Kitab Referensi

Kitab : Tadwin as-Sunnah Nabawiyah, Nasy' atuhu wa tathawwuruhu

Al-Hafizh Abu al-Hajjaj al-Mizzi (742 H) berkata, "Adapun as-Sunnah, maka Allah telah memberikan taufik kepada para huffazh yang pandai dan genius, para pemurni hadits yang kritis, yang telah membuang semua penyimpangan orang-orang yang melampaui batas dari as-Sunnah, penjiplakan kaum pendusta dan takwil orang yang bodoh. Mereka telah memvariasi dalam penulisan karya ilmiah dan menggunakan teknik dalam mengkodifikasinya pada segala bidang dan berbagai bentuk, sebagai upaya untuk menjaga as-Sunnah dan karena kekhawatiran dari hilangnya as-Sunnah. Di antara kitab yang terbagus penulisan dan penyusunannya, paling banyak benarnya dan sedikit kesalahannya, paling meluas umum manfaatnya dan paling banyak faidahnya, paling besar barakahnya, paling mudah kesukarannya, paling baik penerimaannya di sisi orang yang pro dan yang kontra dan paling penting posisinya di kalangan semua orang, adalah Shahih Abu Abdullah Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, Shahih Abu Husain Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, kemudian disusul kitab as-Sunan karya Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy'ats as-Sijistani, kitab al-Jami' karya Abu 'Isa Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, kitab as-Sunan karya Abu Abdurrahman Ahmad bin Syu'aib an-Nasa'i, dan kitab as-Sunan karya Abu Abdullah Muhammad bin Yazid yang dikenal dengan Ibnu Majah al-Qazwini, walaupun dia tidak sampai kepada derajat mereka (yang di atas).”

Masing-masing kitab enam tersebut memiliki ciri khas yang hanya diketahui oleh orang yang ahli di bidang ini, sehingga kitab-kitab tersebut dikenal oleh manusia dan tersebar di seluruh pelosok negeri Islam dan pemanfaatannya menjadi besar serta para penuntut ilmu berusaha keras untuk mendapatkannya dan memahaminya. Banyak sekali karya tulis berupa syarah dan ta'liq terhadap kitab-kitab tersebut. Sebagiannya mengkaji tentang mengenal isi kandungan dari matan-matan hadits yang termuat di dalamnya, dan sebagian yang lain mengkaji tentang mengenal kandungan sanad-sanadnva. dan sebagian yang lainnya mengkaji tentang gabungan semua itu.[1]

Pertama, Shahih al-Bukhari

1. Penulisnya

Penulisnva adalah Abu Abdullah Muhammad bin Isma il bin Ibrahim bin aJ-Mughirah al-Bukhari al-Jufi maulahum, Syaikhul lslam, Imam para huffazh, dan Amirul Mukminin dalam hadits, serta pemilik banvak karya ilmiah. Dia dilahirkan pada Syawal 194 H dan wafat pada 256 H.[2]

2. Nama Kitab

Kitab ini dikenal di kalangan ulama dengan nama Shahih al-Bukhari. Nama asli yang diberikan oleh penulisnya seperti yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi adalah al-Jami' al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi,[3]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Beliau (al-Bukhari) memberinya nama dengan 'Al-Jami' ash-Shahih al-Musnad min Haditsi Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi."[4]

3. Faktor Pendorong Penyusunan Shahih al-Bukhari

  1. Ibnu Hajar berkata, "Ketika Imam al-Bukhari memperhatikan kitab-kitab hadits yang ditulis pada saat sebelum masanya, maka dia mendapatkannya sesuai penyusunannya yang mencakup hadits yang shahih, hasan, dan banyak sekali dari hadits dhaif, sehingga yang kurus tidak bisa dikatakan gemuk. Maka beliau menggerakkan himmahnya. untuk mengumpulkan hadits shahih yang tidak diragukan lagi oleh orang yang amanah."
  2. Ibnu Hajar juga mengatakan, "Tekadnya semakin kuat setelah mendengar gurunya -Amirul Mukminin dalam hadits dan fikih- Ishaq bin Rahawaih di mana dia berpesan, 'Alangkah baiknya seandainya kamu mengumpulkan kitab yang memuat hadits-hadits Rasulullah yang shahih.' Imam al-Bukhari berkata, 'Pesan itu menancap di hatiku, maka aku mulai mengumpulkan (hadits-hadits shahih) dalam al-Jami' ash-Shahih'."
  3. Al-Hafizh juga mengatakan, "Diriwayatkan kepada kami dengan sanad yang kuat dari Muhammad bin Sulaiman bin Faris, dia berkata, 'Saya mendengar Abu Abdillah al-Bukhari berkata, 'Saya bermimpi melihat Nabi , seakan-akan saya berada di hadapannya, dan di tanganku terdapat sebuah kipas untuk menjaga beliau (dari hawa panas. Ed.T). Kemudian saya bertanya kepada ahli ta'bir mimpi, maka dia menjawab, 'Menurutku engkau akan menjaganya dari kedustaan.' Dan itulah yang telah mendorongku untuk menyusun kitab al-Jami'"[5]

4. Objek Pembahasannya dan Mengungkap tentang Tujuannya

Al-Hafizh mengatakan, "Telah tetap bahwa dia senantiasa konsisten dengan hadits shahih, dan dia tidak mencantumkan di dalamnya melainkan hadits yang shahih. Itu merupakan pokok dari objek pembahasannya. Itu diambil dari pemberian nama dari al-Bukhari terhadap kitabnya al-Jami' ash-Shahih dan dari riwayat para ulama tentang hal tersebut secara tegas. Kemudian Imam al-Bukhari memandang perlu memenuhinya dengan faidah-faidah fikih dan mutiara hikmah. Maka dia -dengan pemahamannya- mengeluarkan makna-makna yang banyak dari matan hadits, yang dia pisahkan pada bab-bab dalam kitabnya sesuai dengan relevansinya. Dia memperhatikan ayat-ayat Ahkam dalam kitabnya, dan mengambil dalalat (penunjukan) yang bagus darinya. Dia menempuh metode yang luas dalam mengisyaratkan kepada tafsirnya."[6]

Imam Muhyiddin an-Nawawi mengatakan, "Bukanlah maksud dari Imam al-Bukhari membatasi diri pada hadits-hadits semata, bahkan beliau bermaksud untuk istinbath (mengambil kesimpulan) darinya, dan mengambil dalil untuk bab-bab yang dia inginkan."[7]

5. Penafsiran-penafsiran Imam al-Bukhari dalam ash-Shahih

Abu Ahmad bin Adi meriwayatkan dari Abdul Quddus-bin Hammam, dia berkata, "Saya menyaksikan sejumlah ulama mengatakan bahwa al-Bukhari berusaha membuat tarjamah (maksudnya bab penjelasan, pent.) dalam kitab Shahihnya di antara kuburan dan mimbar Rasulullah , dan dia melakukan shalat dua rakaat untuk setiap bab yang dibuatnya."[8]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Hendaknya kita menyebutkan satu kaidah yang memuat penjelasan bentuk-bentuk tarjamah (maksudnya bab penjelasan) yang terdapat di dalamnya. Di sana ada tarjamah yang zhahir (nampak jelas) dan yang khafi (samar). Tarjamah yang zhahir adalah tarjamah yang menunjukkan relevansinya dengan tepat terhadap kandungan hadits-hadits yang dimuatnya. Terkadang tarjamah tersebut memakai lafazh pemberi tarjamah, atau sebagiannya, atau maknanya. Inilah yang terbanyak ditemukan.

Sedangkan tarjamah yang khafi (samar) adalah tarjamah yang tidak diketahui relevansinya dengan kandungan bab, kecuali melalui analisa yang tajam dan penelitian yang seksama, Tarjamah inilah yang paling sering menyulitkan orang yang memahami tarjamah (bab penjelasan) kitab ini. Oleh karena itu, dikenallah ungkapan sekelompok ulama yang mulia "bahwa Fikih al-Bukhari ada dalam terjamahnya (bab penjelasannya)." Hal itu sering dilakukan oleh Imam al-Bukhari, yaitu jika dia tidak mendapatkan hadits yang sesuai syaratnya tentang bab tertentu, maka dia menampakkan makna zahir mengenai maksudnya yang dia jelaskan dalam tarjamah (bab penjelasan), dan mengambil kesimpulan darinya. Terkadang dia melakukan hal itu dengan tujuan mengasah otak. Hal itu sering dia lakukan di mana dia menyebutkan hadits lain yang menjelaskannya di tempat lain yang terdahulu atau terkemudian.[9]

6. Penjelasan Tentang Pemenggalan al-Bukhari Terhadap Hadits dan Faidah Pengulangannya

Ibnu Hajar mengatakan bahwa al-Hafizh Abu al-Fadhl Muhammad bin Thahir al-Maqdisi berkata dalam kitabnya jawab at-Muta'annit, "Ketahuilah bahwa al-Bukhari menyebutkan sebuah hadits dalam kitabnya di beberapa tempat dan dia menjadikannya dalil di setiap bab dengan sanad yang lain. Dengan kemampuan istinbath dan keluasan ilmunya, dia mengeluarkan makna yang ditunjukkan oleh bab di mana hadits tersebut dia sebutkan. Sangat jarang dia menyebutkan sebuah hadits di dua tempat dengan satu sanad dan lafazh yang sama. Dia meriwayatkannva dari jalur riwayat yang lain hanyalah disebabkan makna-makna yang akan kami sebutkan. Dan Allah Maha Mengetahui maksud Imam al-Bukhari dari hadits-hadits tersebut." Kemudian Abu al-Fadhl memaparkan delapan makna yang tidak perlu disebutkan di sini.

Selanjutnya al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Adapun tindakan Imam al-Bukhari terkadang memenggal sebuah hadits dalam beberapa bab dan meringkas sebagian lainnya, maka hal itu (beliau lakukan) ketika kondisi matan hadits tersebut pendek, atau memiliki keterkaitan satu sama lainnya, sedangkan ia memuat dua hukum atau lebih, maka beliau mengulanginya sesuai dengan kadar hal itu dengan tetap menjaga agar tidak kosong dari faidah-faidah haditsiyah, seperti dia meriwayatkannya dari seorang syaikh lain yang belum dia riwayatkan sebelumnya, atau menyebutkannya di satu tempat dengan sanad muttashil (tersambung) dan di tempat lain dengan sanad mu'allaq (terputus awal sanadnya), terkadang menyebutkannya dengan sempurna dan terkadang sebatas bagian (thar) hadits yang diperlukannya dalam bab itu. Dan jika matan hadits itu memuat beberapa jumlah (kalimat) yang tidak memiliki korelasi satu sama lain, maka beliau meriwayatkannya dalam bab khusus secara terpisah untuk menghindari penyebutan hadits yang panjang, dan terkadang beliau sedang bersemangat sehingga menyebutkannya dengan sempurna.[10]

7. Syarat Imam al-Bukhari dalam ash-Shahih

Al-Hafizh Ibnu Thahir berkata, "Ketahuilah bahwasanya Imam al-Bukhari dan Muslim dan orang-orang yang kami sebutkan setelahnya (ashhab as-Sunan) tidak pernah dinukil dari salah seorang dari mereka yang mengatakan, "Saya mensyaratkan untuk meriwayatkan -dalam kitabku- hadits menurut syarat (ketentuan) tertentu, namun hal itu bisa diketahui dengan cara penelitian dengan cermat terhadap kitab-kitab mereka, sehingga diketahuilah syarat masing-masing mereka."

Kemudian al-Hafizh berkata, "Ketahuilah bahwa syarat al-Bukhari dan Muslim ialah meriwayatkan hadits yang telah disepakati ketsiqahan periwayatannya hingga sampai kepada seorang sahabat yang masyhur, tanpa ada perselisihan antara para perawi yang tsiqah (terpercaya), dan sanadnya muttashil dan tidak terputus. Hanya saja Imam Muslim meriwayatkan hadits-hadits dari orang yang haditsnya ditinggalkan oleh Imam al-Bukhari karena syubhat (aib) yang terdapat pada dirinya. Muslim meriwayatkan haditsnya dengan menghilangkan syubhat tersebut, seperti Hammad bin Salamah, Suhail bin Abi Shalih, Dawud bin Abi Hind, Abu az-Zubair al-Makki, al-Ala' bin Abdurrahman, dan selain mereka."[11]

Ai-Hazimi berkata, "Madzhab orang yang mengeluarkan ash-Shahih adalah berpatokan pada keadaan perawi yang adil; pada diri para syaikhnya yang adil, dan pada diri orang yang meriwayatkan hadits dari mereka (para muridnya) yang juga harus tsiqah semuanya. Maka hadits yang diriwayatkannya dari sebagian mereka adalah shahih dan tsabit yang lazim diriwayatkan, sedangkan riwayatnya dari sebagian mereka (yang disusupi keraguan) adalah tidak layak untuk diriwayatkan kecuali sebagai syahid dan mutaba'at." Kemudian beliau menyebutkan contoh Imam az-Zuhri dan tingkatan-tingkatan para perawi yang meriwayatkan darinya.[11]

8. Perhatian Para Ulama Terhadap Shahih al-Bukhari

Bukanlah sesuatu yang berlebihan jika kita mengatakan bahwa umat Islam -dengan segala perbedaan tingkatan dan madzhab mereka- tidak pernah mencurahkan perhatian terhadap sebuah kitab, setelah Kitab Allah sebagaimana (kadar) perhatian mereka terhadap Shahih al-Bukhari dari sisi periwayatan dan penyimakan-nya, penghafalan dan penulisannya, penjelasan hadits-hadits dan para perawinya, peringkasan dan pemisahan sanad-sanadnya.[12] Hal ini tidak mengherankan, karena ia adalah kitab paling shahih setelah Kitab Allah (al-Qur'an).

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Al-Farabri menyatakan bahwa sebanyak sembilan puluh ribu orang telah mendengarkan Shahih al-Bukhari dari beliau." Al-Hafizh juga mengatakan bahwa di antara perawi kitab al-Jami' (Shahih al-Bukhari) adalah: Abu Thalhah Manshur bin Muhammad bin Ali bin Qaribah al-Bazdawi, Ibrahim bin Ma'qil an-Nasafi dan Hammad bin Syakir al-Fasawi. Sedangkan riwayat yang sampai pada masa-masa ini dan sebelumnya dengan cara pendengaran langsung (as-Sima') adalah riwayat Muhammad bin Yusuf bin Mathar bin Shalih bin Bisyr al-Farabri."[13]

Ini dilihat dari sudut pandang periwayatan Shahih al-Bukhari dan penyimakannya. Sedangkan syarah, ta'liq dan lainnya, maka telah dilakukan oleh para ulama -dahulu dan sekarang- dengan baik, di mana mereka tidak meninggalkan sesuatu yang memiliki korelasi dengannya, melainkan mereka pasti membahas dan memeriksanya, tidak ada lafazh-lafazh yang sukar, nama-nama dan tarjamah (bab penjelasan) yang pelik melainkan mereka pasti menjelaskannya dan menghilangkan syubhat yang ada.[14]

Jumlah kitab Syarah Shahih al-Bukhari dalam bentuk makhthuthah (manuskrip) dan yang telah dicetak mencapai tujuh puluh satu kitab sesuai penghitungan Prof, Abdul Ghani bin Abdul Khaliq , Dan menurut penghitungannya juga, jumlah ta'liq, ringkasan, dan yang serupa dengannya mencapai empat puluh empat kitab antara yang belum dicetak atau sudah.[15]

Di antara kitab-kitab Syarah Shahih al-Bukhari yang paling penting yang telah dicetak adalah:

  1. A'lam as-Sunan. karya Imam al-Khaththabi Abu Sulaiman Hamd bin Muhammad al-Busti yang wafat pada 388 H.
  2. Al-Kaukah ad-Darari fi Syarh Shahih al-Bukhari, karya al-Hafizh Syamsuddin Muhammad ban Yusuf yang dikenai dengan nama al-Karmani yang wafat pada 786 H
  3. Fath al-Bari. karya al-Hafizh Ibnu Hajar yang wafat pada 852 H. ia termasuk syarah Shahih al-Bukhari terpenting dan terbaik. Benarlah ungkapan Syaikh asy-Syaukani tentang kitab ini. Tidak ada hijrah setelah (munculnya) Fath al-Bari.[16]
  4. Umdah al-Qari. karya al-Hafizh Badruddm Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad al-Hanafi yang terkenal dengan nama al-'Aini, yang wafat pada 855 H
  5. Irsyai as-Sari, karya Syihabuddin Ahmad bin Muhammad yang dikenal dengan nama al-Qasthalani, yang wafat pada 923 H
  6. Faidh al-Bari, karya Syaikh Muhammad Anwar al-Kasymiri al-Hanafi, yang wafat pada 1352 H.
  7. Lami' ad-Darari, karya al-Hajj Rasyid Ahmad al-Kankuhi, dan kitab-kitab syarah yang lain.

Perhatian ulama terhadap para perawinya telah dimulai lebih awal. Yaitu ketika al-Hafizh Abu Ahmad Abdullah bin Adi (W. 365 H.) menulis sebuah kitab yang diberi nama Man Rawa 'anhu al-Bukhari, kemudian penulisan karya ilmiah tentang hal itu muncul secara berurutan. Di antara kitab-kitab tersebut adalah:

  1. Al-Hidayah wa al-Irsyad, yang ditulis oleh Abu Nashr Ahmad bin Muhammad al-Kalabadzi (W. 398 H).
  2. At-Ta'dil wa at-Tajrih liman Akhraja laku al-Bukhari fi ash-Shahih, karya Abu al-Walid Sulaiman bin Khalaf al-Baji (W. 474 H).
  3. Al-Jam'u Baina Rijal ash-Shahihain, karya Abu al-Fadhl Muhammad bin Thahir al-Maqdisi (W. 507 H).

Kemudian setelah itu muncul kitab-kitab yang membahas tentang para perawi semua Imam yang enam (al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud, an-Nasa'i, dan Ibnu Majah), di antaranya:

  1. Al-Kamal fi Asma' ar-Rijal, karya al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi (W. 600 H).
  2. Tahdzib al-Kamal, karya al-Hafizh al-Mizzi (W. 742 H.) Kemudian kitab-kitab yang bersumber darinya.[17]

9. Jumlah Hadits dalam Shahih al-Bukhari

Al-Hafizh Abu Amr Utsman bin ash-Shalah (W. 643 H) berkata, "Jumlah hadits dalam Shahih al-Bukhari adalah 7275 hadits termasuk hadits-hadits yang diulang-ulang. Diriwayatkan bahwa Shahih al-Bukhari berjumlah 4000 hadits tanpa pengulangan, hanya saja dalam ungkapan ini -menurut mereka- telah tercakup Atsar sahabat dan tabi’in, dan terkadang satu hadits yang diriwayatkan dengan dua sanad dihitung dua hadits."[18]

Al-Hafizh Abu al-Fadhl Syihabuddin bin Hajar berkata, "Semua matan yang muttashil dalam Shahih al-Bukhari tanpa pengulangan berjumlah 2602 hadits." Di antara matan-matan yang mu'allaq lagi marfu' yang tidak beliau sebutkan -dengan sanad bersambung- di tempat lain dalam kitab al-Jami' berjumlah 159 hadits, sehingga semuanya berjumlah 2761 hadits. Antara jumlah yang saya sebutkan ini dan jumlah yang disebutkan oleh Ibnu ash-Shalah dan lainnya sangat jauh berbeda. Saya tidak tahu dari mana kesalahan dalam hal ini berasal. Kemudian takwilnya bahwa mungkin penghitung yang pertama yang mereka ikuti dalam perhitungan ini, dulu apabila melihat hadits yang panjang di suatu tempat, dan pendek di tempat lain, maka dia mengira yang pendek bukan bagian yang panjang. Hal itu mungkin karena jauhnya rentang masa antara dia dengan al-Bukhan atau karena keterbatasan pengetahuannya tentang ilmu hadits. Hal seperti ini banyak terdapat dalam Shahih al-Bukhari, sehingga menjadi jelas faktor perbedaan antara dua jumlah tersebut. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita.[19]

 

Kedua. Shahih al-Imam Muslim

1. Nama Penulisnya

Dia adalah al-lmam al-Hafizh Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi. Dia dilahirkan pada 204 H dan wafat pada 261 H.[20]

2. Nama Kitab

Kitab ini dikenal di kalangan para ulama dengan nama Shahih Muslim.

Ibnu ash-Shalah berkata, “Diriwayatkan kepada kami dari Muslim dia berkata, 'Saya menyusun kitab ini, al-Musnad ash-Shahih dari 300 ribu hadits yang saya dengar."

Ibnu ash-Shalah juga berkata, "Telah sampai kepada kami dari Makki bin Abdan, dia berkata, Saya mendengar Muslim bin al-Hajjaj berkata, 'Seandainya para ahli hadits menulis hadits selama dua ratus tahun, maka poros mereka adalah pada musnad ini yakni musnad ash-Shahih.[21]

3. Faktor Pendorong Penyusunannya

Imam Muslim telah menjelaskan sebab-sebab penyusunan musnad ash-Shahih ini dalam mukadimahnya. Dia menyebutkan bahwa faktor sebab pendorongnya ada dua hal:[22]

Pertama, sebagai jawaban terhadap permintaan salah satu muridnya. Dia berkata dalam mukadimahnya, "Khiami -insya Allah-sedang memulai takhrij hadits-hadits yang kamu minta untuk disusun dengan ketentuan (syarat) yang akan saya sebutkan kepadamu."

Kedua, banyaknya kitab-kitab hadits yang telah disusun dan diberikan kepada manusia yang penuh dengan hadits-hadits dhaif, munkar dan wahm (salah berpraduga). Dia berkata dalam mukadimahnya, "Akan tetapi karena (mengingat) sesuatu yang telah kami beritahukan kepadamu bahwa penyebaran hadits dengan sanad yang lemah lagi tidak jelas, dan penyebarannya di kalangan orang awam yang tidak mengetahui aibnya (adalah berbahaya), maka hal ini meringankan hati nurani kita untuk memenuhi permintaanmu."

4. Metode al-Imam Muslim dalam Penyusunan ash-Shahih

Imam Muslim sendiri telah menjelaskan dalam mukadimahnya, metode yang dia tempuh dalam menyusun kitabnya, seraya berkata, "Kami -insya Allah- sedang memulai mentakhrij hadits-hadits yang kamu minta, dan kami mulai menyusunnya dengan ketentuan (syarat) yang akan saya sebutkan kepadamu, yaitu; kami hanya bersandar kepada sejumlah hadits yang disandarkan kepada Rasulullah dan membaginya menjadi tiga bagian dan tiga tingkatan manusia, tanpa pengulangan, kecuali pada tempat yang memerlukan pengulangan hadits yang berisi tambahan makna atau sanad, karena adanya 'illat Hal itu karena makna tambahan dalam hadits yang dibutuhkan menempati kedudukan suatu hadits tersendiri. Maka hadits yang memiliki sifat tambahan -seperti vang kami sebutkan- harus diulangi, atau makna tersebut dipisahkan dari kalimat hadits secara ringkas jika memungkinkan. Namun terkadang sukar memisahkannya dari kalimatnya, sehingga mengulanginya secara utuh -apabila diperlukan- adalah lebih selamat.”

Dan dia berkata lagi, "Adapun hadits yang mana kami mendapatkan jalan (alasan) untuk mengulanginya dengan kalimatnya tanpa ada keperluan kami padanya, maka kami tidak akan melakukannya, insya Allah.

Bagian yang pertama, kami bermaksud untuk mendahulukan hadits-hadits yang paling selamat dan murni dari aib dibandingkan hadits-hadits lain. Yaitu hadits yang mana para perawinya adalah orang-orang yang istiqamah dalam belajar hadits dan tekun terhadap hadits yang dinukilnya. dalam riwayat mereka tidak terdapat perbedaan parah dan percampur-adukan yang keji sebagaimana banyak ulama hadits yang terpeleset padanya, dan hal itu nampak pada riwayat mereka.

Apabila kita menceritakan riwayat kelompok ini, berarti kita mengikutkan hadits-hadits yang dalam sanadnya terdapat sebagian perawi yang tidak kuat dan teliti hafalannya sebagaimana kelompok sebelum mereka Kendati derajat kelompok ini di bawah mereka, namun sifat tidak tercela, jujur, saling menyampaikan ilmu (hadits) terdapat pada diri mereka, seperti Atha' bin as-Sa'ib, Yazid bin Abu Ziyad, Laits bin Abu Sulaim dan sejenis mereka dari kalangan pembawa atsar dan perawi hadits. Mereka walaupun dikenal dengan ilmu dan keshalihannva di kalangan ulama yang terkenal, namun teman-teman mereka yang memiliki sifat istiqamah (komitmen) dan tekun dalam meriwayatkan hadits mengalahkan mereka dalam hal keadaan dan kedudukan, karena hal itu menurut para ulama adalah martabat yang tinggi dan moralitas yang mulia."[23]

Kemudian Imam Muslim berkata, "Berdasarkan hal yang telah disebutkan berupa tinjauan dari beberapa sisi, maka kami menyusun hadits-hadits Nabi yang kamu minta. Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari orang-orang yang tertuduh menurut ahli hadits atau kebanyakan mereka, maka kami tidak akan menyibukkan diri untuk mengeluarkannya seperti Abdullah bin Miswar Abu Ja'far al-Mada'ini, Amr bin Khalid, Abdul Quddus asy-Syami, Muhammad bin Sa'id al Mashlub, Ghiyats bin Ibrahim, Sulaiman bin Amr, Abu Dawud an-Nakha'i, dan semisal mereka yang tertuduh membuat dan memalsukan hadits. Begitu pula orang yang kebanyakan haditsnya munkar dan keliru. maka kami pun enggan meriwayatkan hadits mereka.

Indikasi munkar dalam hadits milik seorang perawi adalah apabila riwayatnya dibandingkan dengan riwayat selainnya dari kalangan ahli hadits yang terkenal hafalannya dan diridhai, maka riwayatnya menyelisihi riwayat mereka, atau hampir semua riwayatnya tidak sesuai dengan riwayat mereka Apabila mayoritas haditsnya seperti demikian, maka haditsnya tertolak dan tidak bisa diamalkan.[24]

Begitulah akhir perkataan Imam Muslim dengan sedikit mengalami perubahan.

5. Syarat Imam Muslim dalam ash-Shahih

Pembicaraan tentang hai ini telah berlalu ketika membicarakan tentang syarat Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya, dan sebagian pada alinea sebelumnya= Metode Penyusunan Shahih Muslim, silahkan dilihat kembali.

6. Adakah dalam Shahih Muslim Hadits-hadits Mu'allaq?

Al-hafizh Abu Amr bin ash-Shalah berkata. "Dalam Shahih Muslim tidak terdapat hadits mu'allaq kecuali sedikit. Al-Hafizh Abu Ali al-Ghassani al-Andalusi menyebutkan bahwa terjadi inqitha' (terputus) dalam shahih Muslim pada empat belas tempat."[25]

Al-Hafizh al-Iraqi menyebutkan perkataan Ibnu ash-Shalah kemudian dia berkata, "Di dalam perkataan Ibnu ash-Shalah terdapat beberapa hal, salah satunya bahwa perkataannya, 'Dan itu dalam Shahih Muslim sangat sedikit', maka ia benar sebagaimana yang telah kami sebutkan, tetapi saya menilai perlu menjelaskan tempat jumlah hadits yang sedikit itu agar menjadi akurat." Kemudian dia menyebutkan tiga tempat: (1). Dalam kitab tayammum, (2). Kitab buyu' (jual beli), (3). Bab hudud (hukuman yang telah ditentukan kadarnya oleh syari'at). Semuanya dengan kata, 'Al-Laits meriwayatkan'."

Kemudian ai-Iraqi berkata, "Dan dua hadits yang terakhir (dalam bab buyu' dan hudud) sungguh telah diriwayatkan oleh Muslim sebelum dua jalan periwayatan tersebut dengan sanad muttashil, kemudian dia mengikutkannya dengan dua sanad ini. Maka berdasarkan ini, dalam hadits Muslim tidak terdapat hadits muallaq setelah Mukadimah yang mana dia tidak memaushulkannya kecuali hadits Abu al-Jahm dalam kitab tayammum. Di dalamnya masih tersisa empat belas tempat lagi yang beliau riwayatkan dengan sanad muttashil yang kemudian beliau lanjutkan dengan perkataannya, 'Si fulan meriwayatkannya.' Ar-Rasyid al-Aththar telah mengumpulkannya dalam kitab al-Ghurar al-Majmu’ah. Dan semuanya telah saya jelaskan dalam kitab yang saya tulis tentang hadits-hadits yang dikatakan dhaif atau terputus sanadnya dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim."[26] Dikutip secara ringkas.

Al-Haftzh Ibnu Hajar mengomentari perkataan ai-Hafizh al-Iraqi dengan menyatakan, "Di dalamnya terdapat beberapa hal:

  1. Perkataan al-lraqi, "Di dalamnya masih tersisa empat belas tempat", menurut ar-Rasyid al-Aththar hanyalah tiga belas, salah satunya pengulangan. Dan yang membuat Syaikh (Ibnu ash-Shalah) masuk dalam pendapat ini adalah karena Abu Ali al-Jayyani dan diikuti oleh al-Maziri menyebutkan bahwa jumlahnya ada empat belas.
  2. Perkataannya, "Sesungguhnya dia meriwayatkannya dengan sanad muttashil" kemudian dia lanjutkan dengan perkataannya :Si fulan meriwayatkannya," itu tidak pada semua hadits yang disebutkan, akan tetapi terjadi hanya pada enam hadits di dalam mukadimah Shahih Muslim," Kemudian al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkannya, kemudian menyebutkan tujuh hadits yang tersisa, di dalamnya terdapat hadits yang diulang. Selanjutnya dia berkata, ‘Berdasarkan ini, maka jumlahnya hanya dua belas hadits saja, enam darinya dengan bentuk ta'liq (terputusnya perawi setelah sahabat) dan enam lagi dengan bentuk ittishal (bersambung), tetapi masing-masing tidak disebutkan dengan jelas tentang nama orang yang meriwayatkannya. Maka ungkapan yang benar adalah dengan mengatakan, "Di dalamnya masih tersisa enam tempat."

Dalam riwayat lain dikatakan, "Sesungguhnya hadits-hadits tersebut zahirnya munqathi' (terputus sanadnya), padahal bukan munqathi'. Sebagaimana pendapat jumhur ulama hadits tentang sanad hadits yang di dalamnya terdapat seorang yang mubham (tidak disebutkan namanya) bahwa ia adalah muttashil yang di dalamnya terdapat seorang yang mubham."[27] Dikutip secara ringkas.

7. Jumlah Hadits dalam Shahih Muslim

Al-Hafizh al-lraqi berkata, "Ibnu ash-Shalah tidak menyebutkan jumlah hadits Muslim. Imam an-Nawawi menyebutkannya dalam tambahannya di dalam kitab at-Taqrib, dia berkata, "Jumlah haditsnya sekitar 4000 dengan membuang hadits yang diulang".[28] Dia tidak menyebutkan jumlahnya dengan hadits yang diulang. Jumlahnya melebihi jumlah hadits dalam kitab al-Bukhari, karena banyaknya jalur riwayatnya. Dan saya meriwayatkan dari Abu al-Fadhl Ahmad bin Salamah bahwa jumlahnya 12.000 hadits."[29]

8. Perhatian Ulama Terhadap Shahih Muslim

Para ulama tidak pernah memberikan perhatian kepada sebuah kitab setelah Kitab Allah sebagaimana perhatian mereka kepada kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Dan telah berlalu pembicaraan tentang perhatian mereka terhadap Shahih al-Bukhari. Perhatian ulama terhadap dua kitab tersebut bermula sejak dini, di mana pada abad ke-4 dan ke-5 ditulislah kitab-kitab tentang biografi para perawi kedua kitab tersebut, dan kitab-kitab yang menggabungkan keduanya, serta kitab-kitab mustakhraj dan lain-lain. Dan akan dibahas kemudian dalam bab keempat, insya Allah.

Ulama sangat memperhatikan Shahih Muslim dalam sisi periwayatan dan penyimakan, hanya saja pada kurun masa terakhir dikenal masyhur riwayat Shahih Muslim yang muttashil melalui riwayat Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan an-Naisaburi, seorang ahli fikih, mujtahid yang zuhud, perawi Shahih Muslim. Beliau wafat pada 308 H.

Di antara kitab Syarah Shahih Muslim yang terpenting adalah:

  1. Al-Mufhim fi Syarhi Muslim, karya Abdul Ghafir bin Isma'il al-Farisi (W. 529 H).
  2. Al-Mu'lim fi Syarhi Muslim, karya Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Umar al-Maziri al-Maliki (W. 536 H).
  3. Ikmal al-Mu'lim bi Fawa'id Syarhi Shahih Muslim, karya al-Qadhi Abu al-Fadhl 'Iyadh bin Musa al-Yahshubi (W. 544 H).
  4. Syarh Shahih Muslim, karya Abu Amr bin Utsman bin ash-Shalah (W. 643 H).
  5. Al-Minhaj fi Syarhi Shahih Muslim bin al-Hajjaj, karya Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi (W. 676 H).
  6. Ikmal al-Ikmal, karya Abu ar-Rauh Isa bin Mas'ud az-Zawawi al-Maliki (W. 744 H).

Dan syarah-syarah lainnya yang jumlahnya -sejauh yang saya ketahui- mendekati lima puluh kitab syarah dan mukhtasharnya.[30]

 

Ketiga. Sunan Abu Dawud as-Sijistani

1. Nama Penulisnya

Penulisnya adalah Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy'ats bin Ishaq bin Basyir bin Syaddad al-Azdi as-Sijistani, Syaikh as-Sunnah, pemuka para huffazh dan ahli hadits Basrah. Dia lahir pada 202 H, dan wafat pada 275 H.[31]

2. Nama Kitab Abu Dawud

Dikenal masyhur di kalangan ulama dengan nama as-Sunan.[32] Nampaknya penulis sendiri yang memberinya nama tersebut, di mana dia mengatakan dalam suratnya kepada penduduk Makkah, "Kalian memintaku menyebutkan kepada kalian hadits-hadits vang terdapat dalam kitab as-Sunan, apakah ia hadits paling shahih sepanjang sepengetahuanku tentang bab tertentu?’’ Dan dia mengatakan di tempat lain dalam surat tersebut, "Di antara hadits-hadits yang terdapat dalam kitabku, as-Sunan terdapat hadits mursal"

3. Metode Abu Dawud dalam Kitab as-Sunan

Di dalam suratnya kepada penduduk Makkah terdapat perkataannya, "Kalian memintaku menyebutkan kepada kalian hadits-hadits yang terdapat dalam kitab as-Sunan, apakah ia hadits paling shahih sepengetahuanku tentang bab tertentu? Ketahuilah bahwa semuanya seperti itu, kecuali terkadang diriwayatkan melalui dua riwayat yang shahih, salah satunya lebih kuat sanadnya, sedangkan yang lainnya shahih, niscaya saya mendahulukan yang mahfuzh. Terkadang saya menulisnya (yang mahfuzh), dan saya tidak melihat jumlahnya di dalam kitabku mencapai sepuluh hadits. Saya tidak pernah menulis dalam satu bab melainkan satu atau dua hadits. Dan jika dalam bab (pembahasan) itu terdapat beberapa hadits shahih, maka karena ia (berjumlah) banyak. Saya hanya ingin mendekatkan manfaatnya.

Apabila saya mengulangi sebuah hadits dalam suatu bab tertentu melalui dua atau tiga jalur riwayat, maka hal itu karena ada tambahan pembicaraan mengenai bab itu. Boleh jadi di dalamnya terdapat kalimat tambahan terhadap beberapa hadits yang ada. Boleh jadi saya meringkas hadits yang panjang, karena kalau saya menulisnya dengan sempurna, maka tidak bisa diketahui oleh sebagian orang yang mendengarkannya dan tidak bisa dipahami tempat kandungan fikih di dalamnya. Oleh karena itu, saya meringkasnya.

Dalam kitab as-Sunan, tidak terdapat satu hadits pun yang telah saya riwayatkan dari orang yang haditsnya matruk (ditinggalkan).[33] Apabila terdapat hadits munkar, maka saya menjelaskan bahwa itu munkar, dan dalam satu bab tidak terdapat hadits lain yang serupa. Hadits yang sangat lemah dalam kitabku telah saya jelaskan. Di antaranya ada yang sanadnya tidak shahih. Sedangkan hadits-hadits yang tidak saya jelaskan adalah hadits shahih, sebagian lebih shahih dibandingkan yang lain."[34]

4. Syarat Abu Dawud dan Ashhab Sunan yang Lain

Al-Hafizh Abu al-Fadhl Muhammad bin Thahir berkata, "Kitab Abu Dawud dan kitab-kitab orang setelahnya terbagi menjadi tiga:

Pertama, shahih, ini adalah jenis sesuatu yang ada dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Kedua, shahih menurut syarat mereka -Ashhab as-Sunan-. Abu Abdullah bin Mandah menceritakan bahwa Syarat Abu Dawud dan an-Nasa'i adalah meriwayatkan hadits-hadits dari kaum yang belum terjadi kesepakatan untuk meninggalkan mereka apabila haditsnya shahih, dengan sanad muttashil, tidak munqathi dan mursal.

Ketiga, hadits-hadits yang mereka riwayatkan untuk melawan (hadits) dalam bab sebelumnya. Mereka meriwayatkannya, bukan memastikan keshahihannya. Barangkali perawinya telah menjelaskan illatnya dengan sesuatu yang mudah dipahami oleh ahli ilmu.

Jika dikatakan, "Mengapa mereka mencantumkannya dalam kitab-kitab mereka, padahal hadits itu tidak shahih menurut mereka?" Jawabnya terdiri dari tiga hal:

  1. Orang-orang telah meriwayatkannya, dan menjadikannya sebagai hujjah, maka mereka mencantumkannya dan menjelaskan cacatnya untuk menghilangkan syubhat.
  2. Bahwa mereka tidak mensyaratkan penamaan shahih sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Bukhari dan Muslim pada bagian kitab mereka.
  3. Hendaknya dilontarkan bantahan kepada orang yang mengatakan perkataan ini bahwa kita menyaksikan para fuqaha' dan para ulama mencantumkan dalil pembanding dalam kitab-kitab mereka, padahal mereka yakin bahwa itu bukanlah dalil. Maka perbuatan mereka (pemilik kitab as-Sunart) adalah sebagaimana perbuatan para fuqaha' tersebut."[35]

5. Pendapat Ulama Tentang Hadits yang mana Abu Dawud Tidak Mengomentarinya.

Ibnu ash-Shalah berkata, "Hadits yang kita dapatkan dalam kitab Abu Dawud yang disebutkan dengan mutlak, dan yang tidak terdapat dalam kitab ash-Shahihain, serta yang tidak seorang pun dari kalangan yang mampu -membedakan antara hadits shahih dan hasan- menegaskan keshahihannya, maka kita mengetahuinya sebagai hadits hasan menurut Abu Dawud, padahal terkadang ia bukanlah hadits hasan menurut perawi lain."[36]

Al-Hafizh al-Iraqi berpendapat, "Bahwa perkataan Ibnu ash-Shalah, 'Maka ia adalah shalih,' bermakna boleh jadi ia shahih, dan boleh jadi hasan menurut orang yang menilai bahwa hasan adalah derajat antara shahih dan dhaif. Dan belum ada berita vang sampai kepada kita, apakah Abu Dewud mengatakan hal itu, dan apakah dia memandang selam hadits dhaif adalah shahih. Yang kuat, bahkan yang benar adalah bahwa hadits yang tidak dikomentarinya tidak akan naik ke derajat shahih hingga diketahui bahwa pendapatnya memungkinkan pada yang kedua (hadits hasan), dan itu butuh penukilan "[37]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Dari sini menjadi jelas bahwa semua hadits yang tidak dikomentari oleh Abu Dawud adalah tidak termasuk kategori hadits hasan secara terminologi, akan tetapi terbagi menjadi beberapa bagian;

  1. Sebagian ada yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim atau berdasarkan ketentuan (syarat) keduanya
  2. Sebagian ada yang termasuk kategori hadits hasan li dzatihi (hasan karena kekuatan hadits itu sendiri, tanpa diperkuat oleh hadits lain).
  3. Sebagian ada yang termasuk hadits hasan apabila dikuatkan oleh hadits lain (hasan li ghairihi) Dua kategori ini banyak sekali dalam kitabnya
  4. Sebagiannya ada yang termasuk dalam hadits dhaif, akan tetapi kebanyakannya berasal dari riwayat orang yang belum disepakati untuk ditolak. Dan semua bagian m biaa dijadikan hujjah menurut pendapatnya"[38]

Al Hafizh Muhyiddin an-Nawawi berkata, "Yang benar, bahwa semua hadits dalam Sunan Abu Dawud yang belum dia jelaskan, dan belum dinyatakan shahih atau hasan oleh orang yang perkataannya bisa dijadikan sandaran, maka ia adalah hadits hasan. Dan apabila ulama yang bisa dijadikan sandaran menyatakan kedhaifannya atau ahli ilmu melihat dalam sanadnya terdapat hal yang menunjukkan kelemahan, dan tidak ada hadits lain yang menguatkannya maka ia dihukumi dhaif tanpa melihat kepada diamnya Abu Dewud "

Ibnu Hajar menanggapi perkataan ini dan berkata, "Inilah pendapat yang benar."[39]

6. Perhatian Ulama Terhadap Sunan Abu Dawud[40]

Para ulama sangat memperhatikan kitab ini sebagaimana perhatian mereka terhadap kitab-kitab hadits yang enam dan lainnya, hanya saja kita mendapatkan perhatian mereka terhadapnya melebihi kitab-kitab sunan yang lain. Derajatnya berada setelah Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim menurut para pengkaji fikih, karena ia memuat hadits-hadits shahih dan hasan. Mereka meringkasnya dan menta'liqnya sebagaimana mereka juga menyusun biografi para perawinya bersama dengan semua perawi Kutub Sittah.

Berikut ini kitab-kitab syarahnya yang paling penting:

  1. Syarh Ma'alim as-Sunan, karya Abu Sulaiman Hamd bin Muhammad bin Ibrahim al-Khaththabi (W. 388 H).
  2. Mirqah ash-Shu'ud Ila Sunani Abi Dawud, karya al-Hafizh as-Suyuthi (W. 911 H).
  3. Fath al-Wadud 'ala Sunan Abi Dawud, karya Abu al-Hasan Muhammad bin Abd al-Hadi as-Sindi (W. 1139 H).
  4. Aun al-Ma'bud Syarh Sunan Abi Dawud, karya Syaikh Syams al-Haq al-Azhim Abadi (W. 1329 H).
  5. Badzl al-Majhud fi Halli Abi Dawud, karya Syaikh Khalil Ahmad as-Saranghuri (W. 1346 H).

 

Keempat. JamiAbu Isa at-Tirmidzi

1. Nama Penulisnya

Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin adh-Dhahhak as-Sulami at-Tirmidzi, al-Hafizh, ahli hadits jenius, dan memiliki banyak kitab hasil karyanya. Abu Abdullah adz-Dzahabi berkata, "Yang benar adalah ia menderita sakit setelah melakukan perjalanan mencari dan menulis hadits."[41] Beliau dilahirkan pada 209 H dan wafat pada 279 H.

2. Nama Kitab at-Tirmidzi

Al-Mubarakfuri berkata dalam mukadimah kitab Tuhfah al-Ahwadzi, "Haji Khalifah, penulis kitab Kasyf azh-Zhunun berkata, 'Kitab itu terkenal dengan nama Jami' at-Tirmidzi, dinisbatkan kepada penulisnya'." Dia juga berkata, "Al-Hakim dan al-Khathib memberinya nama dengan al-Jami' ash-Shahih, dan disebut pula dengan Sunan at-Tirmidzi.”[42]

3. Kedudukan Jami' at-Tirmidzi di antara Kitab-kitab Sunan yang Enam (Kutub Sittah)

Abu Isa berkata, "Saya menyusun kitab ini, lalu saya memperlihatkannya kepada ulama Hijaz, maka mereka pun merestuinya. Kemudian saya memperlihatkannya kepada ulama Iraq, maka mereka pun merestuinya. Kemudian saya memperlihatkan kepada ulama Khurasan, maka mereka juga merestuinya. Dan barangsiapa di rumahnya terdapat kitab ini, maka seakan-akan di rumahnya terdapat seorang nabi yang berbicara."[43]

Haji Khalifah, penulis kitab Kasyf azh-Zhunun berkata, " Al-Jami' ash-Shahih karya Imam Abu Isa at-Tirmidzi adalah kitab ketiga dari enam kitab hadits."[44]

Imam adz-Dzahabi berkata, "Kedudukan Jami' at-Tirmidzi berada di bawah Sunan Abu Dawud dan Sunan an-Nasa'i, karena at-Tirmidzi mengeluarkan hadits al-Mashlub dan al-Kalbi dan orang yang serupa dengan keduanya."[45]

Dan penulis kitab Tuhfah al-Ahwadzi berkata, "Diketahui dari isyarat kitab Tahdzib al-Kamal, Tahdzib at-Tahdzib, Taqrib, dan Tadzkirah al-Hujfazh bahwa derajat Jami' at-Tirmidzi setelah Sunan Abu Dawud dan sebelum Sunan an-Nasai."[46]

Sedangkan penulis Tuhfah al-Ahwadzi sendiri berpendapat sebagaimana yang dikatakan oleh penulis kitab Kasyf azh-Zhunun yaitu menjadikannya menduduki peringkat ketiga di antara Kutub Sittah,

4. Metode Abu Isa at-Tirmidzi dalam Kitab al-Jami'

Abu Isa at-Tirmidzi menyusun kitabnya sesuai bab-bab berdasarkan metode kitab-kitab jami' yang memuat hukum-hukum syar'i dan lainnya. Setiap bab di dalamnya memuat judul masalah atau hukum yang mana at-Tirmidzi meriwayatkan hadits tersebut disebabkannya. Dia mencantumkan dalam bab itu satu hadits atau lebih, kemudian mengikutkannya dengan pendapat para fuqaha' tentang masalah itu dan amalan mereka tentang hadits tersebut dalam penshahihan, penghasanan atau pendhaifan. Dia menjelaskan derajat sanad dan perawinya, serta illah yang dikandungnya, dan menyebutkan jalur-jalur sanad yang dimilikinya. Kemudian apabila terdapat hadits-hadits lain yang sesuai dengan tarjamah (bab penjelasan), maka beliau mengisyaratkannya dengan mengatakan, "Dalam bab ini terdapat hadits fulan dari fulan... dari kalangan sahabat Nabi."[47]

5. Syarat Abu Isa at-Tirmidzi dalam Kitabnya

Pembicaraan tentang sebagian hal ini telah dikemukakan dalam pembahasan tentang syarat Imam al-Bukhari dan Abu Dawud. Di sini kami menambahkan perkataan Abu al-Fadhl Ibnu Thahir, "Kitab Abu Isa at-Tirmidzi terbagi menjadi empat:

Pertama, hadits yang dihukumi shahih secara pasti, yaitu hadits yang sesuai dengan hadits al-Bukhari dan Muslim.

Kedua, hadits yang berdasarkan syarat tiga pemilik sunan -Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa'i- sebagaimana yang telah kami jelaskan.

Ketiga, hadits yang dicantumkan untuk pembanding, dan dia menjelaskan illatnya., dan tidak melalaikannya.

Keempat, hadits yang dia jelaskan dengan perkataannya, "Saya tidak meriwayatkan dalam kitabku melainkan hadits yang telah diamalkan oleh sebagian pakar fikih." Dan ini merupakan syarat yang luas (umum)."[48]

6. Perhatian Ulama Terhadap Jami' at-Tirmidzi

Penulis kitab Tuhfah al-Ahwadzi berkata, "Ketahuilah bahwa Jami' at-Tirmidzi memiliki kitab-kitab syarah, ta'liq, mukhtashar (ringkasan), dan kitab mustakhrajat.

Para ulama sangat memberikan perhatian terhadapnya, dari sisi periwayatan, penyimakan, dan penyalinannya, sebagaimana perhatian mereka terhadap perbedaan penyalinannya sejak awal Dan perhatian mereka terhadap perawinya telah terangkum dalam kitab-kitab yang membahas biografi para perawi Kutub Sittah.

Di antara syarahnya yang terpenting:

  1. 'Aridhah al-Ahwadzi, karya Abu Bakar bin al-Arabi al-Maliki (W. 543 H).
  2. Syarah Ibnu Sayyid an-Nas (W. 734 H), dan dia belum menyelesaikannya, kemudian disempurnakan oleh al-Hafizh al-Iraqi (W. 806 H).
  3. Syarah al-Hafizh Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ahmad bin Muhammad, yang dikenal dengan nama Ibnu Rajab al-Hanbali (W. 795 H).
  4. Tuhfah al-Ahwadzi, karya Abdurrahman al-Mubarakfuri.
  5. Dan syarah-syarah yang lain.

 

Kelima. Sunan Abu Abdurrahman an-Nasa'i

1. Penulisnya

Imam Abu Abdurrahman Ahmad bin Syu aib bsn Ali bin Bahr an-Nasa'i. Dia lahir pada 215 H dan wafat pada 303 H.

Imam adz-Dzahabi berkata, "Dia adalah hafizh hadits, Syaikh al-Islam, pengkritik hadits dan penulis kitab as-Sunan."[49]

2. Nama kitabnya

Al-Hafizh an-Nasa'i mengarang kitab as-Sunan al-Kubra. Ketika dia kembali dari perjalanannya menuju Mesir melewati Palestina, maka dia singgah di kota Ramalah. Kemudian dia ditanya oleh gubernurnya, "Apakah semua hadits yang terdapat dalam Sunannya adalah hadits shahih?" Dia menjawab, "Tidak." Gubernur berkata, "Pisahkan hadits yang shahih darinya!"

Maka dia meringkasnya sebatas hadits-hadits yang dianggap shahih dan memberinya nama al-Mujtaba atau al-Mujtana yang juga dikenal dengan nama as-Sunan ash-Shughra[50]

3. Metodologi Imam an-Nasa'i dalam as-Sunan. dan Pendapat Ulama Tentang Hal Tersebut

Ahmad bin Mahbub ar-Ramli berkata, "Saya mendengar Imam an-Nasai berkata, "Ketika saya bertekad mengumpulkan hadits (kitab as-Sunan). Saya beristikharah kepada Allah dalam meriwayatkan hadits dari guru-guru yang mana di hatiku terdapat sedikit aib, kemudian saya memilih untuk meninggalkan riwayat mereka, lalu saya meninggalkan sejumlah hadits dari mereka yang semula saya banggakan."[51]

Abu al-Hasan al-Ma’afiri berkata, "Apabila saya memperhatikan hadits yang dikeluarkan oleh ahli hadits, maka hadits yang dikeluarkan oleh Imam an-Nasa'i lebih mendekati shahih dibandingkan hadits yang dikeluarkan oleh selainnya."[52]

Al-Hafizh Ibnu Rasyid berkata, "Kitab an-Nasa'i adalah kitab sunan yang terindah pembagiannya dan terbaik penataannya. Kitabnya menggabungkan antara metodologi al-Bukhari dan Muslim disertai dengan banyak penjelasan illat hadits."

Secara global, kitab an-Nasa'i termasuk Kutub Sittah yang paling sedikit -setelah ash-Shahihain- memuat hadits dhaif dan perawi cacat. Sunan Abu Dawud dan at-Tirmidzi mendekatinya dalam kategori itu. Sedangkan dari sisi yang lain, Sunan Ibnu Majah berseberangan dengannya, karena ia bersendirian dalam meriwayatkan hadits dari orang-orang yang tertuduh berdusta.

Muhammad bin Mu'awiyah al-Ahmar -perawi hadits dari an-Nasa'i- berkata, "Semua kitab sunan adalah shahih, dan sebagiannya ma’lul, hanya saja illatnya tidak jelas. Dan hadits pilihan yang dinamakan dengan al-Mujtaba adalah shahih semua."[53]

4. Syarat an-Nasa'i, dan Perhatian Ulama Terhadap Kitabnya

Pembahasan tentang syarat an-Nasa'i ini telah berlalu dalam pembicaraan tentang syarat al-Bukhari dan Abu Dawud. Di sana juga dinukil perkataan Ibnu Thahir dan al-Hazimi tentang syarat para ulama hadits.

Adapun perhatian ulama terhadapnya, maka mereka mencurahkan perhatian mereka kepadanya sebagaimana perhatian mereka terhadap Kutub Sittah lainnya, baik dari sisi periwayatan, penyimakan, dan penyalinannya. Mereka menyusun biografi para perawinya bersama dengan para perawi Kutub Sittah.

Mengenai syarah an-Nasa'i, maka saya tidak pernah mengetahui kitab-kitab syarahnya kecuali Syarah Imam as-Suyuthi dan Hasyiyah Imam as-Sindi, dan keduanya telah dicetak.[54]

 

Keenam, as-Sunan Milik al-Hafizh Abu Abdullah Ibnu Majah

1. Penulisnya

Penuliisnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah seorang hafizh hadits yang besar lagi hujjah, dan seorang pakar tafsir terkemuka. Dia adalah penulis kitab as-Sunan. at-Tarikh, at-Tufsir, dan lain sebagainva. Dia adalah seorang hafizh daerah Qazwin di zamannya. Lahir pada 209 H dan meninggal padi 272 H.[55]

2. Nama kitab

Kitabnya dikenal di kalangan masyarakat dengan nama as-Sunan, dinisbatkan kepada nama pemiliknya {Sunan Ibnu Majah),

3. Metodologi Ibnu Majah, dan Pendapat Ulama Terhadapnya

Orang pertama yang menggabungkannya dengan kitab hadits yang lima adalah Abu af~Fadhl Muhammad bin Thahir (W 507 H) panulis kitab Syuruth ul-A'immah as-Sittah. sedangkan ulama lain menjadikan kitab al-Muwaththa karya Imam Malik menempati posisinya.

Ibnu Majah menyusun kitabnya berdasarkan bab-bab yang memuat as Sunnah dan hukum-hukum syar'i sebagaimana kitab-kitab sunan yang lain. Beliau mencantumkan di dalamnya hadits-hadits shahih, hasan dan dhaif. Di dalamnya juga terdapat beberapa hadits munkar dan maudhu' (palsu) akan tetapi jumlahnya sedikit. Oleh karena itu, derajatnya turun dari Kutub Khamtsah (kitab-kitab hadits yang lima)

Prof. Muhammad Fu'ad Abdul Baqi berkata, "Jumlah hadits Sunan Ibnu Majah mencapau 4341 hadits, 3002 di antaranya diriwayatkan oleh semua atau sebagian pemilik Kutub Khamsah, dan sisanya berjumlah 1339 adalah tambahan terhadap hadits yang terdapat dalam kutb Khamsah, dan terbagi menjadi 428 hadits dengan sanad yang shahih, 199 hadits hasan, 613 hadits dhaif, dan 99 hadits dengan sanad yang sangat lemah, munkar atau dusta"[56]

4. Syarat Ibnu Majah, dan Perhatian Ulama Terhadapnya

Pembahasan sebagian syarat lbnu Majah telah berlalu pada pembahasan tentang syarat Imam al-Bukhari dan Abu Dawud. Telah diketahui bahwa derajat Sunan Ibnu Majah berada di bawah Kutub Khamsah karena dia menggampangkan dalam meriwayatkan hadits dari orang-orang tidak kenal dan tertuduh berdusta, bahkan di antara mereka terdapat para pendusta.

Adapun perhatian ulama terhadapnya, maka mereka telah mencurahkan perhatian mereka kepadanya dari sisi periwayatan, penyimakan, dan penyalinannya sebagaimana kitab hadits yang lain. Mereka menyusun biografi para perawinya bersama dengan para perawi Kutub Sittah. Sedangkan syarahnya tidak pernah saya ketahui kecuali Hasyiyah Imam as-Sindi dan ta'liq Imam as-Suyuthi terhadapnya.[57]


[1] Tahdzib al-Kamal, Jamaluddin al-Mizzi. 1/147.

[2] Lihat perincian biografinya dalam Siyar Alam an-Nubala, Abu Abdullah adz-Dzahabi, 12/391 dan akhir pasal dalam kitab Hadyu as-Sari. Ibnu Hajar.

[3] Al-Hafizh Abu al-Ula Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfuri berkata dalam Muqaddimah Tuhfah al-Ahwadzi, 1/34; Kata "Al-Jami" dalam istilah ahli hadits adalah sesuatu yang di dalamnya terdapat seluruh jenis hadits (1). Akidah. (2). Hukum-hukum (Fikih). (3). ar-Roqa'iq dan az-Zuhd, (4). Adab, (5). At Tafsir. (6). Tarikh (sejarah) dan al-Maghazi (perang). (7). Al-Fitan dan tanda-tanda kiamat, (8). Al-Manaqib (sifat-sifat mulia) dan al-Fadha'il.

[4] Lihat Hadyu as-Sari, Ibnu Hajar, Pasal pertama.

[5] Lihat Hadyu as-Sari, Ibnu Hajar, pasal pertama, hal. 6.

[6] Hadyu as-Sari, Ibnu Hajar, pasal kedua, hal. 7-14 secara ringkas.

[7] Hadyu as-Sari, Ibnu Hajar, pasal kedua, hal. 7-14 secara ringkas.

[8] Hadyu as-Sari, Ibnu Hajar, pasal kedua, hal. 7-14 secara ringkas.

[9] Hadyu as-Sari, Ibnu Hajar, pasal kedua, hal. 7-14 secara ringkas.

[10] Mereka yang telah disebutkan di atas, tidaklah Muslim meriwayatkan hadits mereka melainkan hadits itu dimutaba’ah oleh selain mereka. Lihat Syuruth al-A'immah as-Sittah, Muhammad bin Thahir al-Maqdisi, hal. 11-12.

[11] Syuruth al-A'immah al-Khamsah, Muhammad bin Musa al-Harimi, hal. 56-61.

[12] Al-Imam al-Bukhari wa Shahihuhu, Abdul Ghani Abdul Khaliq, hal. 227-245.

[13] Hadyu at-Sari, Ibnu Hajar, hal. 491-492.

[14] Al-Imam al-Bukhari wa Shahihuhu, Abdul Ghani Abdul Khaliq, hal 228-245

[15] Al-Imam al-Bukhari wa Shahihuhu, Abdul Ghani Abdul Khaliq, hal 228-245

[16] Al-Imam al-Bukhari wa Shahihuhu, Abdul Ghani Abdul Khaliq, hal 230

[17] Lihat Buhuts fi Tarikh as-Sunnah, Dr. Akram al-Umari, hal. 123-126.

[18] Ulum al-Hadits, Ibnu ash-Shalah, hal. 16-17.

[19] Hadyu as-Sari, Ibnu Hajar, hal. 477.

[20] Siyar A'lam an-Nubala', Abu Abdullah adz-Dzahabi, 12/557.

[21] Shiyanah Shahih Muslim, Abu ‘Amr bin ash-Shalah, hal. 67-68.

[22] Muqaddimah Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, hal. 3-4.

[23] Muqaddimah Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, hal. 4-8.

[24] Muqaddimah Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, hal. 4-8.

[25] Shiyanah Shahih Muslim, Abu Amr bin ash-Shalah, hal 76

[26] At-Taqyid wa al-Idhah, Abu al-Fadhal Abdurrahim bin al-Husain al-Iraqi, hal 15

[27] An-Nukat 'ala Ibni ash-Shalah, Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar, 1/344-353,

[28] Tadrib ar-Rawi, Jalaluddin aa-Suyuthi, yang dicetak dengan footnote at-Taqrib dan at-Taisir, 1/104.

[29] At-Taqyid wa al-ldhah, Abu al-Fadhl Abdurrahim al-Iraqi, hal. 15; Siyar A’lam an-Nubala, Abu Abdullah adz-Dzahabi, 12/566; Shiyanah Shahih Muslim, ibnu ash-Shalah. hal. 99-100

[30]. Lihat Muqoddimah Tahqiq Shiyanah Muslim li Ibnu ash-Shalah Muwaffiq bin Abdullah.

[31] Siyar Alam an-Nubala , Abu Abdullah adz-Dzahabi, 13/203.

[32] Muhammad bin Ja’far al-Kattani mengatakan dalam ar-Risalah al-Mustathrafah, "Kitab as-Sunan menurut istilah ahli hadits adalah kitah hadits yang disusun berdasarkan bab-bab fikih, matai dari bab iman. thaharah, shalat dan seterusnya. Di dalamnya tidak terdapat hadits mauquf, karena ia tidak disebut sunnah, tetapi bisa disebut hatits. lihai ar-Risalah al-Mustathrafah, Muhammad bin Ja'far, hal 32

[33] Barangkali yang dimaksudkan adalah hadits yang telah disepakati untuk ditinggalkan. Dan apabila tidak demikian, maka sungguh telah ditemukan di dalamnya sebagian orang yang matruk (ditinggalkan riwayatnya) dari kalangan orang yang belum disepakati untuk ditinggalkan.

[34] Lihat risalah Abu Dawud kepada penduduk Makkah, risalah kecil yang telah dicetak dan ditahqiq oleh Dr. Muhammad Luthfi ash-Shabbagh.

[35] Syuruth al-A'immah as-Sittah, Muhammad bin Thahir, hal. 13-16.

[36] Ulum al-Hadits, Ibnu ash-Shalah, had. 33.

[37] At-taqyid wa al-Idhah, al-Hafizh al-Iraqi hal 40

[38] An Nukat 'ala Ibni ash-Shalah, Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar, 1/435

[39] An Nukat 'ala Ibni ash-Shalah, Abu al-Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar, 1/444

[40] Untuk menambah penjelasan, silahkan lihat kitab yang ditulis oleh Dr. Muhammad Luthfi ash-Shabbagh tentang Abu Dawud dan Sunannya, yang telah dicetak oleh 'Maktab al-Islami" di Beirut.

[41] Siyar Alam an-Nubala, Abdullah adz-Dzahabi, 13/270.

[42] Tuhfah al-Ahwadzi, Abdurrahman al-Mubarakfuri, bab ke-2, pasal ke-6 dan ke-8,1/179-181.

[43] Tadzkirah al-Huffazh, Abu Abdullah adz-Dzahabi, 2/634, Tahdzib at-Tahdzib, Ibnu Hajar, 9/389.

[44] Kasyf azh-Zhunun, Haji Khalifah, 1/559.

[45] Tadrib ar-Rawi, as-Suyuthi, 1/171.

[46] Tuhfah al-Ahwadzi, al-Mubarakfuri, 1/179, pasal ke-5 dari bab ke-2.

[47] Al-Imam at-Tirmidzi, Nuruddin ltr, hal. 45-47.

[48] Syuruth al-A 'immah as-Sittah, Muhammad bin Thahir, hal. 15.

[49] Lihat perincian biografinya dalam Siyar A'lam an-Nubala, Abu Abdullah adz-Dzahabi. 14/125.

[50] Muqaddimah Syarh as-Suyuthi li Sunan an-Nasa'i, as-Suyuthi, I/3-5

[51] Muqaddimah Syarh as-Suyuthi li Sunan an-Nasa'i, as-Suyuthi, I/3-5, Imam adz-Dzahabi menilai bahwa yang memilah kitab al-Mujtaba adalah Abu Bakar Ibnu as-Sunni, bukan imam at-Tirmidzi sendiri. Dia menyebutkannya dalam biografinya dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala

[52] Muqaddimah Syarh as-Suyuthi li Sunan an-Nasa'i, as-Suyuthi, I/3-5

[53] Muqaddimah Syarh as-Suyuthi li Sunan an-Nasa 'i, as-Suyuthi, 1/3-5.

[54] 'Syaikh Muhammad Mukhtar asy-Syinqithi telah memulai menulis Syarah Sunan an-Nasa 'i. ia baru mengeluarkan tiga jilid, tetapi kematian menjemputnya sebelum menyempurnakannya.

[55] Siyar A'lam an-Nubala, Abu Abdullah adz-Dhahabi, 13/277

[56] Lihat kajian Muhammad Fu'ad Abdul Baqi tentang Sunan Ibnu Majah pada akhir juz ke-2, haL 1519-1520.

[57] Syaikh Abdul Qadir Ibnu Badran ad-Dimasyqi memiliki kitab Syarah Sunan Ibnu Majah. Saya tidak tahu apakah sudah dicetak sampai sekarang? lihat kitab as-Sabiq wa al-Lahiq, al-Khathib al-Baghdadi, hal. 331 footnote no. 5.

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya