Kitab Referensi

Kitab : Tadwin as-Sunnah Nabawiyah, Nasy' atuhu wa tathawwuruhu

PASAL KEDUA - PERHATIAN ULAMA SALAF TERHADAP AS-SUNNAH

Perhatian ulama salaf terhadap as-Sunnah yang suci bermacam-macam. Hal tersebut sesuai dengan kemampuan dan sarana yang tersedia pada setiap masa. Oleh karena itu, kita bisa lihat mereka telah mengerahkan seluruh kesungguhan, kemampuan, dan berbagai sarana dalam perhatian mereka terhadap as-Sunnah, secara ilmiah, amaliah, hafalan dan tulisan, kajian dan penyebarannya di khalayak umat Islam, sebagaimana yang akan saya jelaskan dalam pasal ini -insya Allah-. Saya akan menyebutkan contoh-contoh dari perhatian mereka tersebut dengan memperhatikan urutan masa berdasarkan sejarah, dan hanya terbatas pada masa generasi terbaik yang berakhir dengan habisnya abad ketiga hijriyah, yaitu masa keemasan kodifikasi hadits dan ilmu-ilmunya.

PERTAMA: PERHATIAN TERHADAP AS-SUNNAH PADA MASA SAHABAT

Para sahabat pada zaman Nabi Muhammad mengambil manfaat hukum-hukum syariat dari al-Qur'an yang mereka terima dari Rasulullah .

Sangat banyak ayat-ayat al-Qur'an yang diturunkan dalam keadaan mujmal (global), tidak terperinci, atau muthlaq (tidak muqayyad), seperti perintah shalat yang datang bersifat global, di dalam al-Qur'an tidak dijelaskan jumlah rakaatnya, cara dan waktu pelaksanaannya. Begitu juga dengan perintah mengeluarkan zakat yang datang dalam keadaan muthlaq, tidak ada penentuan jumlah minimal yang wajib dizakati (nishab), dan tidak menjelaskan ukuran dan syarat-syaratnya.

Demikian pula banyak hukum-hukum yang tidak mungkin diamalkan tanpa melihat kepada penjelasan yang berhubungan dengannya berupa syarat dan rukun-rukunnya. Sehingga mereka harus merujuk kembali kepada Sunnah Nabi untuk mengenal hukum yang bersifat rinci.

Rasulullah adalah penyampai (wahyu) dari Allah dan orang yang paling tahu tentang maksud syariat Allah , ketentuan-ketentuannya serta tujuan-tujuannya.

Allah telah menjelaskan dalam al-Qur'an tentang misi Nabi diutus, yaitu untuk menjelaskan maksud al-Qur'an dan mem perjelas tujuan dan ayatnya, di mana Allah berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

"Dan Kami menurunkan kepadamu adz-Dzikr (al-Qur'an) agat Wupaya kamu menjelaskannya kepada manusia sesuatu yang telah diturunkan kepada mereka, dan agar supaya mereka berpikir." (an-Nahl: 44).

Para sahabat berkomitmen pada batasan perintah dan larangannya, dan selalu mengikuti contoh Nabi dalam seluruh perbuatan, ibadah, dan muamalahnya, -kecuali sesuatu yang mereka ketahui menjadi kekhususan Nabi . Mereka belajar dari Nabi tentang hukum shalat, rukun-rukunnya, serta cara pelaksanaannya, _ karena mengamalkan sabda Nabi ,

صلوا كما رأيتموني أصلي

"Kalian shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat."[1]

Mereka juga mencontoh bagaimana cara menunaikan ibadah haji untuk melaksanakan sabda Nabi ,

خذوا عني مناسككم

"Ambillah cara manasik kalian dariku.'[2]

Mereka mencontoh Nabi sampai ke batas mengerjakan setiap yang dikerjakan Nabi dan meninggalkan setiap yang ditinggalkan Nabi tanpa mengetahui sebabnya atau bertanya kepadanya tentang sebab dan hikmahnya.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar dia berkata,

اتخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتماً من ذهب، فاتخذ الناس خواتيم من ذهب، ثم نبذه النبي صلى الله عليه وسلم وقال: إني لن ألبسه أبداً، فنبذ الناس خواتيمهم

"Pada suatu ketika Rasulullah memakai cincin dari emas, maka para sahabat juga memakai cincin dari emas, beberapa saat kemudian Nabi melempar cincin tersebut seraya berkata, 'Saya tidak akan memakainya selama-lamanya.' Lalu para sahabat pun melempar cincin mereka."[3]

Abu Dawud juga meriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri , dia berkata,

بينما رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي بأصحابه إذْ خلع نعليه فوضعهما عن يساره، فلما رأى ذلك القوم ألقوأ نعالهم، فلما قضى رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاته قال: ما حملكم على إلقاء نعالكم قالوا: رأيناك ألقيت نعليك فألقينا نعالنا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن جبريل عليه السلام أتاني فأخبرني أن فيهما قذراً، أو قال: أذى

"Pada waktu Rasulullah si shalat mengimami para sahabatnya tiba-tiba beliau melepas kedua sandalnya. Lalu meletakkan keduanya di samping kirinya. Ketika para sahabat melihatnya, maka mereka melepaskan sandal-sandal mereka. Tatkala Rasulullah telah menyelesaikan shalatnya, maka beliau bertanya, 'Apa yang mendorong kalian melepas sandal-sandal kalian?' Mereka menjawab, 'Kami melihatmu melepas kedua sandalmu, maka kami juga melepaskan sandal-sandal kami.' Rasulullah bersabda, 'Jibril telah datang kepadaku lalu memberitahuku bahwa pada sandalku ada najis -atau beliau bersabda- kotoran'.[4]

Semangat mereka dalam mengikuti perkataan dan perbuatan Rasulullah telah mencapai batas bahwa sebagian mereka saling bergantian mendatangi majelis Rasulullah hari demi hari. Lihatlah Umar bin al-Khaththab -sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari- berkata,

كنت أنا وجارٌ لي من الأنصار في بني أمية بن زيد - وهي من عوالي المدينة - وكنا نتناوب النزول على رسول الله صلى الله عليه وسلم، ينزل يوماً وأنزل يوماً، فإذا نزلت جئته بخبر ذلك اليوم، وإذا نزل فعل مثل ذلك

"Saya dam tetanggaku dari kalangan Anshar tinggal di daerah Bani Umayyah bin Zaid, -yang berada di daerah dataran tinggi Madinah- kami; saling bergantian untuk turun menemui Rasulullah dia turun sehari, dan saya turun sehari juga, maka bila saya yang berangkat, maka berita hari itu saya sampaikan kepadanya, baik berupa wahyu atau lainnya, dan bila dia yang berangkat, maka dia pun melakukan hal yang sama. "[5]

Begitu juga kabilah-kabilah yang jauh dari Madinah mengutus sebagian anggotanya mendatangi Rasulullah untuk mempelajari hukum-hukum Islam dari Rasulullah , setelah itu mereka kembali kepada kaum mereka sebagai guru atau pembimbing. Bahkan ada sahabat yang mengarungi perjalanan jauh hanya untuk menanyakan kepada Rasulullah tentang suatu masalah yang sedang mereka hadapi atau suatu hukum syar'i kemudian pulang tanpa merasa berat sedikit pun.

Al-Bukhari meriwayatkan dalam ash-Shahih, dari Uqbah bin al-Harits, "Bahwasanya ada seorang wanita mengaku bahwa dia telah menyusuinya dan istrinya, mendengar pengakuan itu, maka langsung saja dia berangkat ke Madinah -ketika itu dia berada di Makkah- mendatangi Rasulullah lalu dia menanyakan kepada beliau tentang hukum Allah dalam masalah seseorang yang menikahi wanita yang mana dia tidak tahu bahwa dia adalah saudara sesusuannya, kemudian wanita yang menyusuinya memberitahukannya. Maka Nabi berkata,

كيف وقد قيل

"Lalu bagaimana lagi, sementara itu telah diakui (oleh wanita yang menyusui)?"[6]

Demikian juga, sudah menjadi kebiasaan para sahabat bertanya kepada istri-istri Nabi tentang masalah yang berhubungan dengan suami dan istri, karena ilmu mereka tentang hal itu.

Sebagaimana banyak sahabat wanita yang menemui istri-istri Nabi untuk menanyakan perkara agama mereka, dan tidak jarang juga mereka bertanya langsung kepada Rasulullah tentang suatu permasalahan yang mereka kehendaki untuk ditanyakan kepada beliau. Namun apabila ada masalah yang menghalangi Nabi untuk menjawabnya secara terang-terangan menjelaskan hukum syar'i kepada para wanita, maka Nabi memerintahkan salah satu istrinya untuk menjelaskannya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah tentang cara bersuci bagi wanita yang haid.[7]

Beginilah perhatian serius dari generasi terbaik umat ini terhadap Sunnah Nabi dalam masa kehidupan beliau sebagai sikap mencontoh beliau secara utuh, mengetahui batasan perintah dan larangannya, sebagai penerimaan mutlak terhadap hukum beliau, komitmen penuh dengan petunjuknya dan antusias penuh dalam mempelajari Sunnahnya .

Adapun setelah Nabi wafat, maka kita mendapati mereka -sebagai tambahan dari yang telah disebutkan- mengambil cara lain untuk memperhatikan Sunnah Nabi dan menghafalnya. Di antaranya dengan cara mereka menghafal dan tatsabbut (klarifikasi) dalam mencari kevalidannya, hingga terkadang ada di antara mereka yang melakukan perjalanan sebulan hanya untuk memastikan hafalannya terhadap satu hadits. Demikian juga dengan menulis hadits-hadits tersebut dalam lembaran-lembaran dan juz-juz, kemudian menyebarkannya kepada manusia, dan cara-cara lainnya.

Semua itu sesuai dengan manhaj amaliah dan ilmiah yang dapat diisyaratkan kepada realita-realitanya sebagai berikut:

Para sahabat merasakan besarnya tanggung jawab yang mereka pikul dalam menjaga syariat -baik al-Qur'an atau as-Sunnah- dan untuk menerapkannya, kemudian menyampaikannya kepada umat untuk menunaikan amanah yang mana mereka menjadi umat pilihan untuk tugas tersebut, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah kepada mereka. Mereka kemudian tampil sebagai generasi terbaik dalam menunaikan amanah ini dan sebaik-baik orang yang menunaikannya setelah Rasulullah . Perasaan akan besarnya tanggung jawab inilah yang menjadi titik tolak kuat dari sesuatu yang mereka pahami dari ajaran Rasulullah , seperti sabda Nabi

بلغوا عني ولو آية، وحدِّثوا عن بني إسرائيل ولا حرج

"Kalian sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat, dan kalian ceritakanlah (perincian kisah dalam al-Qur'an) dari bani Israil, dan tidak ada dosa bagi kalian (untuk melakukannya)"[8]

Juga sabda Nabi

نضَّر الله امرءاً سمع مقالتي ووعاها فأدَّاها كما سمعها، فرُبَّ مُبلغٍ أوعى من سامع

"Semoga Allah memuliakan orang yang mendengarkan perkataanku dan memahaminya, lalu menyampaikannya sebagaimana dia mendengarnya. Betapa banyak orang yang mana (hadits dariku) disampaikan kepadanya lebih paham daripada orang yang mendengar (langsung dariku)."[9]

Demikian juga seperti sabda Nabi ,

من كذب علي متعمداً فليتبوأ مقعده من النار

"Barangsiapa yang berbohong dengan sengaja atas namaku, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari api neraka."[10]

Juga sabda Nabi ,

كفى بالمرء كذباً أن يحدِّث بكلِّ ما سمع

"Cukuplah seseorang dianggap berbohong, yaitu (dengan) membeberkan segala sesuatu yang dia dengar."[11]

Juga sabda Nabi

من حدث عني بحديثٍ يرى أنه كذبٌ فهو أحد الكذابين

"Barangsiapa yang menyampaikan satu hadits dariku yang mana dia sendiri menduga bahwa itu adalah kebohongan, maka dia adalah salah satu dari para pembohong."[12]. Dan yang lainnya dari hadits-hadits Nabi

Oleh karena itu, dahulu para sahabat bersikap penuh antusias dalam menyampaikan agama Allah kepada umat dan sangat hati-hati dalam meneliti kevalidan dan klarifikasi pada sesuatu yang mereka riwayatkan dari Rasulullah . Sehingga mereka tidak menyampaikan sesuatu kecuali setelah yakin atas keshahihan riwayat tersebut dari Nabi dan tidak menerima berita kecuali setelah mereka mengetahui keshahihan dan ketsabitannya. Di bawah ini contoh dari pernyataan dan sikap mereka dalam hal ini:

1. Dari Anas dia berkata,

لولا أني أخشى أن أخطئ لحدثتكم بأشياء سمعتها من رسول الله صلى الله عليه وسلم، أو قالها رسول الله صلى الله عليه وسلم وذلك أني سمعته يقول: "من كذب عليَّ متعمداً فليتبوَّأ مقعده من النار"

"Kalau bukan karena saya khawatir melakukan kesalahan, niscaya saya akan menceritakan kepada kalian segala hadits yang telah saya dengar dari Rasulullah atau yang diucapkan oleh Rasulullah . Hal tersebut dikarenakan saya telah mendengar beliau bersabda, 'Barangsiapa yang dengan sengaja berbohong atas namaku, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari api neraka'."[13]

2. Dari Ibnu Sirin dia berkata, "Anas meriwayatkan dari Nabi sangat sedikit, dan apabila dia menceritakan hadits dari Nabi , maka dia (mengungkapkan) dengan kata, 'Atau sebagaimana yang Nabi katakan'."[14]

3. Dari asy-Sya'bi dan Ibnu Sirin,

أن ابن مسعود كان إذا حدَّث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في الأيام تربد وجهه، وقال: وهكذا أو نحوه، وهكذا أو نحو

"Sesungguhnya dahulu Ibnu Mas'ud, apabila menceritakan hadits dari Rasulullah pada suatu hari, maka wajahnya berubah seraya (mengungkapkannya) dengan berkata, 'Demikianlah (maksud Nabi) atau (kira-kira) seperti itu. Demikianlah (maksud Nabi) atau (kira-kira) seperti itu'."[15]

4. Dari asy-Sya'bi dia berkata,

جالست ابن عمر سنة فلم أسمعه يذكر حديثاً عن رسول الله صلى الله عليه وسلم

''Saya telah duduk bermajelis bersama Ibnu Umar selama setahun, namun saya tidak pernah mendengarnya menyebutkan satu hadits pun dari Rasulullah "[16]

5. Abdurrahman bin Abi Laila berkata, "Saya telah mendapatkan 120 sahabat dari kalangan al-Anshar, tidak satu pun di antara mereka yang meriwayatkan hadits melainkan dia berkeinginan bahwa cukuplah saudaranya saja yang meriwayatkannya, dan tidaklah seseorang meminta fatwa tentang sesuatu (kepada salah seorang dari mereka) melainkan dia berkeinginan bahwa cukuplah saudaranya saja yang memberikan fatwa".

Dalam sebuah riwayat, salah satu di antara mereka pernah ditanya tentang sebuah masalah, maka dia mengalihkan kepada sahabat yang lain, dan begitulah seterusnya hingga kembali sampai ke sahabat yang pertama.[17]

6. Dari as-Saib bin Yazid, dia berkata,

خرجت مع سعد إلى مكة فما سمعته يحدث حديثاً عن رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى رجعنا إلى المدينة

"Saya telah bepergian bersama Sa'ad ke Makkah. maka saya tidak mendengarnya menyampaikan satu hadits pun dari Rasulullah sampai kita pulang (kembali) ke Madinah."[18]

7. Dari Abdurrahman bin Abi Laila dia berkata,

قلنا لزيد بن أرقم حدثنا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: كَبِرنا ونسينا، والحديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم شديدٌ

"Kami telah berkata kepada Zaid bin Arqam, 'Ceritakanlah kepada kami hadits dari Rasulullah ' Namun dia menjawab, 'Saya telah tua renta dan sudah pelupa, sementara meriwayatkan hadits dari Rasulimah adalah perkara berat'.”[19]

KEDUA: PERHATIAN TERHADAP AS-SUNNAH YANG SUCI PADA ZAMAN TABI'IN DAN GENERASI SETELAHNYA

Pada penghujung era sahabat dan awal masa tabi'in, fajar fitnah, bid'ah dan hawa nafsu mulai muncul. Hal itu karena musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi, Nasrani, Majusi, Shabi'un, dan para filosof telah memojokkan agama yang disampaikan para sahabat kepada seluruh umat ini, sebagaimana mereka juga telah merasakan sempitnya jalan disebabkan kemenangan-kemenangan besar yang telah direalisasikan Islam dan penyebaran cepat (ajaran Islam) di penjuru dunia. Namun ketika permusuhan militer tidak memberikan manfaat untuk (menghancurkan) perkembangan Islam, maka mereka bermaksud untuk membuat makar dan, tipu daya terhadap Islam dan penganutnya. Mereka mulai menghembuskan fitnah, keraguan, dan syubhat di antara kaum Muslimin, dan khususnya kepada mu'allaf yang baru mengenal Islam,

Awal fitnah tersebut adalah (ditandai) dengan pecahnya pintu yang diriwayatkan oleh Hudzaifah dalam riwayat imam Muslim dalam kitab ash-Shahih, tatkala Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab bertanya kepadanya tentang fitnah yang digambarkan oleh Rasulullah bergelombang seperti ombak laut, maka Hudzaifah berkata, "Tidak ada hubungannya fitnah denganmu wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya antara fitnah itu dengan dirimu ada sebuah pintu yang tertutup." Umar bertanya lagi, "Apakah pintu tersebut (nanti) akan dibuka atau dihancurkan?" Hudzaifah menjawab, "(Tidak dibuka), tetapi pecah hancur." Umar berkata, "Berarti pintu itu tidak bisa menutup kembali." Pada hadits ini Hudzaifah menjelaskan bahwa Umar mengetahui bahwa dialah pintu itu, sebagaimana dia paham bahwa malam ini lebih dekat daripada besok.[20]

Pintu itu pecah dengan syahidnya Umar . Hal tersebut disebabkan komplotan Majusi-Salibis, dan dengan kejadian itu, maka terbukalah pintu fitnah, yang mana Umar merupakan pintu yang kokoh di hadapan pembuat fitnah-fitnah tersebut.

Orang yang mengamati biografi Umar bin al-Khaththab mendapati hal ini dengan sangat jelas, yang mana Umar adalah seorang yang sadar sekali, sehingga tidaklah bibit fitnah atau kebid’ahan akan muncul di sini atau di sana melainkan dia pasti menumpasnya ke dalam akar-akarnya. Dan tidaklah kisah Shabigh bin 'Usail[21] dan Shahib Danyal[22] -yang telah menulis lembaran-lembarannya dan menyebarkannya di khalayak orang banyak- melainkan salah satu contoh dari dalil yang menunjukkan kesadaran dan kekokohan Umar menghadapi pelaku fitnah, kebid'ahan dan hawa nafsu.

Umar mencegah fitnah kedua orang tersebut, dengan memanggil mereka di Madinah, dan menahan serta memukul keduanya hingga bertaubat, dan keduanya mengumumkan taubat mereka berdua, setelah itu mereka dikembalikan ke keluarganya dengan catatan melarang umat Islam berbicara dan duduk bersama mereka selama sebulan lamanya, sehingga periwayat kisah ini berkata, "Saya telah melihat Shabigh berjalan di Bashrah seperti unta yang layu, tidak ada seorang pun yang berani mendekatinya. Itulah kehendak Amirul Mukminin."

Demikianlah, seharusnya (seorang pemimpin) menjaga umat, agama, dan akidah mereka dari tangan-tangan pelaku bid'ah, serta penyembah hawa nafsu. Dan begitulah seharusnya pemimpin Muslim yang baik dan terpercaya bersikap dalam membentengi agama, akidah, dan akhlak umat. Semoga Allah merahmati Umar, Sang syahid mihrab, dan menempatkannya pada keluasan surgaNya serta mengumpulkan kita bersamanya pada Hari Kiamat disebabkan kecintaan kita kepadanya.

Kemudian bergabunglah makar Yahudi dengan persekongkolan Majusi Salibis ini, yaitu melalui tangan Ibnu Saba' yang selanjutnya menjadi asas dari seluruh fitnah dalam Islam, kemudian fitnah muncul beruntun hingga melahirkan bid'ah Qadariah, Jahmiah, Rafidhah, Mu'tazilah, dan lain-lain.

Ketika tersebarnya fitnah-fitnah, kebid'ahan dan hawa nafsu ini, generasi setelah sahabat yang mulia dari kalangan tabi'in, tabi'it tabi'in dan orang setelah mereka dari generasi terbaik, mulai mengambil cara dan medan lain dalam menjaga dan memperhatikan as-Sunnah sesuai kesempatan dan sarana yang mereka miliki di zaman tersebut.

Medan-medan tersebut dapat digambarkan dalam hal berikut:

  1. Semangat yang tinggi dalam menghafal hadits.
  2. Verifikasi sanad.
  3. Menganalisa kredibilitas periwayat dan penyampai berita yang selanjutnya melahirkan spesialisasi ilmu tentang kredibilitas perawi (Ilmu ar-Rijal), yang menjadi keistimewaan, umat Islam dari umat lainnya.
  4. Kodifikasi hadits yang dimulai dengan lembaran-lembaran dan juz-juz kecil, kemudian berkembang kepada karya tulis yang berisi bab-bab pembahasan dan tertata secara urut, baik disusun berdasarkan bab-bab pembahasan seperti Kutub Sittah, dan al-Muwaththa' dan lain-lain, ataupun bersadarkan Masanid seperti Musnad Imam Ahmad dan lain-lain, serta bidang-bidang lainnya yang akan dirinci pada tempatnya dalam pembahasan ini -insya Allah-, Selanjutnya kami akan memaparkan beberapa contoh perkataan ulama salaf dalam masalah ketelitian dan kehati-hatian mereka dalam mengetahui kredibilitas perawi dan penyampai khabar, dan tidak mengambil (khabar yang berasal) dari perawi yang tidak tsiqah.

1. Imam Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi berkata,

واعلم وفَّقك الله تعالى أن الواجب على كل أحدٍ عرف التمييز بين صحيح الروايات وسقيمها وثقات الناقلين لها من المتَّهمين أن لا يروي منها إلا ما عرف صحة مخارجه، والسِّتَارَة في ناقليه، وأن يتقي منها ما كان منها عن أهل التُّهم والمعاندين من أهل البدع

"Ketahuilah -semoga Allah memberikan taufik kepadamu-, bahwa kewajiban setiap orang yang telah bisa membedakan antara riwayat shahih dan dhaif, antara perawi yang tsiqah dan yang tertuduh adalah agar tidak meriwayatkan hadits kecuali yang telah dia ketahui keshahihan sumbernya dan tirai penutup pada para penukilnya, dan hendaklah merasa khawatir darinya selama ia berasal dari para perawi tertuduh, dan orang-orang yang keras kepala dari hilangan ahli bid'ah."[23]

Imam Muslim setelah itu memaparkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

يكون في آخر الزمان دجَّالون كذَّابون يأتونكم من الأحاديث بما لم تسمعوا أنتم ولا آباؤكم، فإيَّاكم وإيَّاهم، لايضلونكم ولا يفتنونكم

"Pada akhir zaman akan muncul para dajjal pembohong yang mendatangi kalian dengan membawa hadits-hadits yang belum pernah kalian dan bapak-bapak kalian dengar, maka kalian jauhilah mereka, niscaya mereka tidak bisa menyesatkan kalian, dan tidak bisa menyebarkan fitnah di antara kalian."[24]

Kemudian Muslim membawakan dengan sanadnya kepada Mujahid, dia berkata.

جاء بشير بن كعب العدوي إلى ابن عباس فجعل يحدِّث ويقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، فجعل ابن عباس لا يأذن لحديثه ولا ينظر إليه، فقال يا ابن عباس مالي لا أراك تسمع لحديثي أحدِّثك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا تسمع فقال ابن عباس: إنا كنا مرة إذا سمعنا رجلاً يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، ابتدرته أبصارنا، وأصغينا إليه بآذاننا، فلما ركب الناس الصعب والذلول لم نأخذ من الناس إلا ما نعرفه

"(Pada suatu hari) Busyair bin Ka'ab al-Adawi datang menemui Ibnu Abbas, lalu dia mulai menceritakan hadits Nabi , dan menyatakan, 'Rasulullah bersabda, Rasulullah bersabda'. Lalu mulailah Ibnu Abbas tidak mendengarkan haditsnya dan tidak melihat kepadanya, maka Busyair bertanya, 'Wahai Ibnu Abbas mengapa saya tidak melihatmu mendengar hadits yang saya bawakan? Saya menyampaikan hadits kepadamu dari Rasulullah namun kamu tidak mau mendengarnya?' Ibnu Abbas menjawab, 'Dahulu apabila kami mendengar seseorang berkata, 'Rasulullah telah bersabda,' mata kami langsung menyambutnya dan telinga kami terbuka lebar mendengarnya, tetapi setelah manusia mengalami krisis dan penggampangan (dalam meriwayatkan hadits), maka kami tidak menerima lagi kecuali hadits dari mereka yang kami kenal'."[25]

2. Dari Ibnu Sirin , dia berkata,

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

"Ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian..."

Dan dari Ibnu Sirin juga, dia berkata,

لم يكونوا يسألون عن الاسناد فلما وقعت الفتنة قالوا: سمُّوا لنا رجالكم، فينظر إلى أهل السُّنَّة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثهم

"Mereka tidak pernah menanyakan tentang sanad, Lalu tatkala terjadi fitnah, maka mereka berkata, 'Sebutkan kepada kami perawi kalian'. Lalu dilihatlah sosok Ahlus Sunnah, lalu diambillah hadits mereka, dan dilihatlah sosok ahlu bid'ah, lalu ditolaklah hadits mereka."[26]

3. Dari Abdan bin Utsman al-Marwazi , dia berkata, "Saya mendengar Abdullah bin al-Mubarak berkata,

الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

"Sanad adalah bagian dari agama, kalau bukan karena sanad, maka sungguh, siapa pun akan mengatakan (segala) sesuatu yang dia kehendaki."[27]

4. Dari Ali bin Syaqiq , dia berkata, "Saya mendengar Abdullah bin al-Mubarak di depan orang banyak berkata,

دعوا حديث عمرو بن ثابت فإنه كان يسبُّ السلف

'Jauhilah (mengambil) hadits dari Amr bin Tsabit, karena dia telah memaki ulama salaf."[28]

5. Dari Amr bin Ali al-Fallas berkata,

سمعت يحيى بن سعيد قال: "سألت سفيان الثورى، وشعبة، ومالكاً، وابن عيينة عن الرجل لا يكون ثبتاً في الحديث فيأتيني الرجل فيسألني عنه؟ قالوا: أخبر عنه أنه ليس بثبت

"Saya telah mendengar Yahya bin Sa'id berkata, 'Saya telah bertanya kepada Sufyan ats-Tsauri, Syu'bah, Malik, dan Ibnu Uyainah tentang perawi yang tidak tsabit dalam hadits, kemudian seorang laki-laki datang kepadaku bertanya tentang perawi itu, maka mereka berkata, 'Bilang kepadanya bahwa perawi itu tidak tsabit'."[29]

6. Abdullah bin al-Mubarak berkata,

قلت لسفيان الثوريِّ: إن عباد ابن كثير مَن تعرف حاله، وإذا حدَّث جاء بأمرٍ عظيمٍ فترى أن أقول للناس لا تأخذوا عنه؟ قال سفيان: بلى". قال عبد الله: فكنت إذا كنت في مجلسٍ ذُكر فيه عباداً أثنيت عليه في دينه وأقول: لا تأخذوا عنه

"Saya bertanya kepada Sufyan ats-Tsauri, 'Sesungguhnya Abbad bin Katsir, siapa yang tahu keadaannya, dan bila dia meriwayatkan hadits maka dia membawa kesalahan besar. Lalu bagaimana pandanganmu bila saya mengatakan kepada orang-orang, 'Janganlah kalian mengambil riwayat hadits darinya?' Sufyan menjawab, 'Ya, (katakan seperti itu).' Abdullah bin al-Mubarak berkata, 'Maka saya apabila berada di suatu majelis yang mana nama Abbad disebutkan di dalamnya, maka saya memuji agamanya, namun saya katakan, 'Jangan mengambil hadits darinya'."[30]

7. Dari al-Humaidi dari Ibnu Uyainah, dia berkata,

كان الناس يحملون عن جابر قبل أن يُظهِر ما أظهر، فلما أظهر ما أظهر اتَّهمه الناس في حديثه وتركه بعض الناس، فقيل له: وما أظهر؟ قال: الإيمان بالرجعة

"Dahulu orang-orang mengambil hadits dari Jabir (bin Yazid al-Ju'fi) sebelum dia menampakkan kesalahan besar yang dia tampakkan. Namun setelah dia menampakkan kesalahan yang dia tampakkan (dari kebid'ahan), maka mereka berprasangka buruk pada hadits Jabir, dan sebagian lainnya meninggalkannya. Lalu Uyainah ditanya, 'Apa yang dia tampakkan?' Dia menjawab, 'Iman kepada ar-Raj'ah'."[31]

8. Dari Zakaria bin 'Adi, dia berkata, "Abu Ishaq al-Fazari berkata kepadaku,

أكتب عن بقية ما روى عن المعروفين، ولا تكتب عنه ما روى عن غير المعروفين، ولا تكتب عن إسماعيل بن عيَّاش ما روى عن المعروفين ولا عن غيرهم

"Tulislah hadits-hadits dari Baqiyah yang diriwayatkan dari para perawi yang dikenal, dan jangan menulis hadits dari Baqiyah yang diriwayatkan dari para perawi yang tidak dikenal. Jangan menulis hadits dari Isma'il bin ‘Ayyasy yang diriwayatkan dari para perawi yang terkenal dan jangan pula dari selain mereka."[32]

9. Dari Abdullah bin al-Mubarak , dia berkata,

لو خُيِّرت بين أن أدخل الجنة وبين أن ألقى عبد الله بن محرَّر لاخترت أن ألقاه ثم أدخل الجنة، فلما رأيته كانت بعرة أحب إليَّ منه

"Seandainya saya disuruh memilih antara masuk ke dalam surga dan menemui Abdullah bin Muharrar,[33] niscaya saya memilih berjumpa dengannya, kemudian baru aku masuk surga. Maka ketika saya melihatnya, ternyata kotoran binatang lebih saya sukai daripada dia."[34]

10. Ubaidullah bin Amr berkata,

قال زيد بن أبي أُنيسة: "لا تأخذوا عن أخي"، وقال عبد الله بن عمرو: "كان أخوه يحيى بن أبى أُنيسة كذاباً

"Zaid bin Abi Unaisah berkata, 'Janganlah kalian mengambil riwayat dari saudaraku!'"
"Ubaidullah bin Amr berkata, 'Saudaranya, Yahya bin Abi Unaisah adalah seorang pembohong'."[35]

KETIGA: PERJALANAN MENUNTUT ILMU HADITS

Telah kami jelaskan sebelumnya pada pembahasan "kedudukan as-Sunnah dalam Islam" bahwa sunnah adalah wahyu dari Allah, dan bahwa ia adalah penjelas untuk sesuatu yang kurang jelas dalam al-Qur'an. Ketika as-Sunnah memiliki kedudukan seperti ini, maka para ulama salaf memprioritaskannya dengan perhatian yang sangat besar. Mereka mengerahkan segala kemampuan mereka untuk mengumpulkan hadits dan meneliti sanad-sanadnya, sehingga mereka melakukan perjalanan jauh dan mengalami berbagai kesulitan. Semua itu dalam rangka menaati Firman Allah,

فَلَولا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مُنْهُمْ طَائِفَةً لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّيْنِ وَلْيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

"Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." (At-Taubah: 122).

Dan sabda Nabi

من سلك طريقاً يلتمس فيه علماً سهَّل الله له به طريقاً إلى الجنة

"Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu di dalamnya, maka Allah akan memudahkan -disebabkan pencarian ilmu tersebut-jalan menuju ke surga baginya."[36]

Perjalanan jauh dalam rangka menuntut hadits merupakan kelaziman metode dan manhaj ulama hadits dalam mendapatkan ilmu. Al-Hafizh Ibnu ash-Shalah (W. 643 H) berkata, "Apabila seseorang telah selesai mendengarkan sanad yang tinggi dan penting yang ada dalam negerinya, maka hendaklah dia melakukan perjalanan (mencari hadits) ke tempat lain."

Telah diriwayatkan kepada kami dari Yahya bin Ma'in, bahwa dia berkata, "Ada empat orang yang tidak tampak mendapat kecerdasan; penjaga gerbang (satpam), petugas pemanggil Qadhi, anak seorang muhaddits, dan orang yang menulis hadits hanya di negerinya tanpa melakukan perjalanan dalam mencari hadits".

Telah diriwayatkan kepada kami juga dari Ahmad bin Hanbal bahwasanya dia telah ditanya, "Apakah (sangat urgen) melakukan perjalanan untuk mendapatkan riwayat yang (sanadnya) tinggi?" Dia menjawab, "Ya, demi Allah, sangat dianjurkan." Pernah disampaikan suatu hadits dari Umar kepada Alqamah dan al-Aswad, maka keduanya tidak merasa cukup, hingga mereka berdua berangkat menemui Umar, dan mendengarnya langsung.

Dari Ibrahim bin Adham dia berkata, "Sesungguhnya Allah akan mengangkat malapetaka dari umat ini disebabkan perjalanan ahli hadits (dalam rangka mencari hadits)." [37]

Sejarah Perkembangan Perjalanan (Rihlah) dalam Rangka Menuntut Ilmu

Sumber utamanya adalah perjalanan Nabi Allah dan Kalim-Nya, Musa untuk menemui Khidhir. Allah telah mengisahkan-nya kepada kita dalam surat al-Kahfi,

Perjalanan dalam rangka mencari ilmu pada zaman Islam dimulai dengan perjalanan utusan-utusan dari kabilah-kabilah Arab untuk membai'at Rasulullah dari berbagai penjuru jazirah Arab, dan selanjutnya menjadi penuntut ilmu-ilmu al-Qur an dan al-Hadits.

Kemudian para sahabat memperhatikan hal ini setelah Rasulullah wafat ketika para sahabat telah bertebaran di berbagai kota setelah futuhat (pembukaan wilayah pada masa Khulafa Rasyidin) Islam. Maka Jabir bin Abdullah berangkat menemui Abdullah bin Unais di wilayah Syam yang memakan perjalanan sebulan, demi mendengarkan sebuah hadits yang mana hanya Abdullah bin Unais-lah satu-satunya orang yang hafal riwayat itu.[38]

Abu Ayyub al-Anshari berangkat menemui Uqbah bin Amir di Mesir. Maka tatkala bertemu, maka dia berkata, "Ceritakanlah kepadaku hadits yang telah kamu dengar dari Rasulullah tentang menutupi aib seorang Muslim, yang mana hanya kamu dan saya yang telah mendengar hal itu." Tatkala Uqbah telah (selesai) menceritakannya, maka Abu Ayyub kembali menunggangi kendaraannya untuk pulang ke Madinah.[39]

Perjalanan mencari ilmu ini dilanjutkan oleh generasi Tabi'in, di mana para sahabat bertebaran di berbagai penjuru kota -setelah futuhat Islam- membawa warisan kenabian. Mereka tidak bisa dengan mudah mengetahui hadits Nabi dengan lengkap tanpa melakukan perjalanan ke penjuru dunia demi menemui para sahabat yang telah terpencar di dalamnya.

Imam Sa'id bin al-Musayyab, sayyid Tabi'in berkata, "Sesungguhnya saya dahulu bepergian dalam rangka mencari satu hadits dengan (menghabiskan waktu) perjalanan sehari semalam."[40]

Busr bin Abdullah al-Hadhrami berkata, "Sesungguhnya saya dahulu berangkat ke salah satu kota dari kota-kota Islam hanya untuk mendengarkan satu hadits". Amir asy-Sya'bi berkata, "Tidak ada murid Abdullah bin Mas'ud yang paling antusias mencari ilmu di segala penjuru dunia daripada Masruq."[41]

Asy-Sya'bi pada suatu saat menyampaikan sebuah hadits kepada seseorang, kemudian dia berkata kepadanya, "Kami telah memberimu sebuah hadits (dengan sanad tinggi), tanpa (kamu harus) bersusah payah, padahal dahulu orang melakukan perjalanan jauh ke Madinah demi mendapatkan sebuah riwayat yang sanadnya lebih rendah darinya."[42]

Dari Abu al-Aliyah ar-Riyahi dia berkata, "Kami pernah mendengar sebuah riwayat dari sahabat-sahabat Rasulullah di Bashrah, lalu kami tidak puas dengan riwayat tersebut, hingga kami berangkat ke Madinah untuk mendengar langsung dari mulut para sahabat Rasulullah .[43]

Penyebab Perjalanan untuk Menuntut Ilmu

Perjalanan dalam menuntut ilmu memiliki banyak sebab, yang terpenting di antaranya adalah:

1. Pada generasi sahabat; sebabnya adalah untuk mendengar hadits yang tidak didengar langsung oleh sahabat dari Rasulullah atau dalam rangka mengecek ulang (recek) hadits yang sahabat tersebut hafal namun tidak ada seorang pun di negerinya yang menghafalnya, maka dia bersusah payah melakukan perjalanan menemui orang yang hafal tersebut walaupun membutuhkan waktu sebulan perjalanan.

2. Pada zaman tabi'in, sebabnya adalah terpencarnya para sahabat di beberapa wilayah dunia Islam. Setiap mereka membawa warisan kenabian, sehingga ilmu-ilmu mereka dibutuhkan dan para tabi'in pun melakukan perjalanan kepada mereka.

3. Setelah dua masa ini berlalu, maka muncullah sebab-sebab lain di antaranya adalah:

  1. Munculnya pemalsuan dalam hadits disebabkan banyaknya pengekor hawa nafsu yang menukil hadits-hadits yang mendukung hawa nafsu mereka, dan menisbatkannya kepada Rasulullah . Lalu para ulama hadits melakukan perjalanan untuk memverifikasi hadits-hadits tersebut, mengetahui sumber dan jalan periwayatan hadits-hadits itu.
  2. Untuk mendapatkan sanad yang tinggi, lalu dia bepergian' dalam rangka mendapatkannya sebagaimana Imam Ahmad berkata, "Menuntut sanad yang tinggi adalah sunnah dari ulama salaf."[44]

Di antara contoh kasus dari dua sebab di atas adalah:

Pertama, dari al-Mu'ammal bin Isma'il, dia berkata, "Seorang tsiqah menceritakan kepadaku tentang keutamaan surah al-Qur'an yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab, maka saya bertanya kepada syaikh tersebut, 'Siapa yang telah menceritakannya kepadamu?' Dia menjawab, 'Seorang laki-laki yang sekarang tinggal di al-Mada'in dan dia masih hidup.' Lalu saya berangkat ke negeri tersebut, (setelah bertemu dengan orang yang dimaksud) maka saya bertanya 'Siapa yang telah menceritakannya kepadamu?' Dia menjawab, 'Seorang syaikh yang tinggal di Wasith, dan sekarang masih hidupi Kemudian saya menemuinya seraya bertanya, 'Siapa yang menceritakan hadits tersebut kepadamu?' Dia menjawab, 'Seorang yang tinggal di Bashrah.' Lalu saya menemuinya seraya bertanya, 'Siapa; yang menceritakan hadits tersebut kepadamu?' Dia menjawab, 'Seorang syaikh yang tinggal di Abbadan. Lalu saya pun menenttii' nya, lalu dia menarik tanganku lalu mengajakku masuk ke sebuah rumah, ternyata di dalamnya ada banyak kaum sufi, bersama mereka ada seorang syaikh. Dia berkata, 'Syaikh inilah yang menceri-takan hadits tersebut kepadaku'. Saya bertanya kepada syaikh itu, 'Wahai Syaikh, siapa yang menceritakan hadits tersebut kepadamu?' Dia menjawab, 'Tidak ada seorang pun yang meriwayatkan-nya kepadaku, namun karena saya melihat umat ini sudah mulai menjauh dari al-Qur'an, maka kami membuat-buat hadits ini agar memalingkan wajah mereka kembali kepada al-Qur'an'.'’[45]

Kedua, al-Hafizh Ibnu Hibban mengeluarkannya dengan sanadnya dari Abu Nashr bin Hammad al-Warraq al-Bajali, dia berkata, "Pada suatu ketika, kami berada di pintu rumah Syu'bah bin al-Hajjaj bersama beberapa orang. Kami saling mendengarkan hafalan hadits kami (Mudzakarah hadits). Saya berkata, "Israil telah menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq dari Abdullah bin Atha dari Uqbah bin Amir dari Nabi , beliau bersabda,

من توضأ فأحسن الوضوء دخل من أيِّ أبواب الجنة شاء

"Barangsiapa yang berwudhu, lalu membaguskan wudhunya, maka dia akan masuk ke dalam surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki."[46]

Lalu Syu'bah keluar, ketika saya sedang menyampaikan hadits ini. Lalu dia mendorongku sambil berkata, "Wahai orang gila, apakah kamu telah mendengar Abu Ishaq menceritakan dari Abdullah bin Atha' dari Uqbah bin 'Amir?"

Lalu saya (Syu'bah) bertanya kepada Abu Ishaq, "Wahai Abu Ishaq, apakah kamu telah mendengar Abdullah bin Atha' menceritakan dari Uqbah bin Amir? Dia menjawab, 'Saya telah mendengar Abdullah bin Atha'. Lalu saya bertanya lagi, 'Apakah Abdullah bin Atha' telah mendengar dari Uqbah?' Dia menjawab, 'Diam kamu!' Saya berkata, 'Saya tidak akan diam.' Kemudian Mis'ar bin Kidam menoleh kepadaku seraya berkata, 'Wahai Syu'bah! Abdullah bin Atha' masih hidup, dia tinggal di Makkah.' Akhirnya saya berangkat ke Makkah, lalu menemui Abdullah bin 'Atha' lalu saya bertanya tentang hadits (keutamaan) wudhu, maka dia menjawab, 'Itu riwayat Uqbah bin Amir.' Saya berkata, 'Semoga Allah merahmatimu, apakah kamu telah mendengar darinya?' Dia menjawab, Tidak. Sa'ad bin Ibrahim yang menceritakannya kepadaku.' Saya mendatangi Anas bin Malik -sedang menunaikan haji- maka saya menanyakannya tentang Sa'ad bin Ibrahim, maka dia berkata, "Tahun ini dia tidak berangkat haji." Setelah selesai haji, langsung saya berangkat ke Madinah dan bertemu Sa'ad bin Ibrahim, maka saya bertanya tentang hadits (keutamaan) berwudhu? Dia berkata, '(Hadits itu) keluar dari negerimu. Ziyad bin Mikhraqlah yang menceritakan hadits itu kepadaku.' Kemudian saya berangkat ke Bashrah menemui Ziyad dalam kondisi pucat, berbaju kotor dan rambut awut-awutan (karena perjalanan). Lalu dia bertanya, 'Dari mana?' Lalu saya menceritakan hadits tersebut. Kemudian dia berkata, 'Itu tidak penting bagimu.' Lalu saya menjawab, 'Harus (menjadi kepentinganku)'. Dia berkata, 'Tidak, sampai kamu pergi masuk kamar mandi dan mencuci pakaianmu, kemudian datang ke sini lalu saya akan menceritakan hal itu kepadamu.' Lalu saya masuk kamar mandi dan mencuci pakaianku, kemudian mendatanginya lagi. Dia berkata, 'Yang meriwayatkan kepadaku adalah Syahr bin Hausyab dari Abu Raihanah.' Saya berkata kepadanya, 'Hadits ini sanadnya naik kemudian turun, musnahkanlah ia. Hadits ini tidak punya asal usul'."[47]

Urgensi Perjalanan Mencari Hadits dan Tujuan-tujuannya

Perjalanan ini memiliki pengaruh besar dalam menyebarkan hadits dan memperbanyak jalan periwayatannya, sebagaimana juga ia memiliki pengaruh besar dalam mengenal para perawi secara lebih terperinci. Itu dikarenakan seorang muhaddits pergi ke suatu negeri lalu mengenal, berbicara dan bertanya jawab dengan ulamanya. Oleh karena itu, semakin luaslah jangkauan perjalanan dalam rangka menuntut ilmu pada dua abad tersebut; yaitu abad kedua dan ketiga.

Al-Hafizh ar-Ramahurmuzi dalam kitab al-Muhaddits al-Fadhil menyebutkan daftar nama-nama ulama hadits yang telah melakukan perjalanan jauh ke penjuru negeri (dalam rangka mendapatkan hadits) dan menyusun mereka berdasarkan thabaqat (derajat) masing-masing, lalu dia menyebutkan mulai dari yang melakukan perjalanan ke berbagai wilayah hingga yang hanya mengunjungi satu tempat saja untuk menemui ulama yang ada di sana.[48]

Di antara wilayah terpenting yang dijadikan sasaran perjalanan adalah: Madinah, Makkah, Kufah, Bashrah, Jazirah, Syam, Yamamah, Mesir, Marwu, ar-Rayy, dan Bukhara. Hal ini karena tempat-tempat ini merupakan pusat ilmu pengetahuan dan banyak ulama di dalamnya.

Imam Ahmad pernah ditanya tentang penuntut ilmu, "Apakah pelajar cukup melazimi seorang ulama lalu dia menulis hadits darinya ataukah dia perlu melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang banyak ilmunya lalu mendengar dari ulama mereka?" Dia menjawab, "Dia harus melakukan perjalanan ilmiah dan menulis dari ulama Kufah, Bashrah, Madinah, dan Makkah serta melihat orang banyak dan mendengar dari mereka."

Ibrahim bin Adham -sebagaimana yang telah lalu- berkata, "Sesungguhnya Allah akan mengangkat malapetaka yang akan menimpa suatu kaum karena kepergian pelajar untuk menuntut hadits."

Al-Khathib al-Baghdadi berkata, "Maksud berangkat menuntut hadits ada dua:

Pertama, untuk mendapatkan sanad yang tinggi dan mendahulukan metode "mendengar" (sima') dalam menyampaikan hadits.

Kedua, menemui para hafizh, melakukan mudzakarah (menghafal ulang) dan untuk mengambil pelajaran dari mereka.

Apabila dua hal di atas bisa didapatkan di negeri seorang pelajar dan tidak didapatkan di tempat yang lain, maka tidak ada manfaatnya melakukan perjalanan, dan menetap di negerinya sendiri lebih utama.


[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhari. Lihat Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adzan, Bab al-Adzan li al-Musa-fir, Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, 2/11, hal. 631

[2] Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir. Dan hal tersebut tercantum dalam cara haji Nabi. Lihat Shahih Muslim; Kitab al-Hajj, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, 2/934, hal. 310.

[3] Shahih al-Bukhari Ma’a al-Fath, Kitab al-Libas, Bab Khatim al-Fidhdhah, Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, 10/318. no. 5866.

[4] Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Lihat Sunan Abu Dawud; Kitab ash-Shalat, Bab ashShalah bi an-Ni’al, Abu Dawud, 1/436, hal. 650. Ath-Thabaqat, Ibnu Sa’ad, 1/480.

[5] Diriwayatkan oleh al-Bukhari. Lihat Shahih al-Bukhari; Ma‘a al-Fath, Kitab al-’Ilm, Bab at-Tanawub fi al-’Ilm, Muhammad bin Isma’fl il-Bukhari, 1/184. no. 88.

[6] Diriwayatkan oleh al-Bukhari. Lihat Shahih al-Bukhari Ma’a al-Fath; Kitab al-’llm, Bab ar-Rihlah fl Mas'alati an-Nazilah; Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, 1/184, no. 88.

[7] Diriwayatkan oleh al-Bukhari. Lihat Shahih al-Bukhari, Kitab al-Haidh; Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, 1/414, hal. 314.

[8] Diriwayatkan oleh al-Bukhari. Lihat Shahih al-Bukhari, Kitab Hadits-Hadits Tentang Nabi Bab Bani Israil; Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, 6/496, no. 3461.

[9] Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Lihat Sunan Abu Dawud, Kitab al-’Ilm, Bab Fadhlu Nasyr al-’Ilm, Abu Dawud, 4/68, no. 3660; Sunan at-Tirmidzi, Abu Isa at-Tirmidzi, 5/33, no. 5657-5658. Dia berkata, "Hasan Shahih."

[10] Diriwayatkan oleh al-Bukhari. Lihat Shahih al-Bukhari; Kitab al-’Ilm, Bab Itsmu Man Kadzaba ’ala an-Nabi, Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, 199-200, no. 107.

[11] Diriwayatkan oleh Muslim. Lihat Muqaddimah Shahih Muslim, Mualim bin Hajjaj an-Naisaburi, hal. 5.

[12] Diriwayatkan oleh Muslim. Lihat Muqaddimah Shahih Muslim, Mualim bin Hajjaj an-Naisaburi, hal. 1.

[13] Abu Muhammad ad-Darimi, Sunan ad-Darimi, Bab Ittiqa’ al-Hadits'an an-Nabi wa at-Tatsabbut fihi, 1/67.

[14] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Lihat Sunan Ibnu Majah, Bab at-Tawaqqi fi al-Hadits, Ibnu Majah, 1/11; Sunan ad-Darimi; Bab Man Haba al-Futya, Abu Muhammad ad-Darimi, 1/73.

[15] Diriwayatkan oleh ad-Darimi. Lihat Sunan ad-Darimi, Abu Muhammad ad-Darimi, Bab Man Haba al-Futya Makhafata as-Saqath, 1/72.

[16] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Lihat Sunan Ibnu Majah, Ibnu Majah, Bab at-Tawaqqi fi al-Hadits, 1/11, no. 26; Sunan ad-Darimi, Abu Muhammad ad-Darimi, 1/73.

[17] Lihat Jami' Bayan al-’Ilm, Ibnu Abdil Barr, 2/163. Mukhtaskar al-Mu'ammal, pasal as-Su'al an al-Haditsah wa al-Kalami fiha Qabla Wuqu’iha. hal. 40. no. 64.

[18] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Lihat Sunan Ibnu Majah, Ibnu Majah. 1/12, no. 29; Sunan ad-Darimi, Abu Muhammad ad Darimi 1/73

[19] Lihat Ibnu Majah dalam Mukadimahnya, Bab at-Tawaqqi fi al-Hadits 'an Rasulullah .

[20] Shahih Muslim, Muslim bin Hajjjaj an-Naisaburi, Kitab Fitan wa Asyrath as-Sa’ah, Bab al-Fitnah allati Tamuju Kamauji al-Bahr, 4/2318, no. 26.

[21] Lihat kisahnya pada Tafsir Ibnu Katsir surat adz-Dzariat; 7/39; al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, Ibnu Hajar, 5/38.

[22] Lihat kisahnya bersama Umar dalam Taqyid al-’Ilm, Abu Bakar al-Khathib hal. 51.

[23] Muqaddimah Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, 1/8.

[24] Muqaddimah Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, 1/12-13.

[25] Muqaddimah Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, 1/12-13.

[26] Muqaddimah Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, 1/15.

[27] Muqaddimah Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, 1/16.

[28] Muqaddimah Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, 1/16.

[29] Muqaddimah Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, 1/16.

[30] Muqaddimah Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, 1/17

[31] Muqaddimah Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, 1/20. Ar-Raj’ah adalah keyakinan kaum Syi’ah Rafidhah bahwa Ali berada di awan, lalu tidak boleh keluar, hingga diserulah dari langit agar keluar. Inilah keyakinan bahwa Ali akan kembali, Ed.T.

[32] Ibid, 1/25. Boleh jadi yang dia maksud adalah masyayikhnya yang bukan dari kalangan Syam. Adapun para masyayikhnya yang berasal dari Syam maka dia berderajat shaduq dalam periwayatan hadits dari mereka, lihat biografi Isma’il bin Ayyasy dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib, Ibnu Hajar.

[33] Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Muharrar al-Jazari adalah seorang qadhi matruk. Dia meninggal pada masa khilafah al-Manshur." Lihat at-Taqrib, Ibnu Hajar, hal. 320.

[34] Muqaddimah Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, 1/27.

[35] Muqaddimah Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, 1/27. Beginilah tingkat kualitas amanah mereka, dengan demikian sangat pantas mereka mendapat julukan generasi bersih dan amanah umat ini, mereka tidak peduli terhadap akibat sikap keberanian mereka melawan kebathilan, walau nyawa menjadi taruhannya, semoga Allah meridhai mereka dan menempatkan pada derajat yang wajar, lihatlah Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah yang telah membunuh ayahnya pada perang Badar, Ali bin al-Madini sewaktu ditanya tentang ayahnya, maka dia berkata, "Haditsnya lemah", Zaid bin Abi Anisah yang memperingatkan untuk tidak menerima hadits dari saudara kandungnya.

[36] Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, Kitab ad-Dzikr, Bab Fadhlu al-Ijtima’ 'ala Tilawah al-Qur'an, 4/2074, no. 2699.

[37] Lihat Ulum al-Hadits, Ibnu ash-Shalah, hal, 222-223.

[38] Al-Bukhari telah memperkenalkan biografinya dalam Kitab al-Ilm, Bab al-Khuruj fi Thalab al-'Ilm, dan al-Khathib meriwayatkan dengan sanadnya pada Kitab ar-Rihlah, hal. 109-118.

[39] Lihat ar-Rihlah, al-Khathib al-Bagdadi, hal. 118; Jami’ Bayan al-’Ilm wa Fadh-lihi, Ibnu Abdil Barr, 1/93-94.

[40] Jami’ Bayan al-’Ilm wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 1/94.

[41] Jami’ Bayan al-’Ilm wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 1/94.

[42] Al-Kifayah fi Ilm ar-Riwayah, al-Khathib al-Baghdadi, India: Haidar Abad, t.th. hal. 402; Jami’ Bayan al-’Ilm wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 1/94.

[43] Lihat Sunan ad-Darimi, Abu Muhammad ad-Darimi, Bab ar-Rihlak fi Thalab al-’Ilm, 1/144, no. 570.

[44] Lihat Ulum al-Hadits, Ibnu ash-Shalah, hal. 231.

[45] Lihat al-Kifayah fi Ilm ar-Riwayah, al-Khathib al-Bagdadi, hal. 401: al-Maudhu'at, Ibnu al-Jauzi, 1/241-242

[46] Saya tidak mendapatkan riwayat tersebut sesuai dengan redaksi ini pada sumber aslinya. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Umar , dia berkata. Rasulullah bersabda,

من توضأ فأحسن الوضوء ثم قال: أشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، اللهم اجعلني من التوَّابين، واجعلني من المتطهِّرين، فتحت له ثمانية أبواب الجنة يدخل من أيِّها شاء

"Barangsiapa yang berwudhu, lalu membaguskan wudhunya, kemudian membaca, ’Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah semata. Tidak ada sekutu bagiNya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menyucikan diri,’ niscaya akan dibukakan delapan pintu surga baginya, di mana dia (bebas memilih) masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki." (lihat Sunan at-Tirmidzi, Abu Isa at-Tirmidzi, Kitab ath-Thaharah, Bab Fi ma Yugalu Ba'da al-Wudhu, 1/77-78). Lihat takhrij hadits pada Kitab Irwa' al-Ghalil, Syaikh Nashiruddin al-Albani, 1/134, no. 96.

[47] Dalam dua contoh ini terdapat penjelasan tentang usaha yang dikerahkan ulama salaf dalam membersihkan sunnah yang bersih dari tangan kotor zindik dan para pendusta hadits, serta celaan pada pendustaan tentang Rasulullah . Sesuatu yang dilakukan oleh Imam Muammal dan Syu’bah hanyalah sekelumit contoh tentang konstribusi ulama salaf dalam menjaga sunnah. Dua contoh ini adalah permisalan dari kesabaran itu, dan keuletan dalam mencari ilmu, dan teliti dalam membahas masalahnya, serta menanggung beban kesungguhan dan kesulitan dalam menshahihkannya, kemudian menyebarkannya dan mengajarkannya kepada manusia. Pertanyaannya adalah bagaimana kondisi para pelajar agama dewasa ini, apa konstribusi mereka untuk as-Sunnah, menyebarkan dan mengajarkannya kepada manusia?

[48] Al-Muhaddits al-Fadhil, ar-Ramahurmuzi, hai. 229-233.

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya