Biografi Ulama Ahl Sunnah wal Jama'ah

KHADIJAH BINTI KHUWAILID

KHADIJAH BINTI KHUWAILID

(Pemimpin Kaum Wanita Seluruh Alam)

Kali ini kita bersama bintang pertama di antara gugusan bintang nubuwah. Kita bertemu simbol kesucian, sikap menjaga diri, dan ketakwaan, bersama bunga yang semerbak mewangi hingga memenuhi segala penjuru alam dengan keharuman iman dan pengorbanan.

Bersama orang pertama dari kalangan kaum wanita yang beriman Kepada Allah. Orang pertama yang shalat bersama Rasulullah . Orang pertama yang mendapat kabar gembira surga di antara istri-istri beliau. Orang pertama yang mendapat salam dari Rabb.

Wanita jujur pertama di antara kaum mukminah. Istri pertama Nabi yang lebih dulu meninggal dunia. Kuburan pertama di Mekah yang Nabi sendiri turun ke dalamnya. Wanita yang beriman kepada beliau kala orang-orang ingkar kepada beliau. Wanita yang percaya kepada beliau kala semua orang mendustakan beliau. Wanita yang membantu beliau dengan harta benda kala semua orang kikir kepada beliau. Dan darinya Allah menganugerahkan anak pada beliau.

Dialah wanita berakal, cerdas, terjaga, dan mulia yang di masa jahiliyah disebut Ath-Thahirah (wanita suci). Lantas bagaimana halnya setelah berada di bawah naungan Islam?

Dialah tempat Nabi bernaung, la membela dan mendukung beliau untuk menyampaikan dakwah Rabb. Ia mempersiapkan segala faktor kebahagiaan dan kenikmatan untuk beliau. Ia membantu beliau di saat-saat ujian paling sulit mendera. Oleh karena itu, layak bagi Khadijah mendapat salam dari atas langit ketujuh. Bahkan mendapat kabar gembira sebuah rumah di surga dari mutiara cekung tanpa adanya kegaduhan dan keletihan di dalamnya.

Dia adalah pemimpin kaum wanita seluruh alam, istri pemimpin orang-orang terdahulu dan kemudian. Dia adalah Khadijah yang bintangnya bersinar terang di alam keimanan, kesucian, sikap menjaga diri, pengorbanan, dan kesetiaan.

Pujian ini tidak diraih dengan uang ataupun harta. Hanya diraih dengan keutamaan-keutamaan yang tetap harum sepanjang masa yang ditinggalkan seseorang di dunia. Dengan mengingatnya, mereka yang masih hidup bangkit dan tegak. Jiwa-jiwa menjadi jernih karena segala kenangannya. Dan akal mendapatkan sumber energi dengan menelaah kisah perjalanan hidupnya. Demi Allah, jawab pertanyaan saya; bukankah ini puncak kepemimpinan dalam kehidupan dan kematian?

Wanita mukmin jujur pertama, Khadijah , bukan sekadar ibu bagi orang-orang mukmin saja, tapi ia juga ibu bagi segala keutamaan, la memiliki jasa terhadap setiap ahli tauhid hingga hari seluruh manusia dibangkitkan. Lantas, bisakah kita memenuhi sebagian dari hak ibunda kita ini?[1]

Demi Allah, kisah-kisah Khadijah adalah obat hati, pembersih akal dari segala kotoran dan aib, juga teladan pada zaman di maha seluruh teladan nyaris lenyap. Menelaah kisah perjalanan hidupnya akan menghidupkan hati, dengan menapaki jejak-jejaknya kebahagiaan akan diraih. Dan dengan mengenali segala keutamaannya akan mendorong untuk meneladani sifat-sifat baik, prestasi dan tindakan-tindakan baik.

Untuk itu, mari bersama mendampingi sosok ibu paling agung di dunia ini dengan hati. Agar kita tahu nilai, kedudukan dam posisinya di hadapan Allah dan Rasulullah . Agar kita mendapatkan sirah nan harum yang akan kita persembahkan kepada para istri, anak-anak perempuan, saudara-saudara perempuan, bahkan kepada ibu-ibu kita.

Mari kita mengharumkan hati dengan kisah perjalanan hidupnya yang penuh berkah.

Siapa Khadijah ?

la adalah Ummul Mukminin, pemimpin kaum wanita seluruh alam pada masanya. Ummul Qasim binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab Al-Qurasyiyah Al-Asadiyah. Ibu anak-anak Rasulullah . Orang pertama yang beriman dan percaya kepada beliau sebelum siapa pun juga.

Ia memiliki banyak sekali keutamaan, dan termasuk di antara wanita sempurna. Ia wanita berakal, mulia, patuh beragama, terjaga, dan mulia. Termasuk salah satu penghuni surga. Nabi memuji dan melebihkannya [di antara seluruh ummahatul mukminin (istri-istri beliau). Beliau begitu mengagungkannya, hingga Aisyah menuturkan, "Aku tidak cemburu pada seorang wanita pun seperti rasa cemburuku pada Khadijah, karena Rasulullah sering kali menyebutnya.”[2]

Di antara bentuk kemuliaan Khadijah di mata Nabi beliau tidak menikahi seorang wanita pun sebelumnya, beliau mendapatkan sejumlah anak darinya, dan beliau tidak memadunya hingga ia meninggal dunia. Beliau dirundung kesedihan karena kehilangannya. Karena, ia adalah Isebaik-baik pendamping. Ia menafkahi beliau, dan beliau berdagang untuknya.

Zubair bin Bakkar berkata, "Di masa Jahiliyah, ia dipanggil Ath-Thahirah (wanita suci). Ibunya adalah Fatimah binti Zaidah Al-Amiriyyah.”

Sebelumnya, Khadijah menikah dengan Abu Halah bin Zararah At-Tamimi. Setelah Abu Halah meninggal, ia menikah dengan Utaiq bin Abid bin Abdullah bin Amr bin Makhzum. Lalu setelah itu, ia menikah dengan Nabi . Rasulullah menggaulinya saat beliau berusia dua puluh lima tahun. Khadijah lebih tua lima belas tahun dari beliau.[3]

Khadijah lahir di Ummul Qura (Mekah) sekitar lima belas tahun sebelum tahun gajah.

Merenungkan Diri

Khadijah wanita yang memiliki hati nan bersih dan jiwa nan rela, suatu ketika merenung seorang diri. Ia mengulang pita rekaman memori-memori masa lalu. Meski ia sukses dengan cemerlang—berkat karunia Allah—di bidang niaga, hingga kafilah dagang miliknya yang bergerak menuju Syam setara dengan seluruh kafilah dagang kaum Quraisy. Hanya saja, ia tidak merasa bahagia. Ini karena hatinya memerlukan bekal sebagai penghidupan kalbu. Selain itu, beberapa kali ia gagal membina rumah tangga di saat hatinya menginginkan kehidupan rumah tangga luhur yang penuh dengan pengorbanan, cinta, dan pemberian.

Sebelumnya, Khadijah menikah dengan Abu Halah bin Zararah At-Taimi. Dengan segala yang dimiliki, ia menginginkan suaminya menjadi pemimpin di tengah-tengah kaumnya. Hanya saja, kematian memutuskan harapan itu. Suaminya meninggal dunia setelah memberikan anak bernama Hindun. Selang berapa lama, salah seorang lelaki terhormat Quraisy datang meminangnya. Ia adalah Utaiq bin Abid bin Abdullah Al-Makhzumi. Setelah itu, Utaiq menikahinya. Sayang, pernikahan ini tidak bertahan lama, hingga Khadijah, pemimpin kaum wanita Quraiay) itu hidup menjanda padahal ia adalah idaman para lelaki terhormat di tengah-tengah kaumnya.

Namun, dalam lubuk hati ia merasa bahwa takdir tengah menyembunyikan hal besar untuknya. Yang akan membuatnya melupakan segala duka nestapa masa lalu, dan memasukkan kebahagiaan ke dalam hati.

Mimpi Memeluk Bintang

Khadijah adalah seorang wanita dengan Idealisme tinggi, emosi menggelora, berwawasan luas, diciptakan dengan kecenderungan taat beragama, bersih dan suci, hingga dikenal sebagai Ath-Thahirah (wanita suci) di antara para sebaya dan kaum wanita Quraisy.[4] Sifat yang meliputi Khadijah ini sudah cukup membuatnya berada di awan perlombaan menuju segala keluhuran.

Khadijah sering mendengar penuturan-penuturan sepupunya, Waraqah bin Naufal tentang para nabi dan agama. Angan-angannya berkibar di langit keutamaan dan kemuliaan nan tinggi yang tak mampu digapai oleh angan orang-orang di masanya.

Pada suatu malam, kala bintang-bintang terbenam dan suasana gelap gulita, Khadijah duduk di dalam rumah setelah thawaf mengelilingi Ka'bah berkali-kali. Saat itu, Khadijah beranjak ke tempat tidur dengan tanda kerelaan dan senyuman terlukis di kedua bibirnya. Ia tidak tahu perasaan apa yang ada dalam pikirannya kala ini. Begitu berbaring, ia langsung terlelap.

Layaknya dialami orang tidur, Khadijah memimpikan matahari besar turun dari langit Mekah dan berada di dalam rumahnya, memenuhi seluruh sisi rumah dengan cahaya dan keindahan. Cahaya dari dalam rumah memancar ke sekelilingnya hingga menyilaukan jiwa sebelum menyilaukan pandangan karena sangat terang.

Khadijah pun terbangun, pandangannya menatap ke sekeliling dengan rasa heran. Rupanya malam masih menutupi dunia, mendekam di seluruh wujud. Namun demikian, cahaya yang menyilaukannya dalam mimpi masih saja bersinar terang dalam perasaan dan nurani.

Kala malam meninggalkan dunia, Khadijah meninggalkan kasur. Sering matahari terbit dan alam terlihat jernih pada pagi hari, sang wanita suci ini pergi menuju rumah saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal. Mungkin saja ia bisa menafsirkan mimpi indahnya semalam.

Khadijah masuk menemui Waraqah. Rupanya Waraqah tengah membaca salah satu lembaran di antara lembaran-lembaran samawi yang ia sukai. Ia membaca baris demi baris lembaran-lembaran ini setiap pagi dan sore hari. Begitu mendengar suara Khadijah, ia segera menyambut kedatangannya serasa merasa aneh.

“Khadijah? Ath-Thahirah?”

“Benar, benar,” sahut Khadijah.

“Ada apa kau datang pagi-pagi seperti ini,” tanya Waraqah dengan heran.

Khadijah kemudian duduk dan menuturkan perihal mimpi yang ia alami satu persatu; satu peristiwa demi satu peristiwa.

Waraqah mendengar penuturan Khadijah dengan penuh perhatian, membuatnya melupakan lembaran samawi yang ada di tangannya, seakan ada sesuatu yang menggugah perasaan dan membuatnya menyimak mimpi itu hingga akhir.

Belum juga Khadijah menuntaskan pembicaraan, wajah Waraqah berbinar, senyuman senang terlukis di kedua bibirnya. Selanjutnya dengan tenang ia berkata kepada Khadijah, “Bergembiralah wahai saudara sepupuku! Jika Allah membenarkan mimpimu, cahaya nubuwah akan masuk ke dalam rumahmu, dan dari sana cahaya penutup para nabi akan memancar."

Allahu Akbar! Apa gerangan yang didengar Khadijah? Apa kiranya yang dikatakan saudara sepupunya itu? Khadijah terdiam beberapa saat, tubuhnya gemetar, perasaan-perasaan bahagia penuh angan, rahmat, dan harapan meluap di dadanya.

Sejak saat itu, Khadijah menjalani hidup di atas harapan, dan aroma wangi mimpi yang ia alami. Semoga saja mimpinya menjadi nyata, menjadi sumber kebaikan untuk umat manusia, dan sumber cahaya dunia. Karena kebesaran hatinya merupakan sumber kebaikan, sementara akalnya mampu memahami segala peristiwa yang terjadi di sekitar dalam bentuk yang selaras dengan kehidupannya.

Setiap kali ada seorang pemimpin Quraisy datang meminang, Khadijah selalu mengukur lelaki tersebut dengan mimpi yang ia alami dan penafsiran yang ia dengar dari saudara sepupunya, orang tua yang berwibawa; Waraqah bin Naufal. Namun hingga detik itu, sifat-sifat penutup para nabi tidak cocok dengan para lelaki yang datang meminang dan berdekatan dengannya. Khadijah menolak mereka dengan cara yang baik. Ia berkata kepada mereka, belum ada keinginan untuk menikah. Ia merasa bahwa takdir ilahi tengah menyembunyikan sesuatu yang menawan untuknya, namun ia tidak tahu apa itu. Hanya saja ia merasa bahwa ada yang memasukkan rasa tenang ke dalam hatinya.[5]

Pernikahan yang Diberkahi

Ibnu Ishaq menuturkan bahwa Khadijah binti Khuwailid adalah Seorang saudagar wanita yang memiliki kemuliaan dan harta. Ia biasa menyewa jasa sejumlah lelaki untuk memperdagangkan harta miliknya. Sementara Quraisy sendiri adalah kaum pedagang. Ketika mendengar kejujuran tutur kata, besarnya amanat, dan kemuliaan akhlak Rasulullah , Khadijah mengirim utusan untuk menemui beliau.

Ia menawarkan untuk memperdagangkan harta miliknya ke Syam. Ia juga bersedia memberi beliau imbalan terbaik yang pernah ia berikan kepada para pedagang lain. Beliau nantinya tidak sendiri, tapi akan ditemani budak milik Khadijah bernama Maisarah. Rasulullah pun menerima tawaran Khadijah ini. Beliau kemudian pergi membawa harta milik Khadijah dengan ditemani budak miliknya, Maisarah, hingga tiba di Syam.

Rasulullah sejenak beristirahat di bawah naungan pohon di dekat biara seorang rahib. Dari atas biara, si rahib melihat Maisarah lalu bertanya kepadanya, "Siapa lelaki yang istirahat di bawah pohon itu?' Maisarah menjawab, ‘Dia orang Quraisy dari penduduk tanah Haram.' Si rahib kemudian berkata kepadanya, ‘Tidak ada seorang pun yang istirahat di bawah pohon itu selain nabi'."

Rasulullah kemudian menjual barang dagangan yang beliau bawa, lalu membeli barang-barang yang ingin beliau beli. Setelah itu, beliau pulang ke Mekah bersama Maisrah. Maisarah—seperti yang dituturkan orang-orang—selalu melihat dua malaikat menaungi beliau dari sinar matahari. Kala itu panas sangat terik tatkala beliau menunggangi unta. Begitu tiba di Mekah, beliau menemui Khadijah dengan membawa harta benda milik Khadijah. Beliau menjual barang-barang yang beliau bawa, bahkan mendapat keuntungan dua kali lipat. Selain itu, Maisarah menuturkan kata-kata si rahib kepada Khadijah dan juga naungan dua malaikat yang telah ia lihat. Khadijah adalah wanita yang bijaksana, terhormat dan cerdik terhadap kemuliaan Allah yang dianugrahkan kepadanya.

Khadijah terus memikirkan berbagai penuturan dan kisah Maisarah tentang Muhammad . Juga kata-kata saudara sepupunya, Waraqah, bahwa Muhammad adalah nabi umat ini dan mimpi matahari turun dari langit Mekah lalu masuk ke dalam rumahnya. Semua hal itu selalu terbayang dalam benaknya. Kata-kata Waraqah juga terus menerus terngiang dalam relung hatinya, "Bergembiralah wahai saudara sepupuku! Jika Allah membenarkan mimpimu, cahaya nubuwah akan masuk ke dalam rumahmu, dan dari sana cahaya penutup para nabi akan memancar.”

Khadijah mencoba mengusir memori-memori khayalan menuju kenyataan yang ia jalani. Ia selalu mengamati dan memikirkan tentang Muhammad, dirinya telah memenuhi ruang khayalannya.

Khadijah punya berbagai bukti dan pertanda bahwa Muhammad adalah penutup para nabi. Ia pun berharap menjadi istri beliau. Namun, bagaimana caranya?

Ia adalah wanita bangsawan, kaya raya, dikenal tegas dan berakal. Wanita sepertinya menjadi incaran para pemimpin Quraisy, sayyidah yang satu ini menilai kebanyakan kaum lelaki hanya mengincar harta benda, bukan mengincar jiwa. Pandangan mereka yang tertuju padanya hanya bermaksud menguasai kekayaan miliknya, karena dengan pernikahan adalah lambang ambisi ini.

Namun, saat mengenal Muhammad , Khadijah menemukan sosok lelaki berbeda. Ia menemukan lelaki yang sama sekali tidak punya kepentingan apa pun.

Tatkala mengaudit, Khadijah sering melihat sifat kikir dan suka mengakali keuangan pada lelaki lain yang menjalankan perdagangannya. 'Namun berbeda dengan Muhammad . Khadijah melihatnya sebagai sosok lelaki yang mengedepankan kemuliaan.

Ia tidak mengincar harta ataupun kecantikannya. Ia cukup menjalankan tugasnya, setelah itu pulang dengan ridha dan diridhai.

Khadijah seperti telah menemukan barang hilang yang selama ini ia cari.[6]

Di tengah kebimbangan dan guncangan, Nafisah binti Munabbih, temannya, datang dan duduk untuk berbincang. Hingga akhirnya Nafisah mampu mengungkap rahasia tersembunyi di balik wajah dan intonasi tutur kata Khadijah.

Nafisah menenangkan rasa takut dan segala emosi Khadijah. Nafisah mengingatkan bahwa ia adalah wanita terhormat, keturunan bangsawan, punya harta dan kecantikan. Nafisah memperkuat kata-katanya ini dengan banyaknya lelaki terhormat yang datang meminangnya.

Begitu keluar dari rumah Khadijah, Nafisah langsung menemui Muhammad dan berbicara kepada beliau agar menikahi Ath-Thahirah khadijah. "Muhammad! Kenapa kau tidak menikah?" Tanya Nafisah. "Aku tidak punya apa-apa untuk menikah,” sahut beliau.

"Jika engkau dicukupi dan diajak menikah dengan seorang wanita yang berharta, cantik, dan mulia, apakah kau mau menerimanya?"

"Siapa dia?” sahut beliau dengan nada tanya.

"Khadijah binti Khuwailid," jawab Nafisah seketika.

"Kalau dia mau, aku menerima (tawaran itu)," sahut beliau.

Nafisah bergegas pergi untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada Khadijah. Beliau sendiri mengutarakan niat untuk menikahi Khadijah kepada para paman beliau.

Abu Thalib, Hamzah, dan lainnya kemudian pergi menemui paman Khadijah, Amr bin Asad, untuk meminang keponakannya sambil membawa mahar.

Pada pertemuan ini, Abu Thalib menyampaikan pinangan. Abui Abbas Al-Mubarrid dan lainnya menuturkan bahwa Abu Bakar menyampaikan khotbah penyerahan. Ia mengatakan:

“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita sebagai keturunan Ibrahim, Isma’il, Ma’ad, dan Mudhar. Yang telah menjadikan kitab pengurus rumah-Nya, pemimpin tanah suci-Nya, menjadikan untuk kita sebuah rumah yang dijaga, tanah suci yang aman, dan menjadikan kita sebagai para penguasa manusia. Selanjutnya, keponakan saya ini, Muhammad bin Abdullah, jika dibandingkan dengan lelaki mana pun, pasti lebih unggul dari sisi kebaikan, keutamaan, kemuliaan, akal, keluhuran dan keagungan.

Meski ia kurang dalam hal harta benda. Harta adalah bayangan yang pasti akan lenyap, sesuatu yang pasti berlalu, dan barang pinjaman yang pasti akan diminta kembali. Muhammad sendiri sudah kalian ketahui kerabatnya. Ia meminang Khadijah binti Khuwailid dan menyerahkan (mahar) sebanyak dua puluh ekor unta milik saya untuknya—riwayat lain menyebut; ia menyerahkan mahar sebanyak dua belas setengah uqiyah untuknya.” Abu Thalib berkata, “Demi Allah, setelah itu ia—Rasulullah —punya berita besar dan kepentingan agung. Maka nikahkan dia dengan (Khadijah).”[7]

Setelah akad selesai, hewan-hewan kurban disembelih lalu dibagi-bagikan kepada orang-orang fakir. Walimah juga diadakan di rumah Khadijah untuk para keluarga dan kerabat.

Ath-Thahirah, Khadijah kala itu berusia empat puluh tahun, usia keibuan yang sudah matang. Sementara Muhammad berusia dua puluh lima tahun, usia kematangan seorang pemuda.

Dalam pernikahan yang diberkahi ini, Ath-Thahirah Khadijah menjadi seorang istri yang setia dalam cinta, sekaligus seorang ibu penuh kasih sayang dan baik.

Kebijaksanaan dan Kekuatan Akal Khadijah

Memilih Nabi sebagai suami yang kala itu miskin, sementara ia sendiri kaya raya yang menjadi incaran para lelaki kaya dan terhormat di tengah-tengah kaumnya namun enggan menerima mereka sudah cukup menunjukkan kebijaksanaan, kecerdasan, dan kekuatan akalnya. Hanya dengan kebijaksanaan dan kekuatan akal, ia tahu bahwa kejantanan sempurna, kemuliaan sifat ksatria, dan watak yang lurus tidak berada di dalam kekayaan materi dan harta benda yang pasti akan lenyap

Ia mencari kekayaan jenis lain!

Kekayaan jiwa, nurani, dan kelembutan perangai! Di mana gerangan ia bisa menemukan semua itu secara sempurna pada sosok selain Muhammad? Meski demikian, sebagian referensi menyebut salah satu alasan Khadijah mendekati Nabi adalah keahlian beliau dalam berjual beli, kejujuran, dan amanah dalam berdagang, atau faktor-faktor lain seperti yang didengar Khadijah.

Namun kami sampaikan, meski faktor tersebut menjadi salah satu penyebab wanita menginginkan lelaki—terlebih bagi wanita, berharta seperti Khadijah yang menginginkan seorang lelaki yang bisa memperdagangkan harta miliknya.

Mungkin pertimbangan tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membenarkan alasan Khadijah menikah dengan Muhammad yang lima belas tahun lebih muda. Karena beliau kala itu berusia dua puluh lima tahun, sementara ia sendiri berusia empat puluh tahun.

Terlebih kala itu beliau minim harta, tidak memiliki kedudukan dan kepemimpinan. Namun Khadijah menemukan sesuatu di balik kejujuran, amanat, keahlian dalam berdagang, dan nanab terhormat yang membenarkan alasannya menikahi Muhammad di hadapan kaumnya,

Hanya saja saat mencari tahu faktor hakiki pernikahan sang wanita yang sudah menginjak usia empat puluh tahun ini dengan Muhammad artinya usia kematangan akal dan kedewasaan, bukan lagi sebagai gadis dungu ataupun wanita tua yang sudah lapuk. Faktor hakiki pendorong pernikahan ini adalah upaya Khadijah untuk mencari kejantanan sempurna. Kejantanan yang dimaksud mencakup akhlak, sifat ksatria, kekuatan masa muda, sikap mengalah (mementingkan orang lain), dan sifat-sifat mulia.

Muhammad tidak akan mau menikah dengan Khadijah meski memiliki harta benda sepenuh bumi, dan meski ia wanita tercantik di dunia, andai saja bukan karena kekuatan akal, kecerdasan, dan pengakuan kaumnya akan kemuliaan sifat, perilaku terpuji, menjaga diri, hati nan lurus dan nasab terhormat yang beliau ketahui.

Karena semua alasan inilah, keinginan Khadijah selaras dengan keinginan Muhammad untuk hidup berdampingan.

Benar dugaan Muhammad terkait Khadijah, karena ia adalah seorang istri dan sandaran terbaik. Kekuatan akal dan kecerdasannya mendorong untuk beriman kepada apa yang disampaikan Muhammad , mengikuti segala perilaku keimanan dan ketaatan.

Suatu ketika, Nabi pulang ke rumah Khadijah setelah diajari Jibril tata cara shalat. Beliau kemudian menyampaikan hal itu kepada Khadijah, lalu Khadijah pun berkata, “Ajarkan kepadaku (tata cara shalat) yang Jibril ajarkan kepadamu.”

Nabi kemudian mengajarkan shalat kepada Khadijah, Khadijah berwudhu seperti beliau, kemudian shalat bersama beliau dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah."[8]

Dialah Ash-Shadiqul Amin (Lelaki Jujur Lagi Terpercaya)

Ibunda kita, Khadijah , tahu betul akhlak Nabi mendengar segala sifat mulia dan keutamaan beliau yang memenuhi hati dengan .rasa senang dan bahagia. Bukan itu saja, ia juga mengetahui kedudukan beliau di tengah-tengah kaumnya. Mereka memberikan beliau julukan Ash-Shadiqul Amin (lelaki jujur lagi terpercaya). Mereka biasa meminta bantuan beliau untuk mengatasi persoalan pelik yang terjadi.

Suatu ketika, kaum Quraisy berkumpul untuk merenovasi bangunan ka'bah. Kala itu Ka'bah nyaris runtuh. Sebagian referensi menyebut karena terbakar, yang lain menyebut karena banjir bandang. Ini terjadi lima tahun sebelum kenabian menurut pendapat yang rajih. Mau tidak snau, kaum Quraisy harus merenovasi bangunan Ka'bah.

Hadits-hadits shahih mengisyaratkan kejadian ini. Bukhari meriwayatkan dari Aisyah , Rasulullah bersabda kepadanya. "Tidakkah kau tahu bahwa saat kaummu membangun (kembali) Ka'bah. mereka membangunnya tidak sesuai dengan pondasi-pondasi Ibrahim." 'Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengembalikan (Ka'bah) sesuai pondasi-pondasi Ibrahim?’ Tanyaku. "Andal saja kaummu bukan baru saja meninggalkan kekafiran, tentu aku lakukan (itu).’ Abdullah berkata, -Meski Aisyah mendengar (sabda) ini dari Rasulullah , namun aku tidak pernah melihat Rasulullah tidak menyentuh dua rukun di sisi Hijir Hanya saja Ka'bah tidak disempurnakan di atas pondasi-pondasi Ibrahim'."[9]

Kaum Quraisy kala itu kehabisan dana yang halal untuk merenovasi Ka’bah, Karena mereka mensyaratkan pada diri mereka agar tidak menyertakan dana apa pun dalam renovasi Ka'bah selain yang halal, tidak boleh menyertakan hasil kerja pelacur, hasil jual beli riba, ataupun hasil perilaku zalim.

Ibnu lshaq menuturkan, setiap kabilah mengumpulkan bebatuan untuk merenovasi Ka'bah. Pembangunan dimulai hingga sampai pada giliran meletakkan Hajar Aswad. Di sinilah mereka berselisih. Masing-masing kabilah ingin mengangkat Hajar Aswad ke tempat semula, hingga mereka terlibat perkelahian dan bersiap untuk perang. Bani Abdiddar kemudian membawa satu piring besar berisi darah, lalu mereka berjanji bersama Bani Adi bin Ka'ab bin Luay untuk mati. Mereka mencelupkan tangan ke dalam darah yang ada di dalam piring besar itu, mereka menyebutnya la’qatud dam (menjilat darah). Situasi ini terus berlangsung selama empat atau lima malam. Di antara mereka ada orang-orang bijak. Mereka berkumpul bersama para pemuka kaum di masjid untuk bermusyawarah.

Mereka lantas mengatakan, "Wahai kaum Quraisy! Jadikan orang pertama yang masuk melalui pintu masjid ini untuk memutuskan perkara yang kalian perselisihkan.” Dan orang pertama yang masuk adalah Rasulullah . Begitu melihat beliau, mereka berkata, "Dia Al-Amin, kami meridhai putusannya.”

Saat tiba di hadapan mereka dan mereka memberitahukan permasalahan ini. beliau mengatakan, "Berikan aku kain." Beliau pun diberi sehelai kain. Muhammad kemudian mengambil Hajar Aswad lalu meletakkannya dengan tangan beliau. Setelah itu beliau berkata, "Hendaklah setiap kabilah memegang ujung kain ini, lalu angkatlah bersama-sama."Mereka melakukan apa yang beliau perintahkan. Setelah tiba di tempatnya, beliau mengambil Hajar Aswad lalu beliau letakkan di tempatnya. Setelah itu, Ka’bah pun dibangun.[10]

Kebahagiaan Berkibar di Atas Rumah Paling Agung

Kebahagiaan berkibar di atas rumah Khadijah . Karena ia mendapati Al-Amin Muhammad sebagai suami terbaik, lembut dalam bergaul, sempurna kasih sayangnya. Akhlak beliau muncul dari fitrah beliau dari nasab yang selaras dan menyatu.

Kesabaran beliau setara dengan keberanian beliau,

Keberanian beliau setara dengan kemuliaan beliau,

kemuliaan beliau setara dengan kesantunan beliau,

kesantunan beliau setara dengan kasih sayang beliau,

kasih sayang beliau setara dengan sifat ksatria beliau.

Banyak sekali kelebihan-kelebihan istimewa yang beliau miliki.

Bahkan sebagai bentuk kesetiaan, beliau tidak pernah melupakan wanita agung yang menjadi ibu bagi beliau setelah ibunya, Ummu Ayman .

Saat masuk ke dalam rumah tangga, beliau memuliakan Khadijah. Mencurahkan segenap kasih sayang kepadanya, hati beliau nan besar pu meluapkan kelembutan yang bisa dirasakan anak-anak Khadijah. Hindun putri Khadijah, tinggal bersama sang ibu setelah menikah dengan Muhammad . Anak tiri Nabi ini pun sangat merasakan kebahagiaan karena tumbuh besar di bawah naungan sosok paling jujur bertutur kata, paling setia memenuhi tanggungan, paling lembut budi pekerti, dan paling mulia dalam bergaul.

Cinta Muhammad juga tercurah kepada Zaid bin Haritsah. Budak yang dibeli Hakim bin Hizam dari pasar Ukazh, lalu ia hibahkan kepada bibiya, Khadijah.

Muhammad mencintai Zaid, begitu juga sebaliknya. Belum pernah Zaid mencintai seorang pun sebelumnya dengan cinta sedemikian Itu. Khadijah menyadari cinta seorang ayah ini, lalu ia hibahkan Zaid pada beliau. Setelah itu, beliau merdekakan Zaid. Beliau tidak hanya ppngembalikan kemerdekaan Zaid yang terenggut, tapi juga beliau muliakan dan beliau angkat kedudukannya dengan mengaitkan nasab Zaid pada beliau, sehingga menjadi Zaid bin Muhammad.

Khadijah begitu mencintai sang suami, Muhammad , hingga menguasai seluruh emosi dan perasaannya. Cinta seorang istri kepada suami yang mencerminkan akhlak mulia dan budi pekerti luhur. Seiring perjalanan waktu dan pergaulan, Khadijah kian yakin bahwa lelaki yang ia pilih ini adalah penduduk bumi yang paling layak untuk menunaikan risalah-Nya dan membangkitkan umat.

Khadijah pun mempersiapkan seluruh kenyamanan dan kenikmatan untuk Rasulullah . Kala beliau menunjuk sesuatu, Khadijah memenuhi keinginan beliau dengan jiwa berbinar senang, rela hati, dan murah tangan. Khadijah sama sekali tidak pelit dengan harta yang ia miliki. Ia murah hati dengan emosi, perasaan, dan harta benda. Bahkan, ia juga mencintai orang yang dicintai suaminya. Khadijah begitu memuliakan orang yang dicintai suaminya, sikap mulia yang memenuhi jiwa dengan kerelaan dan kesenangan."[11]

Wanita dengan Hati Penuh Kasih

Dalam sebuah pertemuan dipenuhi cahaya-cahaya rabbani, Muhammad berbincang bersama Khadijah. Suara parau beliau menyentuh hati Khadijah. Hikmah yang keluar dari kedua bibir beliau mengisi ruhani Khadijah dengan kebahagiaan, membawanya naik dan membuatnya serasa berada di ufuk terang penuh cahaya.

Di saat-saat seperti ini, datanglah Halimah. Khadijah berkata, “Wahai maula-ku! Halimah binti Abdullah bin Harits As-Sa’diyah ingin masuk.” Kala Rasulullah mendengar nama Halimah As-Sa'diyah, hati beliau berdetak rindu, kenangan-kenangan manis masuk dalam benak beliau. Beliau teringat kawasan padang luas Bani Sa’ad, dan masa-masa beliau disusui di sana. Saat-saat penuh dengan perasaan bahagia, hari-hari beliau tumbuh dewasa di antara dua lengan dan asuhan Halimah.

Khadijah menghampiri untuk mempersilahkan Halimah masuk. Cerita beliau tentang Halimah adalah cerita yang meneteskan cinta, kasih sayang, kehangatan, dan kemuliaan. Kala tatapan beliau tertuju pada Halimah, suara beliau nan lembut menyentuh telinga Khadijah kala beliau memanggil dengan kerinduan dan cinta, “Ibu... Ibu!"

Khadijah menatap Rasulullah Muhammad membentangkan selendang beliau sebagai hamparan untuk Halimah. Beliau mengusap Halimah dengan kasih sayang, kebahagiaan jelas terlihat di wajah beliau. Kebahagiaan berbinar di kedua mata beliau, seakan ibu kandung beliau, Aminah binti Wahab, bangkit dari kubur

Dalam pertemuan hangat antara Rasulullah dengan Halimah, beliau menanyakan kondisinya. Halimah mengeluhkan kerasnya kehidupan dan kekeringan yang melanda padang luas Bani Sa'ad, la mengeluhkan kesulitan hidup, dan getirnya kemiskinan. Rasulullah lantas mencurahkan kemuliaan beliau padanya.

Nabi kemudian berbicara dengan sang Istri, Khadijah sangat tersentuh oleh kondisi Halimah, Ibunda susuan Nabi kondisi sulit yang menimpanya dan juga kaumnya. Kalbu Khadijah pun menuangkan kasih sayang dan cinta. Dengan rela hati, Khadijah memberi empat puluh ekor kambing, juga seekor unta yang membawa air. Khadijah Juga memberikan bekal seperlunya untuk nanti Halimah bawa pulang ke pedang luas kampung halamannya.

Begitulah Khadijah ia selalu siap untuk memberikan segenap harta benda demi menyenangkan sang suami, Muhammad . Beliau berterima kasih atas kemurahan hatinya. Setelah Itu. beliau berlalu untuk menyerahkan pemberian Khadijah kepada ibu susuan beliau.[12]

Benih Cinta Nan Diberkahi

Seperti itulah rumah tangga penuh berkah yang berdiri tegak di atas tonggak kasih sayang dan cinta, Khadijah selalu berusaha untuk membahagiakan dan menyenangkan hati Sang kekasih . Suatu ketika, Nabt pulang, lalu istri beliau yang penuh kasih itu menyampaikan kabar gembira. la memberitahukan kepada beliau bahwa ia sedang hamil. Sontak hati Rasulullah terguncang bahagia karena kabar gembira tak ternilai ini.

Khadijah sangat bahagia dan senang karena ia yakin suaminya suatu hari nanti akan memiliki kedudukan besar. Oleh karenanya ia mendambakan diberi anak dari beliau. Saat- saat bahagia itu akhirnya tiba kala Khadijah melahirkan anak pertama dari Sang Kekasih ia adalah Qasim. Dengan nama ini, beliau dipanggil dengan kuniah Abu Qasim, Setelah itu, keturunan beliau yang diberkahi lahir silih berganti. Setelah Qasim, Khadijah melahirkan Zainab, Ummu Kultsum, dan Fatimah. Ini terjadi sebelum nubuwah. Setelah nubuwah, Khadijah melahirkan Abdullah yang disebut sebagai Ath-Thayyib dan Ath-Thahir.

Ibnu Abbas menuturkan tentang anak-anak Rasulullah dari Khadijah. la berkata, "Khadijah melahirkan dua anak lelaki dan empat anak perempuan untuk Rasulullah ; Qasim, Abdullah, Fatimah, Ummu Kultsum, Zainab, dan Ruqaiyah.[13] Adapun Ibrahim, ia berasal dari Maria Al-Qibthiyah . Semua anak lelaki beliau meninggal dunia saat masih kecil. Sementara anak-anak perempuan beliau, mereka semua menjumpai Islam, masuk Islam dan berhijrah. Ruqaiyah dan Ummu Kultsum menikah dengan Utsman, Zainab menjadi istri Abu Ash bin Rabi’ bin Abdu Syams, Fatimah menjadi istri Ali bin Abi Thalib .[14]

Mereka semua meninggal dunia tatkala Nabi masih hidup, kecuali Fatimah. Ia meninggal dunia enam bulan setelah beliau wafat. Nabi memandang keluarga beliau yang diberkahi dengan lapang dada, karena mereka semua menjalani hidup yang tenang dan indah di puncak kebahagiaan.

Khadijah adalah istri teladan, tahu bagaimana cara menyenangkan hati suami dan anak-anak. Semakin lama bergaul dengan Rasulullah cinta dan rasa kagumnya semakin bertambah. Sebab, beliau ahli ibadah dan zuhud yang hati dan seluruh tubuhnya bergantung kepada Allah. Dari rumah tangga yang diberkahi inilah Fatimah lahir. Sosok yang berikutnya menjadi pemimpin kaum wanita penghuni surga, ibu Hasan dan Husain; dua pemimpin para pemuda penghuni surga, istri salah satu di antara sepuluh shahabat yang dijamin surga. Sungguh sebuah rumah tangga diberkahi yang menebar berkah dan aroma wangi iman ke seluruh alam.

Sifat Mulia dan Mementingkan Orang Lain

Khadijah sangat mulia dan murah hati. Ia menyukai apa saja yang disukai sang suami , mengorbankan apa pun yang ia miliki demi membahagiakan sang suami. Tatkala Rasulullah merawat putra paman beliau, Ali bin Abi Thalib, Ali menemukan hati penuh kasih dan ibu yang sangat penyayang di rumah Khadijah, wanita suci dan penuh kasih. Inilah yang membuat Ali merasa tinggal bersama ibu kandung sendiri, Khadijah perlakukan Ali dengan sangat baik.

Demikian halnya ketika Khadijah merasa bahwa Rasulullah menciniai Zaid bin Haritsah. Khadijah menghibahkan Zaid kepada beliau, hingga kedudukan Khadijah kian meningkat di dalam jiwa Nabi .

"Aku tidak akan memilih seorang pun sebagai pengganti beliau"

Khadijah mengetahui kisah cinta Zaid kepada Rasulullah yang tiada dapat dibandingkan dengan dunia dengan seluruh kesenangan fana yang ada di dalamnya.

Suatu ketika, sang ibunda berkunjung ke kaumnya dengan membawa Zaid ketika ia masih kecil. Pada saat itu pasukan berkuda Bani Qain datang raenyerang rumah-rumah milik Bani Ma’an. Mereka kemudian menawan Zaid yang saat itu masih sangat belia. Saat itu bertepatan dengan musim pasar Ukazh, lalu mereka menjual Zaid. Zaid kemudian dibeli Hakim bin Hizam untuk bibinya, Khadijah binti Kuwailid seharga 400 dirham. Ayah terus mencari Zaid di berbagai belahan timur dan barat bumi hingga hatinya merasa sangat sedih kehilangannya. Kerinduan kepadanya menuntun sang ayah menggubah sebuah bait syair sedih yang membuat siapa pun remuk redam. Ia menuturkan;

Aku tangisi kepergian Zaid, aku pun tak tahu gerangan masih hidupkah dia...
Sehingga bisa diharapkan kembali, ataukah ajalmu telah tiba
Demi Allah, aku tak tahu dan aku terus bertanya-tanya
Apakah tanah datar yang merampasmu, ataukah gunung
Kala surya terbit, aku selalu teringat padanya
Namun kala tenggelam, ingatan itu tiada juga lenyap
Aku akan berbisik kepada untaku untuk terus berjalan
Aku takkan pernah jemu-jemu berkelana atau hingga unta merasa jemu...
Sepanjang hidupku hingga kematianku tiba
Karena semua urusan itu pasti lenyap, meski seperti apa pun angan memperdaya

Hingga suatu ketika sejumlah orang dari Bani Ka'ab pergi menunaikan ibadah haji. Mereka melihat Zaid saat tengah thawaf di Baitul Atiq. Zaid mengenali mereka dan juga sebaliknya.

Setelah menunaikan manasik, mereka pulang kampung dan memberitahukan apa yang mereka lihat dan dengar kepada Haritsah.

Akhirnya Haritsah dan Ka’ab bin Syarahbil pergi dengan membawa sejumlah uang untuk menebus Zaid, si belahan jiwa dan penyejuk mata hatL Keduanya mempercepat perjalanan hingga tiba di Mekah dan bertanya-tanya tentang Nabi . Seseorang berkata, “Beliau ada di Masjid.". Keduanya masuk lalu berujar, ‘Wahai putra Hasyim, wahai anak seorang pemimpin kaum. Kalian adalah penduduk tanah Haram dan tetangga-tetangga Allah. Kalian biasa membebaskan tawanan, memberi makan tawanan. Ini kami datang untuk menebus anak kami yang ada di tanganmu. Untuk itu, kami mohon lepaskan anak kami dan kami akan memberikan tebusan." Nabi bertanya, “Siapa yang kalian maksudkan ?. "Zaid bin Haritsah" jawab mereka berdua.

Nabi berkata, "Bagaimana jika kita menggunakan cara lain?" “Apa itu?" tanya mereka berdua. Beliau berkata, “Panggil dia kemari dan silahkan memilih. Jika dia memilih kalian, silahkan kalian bawa pulang tanpa tebusan. Dan jika dia memilihku, demi Allah, aku tidak akan memilih pengganti orang yang telah memilihku" Mereka berkata, "Kau telah menaikkan separuh harganya dan kau telah berlaku baik"

Nabi kemudian memanggil Zaid lalu bertanya, “Kau kenal mereka?" "Ya, dia ayahku dan yang itu pamanku,” kata Zaid. Nabi berkata. "Aku ini seperti telah kau ketahui sendiri, kau pun tahu seperti apa cintaku padamu. Silahkan kau memilih siapa, aku atau kedua orang itu.' Zaid berkata, “Aku sungguh mencintaimu. Bagiku, kau sudah seperti ayah dan paman sendiri.” Ayah dan paman Zaid berkata, "Apa-apaan kamu ini, Zaid. Kenapa kau lebih memilih menjadi budak daripada orang merdeka. Kenapa kau lebih memilih orang lain daripada ayah, paman dan keluargamu sendiri?” Zaid menyahut, “Ya, karena aku melihat sesuatu dari orang ini -Rasulullah maksudnya- yang membuatku tidak bisa memilih siapa pun yang lain.” Melihat hal itu, Nabi langsung merangkul Zaid dan berkata setelah melepasnya,"Siapa pun yang hadir, saksikanlah bahwa Zaid adalah anakku, ia mewarisiku dan aku pun mewarisinya.” Mengetahui hal itu, ayah dan paman Zaid merasa lega, lalu pulang.

Ia dipanggil Zaid bin Muhammad hingga Islam datang. Rasulullah kemudian menikahkan Zaid dengan Zainab binti lahsy bin Riyab Al-Asadi. Setelah diceraikan Zaid, Zainab dinikahi Rasulullah . Orang-orang munafik mencibir Rasulullah terkait pernikahan itu. Mereka berkata, “Muhammad mengharamkan menikahi menantu, tapi dia sendiri menikahi istri Zaid.” Allah kemudian menurunkan ayat, "Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-Ahzab: 40).

Allah SWT kemudian berfirman,"Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama.’ (Al-Ahzab: 5). Sejak saat itu, Zaid dipanggil Zaid bin Haritsah.

Pemimpin Orang-Orang Terdahulu dan Kemudian

Dalam pertumbuhannya, Nabi menyatukan berbagai keistimewaan terbaik yang ada di tengah-tengah lapisan masyarakat. Beliau adalah sosok yang memiliki kecerdasan, kemurnian pemikiran, sarana dan tujuan yang baik dalam segala hal. Selalu diam untuk merenung dalam waktu yang lama, gemar berpikir dan mencari kebenaran. Dengan akal nan lurus dan fitrah nan jernih, beliau menelaah lembar-lembar kehidupan, berbagai kondisi masyarakat dan kelompok, hingga beliau menjauhi keyakinan-keyakinan dusta. Setelah itu, beliau bergaul dengan orang-orang dalam kondisi tahu betul seperti apa urusan beliau dan masyarakat sekitar. Saat menemukan suatu kebaikan, beliau ikut andil di sana. Jika tidak ada kebaikan, beliau kembali mengucilkan diri.

Beliau tidak pernah minum khamar, memakan hewan yang disembelih untuk berhala, tidak pernah menghadiri perayaan untuk berhala-berhala. Bahkan, sejak kecil beliau menjauhi bentuk-bentuk peribadatan batil ini, hingga tidak ada sesuatu pun yang beliau benci melebihi hal itu. Sampai-sampai, beliau tidak tahan mendengar sumpah atas nama Lata dan Uzza.[15]

Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah la berkata, “Saat Ka’bah dibangun ulang, Nabi dan Abbas memindahkan batu-batu. Abbas kemudian berkata kepada Nabi , ‘Letakkan sarungmu di leher untuk melindungimu dari batu.’ Beliau langsung tersungkur ke tanah dengan kedua mata menatap ke langit. Saat siuman, beliau berkata, ‘Sarungku, sarungku’." Beliau kemudian mengikat sarungnya. Riwayat lain menyebut; aurat beliau tidak pernah lagi terlihat setelah itu.[16]

Di tengah-tengah kaum, Nabi memiliki keistimewaan berupa sifat lembut, akhlak utama, dan budi pekerti mulia. Dialah sosok dengan sifat ksatria terbaik di tengah-tengah kaum, paling baik akhlaknya, paling mulia dalam bergaul, paling besar kesantunannya, paling jujur dalam bertutur kata, paling lembut wataknya, paling menjaga diri, paling mulia kebaikannya, paling baik amal perbuatannya, paling tepat janji, paling bisa dipercaya hingga beliau disebut Al-Amin.

Ini semua karena kondisi-kondisi baik dan sifat-sifat terpuji menyatu dalam diri beliau. Beliau tepat seperti yang dikatakan Ummul Mukminin Khadijah ,"... Menanggung beban, membantu orang miskin, menjamu tamu, dan membantu orang kesusahan.”[17]

Dari Sinilah Awai Mulanya

Setiap tahun, Muhammad meninggalkan Mekah untuk menghabiskan bulan Ramadhan di gua Hira. Gua sejauh beberapa mil dari perkampungan yang gaduh, berada di puncak gunung Hira yang menghadap ke Mekah. Di sana, beliau menjauhi senda gurau dan tutur kata batil banyak orang. Ketenangan menyeluruh dan menghanyutkan mulai terasa di puncak nan tinggi dan jauh ini Muhammad membawa bekal untuk beberapa hari lamanya. Lalu, setelah itu menjauhi seluruh alam dengan mengarahkan hati penuh kerinduan kepada Rabb seluruh alam di tengah gua nan menakutkan itu. Dari puncak gunung Hira, sebuah jiwa besar memandang berbagai fitnah, gejolak, perlakuan semena-mena, dan kehancuran yang diombang-ambingkan dunia. Jiwa Kasar itu lantas menggeliat menyesal dan bingung karena tidak tahu jalan ipluamya, tidak tahu obatnya!

Di dalam gua nan jauh ini, sebuah mata tajam mengulas warisan peninggalan para utusan Allah terdahulu. Mata itu mendapati warisan ini laksana terowongan gelap di mana barang tambang berharga tidak bisa dipisahkan tanpa melalui jerih payah luar biasa, dan mungkin saja tanah bercampur dengan lantakan emas, sehingga manusia tidak mampu memisahnya.

Di gua Hira, Muhammad beribadah, memoles kalbu, membersihkan Ilham mendekati kebenaran, menjauhi kebatilan hingga kejernihan hati beliau mencapai tingkatan tinggi yang membiaskan hal-hal gaib di hadapan wajah beliau dengan jelas. Hingga, setiap kali memimpikan sesuatu pasti terjadi.

Di gua ini, Muhammad berkomunikasi dengan golongan tertmggu

Sebelumnya, padang pasir juga menyaksikan saudara Muhammad pergi meninggalkan Mesir kala melarikan diri dan takut, melalui padang luas demi mencari rasa aman, tenang, petunjuk untuk diri dan kaumnya. Hingga akhirnya sebuah cahaya api bersinar terang di sisi lembah yang diberkahi. Kala mendekati api itu, tiba-tiba panggilan suci memenuhi pendengaran dan menyela ke dalam seluruh perasaannya, "Sungguh. Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku." (Thaha: 14)

Secercah cahaya ini melampaui lorong waktu untuk kembali lagi muncul di sisi-sisi gua yang dihuni seseorang yang tengah beribadah dan membersihkan diri -seraya menjauhkan jasmani dan ruhani- dari segala kotoran dan keburukan jahiliyah itu. Cahaya itu memburat di hadapan wahyu penuh berkah nan bersinar terang di hati yang penuh ilham dan petunjuk, bantuan dan pertolongan. Di tengah situasi mencengangkan dan menyilaukan, tiba-tiba Muhammad mendengar suara malaikat berkata kepadanya, “Bacalah.!" (Al-‘Alaq: 1). Beliau lantas menyahut sambil bertanya-tanya, “Aku tidak bisa membaca." Perintah dan jawaban terjadi berulang-ulang, hingga setelah itu ayat-ayat pertama Al-Qur’an berikut mengalir, “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabhmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (Al-Alaq: 1-5)

Saat-Saat Paling Agung yang Pernah Dilalui Dunia Ini

Sayyid Qutub menuturkan tentang saat-saat monumental kala wahyu turun untuk pertama kalinya kepada Rasulullah itu:

Ketika saya berhenti sejenak untuk mengamati kejadian ini yang sering kita baca dalam buku-buku sejarah dan kitab-kitab tafsir, namun kemudian kita melewatkannya dan berlalu begitu saja, atau barangkali hanya mengamatinya sejenak kemudian kita tinggalkan.!

Ini adalah sebuah kejadian besar, sangat besar sekali hingga tanpa batas. Seperti apa pun saat ini kita berupaya untuk mengetahui seberapa besarnya peristiwa ini, tetap saja masih banyak sisi-sisi lain yang berada di luar imajinasi kita.

Kejadian sangat agung sekali, baik agung secara petunjuk maupun agung dalam efek kehidupan manusia semuanya. Waktu yang singkat ini merupakan waktu paling agung yang pernah dilalui dunia ini dalam sejarah.

Apa gerangan hakikat peristiwa yang terjadi saat itu?

Hakikatnya, Allah Yang Maha Agung, Maha Perkasa, Maha Memaksa, Mahabesar, Pemilik seluruh kerajaan, berkenan di balik Ketinggian-Nya, menoleh ke arah ciptaan bernama manusia yang mendekam di salah satu sudut dunia yang namanya nyaris tidak terlihat; bumi. Allah memuliakan makhluk ini dengan memilih salah satu di antaranya untuk menerima cahaya ilahi, tempat menyimpan hikmah, dan tempat turunnya kalimat-kalimat-Nya.

Sebuah hakikat besar yang tak terbatas. Sisi-sisi keagungannya akan lerungkap kala manusia membayangkan -sebatas kemampuan yang dimiliki- hakikat uluhiyah mutlak, azali, dan kekal abadi. Membayangkan bakikat ubudiyah terbatas dan fana, lalu merasakan pertolongan rabbani yang diberikan melalui insan ini, kemudian merasakan nikmatnya perasaan ini hingga menghadirkan kekhusyukan, rasa syukur, bahagia dan merasa dirinya penuh dosa.

Dan apa gerangan petunjuk dari peristiwa ini?

Petunjuknya adaiah Allah Pemilik karunia nan luas, rahmat menyeluruh, Ia Mahamulia, Maha Mencintai, dan Maha Pemberi, mencurahkan anugerah dan rahmat tanpa sebab ataupun alasan. Disamping alasan bahwa memberi adalah salah satu sifat-Nya yang mulia. Ini petunjuk dari sisi Allah.

Sementara dari sisi manusia, kejadian ini menunjukkan bahwa Allah memuliakannya dalam bentuk yang nyaris tak terbayangkan dan tiada mampu ia syukuri. Kemuliaan ini saja tidak akan mampu disyukuri manusia, meski ia menghabiskan seluruh usia dengan rukuk dan sujud, Inilah yang mengingatkan Allah kepada umat manusia, mengalihkan perhatian kepadanya, berhubungan dengannya. Allah memilih rasul dari jenis manusia yang diberi wahyu berupa kalimat-kalimat-Nya. Bumi menjadi tempat tinggal dan tempat turunnya wahyu.

Adapun dampak dari peristiwa besar ini dalam kehidupan seluruh umat manusia sudah dimulai sejak dahulu. Sejak saat itu, penduduk bumi hidup di bawah perlindungan dan penjagaan Allah secara langsung dan nyata. Mereka mengharap kepada Allah secara langsung dalam seluruh urusan. Mereka pun melakukan segala tindak tanduk di bawah pengawasan Allah.

Tegar Menghadapi Badai

Diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata, "Awal mula wahyu Rasulullah adalah impian yang baik dalam tidur. Setiap kali memimpikan sesuatu, pasti terjadi seperti cahaya Shubuh. Beliau kemudian suka menyendiri. Beliau menyendiri di gua Hira untuk beribadah di sana selama beberapa malam sebelum pulang kembali ke keluarga beliau, dan beliau membawa bekal untuk itu. Setelah itu beliau kembali ke Khadijah dan membawa bekal seperlunya, hingga kebenaran datang kepada beliau kala berada di dalam gua Hira.

Malaikat datang lalu berkata, “Bacalah"

Beliau menjawab. "Aku tidak bisa membaca"

Beliau menuturkan, "Ia kemudian meraihku dan merangkulku hingga mku letih, setelah itu ia melepaskanku. "

Ia berkata, "Bacalah"

Aku menjawab, 'Aku tidak bisa membaca.'

Beliau menuturkan, "Ia kemudian meraihku dan merangkulku hingga mku letih, setelah itu ia melepaskanku."

Ia berkata, ‘Bacalah!'

Aku menjawab, 'Aku tidak bisa membaca,'

Ia kemudian meraihku dan merangkulku untuk kegiga kalinya hingga aku letih, setelah itu ia melepaskanku lalu berkata "Bacalah. dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Rabbmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengpjppkan mammsm apa yang tidak diketahuinya." (Al-'AIaq: 1-5)

Rasulullah kemudian pulang memabawa wahyu ini dengan sekujur tubuh yang menggigil, hingga masuk menemui Khadijah binti Khuwailid lalu berkata, ’Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Khadijah menyelimitu beliau hingga rasa takut hilang. Setelah itu. Beliau berkata kepada Khadijah. "Wahai Khadijah, kenapa aku ini?" Beliau menceritakan apa yang terjadi, setelah itu beliau berkata, ‘Aku mengkhawatirkan diriku.' Khadijah berkata kepada beliau, ‘Sekali-kali tidak! Bergembiralah, karena demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, kau menyambung tali kekeluargaan, jujur bertutur kata, menanggung beban, membantu orang miskin, menjamu tamu, dan membantu orang kesusahan"[18]

Khadijah kemudian membawa Nabi menemui Waraqah bin Naufai -ia adalah saudara sepupu Khadijah- ia memeluk agama Nasrani di masa Jahiliyah. Ia menulis kitab (Injil) dengan bahasa Ibrani, Ia menulis bagian dari kitab Injil dengan bahasa Ibrani seperti yang Allah kehendaki untuk ia tulis. Ia sudah tua renta dan buta. Khadijah lantas berkata kepadanya, ‘Wahai saudara sepupuku, dengarkan kata-kata keponakanmu!’ Waraqah bertanya pada beliau, 'Wahai keponakanku, apa yang kau lihat?’ Rasulullah menceritakan kejadian yang beliau lihat. Waraqah kemudian berkata kepada beliau, ‘Dia itu malaikat yang Allah turunkan kepada Musa. Andai saja aku masih muda kala itu. Andai saja aku masih hidup kala kau diusir kaummu.’ Rasulullah bertanya, ‘Apakah mereka akan mengusirku?’ 'Ya. Tak seorang pun yang membawa sesuatu seperti yang kau bawa, melainkan pasti dimusuhi. Jika aku masih hidup saat itu, aku akan membelamu dengan pembelaan yang kuat,’ jawab Waraqah. Tidak lama setelah itu, Waraqah meninggal dunia dan wahyu berhenti turun (untuk sementara waktu)’."[19]

Empat puluh tahun silam seakan hanya satu hari. Akal yang selama ini mencari jawaban dan penafsiran, mulai dimasuki cahaya-cahaya kebenaran.

Dada yang selama ini serba salah, terbebani oleh kesialan dan kekacuan, mulai merasakan segarnya keyakinan, lapangnya harapan, dan transisi tiada terduga yang begitu jauh jangkauannya; nubuwah.

Begitu indah keutamaan yang datang ini! Begitu besar kedudukan! sekaligus kesedihan yang akan dihadapi Muhammad!

Oleh karenanya, beliau dengan cepat mengkhawatirkan keselamatan diri. Dan, sikap yang ditunjukkan sang istri, Khadijah, kepada beliau adalah sikap amat mulia yang perlu dipuji dari seorang wanita di kalangan terdahulu maupun kemudian. Ia menenangkan beliau kala resah, melegakan beliau kala lelah, menuturkan beliau memiliki banyak kelebihan, menegaskan kepada beliau bahwa orang-orang baik seperti beliau takkan pernah terhina. Karena ketika Allah sudah mencetak seseorang memiliki kemuliaan-kemuliaan agung dan keutamaan-keutamaan luhur, tidak lain akan ia jadikan orang itu mulia dan la akan memperlakukannya dengan baik. Berkat pandangan nan kuat dan hati nan baik ini, Khadijah patut mendapat salam dari Rabb seluruh alam. Allah mengirimkan talam kepadanya melalui Ar-Ruhul Amin (Jibril ).

Meski Ummul Mukminin Sayyidah Khadijah mendengar bahwa kaum Rasulullah akan memerangi dan mengusir beliau, dan ia sendiri tahu betul seperti apa kekuatan kaum Quraisy, namun ia memutuskan untuk tegar menghadapi badai yang mungkin saja mendera, la rela menanggung beban derita dan kesulitan di jalan Allah. la rela menerima tugas yang amat penting dan sulit ini; menghadapi kaum Quraisy. Inilah salah satu contoh terbesar bagi para wanita beriman yang tulus, agar mereka meneladani Ummul Mukminin Khadijah dalam memikul beban berat dan derita demi membela sang suami. Rasulullah . la mendukung beliau untuk menyebarkan dakwah Islam di tengah-tengah kaum. Yang diteruskan ke seluruh belahan bumi. Setelah itu, mendirikan daulah Islam."[20]

Renungan-Renungan Lembut

Di balik kata-kata indah, kata-kata cahaya yang disampaikan Khadijah, kata-kata kebenaran, keteguhan, dan keyakinan yang menyucikan sikapnya, ada sejumlah hal yang bisa kita renungkan. Seakan Khadijah ingin berkata, “Wahai Abu Qasim' Wahai makhluk paling sempurna! Kelemahan untuk memikul beban berat risalah abadi yang dengannya Allah memuliakanmu seperti yang kau khawatirkan terhadap dirimu nan suci dan luhur, tidak akan terjadi.

Abu Qasim! Kau tidak akan lemah untuk menyampaikan perintah ilahi, karena Allah jua yang memilih dan mengkhususkan dirimu untuk itu. la Maha Mengetahui di mana Ia meletakkan tugas kerasulan-Nya.

Kau wahai Abu Qasim, diciptakan Allah di atas fitrah terbaik yang tidak Ia berikan kepada seorang pun di antara seluruh manusia. Untuk itu, Allah takkan pernah menghinakanmu, tidak akan membuat hatimu nan besar dan lurus itu sedih karena kekhawatiran terhadap keselamatan dirimu. Itu karena kau memiliki sifat-sifat sempurna, akhlak-akhlak baik yang disuka, perangai-perangai utama nan menyenangkan, budi pekerti luhur nan paling mulia, kemuliaan paling luhur dan terhormat yang menjamin keberuntungan bagimu.

Semua hal itu akan memberikan keberuntungan, kebaikan, dan kesuksesan padamu. Kau akan meraih keinginanmu, menunaikan risalahmu, dan namamu akan abadi selamanya. Tak lain karena kau memiliki perangai-perangai terpuji, sifat-sifat lurus yang membuatmu tetap abadi sepanjang masa.”

Renungan kata-kata pertama Khadijah , “Kau menyambung tali kekeluargaan.” Kau wahai Abu Qasim. Engkau senang menyambung tali kekeluargaan, mendekatkan yang jauh, melenyapkan kedengkian, menanamkan cinta dan kasih sayang. Keutamaan dan kemuliaan ini memperkokoh tali-tali cinta di antara para kerabat, menyatukan banyak hati di atas ketulusan dan cinta. Menyambung tali kekerabatan adalah salah satu asas akhlak-akhlak mulia yang merupakan watak aslimu.

Kata-kata kedua, “Kau jujur bertutur kata.” Khadijah ingin mengatakan, “Karena kau orang jujur yang dipercaya, kejujuran adalah watak aslimu. Kala kau mengatakan sesuatu, seluruh wujud yang ada di sekitarmu dan juga dunia mengatakan, ‘Kau benar lagi dipercaya, wahai Abu Qasim!' Meski kaummu memiliki banyak celah dan aib, namun mereka tidak mempermasalahkan julukan Al-Amin di antara mereka. Bahkan mereka secara tegas menyebut julukan ini untukmu seraya mengakui sifat mulia ini; jujur dalam bertutur kata. Mereka bersaksi atas diri mereka sendiri seraya mengatakan, “Kami tidak pernah mengetahuimu berdusta.”

Kata-kata ketiga, "Kau menanggung beban.” Kau menanggung beban, layaknya orang lemah yang terbebani oleh berbagai ujian dan cobaan. Jiwa mulia dan hati penuh kasihmu tidak rela melihat orang lemah terbebani oleh kehidupan. Kau memperlakukannya dengan baik yang membuat semangatnya bangkit dan menghidupkan harapan di dalam jiwanya.

Kata-kata keempat nan menawan, “Kau membantu orang miskin.” Kau wahai Abu Qasim. membantu orang miskin dengan sifat murah hati dan suka mementingkan orang lain. Karena, Allah menciptakanmu di atas sifat murah hati. Kau adalah manusia paling murah hati, bahkan kau lebih murah hati dalam berbagai kebaikan melebihi angin yang berhembus.

Imam Al-Qasthalani menuturkan dalam bukunya, Al-Mawahib Al-Laduniyyah bil Minah Al-Muhammadiyyah; sifat murah hati beliau semata untuk Allah dan demi mencari ridha-Nya. Beliau sesekali membagikan harta untuk orang fakir atau miskin, sesekali pula beliau nafkahkan dijalan Allah, dan terkadang beliau gunakan untuk meluluhkan hati orang apabila ia masuk Islam, sehingga Islam akan semakin kuat. Beliau mendahulukan orang lain daripada diri sendiri dan anak-anak beliau. Beliau berbagi sesuatu yang bahkan tidak mampu dilakukan oleh para raja seperti Kisra dan Kaisar. Lebih memilih untuk menjalani kehidupan orang-orang fakir, hingga satu-dua bulan berlalu tanpa ada nyala api di dalam rumah, dan kadang mengganjal perut dengan batu karena lapar.[21]

Kata-kata kelima Khadijah nan sempurna, “Kau menjamu tamu.” Khadijah ingin mengatakan, “Abu Qasim! Allah takkan pernah menghinakanmu selamanya, karena memuliakan tamu adalah sifat utama manusia yang paling agung. Sikap ini sangat berpengaruh untuk menarik hati dan menawan jiwa, khususnya di tengah lingkungan tempat Muhammad berada. Lingkungan yang minim sumber-sumber penghidupan dan segala sarana-prasarana penunjang karena adanya padang pasir, pegunungan, dan tanah kosong."

Kata-kata keenam Ummul Mukminin Khadijah, “Kau membantu orang kesusahan.” Ummul Mukminin Khadijah seakan ingin mengatakan, "Wahai Abu Qasim! Salah satu sifatmu yang paling khas adalah membantu orang kesusahan, karena itulah fitrah, yang di atas fitrah itu Allah menciptakanmu. Itulah watak aslimu. Membantu orang-orang yang tertimpa kesusahan adalah kemuliaan terbaik, karena menyatukan segala sumber kebaikan. Itulah kebajikan dan kebaikan.

Terkait sikap harum Khadijah ini, Bintu Asy-Syathi’ -Aisyah Abdurrahman- menuturkan; adakah wanita selain Khadijah yang mampu menciptakan suasana yang membantu beliau untuk merenung, dan mencurahkan segala sesuatu guna mempersiapkan beliau untuk menerima risalah langit?

Adakah istri selain Khadijah yang menyambut dakwah bersejarah beliau dari gua Hira seperti sambutan yang ia berikan pada beliau, berupa kasih sayang nan bergelora, cinta kasih nan meluap, dan keimanan kokoh tanpa sedikit pun meragukan kejujuran beliau, atau terlepas dari keyakinan bahwa Allah tidak akan pernah menghinakan beliau?

Mampukah seorang ibu selain Khadijah yang kaya, mewah, dan bergelimang kenikmatan, dengan rela hati melepaskan diri dari segala kenyamanan, kelapangan, dan kenikmatan yang sudah terbiasa ia jalani. Semua dikorbankan untuk berdiri di samping beliau di saat-saat menghadapi ujian paling sulit, membantu beliau memikul berbagai bentuk gangguan dan tekanan demi kebenaran yang ia imani?

Sama sekali tidak. Dialah satu-satunya wanita yang dikaruniai Allah untuk mengisi kehidupan seorang lelaki yang telah dijanjikan untuk menerima nubuwah. Dialah manusia pertama yang masuk Islam, dijadikan Allah sebagai tempat bernaung, ketenangan, dan penolong Rasul-Nya.[22]

Jantung Pertama Yang Mendetakkan Islam

Islam mengangkat wanita jauh tinggi melebihi batas hayalannya sendiri, menuturkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menyilaukan sinar pandangan matanya. Jalan Al-Qur’an nan terang menguasai jiwanya, Kefasihan dan keindahan susunan bahasa Al-Qur’an menundukkan hatinya, membuatnya diam mendengarkan rahmat dan kemuliaan Allah. Pahala besar dan kedudukan nan bersinar terang yang Ia persiapkan bagi wanita-wanita sabar dan berbuat baik, sehingga menggerakkan perasaan, meluapkan emosi dan menyinari pandangan mata hatinya. Sehingga, patut jika kecintaan kepada Islam mengena di hati, mengalir di aliran darah, dan meresap ke dalam tulang-tulang rusuknya.

Seperti itulah kaum wanita Arab, karena hati pertama yang mendetakkan Islam dan memburatkan cahaya Islam adalah hati seorang wanita, pemimpin kaum wanita seluruh alam di masanya; Ummul Qasim ; Khadijah binti khuwailid.

Imam Izzuddin bin Al-Atsir mengatakan, Khadijah adalah makhluk Allah yang pertama masuk Islam berdasarkan ijma’ kaum muslimin.[23]

Khadijah bukan wanita biasa, karena kebijaksanaan mulia dan pandangan jauh ke depan telah diciptakan untuknya, di samping kecerdasan hati yang tidak dimiliki banyak kaum lelaki. Ia tidak menerima agama sekadar ikut-ikutan ataupun basa basi. Melainkan, ia terima karena terpengaruh oleh agama itu sendiri dan dahaga untuk meraihnya.[24]

Rumah yang Diberkahi

Khadijah adalah orang pertama yang masuk Islam, demikian juga dengan putri-putrinya. Bahkan, siapa pun yang ada di dalam rumah yang diberkahi ini tergolong di antara mereka yang bersegera masuk Islam, seperti Ali bin Abi Thallb dan Zaid bin Haritsah.

Rumah ini adalah rumah terbaik di seluruh dunia. Dari rumah inilah Khadijah pemimpin kaum wanita seluruh alam muncul. Begitu juga Fatimah putrinya, pemimpin kaum wanita penghuni surga. Sebelum semua itu, wahyu turun kepada Muhammad di dalam rumah ini. Di dalam rumah ini pula pemimpin orang-orang terdahulu dan kemudian tinggal.

Dari rumah ini, Ali bin Abi Thalib -satu di antara sepuluh shahabat yang dijamin surga- muncul. Demikian pula Zaid bin Haritsah, satu-satunya shahabat yang namanya disebut Allah dalam Al-Qur’an. Allah berfirman, “Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. ” (Al-Ahzab: 37).

Al-Muhib Ath-Thabari menyebutkan bahwa rumah Khadijah adalah tempat terbaik di Mekah setelah Masjidil Haram. Mungkin karena lamanya Nabi menetap di rumah tersebut dan wahyu turun kepada beliau saat berada di dalamnya.

Imam Al-Fasi menyebutkan bahwa rumah-rumah yang diberkahi di Mekah adalah rumah Khadijah binti Khuwailid Ummul Mukminin . Karena, di rumah inilah Fatimah, pemimpin kaum wanita seluruh alam, dan saudari-saudarinya dilahirkan. Di rumah ini juga, Nabi menggauli Khadijah. Di rumah ini pula Khadijah wafat Dan Nabi tetap menempati rumah ini hingga berhijrah menuju Madinah. Setelah itu, rumah tersebut diambil alih Uqail bin Abu Thalib kemudian dibeli Mu’awiyah bin Abu Sufyan saat ia menjabat khalifah, lalu dijadikan masjid.[25]

Bersama Sang Kekasih

Khadijah selalu mendampingi Rasulullah hampir seperempat abad lamanya. Selama itu, ia meminum dari sumber mata air jernih secara langsung. Meniru perilaku, akhlak, ilmu, dan kasih sayang beliau. Khadijah begitu bahagia hingga pena ini tak mampu melukiskan emosi bahagia itu. Bahkan, kata-kata bersembunyi di hadapan kebahagiaan ini karena malu.

Ia senantiasa menjalankan shalat bersama Nabi . Shalat kala itu adalah dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat pada petang hari, sebelum shalat lima waktu diwajibkan pada malam Isra'.

Diriwayatkan dari Urwah bin Zubair, dari Aisyah , ia berkata, "Shalat pertama yang diwajibkan adalah dua rakaat, lalu shalat dalam perjalanan ditetapkan, dan shalat saat bermukim disempurnakan."[26]

Ini karena Khadijah meninggal dunia sebelum kewajiban-kewajiban diberlakukan. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah ditanya tentang Khadijah, “Ia meninggal dunia sebelum kewajiban-kewajiban dan hukum-hukum diturunkan.” Beliau menjawab, “Aku melihatnya berada di salah satu sungai surga, di sebuah rumah dari mutiara cekung, tiada senda gurau ataupun keletihan di dalamnya.

Nabi ditanya tentang Abu Thalib, “Apakah engkau memberi manfaat untuknya?” “Aku mengeluarkannya dari (dasar) neraka Jahanam ke bagian yang dangkal darinya," jawab beliau.[27]

Diriwayatkan dari Afif Al-Kindi, ia berkata, “Abbas bin Abdul Mutthalib Badalah kawanku. Ia sering datang ke Yaman untuk membeli minyak wangi lalu ia jual pada musim-musim haji. Saat aku bersama Abbas di Mina, seorang lelaki muda datang menghampirinya, ia lalu berwudhu dengan sempurna lalu shalat. Setelah itu seorang wanita keluar lalu berwudhu, kemudian shalat. Berikutnya seorang remaja muncul, ia berwudhu lalu shalat di samping lelaki muda itu. Aku kemudian berkata, ‘Aduh Abbas ! Agama apa ini?’

Abbas menjawab, ‘Ini agama Muhammad bin Abdullah, keponakanku. Ia mengaku diutus Allah sebagai seorang rasul. Si pemuda itu adalah keponakanku, Ali bin Abi Thalib, ia mengikuti agama lelaki muda itu. Dan wanita itu adalah Khadijah. Ia telah mengikuti agamanya.' Afif kemudian berkata setelah masuk Islam dan Islam tertanam kuat di dalam dirinya, 'Andai saja aku menjadi orang keempat (yang lebih dulu masuk Islam).”[28]

Emosi dan Amarah Mekah pun Meledak

Nabi mulai menyampaikan dakwah kepada kaumnya untuk masuk Islam dan bertauhid.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah , ia berkata, “Ketika ayat ini turun, ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." (Asy-Syu’ara': 214) Rasulullah memanggil kaum Quraisy. Setelah mereka berkumpul, Nabi menyeru mereka secara umum maupun secara khusus. Beliau berkata, ‘Wahai Bani Ka’ab bin Lu'ay, selamatkan diri kalian dari neraka. Wahai Bani Murrah bin Ka’ab, selamatkan diri kalian dari neraka. Wahai Bani Abdi Syams, selamatkan diri kalian dari neraka. Wahai Bani Abdi Manaf, selamatkan diri kalian dari neraka. Wahai Bani Hasyim, selamatkan diri kalian dari neraka. Wahai Bani Abdul Mutthalib, selamatkan diri kalian dari neraka. Wahai Fatimah binti Muhammad, selamatkan dirimu dari neraka, sungguh aku sama sekali tidak kuasa sedikit pun untuk menyelamatkan kalian dari (siksa) Allah. Namun demikian, kalian adalah kerabat-kerabatku. Aku akan menyambungnya sebatas haknya'.[29]

Saat itulah kaum musyrikin memutuskan untuk tidak pernah lelah memerangi Islam, menyakiti dan mengusik siapa pun yang masuk Islam dengan berbagai macam siksaan. Sejak Rasulullah menyampaikan dakwah menuju Allah secara terang-terangan, dan menyatakan tradisi keagamaan yang mereka warisi dari nenek moyang sesat, Mekah memancarkan emosi-emosi marah. Sepuluh tahun tanpa henti mereka memperlakukan kaum muslimin secara semena-mena, mengguncang bumi yang mereka pijak, menghalalkan darah, harta benda, dan kehormatan mereka di tanah suci. Menjadikan mereka sebagai sasaran perlakuan zalim.

Dendam kesumat membara yang disertai perang pelecehan dan penghinaan ini dimaksudkan untuk merendahkan kaum muslimin dan melemahkan kekuatan spiritual mereka.[30]

Sabar dan Mengharap Pahala

Khadijah mengetahui gangguan dan penghinaan yang dihadapi sang kekasih . Ia membantu, meneguhkan hati, dan meringankan beban berat perilaku kaum Quraisy yang beliau rasakan. Atas sikapnya Khadijah menjadi teladan besar dan tiada duanya. Bahkan Bebagai teladan bagi setiap muslimah yang bersuami seorang da'i, untuk meredakan ujian-ujian yang dihadapi, ujian-ujian yang membuat orang tambah kebingungan.

Di antara rangkaian ujian yang dialami Khadijah adalah gangguan yang ditimpakan kaum musyrikin kepada Rasulullah .

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud , bahwa suatu ketika Nabi tengah shalat di dekat Ka'bah. Saat itu Abu Jahal dan rekan-rekannya tengah duduk. Ada yang berkata kepada temannya, "Siapa di antara kalian yang mau mengambil kotoran hewan sembelihan milik Bani Fulan untuk diletakkan di punggung Muhammad saat sujud?’ Akhirnya orang yang paling celaka di antara mereka bangkit, yaitu Uqbah bin Abu Mu’ith.

Tidak lama kemudian ia pun datang membawa kotoran hewan dan menunggu. Ketika beliau sedang sujud, ia letakkan kotoran itu di pundak beliau. Aku hanya bisa melihat saja dan tidak bisa berbuat apa-apa. Andai saja aku bisa mencegahnya. Mereka tertawa terbahak-bahak hingga tubuh mereka jatuh mengenai teman yang ada di sampingnya. Saat itu, Rasulullah tengah sujud, beliau tidak bangun-bangun hingga Fatimah datang menghampiri beliau lalu membuang kotoran yang ada di punggung beliau. Setelah itu beliau baru bangun dari sujud. Beliau kemudian bersabda, “Ya Allah, timpakan hukuman-Mu pada orang-orang Quraisy ini." Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali hingga membuat hati mereka tersentak karena beliau mendoakan celaka bagi mereka.

Abdullah bin Mas’ud meneruskan, "Mereka sendiri tahu, doa di tempat beliau itu mustajab. Beliau menyebut nama mereka satu persatu, Ya Allah, timpakan hukuman-Mu pada Abu Jahal, timpakan hukuman-Mu pada Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi’ah, Walid bin Utbah, Umayyah bin Khalaf, Uqbah bin Abu Mu’ith.’ Beliau menyebut nama ketujuh namun kami lupa. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku melihat sendiri orang-orang yang disebut Rasulullah ini mati dan dibuang di sumur Badar (seusai Perang Badar)."[31]

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah , ia berkata, “Abu Jahal bertanya, ‘Apakah Muhammad berani menundukkan wajahnya (sujud) di hadapan kalian?’ Ada yang menjawab, ‘Ya, benar.’ Abu Jahal berkata, 'Demi Lata dan Uzza, andai aku melihatnya, tentu aku injak tengkuknya dan ku lumuri mukanya dengan debu.’ Kemudian ia menemui Rasulullah yang tengah shalat. Dia bermaksud untuk menginja ktengkuk beliau, namun tiba-tiba Abu Jahal mundur ke belakang dan melindungi kepala dengan kedua tangannya. Orang-orang bertanya, ‘Kamu kenapa, Abul Hakam?’ Abu Jahal menjawab, ‘Di hadapanku seperti ada parit api, kegaduhan dan banyak sekali sayap.’ Rasulullah kemudian berkata, ‘Andai ia mendekatiku, pasti tubuhnya akan disambar malaikat satu persatu'."[32]

Diriwayatkan dari Urwah bin Zubair, ia berkata, ‘‘Aku berkata kepada Ibnu Amr bin Ash, 'Beritahukan padaku gangguan paling keras yang dilakukan Quraisy terhadap Nabi .’ Ia menjawab, ‘Saat Nabi tengah shalat di Ka’bah, tiba-tiba muncul Uqbah bin Abu Mu’ith. Ia melingkarkan pakaian di leher beliau, kemudian menjerat beliau dengan ditarik keras. Abu Bakar datang dan langsung mencengkeram pundaknya lalu menyingkirkannya dari beliau seraya berkata, ‘Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, 'Rubbku adalah Allah'.’’ (Ghafir: 28)[33]

Para shahabat Nabi juga tidak luput mengalami gangguan dan ujian-ujian berat dari kaum musyrikin.

Khabbab bin Art menuturkan, “Aku menemui Nabi yang tengah berselimut baju panjang di samping Ka’bah. Saat itu, kami tengah mendapat siksaan dari orang-orang musyrik. Aku bertanya, ‘Mengapa engkau tidak berdoa kepada Allah?’ Beliau kemudian duduk dengan rona muka marah lalu bersabda, 'Orang-orang sebelum kalian pernah ada yang disisir dengan sisir dari besi, ditusuk hingga ke tulang, daging dan urat-uratnya rusak, namun itu tidak membuatnya bergeming meninggalkan agamanya. Sungguh, Allah akan menyempurnakan urusan (agama) ini hingga seorang pengendara berjalan dari Shan'a sampai Hadhramaut tidak takut pada siapa pun selain Allah’."[34]

Ibnu Qayyim menjelaskan, maksudnya hikmah Allah mengharuskan untuk menguji jiwa-jiwa manusia, sehingga melalui ujian akan terlihat mana yang baik dan mana yang buruk, siapa yang pantas untuk ditolong dan diberi kemuliaan dan siapa yang tidak pantas, juga untuk memilah jiwa yang pantas mendapat kemuliaan itu. Dan membersihkan jiwa melalui ujian, mengingat pada dasarnya jiwa itu bodoh dan zalim. Karatan yang melekat pada jiwa karena kebodohan dan kezaliman perlu dipisahkan. Apabila karatan bisa dikeluarkan di dunia, itulah yang terbaik, jika tidak bisa, harus dikeluarkan dalam neraka Jahanam. Setelah seorang hamba dibersihkan dan disucikan, ia diizinkan masuk surga.[35]

Dr. Musthafa As-Siba’i menuturkan, "Orang-orang mukmin teguh dalam memegang akidah setelah tertimpa berbagai macam siksa dan tekanan yang dilancarkan orang-orang jahat dan sesat. Ini menunjukkan keimanan mereka benar, keyakinan mereka tulus, jiwa dan ruhani mereka luhur. Oi mana mereka merasakan kenikmatan nurani, ketenangan jiwa dan akal. Ridha Allah yang mereka damba jauh lebih besar dari siksaan, kemiskinan, dan tekanan yang dirasakan jasad."[36]

Awan Kesedihan dan Hijrah ke Habasyah

Kala gangguan kaum musyrikin terhadap para ahli tauhid kian hari kian menjadi-jadi, Nabi mengizinkan para shahabat untuk berhijrah ke Habasyah.

Penindasan yang ditujukan kepada kaum muslimin pada pertengahan dan akhir tahun keempat kenabian mulai melemah. Namun setelah itu, kian menguat seiring perjalanan waktu. Hari demi hari, bulan demi bulan hingga mencapai titik kulminasinya pada pertengahan tahun kelima kenabian. Akhirnya kaum muslimin tidak lagi nyaman tinggal di Mekah. Mereka mulai memikirkan cara tepat untuk menyelamatkah diri dari siksaan ini. Di tengah situasi sulit ini, surah Al-Kahfi turun sebagai jawaban atas sejumlah pertanyaan yang diajukan kaum musyrikin kepada Nabi , di samping mengandung tiga kisah berisi sejumlah isyarat nyata dari Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman;

Kisah ashabul kahfi menuntun untuk berhijrah meninggalkan titik-titik konsentrasi kekafiran dan perlakuan semena-mena kala mengkhawatirkan agama terkena fitnah seraya bertawakal kepada Allah:

"Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu." (Al-Kahfi: 16)

Kisah Nabi Khadhir dan Nabi Musa menunjukkan bahwa segala situasi tidak selalu terjadi sesuai nyatanya, mungkin saja yang terjadi justru sebaliknya. Di dalam kisah ini terdapat isyarat lembut bahwa peperangan yang dilancarkan terhadap kaum muslimin akan benar-benar menjadi bumerang, dan para penguasa musyrik yang semena-mena -jika mereka tidak beriman- akan berbalik ditekan orang-orang muslim lemah. -

Kisah DzulQarnain menunjukkan bahwa bumi milik Allah. Ia akan mewariskan bumi kepada siapa di antara hamba-hamba-Nya yang la kehendaki. Keberuntungan hanya ada di jalan keimanan, bukan kekafiran. Allah senantiasa membangkitkan di antara hamba-hamba Nya orang yang menyelamatkan kaum lemah dari Ya'juj dan Ma'juj di setiap masanya. Dan yang paling pantas mewarisi bumi hanyalah hamba-hamba Allah yang saleh.

Selanjutnya surah Az-Zumar turun, berisi isyarat untuk berhijrah dan memberitahukan bahwa bumi Allah tidak selebar daun kelor. Allah berfirman, “Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (Az-Zumar: 10).

Rasulullah mengetahui, Ashumah, Raja Habasyah adalah seorang raja yang terkenal adil, tidak ada seorang pun diperlakukan secara zalim di sana. Akhirnya beliau memerintahkan kaum muslimin agar berhijrah ke Habasyah demi menyelamatkan agama dari beragam fitnah.[37]

Pada bulan Rajab tahun kelima kenabian, golongan pertama mulai berhijrah ke Habasyah, terdiri dari duabelas lelaki dan empat perempuan di bawah komando Utsman bin Affan bersama istrinya, Ruqayyah putri Rasulullah . Nabi bersabda terkait keduanya, “Sungguh, keduanya adalah keluarga pertama yang berhijrah di jalan Allah setelah Ibrahim dan Luth."[38]

Ibunda kita, Khadijah , bersama Rasulullah melepas kepergian sang putri, Ruqayyah bersama suaminya, Utsman dengan derai air mata membasahi pipi. Meski semua itu, Khadijah tetap sabar dan mengharap pahala. Karena dari lubuk hati paling dalam, ia akan Mengorbankan segalanya demi membela agama ini, berapa pun harga yang harus dibayar. Karena, segala sesuatu menjadi berarti selama untuk mencari ridha Allah Ta'ala.

Lembar Perjanjian Zalim dan Pemboikotan Total

Imam Muhammad bin Yusuf Ash-Shalihi Asy-Syami menuturkan; Al-Aswad, Az-Zuhri, Musa bin Uqbah dan Ibnu Ishaq berkata:

Kala kaum Quraisy mengetahui para saahabat Rasulullah mendapatkan negeri yang aman dan tenteram, Raja Najasyi melindungi siapa pun yang mencari suaka ke sana, Umar yang merupakan sosok pemberani itu masuk Islam. Para shahabat Rasulullah mendapat perlindungan karenanya, termasuk juga Hamzah, hingga mempersulit kaum Quraisy. Kedudukan Islam semakin menguat dengan adanya Umar, Hamzah, Rasulullah dan para shahabat lain, di samping Islam juga semakin meluas ke berbagai kabilah. Mengetahui semua itu, kaum Quraisy sepakat untuk membunuh Rasulullah .

Mereka berkata, "Ia telah merusak hubungan anak-anak dan istri-istri kita.” Mereka kemudian berkata kepada kaum Rasulullah , “Silahkan kalian mengambil diyat berlipat kali dari kami, dan setelah itu biarkan seseorang di luar Quraisy membunuhnya agar kalian lega.” Kaum Rasulullah , Bani Hasyim, tidak menerima hal itu. Bani Hasyim tidak sendiri, mereka didukung Bani Abdul Muttalib bin Abdi Manaf.

Mengetahui bahwa Rasulullah dilindungi kaumnya, kaum musyrik Quraisy sepakat untuk mengusir mereka dari Mekah ke perkampungan-perkampungan. Mereka sepakat untuk menulis sebuah perjanjian untuk tidak berbesan, tidak berjual beli apa pun, tidak menerima perjanjian damai ataupun berbelas kasih kepada Bani Hasyim dan Bani Abdul Muttalib, hingga mereka menyerahkan Rasulullah untuk dibunuh.

Setelah mencapai kesepakatan, mereka mencatat isi perjanjian ini dalam sebuah lembaran, lalu mereka tempelkan di dinding Ka'bah bagian dalam untuk menegaskan perjanjian ini, mereka memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muttalib untuk beraktivitas di pasar-pasar. Setiap kali bahan makanan, lauk pauk ataupun barang dagangan lain datang, mereka langsung menghampiri dan memborong barang-barang tersebut sehingga Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib tidak kebagian apapun.

Saat kaum Quraisy melakukan tindakan seperti ini, Bani Hasyim dan Bani Abdul Muttalib bergabung bersama Abu Thalib. Mereka kemudian memasuki perkampungan-perkampungan, baik orang mukmin maupun kafir. Yang mukmin demi agama, sementara yang kafir karena fanatisme golongan. Di antara kubu Bani Hasyim, Abu Lahab bergabung bersama kaum Quraisy dan mendukung mereka.

Pemboikotan yang dilakukan kian ketat. Seluruh cadangan dan bahan makanan mereka habis. Sementara itu orang-orang musyrik tidak membiarkan bahan makanan yang masuk ke Mekah atau barang yang hendak dijual, melainkan langsung mereka borong habis. Ini membuat kondisi Bani Hasyim dan Bani Muttalib sangat mengenaskan dan kelaparan. Mereka hanya bisa memakan dedaunan dan kulit hewan.

Tidak jarang terdengar suara para wanita dan anak-anak merintih kelaparan dari perkampungan Abu Thalib. Kalaupun ada bahan makanan yang bisa masuk, itu pasti dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Mereka tidak bisa keluar dari perkampungan untuk membeli segala keperluan, selain pada bulan-bulan suci. Mereka bisa membeli bahan kebutuhan dari kafilah yang datang dari luar Mekah. Namun, jika sudah jatuh ke tangan penduduk Mekah, harganya melambung tinggi, sehingga mereka tidak sanggup membeli.

Hakim bin Hizam suatu ketika membawa gandum untuk diberikan kepada bibinya, Khadijah, namun Abu Jahal memergoki dan mencegahnya. Abu Bakhtari kemudian datang dan melerai keduanya, hingga Hakim bisa membawa gandum itu untuk diberikan kepada bibinya.

Abu Thalib terus mengkhawatirkan kondisi Rasulullah . Kala semua orang sudah beranjak tidur, ia menyuruh beliau untuk tidur di tempat tidumya. Sehingga, ia bisa tahu jika ada orang yang hendak menikam beliau secara sembunyi-sembunyi, jika semua orang sudah tidur, dia menyuruh salah seorang anak, saudara atau kerabatnya untuk tidur bersama beliau. Juga memerintahkan sebagian di antara mereka agar membawa tikar untuk tidur bersama.

Rasulullah sendiri bersama sejumlah kaum muslimin tetap keluar pada musim haji untuk menyeru para jamaah haji yang datang untuk masuk Islam.

Ibnu Katsir menuturkan; lalu muncullah beberapa orang Quraisy yang berusaha untuk merobek surat perjanjian tersebut Yang mendapatkan tugas untuk melakukannya adalah Hisyam bin Amru bin Rabi'ah[39] bin Al-Harits bin Hubaib bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir bin Lu'aiy. la pergi menemui Muth'im bin Adiy dan beberapa orang Quraisy lainnya. Mereka pun menyambut baik usul tersebut. Di sisi lain, Rasulullah mengabarkan kaumnya bahwa Allah telah mengirimkan rayap-rayap untuk merobek kertas perjanjian tersebut. Rayap-rayap itu memakan seluruh bagian kertas perjanjian, kecuali yang bertuliskan lafal Allah. Dan demikianlah yang terjadi. Akhirnya, pulanglah Bani Hasyjm dan Bani Muttalib menuju Mekah. Kemudian terjadilah perdamaian meski hanya dari Abu Jahal, sedangkan Amru bin Hisyam tidak menyukai hal itu.[40]

Ath-Thahirah Khadijah tetap berada di belakang Rasulullah dan membantu beliau. Ia ikut serta menanggung gangguan kaum beliau dengan jiwa rela, sabar, dan mengharap pahala. Hingga, Allah menentukan takdir-Nya terkait pemboikotan zalim dan getir yang menjadi pedang tajam di leher orang-orang yang beriman kepada risalah Muhammad yang tengah terkepung. Hingga suatu ketika, berakhir sudah pengepungan.

Ath-Thahirah Khadijah Ummul Mukminin keluar dari pengepungan sebagai pemenang akibat buah kesabarannya untuk kembali meneruskan kehidupan bersama Rasulullah , sebagai istri terpercaya di bawah naungan kesetiaan, kejujuran iman, dan kesabaran yang baik. Berkat kesabaran menghadapi kesulitan besar ini, Allah menjadikan kaum muslimin menempati kedudukan tinggi di akhirat dan menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin di dunia. Itulah balasan orang-orang yang sabar dan bersyukur.

Semoga Allah memberikan balasan untuk mereka di surga nan kekal abadi sebagai balasan terbaik dari-Nya.[41]

Allah Menitipkan Salam kepada Khadijah

Diriwayatkan dari Anas , ia berkata, "Jibril datang kepada Rasulullah , saat itu Khadijah berada di dekat beliau. Jibril lalu berkata, Sungguh, Allah mengucapkan salam kepada Khadijah.’ Khadijah kemudian berkata, ‘Allah-lah Yang Maha Pemberi keselamatan. Semoga kesejahteraan juga terlimpah kepada Jibril, semoga kesejahteraan, rahmat, dan berkah Allah juga terlimpah kepadamu'."[42]

Betapa seorang ibu yang memiliki pemahaman mendalam, cerdas, mempelajari seluruh adab dan hidup bersama Nabi . Allah menyatukan untuk beliau seluruh keutamaan dan kemuliaan akhlak. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Al-Qalam: 4)

Balasan Sesuai dengan Perbuatan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: أَتَى جِبْرِيْلُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، هَذِهِ خَدِيْجَةُ قَدْ أَتَتْ مَعَهَا إِنَاءٌ فَيْهِ إِدَامٌ، أَوْ طَعَامٌ، أَوْ شَرَابٌ، فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا، وَمِنِّي، وَبَشِّرْهَا بِبِيْتٍ فِي اْلجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ، لَا صَخَبَ فِيْهِ وَلَا نَصَبَ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah , ia berkata, "Jibril datang kepada Rasulullah lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, Khadijah akan datang membawa wadah berisi makanan, atau lauk, atau minuman. Jika dia sudah tiba nanti, sampaikan salam Rabbnya kepadanya, juga dariku. Dan sampaikan kabar gembira kepadanya sebuah rumah di surga dari mutiara cekung, tiada kegaduhan dan keletihan di dalamnya’."[43]

Mari kita mencari tahu, kenapa harus kabar gembira berupa rumah dari mutiara cekung, dan kenapa harus mutiara cekung?

Ibnu Hajar menjelaskan, qashab oleh Ibnu At-Tin dijelaskan demikian; maksudnya mutiara cekung dan lebar seperti istana tinggi Saya sampaikan; riwayat Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath dari jalur lain dari Ibnu Abi Aufa menyebutkan; yaitu mutiara cekung. Riwayat Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir dari hadits Abu Hurairah menyebutkan; "Sebuah rumah dari mutiara cekung."

Hadits ini berasal dari Shahih Muslim. Sementara riwayat Ath-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-Awsath dari hadits Farimah menyebutkan; Fatimah berkata, "Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, di mana ibuku, Khadijah, berada?’ ‘Di sebuah rumah dari mutiara cekung". jawab beliau. 'Apakah dari cekungan ini?’ tanyaku. "Tidak, tapi dari cekungan yang dirangkai dengan permata, mutiara, dan yaqut'."

As-Suhaili menuturkan, rahasia di balik sabda (مِنْ قَصَبٍ), dan kenapa beliau tidak mengatakan (من لؤلؤ), karena kata قَصَبٍ lebih tepat, mengingat Khadijah meraih senioritas dengan lebih dulu beriman sebelum yang lain. Untuk itulah keselarasan ini disebut di seluruh lafal hadits.[44]

Yang lain menyebutkan keterkaitan lain dari sisi ruas-ruas di dalamnya yang lurus. Demikian halnya Khadijah , ia memiliki sikap lurus yang tidak dimiliki wanita lain. Karena, ia berupaya sekuat tenaga untuk membuat beliau senang. Tidak pernah melakukan apa pun yang membuat beliau marah. Tidak seperti yang dilakukan istri-istri beliau lainnya.

Sabda beliau, “Sebuah rumah," Abu Bakar Al-Iskaf menuturkan dalam Fawa'idul Akhbar, maksudnya rumah tambahan untuk pahala amalnya yang telah Allah persiapkan untuknya. Karena itu beliau bersabda. ‘Tidak ada keletihan," maksudnya Khadijah tidak letih karenanya.

As-Suhaili menjelaskan, rumah yang disebut memiliki sebuah makna lembut; karena Khadijah adalah ibu rumah tangga sebelum kenabian, la menjadi ibu rumah tangga dalam Islam, hanya ia sendiri yang mengurus rumah ini. Pada hari pertama Rasulullah diutus, tidak ada satu pun pumah tangga dalam Islam di muka bumi ini selain rumah Khadijah. Ini juga sebuah keutamaan yang tidak dimiliki wanita lain selain Khadijah. Balasan atas amal perbuatan umumnya disesuaikan dengan lafalnya, meski yang lain lebih mulia. Untuk itu, yang tertera dalam hadits adalah lafal "rumah," bukan istana.

Al-Manawi menjelaskan, بيت adalah kata yang berarti istana. (Menyebut sesuatu yang menyeluruh dengan kata sebagian sudah lumrah dalam bahasa Arab. Balasan disesuaikan dengan amalan, terlihat dalam sabda Rasulullah , "Tidak ada kegaduhan ataupun keletihan di dalamnya,” karena الصخب adalah teriakan dan pertikaian dengan bersuara keras, sementara النصب adalah keletihan,

As-Suhaili menuturkan, kesesuaian kedua sifat ini -perselisihan dan keletihan- adalah karena saat Rasulullah menyeru menuju Islam, Khadijah menerima seruan beliau secara suka rela, tanpa bersuara keras, bertikai ataupun bersusah payah. Bahkan, ia menghilangkan segala keletihan dari beliau. Ia mendampingi beliau dari segala kesepian dan meringankan segala kesulitan beliau. Sehingga, tepat jika rumah yang dijanjikan untuknya memiliki sifat yang selaras dengan amal perbuatannya.[45]

'Amul Huzn (Tahun Penuh Kesedihan)

Kaum muslimin meninggalkan perkampungan-perkampungan untuk kembali beraktivitas seperti sedia kala, setelah Islam bertahan di Mekah selama sepuluh tahun yang penuh dengan kejadian-kejadian besar. Kala kaum muslimin sedikit bernafas lega dari kesulitan yang mereka hadapi, tiba-tiba Rasulullah dirundung musibah kematian sang istri, Khadijah. Lalu disusul paman beliau, Abu Thalib.

Khadijah adalah karunia besar yang Allah limpahkan kepada Muhammad . Karena, ia membantu beliau di saat-saat paling sulit. Ia membantu beliau untuk menyampaikan risalah, ikut serta merasakan beban keletihan dan kegetiran. Ia juga membantu beliau dengan jiwa dan harta benda. Anda akan merasakan seberapa besar nikmat ini kala Anda membandingkannya dengan sebagian di antara istri-istri para nabi ada yang mengkhianati risalah dan mengingkari para pengemban risalah. Bahkan ada yang membantu orang-orang musyrik, kaum, dan keluarga mereka dalam memerangi Allah dan Rasul-Nya.

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), 'Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)’.” (At-Tahrim: 10)

Berbeda dengan Khadijah, ia adalah wanita yang jujur iman, menyayangi suami kala resah. Ia adalah angin sepoi kesejahteraan dan kebajikan, dahinya selalu basah karena pengaruh-pengaruh wahyu. Ia tinggal bersama beliau selama seperempat abad lamanya. Sebelum beliau menerima risalah, ia menghormati perenungan, pengucilan diri, dan segala sifat-sifat mulia beliau. Setelah beliau menerima risalah, ia menanggung tipu daya para musuh, derita pengepungan, dan segala beban berat dakwah. Ia meninggal dunia kala Rasulullah berusia lima puluh tahun, sementara ia berusia enam puluh lima tahun. Beliau selalu mengingatnya sepanjang hidup.

Seperti Inilah Seharusnya Kesetiaan Itu

Nabi dirundung kesedihan mendalam karena kematian Khadijah . Karena, ia adalah istri terbaik yang sabar dan tulus, senantiasa membantu beliau sepanjang hidup, rela mengorbankan apa pun demi membela agama. Semua hal itu yang membuat Nabi tidak mampu melupakannya. Nabi memiliki kesetiaan padanya yang tidak mampu dilukiskan dengan kata-kata.

Rasulullah memuji Khadijah .Beliau bersabda, "Banyak di antara para lelaki yang mencapai kesempurnaan (ada yang menjadi rasul, nabi, khalifah, wali), dan tidak ada wanita yang mencapai kesempurnaan selain Asiyah istri Fir’aun, Maryam binti Imran, (dan Khadijah binti Khuwailid).[46] Dan kelebihan Aisyah di atas seluruh wanita laksana kelebihan roti kuah di atas seluruh makanan."[47]

Seorang ulama mulia memberikan ulasan lembut untuk hadits ini. Ia menuturkan; di antara keselarasan lembut yang menyatukan tiga wanita dalam satu rangkaian kata ini adalah; masing-masing dari mereka merawat seorang nabi yang diutus, memperlakukannya dengan baik dan beriman kepadanya. Asiyah merawat Musa memperlakukannya dengan baik dan mempercayainya kala diutus. Maryam menanggung dan merawat Isa mempercayainya kala diutus. Khadijah mencintai Nabi dan membantu beliau dengan jiwa dan hartanya, memperlakukan beliau dengan baik, dan ia adalah orang pertama yang membenarkan beliau ketika wahyu turun kepadanya.

Nabi belum pernah menikahi seorang wanita pun sebelum Khadijah, bahkan tidak memadu Khadijah hingga Khadijah meninggal dunia.

Diriwayatkan dari Aisyah , ia berkata, "Nabi tidak memadu Khadijah hingga ia meninggal dunia.”[48]

Bersama Khadijah, Nabi melalui hari-hari terindah sepanjang usia dalam kasih sayang, cinta, ketaatan kepada Allah, dan dakwah menuju agama Allah. Perjalanan waktu sepeninggal Khadijah, semakin meningkatkan cinta dan kesetiaan beliau padanya. Beliau selalu memujinya, mencintai siapa yang ia cintai. Bahkan, beliau suka melihat atau mendengar orang yang mengingatkan beliau kepadanya, pada hari-harinya nan mewangi dan penuh berkah.

Diriwayatkan dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, ia berkata, “Aku mendengar Abdullah bin Ja'far, dari Ali bin Abi Thalib , dari Nabi , beliau bersabda, 'Wanita terbaik dunia adalah Maryam binti Imran. wanita terbaik dunia adalah Khadijah'."[49]

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas , ia menuturkan, “Rasulullah membuat empat garis lalu bertanya, 'Tahukah kalian apa ini?’ 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu,' jawab para shahabat. Beliau kemudian bersabda. Wanita-wanita penghuni surga yang terbaik adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad. Asiyah binti Muzahim, istri Fir'aun, dan Maryam binti Imran'.’[50]

Diriwayatkan dari Anas . Nabi bersabda. Cukuplah bagimu di antara para wanita seluruh alam; Maryam putri Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Asiyah istri Fir’aun. [51]

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas , ia berkata, “Rasulullah bersabda, 'Para pemimpin wanita penghuni surga setelah Maryam binti Imran adalah Fatimah, Khadijah, dan Asiyah istri Fir'aun ."[52]

SaJah satu bukti menawan kesetiaan Nabi pada Khadijah adalah peristiwa yang terjadi dalam perang Badar Kubra. Ini terjadi kala Abu Ash bin Rabi', suami putri beliau (Zainab) ditawan. Zainab kemudian mengirim tebusan untuk sang suami, Abu Ash. Di antara tebusan yang diberikan adalah kalung pemberian Khadijah pada putrinya, Zainab, pada malam pernikahan. Saat melihatnya, Rasulullah sangat tersentuh dan teringat istri beliau yang diberkahi dan setia; Khadijah. Beliau berkata kepada para shahabat, "Jika menurut kalian perlu untuk membebaskan tawanannya dan mengembalikan kalungnya, maka lakukanlah."

Para shahabat mulia langsung menuruti kata-kata Nabi yang tergerak oleh perasaan-perasaan memori terhadap istri setia dan suci; Khadijah UmmulMukminin. Sungguh mulia dan bagus sekali sang wanita suci dan suka memberi ini; ibunda kita Khadijah, yang setiap muslim dan muslimah memiliki hutang besar padanya.[53]

Keutamaan Besar Khadijah

Imam Ibnu Katsir menyebut sejumlah keutamaan Khadijah sebagai berikut;

Wanita pertama yang dinikahi Rasulullah adalah Khadijah, dan orang pertama yang beriman kepada beliau menurut pendapat yang shahih adalah Khadijah.[54]

Di antara sejumlah senioritas Khadijah adalah:

  1. Orang pertama yang shalat bersama Rasulullah .
  2. Orang pertama yang memberi anak-anak untuk Rasulullah
  3. Orang pertama di antara istri-istri Rasulullah yang diberi kabar gembira surga.
  4. Orang pertama yang mendapat salam dari Rabb.
  5. Wanita shiddiq pertama di antara para mukmin wanita.
  6. Istri Nabi yang lebih dulu meninggal dunia
  7. Kuburan yang pertama kali disinggahi Nabi adalah kuburannya di Mekah

Imam Az-Zuhri menuturkan, "Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada Allah. Rasul menerima risalah Rabb lalu pulang ke rumah, setiap kali melewati pohon ataupun batu, semuanya mengucapkan salam kepada beliau. Saat masuk menemui Khadijah, beliau berkata ‘Tahukah kamu sosok yang aku ceritakan kepadamu yang aku lihat dalam mimpi, dia itu Jibril, la memberitahukan kepadaku bahwa dia diutus Rabbku kepadaku.' Beliau memberitahukan wahyu padanya. Khadijah berkata, ‘Bergembiralah, demi Allah, Allah akan selalu memperlakukan padamu dengan baik. Maka dari itu terimalah apa yang datang kepadamu dari Allah, karena itu adalah kebenaran'. "[55]

Aisyah pun Cemburu terhadap Khadijah

Setelah Khadijah wafat, Rasulullah menikah dengan Saudah binti Zam’ah. Setelah itu, menikah dengan Aisyah. Ibunda kita, Aisyah, merasa sedikit cemburu kepada Nabi , karena beliau sering memuji Khadijah dan menyebut-nyebut namanya. Kecemburuan ini semata karena ibunda Aisyah ui sangat mencintai Rasulullah .

Diriwayatkan dari Aisyah , ia berkata, “Aku tidak cemburu pada istri-istri Nabi selain kepada Khadijah, padahal aku tidak menjumpainya.’ Ia meneruskan, ‘Ketika Rasulullah menyembelih kambing, beliau berkata, 'Kirimkan ini kepada teman-teman Khadijah.’ Ia meneruskan, ‘Suatu hari, aku membuat beliau marah, aku berkata, ‘Khadijah!’ Rasulullah berkata, ‘Sungguh, aku dikaruniai cintanya’.”[56]

Diriwayatkan dari Aisyah , ia berkata, “Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah, meminta izin kepada Rasulullah . Beliau teringat kala Khadijah meminta izin, beliau merasa senang karenanya. Beliau mengucapkan, ‘Halah binti Khuwailid.’ Aku merasa cemburu lalu aku berkata, ‘Untuk apa engkau teringat pada seorang wanita tua di antara wanita-wanita tua Quraisy bermulut merah yang sudah lama mati, Allah pun sudah memberimu pengganti yang lebih baik darinya'."[57]

Diriwayatkan dari Aisyah , ia menuturkan, “Aku tidak cemburu pada seorang istri Nabi pun seperti kecemburuanku terhadap Khadijah -ia meninggal dunia sebelum beliau menikahiku. Kala aku mendengar beliau menyebut namanya dan Allah memerintahkan beliau untuk menyampaikan kabar gembira sebuah rumah dari mutiara cekung padanya. Suatu ketika, beliau menyembelih seekor kambing lalu beliau hadiahkan kepada teman-teman Khadijah secukupnya.”[58]

Riwayat Bukhari menyebutkan; beliau kadang menyembelih seekor kambing. Beliau kemudian memotong-motong menjadi beberapa bagian. Setelah itu, beliau kirimkan kepada teman-teman Khadijah. Aku kadang berkata pada beliau, “Seakan di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah!’ Beliau berkata, 'Dia begini dan begitu, aku memiliki anak darinya’."[59]

Diriwayatkan dari Aisyah , ia berkata, “Rasulullah ketika teringat Khadijah, beliau memuji(nya) dengan baik.’ Aisyah menuturkan, ‘Suatu hari aku cemburu, aku lantas berkata, ‘Kau sering kali menyebut si mulut merah itu. Allah telah memberimu pengganti yang lebih baik darinya!’

Beliau berkata, ‘Allah memberiku pengganti yang lebih baik darinya?! Ia beriman kepadaku kala orang-orang ingkar padaku. Ia membenarkanku kala orang-orang mendustakanku. Ia membantuku dengan hartanya kala orang-orang tidak memberiku. Dan Allah memberiku anak-anaknya kala Ia tidak memberiku anak dari wanita-wanita lain’.[60]

Diriwayatkan dari Abdullah Al-Bahi, ia berkata, “Aisyah berkata, 'Setiap teringat Khadijah, Rasulullah tidak pernah jemu memujinya dan memohonkan ampunan untuknya. Suatu hari, beliau menyebutnya hingga aku tersulut cemburu, aku lantas berkata, ‘Allah sudah memberimu pengganti dari wanita tua itu. ’ Aisyah menuturkan, ‘Aku melihat Rasulullah sangat marah sekali dan aku sangat menyesal. Aku lalu berdoa, ‘Ya Allah! Jika Engkau menghilangkan amarah Rasul-Mu, aku tidak akan lagi menyebut-nyebut (Khadijah) dengan keburukan selama aku hidup.’ Aisyah meneruskan, ‘Saat Rasulullah melihat kondisiku, beliau berkata,

Kau tadi berkata apa? Demi Allah, ia (Khadijah) beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar kepadaku. Ia memberiku naungan kala orang-orang menolakku, la membenarkanku kala orang-orang mendustakanku. Dan Aku diberi anak darinya kala orang-orang tidak memberiku anak.' Aisyah berkata, 'Beliau menyebut-nyebutnya (Khadijah) selama sebutan'."[61]

Imam Adz-Dzahabi menjelaskan,[62] “Aneh kenapa Aisyah merasa cemburu pada seorang wanita tua yang sudah meninggal dunia sebelum Nabi menikah dengannya. Selanjutnya, Allah menjaganya dari rasa cemburu pada sejumlah istri Nabi lainnya. Ini termasuk salah satu kelembutan Allah kepadanya dan juga Nabi . Agar tidak memperkeruh kehidupan mereka berdua. Mungkin yang meredakan kecemburuan Aisyah terhadap Khadijah adalah cinta Nabi padanya.”

Di dalam rumah Aisyah terdapat kemuliaan-kemuliaan Khadijah lain. Suatu hari, datanglah kepada Nabi seorang wanita tua, salah satu teman-teman wanita suci, Khadijah. Beliau menyambutnya dengan baik, memuliakannya, membentangkan selendang beliau untuk hamparannya dan mempersilakan duduk di atasnya. Beliau kemudian menanyakan kondisinya dan seperti apa nasibnya sekarang. Setelah wanita tua itu pergi, Aisyah berkata, 'Wahai Rasulullah, engkau menyambut si wanita tua itu hingga demikian?' Beliau berkata, 'Dulu, ia sering menemui khadijah, dan menjaga hubungan baik adalah bagian dari iman'."[63]

Bekal Meniti Jalan Kesucian dan Iffah (Menjaga Diri)

Kala ajal yang sudah ditentukan tiba, jiwa yang tenang itu akhirnya naik menuju Rabb, setelah menjadi perumpamaan menawan dalam dakwah dan jihad di jalan Allah. Dua puluh lima tahtm la habiskan mendampingi Rasulullah sebagai seorang Istri bijak dan berakal yang tak pernah kikir dengan apa pun demi menggapai ridha Allah dan rasulNya. Maka pantaslah ia mendapat kabar gembira dengan surga.

Seperti itulah ibunda kira nan tiada ternilai, Khadijah , yang samerbak wangi kisah perjalanan hidupnya tiada pemah berakhir meski telah meninggal dunia. Andai kita terus membahas ibunda kita ini, tentu lembar-lembar kertas akan habis sebelum kita menyebut sekelumit kemuliaan dan keutamaan-keutamaannya yang menebar aroma wangi mengharumkan seluruh dunia.

Demi Allah, ibunda kita Khadijah . punya jasa besar terhadap setiap muslim dan muslimah hingga Kiamat. Karena dialah yang membantu Rasulullah dalam menyampaikan dakwah, membantu beliau kala menghadapi ujian dan musibah, dan mendampingi beliau kala sendirian.

Kisah perjalanan hidupnya ini sengaja kami paparkan untuk setiap saudari muslimah agar mempelajari teladan yang sejati di zaman yang tidak ada teladan baik.

Saudariku! Ibunda kita Khadijah adalah teladan yang tak terulang sepanjang zaman. Kisah perjalanan hidupnya adalah bekal untuk meniti jalan kesucian, menjaga diri, pengorbanan, dan berbagi.

Sebagai penutup, kita tidak kuasa melepas kepergian ibunda kita nan tiada ternilai ini selain membaca Firman Allah

"Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Rabb Yang Maha Kuasa” (Al-Qamar: 54-55)

Semoga Allah meridhainya, membuatnya senang, dan menjadikan surga Firdaus sebagai tempat kembalinya


[1] Nisa', Ahlil Bait : 67

[2] HR Bukhari (3817), kitab: Keutamaan-keutamaan. HR Muslim (2435), kitab: Keutamaan para shahabat.

[3] Syiar A'lam an-Nubala, lmam Adz-Dzahabi (II/109-111) dengan perubahan.

[4] Syiar A'lam an-Nubala, lmam Adz-Dzahabi (II/111)

[5] Nisa' Ahlil Bait, hal: 16-19, dengan perubahan.

[6] Srah Ibnu Hisyam (I/165-166)

[7] As-Sirah Al-Halbiyyah (1/226), Ar-Raudh Al-Anif, As-Suhaili (I/213).

[8] Al-Hafiih Ibnu Hajar menuturkan dalam Al-lshabah (IV/274), "Inilah riwayat paling tegas yang saya temukan terkait keislaman Khadijah." Dinukil dari Rijal wan Nisa Haular Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, Dr. Abdul Hamid Handawi.

[9] HR. Bukhari (1583), Kitab Haji, HR. Muslim (1333) Kitab Haji

[10] HR Abu Dawud Ath-Thayalisi dalam Musnad-nya (114). Al Hakim dalam Mustadraknya (l/458). la berkata, "Hadits ini shahih, sesuai syarat Muslim, hanya saja tidak ditakhrij Bukhari dan Muslim. Hadits ini dikuatkan hadits shahih lain yang sesuai dengan syarat Bukhari." Adz-Dzahabi menyetujui pernyataan Hakim Ini.

[11] Nisa' Ahlil Bait, hal: 30, 31, dengan perubahan.

[12] Nisa' Ahlil Bait, hal: 31, 32, dengan perubahan.

[13] Dala'ilun Nubuwwah, Al-Baihaqi (II/70).

[14] Tahdzibul Asma' wal Lughat (I/26)

[15] Seperti ditunjukkan dalam dialog beliau bersama Bahira, si rahib. Baca: Sirah Ibnu Hisyam (I/128)

[16] Muttafaq 'alaih. HR Bukhari (3829), kitab: Keutamaan-Keutamaan. HR Muslim (340), kitab: Haid. Ahmad (13727).

[17] Muttafaq ‘alaih. HR Bukhari (4). Muslim (160), kitab: iman

[18] Imam An-Nawawi menuturkan, Ulama menjelaskan kata-kata Khadijah demikian: 'Kau tidak akan tertimpa hal-hal yang tidak diinginkan karena Allah menjadikan akhlak baik perangai-perangai mulia dalam dirimu". Khadijah menyebut sejumlah contohnya, Ini menunjukkan bahwa akhlak mulia dan sifat-sifat baik adalah sebab yang menghindarkan kematian yang tidak baik. Hadits ini juga menunjukkan boleh sesekali memuji seseorang dihadapannya langsung karena suatu maslahat. Menenangkan orang yang ketakutan karena suatu hal, menyampaikan kabar gembira kepadanya dan menyebutkan sebab-sebab keselamatan. Selai itu hadits ini sangat jelas menunjukkan kesempurnaan Khadijah, pandangannya luas, kekuatan jiwa, keteguhan hati dan besarnya pemahaman yang ia miliki, Wallahu a'lam.
وكان امر أتنصر في الجاهليه Artinya menjadi orang Nasrani di masa jahiliyah. jahiliyah adalah era sebelum risalah Rasulullah . Disebut seperti itu karena orang-orang kala itu sangat bodoh; Wallahu A'lam {Muslim bi Syarh An-Nawawi, II/265).

[19] Muttafaq 'alaih.

[20] Innahal Jannah ya Ukhtah, hal 71

[21] Al-Mawahib Al-Laduniyyah bil Minah Al-Muhammadiyyah (II/372)

[22] Tarajum Sayyidati Baitin Nubuwwah, hlm. 237, Darul Kitab Al-Araby. Bagian ini dikutip dari Nisa' ahlil Bait dengan perubahan.

[23] Asadul Ghabah (VII/78)

[24] Audatul Hijab, Muhammad Ismail (II/539)

[25] Syifa'ul Gharam bi AkhaSril Baladil Haram (I/437).

[26] Muttafaq 'alaih. HR Bukhari (1090), kitab: Jum'at. Muslim (685), Kitab; Shalat para musafir dan qasharnya.

[27] Al-Haiisami menyatakan dalam Majma' Az-Zawa'id (15274), 'Hadits ini diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Awsath dan Al-Mu'jam Al-kabir secara singkat- Para perawi kedua riwayat tersebut adalah perawi-perawi kitab Shahih, kecuali Mujalid bin Sa'id. Ath-Thabrani menyatakannya tsiqah, khususnya dalam hadits-hadits Jabir."

[28] ’Uyunul Atsar (I/116), As-Sirah Al-Halbiyyah (1/436).

[29] Muttafaq 'alaih. HR Bukhan (2753), kitab: Wasiat. Muslim (204), kitab: Iman. At-Tirmidzi Kitab : Tafsir Al-Qur'an

[30] Fiqhus Sirah, Al-Ghazali hlm 120

[31] Muttafaq alaih. HR Bukhari, kitab: Wudhu (240). HR Muslim (1794), kitab: Jihad,

[32] HR Muslim (2797), kitab Sifat kiamat, surga, dan neraka

[33] HR Bukhari (3656), kitab: Keutamaan-keutamaan.

[34] HR Bukhari (3852), kitab: Keutamaan-keutamaan. HR. Ahmad (V/109)

[35] Zaadul Ma'ad (III/18)

[36] As-Sirahh An-Nabawiyyah, Durus wa Ibar, hal: 49.

[37] Ibnu Hisyam (I/213).

[38] Al-Haitsami menuturkan dalam Majma' Az-Zawa'id (IX/84); "Hadits ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, di dalam sanadnya ada Hasan bin Ziyad Al-Barjami. Saya tidak mengenalinya, sementara para perawi lainnya tsiqah." Rahmatal lil Alamin (I/6) di nukil dari Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm 91-92.

[39] Manuskrip asli tidak menyebut "Rabibah" dalam nasab Hisyam. Nama ini Kami sebut bersumber dari As-Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam (III/338). Manuskrip lain juga tidak menyebutkan nama ini. Manuskrip ini juga menyebut nama Nashr sebagai pengganti Judzaimah.

[40] Al-Fushul fi Ikhthisharir Rasul , Al-Hafizh Ibnu Katsir (90-91). Tahqiq dan ta'liq; Muhammad Al-ld Al-Khathrawi dan Muhyiddin Mistu.

[41] Nisa Mubasysyarat bil Jannah, hal 26

[42] HR An-Nasa'i, kitab: Keutamaan-keutamaan para shahabat (254) dengan sanad hasan.

[43] Muttafaq ‘alaih. HR Bukhari (3820), kitab: Keutamaan-keutamaan. HR Muslim (2432); Kitab Keutamaan para shahabat.

[44] Fathul Bari (Vll/l 71,172).

[45] Fathul Bari (Vll/172), Faidhul Qadir, Al Manawi dinukil dari Al Jaza min Jinsil 'Amal, Dr Sayyid Husain (II/61, 62).

[46] Tambahan ini dari Ibnu Mardawaih dari hadits marfu' Qurrah bin lyas. Sanadnya shahih, seperti dinyatakan Ibnu Katsir dalam Al-Bidiyah wan Nihayah (III/129).

[47] Muttafaq alaih; HR Bukhari (3411), kitab: Hadits-hadits para nabi. HR Muslim (2431), kitab: Keutamaan para shahabat. HR Ahmad (19029).

[48] Shahih. HR Muslim (2436), kitab: Keutamaan para shahabat. Abd bin Humaid (1473). Al-Hafizh Ibnu Hajar menuturkan dalam Al-Fath (VII/137); hadits ini menunjukkan besarnya kedudukan Khadijah di mata Nabi , juga menunjukkan keutamaan lebih yang ia miliki. Sebab, Khadijah mencukupi beliau sehingga tidak lagi memerlukan istri lain. Khadijah secara khusus mendampingi beliau dalam rentang waktu dua kali dari waktu yang dihabiskan istri-istri beliau lainnya. Karena, setelah menikah dengan Khadijah, Nabi hidup selama 38 tahun; 25 tahun di antaranya beliau habiskan bersama Khadijah, atau sekitar dua pertiga dari usia beliau. Seiring lamanya waktu hidup bersama, Nabi menjaga hati Khadijah dari rasa cemburu dan kesulitan yang umumnya muncul di antara para madu yang mungkin saja dialami Nabi dan mengganggu kehidupan beliau, ini adalah keutamaan yang tidak dimiliki siapa pun selain Khadijah.

[49] Muttafaq 'alaih, HR Bukhari (3412), kitab: Hadits-hadits para nabi. HR Muslim (2430) Kitab Keutamaan para sahabat, HR Tirmidzi (3877).

[50] HR Ahmad (I/293), Ath-Thabrani (11928), sanad hadits ini shahih

[51] HR. Tirmidzi (3878) Ahmad (III/135), Al-Hakim (III/157) sanad hadits ini shahih

[52] HR Thabrani datam Al-Mu'jam Al-Kabir (12179) sanad hadits ini hasan.

[53] Nisa'un Mubasysyarat bil Jannah, hlm. 31.

[54] Al-Fushul, hlm. 243,

[55] Tarikh Al-IslAm, Adz-Dzahabi (I/I28).

[56] Muttafaq 'alaih. HR Muslim (2435), kitab: Keutamaan para shahabat, HR Bukhari secara ringkas (5229), kitab: Nikah.

[57] Shahih. HR Muslim (2437). kitab: Keutamaan para shahabat. HR Bukhari secara ta'liq (3821)

[58] Muttafaq 'alaih. HR- Bukhari (3816). kitab: Keutamaan-keutamaan. HR Muslim (2435), kitab: Keutamaan para shahabat HR Tirmidzi (3875).

[59] Shahih. HR Bukhari (3617), kitab: Keutamaan-keutamaan.

[60] Al-Haitsami menuturkan dalam Majma' Az-Zawa'id (15281); 'Diriwayatkan Ahmad, sanadnya hasan.'

[61] Sanad hadits ini hasan. Al Hafizh dalam Al-Ishabah (XII/217,218) menyebutkan hadits ini berdumber dari kitab Adz-Dzurriyah Ath-Thahirah, karya Ad-Daulabi

[62] Asy-Syaukani memberika ulasan terkait hal ini, "Sebab kecemburuan Aisyah ini adalah karena pujian Rasulullah kepada Khadijah dan membesar-besarkan kedudukannya seperti yang disebutkan dalam biografi Aisyah"

[63] HR. Ahmad, Al-Arnauth berkata "para perawinya tsiqah" (as-Siyar ii/165)

Waktu Shalat
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya