Kitab Referensi

Kitab : Mabahits fi Ulumil Hadits - Syaikh Manna' al-Qatthan

ILMU HADITS; PERTUMBUHAN, PERKEMBANGAN, DAN PENGENALAN AKAN KEDUANYA

Umat Islam sangat memperhatikan hadits Nabi baik secara periwayatan, penghafalan, dan pengkajian, sehingga terpelihara warisan agama ini sebagai sumber kedua setelah Al-Qur'an. Ada dua hal pokok yang mendasari semua itu:

Pertama: Dorongan Agama

Bahwasanya umat manusia memperhatikan warisan pemikiran yang dapat menyentuh dan membangkitkan kehidupan mereka, memenuhi kecintaan hati mereka, menjadi pijakan kebangkitan mereka, lalu mereka terdorong untuk menanamkannya pada anak-anak mereka agar menjadi orang yang memahaminya, hingga warisan itu selalu hadir di hadapan mereka, membimbing langkah dan jalan mereka

Jika umat lain begitu perhatian terhadap wansan pemikiran mereka, maka umat yang menganut agama Islam dan mengikuti risalah Muhammad juga tidak kalah dalam memelihara warisan yang didapatkan dari Nabi dengan cara periwayatan, menukil, hafalan, dan menyampaikannya, serta mengamalkan isinya, karena itu bagian dari eksistensinya, dan hidup umat ini tiada berarti tanpa dengan agama, Oleh karenanya Allah mewajibkan dalam agama untuk mengikuti dan menaati Rasul-Nya, menjalani semua apa yang dibawa beliau, dan meneladani kehidupannya. Allah Ta'ala berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

"Maka demi tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya" (An-Nisa':65).

Kedua: Dorongan Sejarah

Dalam sejarah, umat manusia banyak dihadapkan pada pertentangan dan halangan sehingga mendorong untuk menjaga warisan mereka dari penyusupan yang menyebabkan terjadinya fitnah dan saling bermusuhan, dan tipu muslihat.

Dan umat Islam yang telah merobohkan pilar kemusyrikan, dan mendobrak benteng Romawi dan Persia, menghadapi musuh-musuh bebuyutan, tahu benar bahwa kekuatan umat ini terletak pada kekuatan agamanya, dan tidak dapat dihancurkan kecuali dari agama itu sendiri, dan salah jalannya adalah pemalsuan terhadap hadits. Dari sini, kaum muslimin mendapat dorongan yang kuat untuk meneliti dan menyelidiki periwayatan hadits, dan mengikuti aturan-aturan periwayatan yang benar, agar mereka dapat menjaga warisan yang agung ini dari penyelewengan dan penyusupan terhadapnya sehingga tetap bersih, tidak dikotori oleh aib maupun oleh keraguan. Dan di antara aturan-aturan yang diberlakukan pada masa sahabat adalah:

1. Mengurangi periwayatan dari Rasulullah.

Mereka khawatir dengan banyaknya riwayat akan tergelincir pada kesalahan dan kelalaian, dan menyebabkan kebohongan terhadap Rasulullah dan akan mendapatkan ancaman yang sangat keras. Mereka juga khawatir dengan memperbanyak periwayatan akan menyibukkan manusia terhadap As-Sunnah dan berpaling dari Al-Qur'an.

Adalah Umar bin Al-Khatthab menolak dan mengingkari terhadap orang yang banyak meriwayatkan hadits. Dikatakan kepada Abu Hurairah-sahabat yang terbanyak dalam periwayatan hadits-, "Apakah Anda meriwayatkan hadits pada masa Umar seperti demikian?" Dia berkata, "Sekiranya aku meriwayatkan hadits pada masa Umar sebagaimana aku menceritakan hadits kepada kalian sekarang ini tentu dia akan memukulku dengan cambukan.[1]

Sebagian mereka setelah meriwayatkan hadits banyak yang mengatakan dengan kalimat: "Atau yang seperti ini," atau "sebagaimana sabda beliau' atau "serupa dengan itu." Mereka seringkah gemetar dan rona wajah mereka berubah ketika meriwayatkan sesuatu dari Rasulullah . Itu semua adalah karena sikap wara' dan penghormatan mereka terhadap hadits beliau.

Dari Amru bin Maimun, ia berkata, "Aku selalu menghadiri majlis Ibnu Mas'ud pada hari Kamis malam dan tidak pernah tidak datang. Aku belum pernah mendengarnya mengatakan sekalipun, 'Rasulullah bersabda.. Dan ketika suatu malam dia berkata, 'Rasulullah bersabda...' Maka dia lalu menundukkan (kepalanya). Maka aku melihat kepadanya, dia berdiri sambil menguraikan sarung bajunya, matanya basah, dan urat lehernya mengembang, lalu dia berkata, "atau kurang dari itu, atau lebih dari itu, atau mendekati itu, atau mirip dengannya."[2]

Dari Muhammad bin Sirin berkata, bahwa Anas bin Malik bila selesai menceritakan hadits dari Rasulullah selalu berkata, "Atau sebagaimana sabda Rasulullah."[3]

2. Ketelitian dalam periwayatan.

Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata, "Abu Bakar adalah orang paling berhati-hati dalam menerima hadits. Diriwayatkan oleh Ibnu Syihab dari Qubaishah bin Dzu'aib bahwasanya ada seorang nenek datang kepada Abu Bakar agar mendapatkan bagian warisan. Maka dia berkata, 'Aku tidak mendapatkan bagianmu sedikit pun dalam Al-Qur'an, dan aku tidak pernah mengetahui Rasulullah menyebutkan hal itu.' kemudian dia menanyakan kepada para sahabat. Mughirah berkata, 'Aku mendengar Rasulullah memberikan bagian seperenam.' Abu Bakar bertanya, Apakah ada orang lain bersamamu?' Lalu Muhammad bin Maslamah bersaksi seperti itu. Kemudian Abu Bakar menjalankan dan memberikan bagian kepada nenek tersebut."[4]

Dari Abu Sa'id Al-Khudri berkata, "Aku berada dalam salah satu majlis kaum Anshar. Tiba-tiba datang Abu Musa seakan-akan dia sedang ketakutan. Lalu berkata, 'Aku telah meminta izin bertamu kepada Umar sebanyak 3 kali tapi tidak dijawab maka aku kembali. Lalu aku kembali lagi, dan dia berkata, 'Apa yang menghalangimu?' Maka aku menjawab, 'Aku telah minta izin bertamu sebanyak 3 kali tapi tidak dijawab, maka aku kembali. Dan Rasulullah telah bersabda, 'Apabila salah satu di antara kalian minta izin 3 kali dan tidak diizinkan maka kembalilah.' Umar berkata, 'Demi Allah kamu harus memberikan kesaksian apakah di antara kalian ada yang mendengar dari Rasulullah?' Ubay bin Ka'ab berkata, 'Demi Allah, tidak ada yang membuktikannya bersamamu melainkan seorang yang paling muda usianya,' dan akulah (Abu Sa'id) yang termuda di situ, maka aku pun ikut bersamanya, lalu aku beri tahukan kepada Umar bahwa memang Nabi berkata demikian. Maka Umar berkata kepada Abu Musa, Aku bukanlah menuduhmu, akan tetapi kekhawatiranku kepada orang akan berdusta atas nama Rasulullah'."[5]

Hal ini bukanlah berarti bahwa para sahabat mensyaratkan untuk diterimanya hadits harus diriwayatkan oleh dua orang atau lebih, atau dengan adanya saksi terhadap seorang perawi. Akan tetapi hal ini menerangkan adanya ketelitian dan kewaspadaan para sahabat dalam menerima riwayat karena khawatir terjadi kesalahan dalam periwayatan. Disamping itu juga untuk mendorong kepada ketepatan hafalan dan ketelitian, serta untuk menjaga agama sehingga tidak ada seorang pun yang berkata-kata terhadap Rasulullah dari apa yang tidak beliau ucapkan. Hal ini dinyatakan pada bagian akhir kisah tersebut: "Aku bukanlah menuduhmu, akan tetapi kekhawatiranku kepada orang akan berdusta atas nama Rasulullah."

Beberapa bukti dan saksi menunjukkan bahwa mereka yang memperketat (teliti) dalam periwayatan hadist tetap menerima hadist-hadist yang diriwayatkan oleh seorang perawi saja.

Diriwayatkan bahwa Umar menyebut tentang orang Majusi dan mengatakan, "Aku tidak tahu bagaimana menyikapi urusan di antara mereka?" Abdurrahman bin Auf berkata kepada-nya, "Aku bersaksi bahwasanya telah mendengar Rasulullah bersabda, 'Berlakukanlah atas mereka aturan ahli kitab .'[6]

Diriwayatkan pula bahwa Abu Bakar pernah menghukumi sebuah kasus antara dua orang, lalu Bilal memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah pernah menghukumi pada kasus yang sama dengan hukuman berbeda dengan apa yang dilakukan Abu Bakar, kemudian ia pun menerapkan hukum Rasulullah tersebut.[7]

3. Kritik Terhadap Riwayat

Yaitu dengan cara memaparkan dan membandingkan riwayat itu dengan Al-Qur'an, jika bertentangan maka mereka tinggalkan dan tidak mengamalkannya. Umar berfatwa tentang seorang wanita yang telah diceraikan (dengan talak tiga) berhak mendapatkan nafkah dan tempat tinggal. Dan ketika ditunjukkan kepadanya sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Fatimah binti Qais ditalak suaminya, lalu dia mengirim utusan kepada istrinya dengan membawa gandum, lalu dimarahinya utusan tersebut. Lalu utusan tersebut berkata kepada istrinya, "Demi Allah, Anda tidak berhak apapun terhadap kami." Kemudian Fatimah menghadap Rasulullah dan menceritakan semuanya kepada beliau, dan beliau pun bersabda, "Kamu tidak mempunyai hak nafkah dan tempat tinggal lagi." Maka ia pun diperintahkan untuk beriddah di rumah Ummu Syuraik. Menanggapi riwayat ini Umar berkata, "Kami tidak akan meninggalkan dan mengabaikan Kitab Rabb kami hanya karena perkataan seorang wanita yang bisa jadi dia hafal, atau bisa jadi lupa."

Maksud dari perkataan Umar: "Kitab Rabb kami" adalah firman Allah yang berbunyi,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُواْ ٱلْعِدَّةَ ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ رَبَّكُمْ ۖ لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنۢ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّآ أَن يَأْتِينَ بِفَٰحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ

"Dan bertakwalah kalian kepada Tuhan, jangan usir mereka dari rumah-rumah mereka dan jangan meninggalkan rumah kecuali mereka berbuat kekejian (zina) yang jelas dan dapat dibuktikan." (Ath-Thalaq : l)

Dan Allah berfirman,

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنتُم مِّن وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَآرُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُواْ عَلَيْهِنَّ ۚ

"Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka" (Ath-Thalaq; 6)

Atas dasar kedua ayat ini Umar memahami bahwa tidak ada perbedaan antara talak raj'i dan talak ba'in, dan memberatkan bagi wanita yang ditalak ba'in tetap mendapatkan nafkah dan tempat tinggal.[8]

Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama fikih.

  1. Pertama, seperti pendapat Umar,
  2. Kedua: tidak mendapat nafkah dan tempat lingga S,
  3. Dan ketiga: mendapat tempat tinggal tanpa nafkah.

Kemudian perselisihan antara Ali dan Muawiyah mempunyai dampak terjadinya perpecahan di kalangan kaum muslimin menjadi beberapa golongan. Di antara golongan golongan ini ada yang melampaui batas dalam fanatik golongan dan berupaya menopang pendapatnya dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Jika tidak mendapatkannya secara sharih (jelas), maka akan menakwilkan Al-Qur'an dengan takwil yang bukan seseungguhnya, atau dengan cara membawa naah-nash As-Sunnah kepada apa yang tidak tercakup dtdalamnya, lalu menisbatkan kepada Rasulullah apa yang tidak beliau katakan, seperi yang dilakukan oleh kaum Syiah (dalam pemalsuan hadits) tentang Ali .

Barangstapa ingin melihat Adam tentang ilmunya, Nuh dalam takwanya, nabi Ibrahim dalam kesabarannya, rtabi Musa dalam wibawanya, dan nabi Isa dalam ibadahnya, maka lihatlah Ali'

Sedangkan kelompok yang fanatik terhadap Muawiyah membalasnya dengan perkataan (baca hadits buatan) mereka, “Orang yang jujur itu ada tiga: Aku, Jibril, dan Muawiyah." Dengan demikian, maka mulailah pemalsuan dalam hadits.

Setelah itu terjadilah penyusupan terhadap As-Sunnah sedikit demi sedikit, maka para ulama bangkit untuk menghadang kejahatan ini dan melindungi hadits Rasulullah dimulai sejak masa generasi para sahabat yunior dan generasi para tabi'in senior, dan mereka sangat memperhatikan penelitian dan pengecekan terhadap sanad hadits dan latar belakang para perawi.

Dari Mujahid, ia berkata, "Busyair al-Adawy datang kepada Ibnu Abbas lalu menceritakan sebuah hadits dan berkata, 'Rasulullah bersabda, Rasulullah bersabda.' Ibnu Abbas tidak mendengar dan tidak memperhatikan haditsnya. Dia berkata, 'Wahai Ibnu Abbas, mengapa engkau tidak mendengarkan haditsku? Apakah engkau tidak mau mendengar hadits dari Rasulullah yang aku ucapkan kepadamu?' Ibnu Abbas mengatakan, 'Kami pernah suatu ketika bila mendengar seseorang berkata 'Rasulullah bersabda..', maka mata kami segera melihatnya dan telinga kami mendengarnya mendengar. Namun ketika orang menempuh segala cara yang baik dan yang buruk, kami tidak mau mengambil hadits itu kecuali dari orang yang kami kenal.'"[9]

Dari Muhammad bin Sirin berkata, "Mereka sebelumnya tidak pernah menanyakan tentang sanad, dan ketika terjadi fitnah, mereka pun mengatakan, 'Sebutkan nama perawi-perawi kalian kepadaku!' Maka dilihatlah, jika haditsnya berasal dari Ahlussunnah maka diambilnya, dan dilihatlah jika haditsnya berasal dari ahli bid'ah lalu tidak diambilnya."

Dari Abdan bin Ustman berkata, "Aku mendengar Abdullah bin Mubarak mengatakan, "Sanad itu bagian dari agama, kalaulah tidak ada sanad niscaya akan berkata siapa saja dan apa saja"

Ibnu Mubarak juga berkata, "Antara kami dan mereka terdapat pembatas." - yakni sanad.

Dari sinilah, maka muncul ilmu untuk menimbang para perawi hadits: Al-Jarh wa At-Ta'dil dan Tarikh Ar-Ruwwat (Sejarah para perawi}-Kemudian ilmu hadits terbagi menjadi dua pembahasan pokok: ilmu hadits riwayah dan ilmu hadits dirayah.

1. Ilmu hadits riwayah: adalah ilmu yang mengandung pembicaraan tentang penukilan sabda-sabda Nabi, perbuatan-perbuatan beliau, hal-hal yang beliau benarkan, atau sifat-sifat beliau sendiri; secara detail dan dapat dipertanggung-jawabkan.

Obyek pembahasannya: sabda Rasulullah, perbuatan beliau, ketetapan beliau, dan sifat-sifat beliau dari segi periwayatannya secara detil dan mendalam.

Faidahnya: menjaga As-Sunnah dan menghindari kesalahan dalam periwayatannya.

2. Ilmu hadist dirayah: yaitu satu ilmu yang mempunyai beberapa kaidah (patokan), yang dengan kaidah-kaidah itu dapat diketahui keadaan perawi (sanad) dan yang diriwayatkan (marwiy) dari segi diterima atau ditolaknya.

  • Rawi adalah orang yang menukil hadits.
  • Marawiy adalah apa yang disandarkan kepada Nabi atau para sahabat atau para tabi'in.
  • Keadaan perawi dari segi diterimanya dan ditolaknya hadist maksudnya: mengetahui keadaannya secara jarh dan ta'dil, bagaimana cara penukilan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan penukilan hadits.
  • Maksud dari kondisi manviy adalah semua yang berhubungan dengan bersambung dan putusnya sanad, mengetahui cacatnya hadits, dan hal-hal yang berkaitan dengan shahih dan tidaknya hadits.
  • Obyek pembahasan ilmu hadits dirayah: sanad dan matan dari segi kondisi masing-masing.
  • Manfaat ilmu hadits dirayah: untuk mengetahui hadits yang diterima dan hadits yang ditolak.

Para ulama hadits menamakan ilmu hadits dirayah ini dengan sebutan Ulumul Hadits, Musthalah Hadits, dan Ushulul Hadits. Itu karena dengan memperhatikan ilmu hadits dirayah ini dapat membuahkan beberapa ilmu. Sebagaimana yang kita saksikan para ulama mengkaji ilmu ini dari salah satu segi, lalu memisahkannya dalam satu karya sehingga menjadi ilmu baru, maka tumbuhlah beberapa ilmu yang menjadi cabang dari Ulumul Hadits. Dan berikut ini akan kita bahas pokok-pokok ilmu ini secara ringkas.


[1] Tadzkirah Al-Huffazh, karya Adz-Dzahabi: 1/7 cet lndia.

[2] Sunan Ibnu Majah, tahqiq Muhammad Fu'ad Abdul Baqi, 1/10-11 cet Dar Al-Fikr

[3] Sunan Ibnu Majah, hal 11

[4] Tadzkiratul Huffazh hal. 2. Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa', Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.

[5] HR. Bukhari, Muslim dan Imam Malik dalam Al-Muwaththa'

[6] Diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi'i, Malik, dan Ad-Darui^uthni.

[7] Ar-Razi dalam Al-MahshuI ,

[8] Kisah ini terdapat di shahih Muslim, Muwaththa Malik, Sunan At-Tirmidzi, Abu Dawud dan An-Nasa'i. Terdapat pada sebagian riwayat menyatakan "la natruku kitaba rabbina wa sunnata nabiyyina" akan tetapi kalimat " wa sunnata nabiyyina" tidak terdapat sanad yang shahih pada Umar, ebab riwayat yang benar menyatakan bahwa Nabi tidak memberikan baginya nafkah dan tempat tinggal.

[9] Mukaddimah Shahih Muslim

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya