Isi Tafsir Al-Qur'an

Al Qiyaamah

HARI KIAMAT DAN HURU-HARANYA
Kekuasaan Allah Menghidupkan Manusia Seperti Semula

لَآ أُقْسِمُ بِيَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ . وَلَآ أُقْسِمُ بِٱلنَّفْسِ ٱللَّوَّامَةِ . أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَٰنُ أَلَّن نَّجْمَعَ عِظَامَهُۥ . بَلَىٰ قَٰدِرِينَ عَلَىٰٓ أَن نُّسَوِّىَ بَنَانَهُۥ

(1-4) "Aku bersumpah dengan Hari Kiamat, dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu mencela (dirinya sendiri atas kelalaiannya).1053 Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? (Bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna."

Allah bersumpah dengan hari perhitungan amal dan pembalasan. Allah juga bersumpah dengan jiwa beriman yang bertakwa yang mengkritik pemiliknya saat meninggalkan ketaatan dan melakukan kemaksiatan, bahwa manusia akan dibangkitkan. Apakah manusia kafir itu menyangka Kami tidak kuasa mengumpulkan tulang belulangnya sesudah ia berserakan? Dugaan itu salah besar, sebaliknya Kami akan mengumpulkannya, Kami Mahakuasa sesudah mengumpulkannya dan menyatukannya untuk membentuk dan menyusun kembali jari-jari dan ruas-ruasnya sebagaimana sebelum dia mati.


[1053] Bahkan bila ia berbuat kebaikan, juga akan menyesal kenapa la tidak berbuat lebih banyak.

بَلْ يُرِيدُ ٱلْإِنسَٰنُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُۥ . يَسْـَٔلُ أَيَّانَ يَوْمُ ٱلْقِيَٰمَةِ

(5-6) "Tetapi manusia ingin terus berbuat maksiat (pada masa) mendatang. Dia bertanya, 'Kapankah Hari Kiamat itu terjadi?'"

Manusia mengingkari kebangkitan, dia ingin tetap berbuat dosa-dosa pada umurnya yang tersisa, orang kafir ini bertanya sebagai ungkapan tidak mungkinnya Hari Kiamat terjadi, "Kapankah Hari Kiamat?"

فَإِذَا بَرِقَ ٱلْبَصَرُ . وَخَسَفَ ٱلْقَمَرُ . وَجُمِعَ ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ . يَقُولُ ٱلْإِنسَٰنُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ ٱلْمَفَرُّ

(7-10) "Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan bulan pun telah hilang cahayanya, lalu matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata, 'Ke mana tempat melarikan diri?'"

Manakala pandangan mata terbelalak, terkejut ketakutan melihat kengerian pada Hari Kiamat, rembulan hilang cahayanya, matahari dan rembulan dikumpulkan, cahaya keduanya sama-sama hilang, tidak ada lagi cahaya bagi keduanya; saat itu manusia bertanya, "Ke mana tempat berlari dari azab?"

كَلَّا لَا وَزَرَ . إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ ٱلْمُسْتَقَرُّ

(11-12) "Tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tiihanmu tempat kembali pada hari itu"

Perkaranya tidak sebagaimana yang kamu angankan wahai manusia, bahwa kamu bisa berlari. Tidak ada tempat untuk berlari dan selamat. Hanya kepada Allah semata tempat kembali seluruh makhluk pada Hari Kiamat, maka Allah membalas masing-masing sesuai dengan yang berhak dia dapatkan.

يُنَبَّؤُاْ ٱلْإِنسَٰنُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ

(13) "Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dia kerjakan dan apa yang dia lalaikan."

Hari itu manusia diberitahu semua amal-amalnya, yang baik dan yang buruk, apa yang dia lakukan selama hidupnya dan apa yang dia lalaikan?

بَلِ ٱلْإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفْسِهِۦ بَصِيرَةٌ . وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ

(14-15) "Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri,1054 meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya "

Manusia adalah hujjah yang terang atas dirinya sendiri yang mengikatnya dengan apa yang dia lakukan dan apa yang dia tinggalkan, sekalipun dia menghadirkan segala alasan atas kejahatannya, ia tidak bermanfaat baginya.


[1054] Yakni, anggota badan manusia akan menjadi saksi terhadap amal perbuatan yang telah mereka lakukan di dunia, seperti tersebut dalam Surat an-Nur: 24.

Tertib Ayat-ayat dan Surat-surat Dalam al-Qur'an Menurut Ketentuan Allah

لَا تُحَرِّكْ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِۦٓ . إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُۥ وَقُرْءَانَهُۥ . فَإِذَا قَرَأْنَٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ . ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُۥ

(16-19) "Janganlah engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca al-Qur'an) karena ingin cepat-cepat (menguasai)nya.1055 Sesungguhnya Kamilah yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kami-lah Yang akan menjelaskannya."

Jangan menggerakkan lisanmu wahai Nabi, untuk membaca al-Qur'an saat wahyu turun, agar kamu bisa menghafalnya dengan cepat karena kamu khawatir ia akan terlewatkan darimu. Sesungguhnya kewajiban Kami-lah mengumpulkannya di dalam dadamu, kemudian Kami membacakannya dengan lisanmu kapan kamu berkehendak. Bila rasul Kami, Jibril, membacakannya kepadamu, maka dengarkanlah bacaannya dan diamlah, kemudian bacalah sebagaimana dia membacakannya kepadamu, kemudian Kami-lah yang akan menjelaskan apa yang musykil bagimu pemahamannya dari makna-makna dan hukum-hukumnya.


[1055] Yakni, Nabi Muhammad dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril kalimat demi kalimat, sebelum Jibril selesai membacakannya, agar beliau segera dapat menghafal. Lihat Surat Thaha: 114.

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ ٱلْعَاجِلَةَ . وَتَذَرُونَ ٱلْءَاخِرَةَ

(20-21) "Tidak! Bahkan kalian mencintai yang segera (kehidupan dunia), dan mengabaikan (kehidupan) akhirat."

Perkaranya tidak sebagaimana yang kalian klaim wahai kaum musyrikin, bahwa tidak ada kebangkitan, dan tidak ada pembalasan amal, sebaliknya kalian adalah orang-orang yang mencintai dunia dan perhiasannya, meninggalkan dan melalaikan akhirat dengan segala kenikmatannya.

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ . إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

(22-23) "Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannya ia memandang."

Wajah orang-orang yang berbahagia pada Hari Kiamat akan berbinar, bersuka cita dan bergembira, wajah-wajah itu akan melihat Penciptanya dan pemegang urusannya, maka wajah-wajah itu mendapatkan kenikmatan karenanya.

وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ . تَظُنُّ أَن يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ

(24-25) "Dan wajah-wajah (orang-orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepada mereka malapetaka yang sangat dahsyat."

Sedangkan wajah orang-orang yang sengsara pada Hari Kiamat bermuram durja dan cemberut, wajah-wajah itu yakin akan ditimpa musibah besar yang menghancurkan tulang punggung mereka.

Keadaan Manusia di Saat Sakratulmaut

كَلَّآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلتَّرَاقِىَ . وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍ . وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلْفِرَاقُ . وَٱلْتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ . إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ ٱلْمَسَاقُ

(26-30) "Tidak! Apabila (nyawa) telah sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya), 'Siapa yang dapat menyembuhkan?' Dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan betis (kiri) bertaut dengan betis (kanan),1056 kepada Tuhanmu-lah pada hari itu kamu dihalau."

Benar, manakala ruh telah naik ke dada bagian atas, sebagian hadirin berkata kepada sebagian lainnya, "Adakah peruqyah yang bisa meruqyah dan menyembuhkan apa yang dialaminya?" Yang bersangkutan yakin bahwa apa yang terjadi padanya adalah perpisahannya dengan alam dunia, karena dia telah menyaksikan malaikat maut dengan matanya, beban berat perpisahan dunia bertemu dengan beban berat awal perjumpaan dengan akhirat. Hanya kepada Allah semata para hamba akan dikumpulkan, selanjutnya surga atau neraka.


[1056] Karena hebatnya penderitaan pada saat akan mati dan ketakutan akan meninggalkan dunia, serta menghadapi akhirat.

فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّىٰ . وَلَٰكِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ . ثُمَّ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ . أَوْلَىٰ لَكَ فَأَوْلَىٰ . ثُمَّ أَوْلَىٰ لَكَ فَأَوْلَىٰٓ

(31-35) "Karena dia (dahulu) tidak mau membenarkan (al-Qur'an dan Rasul) dan tidak mau melaksanakan shalat, tetapi justru dia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian dia pergi kepada keluarganya dengan sombong. Celakalah kamu! Maka celakalah! Sekali lagi, celakalah kamu (manusia)! Maka celakalah!"

Orang kafir itu tidak beriman kepada Rasul dan al-Qur'an, serta dia tidak menunaikan kewajiban shalat untuk Allah, sebaliknya dia malah mendustakan al-Qur'an, berpaling dan menolak beriman, kemudian dia kembali kepada keluarganya dengan berjalan penuh kesombongan. Celakalah kamu dan celakalah, kemudian celakalah kamu dan celakalah.

Manusia Dijadikan Allah Tidak Dengan Sia-sia

أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَٰنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى . أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِىٍّ يُمْنَىٰ . ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ . فَجَعَلَ مِنْهُ ٱلزَّوْجَيْنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ . أَلَيْسَ ذَٰلِكَ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحْۦِىَ ٱلْمَوْتَىٰ

(36-40) "Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban) ? Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian (mani itu) menjadi segumpal darah (yang lengket), lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan ? Bukankah (Allah yang berbuat) demikian kuasa (pula) menghidupkan orang-orang mati?"

Apakah manusia pengingkar kebangkitan ini menyangka akan dibiarkan begitu saja, tidak diperintah dan tidak dilarang, tidak dihisab dan tidak dihukum? Bukankah manusia ini dulunya hanya setetes air hina dari sperma yang dikeluarkan dan dimasukkan ke rahim, kemudian ia menjadi segumpal darah yang beku, lalu Allah menciptakannya dengan KuasaNya, dan membentuk ciptaannya dalam bentuk terbaik? Lalu Allah menciptakan dari manusia ini dua jenis: Laki-laki dan wanita. Bukankah Tuhan yang menciptakan segala sesuatu ini Mahakuasa untuk mengembalikan seluruh makhluk sesudah mereka fana? Tentu, karena sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.