Kitab Referensi

Kitab : Tadwin as-Sunnah Nabawiyah, Nasy' atuhu wa tathawwuruhu

Sebelum saya memulai penjelasan isi bab dan pasal buku ini, saya ingin memberikan pendahuluan bagi pembahasan-pembahasan buku ini dan objeknya dengan menjelaskan maksud judul buku ini.

Kata اَلتَّدْوِيْنُ secara etimologis adalah: mengikat sesuatu yang terpisah dan mengumpulkan yang tercerai berai dalam sebuah catatan, seperti mengumpulkan shuhuf(lembaran-lembaran) dalam sebuah kitab. Ia adalah bahasa Persia yang telah dimasukkan dalam bahasa Arab.[1]

Menurut terminologis kata اَلتَّدْوِيْنُ bermakna kodifikasi karya tulis ilmiah.

Adapun kata اَلْسُنَّةُ secara bahasa adalah: sejarah perjalanan dan jalan (hidup) seseorang yang baik maupun yang buruk. Itulah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah ,

من سنَّ في الاسلام سُنِّةً حسنةً فله أجرها وأجر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيئأ، ومن سنَّ في الإسلام سُّنَّة سيئةً كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيئاً

"Barangsiapa yang memberi contoh yang baik dalam Islam, maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang lain yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Barangsiapa yang memberi contoh jelek dalam Islam, maka dia mendapatkan dosanya dan dosa orang lain yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.[2]

Di antaranya juga pernyataan Khalid bin Zuhair al-Hudzali

فلا تجزعن من سُّنَّةٍ أنت سرتها
...
فأول راضٍ سُّنَّةً من يسيرها

Janganlah kamu berani (memutus) perjalanan yang sedang kamu jalani
Karena yang pertama kali ridha pada perjalanan itu adalah orang yang menjalaninya

Di antara maknanya secara bahasa adalah: pemeliharaan dan pengurusan yang baik. Hal tersebut berdasarkan ungkapan perkataan seorang Arab, سَنَّ الرِّجُلُ إِبِلَهُ (Laki-laki itu mengurus untanya dengan baik) yaitu apabila dia baik dalam pemeliharaan dan pengurusan untanya.[3]

Dalam pengertian terminologi, kata اَلْسُنَّةُ dipakai untuk beberapa pengertian sebagai berikut

1. Ibnu Manzhur berkata, "Sungguh telah berulang kali disebut kata sunnah dan lafazh yang ditashrifkan darinya dalam hadits. Makna asalnya adalah jalan dan perjalanan (hidup), namun bila disebutkan secara mutlak dalam syariat maka artinya adalah: Se¬suatu yang diperintahkan, dilarang, dan dianjurkan oleh Rasulullah , baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tidak ada dalam al-Qur'an. Dari pengertian inilah muncul istilah يقال في أدلة الشرع: الكتاب والسُّنَّة (dikatakan dalam kategori dalil syar'i yaitu al-Kitab dan as- Sunnah), maksudnya al-Qur an dan al-Hadits."[4]

2. Imam asy-Syathibi berkata, "Kata 'sunnah' mencakup juga makna lawan dari 'bid'ah'. Maka dikatakanlah, فلان على سُّنَّةٍ (Fulan berpegang teguh pada as-Sunnah),' yaitu apabila dia melakukan se¬suatu yang sesuai dengan yang dilakukan Nabi , dan dikatakan فلان على بدعةٍ (Fulan berpegang teguh pada btd'ah)' yaitu apabila dia melakukan kebalikan aanSurmah [5]

Kemudian dia berkata lagi "Kata as-Sunnah dipakai juga untuk sesuatu yang diamalkan para sahabat, baik dasarnya ada dalam al-Qur'an atau tidak ada, dengan pertimbangan bahwa mereka melakukan itu karena mengikuti sunnah Nabi yang tsabit menurut mereka, namun belum ternukil kepada kita, atau karena sebagai ijtihad yang telah disepakati oleh mereka atau oleh khalifah mereka, sebagaimana sabda Nabi ,

عليكم بسنَّتي وسنَّةِ الخلفاء الراشدين المهديين

"Kalian berpegang teguhlah dengan Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang lurus dan mendapat petunjuk... [6]

Setelah istilah-istilah dalam disiplin ilmu menjadi baku, dan ilmu-ilmu Islam juga telah paten, maka lafazh as-Sunnah akhirnya memiliki pengertian dan istilah baru, di antaranya:

1. Sesuatu yang disebutkan oleh ulama hadits dalam kitab- kitab mereka, "Setiap yang berasal dari Nabi berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat."[7]

2. Sesuatu yang disebutkan oleh ulama Ushul Fiqh dalam kitab-kitab mereka, "Setiap yang berasal dari Nabi berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuan, yang layak untuk dijadikan dalil untuk hukum syar'i. "[8]

3. Menurut ulama Fiqh dalam kitab-kitab mereka, "Sesuatu yang bila dikerjakan mendapat pahala, bila ditinggalkan mendapat cemoohan dan celaan, namun tidak mendapat siksaan."[9] Atau, "Sesuatu yang bentuk perintahnya tidak tegas pasti"[10]

Adapun frase, "Tadwin as-Sunnah" adalah termasuk bentuk penyandaran makna hakiki yang murni (al-ldhafah al-Ma'nawi al Haqiqi al-Mahdhah), hal itu disebabkan karena penyandaran (idhafah) di sini mengandung makna lam ta'rif (lam definitif), dan idhafah ini mempengaruhi pada mudhaf (yang disandarkan) sebagai bentuk ta'rif (definitif), di mana ia disandarkan kepada ma'rifah maka ia mendapatkan status ta'rif karena ia disandarkan kepadanya.[11] Wallaahu a'lam.

Adapun kata, 'Nasy'atuhu wa Tathawwuruhu' maka telah kami jelaskan dalam mukadimah.


[1] Lihat kata dawana (دَوَنَ) dalam ash-Shihah, al-Jauhari; al-Qamus al-Muhith, al-Fairuz Abadi, dan Taj ‘al-Arus, al-Murtadha az-Zabidi.

[2] Shahih Muslim; Kitab al-’Ilm, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi.

[3] Lihat kata سنن dalam Lisan al-Arab, Ibnu Manzhur, dan ash-Shihah, al-Jauhari.

[4] Lihat kata سنن dalam Lisan al-Arab, Ibnu Manzhur.

[5] Al-Muwafaqat, asy-Syathibi, 4/3-4.

[6] Musnad Ahmad. Ahmad bin Hanbal, 4/126-127; Sunan Abu Dawud, Abu Dawud, 5/13, no. 4607; Sunan at-Tirmidzi; Kitab al-’Ilm, Abu Isa at-Tirmidzi, 5/44, no.2676, dia berkata, "Hadits Hasan Shahih". Sunan Ibnu Majah, Ibnu Majah. 1/43, no. 96.

[7] Fath al-Mugits, Syamsuddin as-Sakhawi, 1/6.

[8] Syarh al-Kaukab al-Munir, Ibnu an-Najjar. 2/159-166. Mudzakkirah Ushul al- Fiqh, Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, hal. 95.

[9] Anis al-Fuqaha’, Qasim al Qunawi, hal. 106.

[10] Syarh al-Kaukab al-Munir, Ibnu an-Najjar, 2/159-166. Mudzakkirah Ushul al- Fiqh, Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, hal. 16.

[11] Syarh al-Kafiyah asy-Syafiyah, Ibnu Malik, 2/909.

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya