Biografi Ulama Ahl Sunnah wal Jama'ah

AHMAD BIN HANBAL

IMAM AHLUS SUNNAH,
AHMAD BIN HANBAL

Ini adalah serial penuh berkah, dari para tokoh Salaf, yang ditujukan untuk mendidik generasi kebangkitan yang penuh berkah berdasarkan akhlak para ulama terkemuka dan para imam mulia; di mana pembaca budiman, pada setiap biografi yang dikemukakan, bisa menyertai seorang tokoh dari para tokoh tersebut, yang dia lihat zuhudnya, wara'nya, akhlaknya, kesuciannya, kesabarannya berpegang teguh pada agama Allah, dan pengorbanannya untuk memuliakannya. Dengan hal itu, mereka memiliki tangan yang bersinar cemerlang di hadapan umat, hingga manusia bangkit kepada Rabb semesta alam. Sejarah Islam sangat kaya dengan contoh-contoh menawan dan puncak-puncak menjulang ini. Kami memohon kepada Allah agar mematikan kita dalam keadaan men¬cintai mereka, dan mengumpulkan kita dalam rombongan mereka.

Panji yang kita kibar pada hari ini, dan imam yang kita me¬rasa mendapatkan kehormatan untuk mengemukakan biografinya; sebagaimana kata sebagian ulama, "Hampir saja dia menjadi imam saat masih di perut ibunya." Dialah yang dikatakan asy-Syafi'i lewat pernyataannya, "Aku melihat seorang pemuda di Baghdad, apabila dia mengatakan, haddatsana (telah menceritakan hadits kepada kami), maka orang-orang mengatakan, 'Dia benar'." Dialah Imam yang masuk pada penyepuhan besi, lalu dia mengeluarkan emas merah. Dunia ditawarkan kepadanya, maka dia menolaknya, dan bid'ah dipertunjukkan kepadanya, maka dia melenyapkannya.

Sebagian dari mereka mengatakan, "Seandainya bukan karena Ahmad, niscaya orang-orang seluruhnya telah menjadi Mu'tazilah." Ditanyakan kepada Bisyr al-Hafi, "Mengapa engkau tidak keluar, lalu engkau mengatakan sebagaimana yang dikatakan Ahmad bin Hanbal?" Dia menimpali, "Apakah kalian menginginkan agar aku menempati kedudukan para nabi?" Sesungguhnya dia adalah se¬orang alim, ahli ibadah, faqih,ahli zuhud, orang yang sabar menghadapi ujian, imam Ahlus Sunnah, Ahmad bin Hanbal. Betapa butuhnya para pelajar, ulama, dan para da'i untuk mengetahui berita-beritanya, pada zaman-zaman ketika para pemimpin fitnah merajalela, banyak ujian, kaum sekuleris merajalela, dan kaum munafik ingin menista Islam dan pemeluknya. Orang yang berharap Allah dan Hari Akhir tidak cukup hanya bersungguh-sungguh dalam ibadah dan mencari ilmu yang bermanfaat, hingga dia menggabungkan hal itu dengan pengorbanan untuk memuliakan agama dan lantang menyuarakan kebenaran; hingga panji kaum Muslimin tinggi berkibar.

Imam ini telah mengalami fitnah dari empat khalifah; al- Ma'mun, al-Mu'tashim, al-Watsiq, dan al-Mutawakkil. Sebelum itu panji Ahlus Sunnah berkibar di tengah-tengah umat hingga masa Khalifah Harun ar-Rasyid . Dulu ahli bid'ah menyembunyikan kebid'ahan mereka dan tidak menunjukkan kebatilan mereka secara terus-terang, hingga al-Ma'mun bin Harun ar-Rasyid cende¬rung kepada pendapat Mu'tazilah, dan berusaha memaksa ulama dan para qadhi untuk berpendapat dengan madzhabnya yang buruk. Banyak di antara mereka yang memenuhi seruannya seba¬gai bentuk taqiyyah(pura-pura). Ada pula di antara mereka yang dibunuh dalam ujian tersebut. Sementara Imam Ahmad memiliki pendirian yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh seorang nabi; dia berpendirian teguh seakan-akan bukit yang kokoh, yang mem¬buat berbagai ujian patah di hadapannya, dan berbagai fitnah takluk di depan telapak kakinya. Ketika al-Ma'mun meninggal, al-Mu'tashim mengikutinya; lalu dia mencambuk Sang Imam dan memenjarakannya selama 28 bulan agar menjadi lemah, sedangkan dia memiliki kedudukan di hati kaum Muslimin. Jika dia menyim¬pang dari kebenaran, maka dengan ketergelincirannya, niscaya akan banyak orang yang tak terhitung banyaknya akan tergelincir.

Namun Allah telah menyiapkan untuknya sebab-sebab keteguhan. Sebagian dari mereka mengatakan, “Bila engkau mati di sini, maka engkau masuk surga." Sebagian dari mereka mengatakan, "Jika engkau hidup, maka engkau hidup dalam keadaan terpuji, dan jika engkau mati, maka engkau mati syahid," Dia pun kukuh di atas kebenaran, hingga al-Mu’tashim mati, dan orang sesudahnya, al-Watsiq. Kemudian kekhalifahan al-Mutawakkil dimulai, dan al-Mutawakkil termasuk Ahlus Sunnah, lalu panji-panji Sunnah dikibarkan, dan panji-panji bid'ah dikikis.

Allah membinasakan semua orang yang terlibat dalam fitnah. Tetapi Sang Imam tidak selamat dari fitnah pada zaman al-Muta wakkil, tetapi ini adalah fitnah dari jenis baru, yaitu fitnah dunia, fitnah harta, kedudukan, dan menemui penguasa. Al-Mutawakkil berusaha mencicipkan harta pada Sang Imam, tetapi imam dan alim kita tidak takut terhadap cambukan dan siksaan, serta tidak pula tertarik dengan kemilau dunia dan kekuasaan. Dia mengata¬kan, "Aku selamat dari mereka selama 60 tahun, kemudian aku diuji dengan mereka." Dia pun tidak menerima sedikit pun dari hal itu, dan menjalani sisa usianya dengan berzuhud di dunia, meng¬inginkan akhirat, sehingga dia bertambah mulia dalam hati manu¬sia. Dia memiliki pengaruh terbesar di tengah ulama zamannya dan orang-orang sesudah masanya. Lalu munculnya madrasah, yaitu madrasah Hanabilah; imamnya adalah Ahmad bin Hanbal. Betapa bagusnya dia! Pahalanya dalam jaminan Allah.

Kita di zaman belakangan mendengar berita-beritanya, lalu berita-berita itu memenuhi hati kita dengan kekaguman dan ke¬cintaan kepadanya. Maka bagaimana halnya dengan orang-orang yang sezaman dengannya, menyaksikan ilmu, kezuhudan, dan kesabarannya, sedangkan berita itu tidak seperti melihat dengan mata. Sebelum kami meletakkan pena dalam pengantar bagi tokoh ini, kami memohon kepada Allah agar menjadikan kalimat-kalimat ini bermanfaat bagi pembacanya, mendekatkan kita de-ngannya kepada para tokoh tersebut, membukakan kepada kita dan kaum Muslimin lainnya, sebagaimana Dia membukakan kepada mereka dalam urusan agama, mengaruniakan kepada kita kebaikan dan simpanannya pada hari ketika dihadapkan kepada Rabb semesta alam. Semoga shalawat, salam, dan keberkahan terlimpah kepada Muhammad , keluarganya yang suci, dan para sahabatnya yang cemerlang. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

1. NAMA, KELAHIRAN, DAN CIRI-CIRI AHMAD BIN HANBAL

Namanya:

Dia adalah Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa'labah bin Ukabah bin Sha'b bin Ali bin Bakr bin Wall bin Qasith bin Hinb bin Qushai bin Du'mi bin Judailah bin Asad bin Rabi'ah bin Nizar bin Ma'd bin Adnan.

Nasab ini memiliki sifat yang besar dan kedudukan yang agung dari dua arah:

Pertama, nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah pada Nizar; karena Nizar memiliki empat putra; di antaranya Mudhar, dan Nabi kita berasal dari keturunannya. Di antara putranya (Nizar) adalah Rabi'ah, dan imam kita, Abu Abdillah Ahmad berasal dari keturunannya.

Kedua, dia adalah orang Arab yang shahih nasabnya.1

Kelahirannya:

Ibunya mengandungnya di Marwa, dan tiba di Baghdad saat mengandungnya, lalu melahirkannya pada bulan Rabi'ul Awwal 164 H. Ayahnya, Muhammad; penguasa Sarakhs, dan dia salah seorang anggota dakwah Abbasiyyah, meninggal dalam usia 30 tahun. Wafatnya pada tahun 179 H.2

Ciri-ciri Fisiknya:

Ibnu Dzuraih al-Akbari mengatakan, "Aku mencari Ahmad bin Hanbal, lalu aku mengucapkan salam kepadanya, dan dia adalah seorang syaikh yang mewarnai dengan inai, tinggi, berkulit sawo matang."

Dari Muhammad bin Abbas an-Nahwi, dia mengatakan, Aku melihat Ahmad bin Hanbal berwajah tampan, berperawakan sedang, memakai warna dengan inai, tidak merah padam, di jeng¬gotnya terdapat rambut-rambut hitam. Aku melihat pakaiannya kasar berwarna putih, dan aku melihatnya memakai sorban, serta mengenakan kain sarung."3

Al-Maimuni mengatakan, "Aku tidak pernah tahu bahwa aku melihat seseorang yang lebih bersih pakaiannya, lebih menjaga dirinya pada kumis, rambut kepala, dan badan, serta lebih bersih pakaiannya daripada Ahmad bin Hanbal."4

2. PERMULAAN PENCARIAN ILMU DAN PERJALANAN YANG DILAKU¬KAN AHMAD BIN HANBAL

Abu Nu'aim mengatakan, Abu al-Fadhl mengatakan. Ayahku mengatakan, "Aku mencari hadits saat aku berusia 16 tahun, dan Husyaim meninggal saat aku berusia 20 tahun. Pertama kali aku (Ahmad bin Hanbal) mendengar secara langsung dari Husyaim pada 179 H, Ibnu al-Mubarak datang pada tahun ini, yaitu akhir kedatangannya. Ketika aku datang ke majelisnya, mereka mengata¬kan, ’Dia pergi ke Tharathus., Dan dia meninggal pada 181 H. 5

Al-Ulaimi mengatakan yang ringkasnya, "Tanda-tanda kejeniusan tampak darinya pada masa anak-anak. Hafalan ilmunya pada zaman itu sedemikian melimpah, dan pengetahuannya tentang hal itu sangat banyak. Terkadang dia ingin berpagi-pagi mencari hadits, tapi ibunya memegang pakaiannya seraya mengatakan. Hingga orang-orang mengumandangkan adzan (Shubuh), atau hingga mereka berada di pagi hari.’ Dia melakukan banyak per¬jalanan untuk menuntut ilmu ke berbagai negeri: kufah, Bashrah, Hijaz. Makkah, Madinah, Yaman, Syam, daerah-daerah perbatasan, daerah-daerah pantai, Maghrib, al-Jazair, dua Eufrat, tanah Persia. negeri Khurasan, perbukitan, berbagai sudut, dan selainnya.

Kemudian dia kembali ke Baghdad, dan memimpin orang- orang sezamannya. Dengannya Allah menolong agamaNya, dan dia menjadi salah seorang tokoh, salah seorang imam Islam. Dia mencari hadits, saat berusia 16 tahun, dan dia keluar ke Kufah pada tahun kematian Husyaim, 183 H. Ini adalah awal perjalanan yang dilakukannya. Kemudian dia pergi ke Bashrah 186 H, dan pergi kepada Sufyan bin Uyainah di Makkah 187 H, saat al-Fudhail bin Iyadh telah meninggal. Ini tahun pertama dia melaksanakan haji. Dia pergi kepada Abdurrazzaq di Shan'a', Yaman, 197 H, dan disertai oleh Yahya bin Ma'in."

Yahya (bin Ma'in) mengatakan, "Ketika kami akan pergi ke¬pada Abdurrazzaq di Yaman, kami melaksanakan haji. Tatkala kami sedang thawaf, tiba-tiba ada Abdurrazzaq sedang thawaf, maka aku ucapkan salam kepadanya lalu aku katakan kepadanya, 'Ini adalah Ahmad bin Hanbal.' Dia mengatakan, 'Semoga Allah memberikan kemuliaan kepadanya dan meneguhkannya! Sesung¬guhnya aku telah mendengar segala kabar baik tentangnya'."

Aku katakan kepada Ahmad, "Sungguh Allah telah mende¬katkan langkah kita, melapangkan nafkah kepada kita, dan meng¬istirahatkan kita dari perjalanan satu bulan." Dia mengatakan, "Aku berniat di Baghdad untuk mendengarkan hadits darinya di Shan'a. Demi Allah, aku tidak akan merubah niatku." Kami pun pergi ke Shan'a', lalu nafkahnya habis, maka Abdurrazzaq menawarkan banyak dirham kepada kami, namun dia tidak mau mene¬rimanya. Abdurrazzaq mengatakan, "Anggaplah sebagai hutang." Dia tetap menolaknya. Kami juga menawarkan nafkah kami kepa¬danya, tapi dia menolaknya. Ketika kami melihatnya, ternyata dia membuat at-Tuk (sabuk celana), dan dia berbuka dari hasilnya. Suatu kali dia sangat membutuhkan, maka dia menyewakan diri¬nya (menjual jasa) kepada Jammalin (pemilik unta sewa). Dia berhaji sebanyak lima kali; tiga kali haji dengan berjalan kaki, dan dua kali dengan berkendara. Di sebagian hajinya, dia menafkahkan 20 dirham.

Dia (Ahmad bin Hanbal) adalah salah seorang sahabat Imam asy-Syafi'i dan murid pilihannya. Dia tetap menyertainya hingga asy-Syafi'i pindah ke Mesir. Asy-Syafi'i sangat memuliakannya, dan memujinya dengan pujian yang baik.

Harmalah mengatakan, Aku mendengar asy-Syafi'i mengata¬kan, setibanya di Mesir dari Irak, "Aku tidak meninggalkan di Irak seorang pun yang menyamai Ahmad bin Hanbal."6

Ahmad ad-Dauraqi mengatakan, "Ketika Ahmad bin Hanbal pulang dari sisi Abdurrazzaq, aku melihatnya dalam keadaan pucat saat di Makkah, dan tampak padanya kepenatan dan kelelahan. Aku pun berbicara kepadanya, ternyata dia mengatakan, 'Ini ringan karena manfaat yang telah kami ambil dari Abdurrazzaq'."7

3. PUJIAN PARA ULAMA KEPADA AHMAD BIN HANBAL

Ini adalah lautan yang tidak diketahui dasarnya. Sekiranya kita mencermati pernyataan ulama yang berisikan pujian dan san¬jungan, niscaya bagian ini menjadi panjang sekali. Karena itu, kami mengutarakan secukupnya saja sebagai isyarat, dan semoga Allah mengampuni kekurangan kita berkenaan dengan haknya.

Al-Khathib meriwayatkan dengan sanadnya. dari Ali bin al-Madini, dia mengatakan, "Sesungguhnya Allah telah memuliakan agama ini dengan dua orang, tiada yang ketiga, yaitu Abu Bakar pada saat terjadi kemurtadan, dan Ahmad bin Hanbal pada saat terjadi Mihnah (ujian)."8

Al-Husain bin Muhammad bin Hatim, yang dikenal dengan Ubaid al-Ijl, dari Muhanna bin Yahya asy-Syami dia berkata, "Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih menghimpun segala kebaikan daripada Ahmad bin Hanbal. Sungguh aku melihat Sufyan bin Uyainah, Waki', Abdurrazzaq, Baqiyyah al-Walid, Dhamrah bin Rabi'ah, dan banyak ulama, tapi aku tidak pernah melihat orang seperti Ahmad bin Hanbal dalam hal ilmu, fikih, zuhud, dan wara'nya."9

Abu Ya'la al-Maushili mengatakan, Aku mendengar Ahmad bin Ibrahim ad-Dauraqi mengatakan, "Siapa saja yang kalian mendengarnya menyebut Ahmad bin Hanbal dengan keburukan, maka curigaiiah keislamannya, "'10

Abu Ja’far Muhammad bin Badina al-Maushili mengatakan, Ibnu A’yan bersenandung kepadaku tentang Ahmad bin Hanbal,
Ibnu Hanbal telah membuat Mihnah (ujian) menjadi ketentraman
Dengan mencintai Ahmad, ahli ibadah dikenal
Jika engkau melihat orang yang mencela Ahmad
Maka ketahuilah bahwa kedoknya akan terbongkar

Abu Nu'aim meriwayatkan dengan sanadnya dari Sa’id bin al-Khalii al-Khazzaz dia berkata, 'Seandainya Ahmad bin Hanbal di tengah Bani Israil, niscaya dia telah menjadi 'ayat’ (mukjizat)."11

Al-Muzani mengatakan, asy-Syafi’i mengatakan kepadaku, "Aku melihat di Baghdad seorang pemuda yang apabila mengata¬kan, ‘Telah menceritakan hadits kepada kami’, maka semua orang mengatakan, 'Dia benar'." Aku bertanya, "Siapa dia?" Dia menjawab, "Ahmad bin Hanbal.12

Abdullah bin Ahmad mengatakan, "Para sahabat Bisyr al-Hafi mengatakan kepada Bisyr ketika ayahku dicambuk. Sekiranya engkau (Bisyr) berkenan keluar, lalu engkau mengatakan, 'Aku mengikuti pendapat Ahmad.’ Bisyr menjawab, 'Apakah kalian menginginkan aku berdiri menempati kedudukan para nabi ?’ .13

Imam para imam, Ibnu Khuzaimah mengatakan, "Aku men¬dengar Muhammad bin Sahtuwaih, Aku mendengar Abu Umair bin an-Nahhas ar-Ramli, saat disebut nama Ahmad bin Hanbal, mengatakan, 'Betapa bersabarnya dia terhadap dunia, betapa mi-ripnya dia dengan orang-orang masa lalu dan betapa identiknya dia dengan orang-orang shalih. Dunia ditawarkan kepadanya tapi dia menolaknya, dan bid'ah datang kepadanya, maka dia mele¬nyapkannya’." .14

Abu Dawud mengatakan, 'Majelis Ahmad adalah majelis akhirat di dalamnya tidak disebutkan sedikitpun dari perkara dunia” .15

Al-Khathib meriwayatkan dengan saiminya dari Ahmad bin Said ad-Darimi, dia mengatakan. Aku tidak pernah melihat kepala berambut hitam yang lebih tahu hadits Rasulullah, dan lebih tahu dengan fikih serta maknanya daripada Abu Abdillah, Ahmad bin Hanhal” 16

Dia (al-Khathib) meriwayatkan juga dengan sanadnya dari AbduHah bin Ahmad bin Hanbal, dia mengatakan. Aku mendengar Abu Zur’ah ar-Razi mengatakan, "Ahmad bin Hanbal menghafal sejuta hadits.” Ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu mengetahuinya?’' Dia menjawab, “Aku bermudzakarah dengannya, lalu aku membuat bab-bab atas hafalan tersebut”17

Abu Nu’aim meriwayatkan dengan sanadnya dari Khalaf bin Salim, dia mengatakan, “Kami berada di majelis Yazid bin Harun (Atba’ at-Tabiin, guru Imam Ahmad, w. 206 H), lalu dia bercanda bersama orang-orang yang meminta diktenya. Ketika Ahmad bin Hanbal berdehem, Yazid mengatakan. Siapakah vang berdehem?’ Dikatakan kepadanya, ’Ahmad bin Hanbal’ Yazid pun menepuk keningnya seraya mengatakan. Mengapa kalian tidak memberi¬tahukan kepadaku bahwa Ahmad ada di sini sehingga aku tidak bercanda”18

Al-Khathib meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin al-Hasan al-Anmathi, dia mengatakan, Kami berada di suatu majelis, di dalamnya terdapat Yahya bin Ma’in, Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb, dan segolongan dari pemuka ulama, lalu mereka memuji Ahmad bin Hanbal dan menyebut keutamaan-keutamaan¬nya. Maka seorang laki-laki mengatakan, 'Jangan memperbanyak sebagian kata-kata ini’. Lalu Yahya bin Main mengatakan, Apakah banyak memuji Ahmad bin Hanbal dipungkiri? Seandainya kita duduk untuk memujinya, maka kita tidak mampu menyebutkan keutamaan-keutamaannya dengan sempurna'." 19

4.SIKAP ZUHUD AHMAD BIN HANBAL

Shalih bin Ahmad bin Hanbal mengatakan, "Dia seringkali menjadikan cuka sebagai lauk. Terkadang aku melihatnya makan roti kering, lalu dia menghilangkan debu darinya, kemudian meletakkan di dalam piring, dan menuangkan air padanya hingga menjadi lunak, kemudian memakannya dengan garam. Aku tidak pernah melihatnya sama sekali makan delima, satarjal (sejenis pear), atau sesuatu dari buah-buahan, kecuali dia membeli semangka lalu memakannya dengan roti, anggur, atau kurma. Adapun selain itu, maka aku tidak pernah melihatnya, dan dia tidak membelinya. Terkadang kami membeli sesuatu, lalu kami menutupinya darinya hingga dia tidak melihat kami, sehingga dia mencela kami atas hal itu," 20

Shalih mengatakan, "Suatu hari dia masuk ke rumahku, se¬dangkan kami telah merubah langit-langit rumah kami, maka dia memanggilku, kemudian mendikte padaku hadits al-Ahnaf bin Qais. Dia mengatakan, Sulaiman bin Harb menceritakan kepada kami, dia mengatakan, Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, dari Yunus, dari al-Hasan, dia mengatakan, 'Al-Ahnaf bin Qais datang dari perjalanan, sedangkan langit-langit rumahnya tetah dirubah menjadi merah dan semisalnya (kekuning-kuning¬an). Saat itu saudara-saudaranya memberinya warna hijau, maka mereka mengatakan kepadanya, Tidakkah engkau melihat langit-langit rumahmu?' Dia menjawab, 'Maaf, aku belum melihatnya, dan aku tidak akan memasukinya hingga kalian merubahnya’.” 21

Dari Musa bin Hammad al-Barbari, dia mengatakan, "Al-Hasan bin Abdul Aziz membawa harta warisannya dari Mesir kepadaku sebanyak seratus ribu dinar, lalu dia membawa kepada Ahmad bin Hanbal tiga kantong, masing-masing kantong berisi seribu dinar seraya mengatakan, 'Wahai Abu Abdillah, ini dari warisan yang halal. Ambillah dan gunakanlah sebagai penopang kehidupanmu.' Dia mengatakan, 'Aku tidak membutuhkannya, aku sudah dalam kecukupan.' Dia pun mengembalikannya dan tidak menerima sedikitpun darinya." 22

Ishaq bin HanF mengatakan, "Suatu hari aku berangkat pagi-pagi untuk membacakan padanya kitab az-Zuhd, lalu aku bentangkan tikar untuknya dan bantal. Dia pun memandang tikar dan bantal seraya berkata, 'Apakah ini?' Aku menjawab, 'Agar engkau duduk di atasnya.' Dia mengatakan, 'Angkatlah! (Kitab) az-Zuhd tidak pantas (dibahas) kecuali dengan sikap zuhud.' Aku pun mengangkatnya, dan dia duduk di atas tanah."23

Abu Nu'aim meriwayatkan dengan sanadnya dari Shalih bin Ahmad, dia mengatakan, "Aku menemui ayahku pada masa-masa pemerintahan al-Watsiq -dan Allah tahu dalam kondisi apakah kami saat itu- dan saat itu dia telah pergi untuk shalat Ashar. Dia memiliki tikar yang biasa didudukinya yang sudah bertahun- tahun sehingga sudah usang, ternyata di bawahnya terdapat surat kertas yang isinya,

"Telah sampai kepadaku, wahai Abu Abdillah, kesulitan yang menimpamu dan hutang yang melilitmu. Sesungguhnya aku telah mengirimkan kepadamu sebanyak 4000 dirham yang aku titipkan pada fulan untuk melunasi hutangmu dan melapangkan keluarga¬mu. Ini bukan sedekah dan bukan pula zakat, tetapi ini sedikit dari warisan yang aku terima dari ayahku."

Setelah aku membaca surat itu, aku taruh kembali. Ketika ayahku masuk, aku katakan, "Wahai ayah, surat apa ini?" Mende¬ngar hal itu, wajahnya memerah seraya mengatakan, "Aku men¬cabutnya darimu." Kemudian dia mengatakan, "Pergilah untuk memberikan jawaban kepadanya." Dia pun menulis surat kepada orang itu,

"Suratmu telah sampai kepadaku, dan kami dalam keadaan sehat wal afiyat. Adapun mengenai hutang, maka hutang itu milik orang yang tidak memberatkan kami. Adapun keluarga kami, maka me¬reka semua berada dalam kenikmatan, al-hamdulillah."

Surat itu pun dibawa oleh Shalih bin Ahmad kepada orang yang mengantarkan surat orang tersebut (al-Hasan bin Abdul Aziz) lalu dia mengatakan, "Kasihan engkau! Seandainya Abu Abdillah menerima sesuatu ini, dan melemparkannya ke dalam jala, misal¬nya di sungai Tigris, niscaya dia mendapat pahala." Karena orang ini tidak dikenal (di mata masyarakat) kebaikannya (sehingga patut diduga memiliki maksud tertentu. Ed.). Ketika telah lewat beberapa waktu, datang surat orang itu seperti itu, lalu diberi jawaban dengan jawaban yang sama. Ketika telah lewat satu tahun, kurang atau lebih, kami mengingatkannya, maka dia mengatakan, "Seandainya kami menerimanya, niscaya itu sudah habis."24

Dari Abdullah bin Ahmad bin Hafsh, dia mengatakan, "Kami singgah di sebuah rumah di Makkah, dan di dalam rumah tersebut terdapat seorang tua yang diberi kunyah dengan Abu Bakar bin Sama'ah, dan dia dari penduduk Makkah. Dia mengatakan, 'Abu Abdillah (Ahmad bin Hanbal) pernah singgah di rumah ini, saat aku masih anak-anak, lalu ibuku mengatakan kepadaku, Temani-lah orang ini dan layanilah, karena dia adalah orang shalih.’ Aku pun melayaninya. Suatu kali dia pergi keluar untuk mencari hadits, lalu barang dan pakaiannya dicuri. Ketika dia datang, ibuku me¬ngatakan kepadaku, Para pencuri masuk kepadamu lalu mencuri pakaianmu.' Dia bertanya, 'Bagaimana dengan Alwah (tempat me¬nulis)?' Ibu menjawab, 'Di dalam.' Dan dia tidak bertanya tentang sesuatu pun selainnya." 25

Dari ar-Ramadi, dia mengatakan, Aku mendengar Abdurrazzaq, saat nama Ahmad disebutkan lalu matanya menangis, seraya mengatakan, "Dia datang, dan aku mendapat kabar bahwa nafkah¬nya habis, maka aku mengambil sepuluh dinar dan aku tawarkan kepadanya. Dia pun tersenyum seraya mengatakan, 'Wahai Abu Bakr, seandainya aku menerima sesuatu dari orang lain, niscaya aku telah menerima darimu.’ Dia tidak mau menerima sedlkitpun dariku."26

Kita tutup dengan pernyataan al-Ulaimi, "Dunia datang kepadanya, maka dia menolaknya. Kepemimpinan datang kepadanya, maka dia menolaknya. Harta ditawarkan kepadanya, dan segala sesuatunya diserahkan kepadanya, maka dia menolak itu dengan sikap iffah dan fokus mementingkan sesuatu yang sedikit, memandang kecil segala sesuatu seraya mengatakan, Sedikit dunia cukup, dan banyaknya tidak cukup, seraya mengatakan, 'Aku bergembira, ketika aku tidak mempunyai sesuatu.’ Dia juga mengatakan, 'Ia hanyalah sekadar makanan, sekadar pakaian, dan hari-hari yang sebentar'." . 27

5. SIKAP WARA AHMAD BIN HANBAL

Qutaibah bin Sa'id mengatakan, "Seandainya bukan karena Ahmad, niscaya wara' telah mati."28

Al-Ulaimi mengatakan, "Di antara sikap wara'nya bahwa ibu dari putranya, Abdullah memiliki rumah, yang darinya Ahmad biasa mengambil dirham dengan sebab hak warisnya. Lalu dia membutuhkan nafkah untuk memperbaiki rumah, lalu putranya, Abdullah memperbaikinya, maka Imam Ahmad tidak mengambil lagi dirham yang biasa diambilnya, seraya dia mengatakan, 'Dia telah merusaknya terhadapku.' Dia berhati-hati dari mengambil haknya dari upah, karena khawatir anaknya menafkahkan pada rumah dari harta yang dia peroleh dari khalifah. Padahal dia me¬larang kedua putranya dan pamannya menerima dari harta khali¬fah. Ketika mereka beralasan membutuhkan, maka dia (Ahmad bin Hanbal) meninggalkan mereka selama sebulan karena menerima pemberian. Saat sakitnya, diresepkan kepadanya labu yang dipang¬gang dan diambil airnya. Ketika mereka datang membawa labu, sebagian orang yang hadir mengatakan, 'Pangganglah di dapur Shalih; karena mereka telah membuat roti' Maka Ahmad mengisyaratkan dengan tangannya, 'Jangan.' Dia menolak labu itu dibawa ke rumah Shalih. Hal semacam ini cukup banyak."

Al-Mutawakkil memberikan hadiah kepadanya, dan kepada anaknya serta keluarganya, sebanyak empat ribu dirham setiap bulan. Maka Abu Abdillah mengutus seseorang kepadanya bahwa mereka sudah cukup. Sebagai balasannya, al-Mutawakkil mengi-rimkan utusan kepadanya seraya mengatakan, "Ini hanyalah untuk anakmu bukan untukmu." Oleh karena inilah, maka Ahmad mengatakan, "Wahai paman, apa yang masih tersisa dari umur kita? Seakan-akan engkau menghadapi urusan yang telah menimpa kita. Maka takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah. Sesungguhnya anak-anak kami hanyalah ingin makan lewat perantaraan kami, dan sesungguhnya ini hanyalah hari-hari yang sebentar. Seandai¬nya dibukakan kepada hamba sesuatu yang telah tertutup darinya, niscaya dia mengetahui kebaikan atau keburukan yang dijalaninya. Bersabar sebentar, dan pahala yang panjang. Ini tidak lain hanyalah fitnah (ujian)."29

Shalih mengatakan, "Apabila ayahku didoakan dengan ke¬baikan oleh seseorang, maka dia mengatakan, 'Tidak ada yang bisa melindungi seorang Mukmin kecuali kuburnya. Amalan-amalan itu tergantung penutupnya.' Ayahku mengatakan saat sakitnya, ‘Keluarkanlah kitab Abdullah bin Idris.' Lalu dia mengatakan, 'Bacakanlah padaku, hadits Laits, 'Sesungguhnya Thawus memakruhkan merintih saat sakit.' Aku pun tidak mendengar ayahku merintih hingga meninggal."

Dari Ahmad bin Muhammad at-Tustari, dia mengatakan, “Mereka menyebutkan bahwa Ahmad bin Hanbal pernah selama tiga hari tidak makan, lalu mengutus seseorang kepada temannya untuk meminjam tepung darinya. Mereka pun menyiapkannya dengan cepat, maka dia mengatakan, 'Bagaimana tepungnya?' Mereka menjawab, 'Dapur Shalih menyala, maka kami membuat roti di sana.' Dia mengatakan, 'Angkatlah.' Lalu dia memerintahkan supaya menutup pintu yang bisa menghalangi antara dirinya dengan Shalih." Adz-Dzahabi mengatakan, "Karena Shalih mengam bil hadiah dari al-Mutawakkil."30

6. ADAB DAN AKHLAK AHMAD BIN HANBAL

Al-Khallal mengatakan, Muhammad bin al-Husain menceri¬takan kepada kami bahwa Abu Bakar al-Marwazi menceritakan kepada mereka tentang adab-adab Abu Abdillah. Dia mengatakan, "Abu Abdillah tidak pernah bertindak jahil. Jika dijahili, dia ber¬sabar dan tabah seraya mengatakan, 'Cukuplah Allah.' Dia bukan¬lah orang pendengki, bukan pula orang yang tergesa-gesa, banyak tawadhu, berakhlak baik, senantiasa bahagia, lemah lembut, tidak kasar, mencintai karena Allah, dan membenci karena Allah. Jika itu dalam urusan agama, maka sangat keras kemarahannya, dan dia tabah menghadapi gangguan dari tetangga."31

Dari Abu Dawud as-Sijistani, dia mengatakan, "Ahmad bin Hanbal tidak pernah larut dalam membicarakan sesuatu sebagai¬mana yang dilakukan banyak orang berupa pembicaraan tentang urusan dunia. Jika ilmu disebutkan, maka dia berbicara."

Dia (Abu Dawud) mengatakan, "Duduk di majelis Ahmad bin Hanbal adalah duduk di majelis akhirat, di dalamnya tidak disebutkan sedikitpun dari perkara dunia. Aku tidak pernah meli¬hat Ahmad bin Hanbal menyebut dunia sama sekali." 32

Dari Abu al-Husain bin al-Munada, dia mengatakan, Aku mendengar kakekku mengatakan, "Ahmad adalah salah seorang manusia terbaik, paling mulia jiwanya, paling baik pergaulan dan adabnya, banyak menahan pandangan, menjauhi dari keburukan dan sia-sia, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits, menyebutkan orang-orang shalih dan orang-orang zuhud, dengan wibawa dan tenang, serta berkata-kata baik. Jika seseorang mene¬muinya, maka dia bergembira dengan kedatangannya dan menyam¬butnya. Dia sangat bertawadhu kepada para syaikh, sedangkan mereka memuliakannya. Dia memperlakukan Yahya bin Ma'in yang tidak pernah dia lakukan terhadap orang selainnya berupa tawadhu' dan pemuliaan. Yahya lebih tua sekitar tujuh tahun dari-nya. Apabila dia masuk ke rumah dari masjid, dia memukulkan kakinya sebelum masuk rumah hingga pukulan sandalnya terde¬ngar saat memasuki rumah. Terkadang dia berdehem, agar orang yang berada di dalam rumah mengetahui masuknya."33

Abu Nu'aim meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Abbas bin Muhammad ad-Duri, dia mengatakan, Ali bin Abu Mararah -tetangga kami- menceritakan kepada kami, dia mengatakan, "Ibuku lumpuh selama sekitar 20 tahun, lalu dia mengatakan kepa¬daku suatu hari, 'Pergilah kepada Ahmad bin Hanbal, dan mintalah supaya dia berdoa kepada Allah untukku.' Aku pergi kepadanya, lalu aku ketuk pintu rumahnya, ternyata dia berada di dihliznya (jalan antara pintu dan bagian tengah rumah). Belumlah dia membukakan pintu untukku, dia bertanya kepadaku, 'Siapa ini?' Aku menjawab, 'Aku adalah penghuni samping itu. Ibuku yang sudah lama lumpuh memintaku agar meminta kepadamu supaya berdoa kepada Allah untuknya.' Aku pun mendengarkan ucapannya seperti ucapan orang yang sedang marah, dengan mengatakan, 'Kami lebih membutuhkanmu mendoakan untuk kami.' Aku pun berpaling pergi, lalu keluarlah wanita tua dari rumah Ahmad seraya mengatakan, 'Engkaukah tadi yang berbicara kepada Abu Abdillah?' Aku menjawab, 'Ya.' Dia mengatakan, 'Aku telah meninggalkannya dalam keadaan berdoa kepada Allah untuknya,' lalu aku pulang dengan segera ke rumah. Setiba di rumah, aku ketuk pintu, maka keluarlah ibuku dengan berjalan kaki hingga membuka pintu, lalu mengatakan, 'Sungguh Allah telah memberikan kesembuhan kepadaku'."34

Dari al-Husain bin Isma'il, dia mengatakan, Aku mendengar ayahku mengatakan, "Sekitar lima ribu orang atau lebih biasa ber-kumpul di majelis Ahmad, kurang dari lima ratus orang menulis, dan sisanya belajar adab dan sifat yang baik darinya."35

Dari Abu Bakar al-Muthawwi'i, dia mengatakan. Aku bolak-balik ke rumah Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal selama dua belas tahun, saat dia membacakan al-Musnad kepada anak-anaknya. Selama waktu itu, aku tidak menulis satu hadits pun. Aku hanya¬lah memperhatikan petunjuk, akhlak, dan adabnya."36

7. BERPEGANG TEGUHNYA AHMAD BIN HANBAL PADA AS- SUNNAH

Abu Nu'aim mengatakan, "Imam Ahmad bin Hanbal, kedu¬dukannya dalam imamah laksana pilar, karena dia mengikuti atsar, dan bermuzalamah dengan orang-orang pilihan. Dia tidak berpa¬ling dari atsar, dan tidak pula memandang akal memiliki tempat. Berkenaan dengan hafalan hadits, dia ibarat gunung yang besar, sedangkan berkenaan dengan ilal dan ta’lil, dia ibarat lautan yang luas. 37

Dari Abdul Malik al-Maimuni, dia mengatakan, "Mataku tidak pernah melihat orang yang lebih utama daripada Ahmad. Aku tidak pernah melihat seorang ahli hadits yang lebih meng¬agungkan hal-hal yang dimuliakan Allah dan Sunnah NabiNya, -ketika Sunnah tersebut shahih dari beliau- daripada Ahmad."

Imam Ahmad mengatakan, "Tidaklah aku menulis satu hadits pun dari Nabi melainkan (pasti) aku telah mengamalkannya, hingga aku menjumpai hadits,

أِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَحْتَجَمَ وَأَعْطَى أَبَا طَيْبَةَ دِيْنَارًا

'Bahwa Nabi berbekam, dan memberikan satu dinar kepada Abu Thaibah,'

maka aku memberikan satu dinar kepada tukang bekam tersebut," lalu beliau memperistri budak dan bersembunyi (tidak menampak¬kan diri) selama tiga hari (untuk mengikuti sunnah)." 38

Abdullah bin Ahmad mengatakan, "Aku tidak pernah melihat ayahku menceritakan hadits dengan tanpa kitab, kecuali kurang dari seratus hadits. Aku mendengar ayahku mengatakan, 'Asy- Syafi'i mengatakan kepadaku, 'Wahai Abu Abdillah, jika suatu hadits itu shahih menurutmu, maka sampaikanlah kepadaku hingga kami merujuk kepadanya. Kalian lebih tahu tentang hadits-hadits yang shahih daripada kami. Jika ada hadits yang shahih, beritahukanlah kepadaku hingga aku berpendapat kepadanya, baik itu hadits orang Kufah, Bashrah maupun Syam’.”

Adz-Dzahabi mengatakan, "Dia (asy-Syafi'i) tidak perlu mengatakan, 'Orang Hijaz,' karena dia mengetahui hadits Hijaz (ketika berguru kepada Malik, Ed.), dan tidak pula mengatakan, 'Orang Mesir,' karena selain keduanya lebih tidak tahu tentang hadits Mesir daripada keduanya."39

8- UJIAN YANG DIHADAPI AHMAD BIN HANBAL

Telah berlaku Sunnah Allah pada para hambaNya, yaitu Dia menguji mereka sehingga dengan ujian tersebut akan tampak ke­jujuran orang-orang yang jujur dan kedustaan orang-orang yang dusta. Allah berfirman,

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (٢) وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ (٣)

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sungguh Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dustaJ' (Al-Ankabut: 2-3).

Nabi pernah ditanya tentang orang yang paling berat ujian­nya, maka beliau bersabda,

اَلْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَممثَلُ

"Para nabi, kemudian (ulama) yang paling mulia lalu (kaum shalih) yang lebih mulia (daripada setelaknya). ”40

Asy-Syafi’i pernah ditanya, ’’Manakah yang lebih baik, se­orang hamba yang diberi kedudukan mantap, ataukah yang diberi ujian.” Dia menjawab, "Seorang hamba tidak akan mantap hingga dia diuji.” Apa yang dialami oleh imam kita, dan imam dunia, Ahmad bin Hanbal menunjukkan kedudukannya dalam iman, dan ketinggian derajatnya di sisi Raja Pemberi balasan. Dia ber­firman,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُواْ ۖ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ

"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah: 24).

Sebagian salaf mengatakan, "Ketika mereka berpegang pada pokok urusan (agama), maka kami menjadikan mereka sebagai pemimpin.” Karena dengan sabar dan keyakinan, maka imamah dalam agama diperoleh. Sungguh Allah telah mengambil per­janjian terhadap ulama agar mereka menjelaskan kebenaran kepada manusia, dan tidak menyembunyikannya.

Nabi bersabda,

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

"Jihad yang paling utama ialah kata-kata adil di sisi penguasa zhalim.”41

Menurut para ulama, hal itu hanyalah menjadi jihad yang paling utama, karena jihad itu membawa jiwa kepada kematian, sedangkan kata-kata yang adil di hadapan penguasa yang zhalim diduga kuat akan menyebabkan kebinasaannya.

Kewajiban ulama dan para dai yang menyeru manusia kepada agama Allah, ialah mengatakan kebenaran dengan terus-terang tanpa takut.

Adz-Dzahabi mengatakan, "Membela kebenaran itu berat, membutuhkan kekuatan dan keikhlasan. Orang yang ikhlas de­ngan tanpa kekuatan akan lemah dalam melaksanakan kebenaran, sedangkan orang yang kuat dengan tanpa keikhlasan akan menjadi hina. Barangsiapa yang melaksanakannya dengan sempurna, maka dia adalah orang yang benar. Barangsiapa yang tidak mampu, maka jangan sampai dia berbuat lebih minimal daripada merasa sedih dan mengingkari dengan hati, dan tiada iman setelah itu. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah."42

Imam Ahmad mengalami masa empat khalifah, di antara mereka ada yang memberikan ancaman, ada yang memukul dan menahan, ada yang mengasingkan dan ekstradisi, ada pula yang menawarkan jabatan. Hal itu tidak menambah kepada Sang Imam kecuali kepercayaan, keimanan, dan keyakinan. Inilah perihal iman yang benar. Allah berfirman,

وَلَمَّا رَءَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْأَحْزَابَ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّآ إِيمَٰنًا وَتَسْلِيمًا

"Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan." (Al-Ahzab: 22).

Dengan ujian, orang-orang yang beriman lagi jujur akan se­makin bertambah keimanan dan kepasrahannya, sedangkan orang-orang munafik takut terhadap sesuatu yang tidak perlu ditakuti, sebagaimana FirmanNya,

يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ

“Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka." (Al-Munafiqun: 4).

Al-Ulaimi mengatakan yang ringkasnya, "Tatkala al-Ma’mun Abu Ja'far bin Harun ar-Rasyid menjabat sebagai khalifah, dan dia menjabat di bulan Muharram, ada yang mengatakan pada bulan Rajab 198 H, maka suatu kaum dari Mu’tazilah datang kepadanya, dan menyesatkannya dari jalan kebenaran menuju jalan kebatilan, serta mereka menjadikannya berpandangan baik terhadap buruk­nya pendapat bahwa al-Quran adalah makhluk, lalu dia berpenda­pat dengan pendapat mereka. Ditakdirkan bahwa pada akhir usia­nya, dia pergi dari Baghdad untuk memerangi negeri Romawi, lalu dia menulis surat kepada Ishaq bin Ibrahim bin Mush'ab, kepala polisi, agar menyeru segenap manusia berpendapat tentang al-Qur an adalah makhluk. Dia pun menyerukan segolongan ulama, qadhi dan para imam hadits agar berpendapat demikian, tapi mereka menolaknya. Kemudian dia memaksa mereka, dan kebanyakan dari mereka menerimanya dengan terpaksa. Sementara Imam Ahmad tetap menolak, sehingga kemarahannya semakin menjadi- jadi.

Ketika Imam Ahmad tetap menolak, maka dia dinaikkan di atas unta dan mereka membawanya kepada khalifah.

Abu Ja’far al-Anbari mengatakan, "Ketika Imam Ahmad di­bawa kepada al-Ma'mun, aku diberi kabar, maka aku menyeberangi sungai Eufrat, ternyata dia duduk di tempat penginapan. Ketika aku mengucapkan salam kepadanya, dia mengatakan, ’Wahai Abu Ja’far, engkau telah bersusah payah.’ Aku katakan, 'Ini bukanlah susah payah.’ Aku katakan kepadanya, 'Wahai Anda, engkau se­karang adalah pemimpin manusia, dan manusia akan mencontoh Anda. Demi Allah, jika engkau menjawab bahwa al-Qur'an adalah makhluk, niscaya akan banyak orang yang menjawab dengan jawab­anmu bahwa al-Qur'an adalah makhluk. Sebaliknya, jika engkau tidak menjawabnya, niscaya akan banyak orang yang menolak mengatakan demikian. Bersama semua itu, jika laki-laki itu (al- Ma'mun) tidak membunuhmu, maka engkau akan mati juga, dan kematian pasti terjadi. Karena itu, bertakwalah kepada Allah, dan jangan menjawab mereka sedikit pun.' Ahmad pun menangis, seraya mengatakan, 'Masya Allah! Masya Allah!"

Kemudian Ahmad berjalan kepada al-Maymun, lalu dia mendengar ancaman bunuh terhadapnya dari khalifah, jika dia tidak mau menerima perintahnya untuk berpendapat bahwa al-Qur'an adalah makhluk. Imam Ahmad pun memanjatkan doa kepada Allah untuk tidak mempertemukan antara dirinya dengan khalifah. Tatkala dia sedang di jalan, sebelum sampai kepada khalifah, tiba-tiba datang kepada mereka kabar tentang kematian al-Maymun.

Kematiannya pada bulan Rajab 218 H. Lalu Sang Imam dikembalikan ke Baghdad dan ditahan. Kemudian kekhalifahan dijabat oleh al-Mu'tashim, yaitu Abu Ishaq Muhammad bin Harun ar-Rasyid.

Dia tiba dari negeri Romawi, lalu memasuki Baghdad pada pertengahan bulan Ramadhan 218 H. Saat itulah Imam Ahmad mendapatkan ujian, dia dicambuk di hadapannya.

Di antara berita tentang ujian itu, bahwa al-Mu'tashim tatkala bermaksud untuk mendatangkan Sang Imam, maka orang-orang berjubel di depan pintunya; seperti hari raya, dan menggelar permadani-permadani di majelisnya, serta meletakkan sebuah kursi untuk tempat duduknya, kemudian dia mengatakan, "Datangkanlah Ahmad bin Hanbal." Mereka pun mendatangkannya. Tatkala Ahmad berdiri di hadapannya, dia mengucapkan salam kepadanya, maka al-Mu'tashim mengatakan kepadanya, "Wahai Ahmad, berbicaralah dan jangan takut.' Ahmad mengatakan, "Demi Allah, aku telah menemuimu dalam keadaan tanpa ada ketakutan seberat atom pun di hatiku." Al-Mu'tashim bertanya kepadanya, "Apakah pendapatmu tentang al-Qur’an?" Ahmad menjawab, "Kalam Allah itu qadim, bukan makhluk. Allah berfirman,

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ٱسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ

'Dan jika seseorang dari orang-orang musyirikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya dia sempat mendengar Firman Allah.' (At-Taubah: 6)."

Al-Mu'tashim bertanya, "Apakah engkau punya hujjah selain ini?" Dia menjawab, "Ya, Firman Allah,

ٱلرَّحْمَٰنُ . عَلَّمَ ٱلْقُرْءَانَ

'(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al-Qur'an.' (Ar-Rahman: 1-2).

Dia tidak berfirman, ٱلرَّحْمَٰنُ . خَلَقَ الْقُرْآنَ (Yang Maha Pemurah, yang menciptakan al-Qur'an).

Dan FirmanNya,

يسٓ . وَٱلْقُرْءَانِ ٱلْحَكِيمِ

’Ya sin. Demi al-Qur'an yang penuh hikmah.' (Yasin: 1-2).

Dia tidak berfirman, يسٓ . وَٱلْقُرْءَانِ ٱلْمَخْلُوْقِ (Yasin, demi al-Qur an yang diciptakan)'."

Al-Mu'tashim mengatakan, "Penjarakanlah dia." Dia pun dipenjarakan, dan orang-orang yang berkumpul tadi bubar.

Keesokan harinya, al-Mu'tashim duduk di kursinya seraya mengatakan, "Bawalah Ahmad bin Hanbal." Orang-orang pun berkumpul, dan suara gemuruh mereka terdengar di Baghdad. Ketika Ahmad telah didatangkan dan telah berdiri di hadapannya, sedangkan pedang telah dihunus, tombak telah disiapkan, perisai telah ditancapkan, dan cambuk telah diletakkan, maka al-Mu'tashim bertanya kepadanya tentang pendapatnya mengenai al-Qur'an. Ahmad mengatakan, "Aku berpendapat bahwa al-Qur'an bukan­lah makhluk." Dia bertanya, "Dari mana engkau mengatakan demi­kian?" Ahmad menjawab, "Abdurrazzaq menceritakan kepadaku dari Ma'mar, dari az-Zuhri, dari Anas, dia mengatakan, Rasulullah bersabda,

'Sesungguhnya kalam Allah yang dikhususkan kepada Musa ada seratus ribu tiga ratus tiga belas kata. Kalam itu dari Allah, sedang­kan penyimakan itu dari Musa'."

Ahmad mengatakan, "Kemudian Allah berfirman.

وَلَٰكِنْ حَقَّ ٱلْقَوْلُ مِنِّى لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) dariKu. “Sungguh akan Aku penuhi Neraka Jahanam itu dengan jin dan manusia bersama- sama.” (As-Sajdah: 13).

Jika ucapan itu berasal dari Allah, maka al-Qur an adalah kalamullah”

Al-Mu’tashim menghadirkan para fuqaha dan qadhi, lalu mereka mendebatnya di hadapannya selama tiga hari, dan Ahmad melayani mereka, serta mengalahkan mereka dengan dalil-dalil yang qath’i seraya mengatakan, 'Aku adalah seorang laki-laki, aku mengetahui ilmu, dan aku tidak mengetahui hal ini di dalamnya. Berikanlah kepadaku sesuatu dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul- Nya hingga aku berpendapat dengannya.” Setiap kali mereka mendebatnya dan mengharuskannya untuk berpendapat bahwa al-Qur'an adalah makhluk, maka dia mengatakan kepada mereka, "Bagaimana mungkin aku berpendapat dengan sesuatu vang tidak memiliki dasar?”

Di antara orang yang fanatik43 terhadapnya (yakni pendapat bahwa al-Qur'an adalah makhluk) adalah Muhammad bin Abdul Malik az-Zayyat, menteri al-Mu’tashim, Ahmad bin Abu al-Qadht dan Bisyr al-Marisi, mereka adalah Mu’tazilah vang berpendapat bahwa al-Qur'an adalah makhluk. Ibnu Abu Dawud dan Bisyr mengatakan kepada Khalifah, "Bunuhlah dia agar engkau terbebas darinya. Orang ini adalah kafir lagi menyesatkan.” Dia (al-Mu’tashim) mengatakan, "Aku telah berjanji kepada Allah untuk tidak membunuhnya dengan pedang dan tidak pula aku memerintahkan membunuhnya dengan pedang." Keduanya mengatakan kepada­nya, "Cambuklah dengan cemeti." Lalu al-Mu'tashim mengatakan kepadanya, "Demi kekerabatanku dengan Rasulullah, sungguh aku akan mencambukmu dengan cemeti, atau engkau berpendapat sebagaimana pendapatku." Namun hal itu tidak menggentarkannya.

Kemudian al-Mu’tashim mengatakan, "Datangkanlah para eksekutor." Mereka pun didatangkan, lalu al-Mu'tashim mengatakan kepada salah seorang dari mereka, "Berapa kali cambukan engkau akan membunuhnya?" Dia menjawab, "Sepuluh kali." Al- Mu’tashim mengatakan, "Ambillah dia." Dia pun melucuti pakaian Ahmad, dan mengikatkan dua tali yang masih baru di kedua tangannya. Ketika dibawakan cemeti, lalu al-Mu’tashim memandangnya, maka dia mengatakan, "Bawakanlah cemeti lainnya." Kemudian dia mengatakan kepada para eksekutor, "Majulah."

Ketika Ahmad dicambuk dengan satu kali cambukan, dia mengatakan, "Bismillah" Ketika dicambuk dengan cambukan yang kedua, dia mengatakan, "La haula wala quwwata illa billah.” Ketika dicambuk dengan cambukan yang ketiga, dia mengatakan, "Al- Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk." Ketika dicambuk dengan cambukan keempat, dia mengucapkan,

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا

'Katakanlah, ’Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami(At-Taubah: 51).

Lalu mulailah seseorang dari mereka maju kepada Imam Ahmad, lalu mencambuknya dengan dua kali cambukan. Al-Mu’tashim memerintahkannya agar memukulnya dengan keras. Ketika telah dipukul sembilan belas kali, al-Mu’tashim berdiri kepadanya seraya mengatakan, "Wahai Ahmad, atas dasar apa engkau membunuh dirimu? Sesungguhnya aku, demi Allah, sangat kasihan kepadamu."

Ahmad menceritakan, "Lalu algojo memukulku dengan gagang pedangnya seraya mengatakan, ’Engkau mau mengalahkan mereka semua?’ Sebagian dari mereka mengatakan, ’Celaka engkau! Khalifah berdiri di atas kepalamu.’ Sebagian yang lain mengatakan, ’Wahai Amirul Mukminin, darahnya ada pada leherku (dalam tanggunganku), bunuhlah dia.’ Mereka mulai mengatakan, ’Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia berpuasa, dan engkau berdiri di terik matahari.' Lalu dia mengatakan kepadaku, ’Celaka engkau, wahai Ahmad, apa yang engkau katakan?’ Aku katakan, ’Berikanlah kepadaku sesuatu dari Kitab Allah dan Sunnah RasulNya hingga aku berpendapat dengannya.' Kemudian khalifah kembali lalu duduk, kemudian mengatakan kepada para eksekutor, 'Maju­lah.’ Dia memerintahkannya agar mencambuknya dengan keras. Kemudian dia berdiri kedua kalinya seraya mengatakan, 'Celaka engkau, wahai Ahmad, penuhilah perintahku'."

Imam Ahmad melanjutkan, "Mereka pun datang kepadaku seraya mengatakan, 'Wahai Ahmad, imammu berdiri di hadapan­mu.' Sebagian dari mereka mengatakan, 'Siapakah di antara saha­bat-sahabatmu yang melakukan sebagaimana yang engkau lakukan dalam perkara ini?' Al-Mu'tashim pun berkata, 'Celaka engkau! Penuhilah permintaanku sedikit saja, dan engkau akan mendapat­kan kelapangan yang sudah dekat darinya, hingga aku membe­baskanmu dengan tanganku sendiri.' Aku katakan, 'Wahai Amirul Mukminin, berikanlah kepadaku sesuatu dari Kitab Allah dan Sunnah RasulNya hingga aku berpendapat dengannya.' Al-Mu'tashim pun kembali, lalu duduk seraya mengatakan kepada eksekutor, 'Majulah.' Maka seorang eksekutor maju dan mencambukku dengan dua kali cambukan, lalu menyingkir. Ketika itulah, al-Mu'tashim memerintahkan mereka agar mencambuk dengan keras seraya mengatakan, 'Keraskanlah! Semoga memutus tangan kalian'."

Imam Ahmad menceritakan, "Lalu hilanglah akalku (tidak sadar). Setelah itu, aku siuman, ternyata belenggu-belenggu telah dilepaskan dariku. Seorang laki-laki dari orang-orang yang hadir mengatakan, 'Sesungguhnya kami melindungi wajahmu, dan kami taruh tikar di atas punggungmu, serta kami menginjak-injakmu'."

Ahmad mengatakan, "Aku tidak merasakan apa-apa," lalu mereka membawakan sawiq44 kepadaku seraya mengatakan ke­padaku, "Minumlah dan muntahkanlah." Aku katakan, "Aku tidak ingin membatalkan puasa." Kemudian aku dibawa ke rumah Ishaq bin Ibrahim, lalu Shalat Zhuhur tiba, maka Ibnu Sama'ah maju sebagai imam shalat. Setelah selesai dari shalat, dia mengatakan kepadaku, "Apakah engkau shalat dalam keadaan darah mengalir di pakaianmu?" Ahmad menjawab, "Umar shalat dalam keadaan lukanya mengalirkan darah."

Sebagian ahli sejarah mengatakan, ujian itu terjadi pada 219 H, dan aku melihat di suatu tempat bahwa itu terjadi pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan 220 H. Dan yang benar ialah apa yang telah kami kemukakan tentang permulaan berita ujian itu bahwa kejadiannya pada bulan Ramadhan, 218 H. Bukti­nya bahwa Bisyr al-Marisi, selaku orang yang memiliki andil paling besar, meninggal pada bulan Dzulhijjah 218 H. Ada yang menga­takan, kematiannya pada 219 H, sebagaimana pendapat sebagian sejarawan. Namun pendapat pertamalah yang paling utama; ka­rena al-Mu'tashim menjabat sebagai khalifah setelah al-Ma'mun, dan masuk Baghdad pada awal Ramadhan 218 H, sebagaimana yang telah dikemukakan, sedangkan Imam Ahmad di dalam pen­jara dan mendapat ujian setelah dia memasuki Baghdad.

Sungguh aku melihat di tempat yang lain bahwa Imam Ahmad dikeluarkan dari penjara di bulan Ramadhan 220 H. Ini pendapat yang terarah, yang didukung oleh apa yang baru saja kami kemukakan, bahwa dia mendekam di penjara sekitar 28 bulan; karena permulaan penahanannya pada masa al-Ma'mun sebelum wafatnya, dan wafatnya al-Ma'mun terjadi pada bulan Rajab 218 H. Lalu dari tarikh itu hingga Ramadhan 220 H, sekitar 28 bulan. Dari situ tampak jelas kebenaran pendapat yang mengatakan bahwa ujian itu terjadi pada bulan Ramadhan 218 H, dan dia dikeluarkan dari penjara pada bulan Ramadhan, 228 H. 45 Wallahu a'lam.

Tatkala al-Watsiq menjabat sebagai khalifah setelah al-Mu’tashim; -dia adalah Abu Ja'far Harun bin al-Mu'tashim, menjabat pada bulan Rabi'ul Awwal 227 H-, Imam Ahmad tidak mengalami suatu apa pun. Hanya saja khalifah mengirimkan utusan kepada­nya untuk menyampaikan, "Jangan tinggal bersamaku di negeri yang sama." Dalam suatu riwayat, "Dia memerintahkannya untuk tidak keluar dari rumahnya. Akibatnya Imam Ahmad bersembunyi di sejumlah tempat, kemudian kembali ke rumahnya, lalu bersem­bunyi di dalamnya selama beberapa bulan hingga al-Watsiq me­ninggal.46

Tatkala al-Mutawakkil menjabat sebagai khalifah setelah al- Watsiq -dia adalah Abu al-Fadhl Ja’far bin al-Mu tashim, menjahat khalifah pada bulan Dzulhijjah th. 202-47 dia menyelisihi keyakinan yang selama ini dianut oleh al-Ma'mun, al-Mu tashim, dan al-Watsiq. Dia mengecam mereka yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah mahluk. Dia melarang perdebatan dan perbantahan, dan menindak siapa saja vang melakukan hal itu, serta memerintahkan agar menunjukkan riwayat hadits.

Dengannya Allah memenangkan Sunnah, mematikan bid’ah, menyingkap kesusahan dari manusia, dan menerangi kegelapan. Dia membebaskan orang-orang yang dipenjara karena berpendapat bahwa al-Qur an adalah makhluk, dan menghilangkan fitnah dari manusia, sehingga orang-orang bergembira dengan kepemim­pinannya.

Dia memerintahkan supaya menangkap Muhammad bin Abdul Malik az-Zayyat, sang menteri, dan meletakkannya di tungku hingga mati. Hal itu terjadi pada 233 H. Sementara Allah menimpakan kepada Ahmad bin Abu Dawud dengan kelumpuhan selang 47 hari setelah kematian si menteri. Kemudian yang mengganti­kan kedudukannya sebagai qadhi adalah putranya, Abu al-Walid Muhammad. Namun jalan yang ditempuhnya tidak disukai, banyak orang yang mencelanya, dan sedikit orang yang menghargainya. Kemudian al-Mutawakkil murka terhadap Ahmad bin Abu Dawud dan putranya, Muhammad, pada 239 H. Dia mengambil semua properti dan harta bapak dari anaknya sebanyak 120.000 dinar, dan barang berharga senilai 40.000 dinar, lalu membawanya ke Baghdad dari kota Surra Man Ra’a.48

Kemudian dia mengangkat al-Qadhi Yahya bin Aktsam sebagai qadhi al-qudhah (hakim agung)49, karena dia adalah salah seorang imam agama dan ulama Sunnah. Kemudian Ahmad bin Abu Dawud meninggal karena penyakit kelumpuhan pada bulan Muharram 240 H. Sedangkan putranya, Muhammad, meninggal selang empat puluh hari sebelumnya. Sementara Bisyr al-Marisi telah dibinasakan Allah, dan meninggal pada bulan Dzulhijjah 218 H, dalam riwayat lain 219 H,

Dari Imran bin Musa, dia mengatakan, Aku menemui Abu aI-Aruq al-Jallad (sang algojo) yang telah memukul Ahmad, untuk melihatnya, ternyata dia terus menggonggong selama 45 hari seba­gaimana anjing menggonggong.

Allah telah membalas semua musuh Imam Ahmad, yaitu para pelaku bid'ah yang telah mengada-ada dalam urusan agama- Nya, lalu Dia menghinakan mereka, dan menolongnya atas mereka berkat daya dan kekuatan Allah, keberkahan Kitab SuciNya, dan Sunnah NabiNya, Muhammad

Al-Mutawakkil segera berbuat baik kepada Imam Ahmad, mengagungkan, dan memuliakannya. Dia menulis kepada wakil­nya di Baghdad, Ishaq bin Ibrahim, agar mengutus orang kepada­nya dengan membawa Imam Ahmad. Dia pun menyiapkannya sebagai orang yang dimuliakan untuk dibawa kepada Khalifah al-Mutawakkil Alallah di Surra Man Ra'a.

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal mengatakan, "Al-Mutawak­kil mengutus seseorang kepadanya untuk mengatakan. Sungguh aku ingin melihatmu, dan mencari berkah dengan doamu," Kemudian kami keluar dari Baghdad, lalu kami singgah di sebuah rumah, dan al-Mutawakkil melihat kami dari balik tirai. Sebagian pelayan mengabarkan bahwa tatkala al-Mutawakkil duduk di belakang tirai, dan Sang Imam masuk rumah, maka al-Mutawakkil menga­takan kepada ibunya. “Wahai ibu, rumah ini telah bercahaya”

Abdullah melanjutkan, Lalu dia memerintahkan untuk memberikan pakaian, dirham, dan harta pilihan kepada ayahku. Ayahku pun menangis seraya mengatakan. Aku selamat dari mereka sejak 60 tahun. Ketika pada akhir usia, aku diuji dengan mereka. Ketika mereka datang membawa harta pilihan, dia tidak menyentuhnya, begitu pula selainnya. Dia menaruhnya di atas pundaknya, dan dia terus bergerak (membawanya pergi) hingga melemparkannya, Al-Mutawakkil mengirimkan harta yang banyak kepadanya, lalu Ahmad bin Hanbal menolak menerimanya, maka dikatakan kepadanya, ‘Jika engkau mengembalikannya, maka dia akan marah dalam dirinya terhadapmu.’ Ahmad pun membagi- bagikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya, dan dia tidak mengambil darinya sedikitpun. Setiap hari al-Mutawakkil mengirimkan kepadanya makanan istimewanya, dan dia tidak makan darinya sesuap pun."

Shalih mengatakan, ”Al-Mutawakkil memerintahkan agar membelikan rumah untuk Imam Ahmad, maka Imam Ahmad me­ngatakan, Wahai Shalih, jika engkau menerima untuk dibelikan rumah oleh mereka, maka terputuslah hubungan antara diriku denganmu.’ Imam Ahmad tetap menolak dibelikan rumah, hingga dia terpaksa pergi, lalu pulang lagi ke Baghdad. Al-Mutawakkil tidak mengangkat seseorang pun sebagai penguasa kecuali dengan meminta saran terlebih dahulu kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad hingga waktu wafatnya, kerap kali menerima surat dari Khalifah yang ditujukan kepadanya berkenaan dengan perkara-perkara yang harus dia musyawarahkan dengannya dan meminta petunjuk kepadanya, semoga Allah merahmati dan meridhainya."50'

9. GURU-GURU DAN MURID-MURID AHMAD BIN HANBAL

Guru-Gurunya:

Al-Khathib51 mengatakan, "Dia mendengar dari Ismail bin Ulayyah, Husyaim bin Basyir, Hammad bin Khalid al-Khayyath, Manshur bin Salamah al-Khuza’i, al-Muzhaffar bin Mudrik, Utsman bin Umar bin Faris, Abu an-Nadhr Hasyim bin al-Qasim, Abu Said maula Bani Hasyim, Muhammad bin Yazid al-Wasithi, Yazid bin Harun al-Wasithi, Muhammad bin Abu Adi, Muhammad bin Ja'far Ghundar, Yahya bin Said al-Qaththan, Abdurrahman bin Mahdi, Bisyr bin al-Mufadhdhal Muhammad bin Bakar al-Barsani, Abu Dawud ath-Thayalisi, Rauh bin Ubadah, Waki' bin al-Jarrah, Abu Mu’awivah adh-Dharir, Abdullah bin Numair, Abu Usamah, Sufyan bin Uyainah, Yahya bin Sulaim ath-Tha ifi, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, Ibrahim bin Sa’d az-Zuhri, Abdurrazzaq bin Hammam, Abu Qurrah Musa bin Thariq, al-Walid bin Muslim, Abu Mushir ad-Dimasqi, Abu al-Yaman, Ali bin Ayyasy al-Himshi, Bisyr bin Syu'aib bin Abu Hamzah al-Himshi, dan banyak lainnya selain mereka yang terlalu panjang untuk disebutkan dan sulit untuk disebutkan nama mereka satu persatu. Al-Mizzi menyebut­kan dalam Tahdzibnya sebanyak 104 orang dari gurunya. Namun itu juga bukan untuk menyebutkan secara keseluruhannya. Wallahu a'lam52

Murid-muridnya:

Al-Khathib mengatakan, "Sedangkan yang meriwayatkan dari Imam Ahmad lebih dari satu orang dari guru-gurunya, yang telah kami sebutkan nama mereka. Ilmunya juga dituturkan oleh kedua putranya, Shalih dan Abdullah, anak pamannya, Hanbal bin Ishaq, al-Hasan bin ash-Shabbah al-Bazzar, Muhammad bin Ishaq ash-Shaghani, Abbas bin Muhammad ad-Duri, Muhammad bin Ubaidullah al-Munada, Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi, Abu Zur'ah ar-Razi, Abu Hatim ar-Razi, Abu Dawud as-Sijistani, Abu Bakar al-Atsram, Abu Bakar al-Marwazi, Ya'qub bin Abu Syaibah, Ahmad bin Abu Khaitsamah, Abu Zur'ah ad-Dimasyqi, Ibrahim al-Harbi, Musa bin Harun, Abdullah bin Muhammad al-Baghawi, dan selain mereka."

Al-Mizzi menyebutkan juga dalam Tahdzibnya, 88 orang dari muridnya. Di antara mereka ada sejumlah orang dari kalangan gurunya, di antaranya, Muhammad bin Idris asy-Syafi'i, Waki' bin al-Jarrah, Yahya bin Adam, dan Yazid bin Harun. Sementara dari kalangan sejawatnya, ialah Ali bin al-Madini, Yahya bin Ma'in, Duhaim asy-Syami, Ahmad bin Abu al-Hawari, dan Ahmad bin Shalih al-Mishri53

10. KARYA-KARYA AHMAD BIN HANBAL zm

Adz-Dzahabi mengatakan yang ringkasnya :

Ibnul Jauzi mengatakan, "Sang Imam ini tidak memandang bolehnya menulis kitab-kitab. Dia melarang kata-kata dan masa’ilnya ditulis. Andaikata dia memandang boleh melakukan hal itu, niscaya dia memiliki banyak karya tulis. Dia menyusun al-Mushan-naf yang berisi 30.000 hadits. Dia mengatakan kepada putranya, Abdullah, 'Hafalkanlah al-Musnad ini,' karena ia kelak akan menjadi imam bagi manusia. Juga at-Tafsir yang berisikan 120.000 (atsar), an-Nasikh wa al-Mansukh, at-Tarikh, Hadits Syu'bah, al-Muqaddam wa al-Mu'akhkhar fi al-Qur'an, Jawabat al-Qur'an, al-Manasik, al-Kabir wa ash-Shaghir, dan banyak lainnya."

Adz-Dzahabi mengatakan, "Juga kitab al-Iman, dan kitab al- Asyribah. Aku melihatnya memiliki kertas dari kitab al-Faraidh. Sementara kitab at-Tafsir adalah sesuatu yang tidak ada wujudnya. Seandainya ada, niscaya orang-orang yang memiliki keutamaan telah bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Kemudian seandainya dia menyusun tafsir, niscaya itu telah mencapai lebih dari 10.000 atsar, dan niscaya membutuhkan lima jilid buku. Seba­gai contoh, Tafsir Ibnu Jarir, yang dia himpun dengan sangat meng­agumkan, ternyata tidak mencapai 20.000 atsar. Tidak ada yang menyebutkan tafsir Ahmad selain Abu al-Hasan bin al-Munada. Dia mengatakan dalam Tarikhnya, "Tidak ada seorang pun di dunia yang lebih banyak meriwayatkan dari ayahnya daripada Abdullah bin Ahmad; karena dia mendengar dari al-Musnad, yang berjumlah 30.000 hadits, dan at-Tafsir, yang berjumlah 120.000 atsar. Dia men­dengar dua pertiganya, dan sisanya dia riwayatkan dengan wijadah.

Ibnu as-Sammak mengatakan, Hanbal menuturkan kepada kami, dia mengatakan, Ahmad bin Hanbal mengumpulkan kami, yaitu aku, Shalih, dan Abdullah, lalu dia membacakan kepada kami al-Musnad, yang tidak didengar oleh selain kami, seraya mengata­kan,"Kitab ini aku himpun dan aku pilih lebih dari 150.000 hadits. Apa saja hadits Rasulullah yang diperselisihkan oleh kaum Mus­limin, maka merujuklah kepada al-Musnad ini jika kalian men­dapatinya. Jika tidak mendapatinya, maka itu bukanlah hujjah."

Adz-Dzahabi mengatakan, "Aku katakan, ’Dalam ash-Shahihain terdapat sedikit hadits yang tidak ada dalam al-Musnad. Tetapi mungkin bisa dikatakan, bahwa pernyataan Ahmad bin Hanbal tidak terbantahkan, karena kaum Muslimin tidak berselisih mengenainya. Namun bukan suatu keharusan disebabkan pernyataan ini bahwa segala yang ada di dalamnya adalah hujjah; karena di da­lamnya terdapat sejumlah hadits dhaif yang diperbolehkan untuk dinukil tapi tidak boleh dijadikan sebagai hujjah. Di dalamnya juga terdapat hadits-hadits yang dianggap menyerupai maudhu'. Tetapi ini adalah satu tetes di lautan. Dalam al-Musnad juga terdapat tambahan-tambahan yang banyak dari Abdullah bin Ahmad'54

Ibnu al-Jauzi mengatakan, “Dia -yakni Abu Abdillah-memiliki karya-karya lainnya, yaitu kitab Nafyu at-Tasybih satu jilid, kitab al-lmamah satu jilid kecil, kitab ar-Radd 'ala az-Zanadiqah tiga juz, kitab az-Zuhd55 satu jilid besar, dan kitab ar-Risalah mengenai shalat. Adz-Dzahabi mengatakan, 'Ini dibuat dengan mengatas­namakan Imam Ahmad'."

Dia mengatakan, "Juga kitab ash-Shahabah." 56 Adz-Dzahabi mengatakan, "Di dalamnya terdapat tambahan-tambahan dari Abdullah, putranya dan Abu Bakar al-Quthai'i, sahabatnya. Para pemuka muridnya telah mengkodifikasi banyak masa'il darinya dalam beberapa jilid, yaitu al-Marwazi, al-Atsram, Harb, Ibnu Hanf, al-Kausaj, dan Abu Thalib. Abu Bakar al-Khallal telah meng­himpun semua yang ada pada mereka berupa pendapat Ahmad dan fatwanya, pernyataannya tentang ilal, rijal, Sunnah, dan furu', hingga dia memperoleh darinya yang tidak bisa disebutkan banyak­nya. Dia pergi ke berbagai penjuru untuk memperolehnya, dan menulis dari sekitar seratus orang dari kalangan murid-murid Sang Imam. Kemudian dia menulis banyak dari hal itu dari sahabat- sahabat murid-muridnya. Sebagiannya dari orang lain dari Imam Ahmad. Kemudian dia menyusunnya, memilihnya, dan membuat bab-bab. Dia menyusunnya dalam kitab al-Ilm, kitab al-Ilal, dan kitab as-Sunnah. Masing-masing dari ketiganya terdiri dari tiga jilid.57

11. PENGGALAN DARI KATA-KATA AHMAD BIN HANBAL DAN SYAIR-SYAIRNYA YANG BERHARGA

Imam Ahmad ditanya tentang futuwwah (kemurahan hati), maka dia mengatakan, "(Yaitu) meninggalkan apa yang engkau inginkan karena apa yang engkau khawatirkan."

Lalu dia mengatakan, "Segala sesuatu dari kebaikan yang engkau pentingkan, maka bersegeralah untuk melakukannya sebe­lum engkau terhalang darinya."

Dari Ali bin al-Madini, dia mengatakan, "Aku meninggalkan Imam Ahmad bin Hanbal, lalu aku katakan kepadanya, ’Apakah engkau bersedia berwasiat sesuatu kepadaku?' Dia mengatakan, 'Ya, jadikanlah takwa sebagai bekalmu, dan tegakkanlah akhirat di hadapanmu’.’’

Dia mengatakan, "Aku khawatir dunia akan meluluhkan hati orang-orang yang hati mereka memahami al-Qur'an."

Dia mengatakan, "Sedikit (harta) dunia adalah lebih sedikit hisabnya

Dari Abd ash-Shamad bin Sulaiman bin Mathar, dia menga­takan, "Aku bermalam di rumah Ahmad bin Hanbal, lalu dia menyediakan air untukku. Ketika pagi harinya, dia mendapatiku tidak menggunakannya, maka dia mengatakan, ‘Ahli hadits tidak memiliki wirid pada malam hari?’ Aku katakan, ’Aku musafir.’ Dia mengatakan, 'Meskipun engkau musafir. Masruq melaksanakan haji, dan dia tidak pernah tidur kecuali dalam keadaan bersujud'."

Dari Hanbal bin Ishaq, dia mengatakan, "Ahmad bin Hanbal melihatku menulis tulisan sangat lembut, maka dia mengatakan, 'Jangan lakukan, karena sesuatu yang paling engkau butuhkan akan mengkhianatimu (maksudnya tulisan yang kecil itu tidak ter­baca olehmu)'.”

Dia mengatakan, "Makanlah bersama saudara-saudara dengan kegembiraan, bersama kaum fakir dengan mendahulukan mereka, dan bersama orang yang suka dunia dengan menjaga kepribadian."

Tsa'lab masuk menemui Ahmad bin Hanbal saat majelisnya penuh, lalu dia duduk di sampingnya seraya mengatakan, "Aku khawatir bila aku menyempitkanmu, karena suatu majelis tidak menjadi sempit karena orang-orang yang saling mencintai sedang­kan dunia tidak bisa membuat leluasa (nikmat) bagi orang-orang yang saling membenci.” Imam Ahmad mengatakan, "Teman setia itu tidak saling hitung-menghitung, sedangkan musuh itu tidak mungkin (beramal untuk) mengharapkan pahala untuknya (pasti menghitung-hitung).58

Ahmad bin Yahya mengatakan, "Aku suka bila melihat Ahmad bin Hanbal, lalu aku pergi kepadanya. Ketika aku menemuinya, dia mengatakan kepadaku, ’Karena apa engkau datang?’ Aku menja­wab, ’Untuk Nahwu dan al-Arabiyyah. Maka Imam Ahmad bersyair.

إِذَا مَا خَلَوْتَ، الدَّهْرَ يَوْماً، فَلَا تَقُلْ ، خَلَوْتَ وَلٰكِنْ قُلْ عَلَيَّ رَقِيْبُ
وَلاَ تحْسَبَنَّ اللهَ يَغْفِلُ سَاعَةً ، وَلَا أَنَّ مَا يَخْفَى عَلَيْهِ يَغِيْبُ
لهََوْنَا عَنِ الْأَعْمَالِ حَتَّى تَتَابَعَتْ ، ذُنُوْبٌ عَلَى آثَارِهِنّ ذُنُوبُ
فَيَا لَيْتَ أَنّ اللّهَ يَغْفِرُ مَا مَضَى ، وَيأْذَنُ فِي تَوْبَاتِنَا فَنَتُوْبُ
إذَا مَاتَ القَرْنُ الَّذِيْ أَنْتَ فِيْهِمْ ، وَخُلِّفْتُ فِي قَرْنٍ فَأَنْتَ غَرِيْبُ

Jika engkau sendirian di suatu masa, maka janganlah mengatakan
Aku sendirian, tetapi katakanlah, Ada yang mengawasiku
Jangan menyangka Allah lengah sesaat pun
Dan jangan menyangka sesuatu yang tersembunyi tidak diketahui-Nya
Kami lalai dari amal shatih hingga dosa dilakukan
Secara bertubi-tubi
Duhai sekiranya Allah mengampuni desa yang telah lalu
Dan mengizinkan taubat kami lalu kami bertaubat
Jika generasi di mana engkau berada di dalamnya telah mati
Dan engkau ditinggalkan berada pada generasi yang lain, maka engkau menjadi orang yang asing

Dari Ali bin Khasyram bahwa dia mendengar Ahmad bin Hanbal mengatakan,

تَفْنَى اللَّذَاذَةُ مِمَّنْ نَالَ صَفْوَتَهَا ، مِنَ الْحَرَامِ وَيَبْقَى الْإِثْمُ وَ الْعَارُ
تَبْقَى عَوَاقِبُ سُوْءٍ مِنْ مَغَبَّتِهَا ، لَا خَيْرَ فِيْ لَذَّةٍ مِنن بَعْدِهَا النَّارُ

Kelezatan lenyap dari orang yang telah mengambil kenikmatannya dari keharaman, sedangkan dosa dan aib masih tetap ada
Akibat buruk dan perbuatan itu masih tetap ada tidak ada kebaikan pada kenikmatan yang seteluhnya adalah neraka

Diriwayatkan dari ucapannya terhadap Ali bin al-Madini, ketika dia memenuhi ajakan kepada pendapat bahwa al-Qur'an adalah makhluk,

Wahai Ibnu al-Madini yang ditawarkan dunia kepadanya
Lalu dia memberikan agamanya untuk mendapatkannya
Apa yang mendorongmu untuk menyelewengkan kata-kata
Yang engkau yakini kafir bagi siapa saja yang mengucapkannya
Perkara yang tampak jelas olehmu kelurusannya lalu engkau meng­ikutinya
Ataukah kemilau dunia yang ingin engkau memperolehnya?
Aku mengenalmu suatu kali sebagai orang yang sangat keras
Sulit digiring kepada pendapat yang engkau diseru kepadanya
Orang yang tertimpa musibah ialah orang yang mendapat musibah dalam agamanya
Bukan orang yang kehilangan unta dan anak-anak untanya

12. AHMAD BIN HANBAL SAKIT DAN WAFAT

Putranya, Abdullah mengatakan, "Aku mendengar ayahku mengatakan, 'Aku genap 77 tahun.' Lalu dia demam pada malam harinya, dan meninggal pada hari kesepuluh."

Shalih mengatakan, "Tatkala pada awal hari dari bulan Rabi'ul Awwal, 241 H, ayahku demam pada malam Rabu, dan dia melewati malam dalam keadaan demam dengan bernafas sangat berat. Aku mengenali sakitnya, dan aku merawatnya ketika dia sakit. Aku katakan kepadanya, 'Wahai ayah, engkau berbuka apa tadi malam.' Dia menjawab, 'Air sayuran.' Kemudian ketika dia hendak bangkit, dia mengatakan, 'Peganglah tanganku.' Aku pun memegang tangannya. Ketika telah sampai di tempat buang air besar, kedua kakinya lemah hingga berpegangan padaku. Lebih dari seorang dokter bolak-balik datang kepadanya, semuanya Muslim, lalu dokter meresepkan kepadanya labu yang dipanggang dan diminum airnya. Ini terjadi pada hari Selasa, dan dia mening­gal pada Hari Jum'at.

Dia mengatakan, 'Wahai Shalih.' Aku katakan, 'Aku penuhi panggilanmu.' Dia mengatakan, 'Labu itu jangan dipanggang di ru­mahmu, atau di rumah saudaramu.' Saat itu al-Fath bin Sahi sudah berada di pintu untuk menjenguknya, maka dia menghalanginya. Datang pula Ali bin Ali bin al-Ja'd, maka dia menghalanginya. Ketika sudah banyak orang, maka dia mengatakan, 'Bagaimana pendapatmu?' Aku katakan, 'Izinkanlah mereka untuk menjenguk­mu sehingga mereka bisa mendoakanmu.' Dia mengatakan, 'Aku akan beristikharah kepada Allah terlebih dahulu.' Kemudian me­reka menjenguknya berombong-rombongan hingga rumah penuh, lalu mereka bertanya kepadanya dan mendoakan untuknya, kemu­dian mereka keluar. Lalu masuk rombongan lainnya, dan orang- orang menjadi banyak hingga jalanan penuh, dan kami menutup gerbang gang. Ada seorang laki-laki dari tetangga kami datang dalam keadaan mewarnai (rambutnya) dengan inai, maka ayahku mengatakan, 'Sesungguhnya aku melihat orang ini menghidupkan salah satu dari Sunnah.' Dia pun bergembira karenanya, dan mulai menggerakkan lidahnya. Dia tidak merintih kecuali pada malam di mana dia wafat. Dia tetap shalat dalam keadaan berdiri, dengan aku pegangi, lalu rukuk dan sujud, kemudian aku mengangkatnya dari rukuknya. Berhimpun padanya penyakit-penyakit sembelit dan selainnya, tapi akalnya tetap kukuh. Pada hari Jum'at, 12 malam yang telah berlalu dari bulan Rabi'ul Awwal, lebih dua jam dari siang hari, dia meninggal."

Al-Marwazi mengatakan, "Abu Abdillah sakit pada malam Rabu, dua malam yang telah berlalu dari bulan Rabi'ul Awwal. Dia sakit selama sembilan hari. Terkadang dia memberi izin kepada orang-orang untuk menjenguknya secara berombong-rombongan untuk mengucapkan salam kepadanya, dia menjawab salam me­reka dengan mengisyaratkan tangannya. Sakitnya parah pada Hari Kamis, dan aku mewudhukannya, maka dia mengatakan, 'Sela- selailah jari-jari.' Ketika pada malam Jum'at, dan sakitnya sangat parah, dia meninggal, maka orang-orang pun berteriak dan suara tangisan mengeras; seakan-akan dunia bergoncang, lalu gang-gang dan jalan-jalan penuh sesak dengan manusia."

Hanbal mengatakan, "Dia meninggal pada Hari Jum'at di bulan Rabi'ul Awwal."

Muthayyan mengatakan, "Pada tanggal 12 Rabi'ul Awwal." Demikian pula kata Abdullah bin Ahmad dan Abbas ad-Duri.

Al-Bukhari mengatakan, "Ahmad bin Hanbal sakit pada dua malam yang telah lewat dari bulan Rabi'ul Awwal, dan meninggal pada Hari Jum'at tanggal 12 yang telah lewat dari bulan Rabi'ul Awwal."

Al-Khallal mengatakan, al-Marwazi menceritakan kepada kami, dia mengatakan, "Jenazah dikeluarkan setelah orang-orang pulang dari Shalat Jum'at."

Adz-Dzahabi mengatakan, "Imam Ahmad telah meriwayatkan dalam Musnadnya, Abu Amir menceritakan kepada kami, Hisyam bin Sa'd menceritakan kepada kami, dari Sa'id bin Abu Hilal, dari Rabi'ah bin Saif, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash dari Nabi , beliau bersabda,

مَامِنْ مُسْلِمْ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمُعاتِ، إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقبْرِ

"Tidaklah seorang Muslim meninggal pada hari Jum'at, melainkan (pasti) Allah melindunginya dari fitnah kubur. 59

Shalih mengatakan, Ibnu Thahir, walikota Baghdad, meng­utus pengawalnya, Muzhaffar, dengan membawa dua orang budak yang membawa sapu tangan-sapu tangan vang berisikan pakaian dan minyak wangi, lalu mereka mengatakan, 'Amir (Ibnu Thahir) menyampaikan salam kepadamu, dan dia mengatakan, Sungguh aku melakukan sesuatu (yaitu memberikan hadiah) yang seandai­nya Amirul Mukminin hadir, niscaya dia melakukannya

Aku (Shalih) mengatakan, "Sampaikan salam kepada Amirul Mukminin, dan katakan kepadanya, Sesungguhnya Amirul Muk­minin telah melakukan terhadapnya (Ahmad) semasa hidupnya sesuatu yang membuatnya tidak suka (yaitu memberikan pem­berian), dan aku tidak ingin mengiringinya setelah kematiannya dengan sesuatu yang tidak disukainya semasa hidupnya.’ Dia pun kembali seraya mengatakan, ’Itu menjadi kain pembungkusnya,' maka aku mengulangi seperti itu lagi."

Seorang budak wanita telah menenun untuknya sebuah kain yang dihargai 28 dirham, agar dipotong menjadi dua baju. Kami pun memotong menjadi dua lembar untuknya, dan diambil darinya satu lembar lainnya, lalu kami susun dalam tiga lembar. Kemudian kami membeli pengawet untuknya. Setelah dimandikan, kami mengafaninya. Sekitar seratus orang dari Bani Hasyim datang, dan mereka mencium keningnya, hingga kami mengangkatnya di atas ranjang. Abdullah bin Ahmad mengatakan, "Ayahku dishalatkan oleh Muhammad bin Abdullah bin Thahir, dia mengalahkan kami dalam menshalatkannya. Sementara kami sudah menshalatkannya, sedangkan Bani Hasyim ada di rumah."

Ubaidullah bin Yahya Khaqan mengatakan, "Aku mendengar (khalifah) al-Mutawakkil berkata kepada Muhammad bin Abdullah, 'Beruntunglah engkau wahai Muhammad, engkau telah menshalatkan Ahmad bin Hanbal, semoga Allah merahmatinya’."

Abu Bakar al-Khallal mengatakan, Aku mendengar Abdul Wahhab al-Warraq mengatakan, "Kami belum pernah mendengar ada banyak orang berkumpul di masa jahiliah dan Islam seperti itu. hingga kami mendapatkan kabar bahwa tempat itu diratakan, dan dijaga secara shahih ternyata ada sekitar satu juta. Kami meng­hitung di kubur ada sekitar 60 ribu wanita.

Orang-orang membuka pintu-pintu rumah yang berada di pinggir jalan seraya memanggil siapa saja vang hendak berwudhu.60


  1. Bukan karena perwalian dan karena adopsi, Ed.T
  2. Secara ringkas dari al-Manhaj al-Ahmad fi Tarajum Ashhab al-Imam Ahmad, karya Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi, tahqiq Muhyiddin Abdul Hamid, 1/47
  3. Tahdzib al-Kamal, Jamaluddin al-Mizzi, 1/445, dan Siyar A’lam an-Nubala’, Syamsuddin adz-Dzahabi, Beirut; Mu'assasah ar-Risalah, t.th, 11/184.
  4. Al-Manhaj al Ahmad fi Tarajum Ashhab al-Imam Ahmad, karya Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi 1/24.
  5. Hilyah al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashfahani, Np:Mathba’ah as-Sa’adah, t.th 9/163
  6. Diringkas dari al-Manhaj al-Ahmad fi Tarajum Ashhab al-Imam Ahmad, karya Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi, 1/7,8,9
  7. Siyar A'lam an-Nubala’, Syamsuddin adz-Dzahabi, 11/215.
  8. Tarikh Baghdad, al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi, 4/508
  9. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 9/165, dan Tahdzib al-Kamal, Jamaluddin al-Mizzi, 1/453-454
  10. Tarikh Baghdad. al-Hafizh ai-Khathib al-Baghdadi, 4/420, dan disebutkan al-Mizzi dafam Tahdab al-Kamal, Jamahiddin al-Mizzi, 1/453-454
  11. Hilyah al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 9/166
  12. Siyar A’lam an-Nubala’, Syamsuddin Adz-Dzahabi, 11/195
  13. Siyar A’lam an-Nubala’, Syamsuddin Adz-Dzahabi, 11/197
  14. Siyar A’lam an-Nubala’, Syamsuddin Adz-Dzahabi, 11/198
  15. Siyar A’lam an-Nubala’, Syamsuddin Adz-Dzahabi, 11/199
  16. Tarikh Baghdad, al-Hafizh al-Khathhib al-Baghdadi, 4/419
  17. Siyar A’lam an-Nubala’, Syamsuddin adz-Dzahabi, 4/419, 420/li>
  18. Hilyah al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, Abu Nu’aim, 9/169
  19. Tarikh Baghdad, al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi, 4/421]
  20. Sirah al-Imam Ahmad, karya Abu al-Fadhl Shalih bin Ahmad bin Hanbal. hal 41, tahqiq Fu’ad Abdul Mun'im, Iskandariyah: Dar ad-Da’wah. Disebutkan pula oleh al- Ulaimi dalam al Manhaj al-Ahmad fi Tarajum Ashhab al-Imam Ahmad, karya Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi, 1/11
  21. Sirah al-Imam Ahmad, karya Abu al-Fadhl Shalih bin Ahmad bin Hanbal, hal. 42
  22. Al-Manhaj al-Ahmad fi Tarajum Ashhab al-lmam Ahmad, karya Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi, 1/11, dan disebutkan oleh Abu Nu'aim secara bersanad, 9/175
  23. Al-Manhaj al Ahmad fi Tarajum Ashhab al-lmam Ahmad, karya Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi, 1/12
  24. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya’, Abu Nu’aim, 9/178
  25. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya’, Abu Nu'aim, 9/179.180
  26. Siyar A’lam an-Nubala , Syamsuddin adz-Dzahabi, 11/229
  27. Al-Manhaj al-Ahmad fi Tarajum Ashhab al-Imam Ahmad, karya Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi, 1/11
  28. Hilyah al-Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya’, Abu Nu'aim, 9/168
  29. Diringkas dari al-Manhaj al-Ahmad fi Tarujumm Ashhab al-Imam Ahmad. karya Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi 1/12-13
  30. Siyar A’lam an-Nubala, Syamsuddin adz-Dzahabi, 11/214
  31. Siyar A’lam an-Nubala, Syamsuddin adz-Dzahabi, 11/221
  32. Al-Manhaj al-Ahmad fi Tarajum Ashhab al-lmam Ahmad, karya Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi, 1/27
  33. Al-Manhaj al-Ahmad fi Tarajum Ashhab al-lmam Ahmad, karya Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi, 1/27, dan adz-Dzahabi menyebutkan dalam as-Siyar, 11/318 yang semisal dengannya,
  34. Hilyah al-Auliya wa Thabaqat al-Ashfiya', Abu Nu’aim, 9/186-187
  35. Al-Manhaj al-Ahmad fi Tarajum Ashhab al-lmam Ahmad, karya Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi, 1/26
  36. Al-Manhaj al-Ahmad fi Tarajum Ashhab al-lmam Ahmad, karya Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi, 1/27
  37. Hilyah al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya, Abu Nu’aim, 9/221
  38. Al-Manhaj al-Ahmad fi Tarajum Ashhab al-Imam Ahmad, karya Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi, 1/24. Hadits ini diriwayatkan Malik dalam al-Muwaththa', al-Isti'dzan, 2/974; al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, al-Buyu’, 4/380; Muslim, Shahih Muslim, al-Musaqah, 10/242; ad-Darimi, Sunan ad-Darimi, 2/272; dan Ahmad, Musnad Ahmad, 3/100,174,182. Padahal pada tempat-tempat ini tidak disebutkan bahwa beliau memberikan satu dinar. Di sebagiannya disebutkan bahwa beliau memberikan satu sha’ kurma, dan di sebagiannya beliau memberikan satu sha’ gandum. Mungkin hadits-hadits ini memiliki riwayat-riwayat lainnya yang belum aku temukan.
  39. Siyar A'lam an-Nubala, Syamsuddin adz-Dzahabi, 11/213,214
  40. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, az-Zuhd, dan dia mengatakan, "Hasan shahih" 9/243; dan Ibnu Majah, Sunan Ibni Majah, no. 4023. Al-Albani mengatakan, "Hasan shahih."
  41. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, at-Fitan, no. 3781; dan at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, at-Fitan, 9/20. Hadits ini memiliki syahid pada riwayat an-Nasa'i no. 4138. Dengan syahid ini, hadits ini menjadi hasan.
  42. Siyar A'lam an-Nubala', Syamsuddin adz-Dzahabi, 11/234.
  43. Pada teks aslinya tertulis, "orang-orang yang menjaga diri", mungkin maksudnya, "orang-orang yang fanatik", sebagaimana yang diisyaratkan oleh Prof. Mithyiddin Abdul Hamid dalam al-Hamisy.
  44. Makanan yang dibuat dari tepung gandum.Ed.T.
  45. Seharusnya yang benar 220 H, Ed.T
  46. Adz-Dzahabi mengatakan, Ibrahim Nafthawaih mengatakan, Hamid bin al-Abbas menceritakan kepadaku dari seorang laki-laki, dari al-Mahdi, bahwa al-Watsiq meninggal dalam keadaan telah bertaubat dari pendapat yang menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk , Siyar A'lam an-Nubala', Syamsuddin Adz-Dzahabi, 11/316
  47. Yang benar Al-Mutawakkil menjabat sebagai khalifah pada 232 H. Ed
  48. Nama Tempat dimana khalifah berada
  49. Terdapat larangan memakai sebutan Qadhi al-Qudhah, Malik al-Muluk (Raja di Raja) syah syah
  50. Diringkas dari al-Manhaj al-Ahmad fi Tarajum Ashhab al-Imam Ahmad, karya Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi 1/31-41.
  51. Tarikh Baghdad, al-Hafizh al-Kathtib al-Baghdadi, 4/412, 413
  52. Lihat, Tahdzib al-Kamal, Jamaluddin al-Mizzi, 1/437-440
  53. Lihat, Tahdzib al-Kamal, Jamaluddin al-Mizzi, 1/440-444. Lihat juga, Tarikh al-Islam, Hawadits wa Wafayat, 241-250, Syamsuddin adz-Dzahabi, dengan tahqiq Dr. Abdussalam Tadmuri, Mesir, Dar al-Kitab al-Arabi, t.th. haL 64,65
  54. Al-Hafizh Ibnu Hajar telah menulis buku al-Qaul al-Musaddad fi adz-Dzabb ’an al- Musnad, untuk menolak pendapat yang menyatakan adanya hadits-hadits maudhu’ dalam Musnad Ahmad, semoga Allah merahmatinya dan membalasnya dengan kebaikan atas jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum Muslimin
  55. Ini dicetak dengan tanpa ditahqiq dan membutuhkan pentahqiqan dan penyusunan yang rapi. Cetakan yang ada saat ini, dengan tahqiq Abdurrahman bin Qasim, tapi ini tahqiq terhadap teks semata.
  56. Ini sudah dicetak dalam dua jilid dengan tahqiq Washiyyullah bin Muhammad Abbas, dan dicetak oleh Universitas Umm al-Qura, Makkah.
  57. Diringkas dari Siyar A'lam an-Nubala, Syamsuddin Adz-Dzahabi 11/327,331
  58. Disadur secara bebas dan ringkas dari Al-Manhaj al-Ahmad fi Tarajum Ashhab al-lmam Ahmad, karya Abu al-Yaman Majiduddin Muhammad bin Abdurrahman al-Ulaimi, 1/19,20
  59. Diriwayatkan oleh Ahmad, Musnad Ahmad, 2/169, dan at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, al-Jana 'iz, 9/295. Dia mengatakan, "Ini hadits gharib." Dia mengatakan juga, "Ini adalah hadits yang sanadnya tidak bersambung. Rabi'ah bin Saif hanyalah meriwayatkan dari Abu Abdurrahman al-Hubuli, dari Abdullah bin Amr, dan kami tidak mengetahui Rabi'ah bin Saif pernah mendengar langsung dari Abdullah bin Amr. Namun hadits ini memiliki sejumlah jalur periwayatan yang disebutkan as-Sakhawi dalam al-Maqashid al-Hasanah. Dengan demikian, hadits tersebut terangkat menjadi hadits hasan
  60. Denagn ringkas dari Tarikh al-Islam, Hawadits wa Wafayat, 241-250, Syamsuddin Adz-Dzahabi, dengan tahqiq Dr. Abdurrahman Tadmuri, Mesir:Dar al-kitab al-Arabi 137-141
Waktu Shalat
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya