Kitab Referensi

Kitab : Tadwin as-Sunnah Nabawiyah, Nasy' atuhu wa tathawwuruhu

Definisi Musnad

Kata musnad secara etimologi adalah sesuatu yang terangkat dari muka bumi dan naik dari permukaan.[1]

Dan menurut terminologi ahli hadits, kata musnad mengandung dua pengertian:

Pertama, hadits Musnad. Al-Khathib al-Baghdadi berkata, "Penggambaran mereka tentang 'hadits itu adalah musnad', adalah dimaksudkan oleh mereka bahwa sanadnya muttashil (bersambung) antara para perawinya dengan orang yang mana hadits tersebut dinisbatkan kepadanya. Hanya saja mayoritas ungkapan ini sering mereka gunakan untuk menyatakan hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah , dan ketersambungan sanad di dalamnya terjadi dengan cara masing-masing perawinya mendengar langsung dari perawi yang sebelumnya sampai kepada perawi yang terakhir, walaupun dia tidak menjelaskannya dengan kata 'saya mendengar', melainkan dengan kata an'anah (periwayatan dengan ungkapan dari)."[2]

Berdasarkan pengertian ini, sebagian penyusun hadits menamakan kitabnya dengan Musnad, seperti; al-Jami' ash-Shahih al-Musnad karya Abu Abdillah al-Bukhari, Musnad ad-Darimi, Shahih Ibnu Khuzaimah dan Shahih Ibnu Hibban, dan lainnya.

Kedua, kitab-kitab Musnad. Yaitu kitab yang mencantumkan hadits menurut nama sahabat yang meriwayatkannya dan meng gabungkan hadits setiap sahabat satu sama lain,[3] seperti Musnad Imam Ahmad, Musnad Abu Ya'la al-Mushili, dan sebagainya.

Metode Penyusunan Kitab Musnad

Dalam hai ini ulama memiliki tiga metode:

  1. Mengurutkan nama sahabat menurut urutan alfabet (Arab) dalam kamus, misalnya dimulai dari Ubay bin Ka'ab (أبي بن كعب) (huruf Alif diikuti Ba') kemudian Usamah bin Zaid (أسامة بن زيد) (huruf Alif diikuti Sin) kemudian Anas bin Malik (أنس بن مالك) (huruf Alif diikuti Nun) dan seterusnya hingga abjad yang terakhir.
  2. Mengurutkannya sesuai dengan nama kabilah, dimulai dengan Bani Hasyim, kemudian kabilah yang memiliki garis keturunan terdekat dengan Rasulullah , dan seterusnya.
  3. Mengurutkannya sesuai dengan urutan waktu dan tempat mereka memeluk Islam, dimulai dari sepuluh sahabat yang dijanjikan Surga (al-'Asyarah al-Mubasysyarin bi al-Jannah), kemudian ahli Badar, disusul mereka yang ikut serta dalam bai'at ar-Ridwan di Hudaibiyah, dan demikianlah seterusnya.

Al-Khathib al-Baghdadi berkata, "Metode ini -yang terakhir-lebih kami sukai dalam mentakhrij kitab Musnad.[4]

Kitab-kitab Musnad yang Terpenting

1. Musnad Abu Dawud Sulaiman bin Dawud ath-Thayalisi (W. 204 H).

AI-Hafizh as-Suyuthi membantah orang yang menisbatkan musnad ini kepada ath-Thayalisi dan menjadikannya sebagai musnad pertama yang disusun, dengan alasan lebih dahulunya dia wafat As-Suyuthi berkata, "Sebenarnya musnad itu adalah hadits-hadits yang dikumpulkan oleh penduduk Khurasan. Di dalamnya terdapat kumpulan hadits yang diriwayatkan oleh Yunus bin Habib al-Ashbahani secara khusus dari ath-Thayalisi, dan kebanyakan hadits itu adalah syadz. Serupa dengannya adalah Musnad asy-Syafi'i yang sebenarnya bukan karyanya sendiri, melainkan hasil temuan sebagian ahli hadits Naisabur dari pendengaran Imam al-'Asham terhadap kitab al-Umm, karena dia mendengar seluruhnya atau kebanyakannya langsung dari ar-Rabi' dari Imam asy-Syafi'i."[5]

Musnad ini telah disusun kembali oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrahman al-Banna as-Sa'ati menurut urutan bab fikih. Dia menamakannya "Minhah al-Ma'bud bi Tartib Musnad Abi Dawud", dan telah dicetak dalam dua jilid yang ditahqiq oleh Habiburrahman al-A'zhami.

2. Musnad Abu Bakar bin Abi Syaibah (W. 235 H.)

Musnad ini belum dicetak, dan terdapat dua salinan dalam bentuk manuskrip (tulisan tangan). Salah satunya berada di perpustakaan Ahmad ats-Tsalits di Turki, dan yang lainnya di perpustakaan Nasional (Maktabah al-Wathaniyah) di Tunisia. Salinan kedua sudah digandakan (copi), dan saat ini berada perpustakaan Universitas Islam (al-Jami'ah al-Islamiyah) di Madinah al-Munawwarah dalam bentuk manuskrip.

3. Musnad lshaq bin Ibrahim al-Hanzhali, yang terkenal dengan nama Ibnu Rahawaih, wafat pada 238 H.

Dr. Abdul Ghafur bin Abdul Haq al-Balusyi telah mentahqiq sebagian darinya, yaitu Musnad Aisyah untuk memperoleh gelar doktor dari program pasca sarjana di Universitas Islam Madinah Dan menurut sepengetahuanku, sebagian besar kitab ini telah hilang.[6]

4. Musnad Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, (W. 241 H).

Menurutku, kitab ini merupakan kitab musnad terbesar yang pernah ada, dan telah dicetak dalam enam jilid besar yang insya Allah akan dijelaskan lebih rinci pada pembahasan keempat.

5. Musnad Ahmad bin Ibrahim ad-Dauraqi, (W. 246 H).

Terdapat sebagian kitab ini yang memuat musnad Sa'ad bin Abi Waqqash di Maktabah azh-Zhahiriyah (bagian ke-37).

6. Al-Muntakhab min Musnad Abd bin Humaid al-Kusysyi (W. 249 H). Kitab ini telah dicetak dalam tiga jilid dengan tahqiq Musthafa al-Adawi.[7]

7. Musnad Ya'qub bin Syaibah Abu Yusuf as-Sadusi al-Bashri (W. 262 H).

Adz-Dzahabi berkata, "Pemilik musnad besar yang tidak ada tandingannya yang berillat, dan baru selesai sekitar 30 jilid, seandainya selesai secara sempurna, niscaya mencapai 100 jilid."[8]

Sebagian telah dicetak, semisal jilid ke-10 dari Musnad Umar bin al-Khaththab .

8. Musnad Ahmad bin Ibrahim ath-Thursusi al-Khuza'i (W. 273 H).

Yang masih ada dari kitab ini adalah sebagian kecil dari Musnad Abdullah bin Umar dan sudah dicetak.

9. Musnad Abu Gharazah Ahmad Ibnu Hazim al-Ghifari al-Kufi (W, 257 H).

Darinya ditemukan Musnad 'Abis al-Ghifari dan sejumlah sahabat terdapat di Maktabah azh-Zhahiriyah, Damaskus.

10. Musnad al-Harits bin Muhammad bin Abi Usamah at-Tamimi al-Baghdadi (W. 282 H).

Menurutku kitab ini telah hilang, kecuali beberapa lembar yang ditemukan dengan nama al-Muntaqa atau al-Awali al-Mustakhrajah min Musnad al-Harits."

11. Musnad Ahmad bin Amr bin Abdul Khaliq al-Bazzar (W. 292 H).

Kitab ini telah ditahqiq oleh Dr. Mahfuzh ar-Rahman al-Hindi, dan bagian awalnya ada yang kurang.

12. Musnad Abu Ya'la Ahmad bin Ali bin al-Mutsanna at-Tamimi al-Mushili (W. 307 H). Kitab ini telah dicetak berulang kali, tetapi di dalamnya terdapat kekurangan.

13. Musnad Abu Sa'id al-Haitsam bin Kulaib asy-Syasi (W. 335 H). Sebagiannya telah dicetak, dan sisanya -sepengetahuanku- masih dalam proses percetakan.

14. Musnad al-Muqillin (sahabat yang sedikit meriwayatkan hadits) karya Da'laj bin Ahmad as-Sijistani (W. 351 H). Kitab ini telah dicetak dalam jilid kecil.[9]

Ada kitab-kitab musnad lain yang telah hilang dari literatur ilmiah kita, di antaranya; Musnad Musaddad bin Musarhad (W. 228 H), Musnad Muhammad bin Yahya bin Abu Umar al-'Adani (W. 243 H), Musnad Ahmad bin Mani' Abu Ja'far al-Baghawi (W. 244 H). Demikian pula al-Musnad al-Mushannaf yang belum ada kitab musnad yang menyerupainya, karya al-Hafizh Baqi bin Makhlad al-Qurthubi (W. 276 H). Kitab ini disusun oleh penulisnya menurut bab-bab, di dalam tiap-tiap musnad terdapat satu orang sahabat, untuk mempermudah para penuntut ilmu mendapatkan hadits-hadits di dalamnya.

Prof. Dr. Akram al-Umari telah menulis kajian yang bagus tentang kitab ini, kemudian menulis hasil analisanya dalam kitab Baqi bin Makhlad wa Muqqddimah Musnadihi; Dirasah wa Tahqiq.

Perhatian:

  1. Ada kitab-kitab hadits yang disusun menurut nama sahabat berdasarkan metode penyusunan kitab musnad, tetapi penulisnya tidak memberinya nama musnad, di antaranya:
    1. Al-Mu'jam al-Kabir, karya Imam ath-Thabrani.
    2. Al-'Ilal, karya Imam ad-Daruquthni, dan lain sebagainya.
  2. Ada pula kitab yang termasuk dalam kategori kitab-kitab musnad, tetapi tidak disusun sesuai penyusunan musnad dan tidak pula dalam bentuk bab-bab, seperti; Musnad Ali bin al-Ja'du yang telah dicetak dalam dua jilid, Musnad Yahya bin Ma'in, Musnad as-Siraj, dan lain sebagainya.

 

KAJIAN SINGKAT TERHADAP CONTOH KITAB MUSNAD

Contoh Kitab: Musnad Imam Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal.

Penulisnya: Syaikhul Islam, pemimpin umat Islam pada masanya, seorang hafizh, hujjah, imam, dan menjadi panutan umat. Kemuliaan dan martabatnya diakui oleh semua orang, baik yang pro ataupun yang kontra dengannya. Dia adalah Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad adz-Dzuhli asy-Syaibani, lahir pada 164 H dan wafat pada 241 H.[10]

Kitab al-Musnad

Metode penyusunannya

Imam Ahmad telah menyusunnya berdasarkan sahabat yang lebih awal memeluk Islam dan lebih utama kedudukannya dalam Islam. Dia memulainya dari sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira dengan surga, kemudian ahli Badar, disusul ahli Bai'at Ridhwan (Hudaibiyah), dan seterusnya.

Kedudukan Musnad Ahmad

Hanbal berkata, "Imam Ahmad bin Hanbal mengumpulkan kami, Shalih dan Abdullah, dan membacakan musnad kepada kami. Dan hanya kami yang mendengar musnad tersebut dibacakan. Kemudian dia berkata, "Kitab ini saya kumpulkan dan saya pilih dari lebih 750.000 hadits. Dan hadits-hadits Rasul yang diperselisihkan kaum Muslimin, maka merujuklah kepadanya! Jika kamu mendapatkannya, (berarti benar). Dan jika tidak, maka ia tidak bisa dijadikan hujjah."

Imam adz-Dzahabi berkata, "Pernyataannya ini berdasarkan mayoritas perkara. Jika tidak, maka kami juga memiliki hadits-hadits kuat dalam kitab shahih dan sunan serta beberapa juz yang tidak terdapat dalam al-Musnad. Allah telah mentakdirkan Imam Ahmad untuk menghentikan riwayatnya sebelum memperbaiki kitabnya kira-kira 13 tahun sebelum beliau wafat. Maka akan kamu dapatkan dalam kitabnya beberapa hadits yang diulang-ulang, terkadang satu musnad atau sanad masuk ke dalam musnad atau sanad yang lain. Namun hal ini jarang terjadi."

Abu Musa Muhammad bin Abu Bakar al-Madini berkata, "Kitab ini merupakan sumber asli yang sangat besar, referensi utama bagi ahli hadits, dia memilihnya dari banyak hadits dan riwayat yang melimpah, menjadikannya sebagai imam dan pedoman, serta sebagai sandaran ketika terjadi perselisihan."[11]

Jumlah hadits dalam al-Musnad

Al-Hafizh Abu Musa al-Madini berkata, "Adapun jumlah haditsnya, maka saya masih mendengar dari ucapan manusia bahwa jumlahnya mencapai 40.000 hadits hingga aku membacakannya kepada Abu Manshur bin Zuraiq al-Qazzaz di Baghdad. Dia berkata, "Abu Bakar al-Khathib menceritakan kepada kami, dia berkata, "Ibnu al-Munadi berkata, "Tidak ada seorang pun di dunia ini yang lebih akurat riwayatnya (dalam meriwayatkan hadits dari bapak) daripada Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, karena dia telah mendengar musnad, dan jumlahnya mencapai 30.000 hadits, dan tafsir dengan jumlah 120.000.”

Saya tidak tahu apakah maksad dari jumlah yang disebutkan oleh Ibnu al-Munadi adalah hadits yang tidak diulang-ulang atau hadits lain dengan yang diulang-ulang? Sehingga kedua pernyataan tersebut (bisa) benar.[12]

Abu Musa juga menyebutkan dari Abu Abdullah al-Husain bin Ahmad al-Asadi dalam kitabnya Manaqib al-Imam Ahmad bahwa dia mendengar Abu Bakar bin Malik[13]- menyebutkan bahwa jumlah hadits dalam musnad adalah 40.000 kurang 30 atau 40 hadits.[14]

Jumlah sahabat yang haditsnya termaktub dalam musnad

Abu Musa berkata, 'Jumlah sahabat di dalamnya sekitar 700 orang pria dan seratus lebih perempuan.[15]

Ibnu al-jazari berkata “Saya telah menghitung jumlah mereka, jumlahnya mencapai 690 lebih selain yang perempuan. Sedangkan jumlah perempuan mencapai 96 orang. Jadi kitab musnad memuat kurang lebih 800 orang sahabat, selain orang yang tidak ada nama-nya, berupa anak-anak dam orang yang tidak dikenal namanya, serta selain mereka.”[16]

Syarat imam Ahmad

Al-Hafizh Abu Musa al-Madini berkata. “Tidaklah Imam Ahmad meriwayatkan hadits daiam kitabnya melainkan dari orang yang menurutnya jujur dan hanif agamanya, bukan orang yang tidak amanah."[17]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Syarat al-Musnad lebih kuat daripada syarat Abu Dawud dalam Sunannya. Abu Dawud meriwayatkan hadits dari para perawi yang ditolak haditsnya oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya. Oleh karena itu, imam Ahmad tidak pernah meriwayatkan hadits dalam Musruuhwa dari orang rang dikenal sebagai pendusta, seperti; Muhammad bin Sa’id al-Mashlub dan semisalnya. Tetapi terkadang dia meriwayatkan hadits dari orang yang lemah karena kualitas hafalannya jelek. Dia menulis haditsnya untuk menguatkan atau menjadikannya sebagai pedoman.[18]

Derajat hadits-hadits musnad

Al-Hafizh Abu al-Qasim at-Tamimi berkata. Tidak boleh dikatakan bahwa dalam musnad terdapat hadits saqim (tidak shahih), akan tetapi (hendaklah dikatakan) di dalamnya terdapat hadits shahih, hasan, masyhur dan gharib[19]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Orang-orang berselisih pendapat apakah di dalam Musnad Imam Ahmad terdapat hadits maudhu? Sekelompok hafizh hadits seperti; Abu al- Ala' al-Hamdani dan lainnya mengatakan, 'Di dalamnya tidak terdapat hadits maudhu. Dan sebagian yang lain seperti; Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi mengatakan, "Di dalamnya terdapat hadits maudhu .’."[20]

Syaikhul Islam Ibrtu Taimiyah berkata, "Dan tidak ada perbedaan antara dua pendapat tersebut setelah dicermati, karena istilah maudhu' terkadang digunakan untuk mengungkapkan hadits yang dibuat-buat (palsu) yang mana pelakunya sengaja berdusta. Inilah di antara yang tidak diketahui bahwa dalam musnad terdapat sesuatu darinya.

Dan terkadang yang dimaksudkan dengan maudhu' adalah riwayat yang diketahui atas ketidakadaan khabarnya, walaupun perawinya tidak sengaja berbohong, akan tetapi dia salah dalam meriwayatkannya. Sebagian jenis ini terdapat dalam musnad, bahkan dalam Sunan Abu Dawud dan Sunan an-Nasa'i."'[21]

Al-Hafizh dalam muqaddimah kitab Ta'jil al-Manfa'ah mengatakan, "Tidak ada dalam Musnad Ahmad suatu hadits yang tidak memiliki asal, melainkan tiga atau empat hadits, di antaranya hadits Abdurrahman bin 'Auf bahwasanya dia masuk ke dalam surga dengan merangkak. Alasannya adalah bahwa hadits ini termasuk hadits yang diperintahkan untuk dicoret oleh Imam Ahmad, tetapi dibiarkan karena lupa."

Klasifikasi hadits-hadits musnad yang telah dicetak

Syaikh Ahmad bin Abdurrahman as-Sa'ati berkata, "Sejauh analisaku terhadap hadits-hadits musnad, saya mendapatkannya terbagi menjadi enam bagian:

Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dari bapaknya dengan cara mendengar langsung. Inilah yang diberi nama Musnad Imam Ahmad, dan ia merupakan bagian terbesar, mencapai 3/4 lebih dari kitab al-Musnad.

Kedua, hadits yang diriwayatkan Abdullah dari bapaknya dan dari orang lain. Ini jumlahnya sangat sedikit.

Ketiga, hadits yang diriwayatkan Abdullah dari selain bapaknya. Inilah yang dikenal di kalangan ulama dengan nama Zawa'id Abdullah (riwayat tambahan Abdullah), dan jumlahnya cukup banyak dibandingkan dengan bagian yang lainnya, selain bagian pertama.

Keempat, hadits yang dibaca Abdullah di hadapan bapaknya. Dia tidak mendengarnya langsung dari bapaknya, dan jumlahnya sedikit.

Kelima, hadits yang ditemukan oleh Abdullah dalam kitab bapaknya dalam bentuk tulisan tangan. Dia tidak membacakannya di hadapan bapaknya dan tidak pula mendengarkannya secara langsung. Dan jumlahnya sangat sedikit.

Keenam, hadits yang diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Bakar al-Qutha'i dari selain Abdullah dan bapaknya . Dan ini bagian yang paling sedikit jumlahnya."[22]

Perhatian ulama terhadap musnad

Bentuk-bentuk perhatian ulama terhadap musnad:

  1. Al-Hafizh Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin al-Muhib ash-Shamit menyusunnya menurut urutan huruf Mu'jam (hija'iyah) nama sahabat dan orang-orang yang meriwayatkan hadits dari mereka, sebagaimana susunan kitab-kitab al-Athraf.
  2. Al-Hafizh Abu al-Fida’ Imaduddin Isma'il bin Umar bin Katsir mengambil kitab musnad dengan susunan Ibnu al-Muhib ash-Shamit dan menggabungkannya dengan Kutub Sittah, Musnad al-Bazzar, Musnad Abu Ya'la al-Mushili dan Mu'jam ath-Thabrani al-Kabir. Kemudian beliau menyusun semuanya sebagaimana penyusunan Ibnu al-Muhib terhadap al-Musnad, dan memberinya nama Jami' al-Masanid wa as-Sunan.

    Ibnu al-Jazari berkata, "Ibnu Katsir sangat gigih dan bersusah payah menyusunnya, hingga tampil di dunia ini tanpa tanding. Beliau telah menyempurnakannya kecuali sebagian kecil dari Musnad Abu Hurairah karena beliau wafat sebelum menyempurnakannya yang diawali dengan sakit buta yang dideritanya. Beliau berkata kepadaku, 'Saya masih menulisnya pada suatu malam di depan lampu minyak yang cahayanya terus bergerak perlahan,[23] hingga penglihatanku sirna bersamanya.'[24] Semoga Allah mendatangkan -untuknya- orang yang menyempurnakannya, padahal ia mudah, karena dalam Mu'jam ath-Thabrani al-Kabir tidak terdapat sedikit pun dari Musnad Abu Hurairah "[25]

  3. Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menyusunnya menurut athraf hadits dalam kitabnya yang diberi nama Athraf al-Musnid al-Mu'tala bi Athrafi al-Musnad al-Hanbali." Kemudian beliau menggabungkannya dengan sepuluh kitab hadits lain dalam kitabnya Ithaf as-Sadah al-Maharah al-Khiyarah bi Athraf al-Kutub al-Asyrah."
  4. Al-Hafizh Syamsuddin al-Husaini membuat tarjamah (biografi) para perawinya dalam kitabnya al-Ikmal biman fi Musnad Ahmad min ar-Rijal mimman laisa fi Tahdzib al-Kamal li al-Mizzi". Kemudian beliau meletakkan biografi tersebut dalam kitabnya at-Tadzkirah bi Rijal al-Asyrah, yaitu Kutub Sittah, Muwaththa' Malik, Musnad Ahmad, Musnad asy-Syafi'i, dan Musnad Abu Hanifah. Dan telah diringkas oleh al-Hafizh dalam kitab Ta'jil al-Manfa'ah hanya pada perawi kitab yang empat.
  5. Syaikh Ahmad bin Abdurrahman as-Sa'ati menyusun kitab musnad menurut urutan bab-bab untuk memudahkan para penuntut ilmu dalam menggunakannya. Beliau memberinya nama dengan al-Fath ar-Rabbani bi Tartib Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani, kemudian beliau kembali mensyaratkannya dan mentakhrij hadits-haditsnya dalam kitab yang berjudul "Bulugh al-Amani min Asrar al-Fath ar-Rabbani. Keduanya telah dicetak.
  6. Musnad ini juga mendapat perhatian dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Syakir. Beliau mensyaratkan hadits-haditsnya yang gharib dan memberi hukum shahih atau dhaif berdasarkan kemampuan ijtihadnya. Kemudian beliau membuat daftar isinya yang dibagi menjadi dua bagian: (1) Daftar isi (indeks) tipis seperti daftar nama orang dan semisalnya. (2) Indeks ilmiah, seperti yang dilakukannya terhadap kitab ar-Risalah karya Imam asy-Syafi'i. Syaikh Ahmad bin Muhammad Syakir wafat sebelum menyempurnakannya, yaitu ketika baru menyelesaikan kurang lebih seperempat darinya.

Inilah upaya ulama yang paling penting yang saya temukan.

Dan masih terdapat bentuk perhatian yang lain terhadap musnad ini, dari sisi kedudukan, urgensi dan penjelasan derajat hadits-haditsnya, Di antaranya adalah:

  1. Khasha'is al-Musnad, karya Abu Musa al-Madini.
  2. Al-Mish’ad al-Ahmad
  3. Al-Musnad al-Ahmad, keduanya ditulis oleh Syamsuddin al-Jazari
  4. Al-Qaul al-Musaddad fi adz-Dzabb ‘an Musnad Ahmad, karya al-Hafizh Ibnu Hajar.
  5. Dan lain sebagainya.

[1] Lisan al-Arab, Ibnu Mandzur, materi سند; an-Nihayah fi Gharib al-Atsar, Ibnu al-Atsir, 2/408.

[2] Al-Kifayah Min ‘Ilm ar-Riwayah, al-Khathib al-Baghdadi, Bab Ma Yasta’milu Ashhab al-Hadits min al-Ibarah, hal. 58

[3] Beliau berkata, 'Di antara ulama ada yang memilih menyusun sunan dan mentakhrijnya berdasarkan hukum-hukum dan metode fikih, sedangkan sebagian yang lain memilih mentakhrijnya menurut urutan sunan dengan menggabungkan hadits setiap sahabat satu sama lain, lihat al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’, al-Khathib, Bab Washf ath-Thariqatain al-Latain ‘alaihim Yushnaf al-Hadits, 2/284.

[4] Lihat al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’, al-Khathib, Bab Washf ath-Thariqatain al-Latain ‘alaihim Yushnaf al-Hadits, 2/292

[5] Tadrib ar-Rawi, Jalaluddin as-Suyuthi, 1/174-175. Fath al-Mughits, Syamsuddin as-Sakhwi. 1/86

[6] Lihat kajiannya secara terperinci dalam kitab al-Imam, Ishaq bin Rahawaih, dan al-Musnad, Dr. Abdul Ghafur al-Balusyi, Madinah: Maktabah al-Iman, t.th.

[7] Terdapat cetakan lain dengan tahqiq mahasiswa asal Turki di Universitas Erzurum Besar, dan ditahqiq pula di Universitas al-Imam Ibnu Sa’ud dalam sebuah disertasi.

[8] SiyarA’lam an-Nubala’, Abu Abdullah adz-Dzahabi, 12/476.

[9] Lihat penjelasan tambahan tentang musnad-musnad ini dalam kitab Ishaq bin Rahawaih wa Kitabuhu al-Musnad, Dr. Abdul Ghafur al-Balusyi. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.

[10] Banyak para Imam yang memisahkan biografi Imam Ahmad dalam buku khusus. Di antaranya Imam Ibnu al-Jauzi, Imam adb-Dzahabi dan selainnya. Sebagaimana adz-Dzahabi juga menu-lis biografinya dalam kitab Siyar Alam an-Nubala 11/177-357

[11] Lihat al-Mish’ad al-Ahmad, Ibnu al-Jazari yang telah dicetak dengan tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, 1/31-33.

[12] Al-Mishad al-Ahmad, Ibnu al-Jazari hal 32-33 dari pengantar Ahmad Syakir terhadap Musnad. Abu Musa al-Madini memiliki kitab tentang Musnad Imam Ahmad yang berjudul Khashais al-Musnad yang dicetak dalam muqaddimah al-Musnad dengan tahqiq Ahmad Syakir. Dan telah dicetak berulang kali di India dan Mesir.

[13] Dia adalah Ahmad bin Ja’far bin Malik al-Quthaifi perawi Musnad dai Abdullah bin Ahmad bin Hanbal.

[14] Al-Mish’ad al-Ahmad, Ibnu al-Jazari hal 32-33 dari muqaddimah Ahmad Syakir dalam al-Musnad.

[15] Al-Mish’ad al-Ahmad, Ibnu al-Jazari 1/34-35 dari muqaddimah Ahmad Syakir dalam al-Musnad.

[16] Al-Mish’ad al-Ahmad, Ibnu al-Jazari 1/34-35 dari muqaddimah Ahmad Syakir dalam al-Musnad.

[17] Al-Mish’ad al-Ahmad, Ibnu al-Jazari hal 34 dari muqaddimah Ahmad Syakir dalam al-Musnad.

[18] Majmu' al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, 18/26. Al-Mish'ad al Ahmad, Ibnu Al-Jazari hal 34-45.

[19] Al-Mish’ad al-Ahmad, Ibnu al-Jazari hal 34-35

[20] Majmu' al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, 18/26. Al-Mish'ad al Ahmad, Ibnu Al-Jazari hal 34-35

[21] Majmu' al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, 18/26. Al-Mish'ad al Ahmad, Ibnu Al-Jazari hal 34-35

[22] Al-Fath ar-Rabbani, Ahmad bin Abdurrahman as-Sa’ati, 1/8.

[23] Taj al-’Arus, al-Murtadha az-Zabidi, 4/443-444.

[24] Begitulah seharusnya upaya untuk membela sunnah Rasulullah . Demikianlah cara pengorbanan paling berharga sebagaimana yang telah dilakukan oleh ulama salaf . Semoga Allah memberi rahmat kepada Ibnu Katsir dan mengganti kedua matanya di Surga. Semoga Allah mengumpulkan kita dan dia bersama Nabi Muhammad dan para sahabatnya kelak di Surga.

[25] Al-Fath ar-Rabbani, Ahmad Ibnu Abdurrahman as-Sa’ati, 1/8.

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya