Kitab Referensi

Kitab : Tadwin as-Sunnah Nabawiyah, Nasy' atuhu wa tathawwuruhu

PERSAMAAN KEDUDUKAN HUKUM ANTARA AL-QUR'AN DAN AS-SUNNAH[1]

Sunnah dengan pengertian yang telah kami bahas padi pengantar (tamhid) -yaitu sesuatu yang disandarkan kepada Nabi berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuan-, adalah salah satu dari dua macam wahyu ilahi yang diturunkan kepada Rasu¬lullah , dan jenis kedua dari wahyu adalah al-Qur'an yang meru-pakan ucapan Allah, Rabb semesta alam yang diturunkan (kepada Rasulullah ), bukan makhluk, berasal dari Allah, dan kepadaNya dikembalikan.

Nash-nash al-Qur an, as-Sunnah dan ijma' para ulama salaf telah menegaskan tentang masalah ini.

Dalil Tentangnya dari al-Qur'an

Firman Allah

وَمَا يَنْطِقُ عَنْ الهَوَى إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى

"Dan tiadalah sesuatu yang diucapkannya itu (al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)" (An-Najm: 3-4).

FirmanNya,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

"Kami menurunkan kepadamu adz-Dzikr (al-Qur'an) agar kamu menjelaskan kepada manusia tentang sesuatu yang diturunkan imhd mereka, dan supaya mereka memikirkan." (An-Nahl: 44).

FirmanNya,

وَمَاآتَاكُمْ الرَّسُولُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ العِقَابِ

"Sesuatu yang diberikan Rasul kepadamu, maka kalian ambillah ia. Dan sesuatu yang dilarang Rasul bagimu, maka tinggalkanlah; dan ber¬takwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya."(Al Hasyr : 7)

FirmanNya

قلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوُنَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمْ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Katakanlah, ' Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikuti¬lah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali Imran: 31).

FirmanNya

فلاَ وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجَاً مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيْمَاً

"Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mana mereka memperselisihkannya di antara mereka, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (An-Nisa': 65).

FirmanNya,

فليحذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ.

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (An-Nur: 63).

Masih banyak ayat lain yang berisi anjuran mengikuti as-Sunnah dan kewajiban berpegang teguh dengannya serta larangan menyelisihinya. Tidak cukup tempat untuk memaparkan semuanya di sini.

Dalil Tentangnya dari Sunnah Nabi

1. Dari Abu Rafi', maula Rasulullah, dia berkata, Rasulullah bersabda,

لا ألفين أحدكم متكئاً على أريكته يأتيه أمرٌ مما أَمرتُ به أو نهيت عنه فيقول: لا أدري ما وجدنا في كتاب الله اتبعناه

"Janganlah aku mendapatkan salah seorang dari kalian berbaring di atas pembaringannya, yang mana perintah atau laranganku datang kepadanya, lalu dia berkata, 'Aku tidak tahu (bahwa itu perintah Rasulullah), Sesuatu yang kami dapatkan dalam Kitabullah, itulah yang kami ikut'."[2]

2. Dari al-Miqdam bin Ma'dikarib bahwa Rasulullah ber¬sabda,

ألا إني أوتيت القرآن ومثله معه، ألا يوشك رجل شبعان على أريكته يقول: عليكم بهذا القرآن، فما وجدتم فيه من حلالٍ فأحلُّوه، وما وجدتم فيه من حرام فحرِّموه، ألا وإن ما حرَّم رسول الله صلى الله عليه وسلم كما حرَّم الله

"Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberikan al-Qur'an dan yang semacamnya. Ketahuilah sebentar lagi ada seorang laki-laki yang keke¬nyangan di atas pembaringannya, kemudian dia berkata, 'Hendaklah kalian berpegang teguh dengan al-Qur'an ini. Sesuatu yang kalian dapatkan di dalamnya berupa (hukum) halal, maka halalkanlah ia, dan sesuatu yang kalian dapatkan di dalamnya berupa (hukum) haram, maka haramkanlah ia.' Ketahuilah, sesungguhnya apa yang diharamkan oleh Rasulullah adalah sama derajatnya dengan apa yang diharamkan oleh Allah. "[3]

3. Dari Jabir bin Abdillah, dia berkata, Rasulullah bersabda,

لعلَّ أحدكم يأتيه حديثٌ من حديثي وهو متكئٌ على أريكته فيقول: دعونا من هذا، ما وجدنا في كتاب الله اتَّبعناه

"Boleh jadi salah seorang di antara kalian mendengar salah satu dari perkataanku, sedangkan dia dalam keadaan berbaring di ranjangnya, kemudian berkata, 'Jauhkan kami dari semua ini. Sesuatu yang kami dapatkan dalam Kitabullah, itulah yang kami ikuti'."[4]

4. Dari al-Irbadh bin Sariyah bahwa Rasulullah bersabda,

أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبداً حبشياً، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً، فعليكم بسنَّتي وسنَّة الخلفاء المهديين الراشدين، تمسَّكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإنَّ كل محدثةٍ بدعة، وكل بدعةٍ ضلالة

"Saya berwasiat kepada kalian untuk bertakwa dan tunduk serta patuh (terhadap pimpinan) walaupun dia seorang budak Ethiopia. Karena barangsiapa yang hidup (dengan umur panjang) di antara kalian, maka dia akan menemukan banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpe¬gang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafa' Rasyidin yang diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya erat-erat, dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian, dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena semua yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat."[5]

Nash-nash dari as-Sunnah tentang anjuran untuk berpegang teguh dengannya, dan perintah menyebarkan kepada orang lain sangat banyak, namun pada kesempatan ini saya cukupkan dengan yang telah disebutkan.[6]

Dalil Tentangnya dari Perkataan Ulama Salaf

1. Dari al-Hasan al-Bashri bahwasanya Imran bin al-Hushain suatu ketika duduk bersama sahabat-sahabatnya, dan berkatalah seseorang dari suatu kaum, "Janganlah kalian bercerita kepada kami kecuali dengan al-Qur'an saja." Imran bin Hushain berkata kepadanya, ''Kemarilah mendekat!" Maka orang itu mendekat, lalu dia berkata, "Bagaimana pendapatmu kalau kamu dan kawan- kawanmu hanya bersandar kepada al-Qur'an saja, apakah kamu mendapati dalam al-Qur‘an Shalat Zhuhur empat rakaat, Shalat Ashar empat rakaat, dan shalat Maghrib tiga rakaat yang mana dua rakaatnya dibaca (dengan suara) keras? Apa pendapatmu seandainya kamu dan kawan-kawanmu hanya bersandar kepada al-Qur'an saja, apakah kamu menemukan thawaf tujuh kali keliling dan thawaf di Shafa dan Marwa?" Kemudian dia berkata lagi, "Wahai kaum, ambillah dari kami, karena kalian -demi Allah- jika kalian tidak berbuat demikian, niscaya akan sesat."[7]

2. Dari Muhammad bin Katsir dari al-Auza'i dari Hassan bin Athiyyah, dia berkata,

كان جبريل ينزل على النَّبي صلى الله عليه وسلم بالسُّنَّة كما ينزل عليه بالقرآن

"Jibril turun kepada Nabi membawa as-Sunnah sebagaimana dia turun membawakan al-Qur'an. "{8]

3. Dari Ayyub as-Sakhtiyani berkata, Seorang lelaki berkata kepada Muthanif bin Abdullah bin asy-Syikhkhir, "Jangan sampaikan kepada kami kecuali yang berasal dari al-Qur'an!" Mutharif berkata, "Demi Allah, kami tidak ingin mengganti al-Qur'an, namun tunjukkanlah kepada kami seorang yang lebih paham dari kami tentang al-Quran."[9]

4. Dari al-Auza'i dari Ayyub as-Sakhtiyani berkata, "Apabila kamu menyebutkan sebuah hadits kepada seseorang lalu orang itu berkata, 'Jauhkanlah kami dari hadits ini, dan ceritakanlah kepada kami dari al-Qur'an (saja)’, maka ketahuilah bahwa dia adalah orang yang sesat dan menyesatkan;"[10]

5. Al-Auza'i, Makhul, Yahya bin Abi Katsir, dan selain me¬reka berkata, "Al-Qur'an jauh lebih membutuhkan hadits daripada hadits membutuhkan al-Qur'an. As-Sunnah merupakan penjelas al-Qur'an, dan al-Qur'an bukan penjelas as-Sunnah."[11]

6. Al-Fadhl bin Ziyad berkata, "Saya telah mendengar Ahmad bin Hanbal berkata tatkala ditanya tentang hadits yang meriwayatkan bahwa as-Sunnah menjadi penjelas al-Qur'an, maka dia men jawab, "Aku tidak berani untuk mengucapkan ini, tetapi as-Sunnah menafsirkan al-Qur'an, mendefinisikan, dan menjelaskannya. "[12]

7. Imam asy-Syafi'i tatkala mengomentari tentang ayat yang menyebutkan al-Kitab dan al-Hikmah, seperti Firman Allah,

لقدَ مَنَّ اللهُ عَلَى المؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمْ الكِتَابَ وَالحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya dahulu sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Ali Imran: 164.)

Kemudian dia berkata, "Allah menyebut al-Kitab, dan yang dimaksud adalah al-Qur'an, dan menyebut al-Hikmah. Saya telah mendengarkan dari ulama yang paling saya ridhai dalam al-Quran, dia berkata, "Yang dimaksud dengan 'al-Hikmah' adalah Sunnah Rasulullah , karena Al-Qur'an disebutkan, dan diikuti oleh 'al-hikmah', dan Allah menyebutkan nikmatNya atas para hambaNya dengan mengajarkan al-Kitab dan al-Hikmah, dan tidak boleh hukumnya –wallahu a'lam- memaksudkan kata al-Hikmah di sini kecuali dengan Sunnah Rasulullah . Hal tersebut dikarenakan bahwa ia terpaut dengan Kitabullah, dan bahwa Allah mewajibkan untuk taat kepada Rasul, dan mewajibkan manusia mengikuti perintahnya. Maka tidak boleh mengatakan masalah ini 'wajib hukumnya’ kecuali berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah .[13]

8. Al-Hafizh Abu Umar Ibnu Abd al-Barr berkata, "Penjelasan dari Nabi ada dua macam;

Pcrtama, penjelasan hal-hal yang global dalam al-Qur an seperti shalat fardhu lima kali berkenaan dengan waktunya, cara sujud dan rukuk, dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya. Juga seperti penjelasan beliau tentang zakat, batasan dan waktu¬nya, dan harta yang wajib dikeluarkan zakatnya, dan penjelasan tentang manasik haji. Rasulullah bersabda,

خذوا عني مناسككم

"Ambillah dariku manasik kalian,"[14]

Kedua, tambahan atas hukum yang belum terdapat dalam al-Qur'an, seperti; haramnya menikahi seorang wanita bersama bibinya dari ibu atau bapak, haramnya daging keledai jinak, dan haramnya setiap binatang buas yang bergigi taring, dan lain-lain."

Dan Allah telah memerintahkan untuk menaati Rasul dan mengikutinya secara mutlak mujmal (global) tanpa terikat dengan sesuatu sebagaimana Dia memerintahkan kita untuk mengikuti al-Qur an. Dan Allah tidak mengatakan, “(Mengikuti) sesuatu yang sesuai dengan kitab Allah saja," sebagaimana pengakuan orang-orang yang (hatinya) ragu.[15]

9. Ibnu al Qayyim berkata, "Iimam Ahmad telah menulis sebuah kitab tentang (wajibnya) taat kepada Rasulullah . Dia membantah pandangan orang yang berhujjah dengan zhahir al-Qur'an untuk menolak Sunnah Nabi dan meninggalkan berhujjah dengan as-Sunnah, Dia berkata di sela-sela khutbahnya, 'Sesungguhnya Allah yang Maha tinggi pujianNya dan Mahasuci nama-namaNya, telah mengutus Muhammad dengan petunjuk dan agama kebenaran untuk memenangkannya atas semua agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyenanginya. Allah me¬nurunkan kepadanya sebuah kitab sebagai petunjuk dan cahaya bagi pengikutnya. Dia menugaskan RasulNya sebagai penunjuk atas sesuatu yang Dia inginkan dari zahir dan batinnya al-Qur'an, yang bersifat umum dan khusus, yang berfungsi sebagai nasikh (penghapus) dan mansukh (yang dihapus), dan setiap yang dimak¬sudkan oleh al-Qur'an. Maka Rasulullah adalah orang yang mengungkapkan isi al-Qur'an, menunjukkan makna kandungan¬nya. Semua sahabat yang Allah pilih dan ridhai untuk menjadi pendamping NabiNya telah menyaksikannya. Mereka menukil semua itu darinya, sehingga merekalah orang yang paling tahu tentang Rasul dan apa yang Allah kehendaki dari kitabNya dengan sebab mereka melihat langsung (turunnya al-Qur'an) dan apa yang dimaksudkan di dalamnya. Sehingga mereka menjadi orang yang mengungkapkan hal itu setelah Rasulullah . Jabir ber¬kata, 'Tatkala Rasulullah berada di tengah-tengah kami, al-Qur'an diturunkan kepadanya. Beliau mengerti maksud dari ayat-ayat itu. Dan setiap sesuatu yang dia lakukan maka kami pun melakukan¬nya." Kemudian dia membawakan ayat tersebut yang menunjuk¬kan atas ketaatan pada Rasulullah [16]


[1] Judul ini diambil dari judul yang ditulis al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Kifayahfi Ilm ar-Riwayah. hal. 39. Judul ini mengisyaratkan bahwa al-Quran dan as-Sunnah adalah sama berada dalam satu tingkatan dari sisi sebagai pedoman dan hujjah dalam penetapan hukum syariat. Dr. Abdul Ghani Abdul Khaliq dalam kitab Buhuts fi as-Sunnah al-Musyarrafah yang merupakan ringkasan dari kitab 'Hujjiyah as-Sunnah' menyatakan, "Sungguh sunnah berada satu tingkatan bersama al-Qur'an dari sisi sebagai pedoman dan hujjah terhadap hukum-hukum syar’i. Kami berkata untuk menjelaskan hal tersebut, ’Sudah dimaklumi bahwa tidak ada perselisihan bahwa al-Qur'an lebih istimewa dan lebih utama daripada as-Sunnah, karena lafazhnya turun langsung dari Allah, membacanya adalah ibadah, dan manusia tidak akan mampu membuat sesuatu yang seperti al-Qur'an. Ini berbeda dengan as-Sunnah. As-Sunnah berada di bawah al-Qur'an dalam keutamaan dilihat dari sisi ini. Namun hal itu tidak mengharuskan pembedaan pengutamaan antara keduanya dari sisi kehujjahan dengan menyatakan bahwa as-Sunnah di bawah al-Qur'an, sehingga as-Sunnah ditinggalkan, dan hanya mengamalkan al-Qur'an saja ketika ada pertentangan antara keduanya. Perkaranya demikian karena kehujjahan al-Kitab datang dari suatu sisi pandang, yaitu bahwa ia wahyu dari Allah, sedangkan as-Sunnah (dari sisi pandang ini) sama dengan al-Qur'an, karena ia adalah wahyu sebagaimana al-Qur'an. Maka wajib menerimanya langsung tanpa membelakangkannya dari al-Qur'an dalam fungsi sebagai pedoman."

Kemudian al-Khathib menyebutkan beberapa syubhat orang yang mengakhirkan Sunnah dari al-Qur'an dalam fungsi sebagai pedoman, dan mem-bantahnya dengan bantahan yang detail. Lihat perinciannya dalam Buhuts fi as-Sunnah al-Musyarrafah, hal. 20-30. Dan pembahasan setelahnya dalam pasal ini berupa pendapat para salaf yang menguatkan pendapat yang disebut¬kan oleh al-Khathib

[2] Sunan Abi Dawud; Luzum as-Sunnah, Abu Dawud, 5/12, no. 4605. Perawinya semuanya tsiqah; at-Tirmidzi juga meriwayatkannya. Dan dia berkata, "Hadits hasan shahih". Lihat Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-'ilm, Abu Isa at-Tirmidzi, 5/37, no. 2663.

[3] Diriwayatkan Abu Dawud. lihat Sunan Abu Dawud; Bab Luzum az-Sunnah, Abu Dawud, 5/10, no. 4604 dan perawi haditanya semuanya tsiqah. At Tirmidzi meriwayatkannya dalam Kitab al-'Ilm, 5/38 no. 2664. Dia berkata, "Hadits hasan gharib.”

[4] Diriwayatkan oleh al-Khathib. lihat al-Kifayah fi Ilm ar-Riwayah, al-Khathib al-Baghdadi, hal. 42, dari dua jalur; lihat Jami’ Bayan al-’Ilm wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 2/189

[5] Sunan Abu Dawud, Abu Dawud, 5/13, no. 4607; Sunan at-Timidzi, at-Tirmidzi, no. 2676. Dia berkata, "Hadits hasan shahih."

[6] Barangsiapa yang ingin menelaah lebih banyak dari nash-nash ini, maka hendaklah dia merujuk kepada Hujjiyah as-Sunnah, Abdul Ghani bin Abdul Khaliq, hal. 308-22.

[7] Madkhal ad-Dala 'il, al-Baihaqi, 1/25. Al-Kifayah fi Ilm ar-Riwayah, al-Khathib al-Baghdadi, hal. 48 dari beberapa jalur. Jami’ Bayan al-’Hm wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 2/191.

[8] Sunan ad-Darimi, Abu Muhammad ad-Darimi, Bab as-Sunnah Qadhiyah 'ala Kitabillah, 1/177. hal. 549; Al-Kifayah fi Ilm ar-Riwayah, al-Khathib al-Baghdadi, hal. 48. Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 1/191. Diriwayat kan oleh al-Baihaqi. Lihat Madkhal Miftah al-Jannah fi al-Ihtijaj bi as-Sunnah, as-Suyuthi. hal. 10.

[9] Al-Madkhal; Hujjiyyah as-Sunnah, al-Baihaqi, hal. 331; Jami’ Bayan al-’Ilm wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 1/91.

[10] Ma’rifah Ulum al-Hadits, al-Hakim, hal. 65; al-Baihaqi, hal. 332; al-Kifayah fi llm ar-Riwayah, al-Khathib al-Baghdadi, hal. 49.

[11] Sunan ad-Darimi, Bab as-Sunnah Qadhiyah 'ala Kitabillah, Abu Muhammad ad-Darimi, 1/17, no. 593.

[12] Al-Kifayah fi Jlm ar-Riwayah, al-Khathib al-Baghdadi, 1/47. Jami' Bayan al- ’flm wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 2/191-192.

[13] Ar-Risalah, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, 76-78.

[14] Ini sebagian dari hadits Jabir yang menjelaskan haji Rasulullah; lihat Shahih Muslim', kitab al-Hajj, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, 2/943 no. 310.

[15] Jami' Bayan al-’Ilm wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 2/190.

[16] I’lam ol-Muwaqqi‘in ’an Rabbi al-’Alamin, Ibnu al-Qayyim, 2/290-291.

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya