Kitab Referensi

Kitab : Tadwin as-Sunnah Nabawiyah, Nasy' atuhu wa tathawwuruhu

Pertama : Kitab-kitab Athraf

Definisi

Kitab-kitab Athraf adalah kitab yang terbatas hanya menyebutkan bagian ujung hadits yang menunjukkan sisanya dengan bersatunya sanad-sanadnya, baik melalui pencakupan ataupun melalui sisi keterikatan dengan kitab tertentu.[1] Seperti Athraf ash-Shahihain karya Abu Mas'ud Ibrahim bin Muhammad bin Ubaid ad-Dimasyqi (W. 401 H), dan juga Athraf ash-Shahihain karya Abu Muhammad Khalaf bin Ali bin Hamdun al-Wasithi (W. 401 H).[2]

Di antara kitab Athraf yang paling penting;[3]

  1. Athraf al-Kutub al-Khamsah -ash-Shahihain dan seluruh kitab-kitab sunan kecuali Ibnu Majah- karya Abu al-Abbas Ahmad bin Tsabit Ibnu Muhammad ath-Tharqi al-Hafizh.
  2. Athraf al-Kutub as-Sittah -ash-Shahihain dan seluruh kitab sunan- karya al-Hafizh Abu al-Fadhl Muhammad bin Thahir al-Maqdisi yang dikenal dengan Ibnu al-Qaisarani (W. 507 H).
  3. Athraf Ghara'ib al-Afrad karya ad-Daruquthni yang disusun oleh Ibnu al-Qaisarani juga. Kitab ini masih ditahqiq di Universitas Imam Muhammad bin Saud al-Islamiyyah.
  4. Al-Isyraf ala Ma'rifah al-Athraf -Athraf as-Sunan al-Arba'dh-karya Abu al-Qasim Ali bin Hasan bin Hibatullah al-Hafizh yang dikenal dengan Ibnu Asakir ad-Dimasyqi, pemilik Tarikh ad-Dimasyqi yang terkenal (W. 571 H). Setahuku belum dicetak.
  5. Tuhfah al-Asyrafbi Ma'rifah al-Athraf karya al-Hafizh al-Hujjah Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf bin Abdurrahman al-Mizzi, penyusun Tahdzib al-Kamal (W. 742 H). Dicetak sebanyak empat belas jilid.
  6. Al-Ithraf bi Auham al-Athraf karya Waliyuddin Ahmad bin Abdurrahim al-Iraqi (W. 826 H). Sudah dicetak, yaitu kitab yang menggambarkan sebagian kesalahan berpraduga yang terjadi pada al-Mizzi dalam kitabnya. Waliyuddin mengumpulkan salah praduga itu dari catatan keterangan bapaknya, dan dia menambahkan sebagian dari catatan keterangannya.
  7. An-Nukat azh-Zhiraf 'ala al-Athraf karya al-Hafizh Ibnu Hajar. Kitab ini merupakan ungkapan kritikan-kritikan dan beberapa tambahan atas kitab al-Mizzi. Kitab ini sudah dicetak pada hamisy (footnote) al-Mizzi.
  8. Al-Kasysyaf fi Ma'rifah al-Athraf karya al-Hafizh Syamsuddin Muhammad bin Ali bin al-Hassan al-Husaini ad-Dimasyqi (W. 765 H). Kitab ini belum dicetak setahuku.
  9. Al-lsyraf' ala al-Athraf karya al-Hafizh Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali bin al-Mulaqqin (W. 804 H), belum dicetak setahuku.
  10. Ithaf as-Sadah al-Khiyarah al-Maharah bi Athraf al-Kutub al-'Asyrah karya al-Hafizh Ibnu Hajar (W. 852 H). Sepuluh kitab tersebut ialah:

    1. Muwaththa' Imam Malik
    2. Musnad Imam Ahmad
    3. Musnad Imam asy-Syafi'i
    4. Musnad ad-Darimi
    5. Shahih Ibnu Khuzaimah
    6. Shahih Ibnu Hibban
    7. Muntaqa Ibnu al-Jarud
    8. Mustadrak al-Hakim
    9. Mustadrak Abu Amanah
    10. Syarh Ma'ani al-Atsar karya ath-Thahawi
    11. Sunan ad-Daruquthni

    Jumlahnya bertambah satu, karena Shahih Ibnu Khuzaimah hanya ditemukan seperempatnya saja, sebagaimana yang telah diingatkan oleh al-Hafizh di mukadimahnya. Buku ini ditahqiq di Markaz Khidmah as-Sunnah (Pusat Pelayanan as-Sunnah) di Universitas al-Islamiyah di Madinah an-Nabawiyah.

  11. 11. Athraf al-Musnid al-Mu'tali bi Athraf al-Musnad al-Hanbali karya Ibnu Hajar juga. Ia masih dalam proses dicetak setahuku.
  12. 12. Athraf Musnad al-Firdaus karya al-Hafizh Ibnu Hajar juga. Setahuku belum dicetak.

Kajian singkat tentang contoh-contoh kitab Athraf

Tuhfah al-Asyraf bi Ma'rifah al-Athraf, karya al-Hafizh al-Mizzi

Penulisnya

Al-Hafizh an-Naqid Abu al-Hajjaj Jamaluddin Yusuf bin Abdurrahman al-Mizzi. Lahir pada 654 H. dan wafat pada 742 H. Dia adalah penyusun beberapa kitab yang terkenal.[4]

Objek Pembahasan Kitabnya

Mengulang kembali penyusunan hadits-hadits yang terdapat dalam al-Kutub as-Sittah dan beberapa tambahannya atas al-Athraf,

Manhaj al-Mizzi dalam Kitab Ini[5]

1. Penyusun membagi seluruh hadits al-Kutub as-Sittah baik yang ada sanadnya atau hadits mursal yang jumlah keseluruhannya ada 19.595 hadits (dengan pengulangan) menjadi 1.395 hadits yang diriwayatkan secara musnad, darinya 995 dinisbatkan kepada para sahabat laki-laki dan perempuan .

Nama-nama mereka tersusun secara sistematis berdasarkan huruf mu'jam dari Nabi , dan sisanya berasal dari hadits-hadits mursal, dan jumlahnya 400 hadits yang dinisbatkan kepada para imam tabi'in, dan orang-orang setelah mereka yang disusun berdasarkan huruf mu'jam juga.

Dan dari pembagian ini, diketahuilah jumlah hadits-hadits yang diriwayatkan dari setiap sahabat di dalam kitab-kitab ini.

2. Penyusun membagi biografi para perawinya berdasarkan huruf-huruf mu'jam juga. Dan penyusun juga memiliki pembagian lain untuk setiap riwayat tabi'in -yang berada di bawah sahabat-yang muktsir (banyak meriwayatkan) yaitu apabila riwayat-riwayat dari tabi'in tersebut banyak, di mana dia membaginya sesuai dengan biografi muridnya -yang meriwayatkan darinya- dari kalangan para atba' tabi'in. Apabila dia mendapatkan para atba' tabi'in memiliki sejumlah murid yang meriwayatkan darinya, maka dia membagi periwayatannya lagi ke dalam kelompok yang keempat sesuai dengan biografi Tabi' al-Atba'. Maka -misalnya- dia menulis riwayat hidup Hammad bin Salamah dari Muhammad bin Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah. Dan demikianlah (cara pembagiannya).

3. AI-Mizzi memulai setiap riwayat dengan lafazh حديث dengan tulisan besar lagi jelas sebagaimana dalam kitab yang telah dicetak. Kemudian dia menuliskan simbol siapa yang mentakhrij hadits tersebut di atas lafazh حديث, sebagaimana yang terdapat dalam manuskripnya, atau sebelum lafazh حديث sebagaimana kitab yang telah dicetak. Di antara simbol-simbol tersebut ialah: خ untuk al-Bukhari, م untuk Muslim, د untuk Abu Dawud, ت untuk at-Tirmidzi, س untuk an-Nasa'i, ق untuk Ibnu Majah al-Qazwini, خت untuk riwayat al-Bukhari secara mu'allaq, خد untuk al-Bukhari dalam kitab Adab al-Mufrad, عخ untuk al-Bukhari dalam kitab Khalq Afal al-Ibad, مد untuk kitab al-Marasil karya Abu Dawud, قد untuk kitab al-Qadr karya Abu Dawud, تم untuk kitab asy-Syama'il karya at-Tirmidzi, سي untuk kitab Amal al-Yaum wa al-Lailah karya an-Nasa'i dan lainnya.

Kaidah al-Mizzi dalam membawakan susunan riwayat setiap sahabat adalah bahwa dia mendahulukan hadits sahabat yang jumlah pentakhrijnya lebih banyak daripada hadits sahabat yang jumlah pentakhrijnya lebih sedikit. Dia tidak melihat kepada objek pembahasan hadits atau lafazhnya. Sehingga hadits milik sahabat yang diriwayatkan oleh Imam Yang Enam lebih didahulukan daripada hadits yang diriwayatkan Imam Yang Lima. Dan demikianlah seterusnya. Kemudian setelah perkatannya: حديث , maka al-Mizzi menyebutkan Tharf (ujung) hadits dengan kadar ukuran yang menjadi petunjuk sisanya, dan bagian tharf ini adakalanya berasal dari:

  • Sabda Nabi Muhammad
  • Ucapan sahabat Nabi, jika haditsnya bersifat fi'liyah (perbuatan Nabi).
  • Penisbatan kepada sesuatu, seperti hadits al-Uraniyin.

4. Setelah al-Mizzi selesai menampilkan tharf hadits, maka mulailah dia menjelaskan sanad-sanadnya pada perawi yang men-takhrij hadits tersebut berdasarkan simbol-simbol yang diletakkan di awal hadits, maka dia menyebutkan simbol hadits kemudian mengikutkannya dengan nama kitab yang hadits itu muncul di dalamnya yang berasal dari sahabat tersebut. Dan demikianlah caranya. Misalnya: simbol خ: shalat, dari fulan dari fulan dengan riwayat tersebut. Dan jika hadits tersebut berulang-ulang penyebutannya pada penulis yang sama di dalam lebih dari satu kitab, maka penyusun menyebutkan seburuhnya dengan sanad-sanadnya di sisinya secara keseluruhan.

Di antara faidah-faidah yang ditemukan dalam kitab al-Mizzi:[6]

  1. Mengenal jalan periwayatan hadits dari penyusun al-Kutub as-Sittah, sehingga akan diketahui apakah haditsnya qharib atau aziz atau masyhur. Demikian juga bisa diketahui mutaba'at dan syahidnya.
  2. Menjelaskan sesuatu yang tidak disebutkan dalam sanad misalnya: Sufyan, apakah dia bermarga ats-Tsauri atau Ibnu Uyainah; dan Hammad, apakah dia bernama lengkap Ibnu Salamah atau Ibnu Zaid. Demikian juga nama-nama yang tidak jelas.
  3. Mengenal perawi yang meriwayatkan suatu hadits dari kalangan penyusun kitab-kitab hadits yang terkenal, dan mengenal tempat pentakhrijan hadits pada perawi -dari kalangan mereka- yang mentakhrijnya.
  4. (Mengenal) perbedaan naskah-naskah al-Kutub as-Sittah. Banyak sekali ditemukan perbedaan pada naskah Imam al-Bukhari dan Abu Dawud dan at-Tirmidzi.... Dengan menyebutkan sebagian hadits, membuangnya, dan memberikan komentar terhadapnya, maka kita bisa mengambil manfaat dari kitab al-Athraf karya al-Mizzi bahwa hadits tersebut terdapat dalam naskah fulan, sedangkan fulan dari naskah al-Bukhari misalnya, atau hadits ini bukan dari naskah fulan. Dan demikianlah manfaat al-Athraf.

Keistimewaan Athraf al-Mizzi dibandingkan Athraf Ibnu Asakir ialah disebabkan adanya penyebutan naskah Abu Dawud dan an-Nasa'i dan selain keduanya. Ini berbeda dengan Ibnu Asakir di mana dia hanya terbatas pada sebagian naskah, misalnya terbatas pada naskah al-Lu'lu'i milik Abu Dawud.

 

Kedua : Kitab-kitab Takhrij Takhrij ialah upaya seorang muhaddits mengeluarkan hadits-hadits dari sumber aslinya berupa beberapa juz, al-masyikhat, dan kitab-kitab, serta yang semisalnya; dan upaya penyebutan hadits tersebut dari riwayatnya sendiri atau dari sebagian syaikhnya atau dari ulama semasanya atau semisalnya; dan upaya pembahasan dan penisbatan hadits-hadits tersebut kepada perawi yang meriwa-yatkannya dari kalangan penyusun kitab dan diwan (kumpulan sya'ir).[7]

Kata takhrij dimutlakkan dan dimaksudkan untuk menunjukkan sumber primer referensi hadits yang meriwayatkan hadits tersebut dan menisbatkannya kepada sumber asalnya kemudian menjelaskan tingkatannya; termasuk shahih atau dhaif.[8]

Tidak seorang pun meragukan faidah takhrij, karena seorang penuntut ilmu tidak diizinkan -apalagi mereka yang mendalami ilmu hadits- untuk meriwayatkan sebuah hadits, kecuali setelah mengetahui siapakah para imam hadits yang meriwayatkan hadits tersebut dan apa kedudukan haditsnya dari shahih atau tidak.

Sejarah Munculnya Takhrij[9]

Ulama terdahulu belum begitu membutuhkan ilmu takhrij hadits ini, khususnya ulama yang berada pada awal abad kelima, karena Allah memberi karunia kepada mereka suka menghafal dan banyak mengkaji kitab-kitab yang bersanad yang menghimpun hadits-hadits Nabi . Keadaan ini terus berlanjut sampai beberapa abad, hingga tradisi kecintaan terhadap hafalan dan kajian kitab-kitab hadits serta sumber rujukan pokoknya menjadi lemah. Ketika tradisi ini lemah, maka mayoritas manusia merasa kesulitan mengetahui tempat-tempat hadits yang dijadikan syahid oleh para penulis dalam ilmu syari'at dan lainnya seperti fikih, tafsir, tarikh (sejarah), dan sirah (perjalanan hidup).

Ketika itulah sebagian ulama bangkit untuk mentakhrij hadits-hadits dari sebagian kitab yang disusun pada selain disiplin ilmu hadits, seperti fikih, tafsir, dan lainnya. Mereka bangkit untuk menisbatkan hadits-hadits tersebut kepada sumber aslinya dari kitab-kitab hadits yang pokok. Mereka menyebutkan jalan periwayatannya dan membahas sanad dan matannya dengan memberikan pernyataan shahih atan dhaif sesuai dengan yang ditunjukkan oleh kaidah-kaidah yang ada. Waktu itulah muncul istilah kutub at-takhrij (kitab-kitab takhrij). Di antara kitab-kitab ini yang pertama kali muncul ialah kitab-kitab yang ditakhrij haditsnya oleh al-Khathib al-Baghdadi (W. 463 H). Di antara yang paling terkenal adalah:

  1. Takhrij al-Fawa'id al-Muntakhabah ash-Shihah wa al-Ghara'ib, karya Abu al-Qasim al-Mahrawani.
  2. Takhrij al-Fawa'id al-Muntakhabah ash-Shihah al-Ghara'ib, karya Syarif Abu al-Qasim al-Husaini.
  3. Takhrij Ahadits al-Muhadzdzab -dalam fikih asy-Syafi'i, karya Muhammad bin Musa al-Hazimi (W. 582 H), sedangkan kitab al-Muhadzdzab karya Abu Ishaq asy-Syirazi.

Kemudian setelah itu, mulailah bermunculan secara berurutan kitab takhrij sehingga tersebar mencapai puluhan karya tulis. Khususnya pada abad kedelapan dan sembilan hijriyah.

Oleh karena itu, para ulama memberikan konstribusi besar pada abad-abad terakhir untuk kitab-kitab yang telah mereka takhrij haditsnya, sebagaimana mereka telah mempersembahkan khidmat besar untuk Sunnah Nabi dan untuk penuntut ilmu hadits.

Di antara Kitab Takhrij yang Paling Masyhur

  1. Takhrij Ahadits al-Mukhtashar al-Kabir li Ibni al-Hajib, disusun oleh Muhammad bin Abdul Hadi (W. 744 H), belum dicetak setahuku.
  2. Nashb ar-Rayah li Ahadits al-Hidayah li al-Mirghinani, ditulis oleh Abdullah bin Yusuf az-Zaila'i (W. 762 H), sudah dicetak.
  3. Takhrij Ahadits al-Kasysyaf li az-Zamakhsyari karya Abdullah bin Yusuf az-Zaila'i. Ia sudah dicetak.
  4. Al-Badr al-Munir fi Takhrij al-Ahadits Wa al-Atsar al-Waqi'ah fi asy-Syarh al-Kabir li ar-Rafi'i (W. 623 H), ditulis oleh Sirajuddin Umar bin Ali bin al-Mulaqqin (W. 804 H). Telah ditahqiq di dalam risalah Majister di Universitas Islam Madinah.
  5. Al-Mughni 'an Hamli al-Asfar al-Asfarjt Takhrij Ma fi Ihya' Ulumuddin Min al-Akhbar, karya al-Hafizh Zainuddin Abdurrahim bin al-Husain al-Iraqi (W. 806 H), sudah dicetak.
  6. Takhrij al-Ahadits Allati Yusyiru llaiha at-Tirmidzi fi Kulli Bab Biijuulihi, "Wa fi al-Bab 'an Fulan" (Takhrij hadits yang telah diisyaratkan oleh at-Tirmidzi dalam setiap bab dengan ucapannya, "Di dalam bab tersebut dari fulan", karya al-Hafizh al-lraqi. Setahuku belum dicetak.
  7. At-Talkhish al-Habir; Takhrij Ahadits al-Wajiz al-Kabir li ar-Rafi'i, ditulis oleh al-Hafizh Ibnu Hajar, sudah dicetak.
  8. Ad-Dirayah fi Takhrij Ahadits al-Hidayah, karya al-Hafizh Ibnu Hajar juga, sudah dicetak.
  9. Takhrij Ahadits al-Kasysyaf, karya al-Hafizh Ibnu Hajar.
  10. Tuhfah ar-Rawi fi Takhrij Ahadits al-Baidhawi, karya al-Hafizh Abdurra'uf al-Munawi.
  11. Irwa' al-Ghalilfi Takhrij Ahadits Manar as-Sabil, karya asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani.

Kajian Singkat Contoh Kitab-kitab Takhrij

Saya akan membatasi diri untuk mengenalkan dua kitab saja secara ringkas, yaitu: Nashb ar-Rayah dan at-Talkhish al-Habir karena urgensi keduanya dan karena keduanya sudah dicetak dan banyak dipergunakan oleh penuntut ilmu.

Pertama: Nashb ar-Rayah li Ahadits al-Hidayah

Penulisnya

Abu Muhammad Jamaluddin Abdullah bin Yusuf bin Muhammad al-Hanafi az-Zaila'i (W. 762 H).[10]

Topik Pembahasan Kitab

Mentakhrij hadits-hadits yang dijadikan oleh al-Allamah Ali bin Abi Bakar al-Marghinani al-Hanafi (wafat 593 H) dalam kitab al-Hidayah, Kitab ini merupakan kitab fikih Hanafi, sedang kitab takhrij ini merupakan kitab yang paling luas dan yang paling dikenal dibanding kitab-kitab takhrij lainnya.

Al-Kattani berkata, "kitab ini adalah kitab takhrij yang sangat bermanfaat sekali dijadikan patokan oleh kalangan pensyarah kitab al-Hidayah, bahkan Ibnu Hajar banyak mengambil manfaat dari buku ini dalam takhrij ini. Ini sebagai bukti kedalaman ilmu beliau dalam disiplin ilmu hadits, nama-nama perawi, dan luasnya pandangan beliau tentang hadits marfu'."[11]

Manhaj az-Zaila'i dalam Nashb ar-Rayah

1. Dia menyusunnya berdasarkan bab-bab fikih karena mengikuti buku aslinya al-Hidayah; dimulai dari kitab Thaharah hingga akhir bab fikih.

2. Penyusun menyebutkan nash hadits yang ditampilkan oleh penulis al-Hidayah, kemudian dia menyebutkan perawi yang mengeluarkan hadits itu dari kalangan penulis kitab as-Sunnah atau yang lainnya dengan penjelasan jalan periwayatannya, dan tempat-tempatnya sebisa mungkin.

3. Dia menyebutkan hadits-hadits yang menjadi penguat dan pendukung bagi makna hadits yang disebutkan oleh pengarang al-Hidayah, dan dia juga menyebutkan perawi yang mengeluarkan hadits itu, dan dia memberikan isyarat hadits-hadits ini dengan istilah "hadits-hadits bab", yaitu hadits-hadits yang dipergunakan oleh madzhab Hanafi, madzhab penulis kitab al-Hidayah.

4. Jika permasalahan yang dibahas adalah masalah khilafiyah maka dia menampilkan hadits-hadits yang dijadikan dalil oleh ulama dan para imam yang bertentangan dengan ulama madzhab Hanafi. Dia memberikan isyarat untuk hadits-hadits ini dengan istilah Ahadits al-Khushum (hadits-hadits penentang), dan dia menyebutkan perawi yang mentakhrij hadits tersebut dengan menyebutkan illat dari tiap-tiap hadits jika ditemukan, sama saja baik terdapat dalam hadits bab atau hadits penentang. Kitab Nashb ar-Rayah dicetak dalam empat jilid.

Kedua: At-Talkhish al-Habir, Karya al-Haflzh Ibnu Hajar

Penulisnya

Al-Hafizh Syihabuddin Ahmad bin AH bin Hajar al-Asqalani. Dia dilahirkan pada 773 H, dan wafat pada 852 H. Dia adalah pengarang kitab-kitab yang terkenal.[12]

Nama kitab

At-Talkhish al-Habir fi Takhrij Ahadits Syarh al-Wajiz al-Kabir,

Objek Pembahasannya

Penulis meringkas kitab al-Badr al-Munir fi Takhrij al-Ahadits wa al-Atsar fi asy-Syarh al-Kabir karya Ibnu al-Mulaqqin (W. 804 H), dan kitab asy-Syarh al-Kabir dalam fikih asy-Syafi'i karya Abu al-Qasim Abdul Karim bin Muhammad ar-Rafi'i (W, 623 H). Di dalamnya dia mensyarah kitab al-Wajiz karya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (W. 505 H).

Sebab Penulisannya

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam mukadimahnya, "Amma ba'du, sungguh aku telah mengkaji takhrij hadits-hadits yang terdapat dalam Syarh al-Wajiz karya Imam Abu al-Qasim ar-Rafi'i -semoga Allah berterima kasih atas usahanya- yang ditulis oleh sejumlah ulama muta'akhkhirin, di antaranya: al-Qadhi 'Izzuddin bin Jama'ah, Imam Abu Umamah bin an-Naqqas, dan Allamah Sirajuddin bin al-Mulaqqin, dan Mufti Badruddin Muhammad bin Abdullah az-Zarkasyi.

Di antara kitab-kitab yang disebutkan tadi ada yang mempunyai keistimewaan daripada yang lain dari sisi faidah dan zawa'id lainnya. Dan yang paling luas pembahasannya dan paling jelas ialah kitab Syaikh Sirajuddin bin al-Mulaqqin, hanya saja dia memanjangkannya dengan sering terjadi pengulangan, sehingga mencapai tujuh jilid.

Kemudian saya berpendapat untuk meringkasnya menjadi beberapa jilid saja, namun ringkasan ini banyak merusak maksud dan peringatan penting dalam kitab yang dipanjangkan, maka aku memandang perlu meringkasnya menjadi sepertiga dari buku asli-nya dengan tetap konsisten mendapatkan maksud (dan makna)nya. Lalu Allah memberikan kemudahaan untuk hal itu. Kemudian aku meneliti faidah dan zawa'id dari takhrij hadits yang disebutkan bersama kitab tersebut, dan juga dari takhrij hadits al-Hidayah dalam fikih madzhab Hanafi karya Imam Jamaluddin az-Zaila'i, karena dia memberikan peringatan di dalamnya terhadap dalil yang dijadikan hujjah oleh para penentangnya.

Saya memohon kepada Allah jika penelitian ini telah selesai, maka semoga ia mencakup seluruh hujjah para fuqaha' dalam karya-karya mereka dalam fikih. Ini adalah maksud agung dan tujuan suci. Kita memohon kepada Allah agar memberi manfaat kepada kita dengan ilmu yang Dia ajarkan kepada kita, dan semoga Dia mengajarkan kepada kita ilmu yang bermanfaat.[13]

Manhaj al-Hafizh dalam Kitab at-Talkhish al-Habir

Pertama, al-Hafizh menyusunnya berdasarkan bab-bab fikih untuk mengikuti buku aslinya, asy-Syarh al-Kabir.

Kedua, penyusun selalu menyebutkan nash sebagaimana yang disebutkan oleh penulis kitab asy-Syarh al-Kabir kemudian dia mulai mentakhrij haditsnya dengan menjelaskan tentang illat dalam sanad dan matannya.

Ketiga, dia menyebutkan juga dalil pendukung berupa mutaaba'at dan syawahid dengan menjelaskan derajat dari masing-masing hadits secara umum.

Keempat, seringkali dia menunjukkan kepada dalil-dalil para penyelisih dengan menjelaskan dalil yang rajih disertai penjelasan tingkatan setiap hadits dari sisi keshahihan dan kedhaifan.

Kitab ini telah dicetak dalam empat juz dalam dua jilid, dan juga dicetak pada catatan pinggir dari kitab al-Majmu' karya an-Nawawi.

Ketiga : Kitab-kitab Zawa'id

Kitab Zawa'id adalah kitab atau karya tulis yang dimaksudkan untuk mengumpulkan tambahan dari kitab-kitab tertentu seperti kitab musnad dan mu'jam ke dalam kitab-kitab rujukan hadits seperti al-Kutub as-Sittah, Musnad Ahmad, Shahih Ibnu Hibban dan lain-lainnya.

Urgensi Kitab Zawa'id dan Manfaatnya

Pertama, sesungguhnya kitab-kitab ini menjadi ensiklopedia hadits, jika sebagian digabungkan dengan yang lainnya.

Kedua, sesungguhnya kitab Zawa'id ini bisa digunakan untuk mengetahui mutaba'ah dan syawahid dan mengetahui jalan periwayatan sebagian hadits, yang mana jika bukan karena kitab zawa'id, niscaya kita tidak akan bisa mengenal hadits-hadits tersebut, baik karena hilangnya kitab asal ataupun karena kesulitan untuk memperolehnya.

Siapakah Pencetus Ide Kitab Zawa'id?

Al-Hafizh Zainuddin Abdurrahim bin al-Husain al-lraqi (W. 806 H.) dianggap sebagai penemu pertama kali ide kitab Zawa'id, meskipun sejauh pengetahuanku[14] dia belum menulis satu pun kitab tentang hal itu, akan tetapi dia mengarahkan hal itu kepada tiga orang muridnya yang mana dari mereka itulah madrasah hadits terbentuk di akhir abad kedelapan dan awal abad kesembilan hijriyah. Mereka adalah:

  1. Al-Hafizh Abu Bakar Nuruddin al-Haitsami (W. 807 H).
  2. Al-Hafizh Syihabuddin Abu al-Abbas al-Bushiri (W. 840 H).
  3. Al-Hafizh Abu al-Fadhl Syihabuddin Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani (W. 852 H.)

Al-Hafizh al-Haitsami merupakan murid yang paling dulu menulis disiplin ilmu zawa'id ini dengan bimbingan syaikhnya, al-Iraqi. Dia memulai hal itu dengan Zawa'id Musnad al-lmam Ahmad kemudian Musnad Abu Ya'la kemudian Musnad al-Bazzar kemudian setelah itu tiga Mu'jam ath-Thabrani. Semuanya ini Zawa'id terhadap al-Kutub as-Sittah.

Di antara Karya Ilmiah yang Terpenting dalam az-Zawa'id[15]

  1. Ghayah al-Maqshad fi Zawa'id al-Musnad (Musnad Ahmad), karya al-Haitsami, ditahqiq di Universitas Ummul Qura.
  2. Kasyf al-Astar 'an Zawa'id al-Bazzar, karya al-Haitsami, dicetak sebanyak empat jilid.
  3. Al-Maqshad al-Ali fi Zawa'id Abu Ya’la al-Mushili, karya al-Haitsami, dicetak juz awalnya saja.
  4. Al-Badr al-Munir 'ala Zawa'id al-Mu'jam al-Kabir li ath-Thabrani, karya al-Haitsami, ditahqiq di Universitas Ummul Qura.
  5. Majma' al-Bahrain fi Zawa'id al-Mu'jamain[16] -yaitu Mu'jam ash-Shaghir dan Mu'jam al-Ausath li ath-Thabrani,- karya al-Haitsami juga, dan inilah yang dimaksud dengan Zawa'id (tambahan) atas hadits yang terdapat dalam al-Kutub as-Sittah. Kemudian al-Haitsami dengan bimbingan gurunya, al-Iraqi mengumpulkan tambahan al-Kutub as-Sittah —yaitu musnad-musnad dan mu'jam- dalam satu kitab yang sanadnya dibuang, dengan judul:
  6. Majma' az-Zawa'id wa Manba' al-Fawa'id, sudah dicetak sebanyak 10 juz.
  7. Mawarid azh-Zham'an ila Zawa'id Ibnu Hibban karya al-Haitsami, sudah dicetak dalam satu jilid.
  8. Bughyah al-Bahits 'an Zawa'id Musnad al-Harits karya al-Hai-tsami, satu juz, sudah ditahqiq di Universitas al-lslamiyah di Madinah.
  9. Al-Mathalib al-Aliyah fi Zawa'id al-Masanid ats-Tsamaniyah, karya al-Hafizh Ibnu Hajar, dicetak dalam empat jilid.
  10. Zawa'id al-Bazzar ala al-Kutub as-Sittah wa Musnad Ahmad, karya al-Hafizh Ibnu Hajar.[17]
  11. Ithaf al-Khiyarah al-Maharah bi Zawa'id al-Masanid al-Asyrah, karya al-Hafizh al-Bushiri.[18]
  12. Mishbah az-Zujajah fi Zawa'id Ibnu Majdh 'ala al-Khamsah, karya al-Bushiri juga.[19]

Perbandingan Antara Tiga Kitab Zawa 'id yang Paling Penting[20]

Pertama, Majma' az-Zawa'id wa Manba' al-Fawa'id, karya al-Haitsami (W. 807 H):

  1. Dia mengumpulkan dalam al-Majma' tambahan dari enam buku -Musnad Ahmad, al-Bazzar, Abu Ya'la, dan tiga Mu'jam ath-Thabrani terhadap al-Kutub as-Sittah yang dikenal.
  2. Penyusun membuang sanad untuk meringkas agar kitab tersebut tidak terlalu panjang.
  3. Dia menyusunnya berdasarkan bab dengan gaya penyusunan baru. Dia memulainya dari kitab Iman dan ditutup dengan sifat-sifat surga.
  4. Kadang-kadang dia mensyarah matan hadits yang gharib.
  5. Dia berbicara tentang hadits sesuai dengan yang dituntut oleh keadaannya dari sisi keshahihan dan kedhaifan. Sungguh dia telah menjelaskan manhaj penulisannya dalam mukadimah buku tersebut seraya berkata, "Hadits yang aku bahas tentang keshahihan atau kedhaifannya -dan hadits tersebut dari satu sahabat, kemudian aku menyebutkan untuknya matan yang serupa dengannya-, maka saya mencukupkan diri memberi komentar setelah hadits yang pertama saja kecuali jika matan hadits yang kedua lebih shahih daripada hadits pertama. Apabila Imam Ahmad dan selainnya meriwayatkan satu hadits, maka yang dibicarakan adalah perawi hadits Imam Ahmad, kecuali jika sanad hadits perawi lain itu lebih shahih.

Dan hadits itu memiliki satu sanad yang shahih, maka itu sudah cukup bagiku tanpa perlu melihat kepada sanad lainnya. Dan apabila sanadnya dhaif dan termasuk para syaikh dari ath-Thabrani yang terdapat dalam al-Mizan karya adz-Dzahabi, maka aku memperingatkan atas kedhaifannya. Dan apabila perawinya tidak terdapat pada al-Mizan, maka aku menggabungkannya ke dalam perawi tsiqat yang ada setelahnya.

Kedua, al-Mathalib al-Aliyah bi Zawa'id al-Masanid ats-Tsamaniyah, karya al-Hafizh Ibnu Hajar:

  1. Kitab-kitab tersebut ialah:
    1. Musnad ath-Thayalisi (W. 204 H).
    2. Musnad Abu Bakar al-Humaidi (W. 219 H).
    3. Musnad Ibnu Abi Umar al-Adani (W. 243 H).
    4. Musnad Abd bin Humaid al-Kasysyi (W. 249 H).
    5. Musnad Musaddad bin Musarhad (W. 228 H).
    6. Musnad Ahmad bin Mani' al-Baghawi (W. 244 H).
    7. Musnad Abi Bakr bin Abi Syaibah (W. 235 H).
    8. Musnad al-Harits bin Abi Usamah (W. 282 H).
  2. Al-Hafizh menggabungkan hadits-hadits tambahan yang terdapat dalam delapan kitab musnad ini atas al-Kutub as-Sittah dan Musnad Ahmad.
  3. Dia menyusunnya berdasarkan sejumlah kitab dan bab fikih, sebagaimana yang dilakukan al-Haitsami dalam kitab Majma' az-Zawa'id.
  4. Dia menyebutkan hadits-hadits itu berikut dengan sanad-sanadnya dari para perawinya hingga sampai kepada Rasulullah [21]
  5. Penyusun kadang-kadang juga memberikan hukum atas hadits atau sanadnya.
  6. Kadang-kadang dia menjelaskan kata-kata yang gharib.
  7. Kadang-kadang dia menshahihkan sesuatu yang salah atau wahm (terduga salah) dalam sanadnya. Hal ini disebabkan kesalahan penyalin tulisan hadits tersebut.
  8. Sesungguhnya penulis menggabungkan Musnad Imam Ahmad ke dalam al-Kutub as-Sittah, namun dia belum mentakhrij hadits yang terdapat di dalamnya.
  9. Penyusun menyebutkan persyaratan dalam mukadimah kitabnya itu seraya berkata, "Persyaratanku di dalam kitab ini ialah menyebutkan setiap hadits yang datang dari sahabat yang mana tidak diriwayatkan oleh para penyusun al-Ushul as-Sab'ah[22] dari haditsnya, meskipun mereka atau sebagian mereka telah mentakhrijnya dari hadits sahabat lainnya dengan menyertakan penjelasan padanya terkadang.[23]

Ketiga, kitab Ithaf al-Khiyarah al-Maharah bi Zawa'id al-Masanid al-’Asyrah, karya al-Hafizh al-Bushiri

  1. Musnad-musnad yang tercakup dalam kitab ini ialah: delapan musnad yang disebutkan di dalam kitab Mathalib al-Aliyah, karya al-Hafizh Ibnu Hajar dengan ditambah Musnad Ishaq bin Rahawaih dan Musnad Abu Ya'la al-Mushili al-Kabir.
  2. Al-Bushiri menyusunnya berdasarkan sejumlah kitab dan bab, dan cara penyusunannya lebih mirip dengan cara penyusunan al-Haitsami daripada penyusunan al-Hafizh Ibnu Hajar.
  3. AI-Bushiri menyebutkan hadits-hadits berikut dengan sanadnya, sebagaimana yang dilakukan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar.
  4. Dia berbicara tentang hadits tersebut dan sanadnya sesuai dengan tuntutan keadaannya berupa keshahihan atau kedhaifan dan kebersambungan atau keterputusan sanadnya. Dan hal yang seperti ini sering dilakukan.
  5. Ketika dalam sanad hadits tersebut terdapat perawi mudallis atau mukhtalith atau dhaif maka dia seringkah menjelaskannya.
  6. Dia sering mentakhrij dari kitab-kitab yang dia sebutkan dalam mukadimahnya selain sepuluh musnad itu, dan dari kitab-kitab yang lainnya. Inilah keistimewaan yang terdapat dalam kitab ini, dan tidak ditemukan pada kitab para pendahulunya.
  7. Dia sering memberikan syarah gharib hadits.
  8. Dia terbatas hanya menyebutkan sepuluh musnad sebagai tambahan atas al-Kutub as-Sittah selain Musnad Ahmad.
  9. Tampak dari sebagian nash-nash yang ada, bahwa dia menyusun kitabnya setelah Imam Ibnu Hajar menyusun kitab al-Mathalib al-Aliyah karena banyak penukilan atasnya, wallahu a'lam.

Keempat: Kitab-Kitab Jawami'

Definisi

Kata جَوَامِعٌ adalah bentuk jamak dari kata جَامِعٌ yang dimaksud dengan kata jami' dalam istilah ahli hadits ialah: Sesuatu yang mencakup seluruh bagian hadits, maksudnya kitab itu mencakup hadits-hadits tentang akidah, hukum, budak, adab, tafsir, sejarah, fitnah pada Hari Kiamat, peperangan, dan hadits yang ada kaitannya dengan kedudukan dan keutamaan.[24]

Adapun yang dimaksudkan di sini ialah: Kitab-kitab yang dimaksudkan penyusunnya untuk mengumpulkan seluruh hadits nabawi di dalamnya secara mutlak, seperti kitab al-jami' al-Kabir wa ash-Shaghir karya as-Suyuthi ataupun mengumpulkan hadits-hadits dari kitab-kitab tertentu[25] seperti Jami' al-Ushul karya Ibnu al-Atsir yang mengumpulkan al-Kutub as-Sittah, atau Jami' al-Masanid karya Ibnu Katsir yang mengumpulkan al-Kutub al-Asyrah.

Di antara Kitab-kitab Jawami’ yang Paling Penting

1. Bahr al-Asanid fi Shahih al-Masanid karya Imam al-Hafizh Abu Muhammad Ahmad as-Samarqandi (W. 491 H). Al-Hafizh adz-Dzahabi berkata, "Di dalam kitab ini juga telah dikumpulkan 100.000 hadits dalam 800 juz. Seandainya dia menyusun dan memperbaiki kitab ini, niscaya tidak ada bandingannya dalam Islam."[26]

2. Jami'al-Ushul li Ahadits ar-Rasul karya al-Hafizh Majdud-din Abu as-Sa'adat Ibnu al-Atsir (W. 606 H). Sudah kami bicarakan sebelumnya dalam kitab-kitab yang mengumpulkan al-Kutub as-Sittah seluruhnya atau sebagiannya.

3. Jami' al-Masanid karya al-Hafizh Imaduddin Abu al-Fida' Isma'il bin Umar yang dikenal dengan Ibnu Katsir ad-Dimasyqi. Dia adalah seorang ahli tafsir dan ahli tarikh (W. 774 H). Kitab ini merupakan kitab yang sangat besar, karena penyusunnya mengumpulkan hadits-hadits al-Kutub al-Asyrah, yaitu: al-Kutub as-Sittah, Musnad Imam Ahmad, Musnad al-Bazzar dan Musnad Abu Ya'la al-Mushili serta al-Mu'jam al-Kabir karya ath-Thabrani. Dia telah bersusah payah dan sangat lelah sehingga akhirnya dapat menyelesaikan kodifikasi kitab ini. Maka jadilah kitab ini sebagai sebuah kitab yang tiada tandingannya dalam ilmu dan kesempurnaannya, kecuali sebagian Musnad Abu Hurairah, disebabkan terburu buta dan wafat sebelum menyelesaikan buku tersebut. Ibnu Katsir berkata, "Aku selalu menulis buku ini di malam hari dan pelita menyala sehingga mataku buta bersamanya." Semoga Allah menakdirkan ada orang yang akan melanjutkan kodifikasi ini, padahal ini satu hal yang mudah, karena di dalam Mu'jam thabrani tidak terdapat satu pun hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah .[27]

4. Majma' az-Zawa'id dan Manba' al-Fawa'id karya al-Hafizh Nuruddin al-Haitsami (W. 807 H) sudah kami bicarakan dalam kitab az-Zawa'id.

5. Ithaf al-Khiyarah al-Maharah bi Zawa'id al-Masanid al-'Asyrah karya al-Hafizh al-Bushiri (W. 840 H) telah dibicarakan dalam kitab az-Zawa'id.

6. Ithaf as-Sadah al-Khiyarah al-Maharah bi Athraf al-Kutub al-'Asyrah karya al-Hafizh Ibnu Hajar (W. 852 H), sudah dijelaskan dalam pembahasan Shahih Ibnu Khuzaimah.

7. Al-Jami' al-Kabir yang lebih dikenal dengan Jam'u al-Jawami', karya al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi (W. 911 H).

Dia berkata dalam mukadimah kitab ini, "Ini adalah kitab yang mulia, aku memaksudkannya untuk menyempurnakan hadits-hadits Nabi Muhammad . Aku membaginya ke dalam dua bagian

Pertama, aku menuliskan lafazh al-Mushthafa sesuai dengan nashnya, kemudian berikutnya aku menyebutkan matan haditsnya dengan menyebut orang yang mengeluarkan hadits tersebut dari kalangan para imam pemilik kitab-kitab ternama dan perawi yang meriwayatkannya dari kalangan para sahabat yang meriwayatkan hadits secara tersusun, sistematis, berbasis bahasa berdasarkan huruf mu'jam dengan memperhatikan huruf awal kata dan huruf seterusnya.

Kedua, hadits-hadits fi'liyah yang murni atau mencakup perkataan Nabi dan perbuatan atau sebab kejadian atau sebuah kajian atau yang lainnya yang disusun berdasarkan musnad-musnad sahabat. As-Suyuthi mendahulukan sepuluh sahabat yang dijanjikan masuk Surga (al-Asyrah al-Mubasysyarin bi al-Jannah) daripada yang lainnya, kemudian dia menyusun berdasarkan huruf mu 'jam. Dia berkata, "Saya memberi nama kitab ini dengan Jam'u al-Jawami'."[28]

8. Al-Jami' ash-Shaghir Min Ahadits al-Basyir an-Nadzir karya al-Hafizh as-Suyuthi juga. Dia berkata dalam mukadimahnya, "Saya menyebutkan di dalam kitab ini ribuan perkataan Nabi , dan sekian jenis hikmah yang bersumber dari Nabi Muhammad . Saya hanya membatasi hadits-hadits yang ringkas saja, dan saya meringkas di dalamnya makna-makna atsar yang jelas. Saya serius dalam meneliti takhrij haditsnya, lalu saya meninggalkan kulitnya, dan saya mengambil isinya. Saya menjaga kitab ini dari hadits-hadits yang diriwayatkan sendirian oleh para pemalsu dan pendusta." Sehingga dia unggul dengan kitab itu yang ditulis pada jenis disiplin ilmu ini. Di dalamnya terdapat metode hadits baru yang bagus yang tidak didapati dalam kitab sebelumnya. Saya menyusun kitab ini berdasarkan huruf mu'jam dengan memperhatikan awal hadits, lalu sesudahnya untuk memudahkan penuntut ilmu. Saya memberi nama kitab ini al-Jami' ash-Shaghir min Hadits al-Basyir an-Nadzir karena hadits ini merupakan bagian dari kitab al-Kabir yang mana saya memberinya nama Jam'u al-Jawami'.[29]

9. Ziyadah al-Jami' ash-Shaghir karya as-Suyuthi juga:

Dia berkata ketika mengomentari kitab ini, "Kitab ini merupakan dzail atas kitabku yang berjudul al-Jami' ash-Shaghir min Hadits al-Basyir an-Nadzir, aku memberinya nama dengan Ziyadah al-Jami'. Simbol dan tertibnya sama dengan kitab al-Jami' ash-Shaghir."[30

10. Kanz al-'Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al-Afal karya Ala'uddin Ali bin Hisyamuddin Abdul Malik Qadhi Khan al-Hindi yang dikenal dengan al-Muttaqi. Dia wafat di Makkah 985 H. Kitab ini merupakan susunan bagi tiga kitab as-Suyuthi -al-Kabir, ash-Shaghir, dan az-Ziyadah- berdasarkan bab-bab fikih.

11. Al-jami' al-Azhar min Hadits an-Nabi al-Anwar, karya al-Hafizh Abdurra'uf bin Taj al-Arifin bin Ali al-Munawi (W. 1031 H). Dia berkata dalam mukadimahnya, "Di antara motivator yang mendorongku untuk menulis kitab ini ialah bahwa (saya mendengar) al-Hafizh as-Suyuthi mengklaim bahwa dia telah menghimpun dalam al-Jami' al-Kabir seluruh hadits Nabi padahal dia telah melewatkan sepertiga lebih. Inilah yang sampai ke tangan kami di Mesir, sedangkan hadits yang belum sampai kepada kami lebih banyak lagi. Maka banyak tokoh-tokoh besar yang terpedaya dengan klaim ini, sehingga setiap hadits yang ditanyakan, maka dirujukkan ke kitab al-jami' al-Kabir. Jika tidak ditemukan dalam kitab tersebut, maka muncullah dugaan yang kuat bahwasanya itu tidak ada. Dan boleh jadi dia menjawab bahwasanya hadits ini tidak ada asalnya. Maka ini sangat berbahaya sekali."[31]


[1] Lihat lagi Tadrib ar-Rawi, as-Suyuthi, 2/155.

[2] Ar-Risalah al-Mustathrafah, Muhammad Ja’far al-Kattani, hal. 167-168.

[3] Agar lebih terperinci, silahkan merujuk lagi kitab ar-Risalah al-Mustathrafah, Muhammad Ja’far al-Kattani, hal. 167-170; Muqaddimah Tuhfah al-Ahwadzi, Abdurrahman al-Mubarakfuri, hal. 37-40.

[4] Lihat biografinya dalam Tadzkirah al-Huffazh, Abu Abdullah adz-Dzahabi, 4/1498.

[5] Lihat perincian pembahasan tentang manhaj al-Mizzi dalam kitabnya ini dengan Mukadimah yang sudah ditahqiq oleh Syaikh Abd ash-Shamad Syarafuddin, 1/13-15.

[6] Lihat lagi Tuhfah al-Asyraf bi Ma’rifah al-Athraf, Jamaluddin al-Mizzi, mukadimah Muhaqqiq, 1/21.

[7] Fath al-Mughits, Syamsuddin as-Sakhawi, Madinah: as-Salafiah, tth. 2/338.

[8] Lihat lagi Ushul at-Takhrij, Dr. Mahmud ath-Thahhan, hal. 12.

[9] Lihat lagi Ushul at-Takhrij, Dr. Mahmud ath-Thahhan,, hal. 15-17.

[10] Lihatlah biografinya dalam kitab Lahak al-Alhazh Dzail Tadzkirah al-Huffazh, karya Ibnu Fahd al-Makki, hal. 128-130,

[11] Ar-Risalah al-Mustathrafah, Muhammad Ja’far al-Kattani, hal. 188

[12] Al-Hafizh as-Sakhawi telah menulis biografi syaikhnya, Ibnu Hajar secara lengkap. Lihat kitab Nazhm ad-Durar fi Tarjamah al-Hafizh Ibnu Hajar. Syamsuddin as-Sakhawi. Terakhir dicetak di Mesir.

[13] Lihat lagi at-Talkhish al-Habir fi Takhrij Ahadits Syarh al-Wajiz al-Kabir, Ibnu Hajar al-Asqalani, 1/21, dari mukadimah penulis.

[14] Aku mengetahui hal ini dari syaikh kami, Abu Abdul Bari Hammad bin Muhammad an-Nashari -semoga Allah selalu memberikan taufik kepadanya dan memberkati sisa umurnya-.

[15] Lihat lagi ar-Risalah al-Mustathrafah, Muhammad Ja’far al-Kattani. hal. 127-129; al-Maqsad al-Ali, 1/62-72, Mukadimah Muhaqqiq.

[16] Ditahqiq oleh Dr. Hafizh bin Muhammad al-Hakami pada disertasi doktor. Juz pertama dan kedua sedang dicetak di Maktabah ash-Shiddiq di Tha'if.

[17] Dicetak di pusat pelayanan as-Sunnah dan Sirah, di Universitas Islamiyah di Madinah, ditahqiq oleh Dr. Abdullah Murad.

[18] Diberikan secara gratis kepada mahasiswa jurusan as-Sunnah, Pascasarjana Universitas al-lslamiyah di Madinah untuk ditahqiq pada strata Magister dan Doktoral.

[19] Juz pertama telah ditahqiq oleh Dr. Iwadh asy-Syahri di Universitas Islamiyyah Madinah untuk memperoleh gelar Doktor, dan telah dicetak beberapa juz, tanpa ditahqiq.

[20] Lihat perincian perbandingan ini dalam mukadimah disertasi Sulaiman bin Abdul Aziz al-Uraini. Ia merupakan juz pertama dari Ithaf al-Khiyarah, karya al-Bushiri.

[21] Al-Mathalib al-Aliyah ada dua naskah, yang pertama disertai dengan sanadnya, dan yang kedua tanpa sanad, dan sudah dicetak dan beredar.

[22] Yang dimaksud dengan al-Ushul as-Sab’ah ialah Kutub Sittah dan Musnad Imam Ahmad.

[23] Lihat al-Mathalib al ’AIiyah, Ibnu Hajar, 1/5.

[24] Muqaddimah Tuhfah al-Ahwadzi, Abdurrahman al-Mubarakfuri, hal. 34 pasal 10.

[25] Muqaddimah Tuhfah al-Ahwadzi, Abdurrahman al-Mubarakfuri, hal 40 pasal 11.

[26] Lihat Tadzkirah alrHuffazh, Abu Abdullah adz-Dzahabi, 4/1230-1231.

[27] Al-Mish’ad al-Ahmad, Ibnu al-Jauzi dicetak dalam mukadimah Musnad Imam Ahmad dengan tahqiq Ahmad Syakir; dan lihat lagi al-Fath ar-Rabbani, karya as-Sa'ati, 1/20.

[28] Dalam manuskrip yang difoto copi. .Lembaran 1-2.

[29] Al-Jami’ ash-Shaghir, as-Suyuthi, haL 3.

[30] Lihat lagi al-Fath Kabir, as-Suyuthi, haL 3.

[31] Al-jami’ al-Azhar, Abdurra'uf al-Munawi, hal. 3 dari mukadimah manuskrip yang difotocopi.

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya