Kitab Referensi

Kitab : Mabahits fi Ulumil Hadits - Syaikh Manna' al-Qatthan

PENULISAN DAN PEMBUKUAN HADITS NABI

Turunnya wahyu kepada Rasulullah berkaitan dengan perintah membaca dan belajar sebagaimana firman Allah,

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ . خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ . ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ . ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ . عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

"Bacalah dengan nama Tuhan-mu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya'' (Al-'Alaq: 1-5).

Al-Qur'an menganjurkan untuk menuntut ilmu, dan mengangkat derajat para ulama,

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian den orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat" (Al-Mujadilah:11).

Rasulullah mendorong kita untuk mencari ilmu dan memperdalam agama. Beliau bersabda,

مَنْ يُرِد الله به خيرًا يُفقهه فىى الدين

"Barangsiapa yang Allah kehendaki suatu kebaikan padanya maka Allah akan membuatnya faqih dalam agama" (HR. Bukhari).

Dan harta yang dibelanjakan pada jalan yang benar, dan ilmu yang diajarkan dan diamalkan, dijadikan sebagai salah satu bentuk persaingan yang benar. Rasulullah bersabda,

لا حسد إلا فى اثنتين : رجل آتاه الله مالأ فسلطه على هلكته فى الحق ، ورجل آتاه الله حكمة فهو يقضى بها ويعلمَها

"Tidak diperbolehkan hasad kecuali pada dua perkara, seseorang yang diberikan oleh Allah harta benda kemudian digunakan untuk kebaikan, dan seseorang yang diberikan oleh Allah Al-Hikmah (ilmu) maka dia menggunakan dan mengajarkannya"[1]

Dan beliau juga menganjurkan untuk mempelajari bahasa orang lain agar kaum muslimin dapat memahami ilmu dan mengetahui apa yang ada pada mereka, sehingga merasa aman dari kejahatan mereka. Zaid bin Tsabit diperintahkan oleh Rasulullah untuk belajar bahasa orang Yahudi. Beliau bersabda kepadanya,

يا زيد ، تعلم لى كتاب يهود ، فإنى - والله -ما آمن يهرد على كتابى

"Wahai Zaid, pelajarilah tulisan Yahudi untukku, karena sesungguhnya aku -demi Allah- tidak aman dari orang orang Yahudi atas kitabku (Al-Qur'an)."

Riwayat lain mengatakan,

إنى أكتب إلى قوم فأخاف أن يزيدوا على أو ينقصوا ، فتعلم السريانية

"Aku menulis kepada suatu kaum dan aku khawatir mereka akan menambahi dan mengurangi (surat)ku, maka belajarlah bahasa Suryani"

Zaid berkata, "Maka aku mempelajarinya selama 17 hari." [2]

Rasulullah menganjurkan untuk menyampaikan ilmu, mengarahkan pada metode penyampaian, dan berwasiat agar menyebarkan pengetahuan. Beliau adalah seorang pengajar, pendidik, hakim, qadhi, mufti, dan pemimpin. Menjadikan rumah Arqam sebagai tempat baginya dan para sahabat pada masa awal dakwah sirri. Sedangkan masjid dijadikan sebagai tempat ibadah, mengajar para sahabat, dan tempat menimba ilmu dan fatwa.

Rasulullah telah mengkhususkan waktunya untuk majlis kaum wanita. Beliau mengajar dan memberi fatwa kepada mereka. Aisyah berkata

نِعْمَ النساء نساء الأنصار، لم يمنعهن الحياء أن يتفقهن فى الدين

"sebaik-baik wanita kaum Anshar mereka tiak merasa malu untuk memperalam ilmu agama"[3]

Sementara itu, setiap wahyu turun beliau bersegera menghafalnya, dan para sahabat juga ikut menghafalnya sehingga banyak di antara mereka yang hafal. Setiap turun ayal dihafal dalam hati. Bangsa Arab, meskipun mereka buta huruf atau ummi, namun mempunyai kelebihan dalam kekuatan ingatan. Mereka mampu menghafal syair-syair, silsilah nasab, dan lain sebagainya.

Rasulullah mengangkat beberapa orang dari sahabat yang terbaik sebagai penulis wahyu, seperti Ali, Mu'awiyah, Ubay bin Ka'ab, dan Zaid bin Tsabit. Setiap kali turun ayat, beliau menyuruh untuk menulisnya dan menunjukkan kepada mereka agar menempatkan ayat pada suratnya, sehingga dapat tertulis dalam buku dan dihafal dalam hati. Sebagian di antara sahabat juga menulis Al-Qur'an atas inisiatif mereka sendiri tanpa diperintah Nabi.

Adapun As-Sunnah, para sahabat sangat tamak untuk menghadiri majlis Rasulullah, menimba ilmu darinya, dan meneladani beliau. Bila berhalangan hadir karena sibuk dengan pekerjaan dan mata pencaharian, mereka saling bergantian, maka yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir dalam majlis tersebut.

Dari Umar Radhiyallahu Anhu berkata, "Aku dan seorang tetanggaku dari kaum Anshar di Bani Umayyah bin Zaid, saling bergantian datang kepada Rasulullah. Sehari dia datang dan sehari aku yang datang. Bila aku yang datang, aku menceritakan kepadanya tentang wahyu dan lainnya pada hari itu. Demikian juga ketika dia yang datang akan melakukan hal yang sama."[4]

Al-Bara' bin 'Azib berkata, "Tidaklah setiap hadits kami mendengarnya dari Rasulullah, melainkan kami dapatkan dari sahabat yang menceritakannya kepada kami, karena kami sibuk menggembala onta. Bagi mereka yang ketinggalan, segera mencari tahu dari orang lain yang mendengar langsung dari Rasulullah atau dari orang yang lebih baik hafalannya di antara mereka."[5] Riwayat lain dari Al-Bara' bin Azib mengatakan, "Tidaklah semua di antara kami mendengar hadits Rasulullah karena faktor kesibukan, tetapi saat itu orang-orang belum lagi pernah berdusta, sehingga yang hadir bercerita kepada orang yang tidak menghadiri majlis Rasulullah."[6]

Para sahabat dan tabi'in pergi mencari hadits, dan menganjurkan untuk meriwayatkan dan mengajarkannya kepada orang lain karena ingin mendapatkan keutamaannya. Dari lbnu Abbas berkata, "Aku pernah mendengar Ali bin Abi Thalib berkata, 'Rasulullah datang kepada kami dan mendo'akan, 'Ya Allah, berilah rahmat untuk para khalifahku.' Kami bertanya, 'Wahai Rasulullah, siapa khalifahmu?' lawab beliau, 'Orang-orang yang meriwayatkan hadits dan sunnahku dan mengajarkannya kepada orang lain'."

PENULISAN HADITS

Sebelum datangnya agama Islam, bangsa Arab tidak dikenal dengan kemampuan membaca dan menulis, sehingga mereka lebih dikenal sebagai bangsa yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis). Namun demikian, ini tidak berarti bahwa di antara mereka tidak ada seorang pun yang bisa menulis dan membaca. Keadaan ini hanyalah sebagai ciri kebanyakan dari mereka. Sejarah telah mencatat bahwa sejumlah orang di antara mereka ada yang mampu membaca dan menulis, Adiy bin Zaid Al-Abbady (wafat 35 sebelum hijrah) misalnya, sudah belajar menulis hingga menguasainya, dan merupakan orang pertama yang menulis dengan bahasa Arab dalam surat yang ditujukan kepada Kisra. Sebagian orang Yahudi juga mengajarkan anak-anak di Madinah menulis Arab. Kota Makkah dengan pusat perdagangannya sebelum kenabian, menjadi saksi adanya para penulis dan orang-orang yang mampu membaca. Sebagian informasi menyatakan bahwa orang yang mampu membaca dan menulis di kota Makkah hanya sekitar 10 orang saja. Inilah yang dimaksud bahwa orang Arab adalah bangsa yang ummi.

Para orientalis dan para penulis yang mengikuti jejaknya menafsirkan kata ‘ummi" pada bangsa Arab sebagai awam terhadap agama. Mereka menafsirkan firman Allah,

هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُواْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

"Dia lah yang mengutus kepada kaum yang ummi (buta huruf) seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata" (Al-Jumu'ah: 2), bahwa ini bukan awam terhadap tulisan, akan tetapi awam terhadap agama, atau buta terhadap syariat dimana mereka tidak mempunyai pegangan kitab agama sebelum diturunkan Al-Qur'an.

Hal ini bertentangan dengan sifat Rasulullah dalam firman Allah,

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِىَّ ٱلْأُمِّىَّ

"Orang-orang yang mengikuti Rasul Nabi yang buta huruf' (Al-A'raf: 157). Maksud awam atau buta huruf ini dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya,

إنَّا أُمة أمية لا نكتب ولا نحسب، ا لشهر هكذا هكذا .

'Kami adalah umat yang buta huruf tidak dapat menulis dan menghitung, satu bulan adalah begini, dan begini..". Yakni kadang 29 hari dan terkadang 30 hari[7]

Banyak akhbar yang menunjukkan bahwa para penulis lebih banyak di Makkah daripada di Madinah. Hal ini dibuktikan bahwa Rasulullah mengizinkan para tawanan dari Makkah dalam perang Badar yang mampu menulis untuk mengajarkan menulis dan membaca kepada 10 anak Madinah sebagai tebusan diri mereka.

Kemudian pada masa Nabi tulis-menulis sudah tersebar luas, dimana Al-Qur'an sendiri menganjurkan untuk belajar dan membaca, dan Rasulullah sendiri mengangkat para penulis wahyu jumlahnya mencapai 40 orang. Nama-nama mereka disebut dalam kitab "At-Taratib Al-ldariyyah". Bahkan Baladzuri dalam kitab "Futuhuh Buldan" menyebutkan adanya sejumlah penulis wanita, di antara mereka: Ummul Mu'minin Hafshah, Ummu Kultsum binti Uqbah, Asy-Syifa' binti Abdullah Al-Qurasyiyah, Aisyah binti Sa'ad, Karimah binti Al-Miqdad. Dari Asy-Syifa' berkata, "Ketika aku sedang bersama Hafshah, Rasulullah masuk dan bersabda kepadaku,

ألا تعلمين هذه رقية النملة ، كما علمتيها الكتابة

"Tidakkah engkau mengajarkan padanya cara meruqyah akibat gigitan semut sebagaimana engkau telah mengajarkannya menulis"[8]

Para penulis semakin banyak di Madinah setelah hijrah, setelah perang Badar. Nabi menyuruh Abdullahbin Sa'id bin Ash -seorang penulis yang baik- agar mengajarkan menulis di Madinah, sebagaimana disebutkan Ibnu Abdil Barr dalam "Al-lsti'ab". Ibnu Hajar menyebutkan bahwa nama asli Abdullah bin Said bin Al-Ash adalah Al-Hakam, lalu Rasulullah memberinya nama dengan Abdullah, dan menyuruhnya agar mengajar menulis di Madinah.”[9]

Ada beberapa nash yang bertentangan dalam hal penulisan hadits, sebagian menunjukkan adanya larangan penulisan, dan sebagian lain membolehkan adanya penulisan hadits.

A. Riwayat yang melarang penulisan hadits:

1. Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda,

لا تكتبوا عنى، ومَنْ كتب عنى غير القرآن فليمحه، وحدثوا عنى ولا حَرَج، ومَنْ كذب على متعمدًا فليتبوأ مقعده من النار

"Janganlah menulis daripadaku, barangsiapa menulis daripadaku selain Al-Qur'an maka lenyapkanlah, dan ambillah hadits dariku dan tidak mengapa, barangsiapa yang berbohong dengan sengaja atas namaku maka akan mendapatkan tempat duduknya dari api neraka. "[10]

2. Dari Abu Hurairah berkata, "Rasulullah datang kepada kami dan sedangkan kami menulis hadits, lalu beliau bersabda,

ما هذا الذى تكتبون ؟ قلنا : أحاديث نسمعها منك ، قال : أكتابًا غير كتاب الله تريدون ؟ ما أضل الأمم قبلكم إلا بما اكتتبوا من الكتب مع كتاب الله تعالى

"Apa yang sedang kalian tulis?" Kami menjawab, "Hadits-hadits yang kami dengar dari engkau. Beliau berkata, "Apakah kalian menghendaki kitab selain Kitabullah? Tidaklah sesat umat sebelum kalian melainkan karena mereka menulis dari kitab-kitab selain Kitabullah. "[11]

B. Riwayat yang membolehkan penulisan hadits:

1. Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata "Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah, dengan maksud ingin menghafalnya, lalu kaum Quraisy melarangku, dan mereka mengatakan, 'Apakah kamu menulis segala sesuatu yang kamu dengar dari Rasulullah, sedangkan Rasulullah manusia biasa yang bicara di saat marah dan gembira?' Maka aku menahan dan berhenti menulis, lalu aku sampaikan kepada Rasulullah, kemudian beliau menunjuk pada mulut dengan jarinya dan bersabda,

اكتب ، فوالذى نفسى بيده ما خرج منه إلاحق

"Tulislah, demi jiwaku di tangan-Nya tiada sesuatu apa pun yang keluar darinya melainkan yang hak dan benar. "[12]

2. Dari Abu Hurairah berkata,

ما من أصحاب رسول الله صلي الله عليه وسلم أحد أكثر حديثًا عنه منى إلا ما كان من عبد الله بن عمرو فإنه كان يكتب ولا أكتب

"Tiada seorang pun dari sahabat Rasulullah yang lebih banyak haditsnya dariku kecuali Abdullah bin Amru (Al-Ash) karena dia menulis sedangkan aku tidak menulis."[13]

3. Dalam Ash-Shahihain disebutkan bahwa ketika Allah membukakan kota Makkah untuk Rasul-Nya, Rasulullah berdiri dan berkhutbah, lalu berdirilah Abu Syah -penduduk Yaman-dan berkata, "Wahai Rasulullah tulislah untukku," maka beliau bersabda, "Tulislah untuk Abu Syah "

4. Dari Abu Juhaifah berkata

قُلْتُ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ هَلْ عِنْدَكُمْ كِتَابٌ قَالَ لَا إِلَّا كِتَابُ اللَّهِ أَوْ فَهْمٌ أُعْطِيَهُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ أَوْ مَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ قَالَ قُلْتُ فَمَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ قَالَ الْعَقْلُ وَفَكَاكُ الْأَسِيرِ وَلَا يُقْتَلُ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ

"Aku bertanya kepada 'Ali bin Abu Thalib, "Apakah kalian memiliki kitab?" ia menjawab, "Tidak, kecuali Kitabullah atau pemahaman yang diberikan kepada seorang Muslim, atau apa yang ada pada lembaran ini." Aku katakan, "Apa yang ada dalam lembaran ini?" Dia menjawab, "Tebusan, membebaskan tawanan, dan jangan sampai seorang Muslim dibunuh demi membela seorang kafir." [HR. Bukhari]

5. Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah bersabda,

قيِّدوا العلم بالكتاب

"Ikatlah ilmu dengan buku."[14]

Atas dasar perbedaan nash inilah para ulama berselisih pendapat dalam penulisan hadits.

Ibnu Ash-Shalah berkata, "Para ulama berselisih pendapat dalam penulisan hadits, sebagian di antara mereka melarang penulisan hadits dan ilmu dan menyuruh untuk menghafalnya, dan sebagian yang lain membolehkannya.

Mereka yang melarang penulisan hadits adalah: Umar, Ibnu Mas'ud, Zaid bin Tsabit, Abu Musa, Abu Sa'id Al-Khudri, dan sekelompok lainnya dari sahabat dan tabi'in .

Sedangkan yang membolehkan penulisan hadits atau yang melakukannya adalah; Ali, Hasan bin Ali, Anas, Abdullah bin Amru bin Al-Ashy dan sekelompok lainnya dari sahabat dan tabi'in "[15]

Para ulama telah memadukan dua pendapat yang berselisih, antara mereka yang melarang dan membolehkan penulisan hadits sebagai berikut:

1. Larangan penulisan terjadi pada awal masa perkembangan Islam dikhawatirkan terjadi percampuran dan penggabungan antara hadits Nabi dan Al-Qur'an. Ketika keadaan sudah aman dan kondusif dan banyak para penghafal Al-Qur'an, Rasulullah mengizinkan untuk menulis hadits, dan larangan sebelumnya menjadi mansukh (terhapus).

2. Larangan hanya khusus pada penulisan hadits bersamaan dengan Al-Qur'an dalam satu lembar atau shahifah, karena khawatir terjadi kemiripan atau persamaan.

3. Larangan hanya bagi orang yang diyakini mampu menghafalnya karena dikhawatirkan akan bergantung pada tulisan, sedangkan diperbolehkan penulisan hanya bagi orang yang diyakini tidak mampu dalam menghafalnya seperti Abu Syah.

Maka dengan demikian, hilanglah kesan pertentangan antara nash-nash yang ada.

Dan tidak diragukan lagi bahwa adanya perbedaan ini hanyalah terjadi pada masa awal saja, kemudian ijma' kaum muslimin sepakat membolehkan penulisan tersebut. Ibnu Ash-Shalah berkata, "Lalu hilanglah perbedaan, dan kaum muslimin sepakat untuk membolehkannya. Kalaulah tidak dibukukan dalam bentuk tulisan tentu hadits itu akan lenyap pada masa-masa berikutnya."

Pada sebagian atsar dapat diambil sebagai pelajaran bahwa Rasulullah membolehkan penulisan hadits secara umum pada masa akhir hayatnya.

Imam Tirmidzi meriwayatkan bahwa Sa'ad bin Ubadah Al-Anshari memiliki sebuah shahifah yang berisi kumpulan hadits dan sunnah Rasulullah . Sedangkan anak sahabat ini meriwayatkan dari shahifah tersebut.

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa shahifah tersebut adalah bagian dari shahifah Abdullah bin Abi Aufa yang ditulisnya sendiri dengan tangannya, dan orang-orang membacanya dari apa yang telah dia kumpulkan dengan tulisannya.

Di antara shahifah-shahifah yang terkenal pada masa Nabi adalah shahifah “As-Sadiqah” yang ditulis deh Abdullah bin Amru bin Al-Ash dari Rasulullah. Para ahli Sirah menyebutkan bahwa shahifah tersebut berisi 1000 Hadits.

Abdullah bin Amru sangat mengagungkan shahifah ini; Dia mengatakah, 'Tidak ada membuatku senang kecuali dua hal; Ash-Shadiqah dan Al-Wahath. Adapun Ash-Shadiqah adalah sebuah shahifah yang aku tulis dari Rasulullah, sedangkan Al-Wahath adalah sebuah tanah pemberian yang disedekahkan oleh Amru bin Al-Ash."[16]

Shahifah ini dapat kita temukan di Musnad imam Ahmad dengan sanad dari Abdullah bin Amru.

Abu Hurairah mengumpulkan beberapa shahifah yang ditulis deh para sahabat. Salah satu shahifah diriwayatkan daripadanya oleh muridnya Hammam bin Munabbih, lalu dinisbatkan kepadanya, sehingga orang menyebutnya; Shahifah Hammam. Namun pada kenyataannya ia merupakan shahifah Abu Hurairah. Shahifah ini mempunyai peran yang sangat besar dalam pembukuan hadits, karena sampai ke tangan kita dengan kondisi lengkap dan benar seperti yang diriwayatkan dan dibukukan oleh Hammam dari Abu Hurairah. Penulis buku “Kasyfu Azh-Zhunun" menyebutnya sebagai shahifah yang shahih. Keberadaannya secara utuh ada pada Musnad Ahmad, sedangkan dalam Shahih Bukhari dan lainnya secara terpisah dengan beberapa bab.

PEMBUKUAN HADITS

Pembukuan berbeda dengan penulisan. Seseorang yang menulis sebuah shahifah atau lebih maka disebut dengan penulisan. Sedangkan pembukuan adalah mengumpulkan shahifah yang sudah tertulis dan yang dihafal dalam dada, lalu menyusunnya sehingga menjadi dalam satu buku. Tentang penulisan sudah kita jelaskan pada pembahasan yang lalu, dan pembicaraan kita di sini adalah tentang pembukuan.

Dari Urwah bin Az-Zubair bahwasanya Umarbin Al-Khatthab ingin menulis sunnah-sunrvah Nabi, lalu beliau meminta fatwa dari para sahabat tentang hal itu. Mereka menyarankan untuk menulisnya. Kemudian Umar beristikharah selama sebulan. Hingga pada suatu pagi, beliau akhirnya mendapatkan kemantapan hati, lalu berkata, "Suatu ketika aku ingin menulis sunnah-sunnah, dan aku ingat suatu kaum terdahulu mereka menulis buku dan meninggalkan Kitabullah. Demi Allah, aku tidak akan mengotori Kitabullah dengan suatu apa pun"[17]

Ini menunjukkan bahwa Umar ingin menulis As-Sunnah dan membukukannya, namun khawatir kaum muslimin akan terlena mempelajarinya dan melalaikan Kitabullah, atau khawatir akan tercampur antara As-Sunnah dengan Kitabullah. Seandainya Umar tidak melihat pentingnya pembukuan hadits dan pengumpulannya tentulah tidak menginginkan hal itu. Ia hanya menahan diri dari larangan yang telah dibuatnya.

Adapun Atsar dari sebagian tabi'in tentang larangan menulis fatwa mereka itu karena sebab yang lain, yaitu kekhawatiran mereka akan bercampurnya hadits dengan pendapat mereka.

Upaya untuk mengumpulkan dan membukukan hadits telah dilakukan pertama kali oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Hal-hal yang mendorong untuk melakukan pengumpulan dan pembukuan adalah sebagai berikut:

  1. Tidak adanya larangan pembukuan, sedangkan Al-Qur'an telah dihafal oleh ribuan orang, dan telah dikumpulkan dan dibukukan pada masa Utsman, sehingga dapat dibedakan secara jelas antara Al-Qur'an dengan Hadits dan tidak ada kemungkinan untuk tercampur antara keduanya.
  2. Khawatir akan hilangnya hadits, karena ingatan kuat yang menjadi kelebihan orang Arab semakin melemah, sedangkan para ulama telah menyebar di beberapa penjuru negeri Islam setelah terjadi perluasan wilayah kekuasaannya, dan masing-masing dari mereka mempunyai ilmu, maka diperlukan pembukuan Hadits Rasulullah untuk menjaga agar tidak hilang.
  3. Munculnya pemalsuan hadits akibat perselisihan politik dan madzhab setelah terjadinya fitnah, dan terpecahnya kaum muslimin menjadi pengikut Ali dan pengikut Mu'awiyah, dan Khawarij yang keluar dari keduanya. Masing-masing golongan berusaha memperkuat madzhabnya dengan cara menakwil Al-Qur'an bukan yang sebenarnya, atau membuat nash-nash hadits dan menlsbatkan kepada Rasulullah apa yang tidak beliau katakan untuk memperkuat pendapat mereka. Perbuatan demikian dilakukan oleh kelompok Syi'ah. Sedangkan Khawarij tidak membolehkan perbuatan dusta dan menganggap kafir bagi orang yang berbuat dosa besar, apalagi berdusta kepada Rasulullah.

Diriwayatkan dari Ibnu Syihab berkata, "Kalaulah tidak karena adanya hadits-hadits yang datang dari belahan Timur[18] yang tidak kami ketahui keberadaannya, niscaya aku tidak akan menulis dan tidak mengizinkan penulisan hadits."

Karena itulah, Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Abu Bakar Muhamad bin Amru bin Hazm, pejabat kota Madinah, mengatakan, "Lihatlah kepada Hadits Rasulullah, atau hadits (yang diriwayatkan oleh 'Amrah lalu tulislah, karena aku khawatir akan lenyapnya ilmu dan meninggal orang yang membawanya."[19]

Dalam sebuah riwayat, "Bahwasanya Umar bin Abdul Aziz memerintahkannya untuk menulis ilmu dari 'Amrah binti Abdurrahman dan Al-Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar."

Dan Umar juga menulis surat ke negeri-negeri yang lain, kepada para penguasa dan yang lainnya, "Lihat dan perhatikan kepada Hadits Rasulullah lalu kumpulkanlah."

Akan tetapi upaya pengumpulan ini belum menyeluruh dan sempurna, karena Umar bin Abdul Aziz wafat sebelum Abu Bakar bin Hazm mengirimkan hasil pembukuan hadits kepadanya.

Para ahli hadits memandang bahwa upaya Umar bin Abdul Aziz merupakan langkah awal dari pembukuan hadits. Mereka mengatakan, "Pembukuan hadits ini terjadi pada penghujung tahun ke 100 pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz atas perintahnya."[20]

Adapun upaya pembukuan yang sebenarnya dan menyeluruh dilakukan oleh Imam Muhammad bin Syihab Az-Zuhri, yang menyambut seruan khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan tulus yang didasari karena kecintaan pada hadits Rasulullah dan keinginannya untuk melakukan pengumpulan. Upaya yang menyeluruh ini menjadi permulaan bagi para penyusun hadits berikutnya yang tersebar di berbagai negeri. Para ulama mengatakan, "Seandainya tidak ada Az-Zuhri tentu akan banyak Sunnah Rasulullah yang lenyap." Mereka berkata, "Orang yang pertama kali membukukan ilmu adalah Ibnu Syihab." Dari Ibnu Syihab berkata, "Belum ada seorang pun sebelumku yang membukukan ilmu ini kecuali pembukuan yang aku lakukan."[21]

Pembukuan hadits pada mulanya belum disusun secara sistematis dan tidak berdasarkan pada urutan bab-bab pembahasan ilmu. Upaya pembukuan ini kemudian banyak dilakukan oleh orang setelah Az-Zuhri dengan cara yang berbeda-beda, sebagian besar di antaranya mengumpulkan hadits Nabi yang bercampur dengan perkataan sahabat dan fatwa para tabi'in. Kemudian para ulama hadits menyusunnya secara sistematis dengan menggunakan metode berdasarkan sanad dan berdasarkan bab.

Ibnu Hajar berkata, "Orang yang pertama melakukan demikian itu adalah Ar-Rabi' bin Shubaih (wafat 16 H) dan Said bin Abi Arubah (wafat 156 H) hingga kepada para ulama thabaqah (lapisan) ketiga (dari kalangan tabi'in). Imam Malik menyusun Al-Muwaththa' di Madinah, Abdullah bin Juraij di Makkah, Al- Auza'i di Syam, Sufyan Ats-Tsauri di Kufah, Hamad bin Salamah bin Dinar di Bashrah."[22]

Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari dalam Syarh Kitab Alfiyah Al-Musthalah karya Al-Iraqy mengatakan, "Orang yang pertama menyusun secara mutlak adalah Ibnu Juraij di Makkah, Malik dan Ibnu Abi Dzi'b di Madinah, Al-Auza'i di Syam, Ats-Tsauri di Kufah, Said bin Abi Arubah dan Ar-Rabi' bin Shubaih dan Hamad bin Salamah di Bashrah, Ma'mar bin Rasyid dan Khalid bin Jamil di Yaman, Ibnu Al-Mubarak di Khurasan. Mereka adalah satu zaman dan satu generasi, sehingga tidak diketahui siapa di antara mereka yang lebih dahulu. Demikian ini disebutkan oleh Syekh Ibnu Hajar dan Al Iraqi, dan juga disebutkan deh yang lain. Di antara mereka juga: Husyaim bin Basyir Al Wasithi, Abdurrazzaq bin Haman As-Shan'ani, Said bin Mansur, dan Ibnu Abi Syaibah."[23]

Buku-buku yang ditulis pada masa itu dan kini yang sudah dicetak dan beredar, antara lain:

  1. Al-Muwaththa' karya Imam Malik bin Anas
  2. Al-Mushannaf karya Abdurrazzaq bin Hammam As-Shan'ani
  3. As-Sunan karya Said bin Mansur
  4. Al-Mushannaf karya Abu Bakar bin Abu Syaibah

Karya-karya tersebut tidak hanya terbatas pada kumpulan hadits-hadits Rasulullah, akan tetapi bercampur antara hadits Rasulullah, perkataan para sahabat, dan fatwa para tabi'in. Kemudian, para ulama pada periode berikutnya memisahkan pembukuan hanya pada hadits Rasulullah saja.

Metode Pembukuan Hadits dan Karya Terpopuler di Bidang Itu

Para penulis mempunyai beberapa metode dalam penyusunan hadits. Berikut ini metode dan karya utama mereka:

Metode Pertama: Metode Masanid

Al-Masanid, jamak dari sanad, maksudnya: Buku-buku yazng berisi tentang kumpulan hadits setiap sahabat secara tersendiri, baik hadits shahih, hasan, atau dhaif.

Urutan nama-nama para sahabat di dalam musnad kadang berdasarkan huruf hijaiyah atau alfabet-sebagaimana dilakukan oleh banyak ulama-, dan ini paling mudah dipahami, kadang juga berdasarkan pada kabilah dan suku, atau berdasarkan yang paling dahulu masuk Islam, atau berdasarkan negara.

Pada sebagian musnad kadang hanya terdapat kumpulan hadits salah seorang sahabat saja, atau hadits sekelompok para sahabat seperti sepuluh orang yang dijamin masuk surga.[24]

Al-Masanid yang dibuat oleh para ulama hadits jumlahnya banyak. Al-Kittani dalam kitabnya Ar-Risalah Al-Mustathrafah menyebutkan jumlahnya sebanyak 82 musnad, kemudian berkata, "Musnad itu jumlahnya banyak selain yang telah kami sebutkan."[25]

Adapun musnad-musnad yang paling terkenal adalah :

  1. Musnad Abu Dawud Sulaiman bin Dawud At-Thayalisi (wafat 204 H)[26]
  2. Musnad Abu Bakar Abdullah bin Az-Zubair Al-Humaidy (wafat 219 H)
  3. Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H)
  4. Musnad Abu Bakar Ahmad bin Amru Al-Bazzar (wafat 292 H)
  5. Musnad Abu Ya'la Ahmad bin Ali Al-Mutsanna Al-Mushili (wafat 307 H)

Musnad-musnad ini -sebagaimana disebutkan sebelumnya- tidak hanya berisi kumpulan hadits shahih saja, tetapi mencakup semua hadits shahih, hasan dan dhaif, dan tidak berurutan berdasarkan bab-bab fikih, karena urutan tersebut harus menggabungkan musnad setiap sahabat tanpa melihat obyek pembahasan riwayatnya. Hal ini akan mempersulit bagi orang yang ingin mempelajarinya karena kesulitan mendapatkan hadits-hadits hukum fikih itu sendiri, atau hadits-hadits tentang suatu permasalahan.

Metode Kedua: Al-Ma’ajim

Al-Ma 'ajim adalah jamak dari mu'jam. Adapun menurut istilah para ahli hadits adalah: Buku yang berisi kumpulan hadits-hadits yang berurutan berdasarkan nama-nama sahabat, atau guru-guru penyusun, atau negeri, sesuai dengan huruf hijaiyah.

Adapun kitab-kitab mu'jam yang terkenal, antara lain:

  1. Al-Mu'jam Al-Kabir, karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad At-Thabarani (wafat 360 H), adalah berisi musnad-musnad para sahabat yang disusun berdasarkan huruf mu'jam (kamus), kecuali musnad Abu Hurairah karena disendirikan dalam satu buku. Ada yang mengatakan: Berisi 60.000 hadits. Ibnu Dihyah berkata bahwa dia adalah mu'jam terbesar di dunia. ]ika mereka menyebut "Al-Mu'jam", maka kitab inilah yang dimaksud. Tapi jika kitab lain yang dimaksud maka ada penjelasan dengan kata lain.
  2. Al-Mu'jam Al-Awsath, karya Abui Qasim Sulaiman bin Ahmad At-Thabarani, disusun berdasarkan nama-nama gurunya yang jumlahnya sekitar 2000 orang. Ada yang mengatakan: di dalamnya terdapat 30.000 hadits.
  3. Al-Mu'jam As-Shaghir, karya At-Thabarani juga, berisi 1000 orang dari para gurunya, kebanyakan setiap satu hadits diriwayatkan dari satu gurunya. Ada yang mengatakan: berisi 20.000 hadits.
  4. Mu'jam Al-Buldan, karya Abu Ya'la Ahmad bin Ali Al-Mushili (wafat 307 H).

Metode Ketiga: Pengumpulan Hadits Berdasarkan Semua Bab Pembahasan Agama, Seperti Kitab-kitab Al-Jawami'

Al-Jawami' jamak dari jaami'. Sedang jawami' dalam karya hadist adalah apa yang disusun dan dibukukan oleh pengarangnya terhadap semua pembahasan agama. Maka dalam kitab semodel ini, Anda akan menemukan bab tentang iman (akidah), thaharah, ibadah, muamalat, pernikahan, sirah, riwayat hidup, tafsir, adab, penyucian jiwa, fitnah, dan lain sebagainya.

Kitab-kitab Jami' yang terkenal adalah:

  1. Al-Jami' Ash-Shahih, karya Imam Abu Abdiliah Muhamad bin Ismail Al-Bukhari (wafat 256 H), orang yang pertama menyusun dan membukukan hadits shahih, akan tetapi belum mencakup semuanya. Kitab ini disusun berdasarkan urutan bab, diawali dengan Kitab Bad'u Al-Wahyu, dan Kitabul Iman. Kemudian dilanjutkan dengan Kitabul llmi dan lainnya hingga berakhir dengan Kitabut Tauhid. Jumlah semuanya ada 97 kitab. Pada setiap kitab terbagi menjadi beberapa bab, dan pada setiap bab terdapat sejumlah hadits.

    Kitab Shahih Bukhari ini mendapat perhatian yang cukup besar dari para ulama, diantaranya dengan membuat syarahnya, dan syarh yang paling baik adalah kitab Fathul Bari bi Syarhi Shahihi Al-Bukhari, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H), dan Umdatul Qari, karya Badrudin Al-Aini (wafat 855 H), dan Irsyadus Sari Ila Shahihi Al-Bukhari, karya Al-Qasthalani (wafat 922 H). Semuanya dicetak.

  2. Al-Jami' Ash-Shahih, karya Imam Abui Husain Muslim bin Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi (wafat 261 H), berisi kumpulan riwayat hadits yang shahih saja sesuai dengan syarat yang ditentukan oleh Imam Muslim, dimulai dengan Kitab Iman, kemudian Kitab Thaharah, Kitab Haid, Kitab Shalat, dan diakhiri dengan Kitab Tafsir. Jumlah semuanya ada 54 kitab. Setiap kitab meliputi beberapa bab, dan setiap bab terdiri dari sejumlah hadits.

    Menurut para jumhur ulama hadits, Shahih Muslim menempati peringkat kedua setelah Shahih Bukhari. Sedangkan menurut sebagian ulama wilayah Maghrib bahwa Shahih Muslim lebih tinggi dari Shahih Bukhari.

    Shahih Muslim juga mendapat penerimaan dan perhatian yang sangat besar oleh para ulama, diantaranya dengan cara membuat syarh terhadap kitab tersebut. Di antara kitab syarh yang terbaik adalah: "Al-Minhaj fi Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj" karya Abu Zakaria Muhyiddin An-Nawawi (wafat 676 H), dicetak berulang kali, dan kitab "Al-Ikmal fi Syarh Shahih Muslim", karya Al-Qadhi 'Iyadh (wafat 544 H), dan kitab "Ad-Dibaj 'Ala Shahih Muslim bin Al-Hajjaj" karya Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi (wafat 911 H), sudah dicetak.

  3. AJ-Jami' Ash-Shahih karya Imam Abu Isa Muhamad bin Isa At-Tirmidzi (wafat 279 H), merupakan kumpulan hadits shahih, hasan, dan dhaif. Namun sebagian besar dijelaskan derajat hadits tersebut, dengan urutan bab-bab berikut: bab Thaharah, bab Shalat, bab Witir, bab Shalat Jum'at, bab Shalat 'Idain (Dua hari raya), bab Safar, bab Zakat, bab Puasa, bab Haji, bab Jenazah, bab Nikah, bab Persusuan, bab Thalak dan Li'an, bab Jual-beli, hingga diakhiri dengan bab Al-Manaqib.

    Di antara syarh dari kitab Tirmidzi ini: "Aridhatul Ahwadzi 'Ala At-Tirmidzi"[27] karya Al-Hafidz Abu Bakar Muhamad bin Abdullah Al-Isybili, atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Al-Arabi Al-Maliki (wafat 543 H). Kemudian disyarh oleh Al-Hafidz Abdurrahman bin Ahmad Ibnu Rajab Al-Hanbali (wafat 795 H).

    Kitab “Jami' At-Tirmidzi" ini biasanya dinamakan dengan "Sunan At-Tirmidzi".

Demikianlah, dan di samping itu juga telah ditulis kitab-kitab mustakhraj atas Shahih Bukhari, Shahih Muslim atau keduanya secara bersama. Di samping juga telah ditulis kitab-kitab mustadrak atas kitab-kitab jami'. Yang paling masyhur diantaranya adalah: Al-Mustadrak 'Ala Ash-Shahihain karya Abu Abdillah Al-Hakim (w. 405 H)

Metode Keempat: Penulisan Hadits Berdasarkan Pembahasan Fikih

Karya ini tidak mencakup semua pembahasan agama, tapi sebagian besarnya saja, khususnya masalah fikih. Metode yang dipakai dalam penyusunan kitab ini adalah dengan menyebutkan bab-bab Fikih secara berurutan, dimulai dengan kitab Thaharah, kemudian kitab Shalat, Ibadah, Muamalat, dan seluruh bab yang berkenaan dengan hukum dan fikih. Dan kadang pula menyebutkan judul yang tidak berkaitan dengan masalah fikih seperti: kitab Iman, atau Adab.

Karya terkenal dengan metode ini:

  1. "As-Sunan" yaitu kitab-kitab yang disusun berdasarkan bab-bab tentang fikih, dan hanya memuat hadits yang marfu' saja agar dijadikan sebagai sumber bagi para fuqaha' dalam mengambil kesimpulan hukum.

    As-Sunan berbeda dengan Al-jawami. Dalam As-Sunan tidak terdapat pembahasan tentang akidah, sirah, manaqib, dan lain sebagainya, tapi hanya terbatas pada masalah fikih dan hadits-hadits hukum saja. Al-Kittani mengatakan, "Diantara-nya kitab-kitab yang dikenal dengan nama As-Sunan, menurut istilah mereka adalah kitab-kitab yang disusun berdasarkan urutan bab-bab tentang fikih mulai dari bab Iman, Thaharah, Zakat, dan seterusnya. Tidak ada di dalamnya sedikit pun hadits yang mauquf, sebab mauquf menurut mereka tidak dinamakan sunnah, tapi hadits."[28]

    Kitab-kitab "As-Sunan" yang terkenal adalah:

    1. "Sunan Abi Dawud", karya Sulaiman bin Asy'ats As-Sijistani (wafat 275 H)
    2. "Sunan An-Nasa’i" yang dinamakan dengan "Al-Mujtaba", karya Abdurrahman Ahmad bin Syu'aib An-Nasa'i (wafat 303 H).
    3. "Sunan Ibnu Majah" karya Muhammad bin Yazid bin Majah Al-Qazwini (wafat 275 H)
    4. "Sunan As-Syafi’i” karya Imam Muhammad bin Idris As-Syafi'i (wafat 204 H)
    5. "Sunan Ad-Darimi" karya Abdullah bin Abdurrahman Ad-Darimi (wafat 255 H)
    6. "Sunan Ad~Dnruquthni" karya Ali bin Umar Ad-Daruquthni (wafat 385 H)
    7. "Sunan Al-Baihaqi" karya Abu Bakar Ahmad bin Husein Al~Baihaqi (wafat 458 H). Semua kitab sunan ini-Alhamdulillah- telah diterbitkan.
  2. Al-Mushannafat, jamak mushannaf. Menurut istilah ahli hadits adalah sebuah kitab yang disusun berdasarkan urutan bab-bab tentang fikih, yang meliputi hadits marfu', mauquf dan maqthu', atau didalamnya terdapat hadits-hadits Nabi, perkataan sahabat, fatwa-fatwa tabi'in, dan terkadang fatwa tabi'ut tabi'in.

    Perbedaan antara mushannaf dengan sunan, bahwa mushannaf mencakup hadits-hadits marfu’, mauquf, dan maqthu’. Sedangkan kitab sunan tidak mencakup selain hadits yang marfu' kecuali sedikit sekali. Karya-karya yang terkenal dalam model ini adalah:

    1. Al-Mushannaf" karya Abu Bakar Abdurrazzaq bin Hammam Ash-Shan'ani (wafat 211 H)
    2. "Al-Mushannaf" karya Abu Bakar Abdullah bin Muhamad bin Abi Syaibah Al-Kufi (wafat 235 H), terdapat beberapa Juz bagian darinya.
    3. "Al-Mushannaf” karya Baqiyy bin Makhlad Al-Qurthubi (wafat 276 H)
  3. Al-Muwaththa'at

    Jamak dari muwaththa'. Menurut istilah ahli hadits adalah sebuah kitab yang tersusun berdasarkan urutan bab-bab fikih dan mencakup hadits-hadits marfu', mauquf, dan maqthu', sama seperti mushannaf, meskipun namanya berbeda.

    Karya-karya muwaththa'at yang terkenal:

    1. Al-Muwaththa' karya Imam Malik bin Anas Al-Madani (wafat 179 H), dicetak berulang kali.
    2. Al-Muwaththa' karya Ibnu Abi Dzi'b Muhamad bin Abdurrahman Al-Madani (wafat 158 H)
    3. Al-Muwaththa' karya Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad Al-Marwazi (293 H)

Metode Kelima: Kitab-kitab yang Penyusunnya Menyatakan Komitmen Hanya Menuliskan Hadits-hadits yang Shahih

Selain metode-metode penyusunan yang telah disebutkan di atas, sebagian ulama tetap komitmen menyusun kitab-kitab shahih, di antaranya: Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Al-Muwaththa' karya Imam Malik, dan Al-Mustadrak karya Al-Hakim. Selain kitab-kitab ini, ada beberapa kitab yang disusun dengan kriteria shahih oleh penulisnya:

  1. "Shahih Ibnu Khuzaimah" karya Abi Abdillah Muhammad bin lshaqbin Khuzaimah bin Al-Mughirah As-Sulami An-Naisaburi, guru Ibnu Hibban (wafat 311 H).
  2. "Shahih Ibnu Hibban" karya Abu Hatim Muhammad bin Hibban (wafat 354 H). As-Sakhawi berkata, "Ada yang mengatakan bahwa buku yang paling shahih setelah (Shahih) Bukhari dan Muslim adalah: Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. [29]

Metode Keenam: Karya Tematik

Sebagian ahli hadits menyusun karya-karya tematik yang terbatas pada hadits-hadits tertentu berkaitan dengan tema tertentu, di antaranya:

  1. At-Targhib wa At-Tarhib: yaitu kitab-kitab hadits yang berisi kumpulan hadits tentang targhib (motivasi) terhadap perintah agama, atau tarhib (ancaman) terhadap larangan-nya, seperti targhib untuk birrul walidain (anjuran taat kepada kedua orangtua), dan tarhib untuk tidak durhaka kepada keduanya.

    Karya-karya tentang hal ini antara lain:

    1. At-Targhib wa At-Tarhib, karya Zakiyuddin Abdul Azhim bin Abdil Qawiy Al-Mundziri (wafat 656 H), dicetak beberapa kali.
    2. At-Targhib wa At-Tarhib, karya Abi Hafsh Umar bin Ahmad, dikenal dengan nama Ibnu Syahin (wafat 385 H)
  2. Buku tentang kezuhudan, keutamaan amal, adab, dan akhlak, antara lain:

    1. Kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H), telah dicetak.
    2. Kitab Az-Zuhd karya Abdullah bin Al-Mubarak (wafat 181 H), telah dicetak.
    3. Kitab Akhlaq An-Nabi karya Abi Syaikh Abi Muhamad Abdullah bin Muhamad Al-Ashbahani (wafat 369 H)
    4. Kitab Riyadh As-Shalihin min Kalam Sayyid Al-Mursalin karya Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi (wafat 676 H), dicetak beberapa kali.

Metode Ketujuh: Kumpulan Hadits Hukum Fikih (Kutubul Ahkam)

Yaitu buku-buku yang memuat tentang hadits-hadits hukum fikih saja, diantaranya yang terkenal adalah:

  1. Al-Ahkam, karya Abdul Ghani bin Abdul Wahid Al-Maqdisi (wafat 600 H)
  2. Umdatul Ahkam 'an Sayyidil Anam, karya Al Maqdisi juga.
  3. Al-Imam fi Haditsil Ahkam, karya Muhammad bin Ali, yang dikenal dengan Ibnu Daqiq Al-'Ied (wafat 702 H)
  4. Al Ilmam bi Ahaditsil Ahkam, karya Ibnu Daqiq Al-'Ied juga, ringkasan dari kitab "Al-Imam".
  5. Al-Muntaqa fil Ahkam, karya Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah Al-Harrani (wafat 652 H)
  6. Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, karya Al-Hafizh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-'Asqalani (wafat 852 H)

    Kitab-kitab tersebut telah disyarah dan sebagian diantaranya telah dicetak berulang kali, baik kitab aslinya atau dengan syarahnya. Di antara kitab yang sudah disyarah adalah:

    1. Subulus Salam Syarh Bulughul Maram, karya As-Shan'ani
    2. Nailul Authar Syarh Al-Muntaya, karya Asy-Syaukani

Metode Kedelapan: Merangkaikan Al-Majami'

Al-Majami' jamak majma' yaitu setiap kitab yang berisi kumpulan beberapa mushannaf dan disusun berdasarkan urutan mushannaf yang telah dikumpulkan tersebut.

Di antara majami' yang terkenal adalah:

  1. Jami' Al-Ushul min Ahadits Ar-Rasul, karya Abu As-Sa'adat, dikenal dengan sebutan Ibnu Al-Atsir (wafat 605 H), di dalamnya berisi kumpulan Kutubus sittah (kitab hadits yang enam) yaitu: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasai, dan yang keenam adalah Muwaththa Imam Malik sebagai ganti dari Sunan Ibnu Majah, karena didalamnya banyak terdapat hadits-hadits dhaif. Oleh karenanya, sebagian huffazh menghendaki sekiranya Musnad Ad-Darimi menempati posisi tersebut.
  2. Majma' Az-Zawa’id wa Manba'u Al-Fawa'id, karya AI-Hafizh Ali bin Abu Bakar Al-Haitsami (wafat 807H), berisi kumpulan hadits-hadits dalam: Musnad Ahmad, Musnad Abu Ya'la Al-Mushili, Musnad Abu Bakar Al-Bazzar, dan Mu'jam Ath-Thabarani yang tiga: Al-Mu'jam Al-Kabir, Al-Mu’jam Al-Awsath, dan Al-Mu’jam Ash-Shaghir, yang tidak terdapat dalam kutubus sittah.
  3. Jam’u Al-Fawa’id min jami’ Al-Ushul wa Majma' Az-Zawa'id, karya Muhammad bin Muhammad bin Sulaiman Al-Maghribi (wafat 1094 H), yang merupakan kumpulan dari dua kitab yaitu: kitab Ibnu Al-Atsir dan kitab Al-Haitsami, dan ditambah dengan tambahan dari Musnad Ad-Darimi dan Sunan Ibnu Majah. Kemudian muncul sebuah ensiklopedia baru yang memuat lebih dari 10.000 hadits dari 14 kitab, yaitu: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Al-Muwaththa', Sunan yang empat: Abu Dawud, An-Nasa'i, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, Musnad Ad-Darimi, Musnad Ahmad, Musnad Abu Ya'la, Musnad Al-Bazzar, dan Mu'jam Ath-Thabarani yang tiga: Al-Kabir, Al-Awsath, dan Ash-Shaghir.

Metode Kesembilan: Al-Ajza ’ (jamak dari juz)

Yaitu setiap kitab kecil yang berisi kumpulan riwayat seorang perawi hadits, atau yang berkaitan dengan satu permasalahan secara terperinci, seperti:

  1. Juz’u Ma Rawahu Abu Hanifah 'an Ash-Shahabah, karya Ustadz Abu Ma'syar Abdul Karim bin Abdus Shamad Ath-Thabari.
  2. ]uz'u Raf'il Yadain fi As-Shalat, karya Al-Bukhari.

Metode Kesepuluh: Al-Athraf

Yaitu setiap kitab yang hanya menyebutkan sebagian hadits yang dapat menunjukkan lanjutan hadits yang dimaksud, kemudian mengumpulkan seluruh sanadnya, baik sanad satu kitab ataupun sanad dari beberapa kitab. Para penulis biasanya menyusun urutannya berdasarkan musnad para sahabat dengan susunan nama sesuai huruf-huruf hijaiyah, lalu menyebutkan pangkal hadits yang dapat menunjukkan ujungnya, seperti hadits nabi: "Kullukum ra'in...", “Buniyal Islamu ‘Ala Khamsin...", dan “Al-Imanu Bidh'un wa Sab'una Syu'batan...", demikian seterusnya.

Kitab-kitab Athraf yang terkenal adalah:

  1. Athrafu Ash-Shahihain, karya Muhammad Khalaf bin Muhammad Al-Wasithi (wafat 401 H)
  2. Al-lsyraf' Ala Ma'rifati Al-Athraf- atau Athraf As-Sunan Al-Arba'ah- karya Al-Hafizh Abui Qasim Ali bin Hasan, dikenal dengan sebutan Ibnu Asakir (wafat 571 H)
  3. Tuhfatul Asyraf biMa'rifatil Athraf atau Athraf Al-Kutub As-Sittah, karya Al Hafizh Abul Hajjaj Yusuf bin Abdurrahman Al-Mizzi (w 742 H)
  4. Ithaful Maharah bi Athrafil Asyarah, karya Al Hafizh Ahmad bin Ali Ibnu Hajar Al-'Asqalani (w 852 H). Al-Asyarah atau kitab yang sepuluh adalah: Muwaththa', Musnad Asy-Syafi'i, Musnad Ahmad, Musnad Ad-Darimi, Shahih Ibnu Khuzaimah, Muntaqa Ibnul Jarud, Shahih Ibnu Hibban, Mustadrak Al-Hakim, Mustakhraj Abi Uwanah, Syarh Ma'ani Al-Atsar karya Ath-Thahawi, dan Sunan Ad-Daraquthni. Jumlahnya menjadi 11 karena Shahih Ibnu Khuzaimah hanya berisi seperempat-nya saja.
  5. Athraf Al-Masanid Al-Asyarah, karya Abul Abbas Ahmad bin Muhammad Al-Buwaishiri (w 840 H). Al-Asyarah atau musnad yang sepuluh adalah: Musnad Abu Dawud At-Thayalisi, Musnad Abu Bakar Al-Humaidi, Musnad Musaddad bin Musarhad, Musnad Muhamad bin Yahya Al-Adani, Musnad Ishaq bin Rahawaih, Musnad Abu Bakar bin Abi Syaibah, Musnad Ahmad bin Mani', Musnad 'Abd bin Humaid, Musnad Al-Harits bin Muhammad bin Abi Usamah, dan Musnad Abi Ya'la Al-Mushili.
  6. Dzakha'ir Al-Mawarits fi Ad-Dalalah ‘Ala Mawadhi' Al-Hadits, ini merupakan kumpulan athraf kutubus sittah dan Muwaththa' Imam Malik, karya Abdul Ghani An-Nabulsi (wafat 1143 H)

Metode Kesebelas: kumpulan Hadits-hadits yang masyhur diucapkan di lisan atau tematik.

Pada beberapa kurun waktu, para ulama banyak memperhatikan penulisan hadits-hadits yang masyhur diucapkan di kalangan masyarakat, lalu mereka menjelaskan derajat hadits tersebut dari segi dhaif atau tttaudhu'nya, atau yang tidak jelas asalnya, meskipun sudah sedemikian masyhur. Di antara ulama juga ada yang memperhatikan penulisan hadits palsu secara khusus.

Buku-buku yang terkenal dalam hal ini antara lain:

  1. Al La'ali' Al-Mantsurah fi Al-Ahadits Al-Musytaharah min Ma Allafahu At Thab'u wa Laisa Lahu Ashlun fi Asy-Syar'i, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar (wafat 852 H)
  2. Al-Maqashid Al-Hasanah fi Bayani Katsirin Minal Ahadits Al-Musytaharah 'alal Alsinah, karya Muhammad bin Abdurrahman As-Sakhawi (wafat 902 H)
  3. Ad-Durar Al-Muntatsirah fi Al-Ahadits Al-Musytaharah, karya jalaluddm As-Suyuthi (wafat 911 H)
  4. Tamyizu At Thayyib mm Al-Khabits fi Ma Yadhurru 'ala Alsinati An-Nas min Al-Hadts, karya Abdurrahman bin Ali As-Syaibani (wafat 944 H)
  5. Kasyful Khafa' wa Muzilul Ilbas Amma Isytahara minal Ahadits 'ala Alsinati An-Nas, karya Ismail bin Muhammad Al-Ajluni (wafat 1162 H)
  6. Asna Al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalifil Maratib, karya Muhammad bin Darwisy, yang terkenal dengan nama Al-Huut AI-Bairuni (wafat 1276 H)
  7. Al Maudhu'at, karya Ibnu Al Jauzy (wafat 597 H)
  8. Al-Manar Al-Munif fi Ash-Shahih wa Adh-Dhaif, karya Ibnu Qayyum Al-Jauziyah (wafat 751 H), ditahqiq Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah.
  9. Al-La’ali' Al-Mashnu'ah fi Al-Ahadits Al-Maudhu'ah, karya Jalaluddm As-Suyuthi (wafat 911 H)
  10. Al-Mashnu fi Ma'rifati Al-Hadits Al-Maudhu' karya Allamah Nuruddin Ali bin Muhammad, yang dikenal dengan nama Al-Mulla Ali Al-Qari Al-Harawi (wafat 1014 H), tahqiq: Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah.
  11. Al-Asrar Al-Marfu'ah fi Al-Akhbar Al-Maudhu’ah, yang dikenal dengan, Al-Maudhu'at Al-Kubra, karya Al-Mulla Ali Al-Qari', tahqiq: Muhammad As-Shabbagh,
  12. Al-Fawaid Al-Majmu’ah fi AI-Ahadits Al-Maudhu'ah, karya Asy-Syaukani (wafat 125 H)
  13. Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha'ifah, karya Syaikh Nashirudin Albani.

Metode Keduabelas: Az-Zawa’id

Yang dimaksud dengan Az-Zawa'id adalah karya yang berisi kumpulan hadits-hadits tambahan terhadap hadits yang ada pada sebagian kitab-kitab yang lain.

Buku yang terkenal dalam bidang ini antara lain:

  1. Mishbah Az-Zujajah fi Zawa'id Ibnu Majah, karya Abu Abbas Ahmad bin Muhammad Al-Bushairi (wafat 84 H), bukan Al-Bushairi Muhammad bin Said (wafat 696 H) sang penyair yang menyusun "Al-Burdah". Kitab ini mencakup tambahan Sunan Ibnu Majah atas lima kitab pokok yaitu: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan An-Nasa'i.
  2. Ithafu As-Sa’adah Al-Maharah Al-Khairah bi Zawa'idi Al-Masanid Al-'Asyarah, karya Al Bushairi juga, yang merupakan tambahan terhadap kutubus sittah: (Musnad Abu Dawud Ath-Thayalisi, Musnad Al-Humaidi, Musnad Musaddad bin Musarhad, Musnad Muhammad bin Yahya Adani, Musnad Ishaq bin Rahawaih, Musnad Abu Bakar bin Abu Syaibah, Musnad Ahmad bin Mani', Musnad 'Abd bin Humaid, Musnad Harits bin Muhammad bin Abu Usamah, dan Musnad Abu Ya'la Al-Mushili.
  3. Al-Mathalib Al-'Aliyah bi Zawa'idi Al-Masanid Ats-Tsamaniyah, karya Al-Hafizh Ahmad bin Ali Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H), yang merupakan tambahan dari sepuluh musnad di atas kecuali Musnad Abu Ya'la Al-Mushili, Musnad Ishaq bin Rahawaih atas kutubus sittah dan Musnad Ahmad.
  4. Majma' Az-Zawa’id wa Manba'ul Fawa'id, karya Al-Haitsami, yang telah kami sebutkan sebelumnya dalam Al-Majami'. Kitab ini berisi beberapa buku hadits sehingga menyerupai majami’, dan karena berisi kumpulan hadits-hadits tambahan pada sebagian kitab, maka layak pula disebut zawa'id.

[1] HR Bukhari dan Muslim

[2] Ibnu Sa'ad dalam Ath-Thabaqat dan Ibnu 'Asakir dalam Tarikh Dimasyq

[3] HR Bukhari dan Muslim

[4] HR Bukhari

[5] Am'rifatu Ulumul Haits Al-HafizhAn-Naisaburi hal 14

[6] Al-Muhaits Al-Fashil Ar-Ramahurmuzi hal 235 Dar Al Fikr

[7] HR- Bukhari, Muslim dan Ashabus sunan

[8] HR. Abu Dawud

[9] Al Ishabah fi Tamyizi Ash-Shahabah. Ibnu Hajar, dan Al-Isti'ab karya Ibnu Abdid Barr 1/343 cet. Maktabah Tijariyah; Mesir: 2/366.

[10] HR. Muslim.

[11] Diriwayatkan Al-Khathib Al- Baghdadi dalam Taqyiudin Ilmi, ditahqiq Yusuf Al-Isy hal. 33, Dar Ihya'Sunnah Nabawiyah.

[12] Diriwayaykan Ad-Darimi dalam Sunannya, Al-Khathib dalam taqyiudin Ilmi an Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Bayanil Ilmi wa Fadhili

[13] HR Bukhari

[14] Al Khathib dalam taqyiudin Ilmi an Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Bayanil Ilmi wa Fadhili 1/85

[15] Ulum Al-Hadits. Ibnu Ash-Shalah, tahqiq: Nuruddin 'Itr,hal. l60-161.

[16] Ulum Al-Hadits. Ibnu Ash-Shalah, tahqiq: Nuruddin 'Itr,hal. 162.

[17] Jami' Bayan Al-llm wa Fadlihi, 1/77

[18] Maksudnya dari arah irak yang saat itu menjadi pusat pemerintahan Islam

[19] Ad-Darimi dalam Sunannya. Ibnu Saad dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra Perkataan atau Hadits Amrah maksudnya hadits yang ada pada Amrah binti Abdurrahman Al-Anshariyah karena ia mengetahui banyak hadits Aisyah

[20] Tadrib Ar-Rawi fi Syarhi Taqrib Nawawi Al hafiz Jalaluin As-Suyuthi tahqiq Abul Wahab Abul Latif hal 40 cetakan Maktabah Ilmiyah

[21] Ar-Risalah Al-Mustathrafah li Bayani Masyhur Kutubi Ai-Sunnah Al-Musynrrafah, karya Muahammad bin Ja'far Al-Kittani, hal 4, cet. I. Beirut

[22] Muqaddimah Fathul Bari, Ibnu Hajar: 1/4.

[23] Ar-Risalah Al-Mustathrafah. hal 7

[24] Sepuluh orang yang dijamin masuk surga adalah: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Al-khatthab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib (mereka adalah Khulafaur Rasyidun), Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awam. Sa'ad bin Abi Waqqash, Sa'id bin Zaid bin Amru bin Tufail, Abdurrahman bin' Auf, Abu Ubaidah bin Janah, namanya Amir bin Abdullah-

[25] Ar-Risalah Al-Mustathrafah hal 46-47 ...

[26] Bukan Abu Dawud Sulaiman bin Asy'ats As-Sijistani penyusun Sunan Abi Dawud.

[27] Ulum Al-Hadits hal 15

[28] Ar-Risalah Al-Mustathrafah. hal 25

[29] Tathu al-Mughits Syarh Alfiyah Al-'Iraqi karya as-Sakhawi

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya