Kitab Referensi

Kitab : Tadwin as-Sunnah Nabawiyah, Nasy' atuhu wa tathawwuruhu

Abad ini mencakup masa dua generasi, yaitu:

Pertama, generasi akhir dari para tabi'in (Shighar at-Tabi'in), karena sebagian mereka ada yang masih hidup sampai melewati 140 H. Kita telah membahas tentang riwayat-riwayat dari mereka dan kesungguhan mereka dalam mengkodifikasi hadits pada pembahasan kesungguhan generasi tabi'in secara keseluruhan dengan perbedaan tingkatannya.

Kedua, generasi Atba' at-Tabi'in. Mereka adalah tingkatan ketiga dalam silsilah periwayatan as-Sunnah dan penukilan agam kepada umat -setelah sahabat dan tabi'in-. Generasi ini mempunyai pengaruh besar dalam memerangi ahli-ahli bid'ah dan budak-budak hawa nafsu, serta memerangi kebohongan yang disebarkan oleh orang-orang zindik yang telah sampai puncak kegiatan mereka melawan as-Sunnah dan para perawinya di pertengahan abad ini. Hal ini mendorong Khalifah al-Mahdi menyuruh salah seorang kepercayaannya untuk meneliti mereka dan mempersempit gerak mereka di tempatnya, hingga diketahui sebagai seorang zindik.[1]

Di sisi lain para pemimpin dan ulama generasi tersebut terus berjuang menjaga hadits dan ilmunya, dan melindunginya dari semua yang bisa mengotorinya. Melalui tangan merekalah dimulai pengkodifikasian as-Sunnah secara menyeluruh dan berdasarkan bab yang tersusun rapi setelah generasi pada masa sebelum mereka menghimpun hadits-hadits yang bermacam-macam di dalam lembaran-lembaran, buku tulis dalam bentuk terbatas dan seadanya tanpa bab dan tersusun rapi.[2] Sebagaimana halnya merekalah yang pertama kali menyusun ilmu rijal (perawi hadits) setelah pertanyaan tentang sanad dimulai pada masa akhir sahabat dan awal tabi'in.

Sebagaimana generasi inipun menjadi perintis kodifikasi yang tersusun secara bab dan pasal, demikian pula mereka menjadi perintis kodifikasi ilmu rijal, di mana mereka telah menulis tentang sejarah perawi hadits, di antara mereka; al-Laits bin Sa'ad (W. 175 H), Ibnu al-Mubarak (W. 181 H), Dhamrah bin Rabi'ah (W. 202 H), al-Fadhl bin Dukain (W. 218 H) dan selain mereka.

Dengan demikian generasi ini dapat disebut sebagai generasi pencetus ilmu hadits. Itu tidak mengherankan karena pada masa ini, para tokoh peneliti rijal hadits hidup, seperti Imam Malik, asy-Syafi'i, ats-Tsauri, al-Auza'i, Syu'bah, Ibnu al-Mubarak, Ibrahim al-Fazari, Ibnu 'Uyainah, al-Qaththan, Ibnu Mahdi, Waki', dan selain mereka.[3]

Di sini saya akan meringkas pembahasan tentang kodifikasi hadits pada abad ini dalam tiga bahasan yaitu:

PERTAMA : PERKEMBANGAN KODIFIKASI HADITS PADA ABAD INI DARI ABAD SEBELUMNYA

1. Adanya pembedaan antara tadwin (kodifikasi) yang sekedar menghimpun hadits dengan tashnif (menulis karya tulis) yang berupa penyusunan, pembuatan bab-bab pembahasan dan perbedaan dalam jenis karya tulis pada abad ini.

2. Karya-karya tulis yang dihimpun pada masa ini telah menghimpun selain hadits Nabi yaitu atsar sahabat dan fatwa para tabi'in, setelah sebelumnya hanya diriwayatkan dari mulut ke mulut, karena tulisan dikhususkan untuk hadits Nabi saja.

3. Cara pengkodifikasian pada karya-karya tulis masa ini adalah mengumpulkan hadits-hadits yang bersesuaian dalam satu bab, kemudian mengumpulkan beberapa bab atau kitab-kitab dalam satu buku. Sedang kodifikasi pada abad sebelumnya hanya menulis hadits saja tanpa mengurutkan dan memilah.[4]

4. Materi buku-buku -yang ditulis pada masa ini- dikumpulkan dari lembaran dan catatan hadits yang ditulis pada masa sahabat dan tabi'in serta atsar sahabat dan fatwa tabi'in yang diriwayatkan secara lisan.[5]

Karya-karya ulama pada abad kedua ini mengandung beberapa tema; Muwaththa', Mushannaf, Jami' atau Sunan, dan sebagiannya memiliki tema khusus seperti jihad, zuhud, peperangan Rasulullah , sirah, dan lain-lain.

KEDUA : ORANG-ORANG YANG TERKENAL SEBAGAI PENULIS HADITS PADA ABAD INI[6]
  1. Abu Muhammad Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij meninggal 150 H di Makkah.
  2. Muhammad bin Ishaq bin Yasar al-Muththalibi, meninggal 151 H di Madinah.
  3. Ma'mar bin Rasyid al-Bashri kemudian ash-Shan'ani, meninggal 153 H di Yaman.
  4. Sa'id bin Abi Arubah, meninggal 156 H di Bashrah.
  5. Abu Amr Abdurrahman bin Amr al-Auza'i, meninggal 156 H di Syam.
  6. Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Dzi'b, meninggal 158 H di Madinah.
  7. Ar-Rabi' bin Shabih al-Bashri, meninggal 160 H di Bashrah.
  8. Syu'bah bin al-Hajjaj, meninggal 160 H di Bashrah.
  9. Abu Abdillah Sufyan bin Sa'id ats-Tsauri, meninggal 161 H di Kufah.
  10. Al-Laits bin Sa'ad al-Fahmi, meninggal 175 H di Mesir
  11. Abu Salamah Hammad bin Salamah bin Dinar, meninggal 176 H di Bashrah.
  12. Al-Imam Malik bin Anas, meninggal 179 H di Madinah.
  13. Abdullah bin al-Mubarak, meninggal 181 H di Khurasan.
  14. Jarir bin Abdul Hamid adh-Dhabbi, meninggal 188 H di ar-Rayy.
  15. Abdullah bin Wahb al-Mishri, meninggal 197 H di Mesir.
  16. Sufyan bin Uyainah, meninggal 198 H di Makkah.
  17. Waki' bin al-Jarrah ar-Ruasi, meninggal 197 H di Kufah.
  18. Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i, meninggal 204 H di Mesir.
  19. Abdurrazzaq bin Hammam ash-Shan'ani, meninggal 211 H di Shan'a'.

KETIGA: KAJIAN SINGKAT TENTANG BEBERAPA CONTOH DARI BUKU YANG DIKODIFIKASI PADA MASA INI

Contoh: Al-Muwaththa', al-Imam Malik

Penulis Abu Abdullah Malik bin Anas al-Ashbahi, Imam Dar al-Hijrah (Madinah), bahkan imam kaum Muslimin pada masa tersebut. Adz-Dzahabi berkata, "...al-Imam al-Hafizh adalah Ahli Fiqh dan Syaikhul Islam ... "[7]

Sebab dinamai al-Muwaththa':

  1. Karena ia jadi pembicaraan manusia, maksudnya ia dimudahkan untuk manusia.
  2. Karena para ulama Madinah sepakat dan setuju atasnya.

Imam Malik berkata, "Saya menunjukkan kitabku ini kepada tujuh puluh ahli fikih Madinah. Semuanya menyepakatiku atasnya, maka saya memberinya nama al-Muwaththa'"[8]

Objek Pembahasan

Kitab ini berisi hadits-hadits Rasulullah , atsar-atsar sahabat dan fatwa-fatwa tabi'in. Dia memilahnya dari seratus ribu hadits yang pernah dia riwayatkan.[9]

Jumlah hadits

Hadits yang terkumpul di dalamnya menurut riwayat Yahya bin Yahya al-Andalusi mencapai 853 hadits,[10] Abu Bakar al-Abhari mengatakan, "Jumlah hadits Rasulullah , atsar sahabat dan fatwa tabi'in yang ada dalam al-Muwaththa' adalah 1720 hadits, yang bersanad 600, mursal 222, mauquf 613, dan fatwa tabi'in 285."[11]

Perhitungan jumlah ini terkadang berbeda-beda dikarenakan perbedaan riwayat dari Imam Malik, dan karena Imam Malik selalu membersihkan dan memperbaiki Muwaththa'nya, karena dia tetap menulis dan memperbaikinya selama empat puluh tahun.[12]

Derajat hadits-haditsnya

Al-lmam asy-Syafi'i berkata, "Kitab paling shahih setelah al-Qur'an adalah Muwaththa' Imam Malik."[13]

Tidaklah ada pertentangan antara pernyataan ini dengan kesepakatan ulama bahwa kitab paling shahih setelah al-Qur'an adalah Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Hal itu karena beberapa hal yaitu:

  1. Pernyataan Imam asy-Syafi'i ini sebelum adanya Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Dia meninggal pada 204 H, sedangkan umur Imam al-Bukhari pada waktu itu belum melewati sepuluh tahun, dan Imam Muslim lahir pada tahun tersebut.
  2. Sebagian besar hadits yang ada pada al-Muwaththa' terdapat pula pada Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dan sisanya terdapat pada kitab sunan yang empat.
    1. Sebagian ulama dari barat dan timur mengatakan bahwa semua yang ada pada al-Muwaththa' adalah shahih. Al-Hafizh Ibnu ash-Shalah dan Ibnu Hajar mengisyaratkan hal tersebut di akhir Bab ash-Shahih min Anwa'i 'Ulum al-Hadits.

      Akan tetapi yang rajih menurut pendapat jumhur ulama bahwa derajat al-Muwaththa' adalah di bawah Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Wallahu A'lam.

    2. Sebagian ulama mengatakan bahwa al-Muwaththa' adalah kitab yang keenam dari kitab hadits yang enam (Kutub Sittah), di antara mereka adalah Razin bin Mu'awiyah as-Saraqusthi (W. 535 H) dalam bukunya al-Jam'u bain al-Kutub as-Sittah, al-Majd bin al-Atsir (W. 606 H) dalam bukunya Jami' al-Ushul.

Di antara Syarh al-Muwaththa' yang paling penting

  1. Al-lstidzkar fi Syarhi Madzahibi Ulama' al-Amshar. Sudah dicetak.
  2. At-Tamhid lima fi al-Muwaththa' min al-Ma'ani wa al-Asanid, keduanya karya Ibnu Abdil Barr {W. 463 H) telah dicetak di Maroko sebanyak 24 jilid.

[1] Imam adz-Dzahabi dalam biografi al-Mahdi dalam kitab SiyarAlam an-Nubala', 7/401 dia berkata, "Beliau pembantai kezindikan dan mengejar-ngejar mereka." Dan dalam at-Tadzkirah 1/244: "Dan banyaknya kebaikan al-Mahdi dan penelitiannya untuk menghancurkan kezindikan dari akar-akarnya." Lihat al-Fatawa, karya Ibnu Taimiyah, 4/20 dan lihat juga kisahnya membunuh al-Muqni’ dan orang yang bersamanya dari kalangan para zindik dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, 10/145.

[2] Al-Hafizh adz-Dzahabi berkata di dalam at-Tadzkirah, "Setelah menyebutkan tentang banyaknya fenomena bid'ah, hawa nafsu, dan tersebarnya hal itu pada masa tersebut, para ulama tabi’in dan ulama salaf melawan ahli bid’ah, dan memperingatkan bahaya kebid’ahan mereka. Para tokoh tabi’in mulai mengkodifikasi sunnah, membuat karya ilmiah masalah furu’ (fikih) dan bahasa Arab. Hal ini berkembang menjadi banyak pada zaman khalifah Harun ar-Rasyid. Penulisan karya ilmiah menjadi banyak. Mereka menulis buku-buku tentang bahasa Arab, sehingga hafalan ulama mulai berkurang. Mereka sibuk mengkodifikasi buku-buku dan banyak bersandar kepada tulisan, padahal pada masa sahabat dan tabi’in mereka menjaga ilmu dalam hafalan dada-dada mereka." Lihat at-Tadzkirah, adz-Dzahabi, 1/160.

[3] Untuk mengetahui lebih mendalam tentang kesungguhan generasi ini dalam menjaga sunnah, silahkan lihat al-Jarh uia at-Ta'dil, Abdurrahman bin Abi Hatim ar-Razi, 1/9-11. Dzikru Man Yu'tamadu Qauluhu fi al-Jarh m at-Ta’dil, adz-Dzahabi, hal. 171.

[4] Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Hal ini dilihat dari sudut pandang penyusunannya pada suatu bab, sedangkan pengumpulan hadits dengan yang semisalnya dalam satu bab, maka sungguh sudah dilakukan oleh asy-Syabi. Telah diriwayatkan bahwa dia berkata, ’lni bab dari pembahasan talak yang sangat luas, kemudian dia menyebutkan beberapa hadits tentang talak". Al-Muhaddits al-Fadhil, ar-Ramahurmuzi, hal. 609; al-Jami', al-Khathib, 2/285; ALKhathib berkata pula dalam al-Jami’, "Pada masa sahabat dan tabi’in belum ada kodifikasi hadits dalam bentuk tashnif, ta'lif, bab, dan kitab tertentu, akan tetapi ini dilakukan oleh generasi setelah mereka. Kemudian generasi muta'akkkhir mengikuti langkah mereka. Lihat al-Jami', al-Khathib. 2/281.

[5] Buhuts fi Tarikh as-Sunnah al-Musyarrafah, Dr. Akram al-Umari, hal. 234; al-Hadits wa al-Muhadditsun, Abu Zahwa, hal. 244.

[6] Lihat muqaddimah Fath al-Bari yang disebut Hadyu as-Sari pasal satu; ar-Risalah al-Mustathrafah, Muhammad Ja'far al-Kattani, hal. 6-9; Buhuts fi Tarikh as-Sunnah, Dr. Akram al-Umari, hal. 232; Al-Hadits wa al-Muhadditsun, Abu Zahwa, hal 244.

[7] Tadzkirah al-Huffazh, Abu Abdullah adz-Dzahabi, 1/267.

[8] Tanwir al-Hawalik, as-Suyuthi, hal. 7.

[9] Tanwir al-Hawalik, as-Suyuthi, hal. 8.

[10] Tajrid at-Tamhid, Ibnu Abdil Barr, hal. 258.

[11] Tanwir al-Hawalik, as-Suyuthi, hal. 8.

[12] Tanwir al-Hawalik, as-Suyuthi, hal. 8.

[13] Ulum al-Hadits, Ibnu ash-Shalah, hal. 14.

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya