Kitab Referensi

Kitab : Tadwin as-Sunnah Nabawiyah, Nasy' atuhu wa tathawwuruhu

PERTAMA KITAB-KITAB AL-MAUDHU'AT (HADITS-HADITS PALSU)

Definisi

Kitab maudhu'at adalah kitab yang mengumpulkan hadits-hadits maudhu' (palsu) lagi makdzub (dusta) beserta penjelasan tentang kepalsuannya dan siapa yang memalsukan hadits tersebut secara umum, dan biasanya tersusun berdasarkan kitab dan bab.[2]

Para ulama salaf sangat memperhatikan dalam sesuatu yang perlu diperhatikan berupa penjelasan hadits-hadits maudhu' yang didustakan dari Rasulullah dan melarang periwayatan hadits tersebut dan membongkar kedok para pendusta, dan para ulama memperingatkan untuk menyimak para pendusta atau meriwayatkan hadits dari mereka. Tapi ini semua terjadi sebelum abad kelima hijriyah karena masih tersebar dan terpisah-pisah dalam kitab rijal (perawi) dan ilal dan lain-lainnya, seperti:

  1. Al-Ilal fi Ma'rifah ar-Rijal, karya Imam Ahmad (W. 241 H).
  2. At-Tarikh, karya al-Hafizh Ibnu Ma'in (W. 233 H).
  3. Al-Kamil, karya al-Hafizh Ibnu Adi (W. 365 H).
  4. Adh-Dhu'afa', karya al-Uqaili (W. 322 H).
  5. Dan sebagainya.

Kemudian para ulama -setelah abad kelima hijriyah- mulai mengumpulkan hadits yang masih tercecer dan menyusun kembali sesuatu yang bertebaran dari hal itu ke dalam satu kitab.

Di antara karya tulis yang paling penting dalam bidang ini ialah:

  1. Al-Maudhu'at, karya Abu Sa'id Muhammad bin Ali bin Amr an-Naqqasy al-Ashbahani (W. 414 H.), buku ini belum dicetak sejauh yang saya tahu.
  2. Tadzkirah al-Maudhu'at, karya Abu al-Fadhl Muhammad bin Thahir yang dikenal dengan Ibnu al-Qaisarani (W. 507 H), dan ia sudah dicetak.
  3. Al-Abathil wa al-Manakir wa ash-Shihah wa al-Masyahir, karya al-Husain bin Ibrahim al-Jauraqani (W. 543 H) sudah dicetak.
  4. Al-Maudhu'at, karya al-Hafizh Abu al-Faraj bin al-Jauzi (W. 597 H.) sudah dicetak.
  5. Al-Aqidah ash-Shahihah fi al-Maudhu'at ash-Sharihah, karya Abu Hafsh Umar bin Badr al-Maushili (W. 622 H), belum dicetak -sejauh yang saya tahu-.
  6. Al-Maudhu'at, karya Abu al-Fadhl al-Hasan bin Muhammad bin al-Hasan ash-Shaghani (W. 650 H), sudah dicetak.
  7. Ahadits al-Qishash, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (W. 728 H.) sudah dicetak.
  8. Alla'ali' al-Mashnu'ah fi al-Ahadits al-Maudhu'ah, karya Jalaluddin as-Suyuthi (W. 911 H) sudah dicetak.
  9. An-Nukat al-Badi'at fi al-Ahadits al-Maudhu'at, karya as-Suyuthi juga. Kitab ini berisikan komentar beliau terhadap Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya al-Maudhu'at. Pernah dicetak di India.
  10. . Al-Fawa'id al-Majmu'ah fi al-Ahadits al-Maudhu'ah, Muhammad bin Yusuf bin Ali asy-Syami, penulis kitab Sirah al-Halabiyah, (W. 942 H) sepengetahuanku belum dicetak, wallahu a’latn.
  11. Tanzih asy-Syari'ah al-Marfu'ah an al-Akhbar asy-Syani'ah al-Maudhu'ah, karya Ibnu Iraq Ali bin Muhammad al-Kinani (W. 963 H) sudah dicetak.
  12. Tadzkirah al-Maudhu'at, karya Muhammad bin Thahir aJ-Fatani (W. 986 H) sudah dicetak.
  13. Al-Asrar al-Marfu'ah f al-Ahadits al-Maudhu'ah, karya Mulla Ali al-Qari (W. 1014 H) sudah dicetak.
  14. Al-Mashnu' fi Ma'rifah al-Hadits al-Maudhu', juga karya Mulia Ali al-Qari, sudah dicetak.
  15. Al-Fawaid al-Majmu'ah fi al-Ahadits al-Maudhu'ah, karya Muhammad bin Ali asy-Syaukani (W. 1255 H), sudah dicetak.[3]

Kajian Singkat Salah Satu dari Kitab-kitab yang Mengumpulkan Hadits Palsu (Maudhu')

Al-Maudhu'at, karya aJ-Hafizh Ibnu al-Jauzi

Penulisnya

Jamaluddin Abu al-Faraj Abdurrahman bin Aii bin al-Jauzi yang dilahirkan pada 510 H. dan wafat pada 597 H,[4]

Dia mengumpulkan hadits palsu yang dibuat-buat dengan menjelaskan keadaan hadits tersebut dan keadaan orang yang dituduh memalsukannya yang tersusun secara sistematis berdasarkan kitab dan bab.

Ibnu al-Jauzi berkata dalam mukadimahnya, "Amma ba'du, sesungguhnya sebagian dari penuntut ilmu memintaku berkali-kali untuk mengumpulkan hadits-hadits maudhu' (palsu) dan menjelaskannya dari jalan mana ia diketahui sebagai hadits-hadits maudhu Maka aku berpendapat bahwa mengabulkan permintaan mereka (para pencari ilmu) adalah sebuah kemestian, mengingat sedikitnya jumlah para penuntut ilmu, apalagi ilmu naql, karena banyak yang berpaling darinya. Dan banyak sekali kisah-kisah yang mereka riwayatkan melalui hadits maudhu’. Bahkan sebagian ahli zuhud menjadikannya hujjah dalam peribadatan. Inilah aku yang memenuhi permintaan mereka, dan aku tulis berdasarkan pasal-pasal supaya bisa menjadi panduan pokok. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik.[5]

Manhaj Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudhu’at

Ibnu al-Jauzi menulis -dalam kitabnya- mukadimah yang cukup berharga, terdiri dari:

  1. Beberapa pasal penting yaitu:
    1. Keutamaan umat Islam ini dan kedudukannya.
    2. Keutamaan ulama-ulama terdahulu.
    3. Kemudian dia menyebutkan pembagian-pembagian hadits lalu menjadikannya enam bagian, yang paling tinggi tingkatannya adalah shahih yang muttafaq alaih (disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim) dan yang paling rendah adalah maudhu'.
    4. Dia berbicara tentang pembagian para pemalsu hadits dan pasal pembahasan tentang masing-masing bagian.
  2. Membagi kitab tersebut ke dalam empat bab yaitu:

    Pertama, celaan terhadap dusta.

    Kedua, tentang sabda Nabi

    مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

    "Barangsiapa yang berbohong atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari api neraka."

    Di mana dia menyebutkan -dengan panjang lebar- jalan periwayatan hadits tersebut dan jumlah para perawinya.

    Ketiga, pembahasan kritik rijal (perawi hadits), dan peringatan dari hadits yang diriwayatkan oleh para pendusta dan orang yang jahil.

    Keempat, objek pembahasan kitab; yaitu hadits-hadits maudhu' yang disusun secara sistematis berdasarkan kitab dan bab fikih. Karyanya ini mencakup 50 kitab.[6]

Dia berkata dalam mukadimahnya, "Maka saya menyusun buku ini berdasarkan beberapa kitab yang mencakup beberapa bab pula. Saya menyebutkannya berdasarkan urutan kitab-kitab yang ditulis dalam tema fikih agar memudahkan bagi penuntut ilmu hadits untuk mencarinya, dan saya menyebutkan setiap hadits beserta dengan sanad-sanadnya. Saya menjelaskan letak aibnya dan perawi yang tertuduh (dusta) sebagai pembersih bagi syari'at agama ini dari hal-hal yang mustahil dan sebagai peringatan amalan yang tidak disyari'atkan.[7]

Pendapat Para Ulama Tentang Kitab al-Maudhu'at, Karya Ibnu al-Jauzi

Imam as-Suyuthi berkata, "Sungguh para hafizh -yang dulu dan yang sekarang- telah memberikan peringatan bahwasanya di dalam kitab ini terkandung banyak tasahul (menggampangkan), dan ada hadits yang bukan termasuk hadits maudhu', namun sebenarnya ia termasuk hadits dhaif saja. Di dalamnya juga terdapat hadits hasan, dan yang lainnya shahih, bahkan di dalamnya juga terdapat hadits dari Shahih Muslim yang mana al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan peringatan tentang hal itu. Kemudian dia berkata, 'Sikap tasahhul Ibnu al-Jauzi dan al-Hakim menghilangkan manfaat kedua kitab tersebut"[8]

Imam as-Suyuthi berkata di akhir komentarnya, "Ini adalah yang terakhir yang aku tampilkan dalam kitab ini dari hadits-hadits yang dikomentari yang mana tidak pantas dimasukkan dalam kategori hadits-hadits maudhu'. Jumlahnya sekitar 300 hadits. Di antaranya hadits yang terdapat dalam Shahih Muslim, dalam Shahih al-Bukhari melalui riwayat Hammad bin Syakir, dalam Musnad Ahmad ada 30 hadits, dalam Sunan an-Nasa'i ada 10 hadits, dalam Sunan Ibnu Majah ada 30 hadits, dan dalam al-Mustadrak ada sekitar 60 hadits.

 

KEDUA: KITAB-KITAB AL-AHKAM

Definisinya

Menurut istilah Ahli Hadits: kitab-kitab al-Ahkam adalah kitab-kitab yang mencakup hadits-hadits tentang hukum saja. Yaitu hadits yang dipilih oleh penyusun kitab-kitab ini dari kitab-kitab rujukan hadits, dan mereka menyusunnya berdasarkan bab-bab fikih.

Jumlahnya ada banyak, di antara yang paling terkenal adalah sebagai berikut:

  1. Al-Ahkam al-Kubra, karya Abu Muhammad Abdul Haq bin Abdurrahman al-Asybili yang dikenal dengan Ibnu al-Kharrath (W. 581 H.) terdiri dari enam jilid. Al-Hafizh an-Naqid Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin al-Qaththan (W. 628 H.) menulis kritik dalam kitabnya Bayan al-Wahm wa al-Iham al-Waqi'in fi Kitab al-Ahkam. Buku tersebut belum dicetak -sepengetahuanku-.[9]
  2. Al-Ahkam al-Wustha, karya Abdul Haq al-Asybili juga, terdiri dari dua jilid. Disebutkan dalam khuthbahnya bahwa diamnya beliau terhadap sebuah hadits menunjukkan keshahihannya.
  3. Al-Ahkam ash-Shughra, karya Abdul Haq juga. Dia menyebutkannya dalam khuthbah bahwasanya dia memilihnya dalam keadaan sanadnya shahih, dikenal oleh kalangan kritikus hadits. Kitab ini terdiri dari satu jilid. Kitab ini disyarah oleh Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Ma.rzuq[10] (W. 781 H).
  4. Umdah al-Ahkam 'an Sayyid al-Anam, karya Taqiyuddin Abu Muhammad Abdul Ghani bin Abdul Wahid al-Maqdisi al-Jama'ili (W. 600 H). Terdiri dari dua jilid, dan sudah dicetak. Kitab ini di-syarah oleh al-Hafizh Ibnu Daqiq al-Id (W. 702 H.) dalam kitabnya Ihkam al-Ahkam; Syarh Umdah al-Ahkam[11] dicetak sebanyak dua jilid, sebagaimana disyarah juga oleh al-Hafizh Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Marzuq dan al-Hafizh Sirajuddin bin al-Mulaqqin (W. 804 H). Kitab ini juga disyarah oleh al-Fairuz Abadi (W. 817 H), penulis al-Qamus al-Muhith.[12] Aku tidak tahu apakah syarah-syarah ini sudah dicetak atau belum, wallahu a'lam

    Dan ia disyarah oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam, Anggota Hai'ah at-Tamyiz di Makkah al-Mukarramah dalam kitabnya Taisir al-Allam; Syarh Umdah al-Ahkam, dan sudah dicetak.

    .
  5. Al-Ahkam al-Kubra, karya Majduddin Abdussalam bin Abdullah bin Taimiyyah al-Harrani (W. 653 H). Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata tentangnya -dalam biografinya dari kitab Dzail Thabayat al-Hanabilah. Kitab tersebut terdiri dari beberapa jilid.[13]
  6. Al-Mutitaqa min Akhbar al-Mushthafa , karya Majduddin Ibnu Taimiyyah juga, kitab ini merupakan ringkasan dari kitab al- Ahkam al-Kubra sebagaimana dijelaskan hal itu oleh Ibnu Rajab dalam biografi al-Majdi dari Dzail Thabaqat al-Hanabilah[14] dan ia telah dicetak.

    Dan sungguh banyak ulama yang mensyarahnya seperti al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi al-Maqdisi (W. 744 H). Demikian pula al-AIlamah Sirajuddin Umar bin Ali bin alMu-laqqin (W. 804 H.) mensyarahnya, tapi tidak sampai selesai. Dan Abu al-Abbas Ahmad bin al-Muhsin al-Qadhi al-Hanbali (W. 77] H.) mensyarafmya, namun tidak sampai selesai juga. Kemudian al-Qadhi Muhammad bin Ali asy-Syaukani (W. 1255 H.) mensyarahnya, dan menamakannya Nail al-Authar; Syarh Muntaqa al-Akhbar, dan sudah dicetak. Imam asy-Syaukani dalam syarahnya berpedoman pada metode Fath al-Bari dan Talkhish al-Habir fi Takhrij al-Ahadits dalam masalah Fiqhiyyah.

  7. Al-Ilmam fi Bayan Adillah al-Ahkam, karya al-lzz bin Abdussalam (W. 660 H). Buku ini ditahqiq oleh Dr. Ali bin Muhammad asy-Syarif di Universitas Imam Muhammad bin Saud al-lslamiyah pada 1404 H.[15]
  8. Al-Ilmam fi Ahadits al-Ahkam, karya Taqiyuddin Abu al-Fath Muhammad bin Daqiq al-Id (W. 702 H), sudah dicetak.

    Haji Khalifah berkata, "Dia mengumpulkan matan hadits-hadits yang terkait dengan hukum tanpa sanad, kemudian dia mensyarahnya dengan baik dan memberi nama al-Ilmam. Dikatakan, "Sesungguhnya dia tidak pernah menulis dalam disiplin ilmu ini yang lebih bagus daripadanya karena di dalamnya terkandung manfaat dan istinbathnya (pengambilan hukum), namun dia belum menyelesaikan buku ini. Kemudian al-Biqa'i dalam Hasyiyah ala Al-fiyah menyebutkan bahwa dia telah menyempurnakan kitab tersebut. Kemudian kitab ini tidak ditemukan setelah wafatnya kecuali sedikit. Seandainya saja masih ada, niscaya manusia tidak perlu lagi mencari syarah-syarah yang lain.[16]

    Al-Hafizh Syamsuddin Muhammad bin Nashiruddin ad-Dimasyqi (W. 842 H.) memiliki syarah kitab al-Ilmam ini.

  9. Al-Muharrar fi Ahadits al-Ahkam, karya al-Hafizh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi, yang dikenal dengan Ibnu Abdul Hadi (W. 744 H.), kitab ini merupakan ringkasan dari kitab al-Ilmam, karya Ibnu Daqiq al-Id, dan ia sudah dicetak.
  10. Taqrib al-Asanid wa Tartib al-Masanid, karya Zainuddin Abu al-Fadhl Abdurrahim bin al-Husain al-Iraqi (W. 806 H). Ia sudah dicetak, dan sungguh penulis telah mensyarahnya dalam kitab Tharh at-Tatsrib fi Syarh at-Taqrib, namun dia wafat sebelum bisa menyelesaikannya, kemudian anaknya Waliyuddin Ahmad bin Abdurrahim al-Iraqi (W. 826 H.) menyempurnakannya.
  11. Bulugh al-Maram min Ahadits al-Ahkam, karya al-Hafizh Abu al-Fadhl Syihabuddin Ibnu Hajar al-Asqalani (W. 852 H). Penulis telah mengumpulkan hadits-hadits yang mana para fuqaha' mengambil istinbath hukum fikih darinya dengan menjelaskan setiap derajat hadits dari sisi keshahihan dan kedhaifannya, tersusun secara sistematis berdasarkan bab-bab fikih. Kemudian dia memasukkan di bagian akhir buku ini bagian penting tentang hadits adab, akhlak, dzikir dan doa. Hadits-hadits di dalamnya mencapai sekitar 1596 hadits.

    Buku ini telah disyarah oleh banyak kalangan ulama di antaranya: Syarafuddin al-Husain bin Muhammad al-Maghribi (W. 1119 H), dan ia merupakah syarah yang cukup luas dengan judul, Badr at-Tamam. Demikian juga al-Amir Muhammad bin Isma'il ash-Shan'ani (W. 1182 H.) telah mensyarahnya dalam kitabnya Subul as-Salam. Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab al-Husain bin Muhammad al-Maghribi. Demikian juga Nur al-Husain Khan bin Shiddiq Hasan Khan telah mensyarah buku tersebut (W. 1307 H).[17]

 

KETIGA : KITAB-KITAB GHARIB AL-HADITS

Kodifikasi jenis ini muncul sejak dini -dari awal abad ketiga-dan cukup diminati, ditinjau karena alasan, sejak munculnya kitab-kitab gharib al-hadits dari masa ke masa, maka kodifikasi kitab tersebut tidak terputus, sebagaimana terlihat di dalam tarikh meninggalnya para penyusun buku itu. Kodifikasi gharib al-hadits terus tumbuh dan berkembang. Kematangannya belum tercapai melainkan setelah abad kelima hijriyah. Oleh karena itu, aku mengakhirkan pembahasannya ke tempat ini. Hanya Allah-lah yang tahu maksud tujuan ini.

Dan yang dimaksud dengan kitab gharib hadits yaitu: Kitab hadits yang mengumpulkan kata-kata gharib (kurang dikenal) atau maknanya tidak jelas, -sama saja- apakah itu berasal dari al-Qur'an atau hadits untuk menafsirkannya dan mensyarah makna-maknanya yang sulit.

Abu Sulaiman al-Khaththabi berkata, "Kata اَلْغَرِيْبُ مِنَ الْكَلَامِ maksudnya sesuatu yang sulit dan jauh dari pemahaman seperti اَلْغَرِيْبُ مِنَ النَّاسِ (orang asing), maknanya jauh dari tanah airnya dan terpisah dari keluarganya. Dan di antaranya adalah ucapanmu terhadap seseorang apabila kamu menyuruhnya menjauh اَغْرِبُ اَنِّيْ, artinya menjauhlah dariku. Kemudian kata gharib dari ucapan, (bisa) dilihat dari dua sisi:

Pertama, maksudnya jauh dari makna (yang sebenarnya) dan samar, tidak bisa dipahami dengan mudah kecuali dari jauh setelah berpikir secara mendalam.

Kedua, maksudnya perkataan orang yang rumahnya di pelosok atau tempatnya jauh (sulit dijangkau) seperti suku-suku asing Arab. Apabila kita mendengar kalimat dari bahasa-bahasa mereka, maka kita akan merasa asing, karena itu merupakan bahasa asli mereka. Dan berdasarkan ini, riwayat yang datang dari sebagian mereka, "Dan seseorang berkata kepadanya, 'Aku bertanya kepadamu tentang kata-kata yang gharib (aneh).' Maka dia menjawab, 'la adalah bahasa asli suatu kaum. Yang menjadi gharib (aneh) itu adalah kamu dan tamu-tamu sepertimu'."[18]

Dan al-Hafizh Ibnu ash-Shalah berkata, "Gharib al-Hadits ialah ungkapan yang terjadi dalam matan hadits-hadits berupa lafazh-lafazh yang tidak jelas dan jauh dari pemahaman (yang benar) karena sedikit penggunaannya."

Kemudian dia berkata lagi, "Disiplin ilmu ini penting sekali, karena ahli hadits pada khususnya dan ahli ilmu pada umumnya yang tidak mengetahui disiplin ilmu ini adalah dicela. Mendalami isi di dalamnya tidaklah mudah. Orang yang mendalaminya harus teliti dan patut berhati-hati."[19]

Imam an-Nawawi berkata, "Para ulama banyak yang menulis bentuk kodifikasi seperti ini. Ada yang mengatakan bahwa yang pertama menulisnya adalah an-Nadhr kemudian al-Ashma'i. Kitab-kitab mereka kecil dan sedikit. Setelah mereka Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam menulis kitabnya yang terkenal. Lalu dia membahas secara mendalam dan bagus.[20]

Di Antara Kitab Gharib al-hadits yang Paling Dikenal

  1. Gharib al-Hadits karya Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam (W. 224 H). Dicetak sebanyak empat jilid.
  2. Gharib al-Hadits karya Muhammad bin Ziyad yang dikenal dengan Ibnu al-A'rabi (W. 231 H). Setahu saya belum dicetak.
  3. Gharib al-Hadits karya Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah (W. 276 H). Ini merupakan dzail dan tambahan dari kitab Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam, dicetak sebanyak tiga jilid.
  4. Gharib al-Hadits karya Abu Ishaq Ibrahim bin Ishaq al-Harbi (W. 285 H). Yang dicetak jilid kelima saja, sisanya setahuku hilang. Al-Kattani berkata, "Buku ini merupakan kitab yang besar. Penulis memanjangkannya dengan sanad dan susunan matan dengan sempurna, meskipun tidak terdapat dalam matannya makna yang sulit kecuali satu kata, sehingga kitabnya ditinggalkan orang disebabkan hal itu, padahal banyak faidahnya dan kebesaran penyusunnya."[21]
  5. Gharib al-Hadits karya Abu Sulaiman Hamud al-Khaththabi (W. 388 H). Dicetak sebanyak tiga jilid. Kitab ini merupakan dzail atas kitab Abu Ubaid dan Ibnu Qutaibah, dan tambahan sesuatu yang terlewat serta penjelasan dari kesalahan yang ditemukan di dalamnya.
  6. Al-Gharibain -Gharib al-Qur'an dan hadits- karya Abu Ubaid Ahmad bin Muhammad al-Harawi (W. 401 H.) yang dicetak adalah jilid pertama. Kitab ini tersusun berdasarkan huruf mu'jam. Dia banyak mengambil pelajaran dari kitab gurunya Abu Manshur al-Azhari, Tahdzib al-Lughah.
  7. Dan Abu Musa Muhammad bin Abu Bakar al-Madini al-Ash-bahani (W. 581 H.) memiliki kitab yang merupakan dzail atas al-Gharibaini yang mana dia namakan, al-Majmu' al-Mughits fi Gharibai al-Qur'an wa al-Hadits. Ia sudah dicetak.
  8. Al-Fa'iq fi Gharib al-Hadits, karya Abu al-Qasim Jarullah Mahmud bin Umar az-Zamakhsyari al-Mu'tazili (W. 538 H), la sudah dicetak.
  9. Gharib al-Hadits, karya Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi (W. 597 H), Ia sudah dicetak.
  10. An-Nihayah fi Gharib al-Hadits, karya Majduddin al-Mubarak bin Muhammad al-Jazari yang dikenal dengan Ibnu al-Atsir (W. 606 H.) dicetak sebanyak lima jilid, dan ditahqiq oleh Dr. Mahmud ath-Thanahi.

Adalagi kitab gharib yang lain seperti ad-Dala'il karya Abu Muhammad al-Qasim bin Tsabit as-Sarqasti al-Faqih al-Muhaddits, dan lainnya.[22]

Beberapa Contoh dari Kitab Gharib al-Hadits

Saya akan menampilkan secara singkat dua kitab yang merupakan kitab terpenting dari kitab gharib al-hadits. Yang pertama mewakili manhaj ulama mutaqaddimin dalam kodifikasi disiplin ilmu ini, yaitu Gharib al-Hadits karya Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam, dan yang kedua mewakili manhaj ulama muta'akhkhirin dan bagaimana perkembangan kodifikasi dalam disiplin ilmu ini, yaitu an-Nihayah fi Gharib al-Hadits karya Ibnu al-Atsir .

Pertama: Kitab Abu Ubaid, Gharib al-Hadits

Penulis

Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam bin Abdullah al-Hafizh al-Imam al-Mujtahid, dilahirkan pada 156 H. dan wafat di Makkah pada 224 H.[23]

Objek Pembahasan

Syarah kata-kata yang sulit maknanya dan tidak jelas pemahamannya yang muncul pada hadits Nabawi.

Manhaj Abu Ubaid dalam Kitab al-Gharib

1. Dia menyusun kitabnya berdasarkan musnad-musnad, dan membawakan hadits-haditsnya disertai dengan sanad-sanadnya sampai kepada Rasulullah , kemudian mengikutkan -pada setiap hadits- syarah makna hadits yang sulit sebagai penjelasan makna beserta dalil syahid (saksi) untuk sesuatu yang dia tafsirkan yang diambil dari al-Qur'an, as-Sunnah, dan perkataan bangsa Arab, serta syair mereka.

2. Al-Khaththabi -setelah dia menyebutkan kitab-kitab gharib-berkata, "Kemudian sesungguhnya tidak ada satu pun dari kitab-kitab gharib yang kami sebutkan ini mengikuti manhaj kitab Abu Ubaid dalam menjelaskan lafazh dan keshahihan makna, dan bagusnya pengambilan hukum dan banyaknya pembahasan fikih."[24]

3. Meskipun kitab Abu Ubaid bagus, pengetahuannya luas, dan faidahnya banyak, hanya saja untuk memperoleh faidah darinya sangat sulit dan pelik, ditinjau dari sisi pengurutannya berdasarkan musnad-musnad. Padahal dalam musnad-musnad terdapat suatu kesulitan untuk menemukan hadits yang dicari.[25]

Kedudukan Kitab Abu Ubaid

Abu Ubaid berkata, "Aku menyusun kitab ini selama 40 tahun. Boleh jadi aku mengambil sesuatu yang bermanfaat dari mulut se- 1 seorang, lalu aku menuliskannya dalam kitab ini, lalu aku tertidur dalam keadaan senang disebabkan kemanfaatan itu."[26]

Al-khaththabi berkata, "Orang yang pertama kali menulis kitab Gharib al-Hadits dan menjadi pedoman bagi orang setelahnya ialah Abu Ubaid bin Sallam. Dia secara umum telah menyusun secara sistematis -dalam bukunya- kosa kata dari gharib al-Hadits yang masyhur yang memerlukan tafsir, sehingga ia menjadi acuan induk bagi ahli hadits, mereka membahasnya dan menjadikan pedoman untuk memutuskan masalah."[27]

Ahmad bin Yusuf berkata, "Tatkala Abu Ubaid masih mengerjakan kitab al-Gharib, maka buku tersebut diperlihatkan kepada Abdullah bin Thahir, lalu dia menyatakannya hasan seraya berkata, 'Sesungguhnya akal yang telah mendorong seseorang menyusun kitab ini adalah berhak untuk tidak mencari mata pencaharian, lalu dia (berhak) diberi gaji 10.000 dirham dalam sebulan.'."[28]

 

Kedua: Kitab an-Nihayah fi Gharib al-Hadits, Karya Ibnu al-Atsir

Penulisnya

Majduddin Abu as-Sa'adat al-Mubarak bin Muhammad al-Jazari yang dikenal dengan Ibnu al-Atsir (W. 606 H). Dia adalah pemilik banyak karya ilmiah.[29]

Manhaj Ibnu al-Atsir dalam an-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar

1. Dia menyusun secara sistematis berdasarkan huruf mu'jam dengan berpedoman kepada akar kata tsulatsi (kata kerja tiga huruf). Buku ini mengandung banyak ilmu pengetahuan dan dianggap sebagai kitab gharib al-hadits wa al-atsar yang paling lengkap.

2. Penyusun berkata, "Ketika aku melihat kitab Abu Musa al-Madini di mana dia menjadikannya sebagai penyempurna kitab al-Harawi (W. 489 H), kitab tersebut sangat sempurna sekali. Seseorang jika menginginkan kosa kata yang gharib, maka dia butuh untuk mencarinya pada salah satu dari dua kitab tersebut. Jika dia mendapatkan di dalamnya (maka sudah cukup, Ed.T), tetapi jika tidak, maka dia bisa mencarinya pada kitab lain.

Keduanya adalah kitab besar yang berjilid-jilid banyaknya. Bukan rahasia lagi bahwasanya kedua kitab tersebut sangat sulit (untuk mempergunakannya), maka aku memandang perlu untuk mengumpulkan kosa kata gharib dalam hadits secara terpisah dari kosa kata gharib dalam al-Qur'an..." hingga penulis berkata, "Setiap kosa kata yang berasal dari kitab al-Harawi, maka saya memberi simbol huruf "Ha'"dan setiap yang berasal dari kitab Abu Musa dengan simbol huruf "Sin", sedangkan kosa kata tambahanku yang bukan dari keduanya, maka saya tidak memberi simbol apa pun, agar (pembaca) bisa membedakan antara kosa kata yang berasal dari keduanya atau yang bukan, Adapun seluruh yang terkandung dalam buku ini dari gharib al-Hadits dan al-Atsar terbagi kepada dua pembagian: Pertama, disandarkan kepada orang yang disebutkan namanya (Mudhaf ila Musamma). Kedua, tidak disandarkan kepada orang yang disebutkan namanya (Ghair Mudhaf).

Gharib hadits yang tidak disandarkan maka kebanyakannya berasal dari hadits Nabi Muhammad kecuali hanya sedikit saja yang tidak diketahui hakikatnya, apakah ia berasal dari hadits Nabi atau tidak, dan kami telah memperingatkan atasnya pada beberapa tempat. Sedangkan yang disandarkan kepada orang yang disebutkan namanya, maka tidak terlepas dari beberapa hal: Boleh jadi orang yang disebutkan namanya tersebut ialah pemilik hadits, dan lafazh itu berasal darinya, atau boleh jadi orang yang disebutkan namanya itu ialah perawi hadits dari Rasulullah atau dari selain beliau, atau boleh jadi orang itu sebagai sebab dari penyebutan hadits tersebut, kemudian disandarkan kepadanya, atau boleh jadi orang itu disebutkan di dalamnya yang mana hadits tersebut dikenal disebabkan orang itu, dan masyhur dinisbatkan kepadanya. Dan aku telah menamakan buku ini an-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar.[30]

3. Al-Hafizh as-Suyuthi berkata, "Buku ini merupakan kitab gharib al-hadits yang paling baik, lengkap, dan masyhur, serta paling sering dibahas....,[31]


[1] Aku mencukupkan diri dengan menyebutkan tiga macam dari disiplin ilmu dari karya ini, yaitu: Kitab hadits Maudhu’, Kitab Ahkam, dan Kitab Gharib, padahal ada lagi jenis-jenis yang lain seperti: at-Targhib wa at-Tarhib dan Kitab al-Arbainat, dan lain-lainnya.

[2] Hadits maudhu’ ialah hadits yang dibuat-buat, palsu, dan dinyatakan dusta atas nama Rasulullah haram hukumnya untuk meriwayatkan hadits tersebut kecuali disertakan dengan penjelasan kepalsuannya berdasarkan sabda Nabi

مَنْ حَدَّثَ عَنِّيْ بِحَدِيْثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِيْنَ

"Barangsiapa yang menceritakan sebuah hadits dariku, padahal dia menduga bahwa itu dusta, maka dia termasuk salah seorang dari para pendusta itu." Hadits diriwayatkan oleh Muslim dalam mukadimah ash-Shahih.

[3] Dr. Abdurrahman al-Farawa’i menyebutkan dalam mukadimah tahqiqnya untuk kitab al-Abathil, karya al-Jauraqani, 1/23-27; ada 36 kitab yang berbicara tentang hadits maudhu', namun saya hanya menyebutkan di sini yang terpenting dan yang terkenal.

[4] Lihat lagi biografinya secara terperinci dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala‘. Abu Abdullah adz-Dzahabi, 21/365-384

[5] Al-Maudhu'at, Ibnu Jauzi, 1/29

[6] Al-Maudhu’at, Ibnu al-Jauzi, 1/53-104.

[7] Al-Maudhu’at, Ibnu al-Jauzi, 1/51.

[8] Tadrib ar-Rawi, as-Suyuthi, 1/278-279.

[9] Kitab Bayan al-Wahm wa al-Iham telah dicetak dalam enam jilid

[10] Tentang tiga kitab ini, silahkan merujuk kepada ar-Risalah al-Mustathrafah, Muhammad Ja’far al-Kattani, hal. 178-179

[11] Allamah ash-Shan’ani mensyarah kitab ini dengan judul al-Uddah, ia dicetak sebanyak empat jilid.

[12] Ar-Risalah al-Mustathrafah, Muhammad Ja’far al-Kattani, hal. 180; Muqaddimah Tuhfah al-Ahwadzi, Abdurrahman al-Mubarakfuri, hal. 134. pasal 30; dan Mubarakfuri menyebutkan banyak syarah yang lain juga.

[13] Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Rajab, 2/249. Dalam kutipan biografinya, no. 359.

[14] Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Rajab, 2/249. Dalam kutipan biografinya, no. 359..

[15] Lihat lagi al-Muharrar, Ibnu Abdul Hadi, 1/ 64 dari mukadimah Muhaqqiq.

[16] Kasyf azh-Zhunun, Haji Khalifah, 1/158.

[17] Muqaddimah Tuhfah al-Ahwadzi, Abdurrahman al-Mubarakfuri, hal. 132, pasal 30,

[18] Mukadimah kitab al-Gharib. Lihat Gharib al-Hadits, Abu Sulaiman al-Khaththabi, 1/70.

[19] Ulum al-Hadits, Abu Arar bin ash-Shalah, no. 245.

[20] Perhatikan Taqrib an-Nawawi yang dicetak dengan Tadrib ar-Rawi, as-Suyuthi, 2/184-185.

[21] Perhatikan ar-Risalah al-Mustathrafah, Muhammad Ja’far al-Kattani, hal 155- 156.

[22] Lihat lagi Tadrib ar-Rawi. as-Suyuthi. 2/185-186; ar-Risalah al-Mustathrafah, Muhammad Ja’far al-Kattani, hal. 154-158; Muqaddimah Tuhfah al-Ahwadzi, Abdurrahman al-Mubarakfuri, pasal 28, hal. 111-121

[23] Lihat kembali biografi Abu Ubaid dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala, Abu Abdullah adz-Dzahabi, 10/490-509.

[24] Lihat lagi Mukadimah al-Khaththabi dalam kitabnya. Lihat Gharib al-Hadits, Abu Sulaiman al-Khaththabi, 1/37-50.

[25] Kitab Abu Ubaid ini dicetak di Haidar Abad sebanyak empat jilid. Dan sungguh cetakan ini memiliki kesalahan dari dua sisi. Pertama, dicetak berdasarkan naskah yang tidak ada sanadnya. Ini menghilangkan banyak manfaat yang akan didapatkan dengan mengetahui sanad-sanad penyusunnya. Kedua, cetakan ini tidak mencantumkan juga indeks apa pun untuk memudahkan pemakaian buku ini, meskipun susunannya sulit dan pelik. Akan tetapi Allah memudahkan Dr. Mahmud ath-Thanahi untuk membuat daftar indeks ilmiah yang berguna untuk cetakan ini. Indeks ini sudah beredar pada edisi keempat dari Majalah Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan di Universitas Ummul Qura pada 1401 H.

[26] Tarikh Baghdad, al-Khathib al-Baghdadi, 12/407; Siyar A’lam an-Nubala, Abu Abdullah adz-Dzahabi, 10/496.

[27] Lihat lagi mukadimah al-Khaththabi dalam kitab al-Gharib, 1/47-50.

[28] Lihat lagi biografi Abu Ubaid dalam kitab Siyar Alam an-Nubala', Abu Abdullah adz-Dzahabi, 10/490-509.

[29] Lihat lagi Siyar A’lam an-Nubala', Abu Abdullah adz-Dzahabi, 21/488-491.

[30] An-Nikayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar, Ibnu Atsir, 1/10-12.

[31] Tadrib ar-Rawi, as-Suyuthi, 2/185.

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya