Kitab Referensi

Kitab : Tadwin as-Sunnah Nabawiyah, Nasy' atuhu wa tathawwuruhu

Dalam rentang waktu ini selama lebih kurang empat abad, 11 kaum Muslimin diterpa cobaan dan ujian yang mana kengeriannya menyebabkan anak-anak beruban. Di antara cobaan-cobaan ini adalah :

1. Berkelanjutannya kemunduran ilmu pengetahuan dan kejumudan pemikiran yang dimulai -sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya- lebih kurang dari awal abad kelima Hijriyah.

2. Berkelanjutannya ekspedisi militer pasukan salib terhadap negeri kaum Muslimin, setelah kekalahan mereka di peperangan Hithien 583 H. dan pengusiran mereka dari Baitul Maqdis oleh panglima perang al-Muzhaffar Shalahuddin al-Ayyubi, Pendiri Daulah Ayyubiyah di Mesir dan Syam. Mereka para salibis masih tetap eksis di sebagian negeri Syam sekitar satu abad setelah kekalahan mereka di perang Hithien, di mana perang terakhir dengan kaum salib ini terjadi di benteng pertahanan mereka yang terakhir yaitu perang Ukka pada 690 H, sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh adz-Dzahabi tentang kejadian-kejadian pada tahun tersebut dalam kitabnya Tarikh al-Islam, dan dia menyebutkan bahwa dia sendiri menghadiri peristiwa itu, padahal umurnya baru 17 tahun. Perang itu dipimpin oleh para ulama dari kalangan fuqaha' dan muhaddits yang terpercaya di mana dahulu mereka melempar manjanik (meriam pelempar batu) dengan tangan-tangan mereka dalam keadaan membaca secara tartil ayat-ayat jihad dan memohon dengan doa.

3. Dan di antaranya juga adalah ujian dahsyat dan musibah yang amat pedih yang menerpa kaum Muslimin disebabkan serangan tentara Tartar si penyembah berhala hingga mencapai puncaknya, berakhir dengan jatuhnya kota Baghdad di tangan Tartar pada 656 H.[1] Dan peperangan mereka yang sengit melawan kaum Muslimin terus berlangsung sampai Allah menghancurkan mereka sebanyak dua kali melalui tangan kaum Muslimin; pertama, peperangan di bawah pimpinan al-Malik al-Muzhaffar al-Quthuz pada perang Ain al-Jalut (nama kota di Palestina) pada 658 H.[2] Kedua, peperangan di bawah pimpinan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dan para muridnya pada peperangan Syaqhab dekat kota Damaskus pada 702 H.[3] Setelah peristiwa ini, Tartar tidak lagi kembali menyerang kaum Muslimin -sejauh yang saya ketahui- di mana setelah itu terjadi perpecahan di antara mereka, ditambah lagi banyak dt antara mereka yang masuk Islam.

4. Di antaranya adalah berkelanjutannya ahli bid'ah dan para pengekor hawa nafsu dalam menguasai dan memimpin umat Islam ketika itu, dan hal itu telah dimulai lebih kurang sejak pertengahan abad keempat hijriyah di bawah kekuasaan Buwaihiyyun ar-Rafidhah di Baghdad, dan di bawah kekuasaan Ubaidiyyun al-Bathiniyah di Afrika Utara, Mesir, dan Syam. Dan sebelum itu kaum Muslimin dikuasai oleh Qaramithah atheisme di Bahrain dan sebagian daerah Irak dan Syam.

Berakhir dengan penguasaan yang dilakukan menteri Rafidhah Ibnu al-Alqami dan rekannya Nasir al-Kufr ath-Thusi terhadap khalifah al-Abbasi di Baghdad. Senantiasa Ibnu al-Alqami menghasut khalifah untuk memberhentikan para tentara perang yang pada awalnya jumlah mereka lebih dari 300.000 persoral sampai menjadi 10.000 personil ketika terjadi serangan tentara Tartar atas Baghdad.[4]

5. Di antara musibah yang menimpa umat Islam ketika itu adalah pergolakan internal antar sebagian para pemimpin Islam, di mana setiap amir kota dan pelosok menyerang wilayah keemiran kecil di sekitarnya. Sungguh banyak sekali wilayah-wilayah kecil di dalam daulah Islam yang saling berhadapan, khususnya pada negeri Syam dan Afrika Utara, apalagi kejadian yang sudah masyhur di Andalusia yang banyak terdapat daulah suku yaag kemudian menjadi daulah-daulah kecil yang saling berhadapan.

Inilah di antara cobaan dan musibah yang paling masyhur yang menerpa kaum Muslimin sepanjang abad-abad terakhir ini Hanya saja ada sesuatu yang mengurangi beratnya musibah yang amat besar itu, yaitu munculnya serangan balik dari masa ke masa antara kaum Muslimin dengan musuh-musuh mereka, dan itu di bawah pimpinan para imam dan ulama Ahlus Sunnah wa al-Jama'ah misalnya:

Pertama, kesungguhan para ulama Ahlus Sunnah wa al Jama'ah untuk melawan kemunduran ilmu pengetahuan dan kebekuan pemikiran, di antara mereka adalah al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi, al-Khathib al-Baghdadi, Muhammad bin Thahir yang dikenal dengan Ibnu al-Qaisarani, Muhyi as-Sunnah (penghidup as Sunnah) al-Baghawi, Abu Bakar al-Hazimi, Abu Musa al-Madini, Muhammad bin Thahir as-Salafi, al-Hafizh Ibnu al-Jauzi dan ulama-ulama dari bagian timur lainnya, sedangkan di bagian barat: Ibnu Abdil Barr, Abu Muhammad bin Hazm, Abu al-Walid al-Baji, Abu Abdullah al-Humaidi, Abdul Haq al-Isybili, Abu al-Abbas al Qurthubi, al-Qadhi Iyadh, Razin bin Mu'awiyah dan ulama-ulama barat lainnya.

Kemudian terbitlah cahaya ilmu pengetahuan baru di awal abad ketujuh hijriyah di tangan ulama as-Sunnah dari kalangan para ahli hadits dan ahli fikih seperti al-Hafizh Abdul Ghani al-Maudisi (W. 600 H), Ibnu al-Atsir (W. 606 H), adh-Dhiya' al-Maqdisi (W. 643 H), al-Hafizh al-Mundziri (W. 656 H), dan Sulthan al-Ulama (pemimpin ulama) al-Izz bin Abdussalam (W. 660 H) dan lain sebagainya.

Kemudian kebangkitan ilmu pengetahuan ini sampai ke puncaknya ketika berada di tangan Syaikhul Islam al-Hafizh Abu Abbas Ibnu Taimiyyah (W. 728 H) dan para muridnya seperti; al-Mizzi (W. 742 H), Ibnu al-Qayyim (W. 751 H), Alamuddin al-Barzali (W. 739 H), Syamsuddin adz-Dzahabi (W. 748 H), al-Hafizh Abu al-Fida' Ibnu Katsir (W. 774 H), al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali (W, 795 H) Kemudian panji perjuangan tersebut dibawa oleh al-Hafizh al-lraqi (W. 806 H) dan para ulama yang berada di madrasahnya seperti Abu Bakar al-Haitsami (W. 807 H), lalu Syihabuddin Abu al-Abbas al-Bushiri (W. 840 H), dan al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (W, 852 H), dan lain-lainnya.

Sungguh para ulama -dari masa ke masa sesuai dengan kemampuannya- telah menghidupkan as-Sunnah, menyebarkan ilmu, dan mengajarkan umat tentang permasalahan yang mereka hadapi dan memperbaharui sesuatu yang sempat hilang dari ajaran islam pada masa itu, yaitu masa di mana kegelapan menyelimuti umat, dan banyak manusia menjauhi petunjuk Nabi , sehingga mereka membutuhkan orang yang bisa menerangi kehidupan mereka dengan petunjuk hidayah.

Setelah abad kelima hijriyah ini, para ulama telah menempuh -dalam medan pengabdian terhadap as-Sunnah yang suci dan ilmunya- beragam cara dalam karya tulis mereka. Hal tersebut nampak dari sela-sela amal berikut;

  1. Mereka sangat memperhatikan kitab-kitab salaf, baik dalam hal periwayatan, dirayah, syarah, dan penulisan biografi para perawi haditsnya.
  2. Memperhatikan sekali ilmu-ilmu hadits, baik dari sisi penyusunan, pengurutan, dan peringkasannya sehingga banyak ditemukan di abad ini kitab-kitab mushthalah hadits yang ditulis secara sistematis dan ringkas, baik matannya maupun syarahnya.
  3. Penemuan metode baru dalam karya tulis dan adanya perhatian lebih terhadap penyusunannya, di mana muncullah berbagai karya tulis baru, di antaranya;
    1. Menyusun kembali kitab-kitab ulama terdahulu, baik dalam matan ataupun perawinya agar mudah dipelajari.
    2. Kitab-kitab yang memperhatikan pengumpulan hadits-hadits tematik, misalnya: Kitab al-Maudhu'at (hadits-hadits palsu), dan kitab al-Ahkam (tentang hukum) dan lain-lainnya.
    3. Kitab-kitab yang berkhidmat kepada kitab-kitab lain atau mencakup tematik umum dan universal, misalnya kitab takhrij al-Hadits, kitab Zawa'id, dan lainnya.

Kedua, kesungguhan yang dilakukan oleh sebagian pemimpin ketika itu dalam menghidupkan as-Sunnah dan menghancurkan bid'ah serta menghidupkan kewajiban jihad melawan musuh-musuh Allah dan rasulNya, baik itu dari kalangan orang-orang kafir maupun munafik ahli kebatinan. Para penguasa tersebut adalah;

Sebagaimana Kmetekin bin Daneshmend (W. 499 H.) berhasil menggagalkan kemenangan pertama tentara salib, kemudian Imaduddin Zanki (VV, 540 H.) dan anaknya, Nuruddin Mahmud asy-Syahid bin Zanki (W. 569 H). Nuruddin ini mempunyai andil besar dalam menghidupkan as-Sunnah dan menyebarkan keadilan sesama manusia, dan mempunyai andil mendekati para ulama dan menghormati orang-orang shalih. Dan di antara bukti dari kesungguhannya adalah munculnya panglima perang Shalahuddin al-Ayyubi (W. 589 H.) yang mana Allah meluluhlantakkan kekuatan tentara salib melalui tangannya pada peperangan Hithien, dan dia menaklukkan kembali Baitul Maqdis dengan tangannya sendiri, sebagaimana dia menghilangkan Daulah Bathiniyyun dan Ubaidiyyun, dan dia menghapus madzhab Rafidhah al-Bathiniyah yang mana mereka berusaha menyebarkannya kepada kaum Muslimin melalui perguruan tinggi al-Azhar yang mereka bangun untuk tujuan ini, setelah masuknya kaum Rafidhah ke kota Mesir setelah pertengahan abad keempat hijriyah.

Demikian juga al-Malik al-Muzhaffar Quthuz bin Abdullah (W. 658 H.) yang telah meluluhlantakkan Tartar pada peperangan Ain al-Jalut pada 658 H. dan para sultan daulah Ayyubiyah dan Mamalik lainnya.

Ketiga, sesuatu yang terjadi antara Ahl al-Halli wa al-Aqdi (semacam DPR dan MPR, ed.) yang berasal dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah -ulama dan umara'- berupa saling menguatkan, memberikan nasihat, dan saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Sungguh para penguasa yang berjalan sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah pada waktu itu, mengakui hak-hak para ulama dan memelihara kedudukan mereka, dan meneguhkan mereka untuk menunaikan risalah mereka kepada umat dan mengajarkan kepada mereka petunjuk dan kebaikan.[5]

Dan ini sungguh berlawanan dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah yang berasal dari ahli hawa nafsu dan bid'ah, berupa tindakan memerangi ulama dan menyempitkan ruang gerak mereka dan melarang mereka menyampaikan ajaran-ajaran mereka. Karena mereka mengetahui bahwa tidak akan mungkin menembus keinginan mereka dan keinginan para pentolan dari musuh-musuh kaum Muslimin kecuali dengan menyebarkan kebodohan dan ummiyah (buta huruf) di tengah masyarakat.

Dengan demikian, umat akan berkembang menjadi bodoh terhadap ajaran agamanya dan ajaran rasulullah dalam kehidupan ini, tenggelam dalam hawa nafsunya dan sibuk dengan mencari nafkah sehari-harinya, sehingga umat ini sibuk dengan semua yang telah diatur dan direncanakan sedemikian rupa oleh penguasa dan pemimpin ahli bid'ah.

Sebagaimana juga para ulama mengetahui juga hak-hak para penguasa dan pemimpin -yang baik dan yang jahat di antara mereka-, berupa mendengar dan mematuhi perintah mereka, memberikan nasihat dan menjelaskan kebenaran kepada mereka, mempersatukan mereka, dan tidak boleh keluar dari kepemimpinan mereka selama mereka tidak melakukan kekafiran terang-terangan di sisi mereka, yang mana di dalamnya mereka mendapatkan petunjuk dari AllahSWT [6]


[1] Lihat al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, 13/200.

[2] Lihat al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, 13/230.

[3] Lihat al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, 14/23-27.

[4] Lihat al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, 13/200-202.

[5] Perhatikan misalnya sesuatu yang pernah dikerjakan oleh al-Malik an-Nashir Muhammad bin Qalawun bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah setelah jelas perkaranya, dan dia pernah teraniaya karena dendam kesumatnya, maka dia mengeluarkan Ibnu Taimiyyah dari penjara al-Iskandariyyah 709 H, dan dia memerintahkan untuk membawanya ke Kairo, lalu memuliakannya, dan dia meminta kepadanya untuk tinggal bersama mereka untuk mengajarkan ilmu dan menyebarkan dakwah kepada manusia lihat al-Uqud ad-Durriyyah, Ibnu Abdul Hadi, hal. 184; al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, 14/53.

[6] Di antara contohnya sikap yang ditunjukkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap Jamaluddin al-Afram, wakil pembantu Sulthan di Damaskus, dan mengembalikannya ke wilayah Damaskus setelah beliau dan bala tentaranya memerangi Tartar sebelum terjadinya perang Syaqhab 702 H. Setelah kemenangan mereka atas Tartar di Syaqhab, Syaikhul Islam dan para muridnya memegang kekuasaan di Damaskus, maka berlakulah hudud ketika itu, pecandu minuman khamar dihukum, zakat dipungut lagi, bahkan diberlakukan bea cukai kemudian beliau memanggil wakil pembantu Sulthan, al-Amir al-Afram dan menyerahkan kepadanya lagi pemerintahannya, kemudian beliau kembali ke medan dakwah dan jihad. Jika ingin lebih dalam lagi, maka silahkan baca risalahnya kepada Sulthan al-Malik an-Nasir bin Qadawun dalam kitab al-Uqud ad-Durriyyah, karya Ibnu Abdul Hadi, hal. 123 dan banyak lagi selain kisah tersebut.

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya