Kitab Referensi

Kitab : Mabahits fi Ulumil Hadits - Syaikh Manna' al-Qatthan

AS-SUNNAH DAN KEDUDUKANNYA DALAM SYARIAT ISLAM

As-Sunnah secara bahasa adalah metode dan jalan, baik terpuji atau tercela. Jamaknya adalah Sunan, seperti Ghurfah jamaknya Ghuraf.

Dan terdapat pemakaian kata tersebut dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabawi dengan makna ini.

Dalam Al-Qur'an Allah Ta'ala berfirman,

قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِن يَنتَهُواْ يُغْفَرْ لَهُم مَّا قَدْ سَلَفَ وَإِن يَعُودُواْ فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ ٱلْأَوَّلِينَ

"Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, 'Jika mereka berhenti, niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku sunnah orang-orang dahulu'" (Al-Anfal: 38).

Dan Allah berfirman,

سُنَّةَ مَن قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِن رُّسُلِنَا ۖ وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا

"Sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan Kami itu" (Al-Isra': 77).

Dan Allah berfirman

سُنَّةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلُ ۖ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ ٱللَّهِ تَبْدِيلًا
"Sebagai suatu ketetapan yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi ketetapan itu." (Al-Fath:23)

Dan di dalam hadits Rasulullah bersabda,

لتتبعن سنن من كان قبلكم شبرا بشبر، وذرعًا بذراع ، حتى لو سلكوا جحر ضب لسلكتموه ، قلنا : يا رسول الله ، اليهود والنصارى ؟ قال : فمن

"Sungguh kamu akan mengikuti sunnah (kebiasaan) orang-orang sebelum kalian sedepa demi sedepa, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke dalam lobang biawak sungguh kalian akan mengikutinya." Kami berkata. ‘Wahai Rasulullah, Apakah Yahudi dan Nashrani (Yang Anda maksud)?" Rasulullah menjawab, "Lalu siapa lagi?"[1]

Beliau bersabda,

مَنْ سَنَّ فى الإسلام سُنَّة حسنة فله أجرها وأجر مَنْ عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجررهم شيئًا ، ومن سَنَّ فى الإسلام سُنَّة سيئة كان عليه وزرها ووزر مَنْ عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيئًا

"Barangsiapa berperilaku dalam Islam dengan perilaku yang baik maka bagi dia pahalanya dan pahala orang mengerjakan perilaku baik tersebut sesudahnya tanpa mengurangi dari pahala pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang berperilaku dalam Islam dengan perilaku buruk, maka baginya dosa dan dosa orang yang mengerjakan perilaku buruk tersebut sesudahnya dengan tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikit pun"[2]

As-Sunnah menurut para fuqaha' adalah suatu (perintah) yang berasal dan Nabi namun tidak bersifat wajib. Dia adalah salah satu dari hukum hukum taklifi yang lima: wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.

Namun terkadang mereka menggunakan istilah ini untuk kebalikan dari bid'ah- Mereka mengatakan -misalnya-, "Talak yang sesuai sunnah adalah demikian, dan talak bid'ah adalah demikian". Talak sunnah adalah yang terjadi sesuai dengan cara yang ditetapkan oleh syariat, yaitu bila seorang suami menjatuhkan talak satu untuk istrinya yang telah digauli ketika ia dalam keadaan suci dan ia belum menggaulinya dalam masa itu.

Sedangkan talak bid'ah adalah yang tidak seperti itu. Dia berbeda dengan talak sunnah yang dianjurkan, seperti bila seorang suami menjatuhkan talak tiga untuk istrinya dalam satu kalimat, atau menjatuh-kan talak tiga secara terpisah dalam satu majlis, atau mentalaknya dalam keadaan haid atau nifas, atau dalam keadaan suci dari haidh dan dia menggaulinya dalam masa itu.

Kata "As-Sunnah" digunakan sebagai lawan dari "Al-Bid'ah" secara mutlak. Bila dikatakan, "Fulan di atas sunnah' maka berarti dia berbuat sesuai yang dilakukan oleh Rasulullah , baik hal itu tertulis dalam Al-Qur'an ataupun tidak. Dan bila dikatakan, "Fulan di atas bid'ah," maka berarti dia berbuat yang bertentangan dengan As-Sunnah, karena dia melakukan hal baru yang tidak termasuk dalam agama, dan setiap perbuatan yang baru dalam agama adalah bid'ah. Maka setiap hal baru dalam agama yang diperbuat orang yang tidak ada tuntunan dari Nabi, baik berupa ucapan ataupun perbuatan adalah bid'ah.

Kata "As-Sunnah" juga bisa diartikan sebagai sesuatu yang dapat ditunjukkan oleh dalil syar'i, meskipun hal itu termasuk perbuatan sahabat dan ijtihad mereka, seperti: pengumpulan mushhaf, mengarahkan manusia pada bacaan dengan satu qira'at dari qira’at yang tujuh, membukukan administrasi kekhalifaan (dawawin), dan yang semacam dengan itu. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi,

عليكم بسُنَّتى ، وسُنَّة الخلفاء الراشدين من بعدى

"Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafa' Ar-Rasyidun seteluhku".[3]

As-Sunnah menurut ulama ushul fikih adalah apa yang bersumber dari Nabi selain Al Qur'an, baik berupa perkataan, perbuatan, atau pengakuan beliau.

As-Sunnah menurut ulama Hadits adalah apa yang disandarkan kepada Nabi baik berupa perkataan, perbuatan, pengakuan, sifat, atau sirah beliau.

Dengan makna seperti ini maka ia menjadi sama dengan hadits nabawi, menurut mayoritas ahli hadits. Dan penggunaan makna ini sudah umum, seperti perkataan Anda, "Hukum ini sudah ditetapkan dalam Al-Kitab," yakni Al-Qur'an, "Hukum ini sudah ditetapkan dalam As-Sunnah," yakni dalam hadits. Begitu pula dengan perkataan Anda juga, "Ada dalam kitab-kitab As-Sunnah" yakni hadits.

Perbedaan dalam mendefinisikan As-Sunnah menurut istilah ini bersumber dari perbedaan mereka pada tinjauan utama dari masing-masing disiplin ilmu.

Ulama hadits, misalnya, mereka melihat dari sudut Rasulullah sebagai seorang imam yang memberi petunjuk, yang diberitakan oleh Allah, bahwa beliau adalah teladan dan panutan bagi kita. Maka mereka meriwayatkan segala yang berkaitan dengan perilaku, akhlak, tabiat berita-berita, perkataan, dan perbuatan beliau, baik yang telah ditetapkan sebagai hukum syar'i maupun tidak.

Dan ulama ushul fikih membahas tentang Rasulullah sebagai seorang yang menyampaikan syariat yang meletakkan kaidah-kaidah bagi para mujtahid sesudahnya, dan menjelaskan kepada manusia undang-undang kehidupan. Maka mereka memperhatikan perkataan dan perbuatan serta ketetapan Rasulullah yang dapat menetapkan hukum dan memutuskannya.

Sedangkan ulama fikih membahas tentang perbuatan Rasulullah yang tidak keluar dari petunjuk terhadap hukum syara'. Tinjauan mereka adalah tentang hukum syar'i terhadap perbuatan hamba Allah dari segi wajib, atau sunnah, atau haram, atau makruh, atau mubahnya.[4]

Kedudukan As-Sunnah Sebagai Hujjah Dalam Syari’at Islam

Kaum muslimin sepakat bahwa segala ucapan, perbuatan atau taqrir yang bersumber dari Rasulullah tentang masalah syariat atau masalah kepemimpinan dan pengadilan, yang sampai kepada kita dengan sanad yang shahih, menjadi hujjah bagi kaum muslimin, dan sebagai sumber syariat di mana para mujtahid dapat menggali hukum syariat yang berkaitan dengan perbuatan hamba.

Maka sunnah nabawiyah adalah sumber yang kedua dari sumber-sumber hukum agama, dan kedudukannya berada setelah Al-Qur'an, dan wajib diikuti sebagaimana wajibnya mengikuti Al-Qur'an.

Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa As-Sunnah adalah hujjah, antara lain;

1. Nash-nash Al-Qur'an: Allah telah memerintahkan untuk mengikuti Rasul-Nya dan menaatinya. Ia berfirman,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُواْ

"Dan apa yang telah Rasul berikan kepada kalian maka ambillah dan apa yang telah Rasul larang bagi kalian maka tinggalkanlah" (Al-Hasyr:7)

Allah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ

"Wahai orang orang yang beriman taatlah kalian kepada Aliah dan taatlah kalian kepada Rasul" (An-Nisa: 59)

Allah telah memperingatkan kita agar tidak, menyelisihinya, Allah berfirman,

فَلْيَحْذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Maka hendaklah wasapada orang-orang yang menyelisihi dari perintahnya akan menimpa mereka fitnah atau menimpa kepada mereka adzab yang pedih (An-Nur.63)

Allah Ta'ala tidak menjadikan bagi kita pilihan lain di hadapan hukum yang dibawanya,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

Dan tidaklah pantas bagi laki laki beriman dan bagi wanita beriman apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara akan ada bagi mereka pilihan lain dari perkara mereka" (Al-Ahzab:36)

Allah menjadikan hal itu sebagai salah satu dasar-dasar keimanan. Allah berfirman.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا
"Maka demi rabbmu, mereka tidak beriman sehingga mereka menjadikan engkau hakim dalam apa-apa yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasakan dalam diri mereka keberatan dari apa yang telah engkau putuskan dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An-Nisa: 65)

Allah telah mewajibkan atas orang-orang yang beriman agar menaati beliau, karena hal itu termasuk ketaatan pada-Nya. Allah berfirman.

مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ ٱللَّهَ

"Barangsiapa yang taat kepada Rasul maka sungguh dia telah taat kepada Allah" (An-Nisa': 80).

Nash-nash tersebut membuktikan secara qath'i bahwa Allah telah mewajibkan untuk menaati Rasul-Nya pada apa yang telah disyariatkan, dan bahwa As-Sunnah sebagai sumber hukum syariat terhadap para hamba.

2. Perbuatan Sahabat. Para sahabat pada masa hidup Rasulullah menaati semua perintah dan larangannya, dan mereka tidak membeda-bedakan antara hukum yang diwahyukan oleh Allah dalam Al-Qur'an, dan hukum yang bersumber dari Rasulullah . Allah Ta'ala telah berfirman.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحَىٰ

"Dan tidaklah dia berbicara dari hawa nafsu. Tidaklah dia kecuali sebuah wahyu yang diwahyukan" (An-Najm: 3-4).

Dan demikian pula kondisi mereka setelah meninggalnya Rasulullah , mereka tetap kembali kepada Al-Qur'an untuk mencari hukum didalamnya. Dan bila tidak mendapatkan padanya, mereka merujuk kepada sunnah Rasulullah .

Abu Ubaid didalam Kitab Al-Qadha' berkata, dari Maimun bin Mihran, "Adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq apabila datang padanya suatu masalah, maka dia melihat dalam Al-Qur'an, jika dia menemukan didalamnya untuk memutuskan dengannya maka dia memutuskan dengannya. Dan jika tidak menemukan di dalam Al-Qur'an, maka dia melihat dalam sunnah-sunnah Rasulullah . Maka jika dia menemukan didalamnya apa yang memutuskan hukum itu, dia memutuskan dengannya. Maka jika ia tidak mendapatinya dalam As-Sunnah, dia bertanya kepada para sahabat, 'Apakah kalian tahu bahwasanya Rasulullah telah memutuskan didalamnya dengan suatu putusan? Maka ada kalanya berdiri kepadanya suatu kaum lalu mereka berkata, 'Beliau telah memutuskan dengan begini atau begitu'. Dan jika dia tidak menemukan suatu sunnah yang Rasulullah telah mencontohkannya, beliau mengumpulkan para pemuka kaum muslimin, lalu mengajak mereka bermusyawarah. Maka apabila telah berkumpul pendapat mereka atas sesuatu, beliau memutuskan dengannya. Dan adalah Umar melakukan hal seperti itu. Apabila dia tidak menemukannya suatu masalah dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah dia bertanya, 'Apakah Abu Bakar telah memutuskan didalamnya dengan suatu putusan?' Maka apabila Abu Bakar telah pernah memutuskan suatu putusan, dia pun memutuskan dongannya. Dan jika tidak, dia mengumpulkan orang-orang yang berilmu di antara manusia dan mengajak mereka bermusyawarah. Maka apabila telah telah bersatu pendapat mereka atas sesuatu, dia memutuskan dengannya.''[5]

3. Adanya perintah Allah yang mujmal (global) yang mombutuhkan penjelasan dari Rasulullah .

Di dalam Al Qur'an banyak terdapat nash-nash yang mujmal global, yang berisi kewajiban dan perintah-perintah Allah kepada manusia, sedangkan Al Qur'an tidak menjelaskan cara pelaksanaannya, seperti perintah shalat, zakat, puasa, dan haji:

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ

"Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat" (An-Nur. 56).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ

"Wahai orang orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian puasa" (Al-Baqarah: 183).

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

"Dan bagi Allah atas manusia melaksanakan haji bagi orang yang sanggup menempuhnya" (Ali Imran: 97).

Dan Rasulullah telah menjelaskan perintah yang global ini dengan sunnahnya, baik yang berupa ucapan dan perbuatan, sebagaimana firman Allah,

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

"Dan Kami telah menurunkan kepadamu Adz-Dzikr sebagai penjelasan bagi manusia atas apa yang telah diturunkan kepada mereka" (An-Nahl: 44).

Maka, seandainya As-Sunnah itu bukan sebagai hujjah bagi kaum muslimin yang wajib diikuti, tentunya tidak mungkin terlaksana semua perintah Al-Qur'an, kewajiban-kewajibannya, dan tidak mungkin pula ditaati semua hukumnya. Dari As-Sunnahlah kita mengetahui secara rinci waktu-waktu shalat, jumlah rakaatnya, tata cara pelaksanaannya, keterangan ukuran zakat, waktunya, harta-harta yang harus dizakati, penjelasan hukum puasa, manasik haji, penjelasan hukum pernikahan, jual beli, kriminalitas, dan semua yang disebutkan secara global dalam Al-Qur'an.

Dengan demikian dapat ditetapkan, bahwa apa yang benar datang dari sunnah Rasulullah menjadi hujjah yang wajib diikuti, jika Rasulullah wajib diikuti dalam kapasitasnya sebagai seorang rasul, maka wajib pula mengikuti semua hukum-hukum yang benar darinya, baik yang menerangkan hukum dalam Al-Qur'an seperti yang telah kami sebutkan tadi, ataupun sebagai penetap suatu hukum yang tidak disinggung dalam Al-Qur’an. Seperti pengharaman menikahi seorang wanita dengan bibinya -baik dari pihak ayah atau ibu-, dan pengharaman semua yang memiliki taring dari binatang buas dan yang memiliki cakar dari burung, dan tidak boleh melakukan qishash terhadap seorang muslim karena membunuh seorang kafir, karena semua ini bersumber pada Nabi yang telah diberikan oleh Allah kewenangan dalam menjelaskan dan mensyariatkan. Allah berfirman,

وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِى ٱخْتَلَفُواْ فِيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

"Dan tidaklah Kami menurunkan atasmu Al-Kitab kecuali agar engkau menjelaskan kepada mereka yang berselisih didalamnya dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang orang yang beriman" (An-Nahl: 64).

Kedudukan As-Sunnah dalam Dalil-dalil Syariat

Kedudukan As-Sunnah dalam dalil-dalil syariat berada di bawah kedudukan Al-Qur'an. Dalil yang menunjukkan itu adalah beberapa hal berikut ini:

Pertama, bahwasanya Al-Qur'an adalah qath'i karena mutawatir, sedangkan As-Sunnah adalah zhanni karena terkadang banyak yang ahad. Yang qath'i didahulukan atas yang zhanni. Oleh karenanya harus mendahulukan Al-Qur'an atas As-Sunnah.

Kedua, bahwa As-Sunnah adalah sebagai penjelas terhadap Al Qur’an, atau sebagai penambah baginya. Jika sebagai penjelas, maka keberadaannya adalah setelah Al-Qur'an. Jika bukan sebagai penjelasan terhadap Al-Qur'an, maka ia tidak bisa menjadi landasan kecuali setelah hukum tersebut tidak ditemukan dalam Al Qur'an. Dan ini menjadi dalil atas didahulukannya Al-Qur'an atas As-Sunnah.

Ketiga, adanya akhbar dan atsar yang menunjukkan hal itu, seperti hadits Mu'adz ketika Rasulullah bersabda kepadanya,"Dengan apakah kamu berhukum?" Mu'adz menjawab, "Dengan kitabullah." Nabi bertanya padanya, "Jika kamu tidak menemukan (dalam Al-Qur'an)?" Dia menjawab, "Dengan sunnah Rasulullah ." Beliau bersabda, "Jika kamu tidak menemukan nya?'' Dia menjawab, "Aku berijtihad dengan pendapatku."

Dari Umar bin Al-Khatthab bahwasanya dia menulis kepada Syuraih, "Apabila datang kepadamu suatu perkara, maka putuskanlah dengan apa yang ada dalam Al Qur'an, dan jika datang kepadamu apa yang tidak ada dalam Kitab Allah, maka putuskanlah dengan apa yang telah disunnahkan oleh Rasulullah ."[6]

Syubhat-syubhat dan Bantahannya

1. Orang-orang zaman dahulu dan sekarang mengira bahwa Al-Qur'an dengan berbagai macam penunjukannya adalah sebagai sumber hukum, dan wajib mencukupkan dengannya saja. Dalil yang mereka pakai seperti firman Allah,

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku sempurnakan atas kalian nikmat-Ku dan telah Aku ridhai bagimu Islam sebagai agama" (Al-Maidah: 3).

Dan firman-Nya,

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ تِبْيَٰنًا لِّكُلِّ شَىْءٍ

"Dan telah Kami turunkan atasmu Al-Kitab sebagai penjelas segala sesuatu" (An-Nahl: 89).

Adapun yang bersumber dari Rasulullah, dalam kapasitasnya sebagai imam bagi kaum muslimin, sebatas apa yang dia ajarkan untuk kemaslahatan mereka, adalah merupakan ijtihad beliau yang dapat berubah sesuai kemaslahatan, dan bukan syariat yang bersifat umum bagi kaum muslimin di segala tempat dan keadaan.

Dan penjelasan Rasulullah terhadap Al-Qur'an dalam firman Allah,

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

"Dan Kami telah menurunkan kepadamu Adz-Dzikr untuk menjelaskan bagi manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka" (An-Nahl: 44).

Maksudnya adalah apa yang mutawatir dari beliau secara amaliyah seperti tata cara shalat, haji, dan yang semisal dengannya. Adapun selain itu, seperti perkataan atau perbuatan atau taqrir -jika benar riwayatnya-hanyalah merupakan ijtihad yang bisa berubah sesuai dengan kepentingan maslahat, dan bukan sebagai syariat umum yang tetap.

Ini adalah syubhat yang menyimpang. Sebab mengikuti As-Sunnah adalah juga mengikuti Al-Qur'an, di mana Allah telah perintahkan kita untuk mengikuti Rasul-Nya. Dan tidak ada artinya lagi mengikuti Rasulullah setelah beliau wafat melainkan mengikuti apa yang bersumber dan dinisbatkan beliau. Allah berfirman,

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

"Pada hari ini telah Aku sempunakan bagimu agamamu" (Al-Ma'idah: 44). Maksudnya telah Aku sempurnakan bagimu apa yang kamu butuhkan berkaitan dengan dasar-dasar halal dan haram dan kaidah-kaidah yang dapat mengatur semua segi kehidupan. Dan ini bukan berarti semua hukum telah dijelaskan secara detil dan rinci. Demikian pula firman Allah,

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ تِبْيَٰنًا لِّكُلِّ شَىْءٍ

"Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu" (An-Nahl: 89).

Maksudnya Allah telah menjelaskan bagi makhluk-Nya tentang pokok-pokok agama: dan kaidah hukum dalam Al-Qur'an, sedangkan rincian itu semua terdapat pada apa yang dijelaskan oleh Rasulullah: Inilah makna dari firman Allah,

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

"Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan" (An-Nahl: 44).

Dan seandainya kita tidak mengambil hukum hukum syariat kecuali apa yang terdapat dalam Al-Qur'an, tentulah kita tidak mengetahui jumlah raka'at shalat, batasan zakat, perincian manasik haji, dan semua hukum yang terkait dengan ibadah dan muamalat.

Jika mereka berkata: Bahwa yang dimaksud "sunnah-sunnah amaliyah yang mutawatir" adalah yang diamalkan di antaranya shalat dan semisalnya. Maka kita katakan bahwa sunnah amaliyah yang mutawatir bagi kaum muslimin sejak zaman Nabi hingga saat ini adalah dalil-dalil terhadap hukum syar'i yang sah dari As-Sunnah. Dan para ulama sepakat bahwa As-Sunnah adalah sumber yang kedua untuk dalil-dalil syariat.

2. Dan sebagian mereka mengingkari hadits Ahad sebagai hujjah, karena dasarnya bersifat zhanni, dan mereka berkata bahwa tidak boleh beribadah kepada Allah dengan dasar zhanni.

Jawaban terhadap hal itu: bahwasanya semua dalil qath'i mewajibkan untuk mengamalkan hadits Ahad, jika penisbatannya benar kepada Rasulullah.

a. Allah Ta'ala berfirman,

فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓاْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

"Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya" (At-Taubah: 122). At-Tha'ifah atau golongan maknanya sebagian dari sesuatu. Dalam bahasa Arab menunjukkan arti satu atau lebih. Dan seandainya peringatan suatu golongan yang memperdalam agama dalam ayat ini bukan sebagai hujjah yang harus diamalkan, tentulah Allah tidak mencukupkan peringatan dengan golongan tersebut. Dan jika peringatan seorang yang adil (teguh dengan agamanya) yang berangkat untuk bertafaqquh dalam agama diterima, maka wajib pula diterima riwayat seorang yang adil yang menghafal apa yang ia dalami dari agama ini.

b. Rasulullah telah mengutus perorangan kepada para raja untuk menyeru mereka kepada Islam. Seandainya penyampaian mereka tidak dianggap sebagai hujjah tentulah pengiriman mereka menjadi sia-sia. Dan ini jelas konsekwensi yang batil. Dengan demikian hadits ahad adalah hujjah. Dan semua yang diriwayatkan oleh orang yang tsiqah dari orang yang tsiqah yang sampai kepada Rasulullah wajib diterima, diyakini, dan diikuti.

c. Kewajiban mengamalkan dugaan (zhan) akan kebenaran adalah sudah menjadi perkara yang dimaklumi dengan jelas dalam agama, seperti penetapan hukum berdasarkan kesaksian dua orang, dan kesaksian seorang saksi yang disertai dengan sumpah dari penuduh. Maka demikian pula dengan wajibnya mengamalkan hadits Ahad ketika diduga akan kebenarannya.

3. Para orientalis, terutama seorang Yahudi bernama Goldziher berpendapat bahwa As-Sunnah belum dibukukan kecuali setelah terjadinya perselisihan antara pengikut Umayyah dengan musuh mereka dari ahlul bait dan pengikut Zubair secara bersamaan. Setiap kelompok membuat hadits untuk memperkuat pendapatnya, dan tidak menjadi hujjah bagi lawannya. Dan pengikut Umayyah dengan kecerdikan mereka memanfaatkan Imam Az-Zuhri untuk hal itu. Dan tidak hanya terbatas pada pemalsuan hadits-hadits politik untuk kepentingan kelompok Umayyah, bahkan melampaui batas sampai kepada masalah-masalah ibadah.

Bantahan terhadap hal tersebut: bahwa itu adalah tuduhan bohong dan dusta kepada para khalifah dinasti Umayyah, dan kepada para ulama Islam secara menyeluruh, bertentangan dengan kenyataan yang menjelaskan tentang mereka. Abdul Malik bin Marwan,yang pada masanya Az-Zuhri menulis hadits, disebutkan oleh Ibnu Sa'ad dan para ahli sejarah lainnya, bahwa dia adalah seorang ahli ibadah dan takwa sejak masa kecilnya, sehingga orang-orang menjulukinya sebagai "merpati masjid". Dan pada masanya pula terjadi ekspansi perluasan negeri-negeri Islam besar-besaran dan kemenangan yang agung.

Dan Az-Zuhri beserta sahabat sahabatnya dari para ulama, tidak pernah menjadi permainan di tangan seorang penguasa, bahkan mereka dikenal dengan ketakwaan dan izzah mereka dengan Islam; satu hal yang menguatkan bahwa tidak ada satu pun di antara mereka yang menjadikan tunggangan nafsu penguasa untuk menyenangkan hati mereka, meski harus mendapatkan murka dari Aliah.

Para ulama Al-Jarh wa At-Ta'dil sepakat bahwa Az-Zuhri adalah seorang yang tsiqah, amanah, dan mempunyai kedudukan yang agung dalam hadits. Sedangkan anggapan Goldziher tentang adanya hubungan dengan Bani Umayyah dan pemanfaatan dirinya dalam pemalsuan hadits demi mengikuti hawa nafsu mereka, hanyalah merupakan tuduhan yang mengada-ada, yang tidak pantas bagi seorang seperti Az-Zuhri dengan segala sikap amanah dan ketakwaannya. Maka apabila dia berhubungan dengan para khalifah ataupun mereka yang berhubungan dengannya, hubungan itu tidak mempengaruhi sikap beliau, kecuali hanya sebatas memberi mereka nasehat dalam agama, peringatan terhadap hak-hak umat atas mereka, dan amanah yang Allah telah bebankan kepada mereka berupa kewajiban-kewajiban terhadap apa yang mereka pimpin, serta mendidik anak-anak mereka agar menjadi contoh teladan bagi yang lainnya.

4. Dan Professor "Chakht" dari Jerman mengikuti Goldziher juga telah mengira bahwasanya tidak ada satu hadits pun yang shahih -apalagi hadits-hadits yang berhubungan dengan masalah fikih- berdasarkan kajiannya terhadap kitab Al-Muwattha’ karya Imam Malik dan kitab Al-Atsar karya Abu Yusuf -yang juga dikenal dengan "Musnad Abu Hanifah"-serta kitab Al-Umm karya Imam Syafi'i, karena didalamnya terdapat hukum-hukum fikih yang dinisbatkan kepada Rasulullah tanpa sanad.

Jawaban dari tuduhan ini: bahwasanya kitab-kitab sirah, kitab-kitab fikih, dan kitab-kitab yang bercampur didalamnya hadits dengan fikih, bukanlah merupakan kitab-kitab hadits dan sumber-sumber asli bagi As-Sunnah, sehingga memungkinkan seorang peneliti menyimpulkan dari hasil studinya (terhadap kitab-kitab tersebut) sebuah hukum atas hadits nabawi dan sanadnya. Seharusnya studi semacam itu hanya dilakukan terhadap sumber-sumber yang dijadikan pegangan dalam hadits-hadits nabawi beserta sanad-sanadnya, dimana menjadi jelas dengan penelitian itu secara gamblang bahwasanya sanad itu memang berawal dari zaman Nabi , dan sampai puncaknya pada abad pertama, lalu semakin banyak riwayat, kemudian para ulama menentukan syarat-syarat keshahihan sebuah hadits: yaitu sanadnya bersambung dari permulaan sampai akhir, disampaikan oleh orang-orang ‘adil dan kuat-sempurna hafalannya, serta tidak ada syudzudz dan tidak ada illlat.[7]

Tetapi Syakht berpedoman pada hasil studinya dalam kitab-kitab tersebut dengan sebagian hadits-hadits yang oleh para ahli hadits dihukumi terdapat kesalahan dan kekeliruan, atau diriwayatkan dengan sanad munqathi' atau terputus, kemudian dia menyimpulkan sesuai keinginan nafsunya untuk menguatkan dakwaannya yang bohong itu. Dan dia mengeneralisir hukum terhadap semua hadits berdasarkan kesimpulannya itu.[8]

5. Sebagian penulis -terutama para penulis kontemporer- seperti Ahmad Amin dalam bukunya Fajrul Islam, dan Abu Rayyah dalam bukunya Adhwa’ Ala As-Sunnah Al-Muhammadiyyah telah bertindak zhalim terhadap Abu Hurairah , mereka mengatakan, bahwa dia (Abu Hurairah) sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, padahal dia tidak pernah menulis. Ia hanya menceritakan hadits dari ingatannya.

Bantahan terhadap tuduhan ini: bahwasanya banyaknya apa yang diriwayatkan Abu Hurairah kembali kepada keistimewaan beliau yang berupa kekuatan ingatan beliau. Sungguh beliau adalah -sebagaimana diriwayatkan ulama hadits- orang yang buruk hafalannya ketika masuk Islam, lalu beliau mengadukan hal itu kepada Rasulullah , maka Rasulullah bersabda kepadanya, "Bukalah kantongmu!" Kemudian Abu Hurairah membentangkannya, kemudian Rasulullah bersabda, "Peluklah ke dadamu!" Lalu Abu Hurairah mengumpulkannya, maka Abu Hurairah setelah i tu tidak pernah lupa satu hadits pun. Ibnu Hajar berkata setelah mnyebutkan hal itu, "Dan hadits yang disebutkan tadi termasuk salah satu tanda kenabian, karena Abu Hurairah kemudian menjadi orang yang paling hafal terhadap hadits-hadits Nabi pada masanya."

Dan Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak bersama Rasulullah , dia mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain dari ucapan-ucapan dan perbuatan Rasulullah. Imam Syafi'i berkata,' Abu Hurairah adalah orang yang paling hafal di antara yang meriwayatkan hadits pada masanya." Al-Hakim berkata, "Dia adalah sahabat Rasulullah yang paling hafal dan paling banyak menemani beliau."

Dr. Musthafa As-Siba'i, dalam bukunya As-Sunnah wa Makanatuha fi At-Tasyri' Al-lslami, telah menulis bantahan terhadap tuduhan dan keraguan ini dan juga tuduhan yang lainnya secara ilmiah dan mendalam. Maka silakan merujuk kepadanya bagi yang ingin mendapatkan tambahan penjelasan.


[1] Muttafaq 'Alaihi

[2] HR. Muslim

[3] HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi

[4] As-Sunnah wa Makanatuha fi At-Tasyri Al-lslamy. DR Mushtafa As-Siba'i hal 61, At-Tasyri wa Al-Fiqh al-Islam, hal. 86-87

[5] Diriwayatkan al-Baghawi dan ad-Darimi

[6] Riwayat An-Nasa'i dan At-Tirmidzi

[7] Syudzuidz adalah ketika seorang perawi meriwayatkan hadits yang menyelisihi periwayatan perawi yang lebih tsiqah darinya. Adapun illat adalah cacat yang mempengaruhi keshahihan sebuah riwayat.

[8] Dirasat fil-Hadits An-Nabawi wa Tarikh Tadwinihi, karya Dr. Muhammad Musthafa Al-A zhami.

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya