Kitab Referensi

Kitab : Mabahits fi Ulumil Hadits - Syaikh Manna' al-Qatthan

ILMU RIJALUL HADITS

Sebelumnya kita telah mengenal bahwasanya ilmu hadits dirayah adalah ilmu yang diketahui darinya hakikat riwayat, syarat-syaratnya, hukum-hukumnya, keadaan perawi dan syarat-syarat mereka, macam-macam apa yang diriwayatkan dan apa yang berkaitan dengannya, -atau secara ringkas: "Kaidah-kaidah yang diketahui dengannya keadaan perawi dan yang diriwayatkan,"- dan perawi adalah yang meriwayatkan hadits dari orang yang dia mengambil darinya, dan marwiy adalah hadits yang disampaikan dengan cara periwayatan, dan yang diriwayatkan ini secara istilah dinamakan dengan matan, dan orang-orang yang meriwayatkannya dinamakan dengan perawi atau Rijal Al-Isnad.

Maka apabila Imam Bukhari berkata, misalnya, "Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Yahya bin Sa'id Al-Qurasyi, dia telah berkata, telah menceritakan kepada kami bapakku, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Burdah bin Abdillah bin Abi burdah, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Radhiyalla.hu 'Anhu, dia berkata, "(Para sahabat) bertanya, 'Wahai Rasulullah, Islam apakah yang paling utama? Rasulullah bersabda,

مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

"Barangsiapa yang kaum muslimin selamat dari lisannya dan tangannya."

Orang-orang yang telah disebutkan oleh Bukhari ini -mulai dari Sa'id bin Yahya bin Sa'id Al-Qurasyi sampai yang paling terakhir yaitu Abu Musa- mereka ini disebut periwayat hadits, dan rangkaian mereka ini disebut sanad, atau rijalul hadits. Sedangkan sabda beliau , "Barangsiapa yang kaum muslimin selamat dari lisannya dan tangannya" adalah yang diriwayatkan atau hadits, dinamakan matan. Dan orang yang meriwayatkan hadits dengan semua rijalnya yang disebutkan tadi disebut musnid, sedang perbuatannya ini dinamakan isnad (penyandaran periwayatan).

Dari penjelasan di atas dapat kita mengenalkan istilah-istilah yang sering dipakai sebagai berikut:

  • As-Sanad, dalam bahasa artinya menjadikannya sandaran atau penopang yang dia menyandarkan kepadanya.
  • Sanad dalam istilah para ahli hadits yaitu, "jalan yang menghubungkan kepada matan," atau "susunan para perawi yang menghubungkan ke matan." Dinamakan sanad karena para huffazh bergantung kepadanya dalam penshahihan hadits dan pendhaifannya.
  • Al-Isnad adalah mengangkat hadits kepada yang mengatakannya. Ibnu Hajar mendefinisikannya dengan, "menyebutkan jalan matan." Disebut juga: Rangkaian para rijalul hadits yang menghubungkan ke matan. Dengan demikian maknanya menjadi sama dengan sanad.
  • Musnid adalah orang yang meriwayatkan hadits dengan sanadnya.
  • Matan menurut bahasa apa yang keras dan meninggi dari permukaan bumi.
  • Matan menurut para ahli hadits adalah perkataan yang terakhir pada penghujung sanad. Dinamakan matan karena seorang musnid menguatkannya dengan sanad dan mengangkatnya kepada yang mengatakannya, atau karena seorang musnid menguatkan sebuah hadits dengan sanadnya.[1]
  • Ilmu Rijalul Hadits, dinamakan juga dengan Ilmu Tarikh Ar-Ruwwat (Ilmu Sejarah Perawi) adalah ilmu yang diketahui dengannya keadaan setiap perawi hadits, dari segi kelahirannya, wafatnya, guru-gurunya, orang yang meriwayatkan darinya, negeri dan tanah air mereka, dan yang selain itu yang ada hubungannya dengan sejarah perawi dan keadaan mereka.

Ilmu ini berkaitan dengan perkembangan riwayat. Para ulama sangat perhatian terhadap ilmu ini dengan tujuan mengetahui para perawi dan meneliti keadaan mereka, karena dari situlah mereka menimba ilmu agama. Muhammad bin Sirin mengatakan, Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil agamamu.[2]

Maka dengan ilmu Tarikh Rijal Al-Hadits ini akan sangat membantu untuk mengetahui derajat hadits dan sanad (apakah sanadnya muttashil atau munqathi').

Dari Abu Ishaq Ibrahim bin Isa Ath Thalaqani dia berkata, "Aku telah berkata kepada Abdullah bin Al-Mubarak, 'Wahai Abu Abdurrahman, hadits yang menyebutkan "Sesungguhnya termasuk kebaikan hendaknya engkau mendoakan untuk kedua ornngtuamu bersama doamu, dan engkau berpuasa untuk mereka berdua bersamaan dengan puasamu"? Maka Abdullah berkata, 'Wahai Abu Ishaq, dari siapakah hadits ini?' Maka aku katakan kepadanya, 'Ini dari hadits Syihab bin Khurasy' maka dia berkata, 'Dia itu tsiejah, dari siapa?' Aku katakan 'Dari Al-Hajjaj bin Dinar, ia pun berkata, 'Dia juga tsiqah, dari siapa?' Aku katakan, 'Rasulullah ' bersabda...' Dia berkata, "Wahai Abu Ishaq, sesungguhnya antara Al-Hajjaj bin Dinar dan Nabi terdapat jarak yang sangat jauh, akan tetapi tidak ada perselisihan dalam masalah keutamaan sedekah."

Demikianlah keistimewaan umat kita dan kaum muslimin. Ibnu Hazm berkata, "Riwayat orang yang tsiqah dari orang tsiqah yang sampai kepada Rasulullah secara bersambung merupakan kekhususan kaum muslimin yang tidak dimiliki oleh semua agama."

Dan Tarikh Ar-Rijal (sejarah para perawi) adalah yang membuka kedok para perawi pendusta. Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Ketika menggunakan para perawi berdusta, maka kita menggunakan ilmu tarikh untuk menghadapi mereka."

Dari Hafsh bin Ghiyats bahwasanya dia berkata, "Apabila kalian mencurigai atau menuduh seorang syaikh, maka hitunglah dia dengan tahun (maksudnya gunakanlah ilmu tarikh)." Yaitu hitunglah oleh kalian umurnya dan umur orang menulis darinya.

Telah meriwayatkan 'Ufair bin Mi'dan Al-Kula'i, dia berkata, "Datang kepada kami Umar bin Musa di Himsh, lalu kami bergabung kepadanya di dalam masjid, kemudian dia berkata, "Telah menceritakan kepada kami Syaikh kalian yang saleh.' Aku katakan kepadanya, 'Siapakah Syaikh kami yang saleh ini, sebutkanlah namanya supaya kami mengenalnya?' Lalu dia menjawab, 'Khalid bin Mi'dan.' Aku tanyakan padanya, 'Tahun berapa engkau bertemu dengannya?' 'Aku bertemu dengannya tahun 108' jawabnya. 'Di mana engkau menemuinya?' tanyaku. 'Dalam peperangan Armenia' jawabnya. Maka aku katakan padanya, 'Takutlah pada Allah, wahai Syekh! Jangan engkau berdusta! Khalid bin Mi'dan meninggal pada tahun 104, lalu engkau mengatakan bertemu dengannya 4 tahun setelah kematiannya. Dan aku tambahkan lagi padamu, dia tidak pernah ikut dalam perang di Armenia, dia hanya ikut memerangi Romawi."[3]

Dari Al-Hakim bin Abdillah dia berkata, "Ketika datang kepada kami Abu Ja'far Muhammad bin Abdillah Al-Kusysyi dan menceritakan hadits dari Abdu bin Hamid, aku menanyakan kepadanya tentang kelahirannya, lalu dia menyebutkan bahwasanya dia dilahirkan pada tahun 260, maka aku katakan kepada para murid kami, 'Syaikh ini telah mendengar dari Abdu bin Hamid 13 tahun setelah kematiannya.'"

Contoh-contoh seperti ini sudah banyak terkumpul dan dibukukan oleh para ulama dalam kitab-kitab karya mereka. Dan berbagai macam buku karya tentang hal itu banyak bermunculan dengan berbagai tujuan.

1. Kitab-kitab tentang Nama-nama Sahabat Secara Khusus:

Ash-Shahabah: jamak dari Shahabi, dan Shahabi secara bahasa diambil dari kata Ash-Shuhbah, dan ini digunakan atas setiap orang yang bersahabat dengan selainnya baik sedikit maupun banyak.

Dan Ash-Shahabi menurut para ahli hadits adalah setiap muslim yang pernah melihat Rasulullah meskipun tidak lama persahabatannya dengan beliau dan meskipun tidak meriwayatkan dari beliau sedikit pun.

Imam Bukhari berkata dalam Shahihnya, "Barangsiapa yang pernah menemani Nabi atau melihatnya di antara kamu muslimin, maka dia termasuk dari sahabat-sahabat beliau."

Ibnu Ash-Shalah berkata, "Telah sampai kepada kami dari Abu Al-Mudhaffir As-Sam'ani Al-Marwazi, bahwasanya dia berkata, "Para ulama hadits menyebut istilah sahabat kepada setiap orang yang telah meriwayatkan hadits atau satu kata dari beliau, dan meireka memperluas hingga kepada orang yang pernah melihat beliau meskipun hanya sekali maka termasuk dari sahabat. Hal ini karena kemuliaan kedudukan Nabi , dan diberikanlah julukan sahabat terhadap setiap orang yang pernah melihatnya."

Dan dinisbatkan kepada Imam para tabi'in Said bin Al-Musayyib perkataan, "Dapat dianggap sebagai sahabat bagi orang yang pernah tinggal bersama Rasulullah setahun atau dua tahun, dan ikut berperang bersamanya sekali atau dua kali peperangan." Ini yang dihikayatkan para ulama ushul fikih. Akan tetapi Al-'Iraqi membantahnya, "Ini tidak benar dari Ibnu Al-Musayyib, karena Jarir bin Abdillah Al-Bajali termasuk dari sahabat, padahal dia masuk Islam pada tahun 10 hijriyah. Para ulama juga menggolongkan sebagai sahabat orang yang belum pernah ikut perang bersamanya, termasuk ketika Rasulullah wafat sedang orang itu masih kecil dan belum pernah duduk bersama-nya."

Ibnu Hajar berkata, "Dan pendapat yang paling benar yang aku pegang, bahwasanya sahabat adalah seorang mukmin yang pernah berjumpa dengan Rasulullah dan mati dalam keadaan Islam,termasuk didalamnva adalah orang pernah duduk bersama beliau baik lama atau sebentar, baik meriwayatkan darinya atau tidak, baik ikut berperang bersamanya atau tidak, dan orang yang pernah melihat beliau meskipun sekali dan belum pernah duduk dengannya, dan termasuk juga orang yang tidak melihat beliau karena ada halangan seperti buta."[4]

Cara Mengetahui Sahabat:

  1. Diketahui keadaan seseorang sebagai sahabat secara mutawatir.
  2. Dengan ketenaran, meskipun belum sampai batasan mutawatir.
  3. Riwayat dari seorang sahabat bahwa dia adalah sahabat.
  4. Atau dengan mengabarkan dari dirinya bahwasanya dia seorang sahabat.

Dan diperselisihkan mengenai siapa yang pertama kali masuk Islam dari kalangan sahabat. Ada yang mengatakan: Abu Bakar As-Shiddiq, Ada juga yang mengatakan: Ali bin Abi Thalib. Pendapat lain: Zaid bin Haritsah. Pendapat lain mengatakan Khadijah. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Khadijah adalah orang yang pertama membenarkan pengutusan beliau secara mutlak.

Ke'adalahan Sahabat

Menurut Ahlussunnah wal Jama'ah, semua sahabat adalah ‘adil, karena Allah telah memuji mereka dalam Al-Qur'an, dan As-Sunnah juga memuji terhadap akhlak dan perbuatan mereka, dan pengorbanan mereka kepada Rasulullah baik harta dan jiwa mereka, hanya karena ingin mendapatkan balasan dan pahala dari Allah Ta'ala.

Adapun pertikaian yang terjadi sesudah beliau , ada diantaranya yang terjadi kerena tidak sengaja seperti perang Jamal. Dan ada pula yang terjadi karena hasil ijtihad mereka seperti perang Shiffin. Ijtihad bisa salah dan bisa benar. Jika salah akan dimaafkan dan tetap mendapat pahala, dan jika benar maka akan mendapat dua pahala.

Dan di antara sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah, adalah Abu Hurairah, Abdullah bin Umar bin Al-Khathab, Anas bin Malik, Aisyah Ummul Mukminin, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah Al-Anshari dan Abu Sa'id Al-Khudri (Sa'ad bin Malik bin Sinan Al-Anshari).

Dan di antara mereka yang sedikit periwayatannya, atau tidak meriwayatkan sedikit pun.

Sahabat yang paling terakhir meninggal adalah Abu Thufail 'Amir bin Watsilah Al-Laitsi, meninggal tahun 11 Hijriyah di Makkah.

Kitab-kitab yang terkenal mengenai Sahabat:

  1. Kitab "Ma'rifat Man Nazala min Ash-Shahabah Sa'ira Al-Buldan", karya Imam Ali bin Abdillah Al-Madini (wafat tahun 234 H). Kitab ini tidak sampai kepada kita.
  2. "Kitab Tarikh Ash-Shahabah", karya Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (wafat tahun 256 H). Kitab ini juga tidak sampai kepada kita.
  3. Al-lsti'ab fi Ma'rifati Al-Ashhab", karya Abu Umar bin Yusuf bin Abdillah yang Masyhur dengan Ibnu Abdil Barr Al-Qurthubi (wafat tahun 463 H). Dan telah dicetak berulang kali, didalamnya terdapat 4225 biografi sahabat pria maupun maupun wanita.
  4. "Usudul Ghabah fi Ma'rifat Ash-Shahabah", karya 'Izzuddin Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Al-Atsir Al-Jazari (wafat tahun 630 H), dicetak, didalamnya terdapat 7554 biografi.
  5. "'Tajrid Asma' Ash-Shahabah", karya Al-Hafizh Syamsuddin Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi (wafat lahun 748 H), telah dicetak di India.
  6. "Al-lshabah fi Tamyizi Ash-Shahabah" karya Syaikhul Islam Al-Imam Al-Hafizh Syihabuddin Ahmad bin Ali Al-Kinani, yang masyhur dengan Ibnu Hajar Al-‘AsqaIani (wafat tahun 852 H). Dan dia adalah orang paling banyak melakukan pengumpulan dan penulisan. Jumlah kumpulan biografi yang terdapat dalam Al-Ishabah adalah 122798, termasuk dengan pengulangan, karena ada perbedaan pada nama sahabat atau ketenarannya dengan kuniyahnya, gelar atau semacam itu, dan termasuk juga mereka yang disebut sahabat, namun ternyata bukan

2. Penyusunan Kitab Berdasarkan Thabaqat (Generasi):

Di antara para penyusun kitab Tarikh Ar-Ruwat, ada yang menyusunnya berdasarkan tingkatan generasi, yang meliputi sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, dan orang yang mengikuti mereka pada tiap generasi. Thabaqat adalah sekelompok perawi yang hidup dalam satu masa. Buku tersebut terkadang mencakupi perawi hadits secara umum dalam setiap thabaqat tanpa terikat pada tempat tertentu, dan terkadang pula hanya para perawi yang hidup dalam satu negeri.

Karya terkenal dalam metode thahaqaf ini adalah:

  1. "Kitab Ath-Thahaqat", karya Muhammad bin Umar Al-Waqidi (wafat tahun 207 H). Ibnu Nadim telah menyebutnya dalam kitab Al-Fahrasat. Dan Muhammad bin Sa'ad, juru tulis Al-Waqidi, dalam bukunya “Ath-Thabaqat Al-Kubra" banyak menukil dari kitab tersebut.
  2. Kitab Ath-Thabaqal Al-Kubra", karya Muhammad bin Sa'ad (wafat tahun 230 H), dicetak dalam 14 jilid.
  3. Kitab Thabaqat Ar-Ruwat", karya Khalifah bin Khayyath (wafat tahun 240 H), Ibnu Hajar mengambil darinya, dan terdapat manuskripnya hingga kini.
  4. "Kitab Ath-Thabaqat", karya Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi (wafat tahun 261 H) dan terdapat manuskripnya hingga kini.
  5. Kitab Ath-Thabaqat", karya Abu Bakar Ahmad bin Abdillah Al-Barqi (wafat tahun 270 H), mengambil darinya Ibnu Hajar dalam Tahdzib At-Tahdzib.
  6. "Kitab Thabaqat Al-Muhadditsin", karya Abul Qasim Maslamah bin Qasim Al-Andalusi (wafat tahun 353 H).
  7. "Kitab Thahaqat Al-Muhadditsin bi Ashbahan wal Waridiina ‘Alaiha", karya Abu Syaikh bin Hayyan Al- Anshari (wafat tahun 369 H) dan terdapat manuskripnya hingga kini,
  8. "Kitab Thabaqat Al-Muhadditsin" karya Abul Qasim Abdurrahman bin Mandah (wafat tahun 470 H).

Banyak karya yang sudah hilang, dan yang sampai ke tangan kita hanya sebagian kecil saja, dan yang paling tinggi nilainya adalah kitab "Ath-Thabaqat Al-Kubra", karya Ibnu Sa'ad.

Dan di antara para penyusun ada yang menulis berdasarkan negeri-negeri, seperti:

  1. "Tarikh Naisabur", karya Imam Muhammad bin Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi (wafat tahun 405 H), dia termasuk kitab yang hilang.
  2. "Tarikh Baghdad", karya Abu Bakar Ahmad ibn Ali Al-Baghdadi yang dikenal dengan Al-Khathib Al-Baghdadi (wafat tahun 463 H) dicetak, dan dia termasuk kitab yang paling menonjol dan paling banyak manfaatnya.
  3. "Tarikh Dimasyq", karya seorang ahli sejarah Ali bin Al-Husain yang dikenal dengan Ibnu 'Asakir Ad-Dimasyqi (wafat tahun 571 H).

[1] Tadrib Ar-Rawi hal 5-6, Nuzhat An-Nazhar hal 19

[2] Muqaddimah Shahih Muslim

[3] Al-Kifayah, hal 119

[4] Lih. Shahih Al-Bukhari tentang kautamaan para sahabat, Ulumul Hadits oleh Ibn Ash-Shalah hal 263, Al-Baits Al-Hadits hal.179, Al-lshabah 1/4, Fath AI-Mughits 4/29, dan Tadrib Ar-Rawi hal 396

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya