya isyarat akan kekuatan hafalan dan ketelitian, seperti: shaduq (jujur), ma'mun (dipercaya), mahalluhu ash-shidiq (ia tempatnya kejujuran), atau la ba'sa bihi (tidak mengapa dengannya)- menurut selain Ibnu Ma'in, sebab menurut Ibnu Ma'in kalimat la ba'sa bihiadalah tsiqah[13]

Tingkatan kelima: yang tidak menunjukkan adanya pentsiqahan ataupun celaan, seperti: "fulan syaikh" {Fulan seorang syaikh), "ruwiya 'anhu al-hadits" (orang meriwayatkan hadits darinya), atau “hasan al-hadits" (yang baik haditsnya).

Tingkatan keenam: isyarat yang mendekati pada celaan (jarh), seperti: shalih al-hadits (haditsnya lumayan), atau "yuktabu haditsuhu" (ditulis haditsnya).

Hukum Tingkatan-tingkatan Ini

  1. Untuk tiga tingkatan yang pertama, dapat dijadikan hujjah, meskipun sebagian mereka lebih kuat dari sebagian yang lain.
  2. Adapun tingkatan keempat dan kelima, tidak bisa dijadikan hujjah, tetapi hadits mereka boleh ditulis, dan diuji ke dhabithan mereka dengan membandingkan hadits mereka dengan hadits-hadits para tsiqah yang dhabith. Jika sesuai dengan hadits mereka, maka bisa dijadikan hujjah. Jika tidak sesuai maka ditolak, meskipun dia dari tingkatan kelima yang lebih rendah dari pada tingkatan keempat
  3. Sedangkan tingkatan keenam, tidak bisa dijadikan hujjah, tetapi hadits mereka ditulis untuk dijadikan sebagai pertimbangan saja bukan untuk pengujian, karena mereka tidak dhabith.

2. Tingkatan-tingkatan Al-Jarh

Tingkatan pertama: yang menunjukkan adanya kelemahan, dan ini yang paling rendah dalam tingkatan al-jarh (kritikan) seperti: layyin al-hadits (lemah haditsnya), atau fiihi maqaal (dirinya dibicarakan), atau fiihi dha'fun (padanya ada kelemahan).

Tingkatan kedua: yang menunjukkan adanya pelemahan terhadap perawi dan tidak boleh dijadikan sebagai hujjah, seperti: "fulan tidak boleh dijadikan hujjah", dhaif, "ia mempunyai hadits-hadits yang munkar", atau majhul (tidak diketahui kondisinya).

Tingkatan ketiga: yang menunjukkan lemah sekali dan tidak boleh ditulis haditsnya, seperti: Fulan dha'if jiddan (dhaif sekali), atau wahin marrah (sangat lemah), atau "tidak ditulis haditsnya", atau "tidak halal periwayatan hadits darinya", atau laisa bisya’in (tidak ada apa-apanya), kecuali menurut Ibnu Ma'in, ungkapan “laisa bisya’in" sebagai petunjuk bahwa hadits perawi itu sedikit.

Tingkatan keempat: yang menunjukkan tuduhan dusta atau pemalsuan hadits, seperti: fulan muttnham bil kadzib (dituduh berdusta), atau "dituduh memalsukan hadits", atau "mencuri hadits", atau matruk (yang ditinggalkan), atau laisa bi tsiqah (bukan orang yang terpercaya).

Tingkatan kelima: yang menunjukkan sifat dusta atau pemalsu dan semacamnya, seperti: kadzdzab (tukang pendusta), atau dajjal, atau wadhdha' (pemalsu hadits), atau yakdzib (dia berbohong), atau yadha' (dia memalsukan hadits).

Tingkatan keenam: yang menunjukkan adanya dusta yang berlebihan, dan ini seburuk-buruk tingkatan, seperti: "Fulan orang yang paling pembohong", atau "ia adalah puncak dalam kedustaan", atau "dia rukun kedustaan".

Hukum Tingkatan-tingkatan Ini

  1. Untuk dua tingkatan pertama tidak bisa dijadikan sebagai hujjah terhadap hadits mereka, akan tetapi boleh ditulis untuk diperhatikan saja, dan walaupun orang pada tingkatan kedua lebih rendah daripada tingkatan pertama.
  2. Sedangkan empat tingkatan terakhir tidak boleh dijadikan sebagai hujjah, tidak boleh ditulis, dan tidak boleh dianggap sama sekali.[14]

Dan ta'dil boleh diterima tanpa menyebutkan alasan dan sebabnya menurut pendapat yang shahih dan masyhur, karena sebabnya banyak sehingga sulit menyebutkannya.

Sedangkan jarh tidak boleh diterima kecuali dengan alasannya, karena hal itu terjadi disebabkan satu masalah dan tidak sulit menyebutkannya. Dan karena setiap orang berbeda dalam sebab-sebab jarhnya. Ulama yang menjarh seorang perawi karena berdasarkan pada apa yang diyakininya sebagai jarh, belum tentu dapat dijadikan alasan bagi orang lain. Oleh karenanya harus dijelaskan sebabnya untuk dapat dilihat apakah itu benar suatu cacat atau bukan?

Kitab-kitab tentang Al-Jarh wa At-Ta’dil

Penyusunan karya dalamt ilmu Al-Jarh wa At-Ta'dil telah berkembang sekitar abad ketiga dan keempat, dan komentar orang-orang yang berbicara mengenai paru tokoh secara jarh dan ta'dil sudah dikumpulkan. dan jika permulaan penyusunan dalam ilmu ini dinisbatkan kepada kepada Yahya hm Ma in, Ali bin AI-Madiny, Ahmad bin Hanbal, maka penyusunan secara meluas terjadi sesudah itu, dalam karya-karya yang mencakup perkataan para generasi awal tersebut.

Para penyusun mempunyai metode yang berlainan:

  1. Sebagian di antara mereka hanya menyebutkan orang-orang yang dhaif saja dalam karyanya.
  2. Dan sebagian lagi menyebutkan orang-orang yang tsiqat.
  3. Dan sebagian lagi menggabungkan antara yang dhaif dan tsiqat.
Sebagian besar metode yang dipakai oleh para pengarang adalah mengurutkan nama para perawi sesuai dengan huruf kamus (mu'jam). Dan berikut ini karya-karya mereka yang sampai kepada kita:
  • Kitab Ma’rifat Ar-Rijal, karya Yahya bin Ma'in (wafat tahun 233 H), terdapat sebagian darinya berupa manuskrip.
  • Kitab Adh-Dhu'afa' Al-Kabir dan Adh-Dhu'afa' Ash-Shaghir, karya Imam Muhammad bin Isma'il Al-Bukhari (wafat tahun 256 H), dicetak di India. Karya beliau yang lain: At-Tarikh Al-Kabir, dan Al-Awsath, serta Ash-Shaghir.
  • Kitab Ats-Tsiqat, karya Abu Al-Hasan Ahmad bin Abdillah bin Shalih Al-'Ijly (wafat tahun 261 H), manuskrip.
  • Kitab Adh-Dhu'afa' wa Al-Matruukiin, karya Abu Zur'ah Ubaidillah bin Abdulkarim Ar-Razi (wafat tahun 264 H), manuskrip.
  • Kitab Adh-Dhu’afa' um Al-Kadzdzabun wa Al-Matrukuun min Ashhabi Al Hadits, karya Abu 'Utsman Sa'id bin Amr Al-Bardza'i (wafat tahun 292 H).
  • Kitab Adh-Dhu'afa' wa Al-Matrukin, karya Imam Ahmad bin Ali An-Nasa'i (wafat tahun 303 H), telah dicetak di India bersama kitab Adh-Dhu'afa' karya Imam Bukhari.
  • Kitab Adh-Dhu'afa’, karya Abu Ja'far Muhammad bin Amr bin Musa bin Hammad Al-'Uqaily (wafat tahun 322 H), manuskrip.
  • Kitab Ma'rifat Al-Majruhin min Al-Muhadditsin, karya Muhammad bin Ahmad bin Hibban Al-Busti (wafat tahun 354 H) manuskrip, dan karyanya Kitab Ats-Tsiqat, juga manuskrip.

dan di antara karya-karya mereka adalah tentang sejarah perawi hadits secara umum tidak hanya terbatas pada biografi para tokoh saja atau biografi para tsiqat saja atau para dhu'afa saja seperti :

  • Kitab At-Tarikh Al-Kabir, karya Imam Bukhari (wafat tahun 256 H) mencakup atas 12315 biografi sebagaimana dalam naskah yang dicetak dengan nomor.
  • Kitah Al-jarh wa At-Ta’dil, karya Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi (wafat tahun 327 H) dan dia termasuk diantara yang paling besar dari kitab-kitab tentang Al-Jarh wa At-Ta'dil yang sampai kepada kita, dan paling banyak faidahnya, dimana dia mencakup banyak perkataan para imam Al Jarh wa At Ta'dil terkait dengan para perawi hadits. Kitab ini merupakan ringkasan dari upaya para pendahulu yang mengerti ilmu ini mengenai para perawi hadits secara umum.

Kemudian karya-karya mengenai perawi hadits yang disebutkan dalam kutub sittah dan lainnya, sebagian diantaranya khusus pada perawi satu kitab, dan sebagian yang lain khusus dengan kitab-kitab hadits, dan sebagian yang lain mencakup kitab-kitab hadits dan lainnya.

  • Kitab Asami Man Rawa 'Anhum Al-Bukhari, karya Ibn Al-Qaththan -Abdullah bin Ady Al-Jurjani (wafat tahun 360 H), manuskrip.
  • Kitab Dzikri Asma'i At-Tabi'in wa Man Ba'dahum Min Man Shahhat Riwayatuhu min Ats-Tsiqat 'Inda Al-Bukhari, karya Abu Al-Hasan Ali bin Umar Ad-Daruquthni (wafat tahun 385 H), manuskrip.
  • Kitab Al-Hidayah wa Al-lrsyad fi Ma'rifati Ahli Ats-Tsiqah wa As-Sadaad, karya Abu Nasr Ahmad bin Muhammad Al-Kalabadzi (wafat tahun 398 H) khusus tentang perawi Imam Bukhari, manuskrip.
  • Kitab At-Ta'dil wa At-Tajrih li Man Rawa 'anhu Al-Bukhari fi Ash-Shahih, karya Abu Al-Walid Sulaiman bin Khalaf Al-Baji Al-Andalusi (wafat tahun 474 H), manuskrip.
  • Kitabu At-Ta'rifbi Rijal Al-Muwattha', karya Muhammad bin Yahya bin Al-Hidza' At-Tamimi (wafat tahun 416 H), manuskrip.
  • Kitab Rijal Shahih Muslim, karya Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Manjawaih Al-Ashfahani (wafat 247 H), manuskrip.
  • Kitab Rijal Al-Bukhari wa Muslim, karya Abu Al-Hasan Ali bin Umar Ad-Daruquthni (wafat tahun 385 H), manuskrip.
  • Kitab Rijal Al-Bukhari wa Muslim karya Abu Abdillah Al-Hakim Ary-Naisabury (wafat tahun 404 H), telah dicetak
  • Kitab Al-Jami baina Rijat Ash-Shahihain, karya Abu Al-FadhI Muhammad bin Thahir Al-Maqdisy (wafat 507 H), dicetak.
  • Kitab Al-Kamal fi Asma' Ar-Rijal, karva Al-Hafizh Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisy Al-Jumma'ili (wafat tahun 600 H), termasuk karya tertua yang sampai kepada kita yang secara khusus membahas para perawi kutub stttah. Kitab ini dianggap sebagai asal bagi orang setelahnya dalam bab ini.

Dan sejumlah ulama telah melakukan perbaikan dan peringkasan atasnya.

  • Kitab Tahdzib Al-Kamal, karya Al-Hafizh Al-Hajjaj Yusuf bin Az-Zaki Al-Mizzi (wafat tahun 742 H).
  • Kitab Tadzkirah AI-Huffazh, karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Ustman Adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H).
  • Kitab Tadzhib At-Tahdzib, karya Adz-Dzahabi juga.
  • Kitab Al-Kasyi ffi Ma'rifat man lahu Riwayat fi Al-Kutub As-Sittah, karya Adz-Dzahabi juga.
  • Kitab Tahdzib At-Tahdzib, karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-'Asqalani (wafat tahun 852 H) ringkasan dan perbaikan dari kitab Tahdzib Al-Kamal karya Al-Mizzi, dan dia adalah kitab yang paling menonjol yang dicetak secara terus menerus. Di dalamnya, Ibnu hajar telah meringkas hal-hal yang perlu diringkas, dan menambah terhadap apa yang terlewatkan dari kitab asli, dan dia adalah kitab yang paling baik dan paling detil.
  • Kitab Taqrib At-Tahdzib, karya Ibnu Hajar juga.
  • Kitab Khulasah Tadzhibu Tahdzib Al-Kamal, karya Shafiyyuddin Ahmad bin Abdillah Al-Khazraji (wafat tahun 934 H).
  • Kitab Ta'jil Al-Manfa'ah bi Zawa’id Al-Kutub Al-Arba'ah, karya Al-Hafizh Ibn Hajar Al-'Asqalani.
  • Kitab Mizan Al-I'tidal fi Naqdi Ar-Rijal, karya Al-Hafizh Adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H). Dan termasuk kitab yang paling lengkap tentang biografi orang-orang yang dijarh.
  • Kitab Lisan Al-Mizan, karya Al-Hafizh Ibn Hajar Al-'Asqalani.
  • Kitab At-Tadzkirah bi Rijal Al-'Asyarah, karya Abu Abdiilah Muhammad bin Ali Al-Husaini Ad-Dimasyqi (wafat tahun 765 H).
    Kitab ini mencakup atas biografi sepuluh orang perawi dari kitab-kitab hadits, yaitu: kutub sittah, yang menjadi obyek pembahasan pada kitab Tahdzibul Kamal karya Al-Mizzi, ditambah empat kitab lagi karya para imam empat madzhab: Al-Muwaththa', Musnad Asy-Syafi'i, Musnad Ahmad Al-Musnad yang diriwayatkan oleh Al-Husein bin Muhamad bin Khasru dari hadits Abi Hanifah. Dan terdapat manuskrip lengkap dari kitab At-Tadzkirah ini.

[1] Lisan Al-Arab, kosa kata “jaraha"

[2] Yaitu. Islam, baligh, berakal, dan kekuatan hafalan.

[3] Ushul Al-Hadits, hal.260, Muqaddimah Kitab Al-Jarh wa At-Ta'dil, 3/1

[4] HR Bukhari

[5] HR Muslim

[6]‘ HR Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah

[7] Muqaddimah Shahih Muslim

[8] Muqaddimah Shahih Muslim

[9] Baqiyyah bin Al-Walid-banyak melakukan talis dari para dhu'afa

[10] Shalih budak At-Tau'amah adalah Shalih bin Nabhan Al-Madini, dan Abu Al'Huwairits Ar-Zarqa namanya adalah Abdurrahman bin Mu'avriyah, dan Syu'bah adalah Ibnu Dinar Al-Hasyimi

[11] Al-Kifayah hal 144

[12] Muqaimah Al-Jarh wa Ta'dil 1/10

[13] Karena Ibnu Ma'in ikenal sebagai ahli hadits yang mutasyaddid (keras) sehingga lafazh yang biasa saja bila ia ucapkan suah cukup untuk menunjukkan ketsiqahan perawi

[14] Tadrib Ar-Rawi hal 229- 233. dan Taysir Musthalah Al-Hadits 152-154

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya