Biografi Ulama Ahl Sunnah wal Jama'ah

MUSLIM BIN AL-HAJJAJ AN-NAISABURI

Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi
(Lahir. 204 H. - Wafat: 261 H)


1. NAMA, KELAHIRAN, DAN CIRI-CIRI MUSLIM BIN AL-HAJJAJ

Namanya:

Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Ward bin Kawisyadz al-Qusyairi an-Naisaburi. Kunyahnya Abu al-Hasan, seorang imam besar, al-hafizh, mujawwid[1], hujjah, jujur.

Kelahirannya:

Adz-Dzahabi mengatakan, "Dia dilahirkan pada 104 H. Namun aku menduga bahwa dia dilahirkan sebelum itu." [2]

Ciri-ciri Fisiknya:

Al-Hakim mengatakan, Aku mendengar Abdurrahman as-Sulami mengatakan, "Aku melihat seorang syaikh yang berwajah dan berpakaian bagus, memakai selendang yang bagus, dan sorban yang diulurkannya di antara kedua pundaknya, lalu dikatakan, 'Ini adalah Muslim.' Para pemilik kekuasaan datang seraya mengatakan, 'Amirul Mukminin telah memerintahkan agar Muslim bin al-Hajjaj menjadi imam kaum Muslimin.' Mereka pun mendahulukannya untuk mengimami di masjid, lalu dia bertakbir dan shalat mengimami orang banyak."[3]

Al-Hakim mengatakan juga, Aku mendengar ayahku mengatakan, "Aku melihat Muslim bin al-Hajjaj menceritakan hadits di Khan Makhmisy, dan dia berpostur tubuh sempurna, putih (rambut) kepala dan jenggotnya, mengulurkan ujung sorbannya di antara kedua pundaknya."[4]

2. PUJIAN PARA ULAMA KEPADA MUSLIM BIN AL-HAJJAJ

Dari Ahmad bin Salamah, dia mengatakan, "Aku melihat Abu Zur'ah dan Abu Hatim mendahulukan Muslim bin al-Hajjaj dalam hal pengetahuan hadits shahih daripada para syaikh di masa keduanya."[5]

Dari al-Husain bin Manshur, dia mengatakan, Aku mendengar Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali, saat menyebutkan Muslim bin al-Hajjaj, mengatakan, "Murad kabin budz." Al-Munkadiri mengatakan, "Tafsirnya, laki-laki seperti apa orang ini (ungkapan takjub)?" [6]

Abu Amr Ahmad bin al-Mubarak mengatakan, Aku mendengar Ishaq bin Manshur mengatakan kepada Muslim bin al-Hajjaj, "Kami tidak akan kehilangan kebaikan, selama Allah masih membiarkanmu hidup untuk kaum Muslimin.[7]"

Abdurrahman bin Abu Hatim mengatakan, "Dia adalah tsiqah dari kalangan huffazh. Aku menulis hadits darinya di ar-Ray. Ayahku ditanya tentangnya, maka dia menjawab, 'Shaduq'."[8]

Abu Quraisy al-Hafizh mengatakan, Aku mendengar Muhammad bin Basysyar mengatakan, "Penghafal dunia ada empat Abu Zur'ah di Ray, Muslim di Naisabur, Abdullah ad-Darimi di Samarkand, dan Muhammad bin Isma'il di Bukhara."

Abu Amr bin Hamdan mengatakan, Aku bertanya kepada Ibnu Uqdah al-Hafizh tentang al-Bukhari dan Muslim, 'Siapa yang lebih berilmu di antara keduanya?" Dia menjawab, "Muhammad adalah orang berilmu dan Muslim adalah orang yang berilmu." Aku bertanya kepadanya berkali-kali, kemudian dia mengatakan, 'Wahai Abu Amr, terkadang Muhammad bin Isma'il melakukan kekeliruan berkenaan dengan penduduk Syam. Hal itu karena dia mengambil kitab-kitab mereka, lalu melihatnya. Terkadang dia menyebutkan satu dari mereka dengan kunyahnya, dan menyebutkannya di tempat lain dengan namanya, lalu dia menyangka bahwa itu dua orang yang berbeda. Adapun Muslim maka jarang melakukan kekeliruan berkenaan dengan ilal, karena dia menulis masanid, dan tidak menulis maqathi' (yang sanadnya terputus) dan tidak pula marasil (riwayat-riwayat mursal)."

Pernyataannya, al-masanid, yakni hadits-hadits yang bersanad, hal itu karena al-Bukhari banyak menyebutkan dalam Shahihnya riwayat-riwayat yang maqthu', mauquf, dan hadits-hadits mu'alluq. Hal itu dilakukan al-Bukhari, karena di samping menyendirikan ash-Shahih, dia juga bermaksud melakukan istinbath hukum-hukum fikih dan poin-poin hukum. Sedangkan Muslim, maka dia bermaksud menghimpun hadits-hadits shahih agar menjadi rujukan bagi manusia. Dia membagi kitabnya menjadi kitab-kitab dan tidak membagi pada setiap kitab menjadi bab-bab, sedangkan al-Bukhari merasa perlu dengan riwayat-riwayat mauquf, maqthu' (terputus), dan mu'allaq, untuk pendapat-pendapat fiqhiyah yang menjadi pendapatnya. Semoga Allah merahmati semuanya.

Abu Abdillah Muhammad bin Ya'qub bin al-Akhram mengatakan, "Naisabur hanyalah mengeluarkan tiga tokoh: Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli, Muslim bin al-Hajjaj, dan Ibrahim bin Abi Thalib."[9]

An-Nawawi mengatakan, "Mereka bersepakat atas kebesarannya, imamahnya, ketinggian kedudukannya dalam disiplin ilmu ini, keunggulannya dan pendalamannya di dalamnya. Salah satu bukti terbesar atas kebesarannya, imamahnya, sikap wara'nya, kecerdasannya, kemantapannya dalam ilmu hadits, kedalamannya dan kepiawaiannya di dalamnya adalah Kitabnya, ash-Shahih, yang belum ada dalam kitab sebelumnya dan sesudahnya berupa kebagusan susunannya, dan peringkasan jalur-jalur hadits dengan tanpa penambahan dan pengurangan." Dia mengatakan lebih lanjut, "Ketahuilah, bahwa Muslim adalah salah satu imam di bidang ini, tokohnya, penghafalnya yang memiliki kesempurnaan hafalan, orang yang melakukan perjalanan dalam mencari ilmu kepada Imam di berbagai negeri, orang yang diakui keunggulannya dengan tanpa diperselisihkan di kalangan orang-orang yang memiliki kecerdasan dan pengetahuan, kilabnya menjadi rujukan, dan dijadikan sebagai pegangan di segala zaman."[10]

Abu Abdillah ai-Hakim menukil bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab al-Farra mengatakan. "Muslim bin al-Hajjaj adalah salah satu ulama umat, dan salah satu wadah ilmu.[11]

Al-Hafizh mengatakan, "Dia tsiqah, hafizh, imam, mushannif. [12]

3. URGENSI KITAB SHAHIH MUSLIM

An-Nawawi mengatakan. ‘Barangsiapa memandang dengan cermat kitab Shahih Muslim. dan melihat isnadnya, sususnannya, kebagusan redaksinya, dan keindahan metodenya, yaitu penelitian yang cermat, ketelitian yang jelas, aneka macam sikap wara', kehati-hatian. kecermatan dalam memilih riwayat, memangkas jalur jalur isnad, meneguhkan yang berserak, banyak menelaahnya, luas riwayatnya, dan selainnya, berupa hal-hal yang bagus mengagumkan, rahasia-rahasia yang jelas. dan hal hal yang tersembunyi maka diketahuilah bahwa dia adalah seorang imam yang tidak akan terkejar oleh orang-orang sesudah zamannya. Jarang sekali ada orang yang menyamainya. bahkan mendekatinya dan orang-orang sezamannya. Itu adalah anugerah yang diberikan Allah kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah memiliki karunia yang besar.[13]

Al-Hafizh mengatakan, "Muslim memperoleh dalam kitabnya keberuntungan yang besar, yang belum pernah seorangpun memperoleh seperti itu. sehingga sebagian orang lebih mengutamakannya daripada kitab Shahih Muhammad bin Ismail. Hal ini karena kitab ini memiliki keistimewaan. yaitu menghimpun jalur-jalur periwayatan, meredaksikan dengan baik, dan menjaga lafazh hadits sebagaimana adanya dengan tanpa pemenggalan atau meriwayatkan secara maknanya saja. Sejumlah orang Naisabur mengikuti metodenya, tetapi mereka tidak mencapai kedudukannya Mahasuci Allah Yang Maha Pemberi.[14]

Ibnu Katsir mengatakan mengenai biografi Imam Muslim, "Dia adalah penulis ash-Shahih, yang mengiringi Shahih al-Bukhari, menurut mayoritas ulama. Sementara penduduk Maghrib dan Abu Ali an-Naisaburi bersikap lebih mendahulukan Shahih Muslim daripada Shahih al-Bukhari. jika mereka bermaksud mendahulukannya daripada Shahih al-Bukhan, (karena di dalamnya tidak terdapat riwayat-riwayat mu'allaq kecuali sedikit, dan dia mengemukakan hadits-hadits secara sempurna di satu tempat, dan tidak memenggalnya sebagaimana yang dilakukan al-Bukhari di sejumlah bab), maka hal ini tidak bisa menandingi kekuatan sanad-sanad al-Bukhari, dan pemilihan hadits-hadits yang dilakukannya dalam ash-Shahih, sebagaimana yang dia kemukakan dalam Jami'nya, dengan mensyaratkan perawi sezaman dengan syaikhnya dan mendengar langsung darinya.[15]

Adz-Dzahabi mengatakan, “Dalam Shahih Muslim tidak ada al-Awali (sanad-sanad yang tinggi), kecuali sedikit, seperti al-Qa'nabi dari Aflah bin Humaid, kemudian hadits Hammad bin Salamah, Hammam, Malik, dan al-Laits. Dalam kitab itu tidak ada hadits yang bersanad tinggi milik Syu’bah, ats-Tsauri, atau Isra'il. Ia adalah kitab yang berharga, sempurna maknanya. Ketika huffazh melihatnya, maka mereka mengaguminya, dan mereka belum mendengarkannya, karena lebih rendah tingkatan (sanad)nya. Karena itu, mereka menyengaja kepada hadits-hadits kitab ini, lalu mereka menyitirnya dari riwayat-riwayat mereka, yang lebih tinggi satu atau dua tingkatan, dan semisalnya. Sampai-sampai mereka menerapkan semuanya demikian, dan mereka menamakannya, al-Mustakhraj ala Shahih Muslim. Hal itu dilakukan oleh sejumlah tokoh hadits, di antaranya Abu Bakar Muhammad bin Muhammad bin Raja' , Abu Awanah Y a'qub bin ishaq al-Isfirayini, dan dia menambah dalam kitabnya sejumlah matan terkenal, yang sebagiannya lemah, az-Zahid Abu Ja'far Ahmad bin Hamdan al-Hairi, Abu al-Walid Hassan bin Muhammad al-Faqih, Abu Hamid Ahmad bin Muhammad asy-Syariki al-Harawi, Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Zakaria al-Jauzaqi, Imam Abu Ali al-Masarjisi, dan banyak lainnya yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu sekarang."[16]

Al-Hafizh Abu al-Qasim bin Asakir mengatakan di awal al-Athrafnya, setelah menyebutkan Shahih al-Bukhari, "Kemudian jalannya diikuti oleh Muslim bin al-Hajjaj. Dalam mentakhrij, menulis karya, dan menyusun kitabnya, dia bertumpu pada dua macam. Dia menyengaja menyebutkan, di bagian pertama, hadits-hadits dari orang-orang yang memiliki kesempurnaan hafalan. Sementara di bagian kedua, ialah hadits-hadits dari orang-orang yang memiliki riwayat dan kejujuran, yaitu orang-orang yang tidak mencapai derajat memiliki kekuatan hafalan. Namun kematian menghalangi dirinya dari keinginan tersebut. Dia wafat sebelum menyempurnakan kitabnya. Hanya saja kitabnya, meskipun terdapat kekurangan, telah masyhur dan tersebar luas."[17]

Al-Hakim mengatakan, "Muslim bermaksud mentakhrij ash-Shahih dalam tiga bagian dan tiga tingkatan perawi. Hal ini dia sebutkan di awal mukadimah kitabnya. Namun dia tidak ditakdirkan kecuali merampungkan tingkatan pertama, lalu meninggal.” Kemudian al-Hakim menyebutkan pernyataan, yang sebenarnya hanya klaim semata, dengan mengatakan, "Dia tidak menyebutkan dari hadits-hadits itu kecuali hadits yang diriwayatkan oleh seorang sahabat masyhur yang memiliki dua perawi tsiqah atau lebih, kemudian yang meriwayatkan darinya juga ialah dua perawi tsiqah atau lebih, kemudian demikian juga sesudah mereka. Abu Ali al-Jayyani mengatakan, "Maksudnya bahwa sahabat atau tabi'i ini, haditsnya diriwayatkan oleh dua orang yang dengan keduanya keluar dari batasan jahalah (tidak dikenal)."

Al-Qadhi lyadh mengatakan, "Apa yang ditakwilkan oleh al-Hakim atas Muslim berupa datangnya kematian sebelum menyempurnakan tujuannya, kecuali pada tingkatan pertama (saja), maka aku katakan. Sesungguhnya jika engkau memperhatikan pembagian hadits yang dilakukan Muslim dalam kitabnya, ternyata berdasarkan pada tiga tingkatan manusia dengan tanpa pengulangan. Dia menvebutkan bahwa bagian pertama adalah hadits para huffazh.' Kemudian dia mengatakan. Ketika sudah selesai, maka dia mengiringinya dengan hadits-hadits orang vang tidak disifati sebagai perawi yang cerdas dan sempurna. Dia menyebutkan bahwa mereka itu para penyusul tingkatan pertama. Mereka ini disebutkan dalam kitabnya, bagi siapa saja yang memperhatikan bab-babnya. Sedangkan tingkatan vang ketiga, ialah kaum yang dibicarakan oleh suatu kaum dan dipuji oleh kaum lainnva; lalu dia mengeluarkan hadits mereka dari orang yang dinilai dhaif atau dituduh sebagai pelaku bid'ah. Demikian pula hal itu dilakukan oleh al-Bukhari'."

Kemudian al-Qadhi Iyadh mengatakan, 'Menurutku bahwa dia menyebutkan tingkatan ketiga dalam kitabnya, dan membuans tingkatan keempat."

Adz-Dzahabi mengatakan, Bahkan, dia meriwayatkan hadits-hadits strata pertama dan hadits strata kedua, kecuali hanya sedikit yang dinilai munkar milik kalangan dari strata kedua. Kemudian dia meriwayatkan hadits-hadits dari orang-orang strata ketiga, tapi tidak banyak, sebagai syawahid, i'tibarat, dan mutaba'at. Jarang sekali dia meriwayatkan suatu riwayat mereka di dalam hadits pokok (ushul). Seandainya dia mengambil hadits-hadits dari orang-orang strata ini dalam ash-Shahih, niscaya kitab ini telah berukuran dua kali lipatnya, dan niscaya kitabnya akan turun dari tingkatan shahih disebabkan hal tersebut. Mereka itu seperti Atha' bin as-Sa'ib, Laits, Yazid bin Abu Ziyad, Aban bin Sham'ah, Muhammad bin Ishaq, Muhammad bin Amr bin Alqamah, dan segolongan seperti mereka. Muslim tidak meriwayatkan riwayat mereka kecuali hadits (mutaba’ah) setelah hadits (ushul) apabila hadits (mutaba'ah) itu memiliki asal. Sesungguhnya vang membawakan hadits-hadits mereka dan memperbanyaknya adalah Ahmad dalam Musnadnya, Abu Dawud, an-Nasa'i, dan selain mereka. Apabila mereka merasa perlu turun meriwayatkan hadits-hadits dari para perawi dhaif, yang notabene adalah orang-orang strata keempat, maka mereka memilih darinya dan tidak melingkupinya (dengan memperbanyaknya), sesuai pendapat dan ijtihad mereka dalam hal itu.

Adapun orang-orang dari strata kelima, seperti orang-orang yang disepakati untuk dienyahkan dan ditinggalkan; karena tidak memiliki pemahaman dan ketelitian, atau karena tertuduh dusta, maka jarang sekali Ahmad dan an-Nasa'i menyebutkan riwayat mereka. Abu Isa menyebutkan riwayat mereka, lalu menjelaskannya berdasarkan ijtihadnya, tetapi sedikit. Ibnu Majah menyebutkan sedikit hadits-hadits mereka, dan tanpa menjelaskan. Wallahu a'lam Sementara Abu Dawud jarang sekali menyebutkannya, dan jika menyebutkannya, maka dia biasanya menjelaskannya.

Adapun orang-orang dari strata keenam, seperti orang-orang ekstrim dari kalangan Rafidhah, Jahmiyyah provokator, para pendusta dan pemalsu, orang-orang yang ditinggalkan haditsnya (matrukin) lagi celaka, seperti Umar bin ash-Shabbah, Muhammad al-Mashlub, Nuh bin Abu Maryam, Ahmad al-Juwaibari, dan Abu Hudzaifah al-Bukhari, maka mereka tidak memiliki satu huruf pun dalam kitab-kitab hadits, selain Umar; karena Ibnu Majah meriwayatkan satu hadits darinya, lalu dia tidak melakukan tindakan yang benar. Demikian pula Ibnu Majah meriwayatkan satu hadits al-Waqidi, dengan memanipulasi namanya dan menyamarkannya.[18]

An-Nawawi mengatakan, "Di antara keutamaan Shahih Muslim, ialah berita yang sampai kepada kami bahwa Makki bin Abdan, hafizh Naisabur mengatakan, 'Aku mendengar Muslim bin al-Hajjaj mengatakan, 'Seandainya ahli hadits menulis hadits selama 200 tahun, maka mereka berporoskan pada Musnad ini,' yakni kitab Shahihnya"

Dia mengatakan, Aku mendengar Muslim mengatakan, "Aku telah mengemukakan kitabku ini kepada Abu Zur'ah ar-Razi, maka semua yang diisyaratkannya bahwa hadits itu memiliki illah, maka aku tinggalkan, dan semua yang dikatakannya bahwa itu shahih dan tidak ada illah di dalamnya, maka aku mentakhrijnya."

Selainnya menyebutkan sebagaimana yang diriwayatkan al-Hafizh Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi dengan sanadnya dari Muslim, dia mengatakan, "Aku menyusun al-Musnad ash-Shahih ini dari 300.000 hadits yang didengar secara langsung."[19]

4. KETELITIAN MUSLIM BIN AL-HAJJAJ DAN PENYELIDIKANNYA YANG KETAT DALAM MENYUSUN ASH-SHAHIH Al-JAMI'

An-Nawawi mengatakan yang kesimpulannya, "Dalam Shahihnya, Muslim menempuh metode-metode yang sangat hati-hati, cermat, wara', dan pengetahuan (yang ilmiah). Hal itu menunjukkan kesempurnaan wara'nya, kesempurnaan pengetahuannya, keluasan ilmunya, ketelitiannya yang luar biasa terhadap hafalannya, penguasaannya terhadap bidang ini, penguasaannya terhadap aneka macam pengetahuannya, kecemerlangannya dalam disiplin ilmu ini, kedudukannya yang tinggi dalam kemampuan memilah di antara ilmu-ilmunya yang rumit Tidak ada yang bisa melakukan hal itu kecuali hanya beberapa gelintir orang di berbagai masa. Semoga Allah merahmatinya dan meridhainya. Aku akan menyebutkan beberapa contoh mengenai hal itu, untuk mengingatkan kepada selainnya. Sebab, hakikat ihwalnya tidak diketahui kecuali oleh orang yang mencermati kitabnya dengan haik, di samping memiliki keahlian yang sempurna dan mengetahui macam-macam ilmu yang dibutuhkan oleh orang yang ahli di bidang ini, seperti fikih, ushul, Bahasa Arab, Asma' Rijal (nama-nama perawi), kedetilan ilmu sanad dan sejarah, bergaul dengan para ahli di bidang ini dan melakukan kajian bersama mereka, disertai pemikiran yang bagus, kecemerlangan otak, senantiasa menyibukkan diri dengannya, dan alat-alat lainnya yang dibutuhkannya.

Di antara kecermatan Muslim , ialah perhatiannya dalam membedakan antara haddatsana dan akhbarana. serta membatasi hal itu pada guru-gurunya dan dalam riwayatnya. Madzhabnya adalah membedakan di antara keduanya, dan bahwa haddatsana tidak boleh diucapkan secara mutlak kecuali terhadap apa yang telah didengarnya dan lafazh syaikhnya secara khusus. Sedangkan akhbarana adalah untuk apa yang dibacakan kepada syaikh. Pembedaan itu adalah madzhab asy-Syafi'i dan mayoritas ulama di Masyriq

Di antaranya, ialah perhatiannya dalam menetapkan perselisihan lafazh para perawi, seperti pernyataannya, "Fulan dan fulan menceritakan kepada kami, dan lafazh ini milik fulan, dia mengatakan, atau keduanya mengatakan, fulan menceritakan kepada kami." Demikian pula apabila terdapat perbedaan huruf dari matan hadits, sifat perawi, nasabnya, atau semisalnya, maka dia mejeelaskannya. Terkadang sebagiannya tidak menyebabkan perubahan makna, dan terkadang sebagiannya menyebabkan perbedaan makna. Tetapi ini tersembunyi yang tidak dimengerti kecuali oleh orang yang mahir dalam berbagai ilmu yang telah kami sebutkan di awal pasal, di samping menelaah kedetilan fikih dan madzhab-madzhab fuqaha"

Di antaranya, ialah ketelitiannya dalam meriwayatkan shahifah Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah, seperti pernyataannya, Muhammad bin Rafi' menceritakan kepada kami, dia mengatakan, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma’mar menceritakan kepada kami dari Hammam, dia mengatakan, ’Inilah yang diceritakan kepada kami oleh Abu Hurairah. dari Muhammad, Rasulullah " lalu dia menyebutkan beberapa hadits. di antaranya, Rasulullah bersabda,

أِذَا تَوَضَّأَ أَحَدَكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ

"Apabila salah seorang dan kalian berwudhu, maka hendaklah beristinsyaq" (Al-Hadits)

Di antaranya adalah kehati-hatiannya dalam pernyataannya, "Abdullah bin Maslamah menceritakan kepada kami, Sulaiman -yakni ibnu Bilal- menceritakan kepada kami dari Yahya, dan dia adalah Ibnu Sa'id Karena dia (Muslim) 'menilai tidak boleh, Sulaiman bin Bilal meriwayatkan dari Yahya bin Sa'id'. karena dia tidak menyebutkan penisbatan dalam riwayatnya. Seandainya dia mengatakannya dengan penisbatan, niscaya dia mengabarkan dari syaikhnya bahwa syaikh tersebut mengabarkannya dengan nasab nya.

Termasuk di antaranya, ialah kehati-hatiannya dalam meringkas jalur-jalur hadits dan rmerubah sanad-sanad, disertai peringkasan ungkapan dan pengungkapan yang sempurna. Termasuk diantaranya, susunannya yang hagus. mengemukakan hadits-hadits dengan alur sesuai dengan yang dituntut oleh penelitiannya, kesempurnaan pengetahuannya tentang letak-letak pembicaraan, kedetilan ilmu, pokok-pokok kaidah, ilmu sanad yang tersembunyi, tingkatan perawi, dan selainnya.[20]

5. JAWABAN TERHADAP ORANG YANG MENCELA IMAM MUSLIM KARENA MERIWAYATKAN DARI SEGOLONGAN ORANG YANG DIPERBINCANGKAN KARENA KEDHAIFANNYA

An-Nawawi mengatakan yang kesimpulannya, "Orang-orang mencela Imam Muslim karena meriwayatkan dalam Shahihnya dari segolongan perawi dhaif, dan para perawi pertengahan yang masuk dalam strata kedua, yaitu orang-orang yang bukan termasuk syarat shahih. Sebenarnya hal itu bukan suatu yang tercela, tetapi jawabannya ditinjau dari beberapa aspek sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Imam Abu Amr bin ash-Shalah .

Pertama, mungkin dia termasuk perawi dhaif bagi selainnya (Muslim), tapi tsiqah baginya, dan tidak bisa dikatakan bahwa jarh didahulukan daripada ta'dil; karena hal itu hanya berlaku, bila jarh tersebut sudah menjadi ketetapan, sudah jelas sebabnya. Jika tidak, maka jarh tidak diterima, bila tidak demikian.

Imam al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Khathib al-Baghdadi dan selainnya mengatakan, "Segolongan perawi yang dijadikan hujjah oleh al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud, yang sudah diketahui adanya celaan terhadap mereka dari selain mereka, harus diartikan bahwa celaan yang berpengaruh lagi jelas sebabnya itu belum menjadi ketetapan."

Kedua, dia dimasukkan sebagai mutaba'at dan syawahid, bukan sebagai pokok. Yaitu pertama-tama, dengan menyebutkan suatu hadits dengan sanad yang bersih, perawinya tsiqah, dan menjadikannya sebagai pokok, kemudian mengiringinya dengan sanad lainnya atau beberapa sanad yang di dalamnya terdapat sebagian perawi dhaif, sebagai penguat dengan mutaba'ah, atau sebagai tambahan, untuk mengingatkan faidah pada apa yang telah di-kemukakannya.

Ketiga, mungkin itu termasuk kedhaifan dari perawi dhaif yang bisa dijadikan sebagai hujjah, yang mengalami kekacauan hafalan setelah haditsnya diambil darinya. Ini bukan suatu tercela berkenaan dengan hadits yang diriwayatkannya sebelumnya pada masa kelurusannya (sebelum pikun dan sebagainya). Hal ini sebagaimana yang menimpa Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb, keponakan Abdullah bin Wahb. Al-Hakim Abu Abdillah menyebutkan bahwa dia (Ahmad bin Abdurrahman) mengalami kekacauan hafalan setelah 250 H, setelah Muslim keluar dari Mesir. Dia, dalam hal itu, seperti Sa'id bin Abu Arubah, Abdurrazzaq dan selain keduanya, yang mengalami kekacauan hafalan di akhir usianya. Hal itu tidak menghalangi keabsahan berhujjah dengan hadits-hadits yang diambil dari mereka sebelum terjadinya kepikunan.

Keempat, dia meninggikan sanadnya lewat seorang perawi dhaif. Menurutnya, hadits tersebut dari jalur riwayat tsiqat bersanad nazil. Karena itu, dia mencukupkan pada sanad yang tinggi, dan tidak memperpanjang dengan menambahkan yang lebih rendah kepadanya. Dia mencukupkan (pembahasannya) dengan pengetahuan yang dimiliki orang-orang yang ahli mengenai hal itu.[21]

6. ANTARA SHAHIH AL-BUKHARI DAN SHAHIH MUSLIM

An-Nawawi mengatakan, "Para ulama bersepakat bahwa kitab paling shahih setelah al-Qur'an adalah ash-Shahihain, al-Bukhari dan Muslim. Keduanya telah mendapatkan penerimaan dari umat ini. Kitab al-Bukhari adalah kitab yang paling shahih di antara keduanya, dan paling banyak faidah dan pengetahuannya, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Kenyataan membuktikan bahwa Imam Muslim termasuk orang yang memetik faidah dari Imam al-Bukhari, dan mengakui bahwa dia tidak ada tandingannya dalam ilmu hadits. Apa yang kami sebutkan berupa pendapat untuk menguatkan kitab al-Bukhari, adalah madzhab yang dipilih, yang dinyatakan oleh jumhur ulama, orang-orang yang memiliki kesempurnaan dan kecerdasan, serta orang-orang yang menyelami rahasia-rahasia hadits. Abu Ali al-Husain bin Ali an-Naisaburi, al-Hafizh, guru al-Hakim Abu Abdillah bin ar-Rabi', mengatakan, 'Kitab Imam Muslim lebih shahih.' Pernyataannya ini disetujui oleh para syaikh Maghrib. Namun yang benar adalah pendapat yang pertama. Imam hafizh faqih nazhzhar, Abu Bakar al-Isma'ili, telah menetapkan dalam kitabnya, al-Madkhal, untuk menguatkan kitab al-Bukhari. Kami meriwayatkan dari Imam Abu Abdirrahman an-Nasa'i bahwa dia mengatakan, Tidak ada dalam semua kitab-kitab ini yang lebih bagus daripada kitab al-Bukhari"

An-Nawawi berkata, "Di antara ringkasan yang membuatnya rajih adalah kesepakatan para ulama bahwa al-Bukhari lebih baik daripada Muslim, lebih tahu tentang teknik periwayatan hadits. Sungguh dia telah memilih ilmunya padanya (periwayatan hadits), dan meringkas sesuatu yang dia ridhai dalam kitab ini, dan menetapkan pada Tahdzibnya, memilahnya selama enam belas tahun, serta mengumpulkannya dari ribuan hadits-hadits shahih.

Di antara hal yang membuat kitab al-Bukhari lebih rajih bahwa metode Muslim -bahkan dia menukil ijma' di awal Shahihnya- adalah menganggap sanad al-mu'an'an (diriwayatkan dengan lafazh fulan dari fulan) memiliki hukum maushul dengan ungkapannya, 'Aku mendengar cukup dengan periwayatan mu'an'an yang kedua periwayatnya hidup di satu masa meskipun belum terpastikan tentang bertemunya keduanya'. Sementara al-Bukhari tidak membawakannya pada hukum ittishal (bersambung) hingga terbuktikan tentang pertemuan antara keduanya. Inilah metode yang merajihkan kitab al-Bukhari.

Muslim memiliki keistimewaan dengan faidah yang bagus, yaitu mudah diambil, karena dia meletakkan tiap-tiap hadits pada satu tempat yang sesuai untuknya, di mana dia menghimpun jalur-jalur periwayatannya yang dia ridhai, memilih untuk menyebutkannya, dan mengemukakan sanad-sanadnya dan lafazh-lafazhnya yang bermacam-macam. Hal itu memudahkan bagi penuntut ilmu memperhatikan segala sisinya, mengambil manfaatnya, dan memperoleh keyakinan terhadap semua jalurnya yang dikemukakan oleh Muslim. Berbeda dengan al-Bukhari, karena dia menyebutkan berbagai sisi yang bermacam-macam di bab-bab yang terpisah lagi berjauhan, dan banyak di antaranya dia sebutkan di selain babnya, yang memberikan kesan pada pemahaman (kita) bahwa itu lebih utama baginya. Hai itu karena kedetilan yang dipahami al-Bukhari darinya. Sehingga hal itu menyulitkan penuntut ilmu untuk menghimpun semua jalur periwayatannya, dan mendapat keyakinan terhadap semua yang disebutkan ai-Bukhari berupa jalur-jalur hadits ini."[22]

As-Suyuthi mengatakan saat menafsirkan ucapan an-Nawawi dalam at-Taqrib, "Al-Bukhari adalah yang paling shahih di antara keduanya, dan paling banyak faidahnya. Ada yang mengatakan, Muslim lebih shahih. Namun yang benar adalah yang pertama, dan inilah pendapat jumhur, karena dia (al-Bukhari) lebih bersambung, dan lebih sempurna perawinya. Penjelasan mengenai hal itu ditinjau dari beberapa aspek:

Pertama, para perawi yang riwayatnya disebutkan al-Bukhari, secara sendirian tanpa Muslim, ada 433-439 orang, yang diperbincangkan di antara mereka karena kelemahannya ada 80 orang. Sementara para perawi yang riwayatnya disebutkan Muslim, secara sendirian tanpa al-Bukhari ada 620. yang diperbincangkan di antara mereka ada 160 orang

Tidak diragukan lagi bahwa periwayatan dari orang yang tidak perbincangkan sama sekali adalah lebih utama daripada periwayatan dari orang yang diperbincangkan, meskipun pembicaraan tersebut tidak menodai keshahihan hadits

Kedua para perawi yang disebutkan al-Bukhari secara sendirian, yaitu orang-orang yang masih diperbincangkan, maka al-Bukhari tidak banyak meriwayatkan hadits hadits mereka Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki naskah banyak, lalu dia meriwayatkan semuanya atau sebagian besarnya, kecuali riwayat Ikrimah dari Ibnu Abbas Berbeda dengan Muslim, karena dia meriwayatkannya atau memperbanyaknya, seperti Abu az-Zubair dari Jabir. Suhail dari ayahnya, al-Ala' bin Abdurrahman dari ayahnya. Hammad bin Salamah dari Tsabit, dan selainnya

Ketiga, para perawi yang hanya disebutkan ai-Bukhari secara sendirian, dan kalangan yang diperbincangkan, kebanyakan mereka berasal dan guru-gurunya, yang pernah dia temui, duduk di majelis mereka, mengetahui ihwal mereka, menelaah hadits-hadits mereka, dan mengetahui hadits-haditsnya yang bagus dari yang tidak bagus. Berbeda dengan Muslim, karena kebanyakan para perawi yang dia sebutkan haditsnya secara tersendiri, dari kalangan yang masih diperbincangkan, adalah berasal dari kalangan yang telah mendahului zamannya, yaitu tabi'in dan orang-orang sesudah mereka. Tidak diragukan lagi bahwa ahli hadits itu lebih tahu tentang hadits para syaikhnya daripada (hadits milik) orang-orang yang mendahului mereka.

Keempat, al-Bukhari meriwayatkan dari strata pertama yang sangat mendalam hafalan dan kesempurnaannya, dan meriwayatkan dari strata berikutnya dalam hal kekuatan hafalan dan menyertai dalam waktu yang lama secara bersambung dan mu'allaq. Sementara Muslim meriwayatkan dari tingkatan ini sebagai pokok, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh al-Hazimi.

Kelima, Muslim berpendapat bahwa mu'an'an itu memiliki hukum bersambung, apabila kedua perawi hidup semasa, meskipun tidak ada bukti bahwa keduanya pernah bertemu secara langsung. Sementara al-Bukhari tidak berpendapat demikian, hingga terbukti keduanya pernah bertemu, sebagaimana yang akan disebutkan. Terkadang al-Bukhari meriwayatkan hadits yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan bab, kecuali hanya untuk menjelaskan bahwa perawi pernah mendengar secara langsung dari gurunya, karena dia telah meriwayatkan haditsnya sebelum itu secara mu'an'an.

Keenam, hadits-hadits yang dikritik dalam ash-Shahihain ada sekitar 210 hadits, sebagaimana yang akan diterangkan, di antaranya kurang dari 80 hadits terdapat dalam al-Bukhari. Tidak diragukan lagi bahwa yang lebih sedikit kritikannya adalah lebih kuat daripada yang lebih banyak kritikannya.

Al-Mushannif mengatakan dalam Syarh al-Bukhari, "Di antara kekhususan yang menjadikan kitab al-Bukhari lebih kuat, ialah kesepakatan ulama bahwa al-Bukhari lebih besar daripada Muslim dan lebih mengetahui tentang hadits berikut detil-detilnva. Dia telah memilih ilmunya, dan meringkas apa yang diridhainya dalam kitab ini."

Syaikhul Islam mengatakan, "Para ulama bersepakat bahwa Imam al-Bukhari lebih besar daripada Imam Muslim dalam hal ilmu dan lebih tahu tentang teknik ilmu hadits. Sedangkan Imam Muslim adalah muridnya dan alumnusnya. Imam Muslim senantiasa memetik manfaat darinya, dan mengikuti jejaknya, hingga ad-Daruquthni mengatakan, "Seandainya bukan karena al-Bukhari niscaya Muslim tidak pergi dan datang"[23] Kita tutup pasal ke dengan pernyataan sebagian dari mereka,

Suatu kaum berselisih tentang al-Bukhari dam Muslim
Manakah di antara keduanya yang lebih didahulukan dalam keutamaan
Aku katakan, sungguh al-Bukhari telah unggul dalam keshahihan
Sebagaimana Muslim unggul dalam kebagusan teknis penyusunan[24]

7. GURU-GURU DAN MURID-MURID MUSLIM BIN AL-HAJJAJ

Guru-gurunya:

Al-Khathib al-Baghdadi mengatakan, "Dia melakukan perjalanan ke Irak, Hijaz, Syam, dan Mesir, mendengar dari Yahya bin Yahya an-Naisaburi, Qutaibah bin Sa'id, lshaq bin Rahawaih, Muhammad bin Amr Zunaij, Muhammad bin Mihran al-Jamal, Ibrahim bin Musa al-Farra', Ali bin al-Ja'd, Ahmad bin Hanbal, Ubaidullah al-Qawariri, Khalaf bin Hisyam, Suraij bin Yunus, Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabi, Abu ar-Rabi' az-Zahrani, Ubaidullah bin Mu'adz, Umar bin Hafsh bin Ghiyats, Amr bin Thalhah al-Qannadah, Malik bin Isma'il an-Nahdi, Ahmad bin Yunus, Ahmad bin Jawwas, Isma il bin Abi Uwais, Ibrahim bin al-Mundzir, Abu Mushab az-Zuhri, Sa‘id bin Manshur, Muhammad bin Ramh, Harmalah bin Yahya, Amr bin Sawwad, dan selain mereka.[25]

Al-Mizzi menyebutkan dalam Tahdzib al-Kamal sebanyak 224 guru.[26]

Murid-muridnya:

Adz-Dzahabi mengatakan, "Sementara yang meriwayatkan darinya, ialah at-Tirmidzi, yang meriwayatkan satu hadits darinya dalam jami'nya, Muhammad bin Abdul Wahhab al-Farra', Ali bin al-Hasan bin Abu Isa al-Hilali (keduanya lebih tua daripadanya), Shalih bin Muhammad Jazarah, Ahmad bin Maslamah, Ahmad bin al-Mubarak al-Mustamli (mereka adalah sejawabnya), Ibrahim bin Abi Thalib, al-Husain bin Muhammad al-Qabbani, Ali bin al-Husain bin al-Junaid ar-Razi, Ibnu Khuzaimah, Abu al-Abbas as-Siraj, Ibnu Sha'id, Abu Hamid Ibnu asy-Syarqi, Abu Awanah al-Isfara’ini, Abu Hamid Ahmad bin Hamdun al-A'masy, Sa‘id bin Amr at-Bardza'i, Abdurrahman bin Abi Hatim, Nashr bin Ahmad bin Nashr al-Hafizh, Ahmad bin Ali bin al-Husain al-Qalanisi, Ibrahim bin Muhammad, Sufyan al-Faqih, Abu Bakar Muhammad bin an-Nadhr al-Jarudi, Makki bin Abdan, Muhammad bin Makhlad al-Aththar, dan banyak lainnya. Yang terakhir wafat dari mereka adalah Abu Hamid Ahmad bin Ali bin Hasanawaih al-Muqri salah satu perawi dhaif.[27] Lihat Tahdzib al-Kamal (27/504-505).

8. PENINGGALAN MUSLIM BIN AL-HAJJAJ

An-Nawawi mengatakan, ’’Muslim menulis banyak kitab dalam ilmu hadits, di antaranya kitab Shahih ini, yang dengannya Allah Yang Maha Pemurah -dan Dia memiliki pujian, nikmat, dan karunia- memberi anugerah kepada kaum Muslimin. Dengannya, Dia mengabadikan nama yang harum bagi Muslim dan pujian yang baik hingga Hari Pembalasan, di samping apa yang telah disiapkanNya untuknya berupa pahala yang banyak di negeri keabadian. Buku ini telah merata manfaatnya bagi seluruh kaum Muslimin, Di antara kitabnya, ialah al-kitab al-Musnad al-Kabir ala Asma' ar-Rijal, kitab al-Jami al-Kabir ala al-Abwab, kitab al-Ilal, kitab Auham al-Muhadditsin, kitab at-Tamyiz, kitab Man Laisa Lahtt Illa Rawin Wahid, kitab Thabaqat at-Tabi'in, kitab al-Mukhadhramin, dan selainnya.’’[28]

Fu'ad Sazkin menyebutkan dalam Tarikh at-Turats, bahwa dia memiliki kitab al-Kuna wa al-Asma, kitab al-Munfaridat wa al-Wihdat, dan mungkin inilah yang diisyaratkan an-Nawawi sebagai Kitab Man Laisa Lahu lila Rawin Wahid.

Kitab ath-Thabaqat, berisikan orang-orang yang hidup sezaman dengan Rasulullah, yaitu orang-orang yang melihat dan meriwayatkan dari beliau, dan orang-orang yang menyaksikan beliau saja tapi tidak meriwayatkan dari beliau.

Rijal Urwah bin az-Zubair, dan kitab at-Tamyiz[29], sebagaimana yang disebutkan dalam pernyataan an-Nawawi.

Adz-Dzahabi menambahkan dalam as-Siyar, selain apa yang telah disebutkannya, yaitu kitab al-Aqran, kitab Su'alat Ahmad bin Hanbal, kitab Amr bin Syu'aib, kitab al-Intifa' bi Ahb as-Siba', kitab Masyayikh Malik, kitab Masyayikh ats-Tsauri, kitab Masyayikh Syu'bah, dan kitab Afrad asy-Syamiyyin.[30]

9. MUSLIM BIN AL-HAJJAJ WAFAT

Adz-Dzahabi mengatakan, "Muslim wafat pada bulan Rajab 261 H, di Naisabur, dalam usia 53-59 tahun."

Terdapat kisah tentang sebab wafatnya, sebagaimana disebutkan al-Khathib dalam Tarikhnya, dari Ahmad bin Salamah, dia mengatakan, "Suatu saat diadakan majelis mudzakarah untuk Muslim, lalu disebutkan kepadanya hadits yang tidak dikenalnya, maka dia pergi ke rumahnya dan menyalakan lampu seraya mengatakan kepada orang-orang yang ada di rumah, 'Tidak boleh masuk seorang pun dari kalian.' Dikatakan kepadanya, 'Telah dihadiahkan kepada kami sekeranjang kurma.' Dia mengatakan, 'Bawalah kurma itu.' Mereka pun membawanya kepadanya. Dia pun mulai mencari hadits, dan mengambil kurma satu persatu hingga pagi. Ketika kurma habis, dia mendapatkan hadits itu."

Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Abdillah al-Hakim, kemudian dia mengatakan, "Orang yang tsiqah dari sahabat kami menambahkan kepadaku bahwa dia wafat karenanya."[31]



[1] Seorang yang membawa hadits dengan baik, teliti, dan cermat.

[2] Tarikh al-Islam, Syamsuddin adz-Dzahabi, 20/183.

[3] Siyar A'lam an-Nubala, Syamsuddin adz-Dzahabi, 12/566.

[4] Siyar A’lam an-Nubala', Syamsuddin adz-Dzahabi, 12/570.

[5] Tarikh Baghdad, al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi, 13/101.

[6] Tarikh Baghdad, al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi, 13/102.

[7] Tarikh al-lslam, Syamsuddin adz-Dzahabi, 20/184.

[8] Tarikh al-Islam, Syamsuddin adz-Dzahabi, 20/185.

[9] Siyar A'lam an-Nubala', Syamsuddin adz-Dzahabi, 12/565; dan Tarikh al-Islam, Syamsuddin adz-Dzahabi, 20/195.

[10] Tahdzib Al-Asma' wa al-Lughat, Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, 2/90.91, dan dia menukilnya juga dalam mukaddimah Syarh Shahih Muslim I/10 dengan ringkas

[11] Siyar A'lam an-Nubala, Syamsuddin adz-Dzahabi, 12/579.

[12] Taqrib at-Tahdzib, Ibnu Hajar al-Asqalani, Siria, Dar ar-Rasyid, dengan tahqiq Muhammad Awwamah, 1406 H, hal. 529 biografi no 6623

[13] Tahdzib Al-Asma' wa al-Lughat, Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, 2/91.92, dan muqaddimah Shahih Muslim , Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, 8/11

[14] Tahdzib at-Tahdzib, Ibnu Hajar al-Asqalani, 10/114

[15] Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, 11/33

[16] Siyar A'lam an-Nubala', Syamsuddin adz-Dzahabi, 12/569, 570.

[17] Siyar A'lam an-Nubala', Syamsuddin adz-Dzahabi, 12/573-574.

[18] Siyar Alam an-Nubala', Syamsuddin adz-Dzahabi, 12/574-576.

[19] Muqaddimah Syarh an-Nawawi li Shahih Muslim, Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi Np: Cetakan Qurthubah, 1/34

[20] Diringkas dari Muqaddimah Imam an-Nawawi li Syarh Shahih Muslim, Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, 1/43,44.

[21] Muqaddimah Imam an-Nawawi li Syarh Shahih Muslim, Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, 1/47, 48.

[22] Taqrib ar-Rawi Syarh Taqrib an-Nawawi, Jalaluddin as-Suyuthi, 1/91-93

[23] Dinukil dari Muqaddimah Khulashah al-Qaul al-Muhfim 'ala tarajum Rijal Jami' al-Imam Muslim, Muhammad al-Atsyubi, 1/14

[24] Tarikh Baghdad, al-Hafizh al-Khathib al-baghdadi 13/100-101

[25] Tarikh al-Islam, Syamsuddin adz-Dzahabi, 20/183-184.

[26] Tahdzib al-Kamal, Jamaluddin Al-Mizzi, 27/499-504

[27] Tarikh al-Islam, Syamsuddin adz-Dzahabi, 20/183-184.

[28] Tahdzib Al-Asma' wa al-Lughat, Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, 2/91

[29] Tarikh at-Turats al-Arabi, Fu'ad Sazkin, 2/222

[30] Siyar Alam an-Nubala', Syamsuddin adz-Dzahabi, 12/579.

[31] al-Jarh wa at-Ta'dil, Ibnu Abi Hatim, 4/102

Waktu Shalat
Donasi & Infaq - Shadaqah

a.n. MULYATI
No. Rek : [147] 8010104978

a.n. IRWAN SUPRIATNA
No. Rek : [008] 152-00-0926962-8

Your Donation Give us Support
Comment
  • [Ismail - 2020-10-15 19:02:01] بارك الله فيكم
  • [Irwan Supriatna - 2018-12-27 18:21:32] Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah yang telah menggerakkan hati hamba-Nya sehingga web ini kembali aktif. Shalawat dan Salam semoga tercurah buat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya