Kitab Referensi

Kitab : Tadwin as-Sunnah Nabawiyah, Nasy' atuhu wa tathawwuruhu

PASAL KETIGA - SIKAP PARA PENGEKOR HAWA NAFSU DAN KELOMPOK SESAT TERHADAP AS-SUNNAH SEBAGAI HUJJAH

Sesungguhnya musuh-musuh Islam dari bangsa dan umat-umat -yang telah dikalahkan oleh Islam dan dihapus agama mereka dengan agama Islam-, tidak pernah tenang dan tentram sejak menyaksikan perkembangan Islam yang cepat dan akseptasi (penerimaan) anak cucu mereka yang besar terhadapnya. Oleh karena itu, mereka mulai menyusun konspirasi dan makar busuk untuk menghancurkan Islam dan umatnya.

Tatkala melawan Islam dan al-Qur'an secara terang-terangan tidak mungkin, maka para musuh Islam beralih kepada tipu muslihat dengan berpura-pura memeluk Islam dan menyembunyikan kekufuran dalam diri mereka. Kemudian mereka mulai menebarkan syubhat dan keraguan di kalangan umat Islam. Mereka mengarahkan busur keraguan mereka serta membidik anak panah syubhat ke arah as-Sunnah yang suci dan para perawinya. Padahal as-Sunnah adalah penjelas, penafsir dan pensyarah al-Qur'an. Maka mencela as-Sunnah berarti mencela al-Qur'an, dan mencela keduanya merupakan distorsi (penyimpangan) terhadap ajaran agama Islam. Inilah target dan tujuan para musuh Islam berupa keraguan dan syubhat yang telah mereka lemparkan. Dan ini pulalah yang menjadi target utama kemunafikan mereka memeluk Islam.

Di antara mereka yang munafik dan memiliki andil besar? dalam penyebaran keraguan dan syubhat sekitar as-Sunnah yang suci dan para perawinya adalah:
  1. Abdullah bin Saba', seorang Yahudi yang sangat terkenal dan masyhur di kalangan umat.[1]
  2. Susan, seorang Nasrani yang menjadi referensi Ma'bad al Juhani dalam mengambil bid'ah al-Qadar.[2]
  3. Ibrahim an-Nizham al-Mu'tazili. Imam adz-Dzahabi menyebutkan dari sebagian ulama bahwa Ibrahim menyembunyikan paham brahmanismenya dengan cara i'tizal (menyendiri) untuk merusak ajaran Islam.[3]
  4. Bisyr al-Marisi. Al-Khathib al-Baghdadi menyebutkan bahwa dia adalah putra seorang Yahudi yang dahulu membuat tutup kepala (topi) di Kufah. Dia menyembunyikan kezindikannya dengan cara i'tizal.[4]
  5. Jahm bin Shafwan yang mengadopsi pemikirannya dari golongan Sumaniyah (kelompok filsafat Hindu) dan Hindu. Orang ini telah merusak agama Islam dengan kerusakan yang belum pernah dilakukan oleh umat-umat lain.[5]

Dan masih banyak yang lain dari orang-orang yang menyembunyikan kezindikan mereka, kemudian Allah bongkar kedok mereka melalui tangan para ulama hadits dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah.[6]

Upaya para musuh Islam untuk memerangi as-Sunnah terkonsentrasi pada poin-poin berikut ini:

  1. Penolakan as-Sunnah dengan rasionalitas (akal) mereka.
  2. Mencela para perawi hadits berlandaskan nafsu belaka.
  3. Membuat hadits palsu atas nama Rasulullah dan menisbatkannya kepada as-Sunnah. Hadits-hadits terkadang menentang as-Sunnah atau menyalahi akal sehat dan realita yang sudah pasti (aksioma). Itu dimaksudkan untuk mencela hadits dan perawinya, sementara keduanya terbebas dari celaan tersebut.

Bentuk-bentuk penolakan terhadap as-Sunnah dengan sekedar berlandaskan hukum akal :

  1. Penolakan mutlak (total).
  2. Penolakan hadits ahad saja.
  3. Dan dapat dianalogikan dengan penolakan hadits ahad, penolakan terhadap tambahan teks dengan asumsi bahwa sebab penolakan tambahan tersebut adalah statusnya termasuk hadits ahad.

Dan berikut ini akan saya jelaskan secara lugas masing-masing poin tersebut :

Penjelasan Pertama: Penolakan terhadap as-Sunnah Secara Mutlak

Kesimpulan perkataan penganut pendapat ini adalah bahwa al-Qur'an sendiri sudah cukup sebagai representasi ajaran Islam itu sendiri, dan tidak butuh terhadap as-Sunnah, hanya saja sebagian mereka mengecualikan sunnah aplikatif (amaliyah) seperti perincian tuntunan shalat, zakat, dan sebagainya.

Benih pemikiran ini mulai muncul pada akhir masa sahabat, yang bersumber dari sikap individu sebagaimana diisyaratkan cdeh j nash-nash berikut ini:

1. Dari al-Hasan al-Bashri bahwa suatu ketika Imran bin Hushain duduk bersama para sahabatnya. Lalu seorang laki-laki dari kaum tersebut berkata kepadanya, "Janganlah kamu menyampaikan (sesuatu) kepada kami kecuali al-Qur'anl" Dia menjawab. "Mendekatlah kepadaku!" Dia pun mendekat. Kemudian j dia berkata kepadanya, "Bagaimana pendapatmu seandainya kamu bersama teman-temanmu hanya bersandar pada al-Qur'an, apakah kamu dapatkan di dalamnya Shalat Zhuhur empat rakaat dan Ashar empat rakaat...?”[7]

2. Dari Ayyub as-Sakhtiyani bahwa seorang lelaki berkata kepada Mutharrif bin Abdillah bin asy-Syikhkhir, "Jangan sampaikan kepada kami kecuali yang berasal dari al-Qur'an!" Mutharrif berkata, "Demi Allah, kami tidak ingin mengganti al-Qur'an, namun kami menginginkan orang yang lebih paham daripada kami tentang al-Qur'an.[8]

3. Dari Abu Amr al-Auza'i. dia berkata, Ayyub as-Sakhtiyani berkata, "Apabila kamu menyebutkan kepada seseorang sebuah hadits, lalu orang itu berkata, 'Jauhkan dari kami perkataan itu, dan ceritakanlah al-Qur'an (saja) kepada kami', maka yakinilah bahwa | dia adalah orang yang sesat dan menyesatkan.'[9]

Hai ini nampaknya hanya sebagai sikap individu, dan belum menjadi watak jamaah kecuali pada akhir abad kedua. Akan tetapi kita belum menemukan pengetahuan yang cukup tentang golongan-golongan tersebut kecuali apa yang terdapat dalam kitab Juma' al-Ilmi dari kitab al-Umm karya Imam asy-Syafi'i. Beliau menulis bab tentang hikayat perkataan golongan yang menolak seluruh hadits,[10] kemudian beliau membantah pendapat mereka.

Ar-Rafidhah termasuk golongan yang menolak as-Sunnah secara mutlak. Sebab di antara akidah sesat mereka adalah memurtadkan para sahabat kecuali segelintir dari mereka. Dengan dasar ini, seluruh hadits yang diriwayatkan para sahabat maka ia tertolak, lebih-lebih mereka menuduh para sahabat tersebut berdusta dan berkhianat dalam menyampaikan risalah Nabi dan bahwa mereka menyembunyikan 90 persen dari al-Qur'an. Adapun sesuatu yang menjadi landasan amal yang mereka sebut sebagai as-Sunnah atau Hadits, maka pada hakikatnya adalah neo ideologi (ajaran baru) yang dibuat oleh Abdullah bin Saba' al-Yahudi, dan penggabungan ajaran Yahudi dan Islam, selanjutnya mereka setelah itu membuat-buat sanad-sanad dari para Ahlul Bait (para keluarga Nabi), padahal semua itu adalah dusta dan bohong. Para Ahlul Bait dan pengikutnya berlepas diri dari mereka dan agama mereka sebagaimana berlepas dirinya serigala dari darah Nabi Yusuf .

Semua ajaran Islam -baik al-Quran atau as-Sunnah-, tidak ada jalan bagi umat ini untuk mengetahuinya (berasal) dari Nabi melainkan melalui para sahabat. Maka barangsiapa menolak hadits yang datang dari mereka, lalu dari mana lagi dia mendapatkan cara lain untuk mengetahui hadits-hadits yang berasal dari Rasulullah ?

Dan untuk mendapatkan penjelasan lebih terperinci tentang sikap Golongan Rafidhah terhadap as-Sunnah yang suci, hendaklah merujuk kepada kitab Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah yang ditulis oleh Imam Syaikhul Islam al-Hafizh Ibnu Taimiyah atau Mukhtasarnya yang ditulis oleh Abdullah bin Muhammad al-Ghunaiman, atau apa yang ditulis oleh al-Hafizh as-Suyuthi dalam kitabnya Miftah al-Jannah fi al-Ihtijaj bi as-Sunnah, dan ar-Raudh al-Basim fi adz-Dzabbi 'an Sunnati Abi al-Qasim, karya al-Hafizh Ibnu al-Wazir al-Yamani yang meninggal dunia pada 840 H.

Ini penolakan terhadap as-Sunnah yang terjadi pada masa terdahulu. Sementara yang terjadi pada masa kini, maka penjajahan para kolonial Barat hampir tidak pernah berhenti untuk menyempurnakan hegemoni kekuasaan mereka terhadap negeri Islam, hingga mereka -melalui tangan missionaris dan orientalis- mulai menghidupkan bid'ah-bid'ah, pemikiran menyimpang, aliran dan kelompok yang memusuhi Islam, serta gerakan yang telah disemai oleh para pendahulu mereka dari kalangan yang memusuhi Islam yaitu kaum Yahudi, Nasrani, Majusi, dan Shabi'ah (penyembah bintang dan bulan).

Di antara bid'ah dan pemikiran sesat yang dikembangkan oleh para penjajah melalui tangan umat Islam yang pandir yang telah menggadaikan kehormatan mereka kepada para penjajah yang ditukar dengan segenggam uang poundsterling adalah propaganda penolakan terhadap as-Sunnah, dan propaganda merasa cukup dengan aI-Qur'an saja. Al-Qur'an sudah representatif menurut asumsi mereka, namun pada hakikatnya mereka bermaksud menolak Islam secara total, baik al-Qur'an atau as-Sunnah.

Di semenanjung benua India, Kolonial Inggris mampu membeli sekelompok orang yang mengklaim diri mereka sebagai ulama. Kemudian menjadikan mereka sebagai tunggangan untuk mengingkari jihad dengan pedang dan meyakinkan umat Islam dengan hal tersebut. Itu terjadi setelah Inggris tertimpa dua perkara melalui tangan pergerakan jihad yang bangkit melawan mereka di seluruh pelosok wilayah India.

Di antara para propagandis yang menyeru kepada pembatalan jihad (anti jihad senjata) adalah Jrag Ali dan Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani.

Selanjutnya hal ini berkembang menjadi pembentukan kelompok lain yang mempropagandakan penolakan terhadap as-Sunnah secara mutlak (total) dan merasa cukup dengan al-Qur'an semata. Madrasah ini dipimpin oleh Sayyid Ahmad Khan, Abdullah JKR Eloy dan Ahmaduddin Alomrtsri dan selainnya. Kemudian muncul Ghulam Ahmad Pervez, lalu mendirikan sebuah organisasi dengan nama Ahlul Qur'an, sebagaimana dia juga menerbitkan majalah bulanan dan beberapa kitab yang mendukung propaganda tersebut[11]

Sedangkan di negeri Arab, yang bertanggungjawab terhadap dakwah menolak as-Sunnah dan mencukupkan dengan al-Qur'an saja adalah dua kelompok:

Kelompok Pertama, terdiri dari orang-orang yang mengklaim diri sebagai pengikut madrasah (aliran) pembaharuan yang didirikan di wilayah Kinanah (maksudnya Arab), Mesir di bawah bimbingan Muhammad Abduh bersama Syaikhnya yang mengaku bernama Jamaluddin al-Afghani.

Pemikiran aliran ini tersebar melalui dua media:

1. Majalah al-Manar, pimpinan redaksi dan pendirinya adalah Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, salah seorang tokoh terkemuka pergerakan pembaharuan (Ishlahiyah). Majalah ini menerbitkan rangkaian makalah dengan judul al-Islam Huwa al-Qur'an Wahdahu[12] yang ditulis oleh Dr. Taufik Shidqi. Makalah tersebut mendapat dukungan dari Syaikh Rasyid Ridha. Hanya saja dia menambahkan lumpur itu menjadi semakin basah ketika membagi as-Sunnah menjadi ajaran umum, yaitu Sunnah Amaliyah yang wajib diterima, dan ajaran khusus atau selain Sunnah Amaliyah, di mana kita tidak melazimkan diri kita untuk mengambilnya.[13]

2. Kitab Adhwa' 'ala as-Sunnah al-Muhammadiyyah yang ditulis oleh Abu Rayyah[14]

Kelompok Kedua, terdiri dari para penulis dan sastrawan, mereka juga berasal dari anak-anak Arab yang tumbuh besar dalam asuhan para musuh Islam dari kaum Yahudi, Nasrani dan orientalis di beberapa universitas di Perancis, Jerman dan Inggris. Akal mereka diberi makanan para musuh tersebut dan hati mereka terkontaminasi racun syubhat dan keraguan yang disuguhkan oleh guru-guru mereka dari kalangan orientalis. Kemudian mereka kembali ke negeri Islam sebagai duta musuh-musuh Allah dan RasulNva untuk menyebarluaskan syubhat dan keragu-raguan di kalangan umat Islam. Di antara tokoh para sastrawan yang kitab-kitab mereka penuh berisi celaan terhadap as-Sunnah dan perawinya dan menyeru pada propaganda penolakan as-Sunnah, adalah Thaha Husein, Ahmad Amin, dan selain keduanya.

Penjelasan Kedua: Penolakan terhadap Hadits Ahad

Tidak ada perbedaan pendapat antara ulama tiga generasi terbaik mengenai kewajiban mengamalkan sunnah tanpa membedakan antara hadits yang kemudian, disebut hadits ahad dan hadits mutawatir, dan antara hadits yang disebut sebagai ushuluddin dengan hadits furu' (bersifat cabang, bukan akidah). Pengklasifikasian tersebut baru dan bid'ah.[15] Bahkan ketika muncul para penebar fitnah pada masa generasi salaf pertama dan menolak sunnah, maka para ulama bersatu padu menentang mereka dan memperingatkan manusia akan kesesatan mereka.

Lihatlah Ayyub as-Sakhtiyani -sebagaimana telah dijelaskan di muka- berkata, "Apabila kamu menyampaikan hadits kepada seseorang, lalu dia berkata, 'Jauhkanlah ini dariku dan kabarkan kepada kami sesuatu yang ada dalam al-Qur'an saja’, maka ketahuilah bahwa dia telah sesat dan menyesatkan."

Imam asy-Syafi'i telah membuat dua pasal tentang bantahan terhadap ahli bid'ah yang telah membuat propaganda bohong untuk meninggalkan semua atau sebagian as-Sunnah.

Pasal pertama tentang bantahan terhadap kelompok yang menolak as-Sunnah secara mutlak (total). Hal tersebut termuat dalam kitab Juma' al-Ilm yang dicetak menjadi satu dengan kitab al-Umm karyanya. Dan pasal kedua yang berisi bantahan terhadap golongan yang menolak hadits ahad secara spesifik yang terdapat dalam kitabnya, ar-Risalah.

Dan begitulah sikap ulama salaf yang lain. Mereka mengasingkan para ahli bid'ah di rumah-rumah mereka, dan memperingatkan umat Islam dari (bahaya) mereka dan bid'ah yang mereka sebarkan.

Orang yang mengkaji "sejarah munculnya bid'ah propaganda penolakan hadits ahad" akan mendapatkan hal-hal berikut ini:

1. Propaganda seperti ini tidak akan muncul kecuali dari tangan ahli bid'ah, para budak nafsu, dan golongan-golongan yang tertuduh cela dalam agama mereka, berupa Jahmiyah, Mu'tazilah, dan Ahli Kalam. Mayoritas pemimpin kelompok ini adalah orang yang tertuduh dengan zindiq (atheis yang berpura-pura beriman) atau mengadopsi pemikiran dan ideologi musuh Islam, atau setidak-tidaknya tertuduh sebagai orang yang memiliki pemahaman agama yang sangat dangkal. Sebagaimana komentar Imam adz-Dzahabi mengenai al-Jahizh, "Dia adalah orang yang tidak tahu malu dan sedikit agamanya...".[16]

Al-Khathib al-Baghdadi menyebutkan (riwayat) dengan sanadnya kepada Ibnu Abi adz-Dzayyal bahwa al-Jahizh dulu tidak melaksanakan shalat.[17]

2. Hakikat propaganda ini adalah penolakan as-Sunnah dengan berlandaskan hukum akal atau hawa nafsu belaka. Sebab penolakan mereka terhadap hadits ahad, karena berlandaskan pembenaran rasio mereka bahwa seorang perawi mungkin berdusta atau keliru. Kemudian mereka mentakwil atau menghilangkan (makna pengertian) hadits mutawatir hanya karena tidak sesuai dengan rasionalitas mereka. Padahal rasio mereka itu berbeda-beda, berkontradiktif, dan memiliki keterbatasan.[18]

3. Propaganda ini selama tiga generasi bahkan empat generasi awal tidak diketahui berkembang dan muncul -sebagaimana terjadi pada abad-abad setelahnya-. Itu berkat karunia Allah , kemudian pengorbanan para ulama salaf yang telah Allah persiapkan untuk menjaga kemurnian Sunnah sekaligus menyampaikannya kepavk manusia. Mereka senantiasa berjuang untuk menghidupkan sunnah dan mengubur bidah-bidah dalam liangnya. Semoga Aliah merahmati mereka dan memberikan balasan terbaik atas jasa mereka dalam membela agama Islam dan umatnya.

Tidaklah propaganda ini -sepengetahuanku- muncul dan tersebar melainkan pada abad kemunduran, munculnya bid'ah-bid'ah dan jatuhnya kepemimpinan umat Islam ke tangan ahli bid'ah dan para pengikut hawa nafsu. Yaitu sejak awai abad kelima hijriyah dan abad-abad setelahnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata daLam membantah para penganut paham ini dari kalangan kaum sezamannya, Dalih mereka ini adalah bahwa mereka merujuk dalam permasalahan ini kepada perkataan Ibnu al-Hajib yang mereka dapati. Apabila mereka naik setingkat, maka mereka akan naik ke pendapat Sai-fuddin al-Amidi dan Ibnu al-Khathib ar-Razi. Dan apabila sanad mereka tinggi (kuat), maka mereka akan naik pindah ke pendapat al-Ghazali, al-Juwaini, dan al-Baqillani.[19] Jika tidak (demikian), maka ulama salaf telah sepakat menerima hadits ahad dan mengaplikasikannya tanpa membeda-bedakannva dengan hadits yang lain.[20]

4. Propaganda tentang penolakan hadits ahad ini tersebar pada abad kelima dan setelahnya, yaitu rentang masa di mana ilmu kalam dan Manthiq Yunani telah mendominasi atas pengetahuan Islam (ulum syar'i) dan menguasai pemikiran para ulama pada masa itu, dan selanjutnya ilmu manthiq dan ilmu kalam merusak kebanyakan tatanan ilmu pengetahuan Islam. Bukti paling autentik terhadap kondisi ini adalah bahwa zaman di mana Ilmu Kalam dan Ilmu Manthiq telah menguasai pemikiran umat sejak awal abad kelima hingga akhir abad ketujuh merupakan masa umat Islam mengalami stagnasi pemikiran dan produktifitas. Ia merupakan masa menyebarnya bid'ah dan kebathilan, merajalelanya ahli kebathinan, filsafat dan sufisme. Masa yang dijadikan momentum oleh musuh-musuh Islam dari kaum Salibis dan Mongol untuk menyerang umat Islam dan merontokkan sistem khilafah.

Umat ini belum bangun dari tidur panjangnya dan bangkit dari stagnasinya serta dari daki ilmu manthiq dan kalam kecuali melalui tangan generasi madrasah salaf yang berpegang teguh kepada Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah, -pengikut tiga generasi salaf yang terbaik-. Itulah madrasah Ibnu Taimiyah dan para muridnya. Itu terjadi pada penghujung abad ketujuh dan awal abad kedelapan Hijriyah.

Sedangkan disiplin ilmu yang paling banyak terpengaruh oleh Ilmu Kalam adalah Ilmu Ushul Fiqh, disusul ilmu Ushul Hadits setelah abad kelima Hijriyah.

5. Setelah menyebarnya propaganda ini di kalangan para ulama, maka pemikiran mereka terangkum dalam tiga madzhab :

Madzhab Pertama: Khabar ahad hanya mengandung pengertian zhatini (berdasarkan sangkaan). Mereka terdiri dari dua kelompok; kelompok pertama, Mu'tazilah dan orang yang mengikuti manhaj mereka berpendapat bahwa khabar ahad hanya menghasilkan zhann dan tidak menghasilkan ilmu (keyakinan) dan tidak wajib diamal-kan. Oleh karena itu, mereka menolak khabar ahad dalam hal akidah dan hukum.

Kelompok kedua, Ulama Kalam Asy’ariyah. Mereka berpendapat bahwa khabar ahad memang bermakna zhann, tetapi boleh beramal dengan zhan rajih (praduga yang kuat) dalam hukum, bukan akidah.

Dalil madzhab Ini, yaitu seandainya kamu ditanya tentang -orang perawi hadits ahad yang paling adil mungkinkah -secara akal dia berdusta atau keliru? Niscaya kamu akan terpaksa mengatakan, "Ya." Sehingga dikatakan, "Pemastianmu tentang predikat kejujurannya, sementara kamu menyatakannya mungkin melakukah tindakan dusta dan keliru adalah tidak memiliki makna untuk nya.[21]

Madzhab Kedua: Hadits Ahad menghasilkan ilmu (yakin), dan wajib diamalkan jika para perawinya adalah orang-orang yang adil dan seksama (dhabith).

Abu Muhammad bin Hazm mengatakan bahwa Abu Sulaiman al-Khaththabi, al-Husain bin Ali al-Karabisi, al-Harits al-Muhasibi dan lainnya berkata, "Sesungguhnya hadits ahad yang diriwayatkan oleh seorang yang adil dari orang yang adil pula hingga tersambung kepada Rasulullah adalah mewajibkan ilmu yakin dan amal secara bersamaan. Kami sepakat dengan pendapat ini. Pendapat serupa juga dikatakan oleh Ahmad bin Ishaq yang terkenal dengan nama Ibnu Khuwaiz Mindad dari Malik bin Anas.[22]

Kemudian Ibnu Hazm mulai menyebutkan bukti-bukti yang digunakan ulama salaf untuk menerima hadits seorang sahabat dan orang setelahnya.[23]

Kebanyakan dalil dan bukti yang disebutkan -dan itu yang penting dan bermanfaat- telah disebutkan oleh Imam asy-Syafi'i dalam kitab ar-Risalah.[24]

Madzhab Ketiga: Hadits Ahad memerlukan perincian. Apabila hadits ahad memiliki qarinah (konteks) yang menunjukkan kejujuran perawinya, maka ia mengandung makna yakin. Dan jika tidak, maka mengandung makna zhann (praduga).

Di antara hadits ahad yang memiliki qarinah adalah hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahik Muslim, karena qarinah telah menunjukkan kebenarannya disebabkan kebesaran kedua imam ini dalam bidang hadits, dan keduanya , paling dahulu dalam memisahkan hadits yang shahih dan selain keduanya. Para ulama telah bersepakat untuk menerima kedua kitab tersebut. Konsensus ini semata adalah lebih kuat untuk menghasilkan ilmu (yakin) dibandingkan sekedar banyaknya jalur riwayat saja sebagaimana dijelaskan oleh tidak hanya satu ulama. Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu al-Hajib, Imam al-Haramain, al-Amidi, al-Baidhawi, dan Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah Sebagian ulama ada yang memahami riwayat pendapat dari Ahmad bahwa hal ini untuk hadits yang memiliki qarinah atas kebenarannya, bukan yang lainnya[25]

Terdapat dua hal yang harus diperhatikan:

Pertama, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Adapun pernyataan penanya, 'Apabila suatu hadits itu shahih, apakah berarti itu benar?' Jawabnya adalah bahwa hadits shahih itu bermacam-macam:

1. Di antara hadits shahih adalah hadits yang lafazhnya mutawatir, seperti hadits,

من كذب علي متعمداً فليتبوأ مقعده من النار

"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari api nerakal"

2. Di antara hadits shahih adalah hadits yang maknanya mu-tawatir, seperti hadits-hadits tentang syafa'at, ru'yah (melihat Allah), hadits-hadits tentang memancarnya air dari jari telunjuk Nabi , dan lain sebagainya. Hadits-hadits seperti ini mengandung makna yakin dan harus dipastikan kebenarannya, karena hadits-hadits tersebut mutawatir, baik lafazh atau maknanya.

3. Di antara hadits shahih adalah hadits yang telah diterima oleh kaum Muslimin lalu mereka mengamalkannya sebagaimana mereka mengamalkan hadits tebusan dengan ghurrah (hamba putih yang harganya seperlima diyat) dalam membunuh janin, hadits syafa'at, sujud sahwi, dan lain sebagainya. Semua itu menghasilkan ilmu (yakin) dan dapat dipastikan kebenarannya, karena umat Islam telah menerimanya dalam bentuk pembenaran dan pengamalan terhadap tuntutan hukumnya. Sedangkan umat ini tidak mungkin sepakat dalam kesesatan. Maka kalau ada kedustaan dalam hal itu, berarti umat ini telah sepakat untuk membenarkan para pendusta dan mengamalkan kedustaan itu. Dan hal ini tidak boleh terjadi menimpa umat.

4. Di antara hadits shahih adalah hadits yang telah diterima dan dibenarkan oleh ulama hadits, seperti kebanyakan hadits hadits yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Seluruh ulama hadits telah memastikan keshahihan keduanya, sedangkan semua orang mengikuti mereka dalam mengetahui sebuah hadits. Dan apabila ulama telah bersepakat dalam suatu hal kemudian diikuti oleh semua umat, maka konsensus mereka adalah terpelihara dari kesalahan, karena mereka tidak boleh bersepakat atas kekeliruan.

5. Di antara hadits shahih juga adalah hadits yang telah disepakati keshahihannya oleh para ulama, maka ia seperti hukum-hukum syar'i yang telah disepakati kebenarannya oleh para ulama Dan ini tidak akan terjadi kecuali karena kebenaran. Mayoritas matan hadits shahih termasuk dalam kategori ini, dan umumnya matan ini diriwayatkan dari Rasulullah melalui beberapa jalan, yang diriwayatkan seorang perawi dan perawi lain tanpa ada kesepakatan. Hadits seperti ini mewajibkan ilmu (yakin) qath'i (pasti).

6. Di antara hadits yang dikatakan shahih adalah hadits yang dishahihkan oleh sebagian ulama hadits, sedangkan sebagian lainnya menentang penshahihannya seraya mengatakannya sebagai hadits dhaif, bukan shahih. Seperti lafazh-lafazh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, tetapi ulama ; lainnya menentangnya dalam menshahihkannya, baik statusnya sederajat, atau di bawahnya, atau bahkan lebih tinggi daripadanya. Hadits seperti ini tidak bisa dipastikan kebenarannya kecuali dengan dalil.. ,"[26] Dinukil secara ringkas.

Kedua, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi berkata, "Ketahuilah bahwa ketentuan hukum yang tidak boleh disimpangkan darinya adalah bahwa khabar ahad yang shahih sebagaimana bisa diterima dalam masalah furu'iyyah maka bisa juga diterima dalam masalah ushuliyah (akidah). Oleh karena itu, semua hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah yang betul-betul diriwayatkan dari Rasulullah dengan sanad yang shahih adalah wajib ditetapkan dan diyakini sesuai dengan kesempurnaan Allah dan keagungan-Nya sebagaimana FirmanNya,

ليْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa denganNya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (As-Syura: 11).

Dengan ini, kamu bisa mengetahui bahwa sesuatu yang dipraktekkan oleh ahli kalam dan pengikutnya bahwa hadits ahad tidak bisa diterima dalam menetapkan akidah atau dijadikan dalil untuk menetapkan sifat-sifat Allah dengan klaim mereka bahwa khabar ahad tidak memiliki ilmu yakin, dan bahwa akidah harus dengan ilmu yakin, semua itu bathil dan tidak bisa dijadikan sandaran. Dan cukuplah tampak kebathilannya dengan bahwa ia menuntut penolakan terhadap semua riwayat yang shahih yang tsabit dari Rasulullah hanya dengan hukum akal.

Padahal akal sangat lemah di hadapan keagungan sifat-sifat Allah . Telah menjadi kebiasaan ahli kalam bahwa mereka mengklaim bahwa sesuatu yang mereka sebut dalil aqli, -yaitu qiyas manthiqi (analogi logika) yang mereka rangkai dari terminologi mereka- lebih utama daripada wahyu (dalil naqli). Ini merupakan kebathilan paling besar, karena dalil aqli yang mereka klaim menghasilkan hukum qath'i (ilmu pasti) adalah kebodohan yang nyata dan tindakan membabi buta dalam kesesatan.

Di antara bukti paling autentik dan tegas dalam hal ini adalah bahwa kelompok ini mengatakan, "Sesungguhnya akal menolak sifat tertentu dan menetapkan sebagian sifat yang lain, dan menafikan nash-nash wahyu berdasarkan asumsi tersebut." Kemudian muncul tandingan mereka dari golongan lain seraya mengatakan, "Klaim kalian bahwa akal menolak sifat tertentu adalah dusta, akan tetapi akal telah mewajibkannya. Dan klaim kalian bahwa akal menerima atau mewajibkannya adalah tidak benar, bahkan akal telah menolaknya." Hal seperti ini banyak ditemukan dalam ilmu kalam pada banyak permasalahan yang terkenal, seperti perbedaan mereka tentang perbuatan hamba, mungkinnya melihat Allah dengan mata, dan apakah materi itu kekal dalam dua masa, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, seorang Muslim wajib menerima semua hadits tsabit yang berasal dari Rasulullah dengan sanad yang shahih, dan harus mengetahui bahwa jika dia tidak bisa memperoleh petunjuk dan keselamatan dengan mengikuti sunnah Nabi maka dia tidak akan mendapatkannya dengan hanya mengikuti hukum akal yang sesat dalam gelapnya kebingungan dan kejahilan. Sehingga bagaimanapun juga, menetapkan sifat-sifat Allah dengan hadits ahad yang shahih dan mengimaninya adalah seperti mengamalkan tuntunan perintah dan larangan Allah . Sebagaimana perintah dan laranganNya bisa ditetapkan dengan khabar ahad, maka begitu pula halnya dengan sifat-sifat Allah. Dan telah kami jelaskan bahwa khabar ahad ditinjau dari salah satu dari dua sisi adalah qath'i.[27]

Penjelasan Ketiga: Penolakan Penambahan Nash

Imam Abu Abdillah asy-Syafi'i mengatakan, "Saya tidak pernah mengetahui ada perbedaan pendapat di antara para ulama bahwa hadits bisa diklasifikasikan menjadi tiga, kemudian dua di antaranya mereka sepakati:

Pertama: Sesuatu yang mana Allah menurunkan di dalamnya nash al-Qur an, kemudian Rasulullah menjelaskannya persis seperti yang terdapat dalam nash al-Qur'an tersebut.[28]

Kedua: Sesuatu yang Allah turunkan dalam bentuk global. Kemudian Rasulullah menjelaskan maksud yang Allah kehendaki.[29] Dua bentuk ini tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama.

Ketiga: Sesuatu yang disunnahkan Rasulullah dalam sesuatu yang tidak terdapat dalam nash al-Qur'an.[30] Bentuk yang terakhir inilah yang dimaksudkan dengan penambahan nash menurut terminologi ahli ushul fiqh,[31]

Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi mengatakan, "Penambahan nash memiliki dua tingkatan:

Pertama: Penambahan yang memiliki korelasi dengan yang ditambahkan dalam bentuk selain syarat, seperti penambahan kata taghrib (pengasingan) bagi jejaka yang berzina untuk seratus kali cambukan.

Kedua: Penambahan yang memiliki korelasi dengan yang ditambahkan sebagai keterkaitan syarat dengan yang disyaratkan.

Pada hakikatnya dua tingkatan ini memiliki hukum yang sama, yang pertama penambahan bagian, sedangkan yang kedua penambahan syarat. Hukum penambahan keduanya adalah sama, karena pengasingan adalah bagian dari hukuman, maka penambahannya terhadap hukuman cambuk merupakan penambahan hukuman sebagaimana yang telah jelas.[32]

Madzhab jumhur ulama -dan itu pendapat yang zahir- adalah bahwa jenis ini tidak termasuk nasikh, karena ia tidak menghapus hukum syar'i, namun hanya menghapus bara'ah ashliyah (pembebasan hukum yang asal) yang berupa ibahah aqliyah (pembolehan menurut akal), la merupakan Istishhab al-Adam al-Ashli (penyerta ketidakadaan yang asal) hingga muncullah dalil yang merubahnya. Penambahan seperti ini adalah penambahan sesuatu yang tidak terdapat dalam nash yang pertama, sehingga tidak menampilkan ketegasan penetapan dan tidak pula penafian.

Namun Imam Abu Hanifah menyelisihi pendapat jumhur dalam hal ini. Dia menolak keberadaan taghrib (pengasingan) sebagai bagian dari hukuman walaupun terdapat hadits shahih yang menjelaskannya seraya dia berkata, "Sesungguhnya hukuman cambuk semata sudah cukup, dan penambahan taghrib (pengasingan) menunjukkan bahwa hukuman tersebut tidak cukup, dan harus ditambah dengan pengasingan. Dan ini merupakan nasakh terhadap kesempurnaan hukuman cambuk. Ini berdasarkan pendapat bahwa hadits mutawatir tidak bisa dinasakh dengan hadits ahad, karena ayat tentang hukuman cambuk mutawatir sedangkan hadits tentang pengasingan adalah ahad." Maksud perkataan Abu Hanifah adalah bahwa penambahan nash merupakan nasakh, sedangkan hadits mutawatir tidak bisa dinasakh dengan hadits ahad.

Begitu pula yang dikatakan oleh jumhur ulama bahwa pensyaratan "iman" bagi seorang budak dalam kaffarat sumpah dan zhihar bukanlah nasakh. Berpegang teguh dengannya adalah suatu kelaziman, demi membawa (kaidah) hukum muthlaq, -yaitu budak dalam kaffarat sumpah dan zhihar- ke dalam hukum muyayyad, yaitu kaffarat membunuh karena kesalahan (Qatl al-Khata'). Namun Abu Hanifah tidak memperbolehkannya dengan alasan penambahan nash merupakan nasakh.

Jurnhur mengatakan, "Jenis tambahan ini tidak kontradiktif dengan nash yang pertama. Sedangkan nasikh dan mansukh mensyaratkan harus kontradiktif, di mana keberadaan salah satunya meniadakan yang lain, dan keduanya tidak mungkin digabungkan."[33]


[1]. Lihat kembali kitab Abdullah bin Saba’ wa Atsaruhu fi al-Fitnah fi Shadr al Islam, Dr. Sulaiman bin Hamd al-Audah.

[2] Lihat biografi Ma'bad al-Juhani dalam kitab Tahdzib al-Kamal, al-Mizzi; Misan al-I’tidal, adz-Dzahabi dan Tahdzib at-Tahdzib, Ibnu al Hajar; Mizan al-I’tidal adz-Dzahabi. (Sekelompok sekte Qadariyah mengingkari keadaan Sang Pencipta mengetahui suatu perbuatan hamba sebelum terjadi pada mereka).

[3] Lihat biografinya dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala, Abu Abdullah adfr Dzahabi, 10/542.

[4] Lihat kitab Radd ’ala Bisyr al-Marisi, ad-Darimi; Tarikh Baghdad, ahKhathib al-Baghdadi, 7/56 dan setelahnya; dan kitab Khalqu 'Afal al-Ibad, Muhammad bin Isma’il al-Bukhari.

[5] Lihat ar-Radd ’ala al-Jahmiyah, Ahmad bin Hanbal, haL 101-105; Fath al-Bari Ibnu Hajar, 13/345.

[6] Didatangkan salah seorang zindik -untuk dibunuh- kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, lalu zindik ini berkata, "Bagaimana (sikap) mu dengan seribu hadits yang telah saya palsukan?" Dia menjawab, "Bagaimana sikapmu wahai musuh Allah dari tindakan Abu Ishaq al-Fazari dan Ibnu al-Mubarak. Keduanya akan menghilangkannya dan mengeluarkannya huruf demi huruf (dari hadits palsu tersebut)." Lihat, Tadzkirah al-Huffazh, adz-Dzahabi, 1/273.

[7] Telah lalu takhrijnya di pasal awal

[8] Telah lalu takhrijnya di pasal awal

[9] Telah lalu takhrijnya di pasal awal

[10] lihat al-Umm, Muhammad bin Idris asy-Syafi'i, 7/273

[11] Banyak kitab-kitab yang telah ditulis dalam membantah perkumpulan (organisasi) ini, pada umumnya berbahasa Urdu. Di antara yang terbaik dari kitab-kitab yang membantah kelompok ini -menurut pengetahuanku- adalah kitab al-Qur'aniyun wa Syubhatukum Haula as-Sunnah, sebuah thesis magister yang ditulis oleh Khadim Husain Bakhsy pada jurusan Aqidah di Universitas Ummu al-Qura' dan dicetak di Maktabah ash-Shiddiq di Thaif.

[12] Majalah al-Manar -tahun kesembilan- edisi 7/12.

[13] Lihat kitab Dirasat fi al-Hadits an-Nabawi, al-A’zhami, 1/26-27. Al-Ustadz as-Siba'i menjelaskan bahwa Rasyid Ridha telah rujuk dari hal tersebut di akhir hayatnya Demikianlah Dr. al-A’zhami menukilkan hal itu dalam kitab Dirasat fi al-Hadits an-Nabawi. Lihat Dirasat fi al-Hadits an-Nabawi, Muhammad Mushtafa al-A’zhami, 1/27.

[14] Kitab bantahan terhadap Abu Rayah banyak sekali, dan yang terbaik adalah as-Sunnah wa Makanatuha fi at-Tasyri’ al-Islami, Mushthafa as-Siba'i, dan al-Anwar al-Kasyifah, Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimi.

[15] Lihat Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, Ibnu al-Qayyim, 2/413.

[16] Lihat Siyar Alam an-Nubala adz-Dzahabi, 11/527.

[17] Lihat Tarikh Baghdad, Khathib al-Baghdadi, 12/217.

[18] Lihat sebagai contoh, pernyataan Abu al-Ma’ali al-Juwaini dalam Kitab al-Irsyad, hal 146-148 ketika berbicara tentang sifat dua tangan, mata, serta wajah Allah.

[19] Al-Baqillani meninggal 403 H dan al-Ghazali 505 H.

[20] Dinukil Ibnu al-Qayyim dari gurunya. lihat Mukhtashar ash-Shawa’iq. Ibnu al-Qayyim, 2/432-433.

[21] Mudzakkirah Ushul al-Fiqh, Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, hal 103 dan lihat al-ihkam fi Ushul al-Ahkam, Ibnu Hazm, 1/133

[22] Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Ibnu Hazm, 1/132.

[23] Lihat perinciannya dalam al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Ibnu Hazm, 1/122-132.

[24] Lihat ar-Risalah, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, Bab al-Hujjah fi Tatsbit Khabar al-Wahid, hal. 401; dan lihat tulisan Imam Abu Abdullah al-Bukhari dalam Shahihnya ketika dia menyendirikan satu kitab dari Shahihnya dengan judul kitab Akhbar al-Ahad. Lihat Fath al-Bari, Ibnu Hajar, 13/231-244.

[25] Mudzakkirah Ushul al-Fiqh, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, hal. 103.

[26] Majmu’ al-Fatawa, 18/16-22 dan lihat Mukhtashar ahk-Shawa'iq, Ibnul Qayyim 2/372.

[27] Mudzakkirah Ushul al-Fiqh, Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, hal. 104-105, yang dimaksud dengan dua sisi tersebut adalah khabar ahad itu dari satu sisi adalah qath’i, dan dari sisi lainnya adalah tidak qath’i. Adapun sisi yang menjadikannya qath’i adalah sisi beramal dengannya, karena al-Kitab dan as-Sunnah serta ijma’ seluruhnya menunjukkan wajibnya beramal dengan khabar ahad, adapun sisi yang membuatnya tidak qath’i adalah keadaan khabar itu benar pasti pada dzatnya. Lihat ar-Rihlah ila Baitillah al-Haram, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, hal. 98.

[28] Seperti sabda beliau adalam hadits yang shahih,

"بني الإسلام على خمس"

"Islam dibangun di atas lima perkara.. "

Dengan Firman Allah dalam surat al-Baqarah,

وأقيموا الصلاة وآتوا الزكاة

"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat." (al-Baqarah:43).

Dan FirmanNya

يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa." (Al-Baqarah: 183)

Serta firmanNya,

ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلاً

"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah." (Ali Imran: 97), dan masih banyak yang lainnya.

[29] Contohnya hadits-hadits yang menjelaskan globalnya shalat, zakat, haji dan lain-lainnya. Dan ini sangat banyak berupa jenis-jenis sunnah, dan sisi yang telah dijelaskan Imam asy-Syafi’i .

[30] Lihat ar-Risalah, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, hal. 91-92.

[31] Lihat az-Ziyadah 'Ala an-Nash; Haqiqatuha wa Hukmuha, Dr. Umar bin Abdul Aziz, hal. 11-26.

[32] Untuk lebih jelasnya, Silahkan merujuk kepada Ushul Fiqh. .

[33] Lihat Mudzakkirah Ushul al-Fiqh, Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, hal 75-77,

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya