Kitab Referensi

Kitab : Mabahits fi Ulumil Hadits - Syaikh Manna' al-Qatthan

PENGERTIAN HADITS NABAWI

Perhatian Terhadap Hadits.

Manusia dalam hidupnya membutuhkan berbagai macam pengetahuan. Sumber dari pengetahuan tersebut ada dua macam yaitu naqli dan aqli. Sumber yang bersifat naqli ini merupakan pilar dari sebagian besar ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia baik dalam agamanya secara khusus, maupun masalah dunia pada umumnya. Dan sumber yang sangat otentik bagi umat Islam dalam hal ini adalah Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah .

Allah telah memberikan kepada umat kita para pendahulu yang selalu menjaga Al-Qur'an dan hadits Nabi. Mereka adalah orang-orang jujur, amanah, dan memegang janji. Sebagian di antara mereka mencurahkan perhatiannya terhadap Al-Qur'an dan ilmunya yaitu para mufassir. Dan sebagian lagi memprioritaskan perhatiannya untuk menjaga hadits Nabi dan ilmunya, mereka adalah para ahli hadits.

Para sahabat, tabi'in, dan tabiut tabi'in juga sangat perhatian untuk menjaga hadits-hadits Nabi dan periwayatannya dari generasi ke generasi yang lain, karena mempunyai pengaruh yang besar terhadap agama. Mereka selalu mengajak untuk mengikuti cara hidup dan perilaku Rasulullah sebagaimana firman Allah,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

"Telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian" (Al-Ahzab:21).

Mereka juga diperintahkan untuk mengerjakan apa yang dibaw# oleh Nabi dan dilarang untuk mengerjakan semua larangan beliau,

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُواْ ۚ

"Dan ambillah apa yang datang kepadamu dari Rasul dan tinggalkan apa yang dilarang untukmu" (Al-Hasyr:7).

Keteladanan mereka kepada Rasulullah sangat luar biasa sehingga tidak pernah bertanya tentang sebab atau musabab dari perbuatan beliau.

Diriwayatkan Al-Bukhari dari Ibnu Umar berkata: Bahwa Rasulullah mengenakan cincin dari emas, lalu orang-orang mengenakan juga cincin dari emas. Kemudian Nabi membuangnya dan bersabda,

"Aku tidak akan mengenakannya untuk selama-lamanya," maka mereka pun membuang cincin tersebut."

Ibnu Hajar berkata, "Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat selalu bergegas untuk meneladani semua perbuatan Rasulullah. Selama beliau menetapkan mereka mengikutinya, dan ketika beliau melarang mereka meninggalkannya" [1]

Dan Rasulullah menganjurkan untuk mendengar, menghafal dan menyampaikan hadits beliau.

Dari Zaid bin Tsabit berkata," Aku mendengar Rasulullah bersabda:

نضّر الله امرأ سمع منّا حد يثا فحفظه حتّى يؤدّ يه فربّ حامل فقه إلى من هو أفقه منه وربّ حامل فقه ليس بفقيه

"Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengar hadits dari kami lalu menghafal hingga menyampaikannya. Berapa banyak orang yang membawa ilmulalu menyampaikannya kepada orang yang lebih faham daripadanya, dan berapa banyak orang yang membawa ilmu namun tidak mengerti".[2]

Dari Abdullah bin Mas'ud berkata Rasulullah bersabda :

"Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengar sesuatu dari kami lalu menyampaikan seperti apa yang di dengar. Berapa banyak orang yang menyampaikan lebih memelihara daripada orang yang mendengar"[3]

Maka periwayatan hadits masih tetap menjadi suatu kemuliaan bagi para sahabat dan para pendahulu kita demi menjaga warisan Nabi, "Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap pendahulu, mereka menolak penyelewengan orang yang melampaui batas, anutan orang-orang yang batil dan penakwilan orang-orang yang bodoh."[4]

Dari Jabir, bahwasanya ia pernah pergi ke Syam untuk meriwayatkan satu hadits dari Abdullah bin Unai[5]. Dan Abu Ayyub berangkat dari Madinah menuju Mesir hanya untuk meriwayatkan satu hadits dari Uqbah bin 'Amr[6].

Para tabi'in tidak kalah semangatnya dalam mencari hadits dari para shahabat. Mereka mengikuti jejak dan langkah para sahabat. Majelis mereka dipenuhi dengan hadits Rasulullah. Mereka rela menanggung kesusahan dan kesulitan, serta menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkannya. Said bin Al-Musayyib, salah satu tabi'in senior, berkata "Untuk mendapatkan satu hadits, aku rela menempuh beberapa hari perjalanan siang dan malam"[7]

Amir Asy Sya'bi, berangkat ke Makkah untuk mendapatkan tiga hadits yang pernah diceritakan kepadanya dengan harapan dapat bertemu dengan salah satu shahabat, lalu bertanya tentang hadits-hadits tersebut.

As-Sya'bi menceritakan sebuah hadits kepada seseorang lalu berkata kepadanya, "Aku berikan ini kepadamu secara cuma-cuma, yang pernah didapatkan dengan menempuh perjalanan ke Madinah."

Seperti inilah perhatian para salaf terhadap sunnah Rasulullah .

Definisi Hadits.

Hadits menurut bahasa artinya baru. Hadits juga –secara bahasa- berarti "sesuatu yang dibicarakan dan dinukil", juga "sesuatu yang sedikit dan banyak". Bentuk jamaknya adalah ahadits. Adapun firman Allah Ta'ala,

فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُواْ بِهَٰذَا ٱلْحَدِيثِ أَسَفًا

"Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada hadits ini’ (Al-Kahfi:6). Maksud hadits dalam ayat ini adalah Al Qur'an.

Juga firman Allah,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

"Dan adapun nikmat Tuhanmu, maka sampaikanlah." (Adh-Dhuha:ll) Maksudnya: sampaikan risalahmu, wahai Muhammad.[8]

Hadits menurut istilah ahli hadits adalah: Apa yang disandarkan kepada Nabi baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat, atau sirah beliau, baik sebelum kenabian atau sesudahnya.

Sedangkan menurut ahli ushul fikih, hadits adalah perkataan, perbuatan, dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah setelah kenabian. Adapun sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadits, karena yang dimaksud dengan hadits adalah mengerjakan apa yang menjadi konsekwensinya. Dan ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian.[9]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Buku-buku yang di dalamnya berisi tentang khabar Rasulullah, antara lain adalah Tafsir, Sirah dan Maghazi (peperangan Nabi), dan Hadits. Buku-buku hadits adalah lebih khusus berisi tentang hal-hal sesudah kenabian, meskipun berita tersebut terjadi sebelum kenabian. Namun itu tidak disebutkan untuk dijadikan landasan amal dan syariat. Bahkan ijma' kaum muslimin menetapkan bahwa yang diwajibkan kepada hamba Allah untuk diimani dan diamalkan adalah apa yang dibawa Nabi setelah kenabian.[10]

Contoh perkataan Nabi adalah sabda beliau,

إنما الأعمال بالنيّات ، وإنما لكل امرئ ما نوى

"Perbuatan itu dengan niat, dan setiap orang tergantung pada niatnya"[11]

Sabda beliau juga,

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

"(Laut itu) suci airnya dan halal bangkainya".[12]

Contoh perbuatan Nabi adalah cara wudhu, sholat, manasik haji, dan lain sebagainya yang beliau kerjakan.

Contoh penetapan (taqrir) Nabi adalah sikap diam beliau dan tidak mengingkari terhadap suatu perbuatan, atau persetujuan beliau terhadapnya. Misalnya: Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri dia berkata, "Ada dua orang yang sedang musafir, ketika datang waktu shalat tidak mendapatkan air, sehingga keduanya bertayammum dengan debu yang bersih lalu mendirikan shalat. Kemudian keduanya mendapati air, yang satu mengulang wudhu dan shalat sedangkan yang lain tidak mengulang. Keduanya lalu menghadap kepada Rasulullah dan menceritakan semua hal tersebut. Terhadap orang yang tidak mengulang, beliau bersabda,

أصبت السُنَّة وأجزأتك صلاتك

"Engkau sudah benar sesuai sunnah, dan sudah cukup dengan shalatmu".

Dan kepada orang yang mengulangi wudhu' dan shalatnya, beliau bersabda,

لك الأجر مرتين

"Bagimu pahala dua kali lipat."[13]

Dari Mu'adz bin Jabal bahwasanya Rasulullah bersabda ketika mengutusnya ke negeri Yaman, "Apa yang kamu jadikan sebagai pedoman dalam menghukumi suatu masalah ?"

Ia menjawab, "Dengan Kitabullah."

Rasulullah bertanya, "Jika tidak kamu dapatkan dalam Kitabullah?" Dia menjawab, "Dengan Sunnah Rasulullah ."

Beliau berlanya lagi, "Jika tidak kamu dapatkan dalam sunnah Rasulullah maupun dalam Kitabullah ?"

Dia menjawab, "Aku akan berijtihad dengan pikiranku". Kemudian Rasulullah menepuk dadanya dan bersabda, "Maha Suci Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasul-Nya terhadap apa yang diridhaioleh Rasulullah"[14]

Diriwayatkan, bahwasanya Khalid bin Al-Waiid pernah memakan dhabb (hewan bangsa kadal namun agak besar) yang dihidangkan kepada Nabi , sedangkan beliau tidak memakannya. Sebagian sahabat bertanya, "Apakah diharamkan memakannya, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Tidak, hanya karena binatang tersebut tidak ada di daerah kaumku sehingga aku merasa tidak berminat"[15]

Contoh dari sifat dan Sirah Nabi, banyak sekali riwayat menerangkan tentang sifat dan tabiat beliau. Dan At-Tirmidzi menyusun sebuah buku tentang tabiat (syama'il) beliau.[16]

Di antara contohnya adalah:

Dari Abi Ishaq, dia berkata, "Seorang lelaki bertanya kepada AI-Bara', 'Apakah wajah Rasulullah seperti pedang?" Dia menjawab, Tidak, tapi seperti rembulan'."[17]

Dari Al-Bara' dalam riwayat lain, "Rasulullah tidak pendek dan tidak tinggi."[18]

Dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali, dia berkata, "Belum pernah aku melihat Rasulullah sejak aku masuk Islam kecuali beliau tersenyum kepadaku. "[19]

KHABAR

Khabar menurut bahasa adalah berita, bentuk jamaknya akhbar.

Sedangkan menurut istilah, terdapat perbedaan pendapat:

  1. Ada yang mengatakan bahwa khabar itu sama dengan hadits, sehingga maknanya menjadi sama secara istilah.
  2. Ada pula yang berpendapat bahwa hadits adalah segala yang datang dari Nabi, sedang khabar adalah yang datang dari selain Nabi seperti sahabat dan tabi'in.
  3. Ada juga yang berpendapat bahwa khabar lebih umum dari hadits. Kalau hadits segala apa yang datang dari Nabi, sedang khabar adalah yang datang dari Nabi atau dari selain beliau.

ATSAR

Atsar menurut bahasa adalah sisa dari sesuatu. Sedangkan menurut istilah ada dua pendapat:

  1. Ada yang mengatakan bahwa atsar sama dengan hadits, makna keduanya adalah sama.
  2. Ada yang berpendapat bahwa atsar berbeda dengan hadits, yaitu apa yang disandarkan kepada sahabat dan tabi'in, baik berupa ucapan dan perbuatan mereka.

HADITS QUDSI

Telah kita ketahui makna hadits secara bahasa. Adapun "Qudsi" menurut bahasa dinisbatkan kepada "Qudus" yang artinya suci, yaitu sebuah penisbatan yang menunjukkan adanya pengagungan dan pemuliaan, atau penyandaran kepada dzat Allah yang Mahasuci.

Sedangkan Hadits Qudsi menurut istilah adalah apa yang disandarkan oleh Nabi dari perkataan-perkataan beliau kepada Allah.

Bentuk-bentuk Periwayatan

Ada dua bentuk periwayatan hadits qudsi:

Pertama, Rasulullah bersabda, "Seperti yang diriwayatkannya dari Allah Azza wa Jalla."

Contohnya: Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari Abu Dzar dari Nabi seperti yang diriwayatkan dan Allah, bahwasanya Allah berfirman,

"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan perbuatan zhalim pada diri-Ku dan Aku haramkan pula untuk kalian, maka janganlah saling menganiaya di antara kalian."

Kedua: Rasulullah bersabda, “Allah berfirman..."

Contohnya: Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

"Allah Ta'ala berfirman, ‘Aku selalu dalam persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku bersamanya bila dia mengingat-Ku. Maka jika dia mengingat-Ku niscaya Aku akan mengingatnya "'.

Perbedaan Antara Hadits Qudsi Dengan Al-Qur'an:

  1. Al-Qur'an itu lafazh dan maknanya dari Allah, sedang hadits qudsi maknanya dari Allah dan lafazhnya dari Nabi.
  2. Membaca Al-Qur'an termasuk ibadah dan mendapat pahala, sedang membaca hadits qudsi bukan termasuk ibadah dan tidak mendapat pahala.
  3. Disyaratkan mutawatir dalam periwayatan Al-Qur'an, sedang dalam hadits qudsi tidak disyaratkan mutawatir.

Perbedaan Antara Hadits Qudsi Dengan Hadits Nabawi:

Hadits Nabawi disandarkan kepada Rasulullah dan diceritakan oleh beliau, sedangkan hadits qudsi disandarkan kepada Allah kemudian Rasulullah menceritakan dan meriwayatkannya dari Allah. Oleh karena itu diikat dengan sebutan qudsi. Ada yang berpendapat bahwa dinamakan hadits qudsi karena penisbatannya kepada Allah yang Mahasuci, sementara hadits nabawi disebut demikian karena dinisbatkan kepada Nabi .

Hadits Qudsi jumlahnya sedikit. Buku yang terkenal mengenai permasalahan ini adalah Al-Ittihafat As-Sunniyyah Bil Ahadits Al-Qudsiyyah, karya Abdur Rauf Al-Munawi (1031 H), berisi 272 hadits.


[1] Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, Ibnu Hajar Al-Asqalany 1/321 cet. Salafiyah

[2] HR. Abu Dawud, An Nasa`I, Ibnu Majah dan Tirmidzi, dia berkata,"Hadits ini hasan."

[3] HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah. Ad Darimi, dan Ahmad. Tirmidzi berkata:, "lni hadits hasan shahih."

[4] Diriwayatkan oleh Al Uqaili, Ibnu Abi Hatim, dan lbmi Abdil Barr

[5] Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya'Ia

[6] Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Bayan al-ilmi wa Fadlihi

[7] Diriwayatkan oteh Ar-Ramahurmuzi dalam Al-Muhaddits Al-Fashil dan diriwayatkan pula lbnu Abdul Barr

[8] Lisanul Arab, Ibnu Manzur

[9] Ushulul Hadits, Muhammad 'Ajjaj Al-Khatib, hal 27.

[10] Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 18/10-11.

[11] HR Bukhari dan Muslim.

[12] HR Ahmad dan ibnu Majah

[13] Abu Dawud dan An-Nasa'i.

[14] HR Abu Dawud.

[15] HR. Bukhari dan Muslim.

[16] At-Tasyri' wa Al-Fiqh fi Al-Islam Tarikhan wa Manhajan, Manna' Al-Qaththan, hal 87-88

[17] HR. At-Tirmidzi, dia berkata, "Hadits hasan shahih."

[18] HR. At-Tirmidzi, dia berkata, "Hadits hasan shahih."

[19] HR At-Tirmidzi, dia berkata, "Hadits hasan shahih."

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya