Kitab Referensi

Kitab : Tadwin as-Sunnah Nabawiyah, Nasy' atuhu wa tathawwuruhu

PERTAMA: KITAB TERPENTING DALAM MENGGABUNGKAN ANTARA SELURUH KUTUB SITTAH ATAU SEBAGIANNYA

Sudah dijelaskan sebelumnya bahwasanya ulama pada abad ini sudah menemukan metode baru untuk ikut andil dalam berkhidmah terhadap Sunnah Nabi dalam medan kodifikasi dan pemeliharaannya. Metode tersebut merupakan inti awal untuk Ensiklopedia as-Sunnah. Penemuan baru ini ialah perpaduan antara kitab-kitab hadits yang dikarang pada abad sebelumnya seperti kitab ash-Shihah, as-Sunan dan lain-lainnya. Dan di antara kitab-kitab yang paling penting pada objek pembahasan ini ialah:

Menggabungkan antara Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim

  1. Al-Jam'u Baina ash-Shahihain, karya al-Hafizh Abu Mas'ud Ibrahim bin Muhammad bin Ubaid ad-Dimasyqi (W. 401 H). Dia menyusunnya berdasarkan susunan kitab-kitab musnad, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu al-Atsir.[1]
  2. Al-Jam'u Baina ash-Shahihain, karya Isma'il bin Ahmad yang dikenal dengan Ibnu al-Furat (W. 414 H).
  3. Al-Jam'u Baina ash-Shahihain, karya Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Ghalib al-Barqani (W. 425 H).
  4. Al-Jam'u Baina ash-Shahihain, karya Imam Abu Abdullah Muhammad bin Nashr al-Humaidi al-Andalusi (W. 488 H), dan dia memiliki tambahan (ziyadat) atas ash-Shahihain dalam matan dan sanad, dan hal-hal penting lainnya.[2]
  5. Al-Jam'u Baina ash-Shahihain, karya al-Husain bin Mas'ud al-Baghawi (W. 516 H).
  6. Al-Jam'u Baina ash-Shahihain, karya Abu Muhammad Abdul Haq bin Abdurrahman bin Abdullah al-Asybili (W. 581 H).
  7. Al-Jam'u Baina ash-Shahihain, karya Abu Abdullah Muhammad bin Husain al-Murri al-Anshari (W. 582 H).
  8. Al-Jam'u Baina ash-Shahihain, karya Abu Hafsh Umar bin Badr bin Sa!id al-Mushili (W. 622 H).
  9. Al-Jam'u Baina ash-Shahihain, karya Abu Muhammad al-Hasan bin Muhammad al-Hasan ash-Shaghani (W. 650 H), dicetak dengan judul Masyariq al-Anwar an-Nabawiyyah min Shihah al-Akhbar al-Mushthafawiyyah.

Menggabungkan Antara Kutub Sittah dan Kutub Khamsah

  1. At-Tajrid li ash-Shihah wa as-Sunan -Ash-Shahihani, al-Muwaththa, at-Tirmidzi, dan Abu Dawud, serta an-Nasa'i-, karya al-Hafizh Abu al-Hasan Razin bin Mu'awiyah as-Saraqusthi (W. 535 H).
  2. Al-Jam'u Baina al-Kutub as-Sittah -ash-Shahihani, dan al-Muwaththa serta as-Sunan selain Sunan Ibnu Majah,- karya Abu Muhammad Abdul Haq bin Abdurrahman al-Asybili (W. 581H)
  3. Jami' al-Ushul fi Ahadits ar-Rasul , karya Majduddin al-Mubarak bin Muhammad bin al-Atsir al-Jazari (W. 606 H).[3]
  4. Anwar al-Mishbah fi al-Jam'i Baina al-Kutub as-Sittah ash-Shihah, karya Abu Abdullah bin Atiq bin Ali at-Tujibi al-Ghamathi (W. 646 H).

KEDUA : KAJIAN SINGKAT UNTUK CONTOH DARI KITAB-KITAB HADITS YANG DISUSUN PADA ABAD KELIMA INI

1. Syarh as-Sunnah, Karya af-Hafizh af-Baghawi

Penulisnya

Al-Imam al-Muhaddits al-Mufassir al-Faqih Muhyi as-Sunnah Abu Muhammad al-Husain bin Mas'ud al-Farra' al-Baghawi. Dia dilahirkan pada 436 H. dan wafat pada 516 H. Semoga Allah merahmatinya.

Objek Pembahasan Kitab Syarh as-Sunnah

Penyusunnya sudah menjelaskan tentang objek pembahasannya dalam mukadimah seraya berkata, "Amma ba'du, ini adalah kitab Syarh as-Sunnah yang mencakup -insya Allah- banyak tentang ilmu-ilmu hadits dan faidah-faidah khabar yang diriwayatkan dari Rasulullah berupa pemecahan masalah yang musykil, dan penafsiran kata-kata yang gharib, dan penjelasan hukum-hukumnya, [dan sesuatu] yang diakibatkannya berupa fikih dan perbedaan pendapat para ulama, serta sejumlah hal yang sangat perlu diketahui. Ia merupakan rujukan dalam hukum dan tempat sandaran dalam agama Islam.

Dalam kitab ini, penulis tidak mencantumkan hadits-hadits kecuali hadits yang dijadikan pedoman oleh para ulama Salaf yang mana mereka merupakan ahlinya. Dan urusan itu diserahkan kepada mereka (para ulama yang berasal) dari penduduk pada masanya. (Dan yang tercantum dalam kitab ini) adalah segala sesuatu yang mereka (para ulama) letakkan dalam kitab mereka.

Adapun sesuatu yang mana para ulama berpaling darinya berupa hadits maqlub, maudhu', majhul, dan hadits-hadits yang mana para ulama bersepakat untuk meninggalkannya, maka sungguh kitab ini terjaga darinya. Sedangkan hadits yang tidak aku sebutkan sanadnya, maka kebanyakan diriwayatkan secara sima'i (penyamakan), dan kebanyakannya terdapat dalam kitab para Imam hadits, hanya saja aku tidak menampilkan sanad-sanadnya karena khawatir kepanjangan dan sebagai sikap bersandar pada riwayat para imam hadits.[4]

Sebab Penyusunan Kitab Ini

Penyusun menjelaskannya dalam mukadimahnya seraya berkata, "Maksud pengumpulan hadits-hadits ini -meskipun sudah cukup apa yang dilakukan oleh para pendahulu sebelumnya-ialah meneladani pekerjaan mereka dan mengikuti salah satu dari cara-cara mereka yang berhubungan dengan sumber hadits Nabi ?j|, dan agar masuk ke dalam kelompok mereka yang bersungguh-bersungguh dalam menegakkan agama Allah dan menghidupkan Sunnah Nabi karena cinta dan sayang kepada mereka dan metodenya -meskipun usahaku tidak dapat mencapai ketinggian karya mereka- serta karena rasa tamak mengharapkan janji Allah melalui lisan Rasulullah,

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

"Seseorang itu bersama dengan orang yang dicintainya."[5]

Dan karena aku melihat para Ahli Ilmu telah berguguran, dan hawa nafsu menguasai ahli zaman ini, sehingga agama hanya tinggal tulisannya saja, ilmu hanya tinggal namanya saja hingga tergambarkan kebathilan dalam benak penduduk zaman ini dalam bentuk kebenaran, dan kebodohan tergambar dalam bentuk ilmu.[6]

Sehingga nyatalah perwujudan sabda Rasulullah

إن الله لا يقبض العلم انتزاعاً ينتزعه من العباد، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالماً، اتخذوا رؤوساً جهالاً، فسئلوا فأفتوا بغير علمٍ فضلُّوا وأضلُّوا

"Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu agama (secara langsung) dari para hamba, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga ketika Dia tidak menyisakan seorang ulama pun, maka mereka akan mengangkat orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya sesuatu, lalu mereka memberikan fatwa tanpa didasari ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan."[7]

Ketika permasalahannya sebagaimana yang saya gambarkan kepadamu, maka saya ingin sekali memperbaharui perkara ilmu agama ini sebagai pengingat. Mudah-mudahan bisa menggerakkan orang agar haus terhadap ilmu agama dan memotivasi orang yang diam tanpa semangat.

Manhaj al-Baghawi dalam Kitab Syarh as-Sunnah[8]

  1. Dia menyusun kitabnya berdasarkan tema-tema dan berdasarkan metode yang dilakukan oleh ahli hadits, maka dia mengumpulkan hadits-hadits yang berhubungan dengan tema dalam satu tempat
  2. Dia memakai kata "kitab" sebagai judul umum yang mencakup berbagai bab dari satu jenis tema, misalnya, "Kitab ash-Shalat". Sedangkan kata "bab" dipakai untuk hadits-hadits yang menunjukkan pada suatu permasalahan khusus itu sendiri Dia telah mengarahkan ketelitian dalam hal itu melebihi orang-orang yang terdahulu dari para penulis kitab hadits dalam tema pembahasannya. Dia juga banyak mengambil dari Imam al-Bukhan judul bab dengan laiazhnya dan nashnya yang ada dalam al-jami' ash-Shahih. Perhatikanlah contoh berikut ini kitab Dmu -judul bab antara keduanya adalah sama- bab keutamaan ilmu, bab penulisan ilmu, bab orang yang mendustai Nabi Muhammad adalah berdosa Misalnya lagi, kitab jihad dan berangkat berjihad: bab-bab berikutnya adalah bab berangkat jihad dengan izin kedua orang tua, bab orang-orang yang mewakafkan kudanya untuk berjihad di jalan Allah bahkan Imam al-Baghawi mengikuti metode Imam al-Bukhari dalam memulai pembahasannya dengan memunculkan kitab Iman kemudian kitab Ilmu sebelum selainnya. Dan kebanyakan dari judul-judul yang dia tulis adalah dikutip langsung dan Imam al-Bukhari, misalnya jihad dan berangkat berjihad, berpegang teguh kepada al-Kitab dan as-Sunnah dan contoh-contoh lainnya.
  3. Imam al-Baghawi meningkatkan secara berangsur-angsur dalam membuka setiap kitab, dan kadang-kadang sebagian bab dengan ayat-ayat yang sesuai dengan temanya, disertai dengan penafsiran haditsnya dan penjelasan maknanya dari para sahabat dan tabi’in.
  4. Kemudian dia membawakan hadits-hadits vang berhubungan dengan bab yang diberi penjelasan bab (yang dinukil) dari kitab-kitab as-Sunnah yang bisa dijadikan pedoman dengan sanad bersambung sampai kepada penyusunnya. Sungguh mayoritasnya dia konsisten menyebutkan sanad sampai kepada Nabi Muhammad kemudian dia menyebutkan orang yang meriwayatkannya jika hadits tersebut terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim atau terdapat dalam salah satu dari keduanya, misalnya: Muttafaq 'alaih, atau diriwayatkan oleh al-Bukhari atau Muslim, dengan maksud bahwa keduanya (al-Bukhari & Muslim) meriwayatkan hadits asalnya atau sebagian lafazhnva atau bahkan maknanya, yang seperti itu menurut kalangan ahli hadits adalah tasahhul (sikap menggampangkan) yang di perbolehkan.
  5. Jika hadits tersebut tidak terdapat pada Shahih al-Bukhari atau Shahih Muslim, maka mayoritas dia mengikuti ucapan Imam at-Tirmidzi dalam menshahihkan dan mendhaifkan sebuah hadits serta menukil pendapatnya tentang pernyataan adanya illat pada hadits dan sanadnya. Dan terkadang dia bersikap independen dalam menghukum sebuah hadits dari sisi keshahihan atau kedhaifannya, (tanpa mengikuti siapa pun).
  6. Al-Baghawi tidak meriwayatkan hadits-hadits dhaif dalam kitabnya kecuali apabila sebagian darinya masuk ke dalam bab syahid dan mutaba'at atau sekedar untuk menjelaskan makna hadits shahih atau apabila dalam bab tersebut tidak terdapat hadits shahih yang mencukupinya, sedangkan hadits itu tidak terlalu dhaif sekali.
  7. Dia menyebutkan fikih vang dapat diambil dari hadits tersebut dan apa saja yang berhubungan dengan ilmu-ilmu hadits. Dia menyebutkan secara seksama nama-nama perawi dan nasab mereka, dan kadangkala menyebutkan biografi sebagian perawinya dan mengknmpromikan sebagian hadits vang secara zahir kelihatannya bertentangan. Demikian juga dia menjelaskan hadits-hadits yang sulit untuk dipahami.
  8. Dia menyebutkan ijtihad para sahabat dan tabi'in dan pendapat-pendapat para imam mujtahid disertai dengan dalil-dalil mereka dan mentarjih pendapat-pendapat yang menurutnya benar dengan mengikuti manhaj para ahli hadits dalam merujuk kepada hadits shahih dan menjadikannya sebagai hujjah.

 

2. Mashabih as-Sunnah, Karya al-Hafizh al-Baghawi

Penulis Mashabih as-Sunnah

Muhyi as-Sunnah Abu Muhammad al-Husain bin Mas'ud al-Farra' al-Baghawi (W. 516 H).

Objek Pembahasannya dan Sebab Penyusunannya

Abu Muhammad al-Baghawi dalam mukadimahnya berkata, "Amma ba'du, lafazh-lafazh ini berasal dari sumber kenabian dan Sunnah-sunnah yang berjalan dari sumber tambang risalah. Dan hadits-hadits yang terdapat di dalamnya berasal dari penghulu para rasul dan penutup para nabi, la merupakan lampu kegelapan yang keluar dari lentera ketakwaan, berasal dari sesuatu yang ditulis oleh para imam hadits dalam kitab mereka. Semua itu saya himpun untuk para ahli ibadah, supaya mereka memiliki bagian dari as-Sunnah setelah Kitabullah dan untuk membantu mereka dalam ketaatan."[9]

Manhaj al-Baghawi dalam Kitab al-Mashabih

Al-Baghawi berkata dalam mukadimahnya, "Aku tidak menyebutkan sanad-sanadnya karena khawatir menjadi panjang, dan karena bersandar pada nukilan para imam hadits. Kadangkala aku menyebutkan -pada sebagian hadits- sahabat yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah karena adanya makna yang menuntut kepadanya, dan akan ditemukan hadits-hadits di setiap bab terbagi kepada shihah dan hisan.

Yang aku maksudkan dengan shihah di sini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Syaikhani yaitu: Abu Abdullah Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, dan Abu al-Husain Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi dalam ash-Shahihain atau salah satu dari keduanya.

Dan yang aku maksudkan dengan hisan di sini adalah hadits yang diriwayatkan oieh Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy ats as- Sijistani, dan Abu Isa at-Tirmidzi Muhammad bin Isa, dan selain keduanya dari kalangan para imam hadits dan kebanyakannya adalah hadits shahih vang dinukil oleh orang yang adil dari yang adil, hanya saja hadits ini tidak sampai kepada derajat shahih berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim dalam ketinggian derajat keshahihan sanadnya. Karena kebanyakan ketsabitan hukum-hukum fikih adalah dengan jalan hasan. Dan apabila di dalamnya terdapat hadits dhaif atau gharib, maka aku memberikan isyarat keterangan kepadanva, dan saya berpaling dari hadits munkar atau maudhu'[10]

Pendapat Para Ulama Tentang Manhaj al-Baghawi dalam Kitab al-Mashabih

1. Abu Amr Ibnu ash-Shalah berkata, "Adapun sesuatu yang dijelaskan oleh penulis al-Mashabih berupa pembagian hadits menjadi dua: ash-Shihah dan al-Hisan, maka istilah ini tidak dikenal, dan bukanlah hasan di sini hasan menurut pengertian para ahli hadits. Kitab ini yakni as-Sunan- mencakup hadits hasan dan bukan hasan, wallahu a'lam[11] Sungguh Imam an-Nawawi -dalam kitab at-Taqrib- mengikuti Ibnu ash-Shalah dalam mengkritiknya.[12]

2. Abu Hafsh Umar bin Ali bin Umar al-Qazwini (W. 750 H.) mentakhrij 18 hadits dari kitab al-Mashabih seraya berkata, "Sesungguhnya hadits-hadits ini palsu."[13]

Kemudian al-Hafizh Ibnu Hajar menjawab semua kritikan-kritikan ini:

a. Dia berkata dalam kitab an-Nukat[14] ketika menjawab kritikan Ibnu ash-Shalah, "Dan sungguh al-Allamah Tajuddin at-Tabrizi telah mengomentari perkataan ini dalam Mukhtasharnya seraya berkala, 'Bukanlah termasuk adat kebiasaan untuk mempertentangkan istilah dan mempersalahkannya, padahal jumhur telah menyatakan bahwa barangsiapa yang memberikan istilah di awal kitabnya, maka dia tidak jauh dari kebenaran. Dan Imam al-Baghawi telah menjelaskan di awal kitab al-Mashabih dengan ungkapan ini, yang saya maksudkan dengan ash-Shihah adalah hadits yang diriwayatkan oleh asy-Syaikhani...’. Kemudian al-Baghawi berkata lagi, "Dan apabila di dalamnya terdapat hadits dhaif atau gharib, maka aku memberikan isyarat keterangan kepadanya.., dan al-Baghawi tidak menyebutkan sama sekali bahwa yang dimaksud oleh para imam hadits tentang shahih adalah begini, dan hasan adalah begini. Lalu at-Tabrizi berkata lagi, 'Bersama dengan ini, maka tidak dikenal pula model jenis penyalahan (kritik) yang dilakukan oleh asy-Syaikhani (Ibnu ash-Shalah dan an-Nawawi).'."

Saya -Ibnu Hajar- berkata, 'Di antara bukti yang membenarkan bahwa maksud ucapan al-Baghawi tentang al-Hisan -sebuah istilah khusus untuknya- yaitu bahwa dalam tema-tema dan pembahasan al-Hisan dia berkata, 'Ini shahih terkadang, dan tra dhaif terkadang, sesuai dengan yang tampak pada dirinya dari hal tersebut"

b. Al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan bantahan atas hadits-hadits yang dikritik oleh Abu Hafsh al-Qazwini dalam kitab al-Mashabih, laju dia menjawabnya hadits perhadits, dan sungguh dia telah metnbenkan bantahan yang baik dan bermanfaat.[15]

Perhatian Ulama Terhadap Mashabih as-Sunnah

Para Ulama menerima kitab ini dengan penerimaan yang haik. Mereka menekuninya secara periwayatan, penyalinan, dan serta hafalan. Kemudian mereka mengarang syarah, dan ringkasannva serta takhrij haditsnya. Haji Khalifah dan Brockelmann telah menyebutkan lebih dan 42 kitab syarh, mukhtashar, dan takhrij hadits dari kitab ini.[16] Hanya saja, kitab Misykah al-Mashabih karya Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Khathib at-Tabrizi[17] (wafat setelah tahun 740 H.) mengungguli semua syarh dan takhrij kitab yang lain. Oleh karena itu, para ulama menekuninya. Mereka mensyarahnya, meringkasnya, dan berkhidmah untuknya. Tiba-tiba muncul sembilan syarah dan ringkasannya.

 

3. Jami'al-Ushul fi Ahadits ar-Rasul Karya al-Hafizh Ibnu al-Atsir[18]

Penulisnya

Al-Imam al-Hafizh Majduddin Abu as-Sa'adat al-Mubarak bin Muhammad bin al-Atsir al-Jazari, yang lahir 544 H. dan wafat 606 H. Dia adalah pemilik banyak karya ilmiah.[19]

Objek Pembahasan Kitab

Penyusun -dalam kitab ini- mengumpulkan hadits-hadits al-Kutub as-Sittah (yaitu ash-Shahihain, al-Muwaththa , Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi dan Sunan an-Nasa'i). Lalu dia mengulangi penyusunannya sesuai dengan makna yang dikandung hadits-hadits itu agar memudahkan para penuntut ilmu untuk mencari hadits-hadits yang diinginkannya, dan makna hadits yang menunjukkan atasnya.

Penulis, Ibnu al-Atsir berkata pada pasal keempat dari bab pertama, "Aku melihat kitab Razin bin Mu'awiyah as-Saraqusthi yang mana ia adalah yang paling besar dan yang paling lengkap (dari kitab-kitab yang menghimpun antara al-Kutub as-Sittah), di mana kitab ini mencakup al-Kutub as-Sittah yang merupakan induknya kitab-kitab hadits. Ketika itu, aku berkeinginan untuk menekuni dan memperhatikan kitab ini -yang mengumpulkan hadits-hadits shahih-, meskipun hanya sekedar membacanya atau menyalinnya. Ketika saya menelitinya, maka saya menemukan Razin bin Mu'awi-yah -sesuai dengan yang dikritikkan di dalamnya- meletakkan banyak hadits di dalam bab-bab yang mana bukan bab yang utama untuknya. Razin banyak melakukan pengulangan hadits, dan meninggalkan banyak hadits darinya. Lalu aku membisiki diriku untuk memperbaiki kitabnya dan menyusun bab-babnya, menyelaraskan maksudnya dan mempermudah tempat mencarinya. Dan aku menambahkan di dalamnya hadits-hadits pokok yang dia tinggalkan, dan aku, maka dia tidak menyebutkannya kecuali sesekali waktu saja.

Dan dia juga menetapkan menyertakan penjelasan hadits-hadits yang sulit dipahami, i'rab dan maknanya, dan lain-lain yang dapat menambah jelas dan terang."

Manhaj dan Metode Penulisannya

Ibnu al-Atsir telah menjelaskan secara terperinci dalam bab kedua dari mukadimah kitabnya.[20] Dan hal itu dapat diringkas dalam penjelasan berikut ini:

1. Membuang sanad hadits, dan tidak menetapkan (sanadnya) kecuali nama sahabat jika haditsnya marfu', atau nama perawi yang meriwayatkan dari sahabat jika haditsnya mauquf. Dan sungguh dia telah menulis secara terpisah nama-nama perawinya dan biografi mereka dalam bab khusus di akhir kitab tersebut, dan menyusunnya sesuai dengan abjad (huruf hija'iyah).

Adapun matannya, maka dia tidak menetapkannya kecuali hadits dari Rasulullah dan atsar dari sahabat, sedangkan perkataan tabi'in dan generasi setelah mereka, maka dia tidak menyebutkannya kecuali sesekali waktu saja.

Dan dia juga menetapkan sesuatu yang ditemukan, berupa beberapa penambahan matan dalam dua kitab yaitu; al-Jam'u Baina ash-Shahihaini karya al-Humaidi dan al-Jam'u Baina al-Kutub as-Sittah karya Razin bin Mu'awiyah.

2. Menyusun urutan bab berdasarkan makna yang ditunjukkan oleh hadits, maka setiap hadits yang terpisah dengan satu makna, dia menetapkannya dalam bab yang dia khususkan. Jika hadits tersebut mencakup lebih dari satu makna, maka pasti tidak terlepas dari dua hal: Pertama, pencakupannya atas hal tersebut adalah satu pencakupan. Kedua, salah satu makna di dalamnya lebih dominan daripada yang lain.

Jika pencakupannya adalah satu pencakupan, maka dia mencantumkannya di akhir kitab pembahasan dalam kitab yang dia beri nama Kitab al-Lawahiq. Dia membaginya ke dalam beberapa bab. Setiap bab darinya mencakup hadits-hadits yang memiliki beberapa makna yang sejenis.

Adapun hadits yang memiliki lebih dari satu makna -hanya saja salah satu makna tersebut lebih khusus dan lebih dominan-, maka beliau menetapkannya dalam bab yang lebih khusus dengannya dan dengan makna yang sering dipakai. Dan dia memaksudkan -di dalamnya- mayoritasnya agar ia berada di bab makna yang mana ia berada di awal hadits.

3. Kemudian dia membagi setiap kitab menjadi bab, pasal, dan sub pasal, sesuai dengan tuntutan pembagian yang dia cantumkan di dalam kitabnya. Dan yang mesti terjadi dari setiap pembagian ini adalah perbedaan makna-makna hadits yang merupakan ciri khas bagi setiap kitab. Sesungguhnya di antaranya ada sesuatu yang berkaitan dengan kewajibannya, dan di antaranya ada sesuatu yang berkaitan dengan rukun-rukun dan hakikatnya, dan di antaranya ada yang berkaitan dengan motivasi dan dorongan di dalamnya, dan ada juga yang berkaitan dengan keutamaan dan kemuliaannya.

4. Dia menghimpun juga hadits-hadits tentang keutamaan-keutamaan seluruh kitab yang terdapat dalam kitabnya, dan juga hadits yang menyebutkan tentang keutamaan para nabi dan saha-bat, dan selain mereka. Lalu dia menjadikannya dalam satu kitab yang dia beri judul Kitab al-Fadhail wa Manaqib dan dia memasukkan juga setiap hadits yang mencakup tentang keutamaan sesuatu, berupa perkataan, perbuatan, kondisi, dan para perawi.

5. Dia berkata, "Maka aku mengeluarkan nama kitab-kitab yang terdapat dalam kitab ini, dan aku menjadikannya tersusun secara sistematis berdasarkan abjad (huruf hija'iyah) agar memudahkan bagi setiap penuntut ilmu dan mendekatkan bagi orang yang menginginkan adab. Saya tidak saja berlaku seksama dalam meletakkan -di awal- huruf asli dari setiap kata, tetapi saya hanya mendahulukan setiap huruf abjad yang terletak di awal kata, baik ia huruf asli atau imbuhan. Saya tidak membuang huruf dari kata kecuali alif dan lam li at-ta'rif saja. Maka aku memasukkan kitab: al-lman, al-Islam, al-Ila (sumpah untuk tidak menyetubuhi istri), al-Aniyah (bejana) dalam huruf hamzah, dan ini merupakan huruf asli. Dan aku memasukkan juga di dalamnya Kitab al-I’tisham dan Ihya al-Mawat (Menghidupkan lahan tidur), dan ini merupakan huruf imbuhan, karena kata i'tisham seharusnya berada pada huruf ain, dan Ihya al-Mawat dalam huruf ha'. Begitu juga seluruh kitab berdasarkan aturan ini. Namun tidaklah saya memaksudkannya melainkan untuk mencari kemudahan, karena yang menekuni kitab-kitab hadits itu ada yang berpendidikan dan ada yang awam. Orang yang berpendidikan bisa (mencari urutan kitab) dengan metode pentashrifan Lafazh (penggubahan kata berdasarkan ilmu sharaf). sedangkan orang yang jahil dengan metode (tanpa tashrif) itu.

Kemudian saya menemukan dalam suatu bab terdapat beberapa sub bab lagi yang mana semua itu termasuk dari sejumlah kitab yang kitab ini terbagi kepada beberapa bab. Dan apabila saya menyebutkannya dalam huruf yang dikhususkan untuknya, maka (berarti) aku telah memilah-milah salah satu dari hukum-hukum yang terdapat dalam kitab tersebut. Saya memisahkannya, dan meletakkannya bukan pada tempatnya yang pertama, misalnya; kitab jihad terletak di huruf jim, dan dalam sejumlah hukum jihad ada banyak bab lain yang mana tidak bisa dipisahkan darinya, misalnya harta rampasan (ghanimah), ghulul (mencuri harta rampasan perang), harta rampasan perang (an-Nafl), al-Khumus (seperlima dari harta rampasan perang yang diserahkan kepada ulul amri). persaksian (syahadah). Masing-masing darinya dimulai dengan suatu huruf yang bukan huruf jim. Jika saya menyebutnya berdasarkan urutan hurufnya maka kitab jihad akan terbagi-bagi (berpencaran). Dan aku berpaling dalam kewajiban meletakkan (secara urut). Lalu aku menyebutkan bab-bab ini pada kategori kitab jihad dalam huruf jim, kemudian aku bersengaja ke akhir setiap huruf dari huruf-huruf tersebut yang dikhususkan untuk bab ini, lalu aku menyebutkan di dalamnya sebuah pasal untuk menunjukkan tempat bab ini dari kitabnya. Lalu aku menyebutkan di akhir huruf ghain bahwa bab ghanam dan ghulul berada pada kitab jihad di huruf jim. Dan pada huruf fa' bahwa fai' dalam kitab jihad di huruf jim. Demikian pula aku mengikutkan terus menerus semua huruf, lalu aku memperlakukannya dengan perlakuan ini.

6. Penvusun menetapkan nama perawi setiap hadits atau atsar pada catatan kaki kitab di awal hadits, dan ini mempunyai dua faidah:

Pertama, nama perawinya hendaklah berbentuk mufrad (bukan dua kata atau lebih) sehingga akan memudahkan setiap pencari untuk menemukannva di awal pencariannya, dan dia akan mengetahuinya pada awal hadits.

Kedua, untuk menetapkan simbol vang mana penyusun memberikannya nomor dengan huruf hamzah di atas nama.

Hal itu karena penyusun menulis simbol pada nama setiap perawi hadits sebagai tanda siapa yang meriwayatkan hadits itu dari kalangan para penyusun al-Kutub as-Sittah, yang diberi tanda dengan; huruf kha untuk al-Bukhari, mim untuk Muslim, huruf Tha' untuk Muwaththa Imam Malik, huruf Ta untuk at-Tirmidzi, huruf dal untuk Abu Dawud, huruf sin untuk an-Nasa'i. Jika hadits tersebut telah diriwayatkan oleh semuanya, maka penyusun menuliskan sebelum nama perawi simbol enam (6), dan jika diriwayatkan oleh sebagian mereka, maka dsa menuliskan sebagian simbol orang yang meriwayatkannya.

Adapun hadits-hadits yang dia temukan dalam kitab Razin bin Mu'awivah, namun tidak terdapat dalam al-Kutub as-Sittah, maka dia mencantumkan nama perawinya, tetapi tidak mencantumkan simbolnya.

7. Ibnu al-Atsir sangat peduli terhadap syarah makna yang sulit dari setiap hadits, namun karena khawatir terlalu panjang dengan pengulangan atau banyak pemberian isyarat, yaitu jika dia menjadikan kata gharib dari suatu hadits atau pasal atau bab (disyarah) sesudahnya, maka karena dia takut dari hal tersebut di atas, maka dia mengumpulkan kata-kata gharib, setiap huruf disyarah di akhir huruf itu. Misalnya: kata-kata yang gharib yang berhuruf alif dari hadits-hadits al-Kutub as-Sittah, maka dia menghimpun haditsnya di akhir huruf alif[21]. Dan demikian yang lainnya.

Penulis juga tidak memandang perlu memisahkan kata gharib dari hadits ke dalam suatu kitab yang terpisah sebagaimana yang dilakukan oleh al-Humaidi karena khawatir terjadinya penggampangan ketika penulisan buku ini, sehingga tidak dapat dimanfaatkan. Sungguh Ibnu al-Atsir bersandar kepada kitab-kitab ahli bahasa Arab, seperti Tahdzib al-Lughah karya al-Azhari dan Kitab ash-Shihah karya al-Jauhari serta kitab-kitab gharib al-hadits seperti Gharib al-Hadits karya Abu Ubaidillah al-Qasim bin Salam dan lain-lainnya.

8. Setelah peletakan hadits-hadits pada bab, kitab, dan huruf telah tetap, maka penyusun memandang bahwa ada beberapa hadits yang mana sudut pandang terhadapnya telah terjadi perselisihan tentang tempat yang sesuai untuk peletakannya, meskipun dia memandang bahwa tempat dia meletakkan hadits tersebut lebih cocok dan lebih utama daripada yang lainnya, tetapi karena khawatir kerancuan tempatnya yang disebabkan adanya sedikit kesamaan dalam maknanya dan adanya perbedaan pendapat tentang mana tempat yang lebih cocok baginya ditambah lagi kekhawatiran menyusahkan para penuntut ilmu dalam menemukan hadits tersebut, maka penyusun mengeluarkan beberapa kata dan makna yang bisa memudahkan pencarian hadits-hadits itu, kemudian dia menulis bab tersendiri di akhir kitab yang berisi kata-kata yang tersusun berdasarkan huruf abjad (huruf hija'iyah), kemudian dia menulis kata atau maknanya di catatan kaki, dan di depannya disebutkan lokasinya dari bab. Apabila seseorang mencari hadits yang masih samar-samar dan tidak mengetahui tempatnya, maka dia harus memilih kata-kata atau makna yang mayshur dari hadits tersebut, kemudian dia merujuk ke bab di akhir kitab tersebut untuk mencarinya.[22]


[1] Lihat Jami’ al-Ushul pasal ketiga bab pertama dari mukadimah, hal. 48.

[2] Di antaranya pada Maktbah Manuskrip Universitas Islamiyah di Madinah an-Nabawiyyah ditemukan dua naskh no. 585 dan no. 1430

[3] Penyebutan Jami’ ai-Ushul di sini didahulukan, padahal kewafatan penyusunnya agak terlambat (setelah abad keenam) sebagai bentuk pembolehan karena pembahasannya dengan kitab-kitab yang disebutkan di atas.

[4] Syarh as-Sunnah, 1/2-4 dari mukadimah Penyusun,

[5] Diriwaystkan oleh al-Bukhari, Kitab al-Adab dari ash-Shahih, Bab ’Alamah al-Hubb Fillah, (Fath al-Bari, 10/557, no. 6168-6171.)

[6] Sungguh benarlah apa yang dikatakan al-Baghawi dalam menggambarkan secara rinci tentang keadaan zamannya -abad kelima hijriyah-, yang merupakan batas pemisah antara dua zaman yaitu masa kejayaan Ilmu Pengetahuan dan peradaban Islam -masa yang dipenuhi oleh generasi terbaik- dan masa kejumudan dan permulaan kemunduran yang mengalahkan umat di masa-masa belakangan. Padahal sebelum abad ini -abad kemunduran- ahli sunnah mendominasi ahli bid’ah dan hawa nafsu, di mana ilmu keislaman secara umum dan Ilmu-ilmu Sunnah Nabi secara khusus tumbuh dan berkembang pesat hingga sampai pertengahan abad keempat. Mulailah pada saat itu ahli bid’ah menguasai tradisi perkara umat, karena ketika itu Baghdad dikuasai oleh Banu Buwaih ar-Rafidhah. Sedangkan Afrika Utara, Mesir, Syam dan Hijaz dikuasai oleh Ubaidiyyun al-Bathiniyyun. dan Yaman dikuasai oleh Banu Rasul al-Isma’iliyah. Ketika itu ahli bid’ah dan hawa nafsu mengangkat kepalanya dan keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka menjadi penunjuk bagi para penguasa, dan mereka mempersemprt ruang gerak ahli Sunnah dan menyiksa mereka. Dan fitnah Basaari (W. 451 H) di Baghdad dan tindakan Asya’irah dan kaum Sufi yang dipimpin Ibnu al-Qusyairi (W 514 H) mencerai beraikan Ahlus Sunnah yang sering disebut dengan Hanabilah, maka tidaklah hal itu semua melainkan sebagai contoh nyata bagi permulaan masa penguasaan ahli keraguan dan kesesatan terhadap tradisi urusan penting umat Islam sehingga sempurnalah apa yang mereka inginkan Mereka menyiksa para ulama dan menjauhkan mereka dari kepemimpinan umat. Oleh karena itu, kebodohan tersebar dan kerusakan merajalela. Akal dan pikiran tidak lagi mau menerima pembaharuan dan penemuan baru. Dan inilah sebenarnya yang dikehendaki oleh para ahli kesesatan dan orang-orang yang berada di belakang mereka.

Oleh karena itu, al-Hafizh adz-Dzahabi berkata di akhir tingkatan kesembilan dalam Risalah Dzikr Man Yu’tamad Qauluhu fi al-Jarh wa at-Ta'dil. Dan semenjak masa inilah, mulai berkuranglah penghafalan hadits, dan perhatian terhadap atsar mulai sedikit Para ulama condong untuk taqlid. sedangsan aliran Syiah, Mu’tazilah dan bid’ah muncul di Irak karena penguasaan keluarga Buwaih, sedangkan di Mesir. Syam dan Maghrib disebabkae harem penguasaan Bani Ubaid al-Bathiniyyah”.

Kemudian adz-Dzahabi berkata di akhir tingkatan kesepuluh. "Dan Sunnah berkibar pada Daulah di Andalusia dan Khurasan. dan sunnah berkurang dan melemah di Mesir, Syam, Maghrib, dan Irak. Tidaklah hal tersehut melainkan karena munculnya daulah Syi'ah dan Ubaidillah al-Bathiniyyah. Maka kepada Allah-lah semua urusan diserahkan."

Sungguh abad kelima benar-benar merupakan awal masa kebekuan ilmiah dan dekadensi pemikiran umat Islam, sehingga musuh-musuh mereka dari kalangan orang Yahudi, Nasrani dan Majusi menguasai mereka melalui antek-antek mereka dari kalangan ahli bid’ah dan hawa nafsu yang menggerogoti tubuh umat ini sebagaimana rayap menggerogoti akar pohon hingga rubuh seketika. Dan tidak ada yang paling menunjukkan (secara tegas) kepada penggerogotan itu daripada sikap antek-antek itu yang sangat terang-terangan dan tanpa malu-malu membela tuan majikan mereka dari Kalangan Nasrani penyembah salib, yaitu ketika mereka menghancurkan negeri-negeri Islam di abad tersebut. Mereka telah mempersiapkan kehancuran tersebut dengan menyebarkan kebodohan dan kerusakan pada umat ini. Hal itu dengan menjauhkan ulama sunnah yang mukhlis dari mengatur umat dan menerangkan kepada mereka ilmu yang benar. Demikianlah di setiap masa, orang-orang sesat dan menyimpang tidak memberikan kesempatan umat ini melihat cahaya kebenaran di tangan ulama yang ikhlas, karena hal itu akan bisa menyadarkan umat, siapa sebenarnya musuh-musuh mereka, dan memperingatkan umat dari (serangan) mereka, agar umat Islam bisa menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar, kemudian umat bisa mengalahkan para ahli kekejian dan kerusakan. Ini semua tidak diinginkan oleh para dedengkot kesesatan dan kerusakan, maka semoga Allah selalu memberi rahmalNya kepada Imam al-Baghawi yang telah benar-benar memahami penyakit yang terdapat dalam tubuh umat ini, maka dia segera mencari penyembuhan yang manjur dan obat yang mujarab, yaitu dengan cara menyebarkan ilmu pengetahuan dan menghidupkan sunnah. Kemudian dia berkata, ’Saya ingin sekali memperbaharui perkara ilmu agama ini sebagai pengingat. Mudah-mudahan bisa menggerakkan orang agar haus ilmu agama dan memotivasi orang yang diam tanpa semangat.

[7] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab Ilmu, Bab Kayfa Yuybadh al-Ilm, lihat Fath al-Bari, Ibnu Hajar, 1/194, no. 100

[8] Saya meringkas manhajnya –disertai penggubahan- dari mukaddimah pentahqiq kitab Syarh as-Sunnah, Syaikh Syu'aib al-Arna'uth. Lihat Syarh as-Sunnah Abu Muhammad al baghawi, tahqiq Syuaib al Arna'uth 1/4-8

[9] Abu Muhammad al-Baghawi, Muqaddimah Mashabih as-Sunnah, 1/109-110.

[10] Abu Muhammad al-Baghawi, Muqaddimah Mashabih as-Sunnah, 1/109-110.

[11] Ulum al-Hadits, Abu Amr bin ash-Shalah hal 34

[12] Lihat kembal: Taqrib an-Nawawi yang dicetak dengan Tadrib ar-Rawi, 1/165.

[13] lihat hadits-hadits ini dan jawaban-jawaban Ibnu Hajar terhadapnya dalam Muqaaddimah al-Mashabih dengan tahqiqnya Mar'asyli. 1/77-96

[14] An-Nukat ’ala Ibni ash-Shalah, Abu al Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar, 1/445-446.

[15] Telah dicetak jawaban Ibnu Hajar dalam Muqaddimah Tahqiq al-Mashabih 1/77-96

[16] Lihat Kasyf azh-Zhunun, Haji Khalifah, hal. 1698; dan Tarikh al Adab al-Arabi. Brockelmann 6/245.

[17] Telah dicetak kitabnya Misykah al-Mashabih dengan tahqiq dan takhrij asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani, dan telah dicetak banyak syarahnya di India, lihat Muqaddimah al-Mashabih yang ditahqiq oleh al-Mar'asyli, 1/72-74.

[18] Al-Hafizh Ibnu al-Atsir dianggap sebagai ulama abad keenam. Tetapi pembicaraan tentang kitabnya didahulukan pada pembicaraan tentang kitab-kitab abad kelima karena kesamaan temanya dengan tema kitab-kitab yang menghimpun antara seluruh -Kutub Sittah atau sebagiannya, yang mana dimulai pada abad kelima Hijriyah. Wallahu alam.

[19] Lihat biografinya secara lengkap di dalam kitab SiyarAlam au-Nubala , Abu Abdullah adz-Dzahabi, 21/488-491.

[20] Jami’ al-Ushul, Ibnu al-Atsir, 1/53-68.

[21] Di dalam cetakan yang dikomentari oleh Syaikh Abdul Qadir al-Arna'uth, ditariklah penyebaran buku tersebut karena didapati makna hadits yang sulit dipahami diletakkan setelah hadits-hadits tersebut Demikianlah, ini adalah perkara yang telah disampaikan oleh penyusun supaya tidak terjadi pembahasan panjang disebabkan pengulangan hadits dan banyaknya pemberian isyarat.

[22] Cara inilah yang ditempuh oleh para orientalis dalam kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits. Dan inilah Ibnu al-Atsir yang telah mendahului mereka dalam hal tersebut. Para ahli ensiklopedia bahasa dan ahli kitab gharib al-Hadits yang menerimanya telah memakai cara-cara seperti itu dan juga Ahli ensiklopedia bahasa dan kitab Gharib al-hadits yang terdiri dari kata-kata yang asing, dan lihat lagi Jami' Ushul, 1/76-86 dari mukadimah penyusun pasal keenam dari bab kedua, dan bab ini yang terdapat di akhir kitab menurutku belum dicetak mungkin karena hilang dari dua cetakan tersebut. Wallahu a'lam

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya