Biografi Ulama Ahl Sunnah wal Jama'ah

MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI'I

PEMBELA KEBENARAN DAN SUNNAH
MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI'I
[Lahir: 150 H. - Wafat: 206 H]

1.    NAMA, NASAB, KELAHIRAN, PERTUMBUHAN, DAN CIRI-CIRI MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFTI

Namanya:

Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi' bin as-Sa'ib bin Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'b bin Lu’ay bin Ghalib.

Kunyahnya: Abu Abdillah.

Dia adalah anak paman Rasulullah, nasabnya bertemu dengan beliau pada kakeknya, Abdu Manaf. Rasulullah berasal dari Bani Hasyim bin Abdu Manaf, sedangkan imam kita, asy-Syafi'i berasal dari Bani Abdul 1 Muththalib bin Abdu Manaf. Nabi bersabda,

إِنَّمَا بَنُو الْمُطَّلِبِ وَبَنُوْ هَاشِمٍ شَيْءُ وَاحِدٌ

"Bani Muththalib dan Bani Hasyim itu adalah satu."2

An-Nawawi mengatakan, "Ketahuilah, bahwa dia (asy-Syafi'i) memiliki tempat yang tinggi berupa macam-macam kebaikan dan kedudukan yang mulia, karena Allah telah menghimpun padanya aneka macam kemuliaan. Di antaranya, kemuliaan nasab yang suci, unsur yang cemerlang, dan berhimpunnya dia dengan Rasulullah dalam nasab. Itu adalah puncak kemuliaan dan puncak kedudukan. Di antaranya juga, kemuliaan tempat kelahiran dan pertumbuhan, karena dia dilahirkan di al-Ardh al-Muqaddasah (Palestina) dan besar di Makkah."3

Kelahiran dan Pertumbuhannya:

Adz-Dzahabi mengatakan, "Tempat kelahiran Sang imam tepatnya di Ghaza. Ayahnya, Idris meninggal saat masih pemuda, lalu Muhammad tumbuh sebagai yatim dalam asuhan ibunya. Kemudian ibunya khawatir anak-anaknya tersia-siakan, lalu dia berpindah ke induk keluarganya ketika asy-Syafi'i berumur dua tahun, lalu tumbuh besar di Makkah. Dia menggeluti dunia memanah sehingga mengungguli teman-teman sejawatnya. Dia mem­bidik tepat sasaran dengan sembilan anak panah dari sepuluh anak panah. Kemudian dia menyukai bahasa Arab dan syair sehingga menguasainya dan unggul, kemudian dia diberi kecintaan kepada fikih sehingga mengungguli penduduk zamannya.“ 4

Al-Ulaimi mengatakan, "Abu Abdillah asy-Syafi'i, imam agung, habar (ulama) yang dimuliakan, salah satu imam mujtahid terkemuka, imam Ahlus Sunnah, pilar Islam, kakeknya, Syafi' ber­jumpa Rasulullah saat masih kecil, sedangkan ayahnya, as-Sa’ib adalah pemegang panji Bani Hasyim dalam perang Badar, lalu dia ditawan dan menebus dirinya kemudian masuk Islam.

Ditanyakan kepadanya, "Mengapa engkau tidak masuk Islam sebelum menebus dirimu?" Dia menjawab, "Aku tidak mau meng­halangi kaum Muslimin mendapatkan makanan mereka karena diriku."

Dia dilahirkan di Gaza, salah satu kota di Syam, menurut pendapat yang paling shahih, pada 150 H, yaitu tahun kematian Abu Hanifah an-Nu'man , Ada yang mengatakan, "Pada hari kematiannya." Ada yang mengatakan, "Kelahirannya di Asqalan," ada yang mengatakan, "Di Yaman," dan tumbuh besar di Makkah. Dia menulis ilmu di sana dan di Madinah Rasulullah. Dia datang ke Baghdad dua kali, dan pergi ke Mesir lalu tinggal di sana. Keda­tangannya di sana pada 199 H. Ada yang mengatakan pada 201 H, dan dia tetap berada di sana hingga waktu kematiannya.5

Ciri-ciri Fisiknya:

Abu Nu'aim meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibrahim bin Murad, dia mengatakan, "Asy-Syafi’i itu berperawakan tinggi, mulia, bertubuh besar."

Az-Za'farani mengatakan, "Asy-Syafi'i biasa mewarnai dengan inai, berpipi tipis."

Al-Muzani mengatakan, "Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bagus wajahnya daripada asy-Syafi'i, dan terkadang dia menggenggam jenggotnya sehingga tidak lebih dari genggaman­nya."6

2.    PERMULAAN PENCARIAN ILMU YANG DILAKUKAN MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I DAN KEUNGGULANNYA DI DALAMNYA

Abu Nu’aim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Bakar bin Idris -Warraq al-Humaidi- dari asy-Syafi'i, dia mengatakan, "Aku adalah anak yatim dalam asuhan ibu, sedangkan ibu tidak memiliki sesuatu untuk diberikan kepada guruku, tapi guruku sudah ridha kepadaku bila aku mengikuti di belakangnya ketika dia berdiri. Ketika aku sudah mengkhatamkan al-Qur‘an, aku masuk masjid lalu duduk di majelis ulama, lalu menghafalkan hadits atau masalah7. Tempat tinggal kami di Makkah, di gang al-Khaif. Aku melihat tulang (yang bentuknya) lebar, maka aku menulis hadits dan masalah padanya. Ketika itu kami memiliki bejana lama, apabila tulang telah penuh tulisan, maka aku menaruhnya di dalam bejana."8

Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya, dari Mush'ab bin Abdullah az-Zubairi, dia mengatakan, "Pada permulaannya, asy-Syafi'i mencari syair, sejarah manusia dan adab, kemudian setelah itu mengambil fikih."

Mush'ab mengatakan, "Sebab dia mengambil fikih, bahwa pada suatu hari dia berjalan dengan mengendarai kendaraannya, di belakangnya ada sekretaris ayahku. Ketika asy-Syafi'i bertamsil dengan bait syair, maka sekretaris ayahku mengetuknya dengan cemeti, kemudian mengatakan kepadanya, 'Orang sepertimu akan lenyap keperwiraannya disebabkan perkara seperti ini. Di manakah engkau dari fikih?' Hal itu cukup menggetarkan asy-Syafi'i. Maka dia berniat untuk duduk di majelis az-Zanji bin Khalid -seorang mufti Makkah-. Kemudian dia tiba pada kami, lalu menyertai (mula- zamah) pada Malik bin Anas."9

Al-Baihaqi juga meriwayatkan dari Abu Bakar al-Humaidi, dia mengatakan, Asy-Syafi'i mengatakan, Aku pergi untuk menuntut ilmu nahwu dan adab, lalu aku bertemu Muslim bin Khalid, maka dia mengatakan, "Wahai pemuda, dari mana engkau berasal?" Aku menjawab, "Dari penduduk Makkah." Dia bertanya, "Di manakah tempat tinggalmu di sana?" Aku menjawab, "Di gang al-Khaif." Dia bertanya, "Dari kabilah mana engkau berasal?" Aku jawab, "Daris keturunan Abdu Manaf." Dia mengatakan, "Bagus, bagus. Sungguh Allah telah memuliakanmu di dunia dan akhirat. Mengapakah tidak engkau jadikan pemahamanmu ini dalam fikih, yang tentunya itu lebih baik bagimu?" 10

Adz-Dzahabi mengatakan, dari asy-Syafi'i, dia mengatakan, "Aku datang kepada Malik saat aku masih berusia 13 tahun -demi­kian pernyataannya, tapi secara zahimya bahwa dia saat itu berusia 23 tahun-. Kemudian aku datang kepada anak pamanku, walikota Madinah, lalu dia berbicara kepada Malik dengan mengatakan, 'Carilah orang yang membacakan padamu.' Aku katakan, 'Aku yang akan membacanya.' Aku pun membaca di hadapannya, lalu terkadang dia mengatakan kepadaku tentang sesuatu yang telah berlalu, 'Ulangilah.' Aku pun mengulanginya dengan hafalan, maka seakan-akan dia mengagumiku. Kemudian aku bertanya kepada­nya tentang suatu masalah, maka dia menjawab pertanyaanku. Kemudian pertanyaan lainnya, maka dia mengatakan, 'Engkau ingin menjadi qadhi ? "11

An-Nawawi mengatakan yang ringkasnya,

"Asy-Syafi'i mengambil fikih dan mendapatkannya dari Muslim bin Khalid az-Zanji dan para imam Makkah lainnya. Ke­mudian dia pergi ke Madinah dengan tujuan mengambil ilmu dari Abu Abdillah Malik bin Anas, dan Malik memuliakannya serta memperlakukannya dengan baik; karena nasab, ilmu, kepahaman, akal dan adabnya, dengan apa yang patut bagi keduanya. Dia membaca al-Muwaththa di hadapan Malik secara hafalan, sehingga bacaannya mengagumkannya, maka Malik memintanya untuk me­nambah bacaan, karena kekagumannya dengan bacaannya. Ketika dia menyertai (mulazamah) pada Malik, maka Malik mengatakan kepadanya, 'Bertakwalah kepada Allah, karena engkau akan me­miliki kedudukan.' Dalam suatu riwayat, bahwa dia mengatakan kepadaku, 'Sesungguhnya Allah telah memasukkan cahaya dalam hatimu, maka janganlah engkau memadamkannya dengan kemak­siatan.' Kemudian asy-Syafi'i menjadi wali Yaman, dan menjadi masyhur karena kebagusan perjalanan hidupnya, serta membawa manusia di atas Sunnah dan jalan-jalan yang baik, hal-hal yang banyak lagi dikenal. Kemudian dia pergi ke Irak untuk menyibuk­kan diri dengan ilmu, mengadakan dialog dengan Muhammad bin al-Hasan (murid Abu Hanifah) dan selainnya, menyebarkan ilmu hadits, menegakkan madzhab penduduknya, dan membela Sunnah. Nama dan keutamaannya pun tersebar luas dan terus bertambah memenuhi berbagai tempat.

Keutamaannya diakui, baik oleh orang-orang yang menyetu­juinya maupun orang-orang yang menyelisihinya, dan diakui oleh semua ulama. Kedudukannya tinggi di mata banyak orang dan para pejabat. Keutamaannya saat melakukan perdebatan tampak oleh penduduk Irak dan selain mereka, yang tidak tampak dari se­lainnya. Ilmunya dipetik oleh anak-anak kecil, orang-orang dewasa, dan para imam pilihan dari kalangan ahli hadits, fikih, dan selain mereka. Banyak dari mereka yang menarik diri dari madzhab- madzhab yang mereka anut sebelumnya beralih ke madzhabnya, dan berpegang teguh dengan metodenya. Di Irak dia menyusun kitab qadim (lama)nya yang bernama Kitab al-Hujjah. Kemudian asy-Syafi'i pergi ke Mesir pada 199 H, dan menyusun kitab-kitab jadid (baru)nya, semuanya di Mesir. Namanya melambung di seantaro negeri, dan orang-orang menyengaja kepadanya dari Syam, Yaman, dan Irak."12

3.      PUJIAN PARA ULAMA KEPADA MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I

Al-Hafizh Abu Nu'aim mengatakan, "Di antara mereka ter­dapat imam yang sempurna, berilmu sekaligus mengamalkan ilmu­nya, memiliki kemuliaan yang luhur, akhlak yang bagus, memiliki kedermawanan dan kemurahan. Dia merupakan cahaya dalam kegelapan, menjelaskan yang musykil, menguraikan yang tidak jelas, menyebarkan ilmunya di timur dan barat, melimpahkan madzhabnya di daratan dan lautan, mengikuti sunnah-sunnah dan atsar, mencontoh apa yang telah menjadi kesepakatan kaum Mu­hajirin dan Anshar, mengambil dari para ulama pilihan, lalu para ulama pilihan menceritakan hadits darinya. Dia adalah al-Hijazi, al-Muththalibi, Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i Dia meraih kedudukan yang tinggi, dan memperoleh sifat yang luhur, sebab sifat-sifat dan kedudukan-kedudukan hanyalah men­jadi hak orang yang memiliki ketaatan agama dan keturunan, dan sungguh asy-Syafi'i mendapatkan keduanya sekaligus.

Kemuliaan ilmu dan pengamalannya serta kemuliaan ketu­runan; karena kekerabatannya dengan Rasulullah. Kemuliaannya karena ilmu adalah keistimewaan yang telah Allah berikan kepa- danya, berupa pencurahan perhatiannya kepada berbagai disiplin ilmu, lalu dia memperluasnya pada cabang-cabang hukum, lalu menggali makna-makna yang tersembunyi, dan menjelaskan berda­sarkan pemahaman ushul dan pondasi dasarnya. Dia meraih semua itu karena keistimewaan yang Allah berikan kepada seorang Quraisy karena kemuliaan akalnya."13

Al-Khathib meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Ishaq bin Rahawaih, dia mengatakan, Ahmad bin Hanbal meme­gang tanganku seraya mengatakan, "Kemari, hingga aku dapat membawamu kepada seseorang yang belum pernah kedua matamu melihat orang sepertinya." Ternyata dia membawaku pergi ke tempat asy-Syafi'i. 14

Dengan sanadnya juga sampai kepada Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dia mengatakan, Aku bertanya kepada ayahku, "Wahai ayahku, kedudukan apakah yang dimiliki asy-Syafi'i? Karena aku mendengarmu sering mendoakannya." Dia mengatakan kepadaku, "Wahai putraku, asy-Syafi'i itu laksana matahari bagi dunia, dan laksana afiyat (kesehatan) bagi manusia. Perhatikanlah, apakah keduanya ini memiliki pengganti atau memiliki penerus?" 15

Dari Ayyub bin Suwaid, dia mengatakan, "Aku tidak men­duga bahwa aku masih hidup hingga aku bisa melihat orang seperti asy-Syafi'i." 16

Dari Shalih bin Ahmad bin Hanbal, dia mengatakan, "Asy- Syafi'i menunggangi keledainya, sedangkan ayahku berjalan kaki, asy-Syafi'i berkendara sedangkan ayahku di belakangnya bermudzakarah kepadanya. Ketika hal itu terdengar oleh Yahya bin Ma'in, maka dia mengutus seseorang kepada ayahku mengenai hal itu, maka ayahku mengutus seseorang kepadanya untuk mengatakan, 'Bahwa seandainya engkau berada di samping yang lain dari kele­dai itu, maka itu lebih baik bagimu.’ Demikian atau yang semakna dengannya. 17

Dari Humaid bin Zanjawaih, dia mengatakan, Aku mende­ngar Ahmad bin Hanbal mengatakan, saat meriwayatkan hadits dari Nabi,

إِنَّ الله يَمُنُّ عَلَى أَهْلِ دِيْنِهِ فِيْ رَأْسِ كُلِّ مائَةِ سَنَةٍ بِرَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُبَيِّنُ لَهُمْ أَمْرَ دِيْنِهِمْ

Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada pemeluk agamaNya pada penghujung tiap-tiap seratus tahun searang laki-laki dari Ahli Baitku, yang akan menjelaskan kepada mereka tentang urusan agama mereka."

Ahmad mengatakan, "Aku memperhatikan pada tahun sera­tus, ternyata ada seorang laki-laki dari Ahli Bait Rasulullah, yaitu Umar bin Abdul Aziz, dan aku melihat pada tahun dua ratus, ter­nyata ada seorang laki-laki dari Ahli Bait Rasulullah, Muhammad bin Idris.'"18

Muhammad bin Fadhl al-Bazzar mengatakan, Aku mende­ngar ayahku berkata, "Aku berhaji bersama Ahmad bin Hanbal, lalu kami singgah di tempat yang sama, atau di sebuah rumah (yakni, di Makkah). Kemudian Abu Abdillah, yakni Ahmad bin Hanbal pergi pagi-pagi sekali, dan aku juga pergi bersamanya. Ketika kami telah melaksanakan Shalat Shubuh, aku mengelilingi majelis-maje­lis yang ada. Aku mendatangi majelis Sufyan bin Uyainah, dan aku mengelilingi majelis satu persatu untuk mencari Abu Abdillah, hingga aku mendapatinya berada di dekat seorang pemuda badui yang memakai pakaian bercelup dan memakai penutup kepala. Aku pun memasuki majelis yang penuh sesak itu hingga aku duduk di dekat Ahmad bin Hanbal, lalu aku katakan kepadanya, "Wahai Abu Abdillah, mengapa engkau meninggalkan Sufyan bin Uyainah, sedangkan dia memiliki (riwayat) az-Zuhri, Amr bin Dinar, dan Ziyad bin Ilaqah dari kalangan tabi'in?' Dia mengatakan, ’Diamlah. Jika engkau luput mendapatkan hadits (dengan sanad) tinggi (’ali), maka engkau akan mendapatinya dengan sanad bawah (nazil), dan itu tidak merugikan agamamu dan tidak pula akalmu -atau kefaqihanmu-. Namun jika engkau melewatkan akal pemuda ini, maka aku khawatir engkau tidak akan mendapatinya hingga Hari Kiamat. Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih faqih mengenai kitab Allah daripada pemuda Quraisy ini.' Aku bertanya, Siapakah orang ini?’ Dia menjawab, ‘Muhammad bin Idris asy-Syafi'i'." 19

Dari Suwaid bin Sa’id, dia mengatakan, ’’Kami berada di sisi Sufyan bin Uyainah, lalu datanglah Muhammad bin Idris lalu duduk. Kemudian Sufyan meriwayatkan hadits yang menyentuh hati, lalu asy-Syafi'i pingsan, maka dikatakan, 'Wahai Abu Muham­mad (yakni Sufyan bin Uyainah), Muhammad bin Idris meninggal.' Maka Ibnu Uyainah mengatakan, 'Jika Muhammad bin Idris telah mati, berarti orang terbaik pada zamannya telah mati'.” 20

Ar-Razi mengatakan, "Pujian ulama kepada Imam asy-Syafi'i terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Kami kemukakan sebab kecintaan dan pujian mereka kepadanya, yaitu dulu orang- orang sebelum zaman asy-Syafi'i terbagi menjadi dua golongan: Ahli hadits dan ahli ra yu.

Adapun ahli hadits adalah orang-orang yang menghafal hadits-hadits Rasulullah, hanya saja mereka lemah dari nazhar (analisa) dan jidal (perdebatan). Setiap kali salah seorang ahli ra'yu mengemukakan pertanyaan atau permasalahan kepada mereka, maka mereka tetap berpegang pada apa yang ada di tangan mereka dalam keadaan tidak mampu lagi bingung.

Sedangkan ahli ra'yu adalah orang-orang yang pandai ber­debat dan analisa, hanya saja mereka tidak memiliki pengetahuan tentang atsar dan Sunnah.

Adapun asy-Syafi'i, maka dia memiliki pengetahuan tentang Sunnah Nabi, menguasai kaidah-kaidahnya, mengetahui etika-etika analisa dan perdebatan serta kuat di dalamnya. Dia adalah seorang yang fasih lisannya, lagi mampu menundukkan lawannya. Dia pun melakukan pembelaan terhadap hadits-hadits Rasulullah, dan setiap orang yang mengajukan pertanyaan atau permasalahan kepadanya, maka dia menjawabnya dengan jawaban yang mema­dai lagi sempurna. Dengan sebab itu, terputuslah kekuasaan ahli rayu atas ahli hadits, dan jatuhlah pemahaman (fikih) mereka, serta karenanya ahli hadits terbebas dari syubhat ahli ra'yu. Karena sebab inilah lisan manusia memuji dan menyanjungnya. Para ulama agama dan pemuka salaf patuh kepadanya, serta lewat perantara- annyalah taufik diraih." 21

4. IBADAH, SIKAP ZUHUD DAN MUAINYA MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI'I

Bahr bin Nashr mengatakan, "Aku tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar di masa asy-Syafi'i ada orang yang lebih bertakwa kepada Allah, lebih berlaku wara', dan lebih bagus suara bacaan Qursannya daripada asy-Syafi'i." 22

Dari al-Husain al-Karabisi, dia mengatakan, Aku bermalam bersama asy-Syafi'i selama delapan puluh malam, dan dia menger­jakan shalat sekitar sepertiga malam. Aku tidak pernah melihatnya menambah lebih dari 50 ayat. Jika dia memperbanyak bacaan, maka seratus ayat. Tidaklah dia melewati ayat rahmat melainkan pasti dia memohon kepada Allah bagi dirinya dan bagi semua kaum Mukminin, dan tidaklah dia melewati ayat azab melainkan dia memohon perlindungan kepada Allah darinya, dan meminta keselamatan bagi dirinya dan semua kaum Mukminin. Seakan-akan telah dihimpunkan padanya harapan dan kecemasan sekaligus." 23

Dari Bahr bin Nashr, dia mengatakan, "Apabila kami ingin menangis, maka kami mengatakan satu sama lain, 'Marilah kita pergi kepada pemuda al-Muththalibi untuk membaca al-Qur'an.' Apabila kami telah datang kepadanya, dia memulai membaca al-Qur’an, hingga orang-orang berjatuhan di hadapannya, dan mereka bergemuruh dengan tangisan. Jika dia melihat hal itu, dia menghentikan bacaan dari suaranya yang bagus." 24

Dari ar-Rabi' bin Sulaiman, dia mengatakan, "Asy-Syafi'i membagi malam menjadi tiga bagian: Sepertiga pertama untuk menulis, sepertiga kedua untuk shalat, dan sepertiga ketiga untuk tidur." 25

Dari Harmalah, dia mengatakan, asy-Syafi'i mengatakan, "Aku tidak pernah bersumpah dengan Nama Allah, baik benar maupun dusta." 26

Al-Haris bin Miskin mengatakan, "Asy-Syafi'i hendak pergi ke Makkah, lalu dia menyerahkan kain Baghdadiyah panjang ke­pada pemotong pakaian, ternyata terjadi kebakaran sehingga toko berikut kainnya terbakar. Kemudian pemotong pakaian itu datang bersama suatu kaum, dalam keadaan menanggung beban mereka di hadapan asy-Syafi'i karena penangguhannya, agar dia menye­rahkan kepadanya harga pakaiannya. Maka asy-Syafi'i mengatakan, 'Para ulama berselisih tentang penjaminan pemotong kain, dan saya tidak melihat bahwa penjaminan itu wajib, sehingga aku tidak menjaminkan sedikit pun kepadamu'." 27

Dari al-Harits bin Syuraih, dia mengatakan, "Aku masuk bersama asy-Syafi'i menemui pelayan ar-Rasyid, yang saat itu di dalam suatu rumah yang digelari permadani terbuat dari sutra tebal. Ketika asy-Syafi'i meletakkan kakinya di ambang pintu rumah, dia melihatnya, maka dia kembali dan tidak jadi masuk. Pelayan mengatakan kepadanya, 'Masuklah.' Asy-Syafi'i mengata­kan, 'Tidak halal menggelar permadani demikian.' Pelayan itu berdiri lalu tersenyum, hingga memasuki sebuah rumah yang berhamparkan tanah, maka asy-Syafi'i masuk. Kemudian asy-Syafi'i menghampiri pelayan itu seraya mengatakan, 'Ini halal, dan itu haram. Ini lebih baik daripada yang itu dan lebih berharga.' Pelayan itu tersenyum dan diam." 28

Dari ar-Rabi', dia mengatakan, Abdullah bin Abdul Hakam berkata kepada asy-Syafi'i, "Jika engkau berniat untuk tinggal di negeri ini -yakni Mesir- maka hendaklah engkau memiliki bahan makanan untuk setahun, dan engkau menjadi mulia karena maje­lis penguasa." Asy-Syafi'i mengatakan kepadanya, "Wahai Abu Muhammad, barangsiapa yang tidak menjadi mulia karena ketak­waan, maka tiada kemuliaan untuknya. Sungguh aku dilahirkan di Ghaza, dan dibesarkan di Hijaz, dalam keadaan kami tidak me­miliki bahan makanan untuk satu malam, dan kami tidur dalam keadaan lapar." 29

Ditanyakan kepada asy-Syafi'i, "Mengapa engkau senantiasa memegang tongkat, sedangkan engkau bukanlah orang yang lemah?" Dia menjawab, "Agar aku selalu ingat bahwa aku adalah musafir, yakni di dunia." 30

Dari Yunus bin Abdul A'la , dia mengatakan, asy-Syafi'i mengatakan kepadaku, "Wahai Abu Musa, aku berteman dengan kefakiran hingga aku tidak merasa asing dengannya." 31

Dari ar-Rabi' bin Sulaiman, dia mengatakan, asy-Syafi'i me­ngatakan kepadaku, "Wahai Rabi', hendaklah engkau berzuhud, karena berzuhud bagi orang yang zuhud itu sungguh lebih indah daripada perhiasan yang terdapat pada wanita yang montok buah dadanya." 32

Dari Abdullah bin Muhammad al-Balawi, dia mengatakan, 'Suatu hari kami duduk untuk mengenang ahli zuhud, ahli ibadah dan ulama, serta berita tentang kezuhudan, kefasihan, dan ilmu mereka. Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba Umar bin Nabatah singgah pada kami seraya mengatakan, "Apakah yang sedang kalian perbincangkan?" Kami menjawab, "Kami mengenang ahli zuhud, ahli ibadah dan ulama, serta berita tentang kezuhudan, kefasihan, dan ilmu mereka." Mendengar hal itu, Umar bin Nabatah mengatakan, "Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih wara’, lebih khusyu', lebih fasih, lebih berlapang dada, lebih berilmu, lebih pemurah, lebih tampan, lebih mulia, dan lebih utama daripada Muhammad bin Idris asy-Syafi'i." 33

5. KEDERMAWANAN MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI'I

Dari al-Humaidi, dia mengatakan, "Asy-Syafi'i datang dari Shan'a' ke Makkah dengan membawa sepuluh ribu dinar dalam sapu tangan. Kemudian dia mendirikan tendanya di sebuah tempat di luar Makkah, lalu orang-orang datang kepadanya. Keadaan ini terus demikian hingga seluruh dinarnya habis." 34

Dari ar-Rabi' bin Sulaiman, dia mengatakan, "Asy-Syafi'i menunggang keledai, lalu melewati pasar para pembuat sepatu, ternyata cemetinya jatuh dari tangannya, maka seorang pemuda dari para pembuat sepatu itu bergegas meloncat lalu mengambil cemeti tersebut lalu membersihkannya dengan lengan bajunya dan memberikannya kepadanya. Maka asy-Syafi'i mengatakan kepada budaknya, 'Berikanlah dinar-dinar yang ada padamu itu kepada pemuda tersebut'." Ar-Rabi' mengatakan, "Aku tidak tahu, apakah itu sembilan atau enam dinar." 35

Ar-Rabi' bin Sulaiman mengatakan, "Aku menikah, lalu asy- Syafi'i bertanya kepadaku, 'Berapakah engkau memberikan mahar kepadanya?' Aku menjawab, '30 dinar.' Dia bertanya, 'Berapa eng­kau telah memberikan kepadanya?' Aku menjawab, 'Enam dinar.' Dia pun naik ke rumahnya dan mengirimkan kepadaku sebuah kantung berisikan 24 dinar." 36

Ibnu Abdul Hakam mengatakan, "Asy-Syafi'i adalah orang yang paling dermawan dengan apa yang dimilikinya. Dia melewati kami, jika mendapatiku. Jika tidak mendapatiku, dia mengatakan, 'Katakanlah kepada Muhammad, jika dia datang, agar datang ke rumahku. Karena aku tidak akan makan malam hingga dia datang.' Terkadang aku datang kepadanya. Apabila aku telah duduk ber­samanya untuk makan, maka dia mengatakan (kepada budak wanitanya), 'Wahai sahaya, tanaklah adonan tepung gandum.' Maka hidangan terus berada di hadapannya hingga budaknya selesai menghidangkannya, lalu dia makan." 37

Dari ar-Rabi’, dia mengatakan, Seorang laki-laki memegang pelana kendaraan asy-Syafi'i, maka dia mengatakan, "Wahai Rabi', berikanlah kepadanya empat dinar, dan sampaikan maafku kepa­danya." 38

Dari ar-Rabi', dia mengatakan, "Kami bersama asy-Syafi'i, saat keluar dari masjid Mesir, ternyata tali sandalnya putus, lalu seseorang memperbaiki talinya yang putus dan menyerahkannya kepadanya, maka dia mengatakan, 'Wahai Rabi', apakah engkau membawa sesuatu dari nafkah kami?' Aku jawab, 'Ya.’ Dia bertanya, 'Berapa?' Aku menjawab, Tujuh dinar.' Dia mengatakan, 'Serahkan­lah kepadanya'." 39

Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam mengatakan, "Asy-Syafi'i datang kepada kami, ke rumah kami, lalu dia menga­takan kepadaku, 'Tunggangilah untaku ini.' Aku pun menungganginya, lalu dia mengatakan kepadaku, 'Majulah dengannya, dan mundurlah.' Aku pun melakukannya, maka dia mengatakan, 'Sesungguhnya aku melihatmu pantas dengannya, maka ambillah ia, dan ia menjadi milikmu.' Dia adalah orang yang paling derma­wan. Kemudian dia menyebutkan kisah tentang kurma." 40

Kisah tentang kurma ini diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi dari Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dia mengatakan, "Asy-Syafi'i adalah termasuk orang yang paling dermawan." Dia melanjutkan, "Aku pernah makan bersama asy-Syafi'i kurma manis yang diletakkan pada wadah ini, lalu datanglah seseorang lalu duduk dan makan, sedang dia duduk menghadapnya.

Ketika selesai makan, orang itu berkata kepada asy-Syafi’i, 'Apa pendapatmu tentang makan secara tiba-tiba?' Asy-Syafi'i pun mengisyaratkan lehernya kepadaku seraya mengatakan, 'Alangkah baiknya jika dia bertanya sebelum makan'." 41

Asy-Syafi'i mengatakan, "Kedermawanan dan kemurahan menutupi aib di dunia dan akhirat, setelah tidak tersusul oleh bid'ah." 42

Dari Ibrahim bin Muhammad, dia mengatakan, Aku berada di majelis Ahmad bin Yusuf an-Naqli, sahabat Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam, lalu disebut-sebutlah nama asy-Syafi'i, akhlak, fikih dan kedermawanannya, maka mereka mengatakan, "Kami tidak menyerupakannya kecuali dengan bait-bait yang disenandungkan oleh Hafsh bin Umar al-Azdi al-Muqri'i, seorang badui:

Jika engkau mengunjungi halamannya karena mengharapkan ke­murahannya
Maka kelapangannya membasahimu dengan kemurahan dan keder­mawanan
Akhlaknya adalah pemurah dan ucapannya adalah nikmat
Dia mengucapkannya dengan bahasanya yang luas lalu kata-kata itu menjadi kukuh
Tidak merugi orang yang mengunjunginya karena berharap kebaik­annya
Jika dia punya hubungan kerabat atau selain kerabat
Kemurahan adalah kecemerlangannya dan kemuliaan adalah tujuan­nya
Dia mengucapkannya dengan mulut yang merasuk dalam kenikmatan
43

Dari ar-Rabi' bin Sulaiman, dia mengatakan, "Asy-Syafi'i memberikan sejumlah dirham kepadaku agar aku membelikan untuknya anak domba jantan dan memerintahkanku agar aku memanggangnya. Namun aku lupa dan aku membeli dua ekor ikan dan aku memanggangnya, lalu aku membawa keduanya kepadanya. Dia pun memandang seraya berkata, 'Wahai Abu Muhammad, makanlah, karena sesungguhnya engkaulah yang menginginkannya'." 44

6. KEGIGIHAN MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I DALAM MENGIKUTI SUNNAH NABI DAN CELAANNYA TERHADAP AHLUL AHWA’

Dari Maimun bin Mihran, dia mengatakan, Ahmad bin Hanbal mengatakan kepadaku, "Mengapa engkau tidak melihat dalam kitab-kitab asy-Syafi'i ? Tidak ada seorang pun yang menulis kitab-kitab yang lebih mengikuti Sunnah daripada asy-Syafi'i." 45

Dari Abu Ja'far at-Tirmidzi, dia mengatakan, "Aku ingin me­nulis kitab-kitab ra’yu, lalu aku bermimpi melihat Nabi, maka aku katakan, 'Wahai Rasulullah, apakah aku (boleh) menulis pendapat asy-Syafi'i?' Nabi menjawab, 'Sesungguhnya itu bukan pendapat (ra’yu), itu adalah bantahan terhadap siapa yang menyelisihi Sunnahku'," 46

Dari Ahmad bin Hanbal, dia mengatakan, "Nu'aim bin Hammad datang kepada kami, dan menganjurkan kami untuk mencari musnad (hadits bersanad). Tatkala asy-Syafi'i tiba pada kami, dia meletakkan kami pada tempat padang yang terang ben­derang (yaitu pemahaman tentang fiqh al-hadits).47

Ar-Rabi' mengatakan. Aku mendengar asy-Syafi'i mengata­kan, "Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah, maka berpendapatlah dengan Sunnah tersebut dan tinggalkanlah pendapatku."

Dia (ar-Rabi') mengatakan, "Aku mendengarnya mengatakan, saat ditanya oleh seseorang, ’Wahai Abu Abdillah, apakah kita berpegang dengan hadits ini?' Asy-Syafi'i mengatakan, 'Kapan saja aku meriwayatkan sebuah hadits shahih dari Rasulullah, lalu aku tidak berpegang dengannya, maka aku menjadikan kalian sebagai saksi bahwa akalku telah hilang'." 48

Al-Humaidi mengatakan, suatu hari asy-Syafi'i meriwayat­kan suatu hadits, maka aku katakan, "Apakah engkau berpegang dengannya?" Dia menimpali, "Apakah engkau melihatku keluar dari gereja, atau aku memakai pakaian pendeta, hingga ketika aku mendengar hadits dari Rasulullah, lalu aku tidak berpegang de­ngannya?"

Asy-Syafi'i mengatakan, "Jika hadits itu shahih, maka ia ada­lah madzhabku."

Dia mengatakan, "Apabila hadits itu shahih, maka benturkanlah pendapatku dengan tembok (maksudnya berpalinglah dari­nya)." 49

Ar-Rabi' bin Sulaiman mengatakan, Aku mendengar asy- Syafi'i mengatakan, "Sungguh seorang hamba berjumpa Allah dengan membawa segala dosa, selain menyekutukan Allah, itu lebih baik daripada dia menjumpaiNya dengan membawa sesuatu dari al-hawa (hawa nafsu, bid'ah)." 50

Dari Abu Tsaur, dia mengatakan, Aku mendengar asy-Syafi'i mengatakan, "Keputusanku mengenai ahli kalam bahwa dia di­pukul dengan pelepah daun kurma, diangkut di atas unta, dibawa keliling di tengah kaum dan kabilah, serta diserukan kepada mereka, 'Inilah balasan orang yang meninggalkan al-Qur’an dan Sunnah, serta datang kepada kalam'."

Dari Abu Tsaur, dia mengatakan, Aku mendengar asy-Syafi’i mengatakan, "Barangsiapa yang berpakaian dengan kalam (teologi), maka dia tidak akan beruntung."

Al-Baihaqi mengatakan, "Yang dia maksud -wallahu a'lam- tidak lain adalah kalam (ucapan) Ahlul Ahwa' yang meninggalkan Kitab dan Sunnah, menjadikan akal mereka sebagai ukuran, dan menyepadankan kebenaran al-Qur’an padanya. Ketika Sunnah dibawakan kepadanya dengan tambahan penjelasan untuk mem­batalkan pendapat mereka, maka mereka menuduh para perawinya dan berpaling darinya." 51

Adapun Ahlus Sunnah, maka madzhab mereka dalam per­kara Ushul berdasarkan pada al-Qur'an dan Sunnah. Sebagian orang dari Ahlus Sunnah hanyalah mengambil akal untuk menum­bangkan madzhab kalangan yang menyangka bahwa dia tidak lurus akalnya." 52

7. FIKIH MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI'I

Dari Ubaid bin Muhammad bin Khalaf al-Bazzar, dia menga­takan, Abu Tsaur pernah ditanya, "Siapakah yang lebih faqih, asy- Syafi'i atau Muhammad bin al-Hasan?" Abu Tsaur mengatakan, "Asy-Syafi'i lebih faqih daripada Muhammad, Abu Yusuf, Abu Hanifah, Hammad, Ibrahim, Alqamah dan al-Aswad." 53

Dari Ahmad bin Yahya, dia mengatakan, Aku mendengar al-Humaidi mengatakan, "Aku mendengar penghulu fuqaha, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i." 54

Dari ar-Rabi', dia mengatakan, Aku mendengar al-Humaidi mengatakan, dari Muslim bin Khalid bahwa dia mengatakan ke­pada asy-Syafi'i, "Berfatwalah, wahai Abu Abdillah, karena -demi Allah- sekarang engkau berhak untuk berfatwa." Saat itu dia ber­usia 15 tahun. 55

Dari Harmalah bin Yahya, dia mengatakan, "Aku mendengar asy-Syafi'i mengatakan mengenai seseorang yang mengatakan kepada istrinya saat dalam mulutnya terdapat kurma, 'lika kamu memakannya, maka engkau tertalak. Dan jika engkau membuangnya, maka engkau tertalak juga,’ Asy-Syafi’i mengatakan, 'Hendak­lah dia memakan separuhnya dan membuang separuhnya’." 56

Dari al-Muzani, dia mengatakan, "Asy-Syafi’i ditanya tentang burung unta yang menelan batu mulia milik orang lain, maka asy-Syafi'i menjawab, 'Aku tidak menyuruhnya apa pun. Tetapi jika pemilik batu mulia itu cerdik, dia bisa menangkap burung itu lalu menyembelihnya dan mengeluarkan batu mulia miliknya, kemu­dian dia mengganti untuk pemilik burung itu antara harganya dalam keadaan hidup dan harganya setelah disembelih'. 57

Dari Ma'mar bin Syabib, dia mengatakan, Aku mendengar al Mamun bertanya kepada Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, "Wahai Muhammad, karena apakah Allah menciptakan lalat?" Dia meng­angguk-anggukkan kepala, kemudian mengatakan kepadanya, "Untuk menghinakan para raja, wahai Amirul Mukminin." Al Ma’mun pun tertawa, seraya mengatakan, "Wahai Muhammad, apakah engkau telah melihat lalat itu jatuh pada pipiku?" Dia men­jawab, "Ya, wahai Amirul Mukminin. Sungguh engkau bertanya kepadaku sementara aku tidak mempunyai jawaban, maka itu membuatku bingung. Ketika aku melihat lalat jatuh di suatu tempat yang tidak bisa ditangkap oleh seorang pun, maka terbukalah jawaban," AI-Ma’mun mengatakan, "Sungguh bagus kata katamu, wahai Muhammad. 58

Ibrahim bin Abu Thalib al-Hafizh mengatakan, "Aku bertanya kepada Abu Qudamah as-Sarakhsi tentang asy-Syafi'i, Ahmad, Abu Ubaid, dan Ibnu Rahawaih, maka dia menjawab, 'Asy-Syafi’i paling faqih di antara mereka'." 59

Dari ar-Rabi', dia mengatakan, suatu hari aku berada di sisi asy-Syafi'i, lalu seorang laki-laki datang seraya mengatakan, "Wahai orang alim, apa pendapatmu tentang seseorang yang bersumpah 'Bahwa jika di sakuku terdapat beberapa dirham lebih dari tiga dirham, maka hambaku merdeka'? Saat itu di sakunya terdapat empat dirham." Asy-Syafi'i menjawab, "Dia tidak memerdekakan hambanya." Dia bertanya, "Mengapa?" Asy-Syafi'i menjawab, "Ka­rena dia mengecualikan beberapa dirham dari jumlah yang ada di sakunya, sementara satu dirham itu bukan sejumlah dirham." Dia mengatakan, "Aku beriman kepada Dzat yang telah menjadikanmu mengucapkan ilmu ini." 60

8. KEPIAWAIAN MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI'I DALAM MENULIS DAN KEBERKAHAN TULISANNYA

Asy-Syafi'i adalah orang yang mula-mula menyusun menge­nai Ushul Fiqh dan Ahkam al-Qur'an. Para ulama dan para pemuka berlomba-lomba mempelajari karya-karyanya dan mengambil manfaat darinya. Kitabnya yang terbesar adalah kitab ar-Risalah. Kitab ini, dengan kemudahan lafalnya, sangat banyak maknanya, sangat besar bangunannya, yang membuktikan kekuatan akalnya, kesempurnaan ilmunya, dan kemanisan lafalnya.

Dari Abu Tsaur, dia mengatakan, "Abdurrahman bin Mahdi menulis kepada asy-Syafi'i, yang saat itu masih muda, agar menu­lis sebuah kitab untuknya yang berisikan makna-makna al-Qur’an, menghimpun berita-berita yang bisa diterima, hujjah ijma', dan nasikh dan mansukh dari al-Qur’an dan Sunnah. Dia pun menuliskan untuknya kitab ar-Risalah."

Abdurrahman bin Mahdi mengatakan, "Tidaklah aku mela­kukan satu shalat pun melainkan pasti aku mendoakan asy-Syafi'i di dalamnya." 61

Dari al-Muzani, dia mengatakan, "Aku membaca kitab ar-Risalah karya asy-Syafi'i sebanyak lima ratus kali. Setiap kali mem­bacanya, aku pasti mendapat faidah baru yang tidak aku dapatkan sebelumnya." 62

Dari Muhammad bin Muslim bin Warah, dia mengatakan, Aku datang dari Mesir, lalu menemui Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal; ketika aku mengucapkan salam kepadanya, dia bertanya, "Apakah engkau telah menulis kitab-kitab asy-Syafi'i?" Aku men­jawab, "Tidak." Dia mengatakan, "Engkau telah bersikap lalai. Kami tidak mengetahui yang mujmal dari yang mufashshal, dan tidak pula nasikh hadits Rasulullah dari mansukhnya, hingga kami duduk di majelis asy-Syafi'i." Dia (Muhammad bin Muslim bin Warah) mengatakan, "Hal itu mendorongku untuk kembali ke Mesir, dan menulisnya, kemudian pulang." 63

Dari Ahmad bin Maslamah an-Naisaburi, dia mengatakan, "Ishaq bin Rahawaih menikah di Marwa dengan wanita mantan istri seorang laki-laki yang memiliki kitab-kitab asy-Syafi'i, lalu orang itu meninggal. Dia (Ishaq bin Rahawaih) tidak akan menikah kecuali karena berlatar belakang ingin memanfaatkan kondisi kitab- kitab asy-Syafi'i. Kemudian dia menyusun Jami' Kabirnya, berdasar­kan kitab asy-Syafi'i dan menyusun Jami' Shaghimya berdasarkan Jami' Shaghimya ats-Tsauri." 64

Abu Bakar ash-Shauma'i mengatakan, Aku mendengar Ahmad bin Hanbal mengatakan, "Ahli hadits tidak akan merasa kenyang dari kitab-kitab asy-Syafi'i." 65

Al-Jahizh mengatakan, "Aku melihat kitab-kitab para ulama yang unggul itu, yaitu orang-orang yang unggul dalam ilmu, ternyata aku tidak melihat yang lebih baik susunannya daripada tulisan al-Muththalibi ini. Seakan-akan lisannya menata mutiara dengan rapi."

Al-Allamah Ahmad Syakir mengatakan, "Semua kitabnya adalah permisalan yang indah nan mengagumkan, berupa sastra Arab yang bersih, dalam puncak balaghah. Dia menulis sesuai tabiat dan fitrahnya, tidak memaksakan diri, dan tidak membuat-buat, se­buah prosa paling fasih sesudah al-Qur'an dan hadits. Tidak ada seorang pun yang menandinginya, dan tidak ada satu penulis pun yang menyamainya." 66

Dari ar-Rabi' bin Sulaiman, dia mengatakan, Aku mendengar asy-Syafi'i mengatakan, "Aku bermimpi seakan-akan seseorang datang kepadaku lalu membawa buku-bukuku dan menebarkannya di udara sehingga beterbangan. Aku bertanya kepada seorang ahli takwil mimpi, maka dia mengatakan, 'Jika mimpimu benar, maka tidak ada satu negeri Islam pun melainkan pasti dimasuki oleh ilmumu'." 67

9. GURU-GURU DAN MURID-MURID MUHAMMAD BIN IDRIS ASY- SYAFI’I

Guru-gurunya:

Al-Hafizh mengatakan, "Dia meriwayatkan dari Muslim bin Khalid az-Zanji, Malik bin Anas, Ibrahim bin Sa'd, Sa'id bin Salim al-Qaddah, ad-Darawardi, Abdul Wahhab ats-Tsaqafi, Ibnu Ulayyah, Ibnu Uyainah, Abu Dhamrah, Hatim bin Isma'il, Ibrahim bin Muhammad bin Abu Yahya, Isma'il bin Ja'far, Muhammad bin Khalid al-Jundi, Umar bin Muhammad bin Ali bin Syafi', Aththaf bin Khalid al-Jundi, Umar bin Muhammad bin Ali bin Syafi' ash- Shan'ani, Aththaf bin Khalid al-Makhzumi, Hisyam bin Yusuf ash- Shan'ani, dan segolongan lainnya." 68

Murid-muridnya:

Al-Hafizh mengatakan, "Sementara yang meriwayatkan dari­nya ialah Sulaiman bin Dawud al-Hasyimi, Abu Bakar Abdullah bin az-Zubair al-Humaidi, Ibrahim bin al-Mundzir al-Hizami, Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid, Ahmad bin Hanbal, Abu Ya'qub, Yusuf bin Yahya al-Buwaithi, Harmalah, Abu Thahir bin as-Sarh, Abu Ibrahim bin Isma'il bin Yahya al-Muzani, ar-Rabi' bin Sulaiman al- Muradi, ar-Rabi' bin Sulaiman al-Jizi, Amr bin Sawwad al-Amiri, al-Hasan bin Muhammad bin ash-Shabbah az-Za'farani, Abu al- Walid Musa bin Abu al-Jarud al-Makki, Yunus bin Abdul A'la, Abu Yahya Muhammad bin Sa'd bin Ghalib al-Aththar, dan banyak lainnya. 69

10. KITAB-KITAB MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I

Al-Baihaqi dalam Manaqibnya, menyebutkan seratus empat puluh sekian kitab mengenai ushul dan furu'.70

Fu'ad Sazkin mengatakan yang ringkasnya:

Kitab-kitab asy-Syafi'i mencapai sekitar 113-140 kitab, di antaranya disebutkan Ibnu an-Nadim dalam al-Fahrasat sebanyak 109 kitab. Demikian pula di sana terdapat bukti lainnya dalam kitab Tawali at-Tasis, karya Ibnu Hajar, sebanyak 78 kitab. Bukti ini merujuk pada apa yang disebutkan al-Baihaqi.

Murid-muridnya membagi karya tulisannya menjadi dua: Lama (qadimah) dan baru (jadidah). Yang lama adalah yang ditulis­nya saat berada di Baghdad dan Makkah, sedang yang baru adalah yang ditulisnya saat berada di Mesir.

Pertama, al-Umm. Setelah kematian asy-Syafi'i, murid-mu­ridnya mengumpulkan sejumlah pelajarannya dalam satu buku. Dugaan paling kuat bahwa penamaan kitab ini dengan nama kitab al-Umm, hanyalah merujuk kepada generasi kedua. Telah berlang­sung pembahasan sejak waktu yang lama seputar pribadi orang yang telah melakukan penulisan risalah ini dan menghimpunnya dalam satu buku. Abu Thalib al-Makki menyebutkan bahwa Yusuf bin Yahya al-Buwaithi adalah orang yang melakukan pekerjaan ini. Ada yang mengatakan bahwa murid asy-Syafi'i yang lainlah yang melakukan tugas tersebut, yaitu ar-Rabi' bin Sulaiman.

Kedua, as-Sunan al-Ma'tsurah, berdasarkan riwayat Isma'il bin Yahya al-Muzani, dan kitab ini telah dicetak di Haidar Abad dan Kairo 1315 H.

Ketiga, ar-Risalah mengenai Ushul Fiqh. Kitab ini dinamakan dengan ar-Risalah, karena asy-Syafi'i mengarangnya untuk men­jawab sebagian pertanyaan dari Abdurrahman bin Mahdi yang dikirimkan kepadanya. Kitab ini ditahqiq oleh Ahmad Syakir, diterbitkan di Kairo (1940 M)-

Keempat Musnad, yang berisikan hadits-hadits yang dihim­pun oleh Abu al-Abbas bin Muhammad bin Ya’qub al-Asham dari berbagai karya tulis, dan kitab ini dicetak pada catatan pinggir kitab al-Umm.

Kelima Ikhtilaf al-Hadits dan dicetak pada catatan pinggir kitab al-Umm

Keenam al-Aqidah.

Ketujuh, Ushul ad-Din wa Masa'il as-Sunnah.

Kedelapan. Ahkam al-Qur’an, yang ditahqiq oleh al-Aththar dalam dua juz.

Kesembilan, Masa’il fi al-Fiqh, yang ditanyakan oleh Abu Yusut dan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani (dua orang murid Abu Hanifah, ed) kepada asy-Syafi’i dan jawabannya

Kesepuluh. Kitab as-Sabq wa ar-Ramyu

Kesebelas. Washiyyah

Kedua belas al-Fiqh al-Akbar, dicetak di Kairo. 1900 M 71

Kita tutup pasal ini dengan dua kalimat, salah satunya dari asy-Syafi’i yang menunjukkan kejujuran dan keikhlasannya dalam karya-karya ini. dan yang kedua dari Ishaq bin Rahawaih Adapun yang pertama- al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada ar-Rabi’ bin Sulaiman. Dia mengatakan.. Aku mendengar asy-Syafi’i mengatakan. “Aku ingin manusia mempelajari ini (yakni kitab-kitabnya) dengan tanpa menisbatkan kepadaku sedikit pua,” 72

Kedua, dari Muhammad bin Ishaq bin Rahawaih, dia mengatakan. Aku mendengar ayahku saat ditanya 'Bagaimana asy-Syafi’i menulis semua kitab ini sedangkan dia belum berusia tua?’ Dia mengatakan. ’Allah menyegerakan akalnya untuknya karena sedikitnya umurnya’ 73

11. KATA-KATA MUTIARA DAN PENGGALAN SYAK DARI MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I

Asy-Syafi’i mengatakan,

Mencari ilmu itu lebih utama daripada shalat sunnah.

Perhiasan ilmu adalah mara' (kehati-hatian) dan hilm (kesa­baran).

Bukanlah aib pada ulama, sejelek-jelek keinginan mereka adalah pada sesuatu yang mana Allah membuat mereka zuhud padanya, dan sejelek-jelek zuhud mereka adalah pada sesuatu yang mana Allah menganjurkan mereka padanya.

Ilmu itu bukanlah apa yang telah dihafal, tetapi ilmu ialah apa yang telah dimanfaatkan.

Barangsiapa dikalahkan oleh syahwat dunia, maka dia sudah pasti menjadi budak bagi ahli dunia.

Barangsiapa yang ridha dengan qana'ah, maka kerendahan hilang darinya.

Seandainya aku tahu bahwa minum air dingin itu dapat mengurangi muru’ah (kepribadian)ku, niscaya aku tidak meminum­nya. Seandainya aku pada hari ini termasuk orang yang mengucapkan syair, niscaya aku meratapi muru'ahku.

Murua’h itu memiliki empat rukun: Akhlak yang baik, keder­mawanan, tawadhu', dan banyak beribadah.

Muru'ah adalah memelihara anggota badan dari perkara yang tidak bermanfaat baginya.

Bukanlah saudaramu, orang yang engkau merasa perlu untuk merayunya.

Barangsiapa yang jujur dalam bersaudara dengan saudara­nya, maka dia menerima kekurangannya, menutupi aibnya, dan memaafkan ketergelincirannya.

Tidak ada kegembiraan yang dapat menyamai persahabatan saudara, dan tidak ada kesedihan yang dapat menyamai berpisah dengan mereka.

Syafa'at (memberi bantuan) adalah membersihkan muru’ah.

Barangsiapa jujur kepada Allah, niscaya dia selamat. Barangsiapa berbelas kasih kepada agamaNya, niscaya dia selamat dari kehinaan. Barangsiapa berzuhud di dunia, maka kedua matanya terhibur dengan pahala dari Allah yang akan dilihatnya kelak.

Dia mengatakan kepada saudaranya fillah, untuk memberi nasihat dan peringatan kepadanya, "Wahai saudaraku, dunia ada­lah tempat yang menggelincirkan dan negeri yang menghinakan. Keramaiannya berklimaks kepada kesunyian, penghuninya akan pergi ke kubur, kesatuannya berujung pada keterpecahan, dan kecukupannya dipalingkan kepada kefakiran. Memperbanyak di dalamnya adalah mempersulit, dan mempersulit di dalamnya adalah kemudahan. Karena itu, bersegeralah kepada Allah, dan ridhalah dengan rizki Allah. Jangan meminjam dari negeri keaba- dianmu (akhirat) di negeri kebinasaanmu (dunia). Sesungguhnya kehidupanmu adalah bayangan yang akan lenyap dan dinding yang condong. Perbanyaklah amalmu, dan pendekkanlah angan­mu."74

Dia mengatakan, "Syair adalah ucapan, syair yang baik ada­lah seperti kata-kata yang baik, sedangkan syair yang buruk adalah seperti kata-kata yang buruk. Hanya saja ia merupakan kata-kata yang abadi lagi terus berlangsung. Itulah keutamaannya diban­dingkan kata-kata lainnya." 75

Seseorang menemui asy-Syafi'i saat tidur terlentang, seraya mengatakan, "Sesungguhnya para sahabat Abu Hanifah adalah orang-orang yang fasih." Maka asy-Syafi'i duduk dengan lurus dan mulai bersenandung,
Seandainya bukan karena syair dapat merendahkan ulama
Niscaya aku pada hari ini telah menjadi penyair yang lebih hebat daripada Labid
Lebih berani dalam belantara daripada semua singa
Alu Muhallab dan Abu Yazid
Seandainya bukan karena takut kepada ar-Rahman, Rabbku
Niscaya aku kumpulkan semua manusia menjadi budakku
76

Di antara syairnya:

Jangan putus asa di dunia atas apa yang telah terluput
Sedangkan engkau memiliki Islam dan afiyat
Jika suatu perkara terluput, engkau mengejarnya
Maka ada orang yang terluput merasa cukup dengan keduanya
77

Di antara syairnya:

Aku matikan ketamakanku dan aku istirahatkan jiwaku
Karena jiwa itu hina selagi tamak
Aku hidupkan qana'ah yang sebelumnya mati
Karena menghidupkannya adalah kehidupan yang terpelihara
78

Di antaranya:

Wahai pengendara, berdirilah di al-Muhashshab, Mina Bisikilah penduduknya dengan duduk dan berdiri Pada waktu sahar, ketika orang yang berhaji bertolak ke Mina Bertolak laksana gelombang sungai Eufrat yang meluap
Jika benar rafadh (berpaham Syi’ah) adalah mencintai keluarga Muhammad
Maka hendaklah jin dan manusia menjadi saksi bahwa aku adalah rafidhi

Dia hanyalah mengatakan bait-bait ini, ketika kaum Khawarij menisbatkannya kepada rafadh karena kedengkian dan kezhaliman.

Al-Baihaqi mengatakan, "Kami telah meriwayatkan dari Yunus bin Abdul A'la bahwa asy-Syafi'i apabila menyebut kaum Rafidhah, maka dia mencela mereka dengan celaan yang paling keras seraya mengatakan, 'Mereka adalah golongan yang paling buruk'."79

Dari ar-Rabi', dia mengatakan, "Ketika asy-Syafi'i memasuki Mesir, awal kedatangannya ke sana, orang-orang menjauhinya dan tidak duduk di majelisnya, maka sebagian orang yang menyertai­nya mengatakan kepadanya, 'Alangkah baiknya sekiranya engkau mengucapkan sesuatu yang dapat membuat manusia berkumpul kepadamu.' Asy-Syafi’i mengatakann, 'Baiklah.' dia pun berucap,

Apakah aku menebarkan mutiara di kandang unta
Dan menyusun prosa untuk penggembala kambing
Sungguh jika aku disia-siakan di negeri paling buruk
Niscaya aku tidak menyia-nyiakan kata-kata yang mempesona di antara mereka
Ketika Allah Yang Maha Pemurah memberikan kelapangan dengan kelembutanNya
Dan aku kebetulan menjadi ahli ilmu dan hukum
Maka aku menyebarkan apa yang bermanfaat dan memetik cinta kasih mereka
Jika tidak, maka kesedihan aku simpan dalam diriku
Barangsiapa memberikan ilmu kepada orang-orang jahil, maka dia telah menyia-nyiakannya
Barangsiapa yang menghalangi orang yang berhak mendapatkan­nya, maka sungguh dia telah zhalim
80
Manusia itu bersama manusia lainnya selama kehidupan masih ada
Kebahagiaan itu tidak diragukan lagi mengalir dan terbang
Manusia yang paling utama adalah seorang laki-laki
Yang kebutuhan manusia dipenuhi melalui tangannya
Janganlah engkau melarang tangan kebaikan dari seseorang
Selama engkau masih mampu, karena kebahagiaan itu akan terbang
Syukurilah keutamaan ciptaan Allah apabila diciptakan untukmu
Tanpa kamu perlu bantuan manusia
Suatu kaum telah mati, tetapi kemuliaan mereka tidak mati
Sementara kaum yang lain hidup tetapi oleh manusia lainnya dianggap mati

Di antara syairnya,

Tabib dengan ilmu pengobatan dan obatnya
Tidak mampu menolak ketentuan qadha'
Bukankah tabib akan mati dengan penyakit
Yang dulu dia biasanya mengobati penyakit sepertinya
Orang yang mengobati, orang yang diobati
Orang yang mengambil obat, yang menjualnya, dan yang membeli­nya akan binasa
81

12. WASIAT MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI'I

Ar-Rabi’ bin Sulaiman mengatakan, "Dibacakan surat ini di hadapan Muhammad bin Idris asy-Syafi'i, dan saat itu aku hadir,

"Ditulis oleh Muhammad bin Idris bin al-Abbas asy-Syafi'i, pada bulan Sya'ban, 203 H, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi, Yang Mengetahui mata yang berkhianat, dan apa yang disimpan dalam dada, dan cukuplah Dia sebagai saksi, kemudian siapa saja yang mendengarnya, bahwa dia bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, yang tiada se­kutu bagiNya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan- Nya. Dia tetap akan beragama dengan hal itu, dan dengannya dia beragama hingga Allah mewafatkannya dan membangkitkannya di hadapanNya insya Allah. Dia berwasiat kepada dirinya sendiri, dan jamaah yang mendengar wasiatnya, agar menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dalam kitabNya kemudian lewat lisan Nabi-Nya, dan mengharamkan apa yang diharamkan Allah dalam kitab­Nya kemudian dalam Sunnah, serta tidak melampaui hal itu kepada selainnya. Sebab, melampauinya berarti meninggalkan kewajiban dari Allah, dan meninggalkan apa yang menyelisihi al-Kitab dan Sunnah. Keduanya merupakan perkara yang diada-adakan. Demi­kian pula dia berwasiat untuk memelihara agar tetap melaksanakan kewajiban dari Allah berupa kata-kata dan perbuatan, serta menahan diri dari keharamanNya, karena takut kepada Allah, dan banyak mengingat saat berada di hadapan Rabbnya kelak.

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِن سُوٓءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُۥٓ أَمَدًۢا بَعِيدًا ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفْسَهُۥ ۗ وَٱللَّهُ رَءُوفٌۢ بِٱلْعِبَادِ

'Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; dia ingin kalau kiranya antara dia dengan hari itu ada masa yang jauh.' (Ali Imran: 30).

Hendaklah dia memposisikan dunia sebagaimana yang diposisi­kan oleh Allah. Sesungguhnya Dia tidak menjadikannya sebagai negeri tempat tinggal yang abadi, kecuali sebagai tempat tinggal sementara yang cepat terputus. Dia hanyalah menjadikan dunia sebagai negeri tempat beramal, dan menjadikan akhirat sebagai negeri keabadian dan balasan dari perbuatan yang pernah dilaku­kan di dunia, baik kebaikan maupun keburukan, jika Allah belum mengampuninya. Hendaklah engkau tidak berteman dengan se­orang pun kecuali seseorang yang engkau temani karena Allah, yaitu orang-orang yang mengerti pertemanan itu karena Allah, dan bisa diharapkan darinya manfaat ilmu dalam agama, dan etika baik di dunia. Hendaklah seseorang mengetahui zamannya, memotivasi kepada Allah dalam membebaskan dirinya dari keburukan dirinya, menahan diri dari berlebih-lebihan dalam kata-kata atau perbuatan dalam perkara yang tidak lazim baginya. Memurnikan niat karena Allah dalam kata-kata dan perbuatannya. Karena Allah tidak mem­butuhkan kepada selainNya, sedangkan tidak ada sesuatu pun selainNya yang tidak membutuhkan kepadaNya.

Dia berwasiat bila kapan saja terjadi kematian padanya, yang telah ditetapkan Allah pada makhlukNya yang mana aku memohon pertolongan kepada Allah atas perkara itu dan sesudahnya, serta dijauhkan dari segala kesedihan yang menimpaku, di samping surga dengan rahmatNya."

Dia (asy-Syafi'i) tidak merubah wasiatnya ini.

Lalu dia menyebutkan wasiat berkenaan dengan hamba sahayanya, anak-anaknya, handai taulannya, dan selainnya. Di akhir dia mengatakan,

"Muhammad bin Idris memohon kepada Allah Yang Mahakuasa atas apa yang dikehendaki Nya, agar menyampaikan shalawat kepada Muhammad, hamba dan RasulNya, merahmatinya (yakni asy-Syafi’i) karena sesungguhnya dia sangat membutuhkan rahmatNya, men­jauhkannya dari api neraka karena dia tidak membutuhkan azabNya, menggantikannya dalam semua yang ditinggalkannya dengan sebaik-baik yang ditinggalkannya untuk salah seorang dari kaum Mukminin, mencukupkan mereka dari kehilangan dirinya, menam­bal musibah mereka sepeninggalnya, menghindarkan mereka dari bermaksiat kepadaNya, melakukan apa yang membuat mereka menjadi buruk, dan membutuhkan kepada seseorang dari makhluk- Nya padahal Dia Mahakuasa."82

13.MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI'I SAKIT DAN WAFAT

Ar-Rabi' bin Sulaiman mengatakan, "Asy-Syafi’i bermukim di sini selama empat tahun, dan dia telah mendikte sebanyak seribu lima ratus kertas.

Dia mengeluarkan kitab al-Umm sebanyak dua ribu kertas.

Kitab as-Sunnah dan banyak lainnya, semuanya dalam empat tahun.

Dia mengalami sakit yang sangat parah. Terkadang darah keluar darinya saat berkendara sehingga darah tersebut memenuhi celana, kendaraan, dan sepatunya."83

Dari Yunus bin Abdul A'la, dia mengatakan, "Aku tidak per­nah melihat seorang pun yang mengalami sakit sebagaimana yang dialami asy-Syafi'i. Suatu hari aku menemuinya, maka dia menga­takan kepadaku, 'Wahai Abu Musa, bacalah padaku setelah ayat 120 dari surat Ali Imran. Ringankanlah bacaan dan jangan mem­beratkan.' Aku pun membaca di hadapannya. Ketika aku hendak bangkit, dia mengatakan, 'Janganlah engkau lupa kepadaku, karena aku sedang kesusahan.' Yunus berkata, 'Maksud asy-Syafi'i ialah bacaanku setelah ayat 120, yaitu apa yang pernah dialami Nabi dan para sahabatnya, atau semisalnya'." 84

Dari ar-Rabi', dia mengatakan, "Al-Muzani masuk menemui asy-Syafi'i saat sakitnya yang menyebabkan kematiannya seraya mengatakan, 'Bagaimana keadaanmu wahai ustadz?' Dia menjawab, 'Aku akan pergi dari dunia, berpisah dari saudara-saudaraku, me­nenggak gelas kematian, menghadap kepada Allah, dan berjumpa dengan perbuatan-perbuatanku yang buruk.' Kemudian dia me­natapkan matanya ke langit sambil menangis, kemudian berucap,

KepadaMulah, wahai Tuhan segala makhluk, aku sampaikan ke­inginanku
Meskipun aku adalah orang yang berdosa, wahai Dzat yang memi­liki karunia dan kemurahan
Ketika hatiku menjadi keras dan sempit gerak langkahku
Aku menaruh harapan kepada ampunanMu
Dosaku terasa besar bagiku, lalu ketika aku membandingkannya dengan ampunanMu, ternyata ampunanMu lebih besar
Engkau senantiasa memiliki ampunan dari dosa
Engkau senantiasa bermurah dan memberikan ampunan sebagai anugerah dan kemurahan
Seandainya bukan karena Engkau, tidak ada satu hamba pun yang kuat menghadapi iblis
Bagaimana tidak, dia telah menyesatkan orang pilihanMu, Adam
Jika Engkau mengampuniku, maka Engkau mengampuni orang yang durhaka
Banyak zhalim lagi senantiasa berdosa
Jika Engkau membalasku, maka aku tidak berputus asa
Karena kejahatanku disebabkan kejahatanku, walaupun Engkau memasukkan aku ke dalam Jahannam
Sungguh besar dari dulu dan sekarang
Tapi ampunanMu sungguh lebih besar
85

Ar-Rabi’ bin Sulaiman mengatakan, “Ketika tiba Maghrib, yaitu malam ketika asy-Syafi’i meninggal, anak pamannya, Ibnu Ya’qub mengatakan kepadanya, 'Apakah kami turun untuk mengerjakan shalat?’ Asy-Syafil menimpali, Apakah kalian duduk untuk menunggu nyawaku keluar?’ Kami pun turun, kemudian kami naik seraya kami katakan, 'Kami sudah shalat, semoga Allah memperbaikimu.’ Dia mengatakan, ’Ya.’ Kemudian dia minta mi­num, saat itu musim dingin, maka anak pamannya mengatakan, Apakah aku mencampurnya dengan air panas?’ Asy-Syafi’i menga­takan kepadanya, Tidak, bahkan demi Rabb dari pohon Safarjal.’ Dia pun meninggal pada watu Isya yang terakhir -semoga Allah merahmatiny a-. ” 86

Ar-Rabi’ bin Sulaiman mengatakan," Asy-Syafi’i mening­gal pada malam Jum’at, setelah Maghrib, saat aku berada di sisinya, dan dimakamkan pada hari Jum'at setelah Ashar, hari terakhir dari bulan Rajab. Ketika kami pulang dari mengantar jenazahnya, kami melihat hilal bulan Sya'ban 204 H 87, dalam usia 54 tahun.” Dari Abu Zakaria, yakni al-A'raj, dia mengatakan, Aku men­dengar ar-Rabi' mengatakan, "Aku bermimpi bahwa Adam AS meninggal, dan mereka ingin membawa keluar jenazahnya. Pada pagi harinya, aku bertanya kepada ahli ilmu mengenai hal itu, maka dia mengatakan, ’Ini adalah kematian orang paling berilmu dari penduduk bumi. Sesungguhnya Allah telah mengajarkan semua nama kepada Adam.’ Tidak lama kemudian asy-Syafi'i meninggal, semoga Allah merahmatinya. 88

Matahari kehidupan dunianya terbenam karenanya, tetapi kecintaan kepada imam ini, dan keberkahan ilmunya dan tulisan- tulisannya memenuhi dasar bumi. Tidak ada satu pun pemilik tempat tinta, melainkan asy-Svafi'i mendapatkan bagian darinya, kita memohon kepada Allah agar mengampuni kita dan dia, serta memberi karunia kepada kita dan dia dengan derajat-derajat yang tinggi. Dan semoga Allah mengampuni kami atas kekurangan kami dalam mengemukakan biografinya, dan memberi nikmat kepada kami dengan menyertainya, serta memasukkan kita ber­samanya dalam surgaNya yang luas.

Inilah saatnya meninggalkan pena berkenaan dengan biografi tokoh ini, sedangkan hati tetap rindu untuk menyertainya, menik­mati kesempurnaan akalnya, kesempurnaan kecerdasannya, dan keberkahan kata-katanya.

Semoga shalawat, salam dan keberkahan senantiasa terlim­pah atas rasul yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, dan keluarganya yang suci, serta para sahabatnya yang cemerlang. Dan, akhir doa kami ialah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.


  1. Demikian yang tertulis dalam buku aslinya, tetapi yang benar adalah al-Muththalib, bukan Abdul Muththalib. Lihat as-Sirah an-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, 1/72-91. Editor.
  2. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, al-Manaqib, 6/616; Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, al-Kharaj wa al-Imarah, no. 2962; Sunan an-Nasa 'i, an-Nasa'i, 7/130,131
  3. Tahdzib al-Asma' wa at-Lughat, Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1/49
  4. Siyar Alam an-Nubala, Syamsuddin adz-Dzahabi, dan tahqiqnya diketuai oleh Syu’aib al-Arna'uth, Beirut: Cet. Dar ar-Risalah, tth, 10/6
  5. Al-Manhaj al-Ahmad fi Tarajum Ashhab al-Imam Ahmad, Abu al-Yaman al-Ulaimi, tahqiq Muhammad Mahyiddin Abdul Hamid, Mesir: Muthba'ah al Madani t.th hal 63
  6. Tarikh al-lslam, Syamsuddin adz-Dzahabi, dengan tahqiq Dr. Umar Abdussalam Tadmuri, Mesir : penerbit Dar al-Kitab al-Arabi, Hawadits wa Wafaqat, 201-301 hal 310
  7. Masa'il (tanya jawab) adalah pembahasan tentang suatu masalah tertentu. Ed.
  8. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya ', karya Abu Nu’aim al-Ashbahani, Np: Cet. as-Sa’adah, t.th. 9/73. Hal ini disebutkan oleh adz-Dzahabi dalam Tarikh al-Islam, Syamsuddin adz-Dzahabi, dan Wafayat al-A’yan wa Anba' az-Zaman, Ibnu Khallikan, 201-210, dari al-Humaidi, dari asy-Syafi’i juga. Ini juga disebutkan dalam Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, dari Warraq al-Humaidi, dari al-Humaidi, 1/92.]
  9. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, dengan tahqiq as-Sayyid Ahmad Shaqr, 1/96
  10. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 1/97
  11. Siyar A'lam an-Nubala, Syamsuddin adz-Dzahabi, 10/12. Ini juga terdapat dalam Manaqib asy~Syafi'i, al-Baihaqi, 1/101, yang di dalamnya disebutkan, "Engkau harus menjadi qadhi." Mungkin di dalamnya terjadi kesalahan tulis. Hal ini juga diriwayatkan secara ringkas dalam Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya , Abu Nu aim, 9/69
  12. Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, 1/47-48 secara ringkas
  13. Hiyah Al-Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu'aim 9/63-64
  14. Tarikh Baghdad, al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi, 2/66
  15. Tarikh Baghdad, al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi, 2/66; dan Tahdzib al-Kamal, Jamaluddin al-Mizzi, 24/371
  16. Diriwayatkan secara bersanad oleh al-Baihaqi dalam Manaqib asy-Syafi'i, al-Baihaqi, hal. 21. Adz-Dzahabi menyebutkannya dalam Tarikh al-lslam, Hawadits wa Wafayat, 201-210, hal. 315.
  17. Manaqib asy-Syafi i, al-Baihaqi, 2/253.
  18. Hilyah al-Auliya ’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, Abu Nu’aim, 9/98
  19. Manaqib asy-Syafi’i, al~Baihaqi, 2/256,257; dan diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya 9/98,99
  20. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 9/956; Manaqib al-Imam asy- Syafi’i, Fakhruddin ar-Razi, tahqiq Ahmad Hijazi as-Saqa, Kairo: penerbit Maktabah al-Kulliyyat al-Azhariyyah, t.th., hal. 58-59
  21. Manaqib asy-Syafi'i, Fakhruddin Ar-Razi, tahqiq Ahmad Hijazi as Saqa' Kairo, Penerbit Maktabah al-Kulliyyat al-Azhariyyah t.th. hal. 66
  22. Manaqib asy-Syafi i, al-Baihaqi, 2/158.
  23. Ibid, 2/158, dan Tarikh Baghdad al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi 20/63
  24. Tarikh Baghdad, al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi, 2/64; Tahdzib al-Kamal, Jama- luddin al-Mizzi, 24/368.
  25. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 9/135
  26. Siyar A’lam an-Nubala, Syamsuddin adz-Dzahabi, 10/36.
  27. Manaqib asy-Syafi'i, al-Baihaqi, 2/163
  28. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/165
  29. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/168
  30. Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, 1/55; Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/170
  31. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/168
  32. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/171
  33. Manaqib asy-Syafi'i, al-Baihaqi, 2/177
  34. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 9/130; Manaqib asy-Syafi'i, al-Baihaqi, 2/220, dan Manaqib al-Imam asy-Syafi'i, Fakhruddin ar-Razi, tahqiq Ahmad Hijazi as-Saqa, Kairo: penerbit Maktabah al-Kulliyyat al-Azhariyyah, tth., hal. 128
  35. Manaqib asy-Syafi'i, al-Baihaqi, 2/221, dan Manaqib al-Imam asy-Syafi'i, Fakhruddin ar-Razi, tahqiq Ahmad Hijazi as-Saqa, Kairo: penerbit Maktabah al-Kulliyyat al-Azha¬riyyah, t.th., hal. 128
  36. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 9/132; dan Manaqib asySyafi'i, al-Baihaqi, 2/223
  37. Manaqib asy-Syafi'i, al-Baihaqi, 2/222; dan Siyar Alam an-Nubala', Syamsuddin adz-Dzahabi, secara ringkas, 10/39
  38. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 9/130, dan Manaqib asy- Syafi’i, al-Raihaqi, 2/220
  39. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/221
  40. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/323; dan Manaqib al-Imam asy-Syafi’i, Fakhruddin ar-Razi, hal. 128
  41. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/223
  42. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 9/34, dan Manaqib asy- Syafi’i, al-Raihaqi, 2/227
  43. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/225-226
  44. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/334
  45. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 9/100
  46. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 9/100
  47. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 9/101
  48. Tarikh al-Islam, Syamsuddin adz-Dzahabi, hal. 321; dan Wafayat al-A’yan wa Anba' az-Zaman, Ibnu Khallikan, 201-210.
  49. Tarikh al-Islam, Syamsuddin adz-Dzahabi, hal. 321; dan Wafayat al-A’yan wa Anba' az-Zaman, Ibnu Khallikan, 201-210
  50. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/452
  51. Manaqib asy-Syafi'i, al-Baihaqi, 2/462
  52. Manaqib asy-Syafi'i, al-Baihaqi, 2/463
  53. Tarikh Baghdad, al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi, 2/69
  54. Hilyah al-Auliya" wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 9/94
  55. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 3/93; dan Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 1/338
  56. Manaqib asy-Syafi'i, al-Baihaqi, 2/340
  57. Manaqib asy-Syafi'i, al-Baihaqi, 2/363,364
  58. Manaqib asy-Syafi'i, al-Baihaqi, 2/363
  59. Siyar A'lam an-Nubala, Syamiuddln adz-Dzahabi, 10/54
  60. Manaqib asy-Syafi'i, al-Baihaqi, 2/61,62
  61. Manaqib asy-Syafi'i, al-Baihaqi, 2/230
  62. Manaqib asy-Syafi'i, al-Baihaqi, 2/236
  63. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 9/97; dan Siyar A’lam an-Nubala, Syamsuddin adz-Dzahabi, 10/55
  64. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 9/103
  65. SiyarA’lam an-Nubala, Syamsuddin adz-Dzahabi, 10/57
  66. Muqaddimah al-Allamah Ahmad Syakir li ar-Risalah, karya asy-Syafi’i, hal. 14.
  67. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 1/259
  68. Tahdzib at-Tahdzib, Ibnu Hajar al-Asqalani, 9/23. Lihat juga Tahdzib al-Kamal, Jama* luddin al-Mizzi, tentang sejumlah gurunya yang lain, 24/356-357.
  69. Tahdzib at-Tahdzib, Ibnu Hajar al-Asqalani, 9/23, 24. Lihat juga untuk menambah faidah, Tahdzib al-Kamal, Jamaluddin al-Mizzi, 24/357,358
  70. lihat Manaqib asy-Syafi'i, al-Baihaqi, 1/246,254
  71. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 1/258
  72. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 1/258
  73. Tahdzib al-Asma' wa al-Lughat, Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, 1/53-57; dan ini dalam Managib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/168-214
  74. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/62
  75. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/66
  76. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/66
  77. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/67
  78. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/71
  79. Al-Manhaj al-Ahmad fi Tarajum Ashhab al-Imam Ahmad, Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi hal 68-69
  80. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/296
  81. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/289,290
  82. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/291
  83. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/293
    وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ ٱلْمُؤْمِنِينَ مَقَٰعِدَ لِلْقِتَالِ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ . إِذْ هَمَّت طَّآئِفَتَانِ مِنكُمْ أَن تَفْشَلَا وَٱللَّهُ وَلِيُّهُمَا ۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ . وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

    “Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan kaum Mukminin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah karena Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu (ketika itu) adalah orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuriNya” (Ali Imran: 121-123). Ed.
  84. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/293,294
  85. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/296
  86. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/298
  87. Manaqib asy-Syafi’i, al-Baihaqi, 2/301
Waktu Shalat
UPDATE TERBARU
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya