Kitab Referensi

Kitab : Tadwin as-Sunnah Nabawiyah, Nasy' atuhu wa tathawwuruhu

Kita Memohon Perlindungan Kepada Allah

Segala Puji bagi Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang menjadikan kegelapan dan cahaya yang terang, sementara orang-orang kafir tetap dalam pengingkaran terhadap Rabb mereka. Orang-orang yang melampaui batas tidak dapat menghitung nikmat-nikmat Allah, dan orang yang bertahmid tidak dapat menunaikan syukur kepadaNya, serta tidak ada seorang pun yang dapat menyifati keagunganNya. Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi. Dan bila Dia menghendaki suatu perkara, maka cukuplah Dia mengatakan, "Jadilah (kun)" maka jadilah ia.

Aku memuji dan bersyukur atas segala nikmatNya. Aku memohon pertolongan kepadaNya, baik di kala lapang maupun sempit. Aku bertawakal kepadanya atas segala ketetapan takdir dan ketentuannya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan berkeyakinan bahwa tidak ada tuhan selainNya, syahadat orang yang tidak meragukan persaksiannya, keyakinan orang yang tidak congkak beribadah kepadaNya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya yang al-Amin (terpercaya), RasulNya yang konsisten. Allah memberinya keyakinan yang mantap. Dia telah menyampaikan risalah. Dia menjelaskan sabdanya. Dia telah memberikan nasihat kepada umat. Dia menyingkap segala yang kabur. Dia berjihad di jalan Allah menghadapi kaum musyrikin. Dia telah beribadah kepada Rabbnya hingga akhir hayat, Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada penghulu para rasul, keluarganya yang mulia, para sahabatnya yang menjadi pilihan umat, istri-istrinya ummahat al-Mukminin yang suci, dan setiap orang yang mengikuti langkahnya hingga Hari Kiamat,[1] amma ba'du:

Sungguh Allah telah memilih sekelompok dari umat ini sebagai pilihan. Dia memberikan hidayah kepada mereka untuk senantiasa menaatiNya dengan senantiasa meniti jalan orang-orang baik (al-Abrar) dalam mengikuti as-Sunnah dan atsar para sahabatnya, lalu menghiasi hati mereka dengan keimanan dan memudahkan lisan-lisan mereka dalam menjelaskan ajaran agamanya serta mengikuti Sunnah Nabi dengan cara terus menerus pergi dan safar serta meninggalkan keluarga dan ambisinya, demi mengumpulkan hadits-hadits Nabi , menolak hawa nafsu, menggali khazanahnya dengan meninggalkan ar-Ra'yu (akal). Lalu muncullah suatu kaum yang mengkonsentrasikan dirinya untuk hadits. Mereka mencarinya, melakukan perjalanan jauh dan menulis hadits, menanyakan dan mengurutkannya, menghafalnya dan mengulang-ulangnya, dan menyebarkannya ke khalayak umum. Mereka ber-tafaqquh dan membuat kaidah-kaidah dasar dan cabangnya (furu'). Mereka memfokuskan segala tenaga untuknya, sehingga berhasil membedakan hadits yang mursal dari yang muttasil, yang mauquf dari yang munfasil, yang nasikh dari yang mansukh, yang muhkam dari yang mafsukh, yang mufassar dari yang mujmal, yang masih berlaku dari yang tidak berlaku lagi, yang gharib (langka) dari masyhur (terkenal).

Mereka juga mampu meninggalkan perawi yang dicela dan orang-orang lemah yang ditinggalkan, dan menyingkap perawi mana yang tidak dikenal (majhul), mana yang telah diganti atau ditukar berupa usaha tipu daya tadlis dan yang berisi talbis, hingga Allah menjaga keaslian agama ini melalui tangan-tangan mereka dan melindunginya dari tangan-tangan orang jahat. Allah menjadikan mereka sebagai pemimpin kebenaran pada kondisi perselisihan dan lampu-lampu penerang dalam masalah-masalah baru yang menimpa umat. Mereka itulah para pewaris Nabi, dan rujukan umat yang pilihan.[2]

Allah telah menjadikan ahlul Hadits sebagai penopang bagi syariat. Allah -melalui mereka- membasmi segala bid'ah. Mereka adalah duta-duta Allah dari makhlukNya, dan perantara antara Rasulullah dan umatnya, para mujtahid yang bersungguh-sungguh mengeksiskan agamaNya. Cahaya mereka selalu bersinar. Keutamaan mereka senantiasa hidup. Madzhab mereka nampak, dan hujjah mereka menang. Semua kelompok yang cenderung kepada hawa nafsu akan kembali kepada hawa nafsu itu atau menganggap baik pendapat yang dimilikinya saja, kecuali ahlul Hadits. Karena Kitab Allah adalah bekal mereka, dan Sunnah Nabi yang suci adalah hujjah mereka. Rasulullah adalah kelompok mereka, dan penisbatan diri mereka kepadanya . Mereka sama sekali tidak tertarik kepada hawa nafsu dan tidak menggubris pendapat akal. Setiap yang mereka riwayatkan dari Rasulullah adalah diterima. Mereka dipercaya atasnya. Mereka menjadi penjaga agama. Mereka adalah gudang ilmu dan pemanggulnya. Mereka adalah para ulama besar, para fakih, para pemimpin yang meninggikan nabinya, qari' yang handal, khathib yang ulung. Merekalah al-Jumhur al-Azhim (Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah). Jalan mereka adalah jalan yang lurus. Barangsiapa yang mengupayakan makar pada mereka, maka Allah akan memurkainya. Barangsiapa yang memusuhi mereka, maka Allah akan menelantarkannya. Orang yang menelantarkan mereka, tidak dapat merugikan mereka. Dan orang yang meninggalkan mereka, tidak akan beruntung. Orang yang menjaga agamanya butuh kepada bimbingan mereka. Dan celakalah orang yang memandang jahat kepada mereka. Sesungguhnya Allah Mahakuasa untuk memenangkan mereka.[3]

Wa ba'du,

Inilah selayang pandang dari hasil upaya generasi as-Salaf ash-Shalih yang telah disebutkan sifat-sifat mereka di atas. Merekalah yang telah mengerahkan segala kekuatan dan sesuatu yang berharga dalam berkhidmat kepada as-Sunnah yang suci. Mereka menghafal, mengodifikasi, dan menyampaikannya kepada umat.

Saya kumpulkan semua ini dari beberapa sumber, dan saya susun dengan tambahan sedikit berupa komentar, hubungan keterkaitan, dan pengenalan tentang hasil upaya kodifikasi tersebut Semua itu saya lakukan sepanjang kegiatan mengajar mata kuliah "Kodifikasi Hadits Nabi Melintasi Zaman yang Silih Berganti", untuk para mahasiswa tahun pertama pada fakultas hadits Universitas Islam Madinah di mana saya menyusun materi pembahasan kurikulum mata kuliah ini yang tidak terkumpul seluruhnya atau mayoritasnya dalam satu kitab saja. Semua itu bertujuan agar sesuai atau minimal mendekati kurikulum mata kuliah ini, dan agar dapat menjadi rujukan (referensi) instant bagi para mahasiswa, dengan tetap merujuk kepada sumber rujukan aslinya di kemudian hari.

Saya menyusun dan merapikannya. Saya menamakannya Tadwin as-Sunnah an-Nabawiyah; Nasy'atuhu wa Tathawwuruhu min al-Qarni al-Hijri al-Awwal 'ila Nihayati al-Qarni al-Hijri at-Tasi' (Kodifikasi Hadits Nabi; Permulaan dan Perkembangannya Sejak Abad Pertama Hijriyah Hingga Akhir Abad Kesembilan).

Buku ini terdiri dari lima bab. Setiap bab terdiri dari beberapa pasal. Setiap pasal terdiri dari beberapa pembahasan.

Saya awali dengan tamhid (mukadimah), di mana saya menjelaskan di dalamnya pengertian kata, "Tadwin as-Sunnah." Kemudian pada bab pertama tentang kedudukan as-Sunnah dalam Islam, dan perhatian ulama salaf terhadap as-Sunnah.

Bab Satu, ini terdiri dari tiga pasal:

Pasal Pertama: Tentang persamaan kedudukan hukum al-Qur'an dan as-Sunnah. Di dalamnya saya menjelaskan dalil-dalilnya dari al-Qur'an dan as-Sunnah, serta pendapat ulama salaf.

Pasal Kedua: Perhatian ulama salaf terhadap as-Sunnah, terdiri dari tiga pembahasan:

  1. Perhatian sahabat terhadap as-Sunnah.
  2. Perhatian tabi'in dan generasi setelah mereka terhadap as-Sunnah
  3. Perjalanan mencari hadits.

Pasal Ketiga; Saya berbicara tentang sikap para pengekor hawa nafsu dan beberapa kelompok sesat tentang kekuatan hadits sebagai dasar hukum (hujjah).

Pasal ini terdiri dari tiga bahasan:

  1. Penolak as-Sunnah secara mutlak.
  2. Penolak hadits ahad,
  3. Penolak tambahan redaksi hadits (az-Ziyadah 'ala an-Nash).

Bab Dua. tentang Kodifikasi Hadits pada abad pertama dan kedua hijriyah, terdiri dari dua pasal:

Pasal Pertama: Kodifikasi hadits pada abad pertama. Saya menetapkannya berdasarkan dalil dan bukti bahwa kodifikasi hadits telah dimulai semenjak zaman Nabi Muhammad . Kemudian saya menyebutkan jerih payah para sahabat dan tabiin berdasarkan kedudukan peringkat mereka dalam kodifikasi hadits pada abad ini.

Pasal Kedua: Kodifikasi pada abad kedua hijriyah. Di dalamnya saya menjelaskan tentang perkembangan kodifikasi hadits pada abad ini, dan saya menyebutkan daftar nama para penulis hadits terkenal pada abad itu, kemudian membedah contoh kitab yang disusun di abad tersebut secara singkat Contoh kitab tersebut adalah al-Muwaththa' karya Imam Malik .

Bab Ketiga, saya mengkhususkan untuk membahas tentang kodifikasi hadits pada abad ketiga hijriyah yang dianggap sebagai zaman keemasan kodifikasi ilmu-ilmu keislaman, khususnya kodifikasi hadits Nabi.

Bab ini saya jadikan dua pasal, dengan memberikan pengantar ringkas tentang usaha keras ulama zaman tersebut dalam pengembangan, pembentukan, dan menciptakan cara kodifikasi, serta pemvariasian mereka untuk metode penulisan karya ilmiah:

Pasal Pertama: Pembahasan tentang kitab Masanid, terdiri dari dua kajian.

Pertama: Definisi Masanid dan cara penulisannya, serta musnad yang paling terkenal.

Kedua: Kajian ringkas tentang Musnad Imam Ahmad bin Hanbal .

Pasal Kedua: Kajian singkat tentang setiap kitab dalam Kutub Sittah. Saya mempersingkat pembahasannya karena dua alasan:

Pertama: Kitab-kitab ini sudah dikenal dan masyhur, dan kajian tentangnya sudah banyak, baik di zaman dahulu maupun sekarang.

Kedua: Kitab-kitab ini dipelajari sebagai mata kuliah wajib selama empat tahun kuliah, dan para mahasiswa telah mendapatkan contoh-contohnya dengan pengenalan terhadap kitab-kitab tersebut dan penulisnya.

Bab Keempat, tentang kodifikasi hadits pada abad keempat dan kelima hijriyah, terdiri dari dua pasal:

Pasal Pertama: kodifikasi pada abad keempat hijriyah, terdiri dari dua pembahasan:

Pertama: Penjelasan singkat tentang kitab-kitab hadits yang dikodifikasi pada abad ini, yaitu:

  1. Shahih Ibnu Khuzaimah.
  2. Shahih Ibnu Hibban.
  3. Mustadrak al-Hakim.
  4. Syarah Musykil al-Atsar, karya ath-Thahawi
  5. Al-Mu'jam al-Kabir, karya ath-Thabrani.
  6. Sunan ad-Daruquthni.
  7. As-Sunan al-Kubra, karya al-Baihaqi.

Kedua: Pembahasan tentang kitab-kitab al-Mustakhrajat.

Pasal Kedua: Kodifikasi pada abad kelima hijriyah. Terdiri dari dua objek pembahasan:

Pertama; Pembahasan kitab hadits paling urgen yang mengumpulkan antara Kutub Sittah, atau sebagiannya.

Kedua: Penjelasan singkat tentang tiga kitab hadits;

  1. Syarh as-Sunnah, karya al-Baghawi.
  2. Mashabih as-Sunnah, karya al-Baghawi.
  3. ]ami' al-Ushul, karya Ibnu al-Atsir.

Bab Kelima, tentang arah kodifikasi setelah abad kelima hijriyah. Terdiri dari dua pasal. Saya memberikan pengantar ringkas tentang kondisi dunia Islam antara abad kelima hingga kesembilan hijriyah, yang terdiri dari dua bahasan:

Pertama: Ujian dan rintangan yang paling berat yang dihadapi umat Islam pada umumnya, dan ahli hadits pada khususnya.

Kedua: Upaya ulama dalam menghadapi ujian dan rintangan ini, dan pemaparan usaha keras ulama hadits dalam hal tersebut, dengan menjelaskan bahwa mereka -setelah Allah- adalah penyelamat kaum Muslimin dari terjerumus ke jurang kebid'ahan, khurafat, dan segala bentuk kekeliruan dalam beragama.

Adapun dua pasal yang menjadi kajian bab ini adalah:

Pasal Pertama: Kitab-kitab hadits yang ditulis dalam objek pembahasan tertentu, seperti:

  • Kitab al-Maudhu 'at (kitab yang membahas tentang hadits-hadits maudhu'(palsu).
  • Kitab al-Ahkam (kitab yang membahas hadits tentang hukum).
  • Kitab al-Gharib (kitab yang membahas kata-kata asing dan jarang diketahui).

Pasal Kedua: Kitab-kitab hadits yang mencakup seluruh permasalah umum, seperti: Kitab-kitab Athraf, Takhrij, az-Zawa'id, al-Majami' dan sebagainya.

Semoga dengan penjelasan singkat tentang kandungan kitab ini, akan dapat menjelaskan maksud dari nama kitab ini, yaitu Tadwin as-Sunnah an-Nabawiyah; Nasy'atuhu wa Tathawwuruhu.

Akhirnya, inilah ringkasan dari karya ulama salaf kita yang diberkahi, melewati beberapa masa yang silih berganti dalam berkhidmat kepada Islam secara umum dan Sunnah Nabi secara khusus.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan peringatan pada beberapa hal sebagai berikut:

1. Sebab utama saya membatasi pembahasan hingga abad kesembilan hijriyah saja adalah karena setelah itu tidak ada inovasi baru yang berarti dalam masalah ini. Semua upaya khidmat kepada as-Sunnah setelah abad tersebut hanyalah pengulangan hasil karya terdahulu atau khidmat terhadap karya-karya tersebut, berupa syarah (penjelasan), ringkasan, komentar, dan sejenisnya.

2. Memang ada upaya besar ikhlas yang dilakukan para ulama India setelah abad kesembilan hijriyah dalam berkhidmat kepada as-Sunnah, melalui perhatian besar mereka terhadap kitab-kitab salaf, baik dari sisi riwayat, sima' (mendengar), syarah dan kritik komentar serta sejenisnya. Di antara kitab-kitab pokok itu yang mereka sangat perhatikan adalah Kutub Sittah, Demikian juga dari karya mereka dalam ilmu-ilmu hadits yang bervariasi, dan yang lainnya yang tidak mungkin untuk merincikannya pada kesempatan ini.

3. Kedudukan al-Haramain sebagai sumber ilmu kembali ke pangkuannya setelah abad kesembilan hijriyah. Hal itu terjadi setelah kedudukan itu hilang semenjak abad ketiga disebabkan penguasaan Rawafidh (Syi'ah) terhadap dua negeri ini, yaitu atas kekuasaan wilayah dan mimbar pengajian. Pernyataan ini ditegaskan oleh Ibnu Taimiyah dalam kumpulan fatwanya jilid kedua puluh delapan, dan al-Hafizh adz-Dzahabi dalam kitab Ma'rifah al-Amshar Dzawat al-Atsar, dan Syamsuddin as-Sakhawi dalam at-Tuhfah al-Lathifah. Demikian pula Ibnu Bathutah mengisyaratkannya dalam kitab ar-Rihlah. Karena setelah Khalifah-khalifah Utsmaniyah menaklukkan negeri Syam, Mesir, dan Hijaz, maka mereka mengambil tindakan yang sangat berarti dalam menumpas Rawafidh dari bumi Hijaz dan negeri-negeri Islam lainnya, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Kaum Saljuk dan Turkuman terhadap Rawafidh dan Bathiniyin.

Di antara orang-orang yang berjasa dalam khidmat kepada as-Sunnah setelah abad sepuluh hijriyah adalah Abdurra'uf al-Munawi (W. 1031 H) dan Ali al-Qari (W. 1014 H) dan Muhammad Abdul Hadi as-Sindi (1138 H).

4. Di Jazirah Arab berdiri sebuah gerakan kebangkitan ilmiah salafiyah berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah, mengikuti metode madrasah Syaikhul Islam al-Hafizh Abu al-AbbasIbnu Taimiyah dan para muridnya. Gerakan kebangkitan tersebut dipimpin oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dan murid-muridnya serta cucunya, dimulai sejak abad kedua belas hijriyah. Kami masih terus hidup sampai sekarang -dengan keutamaan Allah- dalam pengaruh gerakan kebangkitan salafiyah itu yang mengembalikan kedudukan Ahlus Sunnah dan mengangkat kepala mereka setelah kebid'ahan tersebar rata dan pelakunya telah menekan Ahlus Sunnah pada dekade terakhir ini.

5. Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Syakir dan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani memiliki peran penting dan bermanfaat pada abad ini dalam khidmat kepada as-Sunnah dan ilmunya dalam tahqiq, takhrij dan lain-lainnya.

6. Orang yang telah menulis masalah Kodifikasi hadits dan yang berhubungan dengannya sebelumku, terpaku pada pembahasan abad pertama saja. Sebagian mereka ada yang sedikit meluas hingga abad ketiga hijriyah namun sangat ringkas sekali. Orang yang paling panjang lebar dalam menjelaskan masalah ini yang telah saya telaah adalah Syaikh Abu Zahwa dalam kitabnya al-Hadits wa al-Muhadditsun, namun demikian saya tetap memilih cara tersendiri yang berbeda dengan cara beliau. Hal ini karena sedapat mungkin saya sesuaikan dengan kurikulum yang ada pada Fakultas Ilmu-ilmu Hadits di Universitas Islam Madinah.

Saya memohon kepada Allah untuk menganugerahkan taufik dan bimbingan menuju apa yang Dia cintai dan ridhai.

Madinah an-Nabawiyyah, 15 Rabi'ul Awal 1412 H.


[1]. Muqaddimah Tarikh al-Baghdadi, al-Khathib al-Baghdadi, 1/3

[2] Lihat Shahih Ibttu Hibban, Ibnu Hibban, I/84.

[3] lihat Syaraf Ashhab al-Hadits, al-Khathib al-Baghdadi, hal. 8-9.

Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya