Kitab Referensi

Kitab : Tadwin as-Sunnah Nabawiyah, Nasy' atuhu wa tathawwuruhu

PERTAMA: KODIFIKASI HADITS DIMULAI PADA MASA RASULULLAH

Telah masyhur di antara kaum awam -bukan para peneliti- bahwa hadits -atau yang ungkapkan oleh ulama ahli hadits "ilmu"- lebih dari seratus tahun terus menerus berpindah dari satu ulama ke ulama yang lainnya dengan cara hafalan saja tanpa ditulis. Praduga ini berlanjut hampir lima abad lamanya hingga tambah meluas dan menguat, sampai datanglah al-Khathib yang meneliti masalah ini dan mengumpulkan yang terpisah darinya, kemudian menulisnya dalam sebuah buku Taqyid al-'Ilm (pengikat ilmu).

Sebab terjadinya dugaan salah ini adalah, kesalahan dalam mentakwil sesuatu yang muncul dari kalangan ahli hadits tentang kodifikasi dan penulisan karya ilmiah hadits. Mereka mengatakan bahwa orang yang pertama mengkodifikasi hadits adalah Ibnu Syihab az-Zuhri (W. 124 H atau 125 H). Kemudian mereka menyebutkan orang yang pertama menulis buku, dan ternyata mereka pmua dari orang yang hidup setelah +143 H. Para ulama sebelum al-Khathib belum menunaikan hak sebenarnya dari pendapat-pendapat ini, baik tafsir yang detail ataupun pemahaman yang dalam, bahkan mereka hanya meriwayatkan ucapan-ucapan ini dengan bentuk memberikan pemahaman bahwa benar-benar yang pertama kali menulis kitab-kitab hadits adalah Ibnu Syihab az-Zuhri, dan yang pertama menuliskan hadits-hadits dalam bentuk buku adalah orang setelahnya.

Akan tetapi pemikiran seperti ini pun meliputi sebagian para penulis al-Jami' seperti Abu Thalib al-Makki, Imam adz-Dzahabi, al-Hafizh Ibnu Hajar, dan al-Maqrizi, penulis Abjad al-Ulum dan lain-lain. Mereka mendukung pemikiran ini walaupun mereka menemukan sesuatu yang menentangnya. Itu karena mereka menyebutkan bahwa orang-orang setelah sahabat dan tabi'in meriwayatkan hadits dari shuhuf (lembaran tertulis) yang shahih yang tidak tersusun, yang ditulis pada masa sahabat dan tabi'in.

Hal ini menunjukkan bahwa kodifikasi telah ada sebelum masa Imam az-Zuhri yang dikategorikan sebagai generasi Shighar at-Tabi'in.

Al-Khathib mencoba menetapkan bahwa kodifikasi hadits telah ada pada masa Rasulullah , sahabat dan tabi'in. Hal inilah yang membawanya meneliti sejarah kodifikasi hadits. Ia mengumpulkan hadits-hadits dan atsar sahabat yang berhubungan dengan kodifikasi hadits. Dia berhasil mengumpulkannya lebih banyak daripada para pendahulunya dan mendapatinya terbagi kepada dua kelompok yang saling bertentangan. Satu kelompok membolehkan menulis hadits, sedangkan satu kelompok lainnya sebaliknya. Hal ini telah ditemukan pula oleh para ulama pendahulunya, namun al-Khathib menemukan hal yang baru, yaitu bahwa dalam sebagian hadits-hadits tersebut terkandung sebab-sebab larangan penulisan hadits. Kemudian dia memandang perlu memisahkan nash-nash ini dalam bab khusus yang dengan sendirinya memberikan penjelasan yang dapat menghilangkan perselisihan dan pertentangan.

Al-Khathib mengkhususkan pasal pertama dari bagian pertama dari kitabnya ini untuk hadits-hadits marfu' yang melarang penulisan hadits. Beliau berusaha membahas secara komprehensif seluruh jalan periwayatannya, baik yang shahih atau yarig dha'if Akan tetapi semua riwayat-riwayat ini -dengan segala jalan periwayatan yang berbeda-beda- tidak ada satu pun yang shahih selain hadits Abu Sa'id al-Khudri,

¬
لا تكتبوا عني، ومن كتب عني غير القرآن فليمحه

"Janganlah kalian menulis dariku. Barangsiapa menulis dariku selain al-Qur'an, maka hendaklah dia menghapusnya...."

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim secara marfu'[1] sedangkan Amirul Mukminin Abu Abdillah al-Bukhari dan lainnya mengatakan bahwa hadits ini mauquf kepada Abu Sa'id al-Khudri.[2]

Dalam dua pasal; yaitu kedua dan ketiga dari bagian ini, al-Khathib membahas hadits-hadits dan atsar-atsar dari para sahabat dan tabi'in yang melarang penulisan hadits.[3]

Pasal pertama pada bagian kedua, dia bermaksud menyebutkan riwayat-riwayat dari sahabat yang menunjukkan illat kebenciari mereka untuk menuliskan sesuatu selain al-Qur'an. Dia menyimpulkan alasan tersebut dengan perkataannya, "Telah tetap bahwa sebab generasi pertama dari para sahabat yang melarang kodifikasi hadits adalah agar tidak ada sesuatu pun yang menyerupai al-Qur'an, atau orang menyibukkan diri dengannya dan melalaikan al-Qur'an. Adapun yang saya temukan tentang dilarangnya penulisan hadits pada awal masa Islam adalah karena sedikitnya ahli fikih pada waktu itu, begitu pula yang bisa membedakan antara wahyu dengan selainnya, karena kebanyakan orang-orang Badui belum paham agama, dan mereka juga tidak belajar kepada para ulama, maka dikhawatirkan mereka menganalogikan sesuatu -yang mereka temukan- dengan al-Qur'an, dan mereka menganggapi sesuatu yang dikandungnya sebagai al-Qur'an." [4]

Al-Khathib menambahkan -dalam permulaan pasal kedua dari bagian kedua- sebab-sebab lain tentang larangan kodifikasi hadits seraya berkata, "Manusia diperintah menghafal hadits karena sanadnya masih dekat, dan zaman pun belum jauh, dan mereka dilarang bersandar kepada tulisan, karena hal tersebut akan merusak hafalan bahkan bisa menghilangkannya. Namun apabila tulisan itu tidak ada, maka hafalan -yang menemani manusia di setiap tempat- akan kuat. Untuk masalah ini, Sufyan ats-Tsauri berkata, "Sejelek-jelek gudang ilmu adalah kertas." Namun Sufyan sendiri menulis. Tidakkah Anda melihat bahwa Sufyan mencela bersandar kepada tulisan dan memerintahkan untuk menghafalnya, tetapi dia sendiri tetap menulis demi kehati-hatian dan untuk ketelitian? Dahulu tidak hanya satu orang ulama salaf yang membantu hafalannya dengan menulis dan mempelajari bukunya, setelah dia menyempurnakan (hafalannya), maka dia menghapusnya karena khawatir akan bersandar kepadanya sehingga menyebabkan hafalan jadi berkurang dan perhatiannya kurang dijaga."[5]

Pada bagian ketiga, maka dia menyendirikan tiga pasal untuk menerangkan hadits-hadits dan atsar-atsar yang membolehkan kodifikasi hadits.

Pasal pertama tentang hadits-hadits marfu' kepada Rasulullah Ada banyak riwayat, dan sebagiannya shahih seperti:

1. Hadits Abu Hurairah,

ما من الصحابة أحدٌ أكثر حديثاً مني، إلا ما كان من عبد الله بن عمرو، فإنه يكتب وأنا لا أكتب

"Tidak seorang pun dari sahabat yang lebih banyak meriwayatkan hadits Rasulullah daripadaku kecuali sesuatu yang ada pada Abdullah bin Amr, karena dia menulis(nya), sedangkan saya tidak menulis."[6]

2. Dari Abu Hurairah , dia berkata,

خطب رسول الله صلى الله عليه وسلم في فتح مكة إلى أن قال: "اكتبوا لأبى شاة

"Rasulullah berkhutbah pada waktu Fathu Makkah...lalu beliau bersabda, 'Kalian tulislah untuk Abu Syah...'."[7]

3. Hadits Ibnu Abbas ,

إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال في مرضه: "ائتوني بكتابٍ أكتب لكم كتاباً لا تضلوا بعده

"Sesungguhnya Rasulullah bersabda pada waktu beliau sakit, 'Berikan kepadaku alat tulis, niscaya saya akan menuliskan untuk kalian sesuatu yang mana kalian tidak akan tersesat setelahnya'."[8]

4. Hadits Abdullah bin Amr bin al-Ash

كنت أكتب كل شىء أسمعه من رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى أن قال: فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "أكتب فوالذي نفسي بيده ما خرج مني إلا حق

"Saya menulis semua yang saya dengar dari Rasulullah dan beliau bersabda, 'Tulislah, demi Dzat yang jiwaku berada di Tangannya, tidak akan keluar dariku kecuali kebenaran'." [9]

Di antaranya juga ada yang lemah. Ini jumlahnya banyak, dan sebagiannya dikuatkan (oleh riwayat lain).[10]

Pada pasal kedua, al-Khathib memberi judul, "Bab pembahasan sahabat yang mana hadits diriwayatkan darinya bahwa dia menulis hadits atau diperintahkan untuk menulisnya."

Al-Khathib telah mengeluarkan banyak riwayat dalam pasal ini dari mereka. Mayoritasnya adalah shahih, karena sebagiannya terdapat dalam kitab-kitab shahih, dan sebagiannya dalam kitab- kitab Sunan dan selainnya.

Riwayat-riwayat tersebut tidak luput dari ta'liq dan istinbat-nya al-Khathib Contohnya komentarnya atas riwayat dari Abu Sa'id al-Khudri, dia berkata,

ما كنا نكتب شيئاً غير القرآن والتشهد

"Dahulu kami tidak pernah menulis sesuatu pun selain al-Qur'an dan tasyahhud."

Di mana dia berkomentar, "Padahal Abu Sa'id al-Khudrilah yang meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,

لا تكتبوا عني سوى القرآن، ومن كتب عني غير القرآن فليمحه

"Jangan kalian menulis dariku selain al-Qur'an. Barangsiapa menulis dariku selain al-Qur'an, maka hendaklah dia menghapusnya."

Kemudian dia menerangkan bahwa mereka menulis al-Qur'an dan tasyahhud. Dalam hal tersebut terdapat dalil bahwa alasan pelarangan menulis selain al-Qur an adalah sesuai dengan yang telah kita bahas, yaitu menyerupakan al-Qur'an dengan selainnya, melalaikan al-Quran dengan selainnya. Maka ketika tidak ada kekhawatiran akan hal tersebut, dan kebutuhan menuntut kepada perlunya menuliskan as-Sunnah, maka hal itu tidak dilarang, sebagaimana para sahabat juga tidak melarang untuk menuliskan tasyahhud. Tidak ada perbedaan antara tasyahhud dan lainnya. Sudah diketahui bahwa keduanya bukanlah al-Qur'an. Dan tidaklah para sahabat menulis as-Sunnah dan memerintahkan untuk menulisnya melainkan karena faktor kehati-hatian sebagaimana mereka melarang untuk menulisnya adalah juga karena faktor kehati-hatian. Wallahu a'lam.[11]

Pada pasal ketiga dari bagian ini, al-Khathib mengkhususkannya untuk menyebutkan riwayat-riwayat (tentang kodifikasi hadits) dari imam para tabi'in, di mana dia menyebutkan riwayat-riwayat dari mereka beserta sanad periwayatannya kepada para imam dan tokoh tabi'in yang menjelaskan bahwa mereka menulis hadits dan mengizinkan para muridnya untuk menulis, bahkan menganjurkan mereka untuk menulis hadits.[12]

Adapun sebab meluasnya penulisan hadits pada masa setelah tabi'in dan bersandarnya manusia kepada tulisan, maka al-Khathib menyebutkan, "Sesungguhnya banyaknya manusia yang menulis hadits dan bermaksud untuk mengkodifikasinya dalam lembaran buku setelah dilarangnya adalah karena jalur periwayatan sudah tersebar, dan jalur sanad telah memanjang, nama-nama para ahli hadits dan kunyah serta nasabnya banyak, pengungkapan dengan lafazh berbeda-beda, sehingga hati orang-orang menjadi sulit untuk menghafalnya, dan jadilah ilmu hadits pada zaman itu lebih kokoh daripada ilmu seorang hafizh, sedangkan Rasulullah telah memberikan keringanan untuk menulisnya bagi orang yang hafalannya lemah, begitu pula para sahabat dan tabi'in serta para ulama setelahnya telah melakukan hal tersebut.[13]

Dan setelah ini, maka saya cukupkan pada bagian ini dengan meringkas pada analisa yang terdapat pada tiga bagian pertama dalam kitab Taqyid al-'llm karya al-Hafizh Abu Bakr al-Khathib (W. 463 H) dengan mengambil faidah dari tulisan al-Ustadz Yusuf al-'Isy dalam pengantar kitab dan komentar darinya dalam catatan kaki. Hal ini karena beberapa hal, di antaranya:

  1. Sesungguhnya kitab ini adalah kitab yang paling dulu dan luas, serta lengkap dalam membahas masalah ini, karena belum ada yang mendahului penulisnya dalam mengumpulkan maklumat sepertinya, dan saya belum menemukan suatu kitab sepertinya dari karya orang setelahnya, kecuali orang yang sezaman dengannya, yaitu al-Hafizh Ibnu Abdil Barr yang pernah berusaha menulis yang semisal dengan kitabnya yaitu Jami' Bayan al-'ilm tapi masih belum seluas dan selengkap kitab al-Khathib, apalagi mampu mengalahkan kitab al-Khathib dalam keindahan susunan dan keterkaitan susunan kitabnya.
  2. Hasil yang dicapai al-Khathib dari pengumpulan (datanya) dan kajiannya untuk riwayat-riwayat dalam pembahasan ini adalah hal yang sangat penting. Di dalamnya saya (penulis) menemukan obat yang menyembuhkan dan jawaban yang cukup atas pertanyaan-pertanyaan sekitar kodifikasi hadits yang suci, kapan dan bagaimana dimulainya. Sebagaimana saya pun mendapati buku ini dan hasil capaian al-Khathib ini sebagai jawaban yang kokoh - karena mengandung realita fakta- atas keraguan dan syubhat yang dilontarkan oleh para orientalis dan antek-anteknya dari kalangan kita yang menyusup dalam barisan kita seputar kodifikasi hadits Nabi, dengan mengeksploitasi zahir hadits Abu Sa'id al-Khudri tentang larangan penulisan hadits dan riwayat yang menjelaskan bahwa kodifikasi hadits belum ada kecuali pada masa Imam az-Zuhri.[14]

Inilah hasil yang paling penting yang dapat disarikan dari buku tersebut:

  1. Sesungguhnya hadits yang menjelaskan larangan menuliskan hadits itu tidak ada yang shahih kecuali hadits Abu Sa'id al- Khudri dalam riwayat Muslim, disertai dengan perbedaan pendapat antara Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam derajat marfu' dan mauquf dari hadits tersebut.
  2. Sesungguhnya kebolehan penulisan hadits telah ada sejak zaman Rasulullah , beberapa dalil telah diungkapkan oleh penulis, termasuk dalil dari al-Qur'an dan hadits yang menganjurkan penulisan hadits.
  3. Kodifikasi dalam makna luas -yaitu pengumpulan- telah dimulai pada zaman Nabi .
  4. Para ulama yang melarang penulisan as-Sunnah tidak berdalil dengan hadits Abu Sa'id al-Khudri, akan tetapi dengan dalil-dalil lain, di antaranya:
    1. Kekhawatiran akan disibukkannya manusia dengan tulisan sehingga melalaikannya dari al-Qur'an. Al-Khathib telah mengungkapkan beberapa penjelasan ulama salaf tentang hal tersebut.
    2. Kekhawatiran (hilangnya) penjagaan kemampuan menghafal yang dimiliki kaum Muslimin, karena bersandarnya umat Islam kepada tulisan akan melemahkan hafalan mereka. Oleh karena itu, sebagian mereka menulisnya kemudian menghapusnya. Kalau seandainya larangan menulis itu berlaku tetap, niscaya mereka tidak menulisnya pada mulanya.[15]

Sebelum saya menuntaskan pembicaraan masalah ini, saya mengutip sedikit tentang perbedaan tadwin dan tashnif menurut ahli bahasa, karena dengan mengetahui perbedaannya, niscaya akan hilanglah kerancuan di antara keduanya:

Tadwin (kodifikasi) adalah menyatukan yang terpisah dan tercecer dan menghimpunnya dalam satu buku atau kitab yang mengumpulkan lembaran-lembaran di dalamnya. Al-Fairuz Abadi dalam al-Qamush al-Muhith berkata,"Tadwin adalah kumpulan dari lembaran-lembaran."[16]

Az-Zabidi dalam Taj al-'Arus berkata, وَقَدْ دَوَّنَهُ تَدْوِيْنَا berarti (mengumpulkannya)."[17] Maka tadwin dengan makna ini lebih luas daripada taqyid (mengikat) dengan maksud membatasi.

Sedangkan makna tashnif lebih detail daripada tadwin, karena tashnif adalah mengurutkan sesuatu yang dikodifikasi dalam pasal yang tertentu dan bab yang teristimewakan. Az-Zabidi berkata dalam Taj al-'Arus, " وَصَنَّفَهُ تَصْنِيْفًا berarti menjadikannya kelompok-kelompok dan mengistimewakan yang satu dari yang lainnya." Az-Zamakhsyari berkata di dalam kitab al-Fa'iq,".. .termasuk makna tashnif adalah menulis buku."[18]

KEDUA :KESUNGGUHAN PARA SAHABAT DALAM KODIFIKASI HADITS & MENYAMPAIKANNYA KEPADA UMAT

Kesungguhan generasi yang diberkahi ini adalah landasan pertama dalam mengkodifikasi hadits, menghafal dan menyampaikannya kepada umat, sebagaimana juga kesungguhan mereka menjadi landasan dalam penyebaran agama dan pendalaman akidah dan penjagaan as-Sunnah dari segala sesuatu yang mengotorinya.

Berikut ini beberapa contoh dari kesungguhan tersebut. Dan saya mencukupkan diri dengan menunjukkan kepada sebagian sumber-sumber yang mencakup keseluruhannya atau berusaha untuk mencakupnya,[19] hal tersebut karena tempatnya tidak cukup luas untuk membahas lebih banyak daripada contoh-contoh ini:

1. Anjuran untuk menghafal dan menguatkan hafalan itu, sehingga untuk menguatkan hafalan mereka, maka sebagian dari mereka memerintahkan kepada murid-muridnya untuk menulisnya, kemudian menghapusnya agar tidak bersandar kepada tulisan

Al-Khathib al-Baghdadi berkata, "...dan bukan hanya satu orang dari para salaf yang membantu hafalan haditsnya dengan menulisnya dan mempelajarinya dari tulisannya itu. Apabila dia telah menyempurnakan hafalannya, maka mereka menghapus tulisannya, karena kekhawatiran bahwa hati akan bersandar kepadanya sehingga membuat hafalannya berkurang dan meninggalkan perhatian terhadap sesuatu yang (seharusnya) dihafal.[20]

2. Sebagian sahabat menulis (dan mengirimkan) as-Sunnah kepada sahabat yang lainnya

Di antara contohnya:[21]

  1. Usaid bin Hudhair al-Anshari menulis beberapa hadits dan keputusan-keputusan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, dan mengirimkannya kepada Marwan bin al-Hakam.[22]
  2. Jabir bin Samurah menulis beberapa hadits Rasulullah dan mengirimkannya kepada Amir bin Sa'ad bin Abi Waqqash berdasarkan atas permintaannya.[23]
  3. Zaid bin Arqam menulis beberapa hadits Rasulullah dan mengirimkannya kepada Anas bin Malik .[24]
  4. Zaid bin Tsabit menulis tentang (warisan) untuk kakek kepada Umar bin al-Khaththab hal tersebut terjadi atas permintaan Umar sendiri.[25]
  5. Samurah bin al-Jundub mengumpulkan hadits Rasulullah yang ada padanya dan mengirimkannya kepada anaknya, Sulaiman, kemudian Imam Muhammad bin Sirin memuji risalah ini seraya berkata, "Di dalam risalah Samurah kepada anaknya terdapat ilmu yang banyak."[26]
  6. Abdullah bin Abi Aufa menulis beberapa hadits Rasulullah kepada Umar bin Ubaidillah.[27]

3. Menganjurkan murid-murid mereka untuk menuliskan hadits-hadits dan membukukannya

Di antara contoh-contohnya:

  1. Anas bin Malik al-Anshari menyuruh anak-anaknya untuk menulis ilmu, seraya berkata, "Wahai anak-anakku, ikatlah ilmu dengan menuliskannya." Dan dia berkata, "Dahulu kami tidak menganggap ilmu (sunnah) dari orang yang tidak menuliskan ilmunya."[28]
  2. Al-Khathib meriwayatkan beberapa riwayat dari murid-murid Abdullah bin Abbas, bahwa dia berkata, "Kalian ikatlah ilmu (sunnah) dengan cara menulisnya, karena sebaik-baik pengikat ilmu adalah tulisan."[29]
  3. Al-Khatib meriwayatkan dari beberapa jalur sanad kepada Umar bin al-Khaththab , dia berkata, "Kalian ikatlah ilmu (sunnah) dengan cara menulisnya."[30]
  4. Dari Ali bin Abi Thalib , dia berkata, "Siapa yang membeli ilmu dariku dengan uang satu dirham?' Abu Khaitsamah berkata. “Ali bermaksud 'membeli kertas dengan harga satu dirham yang mana di dalamnya (dipergunakan) untuk menulis as-Sunnah'." [31]

4. Kodifikasi hadifrs dalam lembaran-lembaran dan penukilannya antara para syaikh dan muridnya

Lembaran-lembaran ini adalah asal mula dari kitab-kitab hadits yang ditulis pada abad kedua dan ketiga hijriyah berupa jawami', Masanid, dan Sunan, serta lainnya. Di antara contoh lembaran-lembaran tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Lembaran (catatan) Abu Bakar ash-Shiddiq yang berisi tentang kewajiban zakat.

    Ai-Khathib meriwayatkan dengan sanadnya kepada Anas bin Malik .

    إن أبا بكر الصديق بعثه مصدِّقاً، وكتب له كتاباً فيه فرائض الصدقة، وعليه خاتم رسول الله صلى الله عليه وسلم وفيه: "هذه فريضة الصدقة التي فرضها رسول الله صلى الله عليه وسلم على المسلمين

    "Sesungguhnya Abu Bakar ash-Shiddiq telah mengutusnya sebagai pengambil zakat dan dia menulis surat kepadanya yang berisi tentang kewajiban zakat. Surat tersebut dicap dengan stempel Rasulullah . Di dalamnya berisi, 'Inilah kewajiban (kadar) zakat yang ditetapkan oleh Rasulullah bagi kaum Muslimin'."[32]

  2. Lembaran (catatan) Ali bin Abi Thalib

    Al-Khathib dan Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dari beberapa jalan periwayatan dari Ali bin Abi Thalib bahwasanya dia telah berkhuthbah seraya berkata,

    من زعم أن عندنا شيئاً نقرأه ليس في كتاب الله تعالى وهذه الصحيفة فقد كذب

    "Barangsiapa mengklaim bahwa kami memiliki sumber yang bisa kami baca -kecuali al-Qur'an dan catatan ini- maka sungguh dia telah berdusta."

    Perawi darinya mengatakan, "Lembaran catatan itu digantungkan pada pedangnya, dan di situ ada penjelasan umur unta (berkenaan dengan zakat) dan hukum jirayat." Dan sabda Rasulullah

    المدينة حرمٌ ما بين عيرٍ إلى ثورٍ، فمن أحدث فيها حدثاً أو آوى محدثاً فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين

    "Madinah adalah tanah haram antara 'Air sampai Tsaur, maka barangsiapa mengadakan perkara bid'ah di dalamnya, atau melindungi orang yang melakukan bid'ah, maka dia mendapatkan laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia"[33]

  3. Lembaran (catatan) Abdullah bin Amr bin al-'Ash yang dikenal dengan ash-Shahifah ash-Shadiqah.

    Dari Mujahid dia berkata,

    أتيت عبد الله بن عمرو فتناولت صحيفة من تحت مفرشه، فمنعي، قلت: ما كنت تمنعني شيئاً، قال: هذه الصادقة، هذه ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم ليس بيني وبينه أحد

    "Saya datang kepada Abdullah bin Amr, lalu saya mengambil lembaran dari bawah kasurnya, maka dia menghalangiku. Saya berkata, 'Dahulu kamu tidak pernah melarangku sesuatu,' Dia berkata, 'Ini adalah shahifah ash-shadiqah, ini adalah riwayat yang saya dengar (langsung) dari Rasulullah , tidak ada perantara antara aku dan ia'."[34]

    Ketiga lembaran ini semuanya ditulis ketika Rasulullah masih hidup, dan masih banyak lembaran-lembaran lain yang ditulis padi masa itu

  4. Lembaran (catatan) Abdullah bin Abi Aufa

    Al-Imam al-Bukhari menulisnya dalam Kitab al-Jihad, Bab ash-Shabru 'inda al-Qital[35]
  5. Lembaran (catatan) Abu Musa al-Asy'ari.[36]
  6. Lembaran (catatan) Jabir bin Abdillah.[37]
  7. Lembaran (catatan) hadits shahih yang diriwayatkan Hammam dari Abu Hurairah.[38]

KETIGA: KESUNGGUHAN TABI'IN DALAM MENGKODIFIKASI HADITS

Para tabi'in menerima as-Sunnah, bahkan semua tentang Islam langsung dari para sahabat . Kemudian mereka berperan untuk menyampaikannya kepada seluruh manusia setelah para svaikh mereka. Mereka adalah generasi terbaik setelah generasi sahabat. Generasi mereka mengerahkan tenaga untuk mengabdi pada sunnah dan mengkodifikasinya, dan menghafalnya dengan penuh kesungguhan.

Berikut ini adalah beberapa contoh dari kesungguhan mereka:

1. Mereka menganjurkan untuk berpegang kepada as-Sunnah, menghafalnya, menulisnya dan mengadakan kroscek dalam meriwayatkannya dan mendengarkannya.

Pada pasal kedua dari bab pertama telah disebutkan beberapa contoh perhatian para tabi'in dan orang-orang setelahnya dalam menjaga as-Sunnah, maka di sini saya ungkapkan beberapa contoh yang belum diungkapkan sebelumnya, yaitu tentang anjuran mereka untuk menulis as-Sunnah:

  1. Al-Khathib meriwayatkan dari beberapa jalan periwayatan, dari Imam Amir asy-Sya'bi, bahwa dia pernah berkata, "Apabila kamu mendengar sesuatu, maka tulislah walaupun pada dinding. Itu lebih baik bagimu daripada lembaran, karena kamu akan membutuhkannya suatu saat."[39]
  2. Dari al-Hasan al-Bashri berkata, "Tidaklah ilmu diikat dengan (cara) semisal menulisnya. Kami menulisnya hanya untuk menjaganya."[40]
  3. Dari Sa'id bin Jubair dia berkata, "Aku menulis (riwayat) yang ada pada Ibnu Abbas dalam lembar catatanku hingga aku memenuhinya, kemudian aku menulis di punggung sandalku, kemudian pada telapak tanganku."[41]
  4. Dari Shalih bin Kaisan dia berkata, "Saya berkumpul bersama az-Zuhri belajar ilmu, kemudian kami berkata, 'Kita akan menulis as-Sunnah,' maka kami pun menulis riwayat yang datang dari Nabi , kemudian dia berkata, 'Kita akan menulis riwayat yang datang dari sahabat karena itu adalah sunnah', saya mengatakan, 'Menurutku itu bukan sunnah, maka janganlah kita menulisnya'." Shalih bin Kaisan berkata lagi, "Maka dia pun menulisnya, sedangkan saya tidak menulisnya, maka dia berhasil (menjaganya), sedangkan saya kehilangan (sunnah sahabat), '[42]
  5. Dari Ibnu Syihab az-Zuhri dia berkata, "Kalau bukan karena ada hadits-hadits yang datang dari arah timur yang kami ingkari dan kami tidak mengetahui (jalur sanad)nya, niscaya kami tidak akan menulis satu hadits pun dan tidak akan membolehkan penulisannya."[43]
  6. Al-Khathib meriwayatkan dari beberapa jalan periwayatan, dari Mu'awiyah bin Qurrah, dia berkata, "Kami tidak menganggap ilmu milik orang yang tidak menuliskan ilmunya."[44]

2. Mereka mengkodifikasikan as-Sunnah pada lembaran-lembaran.

Penulisan hadits pada generasi tabi'in telah tersebar luas melebihi penyebarannya pada masa sahabat, karena pada masa itu penulisan as-Sunnah menjadi ciri setiap majelis ilmu yang tersebar di beberapa kota Islam. Beberapa sebab tersebarnya kodifikasi hadits adalah sebagai berikut:

  1. Tersebarnya periwayatan, panjangnya sanad, banyaknya nama-nama perawi, kunyah dan nasab mereka.
  2. Meninggalnya para penghafal as-Sunnah dari kalangan sahabat dan tokoh tabi'in sehingga dengan kepergian mereka dikhawatirkan banyak hadits yang akan hilang.
  3. Melemahnya kemampuan menghafal bersamaan dengan tersebarnya banyak tulisan dan berbagai disiplin ilmu di antara manusia.
  4. Munculnya berbagai macam bid'ah dan menuruti hawa nafsu serta tersebarnya kebohongan, maka untuk menjaga as-Sunnah dari masuknya kebohongan ini, maka disyari'atkanlah kodifikasinya.
  5. Hilangnya sebab-sebab dilarangnya kodifikasi hadits.

Pada masa ini tidak terhitung banyaknya hadits yang telah ditulis. Sungguh Dr. Mushthafa al-A'zhami dalam bukunya Dirasat fi al-Hadits an-Nabawi telah menyebutkan sejumlah besar darinya.[45]

Di sini saya ungkapkan beberapa contoh dari lembaran-lembaran as-Sunnah yang ditulis di masa ini:

  1. Lembar (catatan) Sa'id bin Jubair, murid Ibnu Abbas.[46]
  2. Lembar (catatan) Basyir bin Nahik, dia menulisnya dari Abu Hurairah dan selainnya.[47]
  3. Lembar (catatan) Mujahid bin Jabr, murid Ibnu Abbas. Abu Yahya al-Kunasi berkata, "Mujahid membawa saya naik ke kamarnya, kemudian dia mengeluarkan tulisannya lalu saya menyalinnya."[48]
  4. Lembar (catatan) Abu az-Zubair Muhammad bin Muslim bin Tadrus al-Makki, murid Jabir bin Abdullah, dia meriwayatkan tentang penukilannya dari Jabir dan selainnya.[49]
  5. Lembar (catatan) Zaid bin Abi Unaisah ar-Rahawi.[50]
  6. Lembar (catatan) Abu Qilabah yang mana dia mewasiatkannya -ketika (menjelang) wafatnya- untuk Ayyub as-Sakhtiyani.[51]
  7. Lembar (catatan) Ayyub bin Abi Tamimah as-Sakhtiyani.[52]
  8. Lembar (catatan) Hisyam bin Urwah bin az-Zubair.[53]

3. Kesungguhan dua Imam; Umar bin Abdul Aziz dan Ibnu Syihab az-Zuhri dalam mengkodifikasi Hadits

  1. Kesungguhan kedua imam ini dalam menyebarluaskan as-Sunnah dan mencegah tersebarnya bid'ah, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Keduanya lebih masyhur daripada ruang lingkup pemaparannya pada kedudukan ini. Silahkan merujuk biografi keduanya dalam Siyar A'lam an-Nubala' dan yang lainnya.
  2. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dari Abdullah bin Dinar dia berkata,

    كتب عمر بن عبد العزيز إلى أبي بكر بن حزم: انظر ما كان من حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم فاكتبه، فإنى خفت دروس العلم وذهاب العلماء، ولا تقبل إلا حديث النبي صلى الله عليه وسلم، ولتفشوا العلم، ولتجلسوا حتى يعلم من لا يعلم، فإن العلم لايهلك حتى يكون سراً

    "Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm, 'Lihatlah (lalu kumpulkan) sesuatu yang (kamu temukan) dari hadits Rasulullah , lalu tulislah ia, karena saya mengkhawatirkan hilangnya ilmu (sunnah) dan hilangnya para ulama, dan janganlah kamu menerima kecuali hadits Nabi . Dan hendaklah kalian sebarkan ilmu (sunnah), dan hendaklah kalian membuat majelis (ilmu) , sehingga orang yang tidak tahu menjadi tahu, karena sesungguhnya ilmu tidak akan rusak sehingga ia menjadi rahasia'."[54]

  3. Dari Ibnu Syihab az-Zuhri , dia berkata,

    أمرنا عمر بن عبد العزيز بجمع السنن فكتبناها دفتراً دفتراً، فبعث إلى كل أرضٍ له عليها سلطان دفتراً

    "Umar bin Abdul Aziz memerintahkan kepada kami untuk mengumpulkan as-Sunnah, maka kami menulisnya buku demi buku, dan dia mengirimkannya ke setiap daerah kekuasaannya -yang diperintah oleh seorang sultan- (sebanyak) satu buku."[55]

  4. Ad-Darimi meriwayatkan dengan sanadnya,

    أن عمر بن عبد العزيز كتب إلى أهل المدينة: "انظروا حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم فاكتبوه، فإنى خفت دروس العلم وذهاب أهله

    "Sesungguhnya Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada penduduk Madinah, 'Kalian lihatlah hadits Rasulullah lalu tulislah, karena saya mengkhawatirkan hilangnya ilmu (sunnah) dan hilangnya ahli ilmu'."[56]

  5. Al-Khathib meriwayatkan dengan sanadnya kepada az-Zuhri dia berkata, "Kalau bukan karena ada hadits-hadits yang datang dari arah timur yang kami ingkari, dan kami tidak mengetahui (jalur sanad)nya, niscaya kami tidak akan menulis satu hadits pun dan tidak akan membolehkan penulisannya."[57]
  6. Shalih bin Kaisan berkata, "Saya berkumpul bersama az-Zuhri belajar ilmu, kemudian kami berkata, 'Kita akan menulis as-Sunnah,' maka kami pun menulis riwayat yang datang dari Nabi kemudian dia berkata, 'Kita akan menulis riwayat yang datang dari sahabat karena itu adalah sunnah', maka saya mengatakan, 'Menurutku itu bukan sunnah, maka janganlah kita menulisnya'." Shalih bin Kaisan berkata lagi, "Maka dia pun menulisnya, sedangkan saya tidak menulisnya, maka dia berhasil (menjaganya), sedangkan saya kehilangan (Sunnah Sahabat)."[58]
  7. Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dengan sanadnya kepada Imam Malik dia berkata, "Orang yang pertama mengkodifikasi ilmu (sunnah) adalah Ibnu Syihab az-Zuhri."[60]

Boleh jadi yang dimaksud dengan pengkodifikasian di sini adalah pengkodifikasian yang menyeluruh, yang memang pekerjaan itu dimulai oleh az-Zuhri atas perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada kesempatan lalu, kita telah membahas bahwa al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi telah membahas tema ini dalam bukunya Taqyid al-Ilmi dan menetapkannya dengan dalil-dalilnya bahwa kodifikasi hadits telah ada sejak masa Rasulullah , sahabat, dan tabi'in juga,[61] namun memang belum menyeluruh dan detail.


[1] Shahih Muslim, Muslim bin Hajjjaj an-Naisaburi, Kitab az-Zuhd, no. 72.

[2] Lihat Munaqasyah Dr. Muhammad Mushtafa al-A'zhami tentang riwayat ini dalam kitab Dirasat fi al-Hadits an-Nabawi. Lihat Dirasat fi al-Hadits an- Nabawi, Muhammad Mushtafa al-A'zhami, 1/76-97; dan telah banyak hadits-hadits yang membolehkan penulisan hadits -pada pembahasan yang akan datang-. Hadits-hadits tersebut shahih dan jelas. Ada beberapa pendapat lama dalam menggabungkan hadits-hadits ini di antaranya:

  1. Larangan ini termasuk penghapusan (naskh) hadits dengan hadits, maksudnya bahwa penulisan hadits awal mula dilarang karena khawatir bercampurnya al-Qur'an dengan yang lain. Ini pendapat Ibnu Qutaibah. ar-Ramahurmuzi al Khaththabi, dan lain-lain.
  2. Larangan ini bertitik tolak pada pelarangan menulis al-Qur'an dengan yang lain dalam satu lembar. Ini pendapat al-Khaththabi, al-Khathib al-Bughdadi, dan lain-lain.
  3. Diriwayatkan bahwa larangan ini dikhususkan kepada orang yang dikhawatirkan bersandar kepada tulisan saja tanpa menghafalnya, sedangkan pembolehan (untuk menuliskan as-Sunnah) adalah bagi orang yang aman dari hal tersebut. Hal ini disebutkan al-Khathib dalam Taqyid al-ilm.

Ada pula pendapat lain, tapi inilah yang paling masyhur.

[3] Al-Khathib dalam bab ini mendatangkan banyak atsar dengan jalan periwayatan yang berbeda-beda, akan tetapi kebanyakan riwayatnya dhaif. Syaikh Abdurrahman al-Mu'allimi telah mendebat riwayat yang dia keluarkan tentang hal tersebut dari para sahabat, dan menjelaskan kedha'ifannya. Dia berkata, "Ini -kalau hujjah atas apa yang kita ungkapkan di atas shahih- seandainya Nabi secara mutlak melarang penulisan hadits, maka Abu Bakar tidak akan mengumpulkannya kemudian membakarnya, Umar pun tidak akan bermaksud jelek kemudian berbuat adil, dan selain beliau berdua tidak akan menulis kemudian menghapusnya. Demikianlah riwayat-riwayat ini menyebutkan sebab-sebab mengapa hadits itu dikumpulkan kemudian dibakar, dan mengapa orang yang menulisnya kemudian menghapus tulisannya. Dari riwayat-riwayat ini tidak ada satu pun yang yang menyebutkan larangan Rasulullah atas hal tersebut" (Lihat, Al-Anwar al-Kasyifah, Abdurrahman bin Yahya al-Mu'allimi, no. 37-39).

[4] Lihat Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 57.

[5] Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 58; bisa juga dilihat pada kitab, Jami' Bayan al-'llm wa Fadhlihi, Ibnu Abdul Barr, 1/69.

[6] Lihat Shahih al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, Kitab al-'Ilm; Bab Kitabah al-'Ilm.

[7] Lihat Shahih al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, Kitab al-'Ilm; Bab Kitabah al-'Ilm.

[8] Lihat Shahih al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, Kitab al-'Ilm; Bab Kitabah al-'Ilm.

[9] Riwayat Imam Ahmad. Lihat al-Musnad, Ahmad bin Hanbal, 2/163; Sunan ad-Darimi, Abu Muhammad ad-Darimi, Bab Man Rukhkhisha fi Kitabah al-'Ilm, 1/103; Sunan Abi Dawud, Abu Dawud, Kitab al-'Ilm min Sunanihi, 4/60; Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib, 74-81: dari jalan yang berbeda-beda dan dengan lafazh yang bermacam-macam.

[10] Lihat beberapa riwayat dalam Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 65-73.

[11] Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 93-94.

[12] Penulis menerangkan riwayat-riwayat ini dari hal. 99-133, sedangkan al-Hafizh Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlihi meriwayatkan dari para tabi'in dan sahabat lihat Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 1/64-69.

[13] Taqyid al-'llm, Abu Bakar al-Khathib, hal 64-65.

[14] Al-Khathib berkata di akhir pasal keempat dari bagian ketiga, "Sungguh telah ada atsar yang masyhur dan khabar yang shahih dari Rasulullah dan salaf umat yang shalih tentang bolehnya menulis sunnah dan mengkodifikasikannya. Demikian pula riwayat yang membaguskan dan menghasankan kodifikasi sunnah yang mana apabila berbenturan -dengan kehendak Allah- dengan keraguan yang kuat, niscaya ia akan menghilangkannya, atau melawan dan menolak puncak keraguannya." Lihat Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 115-116.

[15] Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 57-60.

[16] Al-Qamus al-Muhith, al-Fairuz Abadi.

[17] lihat Taj al-'Arus, al-Murtadha az-Zabidi, 9/204.

[18] lihat Taj al-'Arus, al-Murtadha az-Zabidi, 6/168.

[19] Seperti Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib; Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlihi, Abu Umar Ibnu Abdil Barr, dan Dirasat fi al-Hadits an-Nabawi, Muhammad Musthafa al-A'zhami.

[20] Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 58.

[21] Dr. Muhammad Musthafa al-A'zhami menyebutkan banyak sekali contoh hal ini dalam kitabnya. Lihat Dirasat fi al-Hadits an-Nabawi, Muhammad Musthafa al-A'zhami, pasal pertama dari bab keempat, 1/92-142.

[22] Musnad al-Imam Ahmad, Ahmad bin Hanbal, 4/226.

[23] Riwayat Imam Muslim. Lihat Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, Kitab al-Imarah, hal. 10; dan Musnad Ahmad, Ahmad bin Hanbal, 5/89.

[24] Lihat Musnad Imam Ahmad, Ahmad bin Hanbal, 4/370-374, dan Tahdzib at-Tahdzib, Ibnu Hajar, 3/394.

[25] Sunan ad-Daruquthni, ad-Daruquthni, 4/93-94.

[26] Tahdzib at-Tahdzib, Ibnu Hajar, 4/236-237, dan Sunan Abi Dawud, Abu Dawud, 1/314-315, no. 456.

[27] Shahih al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, Kitab al-Jihad. no. 22 dan Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, Bab Jihad, no. 20.

[28] Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 96; Thabaqat Ibnu Sa'ad, Ibnu Sa'ad, 7/14.

[29] Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib. hal. 92; Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlih, Ibnu Abdil Barr, 1/72.

[30] Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib. hal. 92; Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlih, Ibnu Abdil Barr, 1/72.

[31] Thabaqat Ibnu Sa'ad, Ibnu Sa'ad, 6/116, Taqyid al-'Ilm, Aba Bakar al-Khathib, hal. 90

[32] Lihat Shahih al-Bukhari Ma'a al-Fath, Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, Kitab az-Zakat. Bab Zakat al-Ghaanam, 3/317. ao. 1454; Taqyid al-Ilm. Abu Bakar al-Khathib. hal. 87

[33] Shahih al-Bukhari, Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Kitab al-’Ilm, Bab Kitabah al-’Ilm, 1/204, no. 111; Taqyid al-Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 88; Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlih, Ibnu Abdul Barr, 1/71.

[34] Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al Khalhib. hal 84, Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadlihi, Ibnu Abdul Barr, 1/73, la adalah shahifah yang masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Lihat al-Musnad, Ahmad bin Hanbal. hal 158-226

[35] Lihat Fath al-Bari, Ibnu Hajar, 6/45, no 2833

[36] Dr Akram al-Umari menyebutkan dalam disertasinya dengan jelas, hal. 228 dan menyebutkan bahwa ia ada di perpuatakaan Syahid Ali di Turki

[37] Al Hafizh Ibnu Hibban menyenutkannya dalam al-Masyahir. lihai Masyahir Ulama al-Amshar, Ibnu Hibban, hal. 11, Tadzkirah al-Huffazh, adz-Dzahabi, 1/43; dan Dr. Akram Al-Umari menyebutkan bahwa ia ada di perpustakaan Syahid Ali. Ini sesuai dengan kutipan yang diambil dari Muqaddimah al-Khulashah, Shubhi as Samira'i hal 228

[38] Lembar (catatan) ini berisi 138 hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam al-Musnad, dan telah dicetak dengan tahqiq Muhammad Humaidillah.

[39] Taqyid al-’Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 100.

[40] Al-Khathib menyebutkannya pada beberapa riwayat dari Hasan. Lihat Taqyid al-’Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 101.

[41] Al-Khathib menyebutkan dalam beberapa riwayat dari Sa’id bin Jubair. Lihat Taqyid al-’Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 102-103.

[42] Taqyid al-’Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 107; Jami’ Bayan al-’Ilm wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 1/76.

[43] Taqyid al-’Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 107-108.

[44] Taqyid al-’Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 109.

[45] Lihat pasal kedua dan ketiga dari bab keempat, 1/143-220.

[46] Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 102-103; Sunan ad-Darimi, Abu Muhammad ad-Darimi, Bab Man Rakhkhasha fi Kitabah al-'Ilm.

[47] Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 101; Sunan ad-Darimi, Abu Muhammad ad-Darimi, Bab Man Rakhkhasha fi Kitabah al-Ilm.

[48] Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 105.

[49] Lihat Buhuts fi Tarikh as-Sunnah, Dr. Akram al-Umari, hal. 230; Dirasat fi al-Hadits an-Nabawi, Muhammad Musthafia al-A'zhami, 1/203.

[50] Terdapat 16 lembar di Maktabah azh-Zhahiriyyah Damaskus, Buhuts fi Tarikh as-Sunnah, Dr. Akram al-Umari, hal. 230.

[51] Lihat Dirasat fi al-Hadits an-Nabawi, Muhammad Musthafa al-A'zhami, 1/144.

[52] Terdapat 15 lembar di Maktabah azh-Zhahiriyyah Damaskus. Lihat Buhuts fi Tarikh as-Sunnah, Dr. Akram al-Umari, hal. 230.

[53] Terdapat 16 lembar di Maktabah azh-Zhahiriyyah Damaskus. Lihat Buhuts fi Tarikh as-Sunnah, Dr. Akram al-Umari, hal. 230.

[54] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Kitab al-'Ilm, Bab Kaifa Yuqbadhu al-'Ilm. Lihat Shahih al-Bukhari, Muhammad bin Isma’il

[55] Jami' Bayan al-’llm wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 1/76.

[57] Sunan ad-Darimi, Abu Muhammad ad-Darimi, Bab Man Rakhkhasha fi Kitabah al-'Ilm, 1/104; Taqyid al-’Ilm, Abu Bakar al-Khathib, hal. 106.

[58] Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib, Bab Man Rakhkhasha fi Kitabah al-'Ilm, hal. 107-108

[59] Taqyid al-'Ilm, Abu Bakar al-Khathib, Bab Man Rakhkhasha fi Kitabah al-'Ilm. haL 106-107; Jami’ Bayan al-'Ilm wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 1/76-77.

[60] Jami' Bayan al-’llm wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 1/76.

[61] Lihat pasal Pertama pada Bab ini

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya