Kitab Referensi

Kitab : Tadwin as-Sunnah Nabawiyah, Nasy' atuhu wa tathawwuruhu

PERTAMA : KAJIAN SINGKAT TENTANG CONTOH-CONTOH PILIHAN DARI KITAB HADITS YANG DIKODIFIKASI PADA ABAD KEEMPAT HIJRIYAH

Shahih at-Imam Ibnu Khuzaimah

Penulisnya

Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah an-Naisaburi al-Hafizh, Imam para A'immah, Syaikh al-Islam, memiliki banyak karya tulis. Dilahirkan 223 H dan wafat 311 H.[1]

Nama Kitabnya

Dikenal masyhur dengan nama Shahih Ibnu Khuzaimah, Dr. Mushthafa al-A'zhami (pentahqiq juz yang ada dari Ibnu Khuzaimah) menyebutkan bahwa nama kitab itu sebagaimana penamaan dari penulisnya adalah Mukhtashar al-Mukhtashar min al-Musnad ash-Shahih'an an-Nabi . Ia merupakan ringkasan dari kitabnya al-Musnad ash-Shahih.[2]

Syarat Ibnu Khuzaimah dalam Kitabnya

Ibnu Khuzaimah mensyaratkan dalam kitabnya ini bahwa dia tidak mentakhrij melainkan hadite-hadits shahih. Dia sudah menjelaskan hal tersebut dalam judul kitabnya, di mana dia berkata. 'Mukhtashar al-Mukhtahar min al-Musnad ash-Shahih'an an-Nabi (Ringkasan dari ringkasan kitab Musnad ash-Shahih'an an-Nabi ) dengan nukilan (periwayatan) seorang perawi yang adil dari perawi yang adil secara bersambung sanadnya sampai Rasulullah tanpa adanya keterputusan di tengah-tengah sanad, dan tanpa adanya tuduhan (al-jarh) kepada para perawinya sebagaimana yang kami sebutkan sesuai dengan kehendak Allah .[3]

Manhajnya dalam Kitab ash-Shahih

  1. Dia menyusunnya berdasarkan kitab-kitab dan bab-bab, lalu dia memulai dari kitab wudhu kemudian kitab shalat dan seterusnya. Kemudian di setiap kitab terdapat beberapa bab misalkan, "Bab ini..." , Dan kadangkala. ’bab-bab ini"
  2. Dia membawakan hadits hadits secara tersambung sanadnya sampai ke Rasulullah dan jika pada sebuah hadits terdapat lebih dari satu jalan, maka dia menyebutkannya.[4]
  3. Biasanya di setiap hadits, dia memberikan komentar terhadap sanad dan matannya, dia memperhatikan kevalidan lafazh hadtts dan perbedaan antara perawi satu dengan yang lainnya dalam memilih lafazhnya dan seringkali di setiap perkataannya dimulai dengan. "Abu Bakar berkata. "[5]
  4. Kebanyakan pendapat yang rajih menurutnya dalam suatu masalah terdapat pada penjelasan bab berdasarkan metode ahli hadits seperti al-Bukhari dan Abu Dawud serta selain keduanya.[6]

Kedudukan Shahih Ibrtu Khuzaimah dalam Kutub Sittah

Al-Hafizh Ibnu ash-Shalah berkata, "Sesungguhnya tambahan hadits shahih atas Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang diterima oleh para penuntut ilmu adalah dari kandungan salah satu kitab yang bisa dijadikan pedoman, dan cukuplah hadits tersebut berada dalam kitab-kitab orang yang mensyaratkan shahih terhadap hadits yang dia kumpulkan, seperti kitabnya Ibnu Khuzaimah."[7]

Al-Hafizh as-Suyuthi berkata, "Shahih Ibnu Khuzaimah lebih tinggi martabatnya daripada Shahih Ibnu Hibban karena ketelitiannya yang sangat, di mana pernyataan shahih tergantung pada pembahasan dalam sanad, misal: bab makruhnya demikian jika haditsnya shahih atau jika tsabit demikian."[8]

Al-Imam adz-Dzahabi berkata, "Sungguh imam ini (Ibnu Khuzaimah) memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang perawi hadits, kemudian disebutkan darinya bahwa dia berkata, "Aku tidak berhujjah dengan Syahr bin Hasyab dan tidak pula Hariz bin Utsman, dan tidak Abdullah bin Amr, dan tidak dengan Baqiyah dan tidak juga dengan Muqatil bin Hayyan." Kemudian dia menyebutkan beberapa orang perawi yang terjadi perbedaan pendapat di kalangan Ulama tentang kebolehan berhujjah dengan riwayat mereka, dan ini menunjukkan ketelitian dan kehati-hatian Ibnu Khuzaimah dalam memilih periwayatan dalam kitab Shahihnya ."[9]

Kepedulian Para Ulama Hadits Terhadap Shahih Ibnu Khuzaimah

Ulama hadits sangat memperhatikan Shahih Ibnu Khuzaimah dari sisi periwayatan, penyimakan dan penukilan. Di antara ulama muta'akhkhirin yang memiliki perhatian adalah:

1. Al-Hafizh Sirajuddin Umar bin Ali yang dikenal dengan Ibnu al-Mulaqqin (W. 804 H) dimana dia meringkas Tahdzib al-Kamal karya al-Mizzi beserta komentar tambahan pada tootnote (dzail) terhadap perawi-perawi enam kitab hadits yaitu: Musnad Ahmad, Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban, Mustadrak Al-Hakim, Sunan ad-Daruquthni, as-Sunan al-Kubra li al-Baihaqi. Kitab ini dia namakan Ikmal Tahdzib al-Kamal.

2. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (W. 852 H) mengarang sebuah kitab yang berjudul (Ithaf as-Sadah al-Maharah, fi al-Khiyarah bi Athraf aI-Kutub al-Asyrah) yaitu Muwaththa Malik, Musnad Asy-Syafi'i, Musnad Ahmad, Sunan ad-Darimi, Shahih Ibnu Khuzaimah, al-Muntaqa karya Ibnu al-Jarud. Shahih Ibnu Hibban, al-Mustakhraj karya Abu Awanah, Mustadrak al-Hakim, Syarah Ma'ani al-Atsar karya atb-Thahawi dan Sunan ad-Daruquthni.

Al-lmam al-Hafizh berkata tentang buku ini, 'Jumlahnya lebih dari satu, karena tidak ditemukan dalam shahih Ibnu Khuzaimah selain sekedar seperempatnya."[10]

 

Shahih Ibnu Hibban

Penulisnya

Al-Imam Al-Allamah al-Hafizh Syaikh Khurasan Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Mu'adz bin Ma'bad at-Tamimi ad-Darimi al-Busti, pemilik buku-buku yang masyhur dan karva tulis yang banyak. Dia Lahir +- 273-279 H dan wafat 354 H.[11]

Penamaan Shahih Ibnu Hibban

Dikenal masyhur di kalangan ulama dengan nama Shahih Ibnu Hibban padahal nama yang sebenarnya sebagaimana disebutkan penulis dalam mukadimahnya adalah al-Musnad ash-Shahih 'ala at-Taqasim wa al-Anwa' min Ghairi Wujudi Qath'in fi Sanadiha wala Tsubuti Jarhin fi Naqiliha.[12]

Syarat Ibnu Hibban dalam Kitab ash-Shahih

Beliau berkata dalam mukadimahnya, "Adapun syarat kami dalam menukilkan Sunnah-sunnah yang kami letakkan dalam kitab ini adalah kami tidak berhujjah di dalamnya melainkan dengan hadits yang disepakati oleh setiap syaikh dari perawinya dalam lima perkara, yaitu :

  1. Adil dalam Agama yaitu dengan (menutup aib)
  2. Jujur dalam meriwayatkan hadits yaitu dengan (tolak ukur) dikenal jujur
  3. Menggubnakan akal terhadap kejadian yang terjadi dalam hadits.
  4. Mengetahui makna-makna yang terselubung dalam hadits yang diriwayatkan.
  5. Haditsnya terhindar dari tadlis.

Kemudian beliau berkata "Barangsiapa yang padanya terdapat lima syarat ini, maka kami berhujjah dengan haditsnya dan kami bangun kitab ini berdfasarkan periwayatannya, dan barangsiapa yang lima syarat ini kurang darinya, maka kami tidak akan berhujjah dengan haditsnya,[13]

Sebab Ibnu Hibban Menyusun Kitab Shahih

Beliau berkata dalam mukadimahnya,

  1. Sesungguhnya aku ketika melihat khabar (ternyata) jalan periwayatannya semakin banyak dan pengetahuan orang tentang hadits shahih semakin sedikit, karena kesibukan mereka terhadap hadits palsu dan menghafal hadits yang keliru dan maqlub sehingga hadits shahih menjadi sesuatu yang ditinggalkan dan tidak ditulis, sedangkan hadits munkar dan maqlub menjadi sesuatu yang hebat dan dicari.
  2. Dan bahwa para Imam yang menghimpun hadits-hadits Nabi dan para ahli fiqih dan agama yang telah banyak membicarakan tentang hal ini, mereka sangat berlebih-lebihan memperhatikan penyebutan jalan periwayatan hadits dan memperbanyak pengulangan sumber refererm hadits dengan tujuan mendapatkan lafazh-lafazh hadits bagi orang-orang yang ingin menghafalnya dari kalangan para penghafal hadits. Maka itulah yang menjadi sebab bersandarnya para penuntut ilmu kepada hadits yang terdapat dalam kitab saja."’[14]

Manhaj Ibnu Hibban dalam ash-Shahih

Dia berkata dalam mukadimahnya, "Maka aku mentadabburi hadits-hadits shahih untuk memudahkan para pelajar menghafalnya dan aku kerahkan segala pikiranku pada hadits ini agar para penyadur tidak sulit memahaminya."

Dia berkata dalam menjelaskan manhajnya, "Maka aku melihat hadits-hadits ini terbagi menjadi lima kelompok secara sama, saling bersesuaian, tidak bertentangan, yaitu:

Pertama, perintah-perintah yang mana Allah memerintahkan hamba-hambaNya dengan hal tersebut, (yaitu berkisar pada 110 macam).

Kedua, larangan-larangan yang mana Allah melarang hamba-hambaNya dari hal itu. (yaitu berkisar pada 110 macam).

Ketiga, hadits-hadits Nabi yang perlu diketahui (oleh umatnya), (yaitu berkisar pada 80 macam).

Keempat, perkara-perkara mubah yang diboiehkan untuk mengerjakannya, (yaitu berkisar pada 50 macam).

Kelima, perbuatan-perbuatan Nabi yang mana beliau bersendirian dalam melakukannya (maksudnya menjadi kekhususan beliau, pent.) (yaitu berkisar 50 macam)."

Kemudian Ibnu Hibban berkata, "Maka total keseluruhannya adalah 400 macam Sunnah berdasarkan apa yang kami sebutkan."[15]

Kemudian dia berkata lagi di akhir kitabnya, "Ini adalah jenis as-Sunnah yang terakhir. Sungguh kami telah mengelompokkannya sesuai dengan pembagian asas pada kitab tersebut. Dan tidaklah pada jenis yang telah kami sebutkan dari awal kitab sampai akhir terdapat jenis penelitian mendalam, karena kalau kita sebutkan setiap jenis, niscaya mayoritas kitab tersebut menjadi paling banyak referensinya." Kemudian dia berkata lagi "Kami menjelaskan lafazh-lafazhnya yang sulit dipahami, dan kami terangkan kata-kata yang wajib dipahami maknanya secara tauqifiah dengan kemudahan yang telah Allah berikan, dan Allah-lah Dzat yang berhak mendapat segala pujian atas hal tersebut."[16]

Adapun metode penyusunannya maka as-Suyuthi telah menggambarkannya dalam pernyataannya, "Penyusunan Shahih Ibnu Hibban adalah penyusunan dengan metode baru, tidak menurut bab-bab dan tidak juga berdasarkan musnad-musnad.. Oleh karena itu, dia menamakannya at-Taqasim wa al-Anwa'"[17]

Shahih Ibnu Hibban dianggap sebagai ensiklopedia besar dalam ilmu fikih berdasarkan metode Ahli Hadits, di mana setiap hadits diberi mahkota judul yang mencakup makna yang dia simpulkan dari nash hadits yang di bawahnya, kemudian disertai dengan komentar berharga atas kebanyakan hadits, sebagiannya tentang perawi hadits, dan sebagian lainnya tentang tafsiran rinci makna hadits, serta sebagian lainnya tentang penjelasan cara menghilangkan kemusykilan yang terduga dalam khabar atau pertentangan antara dua khabar dan sebagainya berupa hal-hal yang berharga dan kata-kata pilihan.

Pujian Ulama Terhadap Shahih Ibnu Hibban

  1. Al-Amir Ala'uddin al-Farisi (W. 739 H.) penyusun Shahih Ibnu Hibban berdasarkan bab-bab fikih berkata, "Sesungguhnya kitab ini merupakan kitab Akhbar Nabawi dan Atsar Muhammadiyah yang paling lengkap dan paling bermanfaat"
  2. As-Sakhawi berkata, "Al-Hazimi berkata, 'Ibnu Hibban lebih mumpuni di bidang hadits dibandingkan al-Hakim.' Ibnu Katsir berkata, 'Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban mengkhususkan pengumpulan hadits-hadits shahih, dan kitab mereka berdua jauh lebih baik dibandingkan Mustadrak al-Hakim, dan lebih bersih sanad dan matannya."
  3. Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Syakir dalam mukadimah juz dari Shahih Ibnu Hibban yang dia tahqiq berkata, "Shahih Ibnu Hibban adalah kitab yang sangat berharga, tinggi kedudukannya, dan besar manfaatnya. Penulisnya mengeditnya dengan sangat teliti dan bagus. Dia mentahqiq sanad dan perawinya, memberikan penjelasan tentang illat nash hadits dan sanad-sanadnya jika memang dibutuhkan, menyatakan ketsiqahan sebuah hadits shahih jika sesuai dengan persyaratannya. Dan saya tidak menemukan kesalahan pada dirinya kecuali kesalahan sebagai seorang manusia biasa dan sesuatu yang mana seorang pentahqiq tidak bisa terlepas darinya."

Pendapat Ulama Tentang Manhaj Ibnu Hibban dalam ash-Shahih

  1. Abu Amr bin ash-Shalah berkata tentang Mustadrak al-Hakim, "Dia terlalu memudahkan persyaratan hadits shahih, dan gampang menshahihkan sebuah hadits. Dan yang mendekatinya dalam hukum adalah Ibnu Hibban al-Busti -semoga Allah merahmati keduanya-."[18]
  2. Al-Hafizh as-Sakhawi berkata, "Perkataan al-lraqi, 'Ibnu Hibban mendekati al-Hakim dalam hal terlalu mudah (menshahihkan hadits, pen). Hal ini menuntut penelitian terhadap hadits-haditsnya juga, karena dia tidak terikat pada orang-orang tsiqah saja, bahkan boleh jadi mengeluarkan (hadits) para perawi yang majhul (tidak dikenal). Apalagi madzhab beliau memasukkan hadits hasan ke dalam hadits shahih. Padahal Syaikh kami, Ibnu Hajar membantah orang yang menisbatkan Ibnu Hibban kepada sikap terlalu memudahkan (at-Tasahul) kecuali dari sisi ini."[19]
  3. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Hukum hadits-hadits yang ada dalam kitab Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban adalah dapat dijadikan hujjah, karena berada dalam putaran antara shahih dan hasan selama Illat tidak tampak."[20]
  4. Imam as-Suyuthi berkata, "Dikatakan, 'Sesuatu yang disebutkan berupa tuduhan tasahul (sikap memudah-mudahkan) yang dilakukan Ibnu Hibban adalah tidak benar. Puncak masalahnya adalah bahwa dia menamakan hadits hasan ke dalam hadits shahih. Jika dia disebut berlaku at-Tasahul ditinjau karena adanya hadits hasan dalam kitabnya, maka itu hanyalah perbedaan istilah semata. Dan jika ditinjau dari mudahnya persyaratan beliau (terhadap hadits shahih), maka sebenarnya beliau mengeluarkan -dalam ash-Shahih- hadits yang perawinya tsiqah tidak mudallis yang mendengar dari syaikhnya, dan muridnya mendengar darinya langsung, dan hadits tersebut tidak mursal dan munqati'. Dan apabila dalam diri perawi tidak ada jarh dan ta'dil, dan guru serta muridnya perawi tsiqah, dan dalam kitab ats-Tsiqat banyak terdapat perawi yang keadaannya seperti ini. Barangkali dengan sebab ini, dia dikritik karena memasukkan orang yang tidak dikenal keadaannya ke dalam kategori tsiqah, dan itu tidak pantas dikritik, karena ia tidak dapat dipertentangkan.[21]

Perhatian Ulama Terhadap Shahih Ibnu Hibban

Saya tidak menemukan -menurut pengetahuanku- ulama yang memberi perhatian serius terhadap Shahih Ilmu Hibban sebelum abad kedelapan. Barangkali karena penyusunan kitabnya yang rumit dan karena sulitnya mencari hadits-hadits yang terdapat di dalamnya, maka itu menjadi penyebab utama enggannya para ulama memperhatikannya. Wallahu alam.

  1. Orang yang pertama kali -sepengetahuanku- mempunyai perhatian terhadap Shahih Ibnu Hibban adalah al-Amir Ala'uddin Ali bin Balban al-Farisi (W. 739 H.) di mana beliau menyusun kitab tersebut berdasarkan kitab dan bab agar memudahkan para penuntut ilmu untuk memanfaatkannya. Semoga Allah membalas ilmu dan keahliannya dengan kebaikan.
  2. Biografi perawi hadits Shahih Ibnu Hibban ditulis oleh al-Hafizh Abu Ya'la Sirajuddin Umar bin Ali bin al-Mulaqqin (W. 804 H,) dalam kitabnya Ikmal Tahdzib al-Kamal di mana beliau menjadikannya sebagai endnote dalam kitab al-Mizzi terhadap enam kitab hadits, di antaranva adalah Shahih Ibnu Hibban, kami telah jelaskan hal itu ketika membicarakan Shahih Ibnu Khuzaimah, silahkan dilihat kembali.
  3. Al-Hafizh Abu Bakar Nuruddin al-Haitsami (W. 807 H.) men-takhrij Zawa'id Shahih Ibnu Hibban atas Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dalam kitab Mawarid azh-Zham'an ila Zawa'id Shahih Ibnu Hibban, dan kitab ini sudah dicetak.
  4. Al-Hafizh Ibnu Hajar menyusun kembali Shahih Ibnu Hibban berdasarkan Athraf,[22] dalam kitabnya yang berjudul Ithaf as-Sadah al-Khiyarah al-Maharah bi Athraf Kutub al-Asyrah yang telah kami jelaskan pada bab perhatian para ulama terhadap Shahih Ibnu Khuzaimah.

Al-Mustadrak. Karya Abu Abdillah al-Habim an-Naisaburi

Penulis al-Mustadrak

Abu Abduilah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Hamdawaih bin Na'im bin al-Hakam adh-Dhabbi al-Hafizh, pakar kritik hadits yang dikenal dengan gelar Ibnu al-Bai' al-Hakim an-Naisaburi, memiliki banyak karya ilmiah, dilahirkan 321 H dan wafat 405 H.

Nama Kitab al-Hakim

Al-Mustadrak 'ala ash-Shahihain.

Syarat dan Manhaj Penyusun dalam Kitabnya

Al-Hakim berkata dalam mukadimahnya, "Sungguh sekelompok ulama di kota ini dan yang lainnya telah meminta kepadaku untuk menyusun satu kitab yang berisi hadits-hadits yang diriwayatkan dengan sanad-sanad yang mana Muhammad bin Isma'il dan Muslim bin Hajjaj berhujjah dengan semisalnya -karena tidak ada jalan untuk mengeluarkan hadits yang tidak ada illatnya- sebab keduanya tidak mengklaim hal itu untuk mereka berdua."

Kemudian al-Hakim berkata lagi, "Saya -dengan memohon pertolongan kepada Allah- akan mentakhrij hadits-hadits yang mana para perawinya tsiqat yang dijadikan hujjah oleh asy-Syaikhani atau salah satu dari keduanya."[23]

Al-Hafizh Abu Amr bin ash-Shalah berkata, "Al-Hakim Abu Abdullah al-Hafizh memperhatikan tambahan di dalam jumlah hadits shahih yang tidak terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari yang beliau pandang sesuai dengan persyaratan mereka. Keduanya telah mengeluarkan para perawi tersebut dalam kitab mereka atau sesuai dengan persyaratan al-Bukhari saja, atau sesuai dengan Muslim saja, atau hadits yang menuntut ijtihadnya untuk menyatakannya shahih, meskipun tidak masuk persyaratan mereka berdua."[24]

Pendapat Para Ulama Tentang al-Mustadrak dan Manhaj al-Hakim

Ibnu ash-Shalah berkata, "Al-Hakim bersikap memudah-mudahkan (at-Tasahul) dalam menshahihkan sebuah hadits, sangat longgar dalam persyaratan shahih, gampang dalam menyatakan shahih terhadap sebuah hadits. Maka menurut hemat saya dalam hal ini, kita harus moderat pada perkara beliau ini, dengan menyatakan, "Setiap hadits yang dihukumi shahih oleh al-Hakim sedangkan kita tidak menemukan hukum hadits tersebut pada Imam yang lain, jika tidak dikategorikan hadits shahih, maka ia dikategorikan hadits hasan yang dapat dijadikan hujjah dan (wajib) diamalkan. Kecuali jika ditemukan illat yang membuatnya menjadi dhaif.[25]

Al-Hafizh Zainuddin al-Iraqi berkata mengomentari perkataan Ibnu ash-Shalah, "Al-Hakim Abu Abdullah al-Hafizh memperhatikan. .." maka di dalamnya ada dua hal:

1. Ucapan Ibnu ash-Shalah, "Al-Hakim meletakkan di dalam kitabnya suatu hadits yang tidak terdapat dalam ash-Shahihain”. Ini tidaklah demikian, karena sungguh al-Hakim telah meletakkan beberapa hadits yang terdapat dalam ash-Shahih karena kekeliruannya dalam hal itu. Ini jumlahnya banyak, di antaranya hadits Abu Sa'id al-Khudri yang diriwayatkan secara marfu',

لَاتَكْتُبُوْا عَنِّيْ سِوَى الْقُرْآنِ

"Janganlah kalian menulis dariku selain al-Qur'an"

Al-Hakim meriwayatkannya dalam Manaqib Abu Sa'id al-Khudri, padahal hadits tersebut telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam ash-Shahih -kitab az-Zuhd-. Dan al-Hafizh adz-Dzahabi telah menjelaskan -dalam kitabnya Mukhtashar al-Mustadrak- banyak hadits-hadits yang ditakhrij oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, padahal ia juga terdapat di dalam ash-Shahihain.

2. Ucapan Ibnu ash-Shalah, “Dari hadits-hadits yang dia (al-Hakim) riwayatkan sesuai dengan persyaratan al-Bukhari dan Muslim ('ala Syarth asy-Syaikhani) yang mana keduanya telah mengeluarkan para perawi tersebut dalam kitab mereka.” Dalam teks ini terdapat penjelasan bahwa 'hadits dengan syarat al-Bukhari dan Muslim' adalah hadits yang mana keduanya meriwayatkan perawinya dalam ash-Shahihain, tetapi al-Hakim tidak bermaksud demikian, karena al-Hakim mengucapkan "Dengan semisalnya," maksudnya dengan sanad semisal para perawi al-Bukhari dan Muslim, bukan dengan sanad mereka semata. Dan juga mengandung pengertian, dengan semisal hadits-hadits itu. Dan di dalamnya perlu dianalisa kembali.[26]

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengomentari pendapat Syaikh al-Iraqi ini, "Tetapi tindakan al-Hakim tersebut menguatkan salah satu dari dua kemungkinan yang disebutkan oleh asy-Syaikh al-Iraqi . Maka sesungguhnya jika ada hadits dalam al-Mustadrak yang perawinya ditakhrij oleh al-Bukhari dan Muslim atau salah satu dan keduanya, maka al-Hakim mengatakan, 'Shahih berdasarkan syarat keduanya atau salah satu dari keduanya.' Dan jika sebagian dari perawinya tidak ditakhrij oleh al-Bukhari dan Muslim, maka al-Hakim mengatakan, 'Shahih sanadnva saja'. Yang menjelaskan hal tersebut adalah perkataan al-Hakim dalam al-Mustadrak bab taubat ketika meriwayatkan hadits Abu Utsman dari Abu Hurairah yang diriwayatkan secara marfu'.

لَا تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلَّا مِنْ شَقِيِّ

"Rahmat itu tidak akan dicabut melainkan dan orang yang sengsara."

Al-Hakim berkata, "Hadits ini sanadnya shahih, karena Abu Utsman di sini bukan an-Nahdi, sekiranya dia adalah an-Nahdi niscaya aku menghukuminya sebagai hadits berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim."

Ini menunjukkan bahwa jika al-Bukhari dan Muslim tidak mentakhrij salah seorang dari perawi hadits, maka al-Hakim tidak mengatakan, "Shahih berdasarkan syarat keduanya." Meskipun terkadang al-Hakim lalai tentang hal ini di beberapa tempat sehingga dia menshahihkan sebagian hadits berdasarkan syarat keduanya pada sebagian tempat -padahal tidak ditakhrij oleh al-Bukhari dan Muslim . Hal tersebut mengandung kemungkinan karena lupa atau lalai, sehingga kritikan ulama diarahkan kepadanya Wallahu A'lam.[27]

Pendapat Para Ulama Tentang Hadits-hadits yang Terdapat dalam Kitab al-Mustadrak

1. Al-Hafizh Abu Abdullah adz-Dzahabi berkata, dari al-Muzhaffar bin Hamzah, dia berkata, Saya mendengar Abu Sa ad al-Malini berkata, "Saya mengkaji kitab al-Mustadrak 'ala asy-Syaikhan yang dikarang oleh al-Hakim dari awal sampai akhir, maka saya tidak melihat di dalamnya suatu hadits yang diriwayatkan dengan syarat al-Bukhari dan Muslim.[28]

2. Adz-Dzahabi mengomentari ucapan al-Malini, "Ucapan beliau ini terlalu berlebih-lebihan dan ekstrim. Abu Sa'ad (al-Malini) tidak memiliki kapasitas untuk menghukumi seperti itu, bahkan sebaliknya dalam al-Mustadrak terdapat banyak sekali hadits yang diriwayatkan dengan syarat al-Bukhari dan Muslim atau dengan syarat salah satu dari keduanya. Dan yang seperti itu jumlahnya kira-kira sepertiga kitab atau kurang sedikit, karena sesungguhnya kebanyakan hadits-hadits tersebut secara zahir shahih dengan syarat salah satu dari keduanya atau keduanya, meskipun batinnya memiliki illat yang tersembunyi lagi berpengaruh. Dan sebagian dari kitab tersebut sanadnya shalih (baik), hasan dan jayyid, dan yang seperti itu jumlahnya ada seperempat kitab. Dan sisanya hadits-hadits munkar dan aneh. Saya sudah memisahkannya menjadi satu kelompok tersendiri. Apa pun keadaannya, al-Mustadrak adalah kitab yang banyak manfaatnya, dan saya sudah meringkasnya serta membutuhkan amal dan penelitian lagi."[29]

3. Al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan komentar terhadap ucapan adz-Dzahabi seraya berkata, "Ucapan adz-Dzahabi masih umum yang membutuhkan penjelasan. Kami menyatakan bahwa sebenarnya al-Mustadrak terbagi menjadi beberapa bagian, setiap bagian darinya kemungkinan masih bisa dibagi lagi.

Bagian pertama, sanad hadits yang dia takhrij sebagai hujjah dengan periwayatannya dalam ash-Shahihain atau salah satu dari keduanya adalah dalam bentuk berkumpul, bebas dari cacat.

Dengan perkataan kami, "dalam bentuk berkumpul," kami menjaga dari setiap hadits yang para perawinya dijadikan hujjah oleh al-Bukhari dan Muslim dalam bentuk terpisah. Seperti Sufyan bin Husain dari az-Zuhri, maka al-Bukhari dan Muslim berhujjah dengan periwayatan keduanya dalam bentuk bersendirian, dan keduanya tidak berhujjah dengan periwayatan Sufyan bin Husain dari az-Zuhri (secara bergabung), karena penyimakan Sufyan ini dari az-Zuhri adalah lemah, dan tidak demikian dengan guru-gurunya yang lain.

Demikian pula jika al-Bukhari atau Muslim berhujjah pada seorang dari perawinya dan tidak dengan perawi yang lain dari sanad itu, seperti hadits yang diriwayatkan dari jalur Syu'bah dari Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas maka sesungguhnya Muslim berhujjah dengan periwayatan Simak jika dari periwayatan orang-orang tsiqah, tetapi Muslim tidak berhujjah dengan Ikrimah. Sebaliknya al-Bukhari berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan Ikrimah, tidak dengan Simak. Maka sanad dan keadaan ini tidak menjadi sanad dengan syarat keduanya hingga dalam periwayatan tersebut terhimpun bentuk yang disepakati. Al-lmam Abu al-Fath al-Qusyairi dan selainnya menegaskan hal itu.

Dan dengan ucapanku, "Dalam keadaan bebas dari cacat", maka kami menjaga dari setiap hadits yang mana al-Bukhari dan Muslim menjadikan perawinya sebagai hujjah dalam bentuk berkumpul, hanya saja di dalamnya terdapat perawi yang disandangkan sifat tadlis atau ikhtilath (campur aduk hafalannya) di akhir umurnya. Sungguh kita mengetahui secara global bahwa Syaikhani tidak mentakhrij hadits yang diriwayatkan oleh mudallis dengan 'an'anah kecuali hadits yang sudah kita pastikan bahwa hadits itu dia dengar untuk mereka dari sisi yang lain. Demikian juga halnya al-Bukhari dan Muslim tidak mentakhrij hadits yang diriwayatkan dari perawi ikhtilath dari murid yang mendengar darinya setelah ikhtilath, kecuali hadits yang sudah kami tahqiq bahwa ia berasal dari perkataan shahih mereka sebelum mengalami ikhtilath. Oleh karena itu, tidak dibenarkan menghukumi hadits -yang di dalamnya terdapat mudallis yang meriwayatkan hadits dengan an'anah, atau terdapat syaikh yang mendengar dari perawi mukhtalith setelah mengalami ikhtilath- bahwa hadits itu berdasarkan syarat keduanya, meskipun keduanya telah men-takhrij sanad Itu dengan dzatnya. Kecuali jika mudallis tadi berterus terang mendengar dengan lafazh pasti dari jalan lain dan benar terbukti bahwa perawi tersebut mendengar dari syaikhnva sebelum masa ikhtilathnya, maka bagian yang seperti ini dikategorikan sebagai hadits shahih dengan syarat keduanya atau salah satu dari keduanya.

Dan tidak ditemukan hadits dalam al-Mustadrak yang sesuai dengan persyaratan ini yang mana al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkan hadits semisalnya atau asalnya melainkan sedikit sekali sebagaimana vang telah kami kemukakan sebelumnya. Memang, sebenarnya ada banyak hadits vang sesuat dengan persyaratan ini, tetapi hadits-hadits tersebut diriwayatkan juga oleh al-Bukhari dan Muslim atau salah seorang dari mereka, lalu al-Hakim menyusulkannya dalam kitabnya karena menyangka bahwa hadits tersebut tidak ditakhrij oleh al-Bukhari dan Muslim.[30]

Bagian kedua, seluruh perawi sanad hadits tersebut telah dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim, bukan sebagai hujjah, namun hanya sebagai syahid, mutaba'ah dan ta'liq atau sesuatu yang dikaitkan dengan yang lainnya Termasuk dalam kategori ini adalah hadits seseorang yang dikeluarkan al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak memakai hadits yang diriwayatkan orang tersebut secara sendirian atau menyelisihi yang lainnya Sebagaimana Imam Muslim mengeluarkan hadits-hadits dari nuskhah (lembaran hadits) Al-Ala bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah selama dia tidak bersendirian dalam riwayatnya. Maka tidak boleh dikatakan bahwa sisa riwayat nuskhah ini sesuai dengan syarat Muslim. karena Muslim tidak mengeluarkan sebagian hadis-nya melainkan setelah jelas hadits-hadits tersebut termasuk yang diriwayatkannya tidak sendirian. Maka hadits yang serupa demikian tidaklah dapat dikatakan sesuai dengan syarat keduanya.

Al Hakim telah menulis dalam kitab al-Madkhal sebuah bab khusus di mana beliau menjelaskan perawi yang ditakhrij al-Bukhari dan Muslim dalam al-Mutaba'at, dan jumlah hadits yang ditakhrij oleh mereka berdua dari mutaba'ah ini. Kemudian bersama dengan pengetahuan ini, al-Hakim masih mentakhrij hadits-hadits mereka (perawi yang dibawakan al-Bukhari dan Muslim dalam mutaba'ah ini, pent) dalam al-Mustadrak, karena mengklaim bahwa hadits tersebut sesuai dengan syarat keduanya. Padahal tidak diragukan lagi bahwa hadits-hadits mereka itu turun dari derajat shahih, bahkan di dalamnya terkandung hadits syadz dan dhaif tetapi kebanyakannya tidak turun dari derajat hasan.

Al-Hakim meskipun tidak membedakan antara hasan dan shahih bahkan menjadikan semuanya adalah shahih karena mengikuti jejak guru-gurunya sebagaimana telah kami jelaskan tentang Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, namun yang diperdebatkan hanyalah dalam kebenaran klaimnya bahwa hadits-hadits mereka tersebut sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim atau salah satu dari keduanya. Dan bagian inilah inti dari kitab al Mustadrak.

Bagian ketiga, sanad hadits tersebut tidak di-takhrij oleh al-Bukhari dan Muslim sebagai hujjah dan tidak pula sebagai mutaba'at, Dan ini banyak dilakukan oleh al-Hakim. Dia men-takhrij hadits-hadits dari perawi yang tidak terdapat dalam ash-Shahihain, dan menshahihkannya. Namun dia tidak mengklaim hahwa hadits tersebut shahih berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim, namun boleh jadi al-Hakim mengklaim hal itu berdasarkan praduga salah, dan beliau mengomentari kebanyakannya darinya bahwa sebagian perawi hadis tersebut tidak memiliki cela. Seperti hadits yang diriwayatkan dari jalan Ishaq bin Bazraj dari al-Hasan bin Ali dalam bab at-Tazayyun li al-Id (berhias untuk hari raya), di mana al-Hakim memberikan komentar di akhir hadits. “Kalau bukan karena kemajhulan Ishaq, niscaya aku menghukumi hadits itu shahih" Namun banyak juga dari hadits-hadits bagian ini yang mana al-Hakim sendiri tidak memberikan komentar sama sekali. Dari sini masuklah kerusakan pada banyak hadits yang dishahihkan oleh al-Hakim, dan sedikit sekali kamu dapati -dalam bagian ini- hadits yang masuk ke dalam derajat shahih, apalagi naik ke derajat hadits yang diriwayatkan oleh Syaikhani. Wallahu a'lam[31]

Alasan yang Dikemukakan Ulama Tentang Sikap Tasahul (Menggampangkan) dan Kelalaian al-Hakim

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, ''Terjadinya sikap tasahul pada Hakim hanyalah karena dia menulis hadits dalam kitabnya dengan tujuan mengoreksinya, namun kematian keburu menjemputnya dan beliau belum sempat menyelesaikan pengeditan dan pengoreksiannya." Kemudian Ibnu Hajar berkata lagi, "Saya menemukan kira-kira -di pertengahan juz kedua dari enam juz kitab al-Mustadrak-kata-kata, 'Sampai di sini selesailah dikte al-Hakim'." Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata lagi, "Dan yang selainnya dari kitab itu tidak diambil darinya melainkan dengan cara ijazah. Sedangkan tasahul pada kadar bagian yang telah disampaikan dengan cara dikte (imla') ini lebih sedikit daripada yang setelahnya."[32]

Thahir bin Shalih al-Jaza iri ad-Dimasyqi berkata, "Sebab tasahulnya itu adalah bahwa al-Hakim menyusunnya di akhir-akhir umurnya, dalam keadaan diserang kealpaan. Al-Hakim dilahirkan pada 321 H. dan wafat 405 H. jadi umurnya 84 tahun.[33]

Perhatian Ulama Terhadap Kitab Mustadrak al-Hakim

  1. Para ulama memiliki perhatian terhadap al-Mustadrak secara periwayatan dan penyimakan sebagaimana perhatian mereka terhadap kitab-kitab hadits lainnya. Begitu juga mereka memperhatikan kajian manhaj al-Hakim di dalam al-Mustadrak.
  2. Imam Abu Abdullah adz-Dzahabi meringkas dalam kitabnya Talkhish al-Mustadrak disertai dengan komentarnya tentang hukum al-Hakim terhadap hadits tersebut.
  3. Imam Abu Abdullah adz-Dzahabi juga menyusun sebuah kitab khusus tentang hadits-hadits munkar, dhaif, dan maudhu' yang terdapat dalam al-Mustadrak.
  4. Al-Hafizh Sirajuddin Umar bin Ali yang dikenai dengan Ibnu al-Mulaqqin menulis biografi perawi haditsnya di dalam kitabnya Ikmal Tahdzib al-Kamal.
  5. Al-Hafizh Ibnu Hajar menyusun al-Mustadrak dalam bentuk Athraf dalam kitabnya Ithaf as-Sadah al-Maharah al-Khiyarah bi Athraf dl-Kutub al-'Asyrah.
  6. Al-Hafizh Ibnu al-Mulaqqin memiliki ringkasan al-Mustadrak yang dicetak sebanyak 7 jilid.

 

Syarah Musykil al-Atsar'. Karya Abu Jafar ath-Thahawi[34]

Penulis Musykil al-Atsar

Al-Imam al-Hafizh Abu Ja'far Ahmad bin Muhammad bin Salamah bin Salamah al-Azdi al-Mishri ath-Thahawi. Pemilik banyak karya tulis, lahir 239 H, dan wafat 321 H.[35]

Judul Kitab dan Sebab Penyusunannya

Penyusun menjelaskan hal itu dalam mukadimahnya seraya berkata, "Sesungguhnya aku melihat dalam hadits-hadits yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad dengan sanad yang diterima yang dinukilkan oleh para perawi yang punya ketelitian, amanah dan baik dalam menyampaikannya, maka aku mendapati -di dalamnya- sesuatu yang mana kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Lalu hatiku terdorong untuk mengkaji kembali dan menjelaskan kesulitan yang terdapat dalam hadits selama aku mampu, dan menjelaskan pengambilan hukum-hukum yang terdapat di dalamnya, serta menghilangkan sesuatu yang merintanginya. Kemudian aku menjadikannya beberapa bab, kemudian aku sebutkan -di setiap bab- hadits yang diberikan oleh Allah kepadaku, lalu aku menjelaskannya selama aku mampu. Demikianlah aku melakukannya dengan mengharapkan pahala dari Allah dan kepadaNya aku memohon taufik dan pertolonganNya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Cukuplah Allah sebagai penolongku.[36]

Manhaj ath-Thahawi dalam Kitabnya

Penyusun tidak mengurutkan kitabnya dengan cara tertentu, tetapi dia mengeluarkan bab-bab begitu saja sebagaimana urutan yang dia anggap cocok, maka kita menemukan hadits-hadits tentang wudhu terletak secara terpisah dari awal sampai akhir. Demikian juga halnya hadits-hadits tentang shalat, puasa, syariat dan hukum-hukum Islam lainnya.

Adapun metode yang ditempuh oleh penyusun dalam kitabnya ini adalah bahwa dia menampilkan dua hadits yang terkandung dalam setiap bab yang dicakup oleh judul, dua hadits tersebut secara zahir seolah-olah bertentangan, kemudian dia menampilkan sanad-sanadnya, lalu menyebutkan satu persatu jalan periwayatan dan lafazh-lafazh hadits tersebut, serta menjelaskan tempat terjadinya perbedaan pendapat di dalam keduanya, baru setelah itu memberikan penjelasan, keterangan, dan analisa sehingga makna hadits tersebut bersatu, lalu perselisihan dan pertentangan hilang. Dia mensyaratkan -dalam mengkompromikan dua hadits yang tampaknya bertentangan (kontradiktif)- agar keduanya berada pada satu derajat dalam hal keshahihan dan keselamatan. Jika salah satunya hadits dhaif maka dia membuangnya, lalu mengambil yang kuat, karena hadits shahih tidak terpengaruh oleh hadits dhaif yang menyalahinya.

Adapun jika kedua hadits tersebut berada dalam satu derajat dari keshahihan dan keselamatan, maka dia tidak putus asa mencari makna yang cocok bagi keduanya dan menghilangkan pertentangannya. Kalau tetap saling bertentangan dan tidak ada jalan untuk mengkompromikannya, maka jika diketahui waktu periwayatan dua hadits tersebut, maka hadits yang datangnya lebih dahulu dinasakh oleh hadits yang datangnya terkemudian. Dan jika ath-Thahawi tidak mengetahui waktu kedua hadits tersebut, maka dia mentarjih salah satu dari dua hadits berdasarkan aturan-aturan tarjih yang ada. Sisi tarjih tersebut banyak. Penulis telah menjelaskannya di beberapa tempat dalam kitabnya ini.[37]

Perhatian Para Ulama Terhadap Kitab Ini

  1. Al-Hafizh al-Faqih al-Qadhi Abu al-Walid Sulaiman bin Khalaf al-Baji (W. 474 H.) al-Andalusi meringkas kitab ini dengan bagus sekali. Dia mengumpulkan hadits-haditsnya sesuai dengan jenisnya, dan dia meletakkan setiap bentuk dari haditsnya sesuai dengan bentuknya, dan dia menyusunnya dengan bagus. Dia membuang beberapa sanad dan meringkas beberapa jalan periwayatan, dan dia meringkas sebagian lafazh penyusun (ath-Thahawi) yang terdapat di akhir hadits-hadits itu tanpa merusak makna dan fikihnya agar mudah dihafal bagi pelajar yang ingin menghafalnya, dan agar memudahkannya untuk memahami dan mengerti fikihnya.
  2. Sungguh al-Qadhi Abu al-Mahasin Yusuf bin Musa al-Hanafi telah meringkas Mukhtashar ini, dan memberinya judul al-Mu'tashir min al-Mukhtashar min Musykil al-Atsar.[38]

 

Al-Mujam al-Kabir, Karya al-Haflzh ath-Thabrani[39]

Penulis al-Mu'jam al-Kabir

Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub al-Lakhmi ath-Thabrani. Dia dilahirkan pada 260 H. dan wafat 360 H. Dia memiliki banyak karya tulis yang terkenal,[40]

Objek Pembahasan Kitab

Penulis mengumpulkan sejumlah perawi hadits dari kalangan yang meriwayatkan dari Rasulullah , baik laki-laki maupun perempuan disertai periwayatan setiap orang dari mereka, satu atau dua hadits bahkan tiga atau lebih berdasarkan banyak atau sedikitnya periwayatan, mereka, dan barangsiapa sedikit periwayatannya, maka seluruh haditsnya diriwayatkan.[41]

Manhaj Imam ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir

Dia menyusun kitabnya berdasarkan musnad sahabat untuk menyusun nama-nama mereka berdasarkan huruf hija'iyah, hanya saja dia memulainya dengan sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Alasannya supaya tidak ada seorang pun selain mereka yang mendahului mereka, kemudian dia berkata, "Kami akan meriwayatkan musnad mereka dengan teliti berdasarkan urutan suku-suku, dengan pertolongan dan kekuatan Allah. Dia menyusun perawi di setiap suku berdasarkan huruf hija'iyah.[42]

Kemudian dia meriwayatkan -dari masing-masing mereka-satu atau dua hadits atau tiga atau lebih dari itu berdasarkan banyak atau sedikitnya jumlah periwayatan mereka. Jika dia termasuk orang yang periwayatannya sedikit, maka semua haditsnya diriwayatkan.

Jumlah Hadits dalam al-Mu'jam al-Kabir

Haji Khalifah menyebutkan bahwasanya hadits-hadits yang terdapat dalam al-Mu'jam al-Kabir, karya ath-Thabrani jumlahnya mencapai 25.000 hadits.[43]

Sedangkan yang dicetak dari al-Mu'jam dengan tahqiq Hamdi Abdul Majid as-Salafi jumlah haditsnya mencapai 21.547 hadits berdasarkan nomor urutan muhaqqiqnya, dan itu kurang di mana ada beberapa juz pada asal manuskrip (makhthuthat) yang hilang yaitu dari juz 13 sampai 16, demikian juga juz 21, wallahu a'lam.

Imam Abu Abdullah adz-Dzahabi dan Imam Abu al-Fida' Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ath-Thabrani tidak meriwayatkan Musnad Abu Hurairah dalam al-Mu'jam al-Kabir, mungkin karena dia mengkhususkan dalam satu kitab khusus. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui__[44]

Perhatian Para Ulama Terhadap al-Mu’jam al-Kabir

Al-Hafizh Abu Bakar al-Haitsami -dengan petunjuk gurunya al-Iraqi- telah mengumpulkan Zawa'id al-Mu'jam al-Kabir atas al-Kutub as-Sittah dalam sebuah kitab dengan judul al-Badr al-Munir fi Zawa'id al-Mu'jam al-Kabir, kemudian dia membuang sanad-sanad hadits tersebut, kemudian dia menggabungkannya ke dalam Zawa'id al-Mu'jam ash-Shaghir wa al-Ausath dan Musnad Ahmad, Musnad al-Bazzar, dan Musnad al-Mushili. Dia mengumpulkannya dalam sebuah kitab Majma' az-Zawa'id wa Manba' al-Fawa'id, dan itu juga berdasarkan perintah dari Syaikh al-Iraqi.

 

Kitab as-Sunan, Karya Imam ad-Daruquthni

Penulis as-Sunan

Abu al-Hasan Ali bin Umar bin Mahdi yang dikenal dengan ad-Daruquthni. Seorang Imam yang Hafizh lagi kritis (terhadap hadits). Dia memiliki kitab al-Ilal dan berbagai karya tulis. Dia lahir 306 H dan wafat 358 H.[45]

Objek Pembahasan Kitab Sunan ad-Daruquthni

Dia menghimpun hadits-hadits tentang perilaku dan hukum fikih secara sistematis berdasarkan bab-bab fikih dengan penjelasan keadaan hadits itu berupa shahih atau dhaif.

Al-Khathib al-Baghdadi telah memuji objek pemhahasannya seraya berkata, 'Kitabnya, as-Sunan itu menunjukkan pengetahuannya yang sempurna terhadap madzhab para fuqaha dan perhatiannya terhadap fikih. Karena tidak seorang pun yang mampu mengumpulkan kandungan isi kitab itu melainkan orang yang mengetahui hanyak tentang ihhtilaf dalam hukum"[46]

Manhaj ad-Daruquthni dalam Kitab as-Sunan

  1. Ad-Daruquthni menyusunnya berdasarkan bab-bab fikih di mana dia memulainya dengan kitab thaharah, kemudian shalat dan seterusnya berdasarkan urutan-urutan kitab as-Sunan,
  2. Dia menampilkan hadits di setiap bab berikut dengan sanadnya sampai ke Rasulullah dan biasanya menampilkan hadits lebih dari satu jalan periwayatan.
  3. Setiap hadits-hadits yang dia tampilkan, maka dia menyertakannya dengan penjelasan sesuatu yang dikandungnya berupa illat dalam sanad atau matan. Oleh karena itu, dia banyak memenuhi pendapatnya dalam kitabnya tersebut tentang jarh wa ta'dil terhadap perawi-perawi hadits.
  4. Kitabnya mencakup hadits-hadits shahih, hasan, dan dhaif. Dan sedikit ditemukan hadits maudhu'
  5. Banyak sekali dia membawakan hadits-hadits atau riwayat-riwayat yang secara zahir bertentangan, kemudian dia men-tarjih antara keduanya.[47]

Perhatian Para Ulama Terhadap Sunan ad-Daruquthni

  1. Al-Hafizh Sirajuddi Ibnu al-Mulaqqin menulis biografi para perawinya dalam sebuah kitab yang berjudul, ikmal Tahdzib al-Kamal
  2. Al-Hafizh Ibnu Hajar menyusunnya dalam bentuk Athraf dalam kitabnya yang berjudul Ithaf as-Sadah al-Maharah al-Khiyarah bi Athraf al-Kutub al-Asyrah.
  3. Asy-Syaikh Abu ath-Thayyib Muhammad bin Syams al-Haqq al-Azhim Abadi memberikan penjelasan dan komentar terhadap kitab tersebut dalam kitabnya yang berjudul at-Ta'liq al-Mughni 'ala Sunan ad-Daruquthni.

 

As-Sunan al-Kubra, Karya al-Hafizh al-Baihaqi'[48]

Penulis:

Al-Hafizh Abu bakar Ahmad bin Husain Ali al-Baihaqi, lahir tahun 384 H. wafat tahun 458 H. memiliki banyak karya.[49]

Objek Pembahasan Kitab as-Sunan al-Kubra

Dia mengumpulkan hadits-hadits tentang perilaku dan hukum yang tersusun sistematis berdasarkan bab-bab fikih disertai penjelasan derajat hadits tersebut berupa shahih dan dhaifnya. Kitab ini terhitung karya monumental al-Baihaqi yang memperlihatkan kepakaran dan ketinggian kedudukannya di kalangan para ulama.

Manhaj al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra

  1. Dia menyusunnya berdasarkan bab-bab fikih.
  2. Dia menampilkan hadits-hadits berdasarkan sanad sampai kepada Rasulullah , kebanyakannya dengan cara istikhraj atas kitab-kitab terdahulu seperti ash-Shahihain dan Sunan Abu Dawud dan kitab-kitab lainnya.
  3. Dia menyertakan komentar atas riwayat-riwayat itu dengan pernyataan shahih atau dhaif disertai dengan penjelasan yang rajih ketika ada perselisihan.

Al-Baihaqi berkata dalam mukadimah Dala'il an-Nubuwwah, "Kebiasaanku dalam kitab-kitab yang aku tulis, baik kitab ushul atau furu' adalah mencukupkan dengan hadits-hadits yang shahih saja, tanpa yang lemah, atau dengan memberikan pembedaan antara yang shahih dengan yang tidak shahih supaya orang yang membaca dari kalangan ahli Sunnah memiliki pengetahuan dari hadits-hadits yang dapat dijadikan sandaran, sedangkan orang yang hatinya menyimpang dari kalangan ahli bid'ah tidak mendapatkan celah untuk mencela hadits-hadits yang dijadikan sandaran Ahli Sunnah.[50]

Perhatian Ulama Terhadap Sunan Kubra al-Baihaqi

  1. Abu Abdillah adz-Dzahabi (W. 748 H.) meringkas Sunan al-Baihaqi dalam kitab yang dia namakan al-Muhadzdzab di mana dia membuang sanad-sanad hadits dan membatasi pada penyebutan orang yang mengeluarkan hadits itu, dan penjelasan derajat hadits itu dari sisi keshahihan dan kedhaifannya Kitab ini telah dicetak dalam dua jilid.
  2. Abdul Wahhab asy-Sya'rani (W. 973 H ) meringkasnya dalam kitabnya al-Manhaj al-Mubin fi Bayan Adillah al-Mujtahidin.[51]
  3. Al-Hafizh Ibnu al-Mulaqqin menulis biografi perawinya dalam kitabnya yang berjudul Ikmal Tahdzib al-Kamal.
  4. Ali bin Utsman yang dikenal dengan at-Turkumani al-Hanafi (W. 747 H) memberikan komentar terhadap Sunan al-Baihaqi dalam kitabnya al-Jauhar an-Naqi fi ar-Radd ‘ala al-Baihaqi. Kitab ini telah dicetak bersama kitab as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi.

KEDUA: KITAB-KITAB AL-MUSTAKHRAJ

Definisi al-Mustakhraj

Kata اَلْمُسْتَخْرَجَاتُ adalah bentuk jamak dari اَلْمُسْتَخْرَجُ yaitu: Pengarang membuka sebuah kitab seperti kitab al-Bukhari atau Muslim, kemudian dia meriwayatkan hadits-hadits yang terdapat di dalamnya dengan sanad yang berasal dari dirinya sendiri, tanpa melalui jalan periwayatan penyusun kitab, lalu sanad milik mustakhraj bertemu dengan sanad penyusun kitab pada syaikh penyusun kitab atau orang yang berada di atas syaikhnya.[52] Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Syaratnya adalah agar tidak mencapai pada syaikh yang paling jauh sehingga kehilangan sanad yang membawanya kepada syaikh terdekat kecuali jika ada alasan berupa tingginya sanad atau suatu tambahan penting."[53]

Manfaat al-Mustakraj

  1. Memperoleh tingginya sanad hadits.
  2. Menambah kadar keshahihan sebuah hadits karena terjadi penambahan lafazh-lafazh hadits di dalamnya, dan beberapa penyempurnaan yang terdapat pada sebagian hadits.[54]
  3. Memperbanyak jalan periwayatan sebuah hadits sehingga dapat menguatkan hadits tersebut ketika terjadi pertentangan.[55]
  4. Orang yang mengeluarkan hadits-hadits ini dihukumi adil, karena orang yang mentakhrij hadits dengan persyaratan ash-Shahih melazimkannya agar tidak mentakhrij sebuah hadits kecuali dari yang tsiqah menurutnya.
  5. Menjelaskan penyimakan dari perawi mudallis.
  6. Menjelaskan waktu penyimakan (sebuah hadits) dari perawi yang bercampur akalnya (antara sebelum pikun dan setelah pikun).
  7. Menentukan perawi yang muhham (tidak disebutkan namanya) dalam sebuah sanad.
  8. Mengikat perawi sanad yang ditelantarkan.
  9. Membedakan antara matan hadits asal dengan matan hadits mustakhraj, dan itu banyak sekali terdapat dalam kitab Imam Muslim.
  10. Membedakan antara perkataan mudraj dalam hadits yang bukan termasuk hadits.
  11. Menjelaskan hadits-hadits yang dikatakan marfu' secara tegas yang terdapat dalam kitab mustakhraj padahal sebenarnya hadits mauquf atau dalam bentuk mauquf

Di antara kitab-kitab mustakhraj dari hadits Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang paling penting adalah:

  1. Mustakhraj Abi Bakar al-Isma'ili (W. 371 H) 'ala Shahih al-Bukhari.
  2. Mustakhraj al-Hafizh Abu Ahmad Muhammad bin Ahmad bin al-Hasan al-Ghithrifi (W. 377 H) 'ala Shahih al-Bukhari.
  3. Mustakhraj al-Hafizh Abu Abdullah Muhammad bin al-Abbas bin Ahmad bin Muhammad, yang dikenal dengan Ibnu Abi Dzuhl (W. 378 H) 'ala Shahih al-Bukhari.
  4. Mustakhraj al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin Musa bin Mardawaih al-Ashbahani (W. 416 H) 'ala Shahih al-Bukhari.
  5. Mustakhraj al-Hafizh Abu Awanah Ya'qub bin Ishaq al-Isfira'ini (W. 316 H) 'ala Shahih Muslim. Telah dicetak sebagian juznya
  6. Mustakhraj al-Hafizh Abu al-Fadhl Ahmad bin Salamah an-Naisaburi, -teman Imam Muslim ketika mengadakan perjalanan ke kota Balkh dan Bashrah, (W. 286 H)- 'ala Shahih Muslim.
  7. Mustakhraj Abu Ja'far Ahmad bin Hamdan bin Ali al-Hiyari an-Naisaburi (W. 311 H) 'ala Shahih Muslim.
  8. Mustakhraj al-Hafizh Abi Bakar Muhammad bin Muhammad bin Raja an-Naisaburi (dia banyak menyamai Muslim dalam berguru kepada mayoritas gurunya) 'ala Shahih Muslim. (W. 286 H).
  9. Mustakhraj al-Hafizh Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Yusuf ath-Thusi (W. 344 H) 'ala Shahih Muslim.

Dan di antara ulama yang memiliki Mustakhraj 'ala ash-Shahihain (al-Bukhari dan Muslim) secara terpisah dalam kitab tersendiri adalah:

  1. Al-Hafizh Abu Nu'aim Ahmad bin Abdullah bin Ishaq al-Ashbahani (W. 430 H).
  2. Abu Abdullah Muhammad bin Ya'qub yang dikenal dengan Ibnu al-Akhram (W. 344 H).
  3. Abu Dzar Abd bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah al-Anshari al-Harawi al-Hafizh (W. 434 H).
  4. Al-Hafizh Abu Muhammad al-Hasan bin Muhammad bin al-Hasan al-Khallal (W. 439 H). Al-Khathib berkata, "Dia telah mentakhrij Musnad Ahmad 'ala ash-Shahihain."[56]
  5. Al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Muhammad al-Ash-bahani yang dikenal dengan Ibnu Manjawaih (W. 428 H),
  6. Dan di antara kitab Mustakhraj ala Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang keduanya berada dalam satu kitab ialah Mustakhraj Abu Bakar Ahmad bin Abdan bin Muhammad al-Faraj asy-Syairazi (W. 388 H).

[1] Lihat lagi biografinya dalam Tadzkirah al-Huffazh, Abu Abdullah adz-Dzahabi, 2/720-730; Siyar A'lam an-Nubala', Abu Abdullah adz-Dzahabi, 14/365-382.

[2] Lihat lagi Muqaddimah Shahih Ibnu Khuzaimah, 1/16-17, ditulis oleh Muhaqqiq.

[3] Lihat Shahih Ibnu Khuzaimah, 1/3 permulaan dari Kitab Wudhu

[4] Lihat Kitab Wudhu dalam kitab Shahih Ibnu Khuzaimah 1/6 no 5-6 dan hal 10 no 13-14

[5] Lihat misalnya Kitab Wudhu, 1/11 no. 15-16

[6] Lihat lagi misalnya Kitab Wudhu, 1/18

[7] Ulum al-Hadits, Ibnu ash-Shalah, haL 17.

[8] Tadrib ar-Rawi, Jalaluddin as-Suyuthi, 1/109; dan lihat lagi contoh-contoh yang disebutkan oleh as-Suyuthi yang menggambarkan ketelitian Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, 1/75,228,239.

[9] SiyarA’lam an-Nubala, Abu Abdullah adz-Dzahabi. 14 /373.

[10] Lihat lagi Muqaddimah Shahih Ibnu Khuzaimah, Ibnu Khuzaimah, ditahqiq oleh Dr. Musthafa al-A'zhami, 1/22-23

[11] Lihat lagi biografinya dalam Tadzkirah al-Huffazh, Abu Abdullah Adz-Dzahabi 3/924-930, Siyar 'Alam an-Nubala, Abu Abdullah adz-Dzahabi 16/92

[12] Lihat lagi Muqaddimah Muhaqqiq Shahih Ibnu Hibban; Syu'aib al-Arna'uth 1/32-33

[13] Al-Hafizh Ibnu Hibban, Mukaddimah Shahihnya 1/139-141

[14] Al-Hafizh Ibnu Hibban, Mukaddimah Shahih, 1/86-87.

[15] Lihat lagi penjelasan pembagian-pembagian ini pada pasal kedua dari Mukadimah ’Ala'uddin Ali bin Balban al-Farisi dalam Tartib Shahih Ibnu Hibban. 1/104-137.

[16] Abu Hatim bin Hibban, Shahih Ibnu Hibban dengan Tartib Ibnu Balban 1/154

[17] Tadrib ar-Rawi, as-Suyuthi, 1/109.

[18] Ulum al-Hadits, Abu Amr bin ash-Shalah, hal 18.

[19] Fath al-Mughits, Syamsuddin as-Sakhawi, 1/33.

[20] An-Nukat ’ala Ibni ash-Shalah, Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar, 1/291

[21] Tadrib ar-Rawi, as-Suyuthi, 1/108.

[22] Kitab al-Athraf adalah kitab yang di dalamnya dibatasi pada pembahasan ujung hadits yang menunjukkan pada sisa pembahasannya, disertai dengan terkumpulnya sanad-sanadnya, baik berdasarkan pencakupan atau sisi pengkaitannya dengan kitab tertentu. Ed-T.

[23] Mukadimah al-Mustadrak, Aba Abdullah al-Hakim, 1/2-3.

[24] Ulum al-Hadits, Abu Amr bin ash-Shalah, hal. 18.

[25] Ulum al-Hadits, Abu Amr bin ash-Shalah, hal. 18.

[26] At-Taqyid wa al-Idhah, al-Hafizh al-Iraqi hal 17-18

[27] An-Nukat ’ala Ibni ash-Shalah, Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar. 1/320-321.

[28] Siyar A'lam an-Nubala', Abu Abdullah adz-Dzahabi, 17/175-176.

[29] Siyar A'lam an-Nubala', Abu Abdullah adz-Dzahabi, 17/175-176.

[30] An-Nukat 'ala Ibni ash-Shalah, Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar, I/314-316

[31] An-Nukat 'ala Ibni ash-Shalah, Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar. 1/316-318.

[32] Taujih an-Nazhar, Thahir bin Shalih al-Jaza iri, hal. 138.

[33] Taujih an-Nazhar, Thahir bin Shalih al-Jaza iri, hal. 138.

[34] Telah dicetak kurang lebih setengah dari kitab itu di India sebanyak empat juz. Kemudian dicetak di Beirut jilid pertama dengan tahqiq Syu’aib al-Arna'uth. Di dalam mukaddimahnya, beliau menyebutkan bahwa beliau mentahqiqnya satu naskah penuh, dan akan keluar dalam bentuk delapan jilid. Kemudian dicetak 1415 H dalam enam belas jilid.

[35] Lihat perincian biografinya dalam Siyar Alam an-Nubala ,15/27-33.

[36] Syarh Musykil al-Atsar, Abu. Ja'far ath-Thahawi, 1/6.

[37] Lihat mukadimah tahqiq Musykil al-Atsar, Syu’aib al-Arna'uth, 1/3-4. Di antara contohnya adalah 1/82-83 Bab Bayan Musykil Ma Ruwiya ’anhu fi A’dad min az-Zaman Allati Lau Waqafaha man Matra Baina Yadai al-Mushalli kanat Khairan Lahu, 1/85-91, Bab Bayan Musykil Ma Ruwiya ’an Rasululillah min Qaulihi, إِنَّ الْأَمِيْرَ إِذَا ابْتَغَى الرِّيْبَةَ فِى النَّاسِ أَفْسَدَهُمْ

[38] Mukadimah al-Mu’tashir min al-Mukhtashar, India: Haidar Abad, 1362 H. 1/3.

[39] Ath-Thabrani memiliki tiga Mu’jam; ash-Shaghir, al-Ausath dan al-Kabir. Dia telah menyusun al-Ausath dan Ash-Shaghir berdasarkan nama para guru-gurunya sesuai huruf hijaiyah.

[40] lihat biografinya dalam Tadzkirah al-Huffazh, Abu Abdullah adz-Dzahabi, 3/912.

[41] Mukadimah al-Mu’jam al-Kabir, 1/3.

[42] Mukadimah al-Mu’jam al-Kabir, 1/3.

[43] Kasyf azh-Zhunun, Haji Khalifah, hal 1737-

[44] Lihat Tadzkirah al-Huffazh, 3/912, al-Mish’ad al-Ahmadi, Ibnu aljazari yang dicetak dalam mukadimah Musnad Imam Ahmad dengan tahqiq Syaikh Ahmad Syakir.

[45] Lihat perincian biografinya dalam Siyar A’lam an-Nubala', Abu Abdullah adz-Dzahabi, 16/449-460. Begitulah yang tertulis dalam naskah aslinya, tetapi yang benar, beliau wafat pada tahun 385 H.

[46] Tarikh Baghdad, al-Khatib al-Baghdadi 12/34-40

[47] Lihat sebagai contoh; pada 1/63, Bab Wulugh al-Kalbi fi al-Ina' dan pada 1/97, Bab Ma Ruwiya min Qauli Rasulillah اَلْأُذُنُ مِنَ الرَّأْسِ

[48] Al-Baihaqi berusia panjang, hingga meninggal agak terakhir, yaitu 458 H. Dan pembahasan tentang Sunannya didahulukan di sini sebagai bentuk pembolehan dan penyamaannya dengan Sunan ad-Daruquthni karena kedekatan manhajnya.

[49] Lihat biografi beliau dalam Siyar A'lam an-Nubala', Abu Abdullah adz-Dzahabi, 18/163-170

[50] Dala'il an-Nubuwwah, al-Baihaqi, 1/47

[51] Lihat al-Madkhal ila as-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi hal 51-52 mukaddimah Tahqiq Dr. Muhammad Dhiya' ar-Rahman al-A'zhami.

[52] At-Tabshirah wa at-Tadzkirah, al-Iraqi, 1/56-57.

[53] Tadrib ar-Rawi, as-Suyuthi. 1/112.

[54] Ibnu ash-Shalah tidak menjelaskan faidah al-Mustakhraj kecuali dua ini lihat Ulam al-Hadits, hal. 19-20.

[55] Al-Hafiah al-lraqi menambahkan faidah ini atas Ibnu ash-Shalah dalam at-Taqyid wa al-Idhah. lihat at-Taqyid wa al-Idhah, al-Iraqi. hal. 19.

[56] Lihat biografi beliau dalam Tarikh Baghdad, 7/425.

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya