Isi Tafsir Al-Qur'an

An Nuur

HUKUM-HUKUM PERZINAAN DAN HUKUM-HUKUM PERGAULAN
Hukum Perzinaan

سُورَةٌ أَنزَلْنَٰهَا وَفَرَضْنَٰهَا وَأَنزَلْنَا فِيهَآ ءَايَٰتٍ بَيِّنَٰتٍ لَّعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

(1) "(Inilah) suatu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kalian ingat."

Ini adalah surat agung dari al-Qur’an yang Kami turunkan dan Kami mewajibkan mengamalkan hukum-hukumnya, dan Kami menurunkan di dalamnya petunjuk-petunjuk yang nyata, supaya kalian, wahai kaum Mukminin, mengingat ayat-ayat yang nyata ini dan kemudian melaksanakannya.

ٱلزَّانِيَةُ وَٱلزَّانِى فَٱجْلِدُواْ كُلَّ وَٰحِدٍ مِّنْهُمَا مِاْئَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِى دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَآئِفَةٌ مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

(2) "Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman."

Wanita pezina dan lelaki pezina yang belum pernah menjalani pernikahan sebelumnya, hukuman masing-masing mereka adalah seratus cambukan, dan bersama itu terdapat hukum tetap dalam as-Sunnah, yaitu pengasingan selama setahun. Dan janganlah rasa iba kalian terhadap mereka berdua mendorong kalian meninggalkan hukuman pidana tersebut atau meringankannya, bila kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir, serta menjalankan hukum-hukum Islam. Dan hendaknya sejumlah orang dari kalangan kaum Mukminin menyaksikan pelaksanaan hukuman itu; sebagai bentuk perlakuan buruk (bagi pelaku), pencegahan, nasihat dan pelajaran (bagi orang lain).

ٱلزَّانِى لَا يَنكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَٱلزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَآ إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ

(3) "Pezina laki-laki tidak boleh menikah, kecuali dengan pezina perempuan atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh dinikahi, kecuali oleh pezina laki-laki atau laki-laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang Mukmin."

Lelaki pezina tidak menikah, kecuali dengan wanita pezina atau seorang wanita musyrik yang tidak mengakui haramnya perzinaan. Dan wanita pezina tidak dinikahi, kecuali oleh lelaki pezina atau seorang lelaki musyrik yang tidak mengakui haramnya perzinaan. Dan pernikahan demikian diharamkan bagi kaum Mukminin. Ini merupakan dalil jelas tentang haramnya menikahi wanita pezina hingga dia bertaubat, demikian pula tentang haramnya menikahkan lelaki pezina, kecuali jika dia telah bertaubat.

Hukum Menuduh Wanita yang Baik-baik Berzina

وَٱلَّذِينَ يَرْمُونَ ٱلْمُحْصَنَٰتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُواْ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَآءَ فَٱجْلِدُوهُمْ ثَمَٰنِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُواْ لَهُمْ شَهَٰدَةً أَبَدًا ۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

(4) "Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berzina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali, dan janganlah kalian menerima kesaksian mereka untuk selama-lamanya, dan mereka itulah orang-orang yang fasik,"

Dan orang-orang yang melontarkan tuduhan keji kepada pribadi-pribadi yang bersih, baik dari kaum lelaki maupun kaum wanita, tanpa ada empat orang saksi jujur yang menyertai mereka (para penuduh), maka deralah mereka dengan cambuk sebanyak 80 kali, dan janganlah kalian terima persaksian mereka selamanya. Oan mereka itu adalah orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah.

إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

(5) “kecuali mereka yang bertaubat setelah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Akan tetapi, orang yang bertaubat dan menyesal, dan mencabut tuduhannya, serta memperbaiki dirinya, maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosanya, merahmatinya, dan menerima taubatnya.

Hukum Li'an

وَٱلَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَٰجَهُمْ وَلَمْ يَكُن لَّهُمْ شُهَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمْ فَشَهَٰدَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَٰدَٰتٍ بِٱللَّهِ ۙ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ . وَٱلْخَٰمِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ ٱللَّهِ عَلَيْهِ إِن كَانَ مِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ

(6-7) "Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka kesaksian masing-masing orang itu ialah empat kali bersumpah dengan (Nama) Allah, bahwa sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berkata benar. Dan (sumpah) yang kelima bahwa laknat Allah akan menimpanya Jika dia termasuk orang-orang yang berdusta."690

Dan suami-suami yang melontarkan tuduhan zina kepada istri-istri mereka, akan tetapi mereka tidak memiliki saksi-saksi yang mendukung tuduhan mereka, kecuali mereka sendiri, maka suami harus bersaksi di hadapan hakim sebanyak empat kali dengan mengatakan, "Saya bersaksi dengan Nama Allah bahwa sesungguhnya saya benar dalam tuduhan zina yang saya alamatkan kepadanya." Dan pada persaksian kelima, dia menambahkan doa buruk pada dirinya untuk mendapatkan laknat Allah, jika dia dusta dalam ucapannya itu.


[690] Maksud ayat 6-7 ialah orang yang menuduh istrinya berbuat zina dengan tidak mengajukan empat orang saksi, haruslah bersumpah dengan Nama Allah mpat kali, bahwa dia adalah benar dalam tuduhannya itu. Kemudian dia bersumpah sekali lagi bahwa dia akan kena laknat Allah ,jika dia berdusta. Masalah ini dalam fikih dikenal dengan li’an.

وَيَدْرَؤُاْ عَنْهَا ٱلْعَذَابَ أَن تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَٰدَٰتٍ بِٱللَّهِ ۙ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ . وَٱلْخَٰمِسَةَ أَنَّ غَضَبَ ٱللَّهِ عَلَيْهَآ إِن كَانَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ

(8-9) "Dan yang menghindarkan hukuman darinya (istrinya) adalah bahwa dia bersumpah empat kali dengan (Nama) Allah bahwa dia (suaminya) benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta, dan (sumpah) yang kelima bahwa kemurkaan Allah akan menimpanya (istri), jika dia (suaminya) itu termasuk orang yang berkata benar"

Dengan persaksian sang suami itu, seorang istri terkena hukuman pidana atas tindakan perzinaan, yaitu hukum rajam hingga mati. Dan tidak ada yang bisa membatalkan vonis hukuman ini, kecuali wanita itu bersaksi empat kali dengan Nama Allah untuk melawan (menolak) persaksian suaminya, bahwa suaminya benar-benar bohong dalam tuduhannya kepada dirinya dengan perbuatan zina. Dan pada persaksian kelima, si istri menambahkan doa keburukan pada dirinya untuk mendapatkan kemurkaan Allah, bila suaminya ternyata berkata benar dalam tuduhannya. Dan dalam kondisi demikian, mereka dipisahkan dari hubungan pernikahan mereka.

وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ وَأَنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ

(10) "Dan seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kalian, (niscaya kalian akan menemui kesulitan). Dan bahwasanya Allah Maha Penerima Taubat lagi Mahabijaksana."

Dan sekiranya bukan karena karunia Allah pada kalian dan rahmatNya, wahai kaum Mukminin, dengan menetapkan aturan ini pada pasangan-pasangan suami dan istri, pastilah akan menimpa pihak yang berdusta dari dua belah pihak yang saling melaknat dengan doa buruk yang akan menimpa dirinya (jika berbohong), dan sesungguhnya Allah Maha Menerima taubat orang yang bertaubat dari hamba-hambaNya, Mahabijaksana dalam penetapan syariat dan pengaturanNya.

Tuduhan yang Bohong Terhadap Aisyah Ummul Mukminin

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُم مَّا ٱكْتَسَبَ مِنَ ٱلْإِثْمِ ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبْرَهُۥ مِنْهُمْ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ

(11) "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita (tuduhan) bohong itu adalah sekelompok orang dari kalian (juga). Janganlah kalian mengira berita bohong itu buruk bagi kalian, bahkan itu baik bagi kalian. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya, dan orang yang mengambil bagian terbesar di antara mereka dari berita bohong itu, dia mendapat azab yang besar."691

Sesungguhnya orang-orang yang datang dengan membawa kedustaan yang paling keji, yaitu menuduh Uminul Mukminin Aisyah dengan tuduhan zina, adalah satu golongan yang mengaku berasal dari kalian, wahai kaum Muslimin, maka janganlah beranggapan bahwa perkataan mereka buruk bagi kalian, bahkan sebaliknya itu adalah suatu kebaikan bagi kalian, lantaran hal itu memuat pembersihan nama Ummul Mukminin dan kesucian dan penghormatan namanya. Tiap-tiap individu yang berbicara dusta, baginya balasan perbuatannya berupa dosa. Dan orang yang menanggung penyebarannya hingga meluas adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, baginya siksaan besar di akhirat, yaitu tinggal secara abadi di bagian terbawah neraka.


[691] Berita bohong ini adalah mengenai Aisyah istri Rasulullah Itu terjadi setelah perang dengan Bani al-Mushthaliq, pada Bulan Sya'ban th. 5 H. Peperangan itu diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula Aisyah bersama Nabi berdasarkan hasil undian yang beliau adakan di antara istri-istri beliau. Dalam perjalanan kembali dari peperangan, mereka berhenti di suatu tempat. Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba dia menyadari kalungnya terputus dari lehernya dan hilang-lalu dia pergi mencarinya. Sementara itu, rombongan telah berangkat dengan persangkaan bahwa Aisyah masih ada dalam sekedup. Setelah Aisyah mengetahui sekedupnya sudah berangkat, dia duduk di tempatnya dan mengharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Lalu lewatlah seorang sahabat Nabi Shafwan bin Mu'aththal, dan mendapatkan seseorang sedang tidur sendirian dan karena terkejut, dia mengucapkan, "Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un", maka Aisyah terbangun. lalu dia dipersilakan oleh Shafwan mengendarai untanya, sementara Shafwan berjalan menuntun unta tersebut sampai mereka berhasil menyusul pasukan ketika tengah beristirahat di tengah hari sebelum sampai di kota Madinah. Di sanalah pemimpin kaum munafik mulai mendesuskan berita bohong tersebut dan kaum munafik membesar-besarkannya, maka fitnah atas Aisyah itu pun bertambah luas, sehingga menimbulkan keguncangan di kalangan kaum Muslimin.

لَّوْلَآ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُواْ هَٰذَآ إِفْكٌ مُّبِينٌ

(12) "Mengapa ketika kalian mendengarnya, orang-orang Mukmin dan Mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri dan berkata,'Ini adalah (suatu) berita bohong yang nyata ?"'

Mengapa sebagian kaum Mukminin dan Mukminat tidak berprasangka baik kepada sebagian yang lain begitu mendengar isu dusta tersebut, yaitu bersihnya orang yang tertuduh dari tuduhan yang mereka lontarkan, dan kemudian berkata, "Ini adalah kebohongan nyata terhadap Aisyah .

لَّوْلَا جَآءُو عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَآءَ ۚ فَإِذْ لَمْ يَأْتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْكَٰذِبُونَ

(13) "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi? Maka karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu dalam pandangan Allah adalah orang-orang yang berdusta"

Mengapa orang-orang yang menuduh itu tidak mendatangkan empat saksi yang adil atas ucapan mereka? Maka ketika mereka tidak membawa saksi-saksi, berarti mereka adalah orang-orang yang dusta di sisi Allah.

وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِى مَآ أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

(14) "Dan seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kalian di dunia dan di akhirat, niscaya kalian ditimpa azab yang besar; karena kalian membicarakannya."

Dan sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kalian, yang mana kebaikanNya menaungi kalian dalam agama dan dunia kalian, sehingga tidak menyegerakan putusan siksaan bagi kalian dan berkenan menerima taubat orang yang bertaubat dari kalian, pastilah Dia akan menimpakan pada kalian siksaan besar disebabkan kalian tenggelam dalam pembicaraan tersebut.

إِذْ تَلَقَّوْنَهُۥ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِۦ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُۥ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ

(15) "(Yaitu) ketika kalian menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kalian mengatakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui sedikit pun, dan kalian menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu adalah masalah besar."

Ketika kalian menangkap berita bohong tersebut dan menyebarluaskannya dari mulut ke mulut padahal itu merupakan perkataan yang batil, dan kalian tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang (keakuratan)nya. Dan dua perkara itu terlarang, yaitu mengucapkan kebatilan dan berbicara tanpa dasar pengetahuan (yang benar). Dan kalian mengasumsikannya sebagai perkara yang sederhana, padahal di sisi Allah merupakan perkara besar. Di sini, terkandung larangan tegas dari menyepelekan masalah penyebarluasan kebatilan.

وَلَوْلَآ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُم مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَٰنَكَ هَٰذَا بُهْتَٰنٌ عَظِيمٌ

(16) "Dan mengapa ketika kalian mendengarnya, kalian tidak mengatakan, ’Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar'"

Dan mengapa kalian, ketika mendengar berita bohong itu, tidak mengatakan, "Tidak boleh bagi kami untuk mengatakan kebohongan ini, sebagai penyucian bagiMu, wahai Tuhanku, dari tuduhan tersebut pada istri RasulMu, Muhammad . Ini adalah satu bentuk kedustaan besar ditinjau dari sisi tanggungan kesalahan dan dosa yang pantas diterima.

يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثْلِهِۦٓ أَبَدًا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

(17) "Allah memperingatkan kalian agar (jangan sampai) kalian mengulangi lagi perbuatan seperti itu selama-lamanya, jika kalian adalah orang-orang yang beriman."

Allah mengingatkan dan melarang kalian dari mengulangi tindakan serupa selamanya, berupa melontarkan tuduhan dusta, bila kalian beriman kepadaNya.

وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

(18) 'Dan Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) kepada kalian. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."

Dan Allah menerangkan kepada kalian ayat-ayat yang memuat hukum-hukum syar'i dan nasihat-nasihat. Dan Allah Maha Mengetahui perbuatan-perbuatan kalian, lagi Mahabijaksana dalam syariat dan pengaturanNya.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلْفَٰحِشَةُ فِى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

(19) "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji (berita bohong) itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat Dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui."

Sesungguhnya orang-orang yang suka tersebarnya perbuatan keji di tengah kaum Muslimin, berupa tuduhan zina atau perkataan yang buruk, bagi mereka azab yang pedih di dunia dengan dilaksanakannya hukum had (pidana) atas mereka, dan di akhirat, bagi mereka siksaan neraka, bila mereka tidak bertaubat kepada Allah. Dan Allah mengetahui kedustaan mereka, juga mengetahui kemaslahatan hamba-hambaNya dan kesudahan segala perkara, sedangkan kalian tidak mengetahui hal itu.

وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

(20) 'Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kalian (niscaya kalian akan ditimpakan azab yang besar). Dan bahwasanya Allah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."

'Dan sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmatNya kepada semua orang yang terlibat dalam berita kebohongan ini, dan bahwasanya Allah menyayangi hamba-hambaNya, kaum Mukminin dengan rahmat yang luas di dunia dan akhirat mereka, niscaya Allah tidak akan menerangkan hukum-hukum dan nasihat-nasihat ini, dan pastilah Dia akan segera menimpakan hukuman kepada orang yang menyelisihi perintahNya.

۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَإِنَّهُۥ يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

(21) "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar. Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kalian, niscaya tidak seorang pun di antara kalian bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya serta melaksanakan syariatNya, janganlah kalian berjalan menapaki jalan-jalan setan. Dan barangsiapa menapaki jalan-jalan setan, maka sesungguhnya setan itu memerintahkannya melakukan perbuatan-perbuatan buruk dan perbuatan-perbuatan mungkar. Dan sekiranya bukan karena karunia Allah pada kaum Mukminin dan rahmatNya pada mereka, niscaya tidak ada seorang pun dari mereka yang suci dari kotoran dosa selamanya. Akan tetapi, Allah dengan kemurahanNya, menyucikan siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar ucapan-ucapan kalian, lagi Maha Mengetahui niat-niat dan perbuatan-perbuatan kalian.

وَلَا يَأْتَلِ أُوْلُواْ ٱلْفَضْلِ مِنكُمْ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤْتُوٓاْ أُوْلِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُواْ وَلْيَصْفَحُوٓاْ ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

(22) "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan serta berlapang dada. Apakah kalian tidak suka bahwa Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."692

Dan janganlah orang terhormat dalam agama dan memiliki kelapangan dalam harta, bersumpah untuk tidak mau menyambung hubungan empati dengan kaum kerabatnya yang miskin, orang-orang yang membutuhkan uluran tangan dan kaum Muhajirin, dan menghentikan pemberian nafkah hidup bagi mereka, gara-gara dosa yang mereka perbuat; dan hendaknya memaafkan kesalahan mereka dan tidak menghukum mereka. Tidakkah kalian suka Allah memaafkan kalian? Maka maafkanlah kesalahan mereka. Allah Maha Pengampun bagi hamba-hambaNya, lagi Maha Penyayang terhadap mereka. Di sini, terkandung ajakan untuk memaafkan dan lapang dada, meskipun diperlakukan dengan buruk.


[692] Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar bahwa dia tidak akan memberi tuan kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri Aisyah . Maka turunlah ayat ini melarang beliau melaksanakan sumpah itu dan menyuruh memaafkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka tersebut.

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرْمُونَ ٱلْمُحْصَنَٰتِ ٱلْغَٰفِلَٰتِ ٱلْمُؤْمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

(23) "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan baik, yang lengah693 dan beriman (dengan tuduhan berzina), mereka dilaknat di dunia dan di akhirat, dan mereka akan mendapat azab yang besar,"

Sesungguhnya orang-orang yang melontarkan tuduhan zina kepada wanita-wanita suci yang beriman kepada Allah yang tidak pernah terbetik pada hati mereka niat tersebut, mereka akan dijauhkan dari rahmat Allah di dunia dan akhirat, dan bagi mereka siksaan besar di Neraka Jahanam. Pada ayat ini terkandung dalil kafirnya orang yang mencela atau menuduh salah seorang istri Nabi dengan tuduhan yang buruk.


[693] Yang dimaksud dengan perempuan-perempuan yang lengah di sini ialah yang tidak pernah terlintas dalam hatinya untuk berbuat keji, karena keshalihan mereka dan bersihnya hati mereka.

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

(24) "pada hari, (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi melawan mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan"

Siksaan tersebut terjadi pada Hari Kiamat, yaitu hari di mana mulut-mulut mereka bersaksi melawan diri mereka dengan apa yang diucapkannya dan tangan-tangan serta kaki-kaki mereka juga akan berbicara dengan apa yang telah diperbuatnya.

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ ٱلْمُبِينُ

(25) "Pada hari itu Allah menyempurnakan balasan yang sebenarnya bagi mereka, dan mereka mengetahui bahwa Allah Mahabenar lagi Maha Menjelaskan"

Pada hari tersebut, Allah menyempurnakan bagi mereka balasan mereka dengan sepenuhnya atas perbuatan-perbuatan mereka dengan adil, dan mereka tahu pada momen besar tersebut bahwa sesungguhnya Allah Dzat Yang Mahabenar lagi Maha Menjelaskan yang haq, janjiNya haq, ancamanNya haq, dan segala sesuatu dariNya adalah haq, Yang tidak menzhalimi siapa pun sebesar biji sawi sekalipun.

ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ ۚ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

(26) "Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang-orang. Mereka memperoleh ampunan dan rizki yang mulia (surga)."694

Setiap yang keji dari kaum lelaki dan kaum perempuan, ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan akan cocok, sejalan dan sesuai dengan yang keji pula. Dan setiap yang baik dari kaum lelaki dan kaum perempuan, ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan akan cocok dan sesuai dengan yang baik-baik (pula). Para lelaki dan wanita yang baik-baik bersih dari tuduhan buruk yang dilontarkan oleh orang-orang keji. Mereka akan mendapatkan ampunan dari Allah yang akan menutupi dosa-dosa mereka dan mendapatkan rizki yang baik di surga.


[694] Ayat ini menunjukkan kesucian Aisyah dan Shafwan bin Mu'aththal dari segala tuduhan dusta yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik, maka perempuan yang baik pula yang menjadi istri beliau.

Pedoman-pedoman Untuk Memasuki Rumah Orang Lain

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَدْخُلُواْ بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُواْ وَتُسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

(27) "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian, sehingga kalian (terlebih dahulu) meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, agar kalian (selalu) ingat."

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya serta melaksanakan syariatNya, janganlah kalian memasuki rumah-rumah yang bukan milik kalian, hingga kalian meminta izin kepada penghuninya untuk masuk dan mengucapkan salam kepada mereka. Dan bunyi ucapan salam dari as-Sunnah adalah, "Assalamu 'alaikum, apakah saya boleh masuk? Permintaan izin masuk itu lebih baik bagi kalian, supaya kalian menjadi ingat perintah-perintah Allah dengan perbuatan kalian meminta izin, sehingga kalian taat kepadaNya.

فَإِن لَّمْ تَجِدُواْ فِيهَآ أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّىٰ يُؤْذَنَ لَكُمْ ۖ وَإِن قِيلَ لَكُمُ ٱرْجِعُواْ فَٱرْجِعُواْ ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

(28) "Maka jika kalian tidak mendapatkan seorang pun di dalamnya, maka janganlah kalian memasukinya sehingga kalian diizinkan. Dan jika dikatakan kepada kalian,'Kembalilah!' Maka hendaklah kalian kembali; itu lebih suci bagi kalian. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan."

Apabila kalian tidak menjumpai ada orang di rumah-rumah orang lain, maka janganlah kalian memasukinya sampai ada orang yang memberikan izin masuk kepada kalian. Jika tidak memberikan izin kepada kalian, sebaliknya dia berkata kepada kalian, "Kembalilah", maka pulanglah dan janganlah kalian mendesak. Sesungguhnya sikap kembali pada waktu itu lebih suci bagi kalian. Sebab seseorang akan mengalami keadaan-keadaan yang mana dia tidak suka orang lain melihatnya dalam keadaan itu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian perbuat, lalu memberikan balasan bagi setiap orang sesuai dengan perbuatannya.

لَّيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَدْخُلُواْ بُيُوتًا غَيْرَ مَسْكُونَةٍ فِيهَا مَتَٰعٌ لَّكُمْ ۚ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ

(29) "Tidak ada dosa atas kalian memasuki rumah-rumah yang tidak dihuni, yang di dalamnya ada kepentingan kalian. Allah mengetahui apa yang kalian tampakkan dan apa yang kalian sembunyikan."

Akan tetapi, tidak masalah bagi kalian untuk masuk tanpa izin ke dalam rumah-rumah yang tidak dikhususkan untuk pemukiman manusia secara pribadi. Akan tetapi, dibangun untuk dinikmati oleh orang yang membutuhkannya, seperti rumah-rumah yang diperuntukkan sebagai sedekah bagi ibnu sabil yang berada di lintasan orang-orang yang menempuh perjalanan jauh dan fasilitas umum lainnya. Di situ terdapat fasilitas-fasilitas yang bermanfaat dan apa-apa yang diperlukan bagi orang yang memasukinya, dan meminta izin dalam kondisi seperti ini menyulitkan. Dan Allah mengetahui keadaan-keadaan kalian yang nyata dan tersembunyi.

Pedoman Pergaulan Antara Laki-laki dan Wanita yang Bukan "Mahram"

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُواْ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا يَصْنَعُونَ

(30) "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang mereka perbuat"

Katakanlah wahai Nabi, kepada laki-laki Mukmin agar mereka menundukkan pandangan-pandangan mereka dari wanita-wanita dan aurat-aurat yang tidak halal bagi mereka, memelihara kemaluan mereka dari perkara yang diharamkan Allah, seperti zina, homoseksual dan membuka aurat serta perkara terlarang lainnya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat terkait perkara yang Allah perintahkan kepada mereka dan perkara yang Allah melarang mereka darinya.

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيْرِ أُوْلِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُواْ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

(31) "Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) terlihat darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung mereka ke leher baju (sekitar dada) mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka,695 kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka (dari istri yang lain), atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung."

Dan katakanlah kepada wanita-wanita Mukminah, agar mereka menundukkan pandangan mereka terhadap aurat yang, tidak boleh mereka lihat, dan agar memelihara kemaluan mereka dari perkara yang Allah haramkan. Dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan mereka di hadapan kaum lelaki. Akan tetapi, sebaliknya, hendaknya mereka berusaha keras untuk menyembunyikannya, kecuali pakaian luar yang biasa mereka kenakan, bila dalam pakaian itu tidak ada unsur yang membangkitkan fitna, dan hendaknya mereka menurunkan tutup-tutup kepala mereka padu celah-celah terbuka di bagian atas baju mereka yang ada di bagian dada, dan menutup wajah-wajah mereka, sehingga akan tertutup lebih sempurna. Dan janganlah mereka mempertontonkan perhiasan mereka yang tersembunyi, kecuali kepada suami-suami mereka, sebab suami-suami boleh melihat dari tubuh mereka hal-hal yang tidak boleh dilihat orang lain. Sementara sebagian tubuh, seperti wajah, leher, dua tangan dan lengan, boleh dilihat oleh ayah-ayah mereka, ayah-ayah suami-suami mereka, anak-anak mereka, anak-anak suami-suami mereka, saudara-saudara lelaki mereka, anak-anak saudara-saudara lelaki mereka, anak-anak saudara-saudara perempuan, atau perempuan-perempuan yang beragama Islam, bukan yang kafir atau hamba-hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki yang sudah tidak memiliki hasrat dan kebutuhan terhadap wanita, seperti orang-orang dungu yang sekedar mengikuti orang lain untuk makan dan minum semata, atau anak-anak laki-laki yang masih kecil yang belum mengerti tentang aurat-aurat wanita, dan belum ada pada mereka nafsu syahwat. Dan janganlah mereka menghentak-hentakkan kaki-kaki mereka saat berjalan, supaya memperdengarkan suara perhiasan yang tersembunyi seperti gelang kaki dan lainnya. Dan kembalilah kalian, wahai kaum Mukminin, kepada ketaatan kepada Allah dalam perkara yang Dia memerintahkan kalian untuk itu, berupa sifat-sifat indah dan akhlak-akhlak terpuji ini, dan tinggalkanlah segala yang menjadi kebiasaan kaum jahiliyah, berupa perilaku-perilaku dan sifat-sifat rendah, dengan harapan kalian dapat beruntung memperoleh kebalkan dunia dan akhirat.


[695] Yakni, bagian-bagian anggota badan tempat perhiasan mereka, seperti: kedua pergelangan kaki, kedua pergelangan tangan, kedua cuping telinga, leher, rambut, dan sebagainya.

Anjuran Menikah

وَأَنكِحُواْ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُواْ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

(32) "Dan nikahkanlah arang-orang yang masih membujang di antara kalian, 696 dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahaya kalian yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka adalah orang-orang yang fakir, Allah akan mencukupkan mereka dari karuniaNya. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."

Dan nikahkanlah, wahai kaum Mukminin, siapa saja yang belum memiliki pasangan hidup, baik kaum lelaki yang merdeka, kaum wanita yang merdeka, dan orang-orang shalih dari budak-budak lelaki dan budak-budak perempuan kalian. Sesungguhnya bila yang berhasrat menikah untuk menjaga kehormatannya adalah orang yang fakir, niscaya Allah akan mencukupinya dari luasnya karunia rizkiNya. Dan Allah Mahaluas (rizkiNya), banyak kebaikanNya, besar karuniaNya, lagi Maha Mengetahui keadaan-keadaan kalian.


[696] Yakni, hendaknya laki-laki dan perempuan yang belum menikah dibantu agar dapat menikah.

وَلْيَسْتَعْفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱلَّذِينَ يَبْتَغُونَ ٱلْكِتَٰبَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا ۖ وَءَاتُوهُم مِّن مَّالِ ٱللَّهِ ٱلَّذِىٓ ءَاتَىٰكُمْ ۚ وَلَا تُكْرِهُواْ فَتَيَٰتِكُمْ عَلَى ٱلْبِغَآءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِّتَبْتَغُواْ عَرَضَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۚ وَمَن يُكْرِههُّنَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ مِنۢ بَعْدِ إِكْرَٰهِهِنَّ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

(33) "Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah mencukupkan mereka dari karuniaNya. Dan hamba-hamba sahaya yang kalian miliki yang menginginkan perjanjian (kebebasan), maka hendaklah kalian buat perjanjian kepada mereka Jika kalian mengetahui ada kebaikan pada mereka,697 dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakanNya kepada kalian.698 Dan janganlah kalian memaksa hamba sahaya perempuan kalian untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kalian hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi. Dan barangsiapa memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) setelah mereka dipaksa."

Dan orang-orang yang tidak mampu menikah, lantaran alasan ekonomi atau alasan lainnya, maka hendaklah mereka berusaha memelihara kehormatannya dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah hingga Allah memberinya kecukupan dari karuniaNya, dan memudahkan bagi mereka urusan pernikahan. Dan orang-orang yang ingin merdeka dari hamba-hamba sahaya lelaki dan perempuan dengan cara mukatabah (menebus diri mereka) dari tuan-tuan pemilik mereka dengan sejumlah harta yang mereka bayarkan kepada tuan-tuan mereka tersebut, maka kewajiban tuan-tuan pemilik mereka untuk menerima proses mukatabah dari mereka dengan nominal tersebut, bila mereka mengetahui ada kebaikan pada mereka, seperti kematangan berpikir dan kemampuan mencari penghasilan sendiri. Dan kewajiban tuan-tuan pemilik mereka dan orang-orang lain untuk membantu mereka dengan harta untuk tujuan tersebut. Dan tidak boleh bagi kalian memaksa budak-budak perempuan kalian untuk berbuat zina demi mencari harta. Bagaimana tindakan itu bisa terjadi pada diri kalian, sedang mereka menghendaki untuk menjaga kehormatan mereka, padahal kalian sendiri menolak melakukannya? Di sini terkandung celaan terburuk terhadap tindakan tercela mereka. Dan barangsiapa memaksa mereka untuk berbuat zina, maka sesungguhnya Allah setelah mereka mengalami pemaksaan itu Maha Pengampun bagi mereka lagi Maha Penyayang terhadap mereka, sedang dosa menjadi tanggungan orang yang memaksa mereka.


[697] Salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, adalah seorang hamba boleh meminta pada tuannya untuk dimerdekakan, dengan perjanjian bahwa sahaya itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Maka tuannya hendaklah menerima perjanjian itu kalau menurut pandangannya sahaya tersebut sanggup melunasi perjanjian itu dengan harta yang halal.

[698] Yakni, untuk mempercepat lunasnya perjanjian itu hendaklah hamba-hamba sahaya tersebut dibantu dengan harta yang diambilkan dari zakat atau harta lainnya.

Pencerminan Ayat-ayat al-Qur'an Sebagai Nur Ilahi Pada Langit dan Bumi

وَلَقَدْ أَنزَلْنَآ إِلَيْكُمْ ءَايَٰتٍ مُّبَيِّنَٰتٍ وَمَثَلًا مِّنَ ٱلَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ

(34) "Dan sungguh Kami telah menurunkan kepada kalian ayat-ayat yang memberi penjelasan, dan contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kalian, serta sebagai pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa"

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian, wahai sekalian manusia, ayat-ayat al-Qur'an sebagai petunjuk-petunjuk nyata terhadap kebenaran dan perumpamaan umat-umat terdahulu dan nasihat yang akan bermanfaat bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan takut akan siksaNya.

۞ ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

(35) "Allah adalah cahaya langit dan bumi.699 Perumpamaan cahayaNya adalah seperti sebuah lubang di dinding yang tidak tembus,700 yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat,701 yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah memberi petunjuk kepada cahayaNya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Allah adalah cahaya langit dan bumi Dia mengatur urusan pada keduanya. dan memberikan petunjuk bagi para penghuni keduanya. Dia adalah cahaya, dan penutupNya adalah cahaya, dengan itu langit dan bumi serta apa yang ada di keduanya terang bersinar. Dan kitabullah dan hidayahNya merupakan cahaya dari Allah . seandainya bukan karena cahaya Allah niscaya kegelapan-kegelapan akan bertumpuk tumpuk sebagiannya berada di atas sebagian yang lain. Dan perumpamaan cahayaNya Yang Dia memandu (manusia) kepadanya, yaitu iman dan al-Qur'an yang berada di dalam hati seorang Mukmin, adalah seperti tempat lampu yaitu lubang tidak tembus yang ada di dinding, padanya terdapat pelita cahaya. Lubang tersebut memagari pancaran sinarnya sehingga tidak memancar ke mana-mana. Pelita cahaya itu terdapat di dalam kaca, yang dikarenakan amat bening, seakan akan tampak seperti bintang bercahaya layaknya sebuah mutiara. Cahaya pelita itu dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun, yang tidak tumbuh di arah timur saja sehingga tidak terkena cahaya matahari di sore hari juga tidak tumbuh di arah barat saja sehingga tidak terpancari sinar matahari di pagi hari. Akan tetapi, ia berada di tempat pertengahan di satu dataran di bumi tidak condong ke timur dan tidak condong ke arah barat. Minyaknya lantaran kemurniannya, bercahaya sendiri sebelum disulut nyala api ketika telah disulut nyala api, maka akan memancarkan cahaya yang terang benderang. Cahaya di atas cahaya. Yaitu cahaya dari pancaran minyak itu sendiri ditambah dengan cahaya nyala api. Itulah perumpamaan hidayah, menyinari hati seorang Mukmin. Allah memberikan hidayah dan taufik kepada orang-orang yang Dia kehendaki untuk mengikuti al-Qur'an. Dan Allah mengadakan perumpamaan-perumpamaan bagi manusia agar mereka dapat memahami perumpamaan-perumpamaan dan hukum dari-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya.


[699] Yakni, Allah adalah cahaya langit dan bumi. Yang mengatur segala urusan pada keduanya dan memberikan hidayah kepada penduduk keduanya. Maka Allah adalah cahaya. hijabNya adalah cahaya, dan dengan cahayaNya, langit dan bumi, serta apa apa yang ada pada keduanya menjadi terang, dan kitab suci dan hidayahNya adalah cahaya dariNya, yang kalau bukan karena cahayaNya, niscaya kegelapan kegelapan akan tumpang tindih satu sama lain.

[700] "Lubang di dinding yang tidak tembus (misykat)", ialah lubang di dlnding rumah yang tidak tembus sampai ke sebelahnya, yang biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang barang lain.

[701] Yakni, pohon zaitun tersebut tumbuh di tempat yang mendapat sinar matahari, baik pada waktu pagi maupun sore hari, sehingga buahnya menghasilkan minyak yang baik

Mereka yang Mendapat Pancaran Nur Ilahi

فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ

(36) "(Cahaya itu) di rumah-rumah yang telah Allah perintahkan agar di dalamnya ditinggikan dan disebut NamaNya; di dalamnya bertasbih (menyucikan) NamaNya pada waktu pagi dan petang,"

Cahaya yang terang itu adalah di masjid-masjid, yang Allah memerintahkan untuk ditinggikan urusan tentangnya dan bangunannya, di mana di dalamnya namaNya disebut-sebut dengan membaca al-Qur'an, tasbih, tahlil dan jenis-jenis dzikir lainnya. Orang-orang mengerjakan shalat di dalamnya karena Allah di waktu pagi dan sore hari.

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَٰرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلْقُلُوبُ وَٱلْأَبْصَٰرُ

(37) "laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari ber-dzikir (mengingat dan menyebut) Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (Hari Kiamat),"

Yaitu orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan perdagangan dari mengingat Allah, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya, mereka takut kepada Hari Kiamat yang hati akan tergoncang antara harapan untuk selamat dan takut dari kebinasaan, dan pandangan-pandangan berbolak-balik pada hari itu untuk melihat ke mana tempat kembali mereka.

لِيَجْزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُواْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

(38) ’(mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karuniaNya kepada mereka. Dan Allah memberi rizki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas."

Supaya Allah memberikan balasan kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari amal perbuatan mereka dan menambahi mereka dari karuniaNya dengan melipatgandakan kebaikan-kebaikan mereka. Dan Allah memberi rizki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa ukuran, bahkan memberinya ganjaran yang tidak sepadan dengan amal perbuatannya, dan tanpa perhitungan dan timbangan.

Mereka yang Tidak Mendapatkan Pancaran Cahaya Ilahi

وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَعْمَٰلُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ ٱلظَّمْـَٔانُ مَآءً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَهُۥ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا وَوَجَدَ ٱللَّهَ عِندَهُۥ فَوَفَّىٰهُ حِسَابَهُۥ ۗ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلْحِسَابِ

(39) "Dan orang-orang yang kafir, amal perbuatan mereka adalah seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang yang dahaga, hingga apabila dia (orang yang dahaga) itu mendatanginya, dia tidak mendapatkan apa pun, dan dia mendapatkan Allah (mengawasinya), maka Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal)nya dengan sempurna dan Allah sangat cepat perhitunganNya. "702

Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhan mereka dan mendustakan rasul-rasulNya, perbuatan-perbuatan mereka yang mereka pandang akan bermanfaat bagi mereka di akhirat, seperti silaturahmi, membebaskan tawanan dan kebaikan-kebaikan lainnya, adalah seperti fatamorgana, yaitu satu fenomena yang terlihat seperti air di permukaan tanah yang datar di siang hari, yang diduga orang dahaga sebagai air, kemudian ketika mendatanginya, ia tidak mendapatkan air. Orang kafir akan menyangka bahwa perbuatan-perbuatannya akan berguna bagi dirinya, lalu pada Hari Kiamat ternyata dia tidak mendapati balasan pahalanya, dan dia mendapati Allah mengawasinya, lalu menyempurnakan balasan perbuatannya secara penuh. Dan Allah Mahacepat perhitunganNya, maka janganlah orang-orang jahil menganggap janji itu masih lama waktu terjadinya, sebab pasti akan datang.


[702] Yakni, orang-orang kafir, karena amal-amal baik mereka tidak didasarkan atas iman, maka mereka tidak akan mendapat balasan dari Allah di akhirat, walaupun di dunia mereka mengira akan mendapat balasan atas amal-amal mereka itu.

أَوْ كَظُلُمَٰتٍ فِى بَحْرٍ لُّجِّىٍّ يَغْشَىٰهُ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِۦ مَوْجٌ مِّن فَوْقِهِۦ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَٰتٌۢ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَآ أَخْرَجَ يَدَهُۥ لَمْ يَكَدْ يَرَىٰهَا ۗ وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ ٱللَّهُ لَهُۥ نُورًا فَمَا لَهُۥ مِن نُّورٍ

(40) "Atau (amal perbuatan mereka) adalah seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya, dia hampir tidak dapat melihatnya. Barangsiapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun."

Atau perbuatan-perbuatan mereka itu diumpamakan seperti kegelapan-kegelapan di laut yang dalam, yang di atasnya ada gelombang, dan tertutupi gelombang lainnya, dan di atasnya terdapat awan tebal. Kegelapan-kegelapan pekat, yang sebagiannya berada di atas sebagian yang lain. Apabila orang yang melihat mengeluarkan tangannya, ia hampir-hampir tidak dapat melihatnya, lantaran pekatnya kegelapan-kegelapan itu. Orang-orang kafir telah bertumpuk-tumpuk pada mereka kegelapan syirik, kesesatan dan rusaknya amal perbuatan mereka. Karenanya, barangsiapa yang Allah tidak menjadikan cahaya baginya, melalui kitab suciNya dan sunnah NabiNya yang dapat ia jadikan sumber petunjuk, maka tidak ada pemberi petunjuk baginya.

Pencerminan Kekuasaan Allah

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلطَّيْرُ صَٰٓفَّٰتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسْبِيحَهُۥ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِمَا يَفْعَلُونَ

(41) "Tidakkah engkau (wahai Rasul) mengetahui bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa-apa yang di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya? Masing-masing sungguh telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbihnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan

Apakah kamu, wahai Rasul, belum mengetahui bahwa sesungguhnya semua yang ada di langit dan di bumi dari makhluk-makhluk dan burung-burung yang melebarkan sayap-sayapnya di langit, bertasbih menyucikan Tuhannya? Setiap makhluk, Allah telah memberinya petunjuk bagaimana ia shalat dan bertasbih kepadaNya. Dan Dia Maha Mengetahui, tahu semua yang diperbuat makhluk yang tengah shalat dan makhluk yang bertasbih, tidak ada sesuatu dari mereka tersembunyi bagiNya sedikit pun. Dan Dia akan membalas mereka dengan itu.

وَلِلَّهِ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلْمَصِيرُ

(42) "Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan hanya kepada Allah-lah kembali (seluruh makhluk)."

Dan kepunyaan Allah semata kerajaan langit dan bumi, kepunyaan-Nya kekuasaan pada keduanya, dan kepadaNya-lah kembali (segala sesuatu) pada Hari Kiamat.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُزْجِى سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُۥ ثُمَّ يَجْعَلُهُۥ رُكَامًا فَتَرَى ٱلْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَٰلِهِۦ وَيُنَزِّلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن جِبَالٍ فِيهَا مِنۢ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ وَيَصْرِفُهُۥ عَن مَّن يَشَآءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِۦ يَذْهَبُ بِٱلْأَبْصَٰرِ

(43) "Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menggiring awan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya? Dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakanNya (butiran-butiran es) itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan menghindarkannya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan ."

Tidakkah kamu menyaksikan bahwa sesungguhnya Allah menggiring awan ke tempat mana saja yang Dia kehendaki, kemudian menyatukan (bagian-bagian)nya setelah terpisah-pisah, dan lalu menjadikannya bertumpuk-tumpuk, dan kemudian menurunkan hujan darinya? Dan Dia menurunkan butiran es dari awan yang menyerupai gunung-gunung itu dalam kebesaran bentuknya, lalu menimpakannya pada hamba-hambaNya yang Dia kehendaki dan memalingkannya dari orang yang Dia kehendaki dari mereka, sesuai dengan hikmah dan pengaturanNya. Hampir-hampir cahaya kilat di awan menghilangkan penglihatan orang-orang yang melihatnya dikarenakan kedahsyatan kilauannya.

يُقَلِّبُ ٱللَّهُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّأُوْلِى ٱلْأَبْصَٰرِ

(44) "Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (yang tajam)"

Dan di antara bukti Kuasa Allah Dia mempergantikan malam dan siang, dengan kedatangan salah satunya setelah yang lain, dan pergantian keduanya dalam panjang dan pendek waktunya. Sesungguhnya pada hal tersebut benar-benar terdapat petunjuk yang dapat dipetik oleh orang yang memiliki mata hati.

وَٱللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَآبَّةٍ مِّن مَّآءٍ ۖ فَمِنْهُم مَّن يَمْشِى عَلَىٰ بَطْنِهِۦ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِى عَلَىٰ رِجْلَيْنِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِى عَلَىٰٓ أَرْبَعٍ ۚ يَخْلُقُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

(45) "Dan Allah menciptakan semua jenis makhluk yang berjalan (hidup) dari air, di mana sebagian ada yang berjalan dengan perutnya dan sebagian darinya ada yang berjalan dengan dua kaki, serta sebagian (lainnya) lagi ada yang berjalan dengan empat kaki. Allah menciplakan apa yang Dia kehendaki. Sesuntuknya Allah Mahakuasa atas sebala sesuatu.'

Dan Allah telah menciptakan semua yang hidup berjalan di muka bumi dari air. Air adalah asal penciptaan makhluk-makhlukNya Dan di antara makhluk-makhluk yang berjalan itu, ada yang berjalan melata dengan parutnya, seperti ular-ular dan sejenisnya, dan sebagian ada yang berjalan dengari dua kaki, seperti manusia, dan sebagian ada yang berjalan dengan empat kaki, seperti binatang-binatang ternak dan semacamnya. Dan Allah menciplakan apa saja yang Dia kehendaki Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

لَّقَدْ أَنزَلْنَآ ءَايَٰتٍ مُّبَيِّنَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

(46) "Sungguuh Kami telah menurunkan ayat-ayat yang memberi penjelasan. Dan Allah memberi petunjuk bagi siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus."

Sungguh Kami telah menurunkan di dalam al-Qur'an ini petunjuk-petunjuk nyata yang mengantarkan menuju kebenaran. Dan Allah memberikan hidayah dan taufik kepada hamba-hambaNya yang Dia kehendaki menuju jalan yang lurus, yaitu Islam.

Perbedaan Sikap Orang-orang Munafik dan Orang-orang Mukmin Dalam Bertahkim Kepada Rasul

وَيَقُولُونَ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِّنْهُم مِّنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَآ أُوْلَٰٓئِكَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ

(47) 'Dan mereka (orung-orang munafik) berkata, ’Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul (Muhammad), dan kami menaati (keduanya). Kemudian sebagian dari mereka berpaling setelah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman."

Orang-orang munafik berkata, "Kami beriman kepada AlIah dan risalah yang dibawa oleh Rasul dan kami taat terhadap perintah Allah dan RasulNya." Kemudian sebagian golongan dari mereka berpaling setelah itu, tidak mau menerima putusan hukum Rasul. Dan mereka itu bukanlah orang-orang beriman.

وَإِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُم مُّعْرِضُونَ

(48) "Dan apabila mereka diajak kepada Allah dan RasulNya, agar (Rasul) memutuskan perkara di antara mereka, ternyata sebagian dari mereka menolak (untuk datang)"

Dan apabila mereka diseru dalam perselisihan-perselisihan mereka kepada Kitabullah dan kepada RasulNya, supaya Kasul menetapkan keputusan di tengah mereka, tiba-tiba satu golongan dari mereka berpaling, tidak mau menerima putusan Allah dan putusan RasulNya, padahal itu merupakan kebenaran yang tidak diragukan lagi.

وَإِن يَكُن لَّهُمُ ٱلْحَقُّ يَأْتُوٓاْ إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ

(49) "Tetapi jika kebenaran di pihak mereka, mereka datang kepadanya (Rasul) dengan patuh"

Tapi apabila kebenaran di pihak mereka, sesungguhnya mereka akan datang kepada Nabi dengan taat lagi patuh terhadap keputusannya, karena mereka tahu beliau hanya memutuskan dengan dasar kebenaran.

أَفِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَمِ ٱرْتَابُوٓاْ أَمْ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُۥ ۚ بَلْ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

(50) "Apakah (ketidakhadiran mereka karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu, ataukah (karena) takut jikalau Allah dan RasulNya berlaku zhalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zhalim"

Apakah sebab mereka berpaling itu adalah penyakit kemunafikan yang ada di hati mereka ataukan karena mereka meragukan kenabian Muhammad ? Ataukah sebabnya adalah ketakutan mereka bahwa hukum Allah dan RasulNya akan zhalim (semena-mena)? Sekali-kali tidak, lantaran mereka tidak takut kezhaliman, akan tetapi, sebabnya ialah karena mereka orang-orang yang berbuat zhalim lagi jahat.

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

(51) "Sesungguhnya ucapan orang-orang Mukmin, apabila mereka diajak kepada Allah dan RasulNya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, hanyalah, 'Kami mendengar dan kami taat.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung"

Adapun orang-orang Mukmin yang sebenarnya, maka sikap pasti mereka jika diseru untuk menetapkan hukum dalam perselisihan mereka kepada Kitabullah dan ketetapan RasulNya, mereka menerima keputusan hukumnya dan mengatakan, "Kami mendengar apa yang disampaikan kepada kami dan menaati orang yang menyeru kami kepadanya." Mereka itulah orang-orang yang beruntung memperoleh keinginan mereka di surga-surga yang penuh kenikmatan.

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَخْشَ ٱللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ

(52) ''Dan barangsiapa taat kepada Allah dan KasulNya, serta takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan."

Dan barangsiapa taat kepada Allah dan KasulNya dalam perintah dan larangan, serta takut dampak buruk pelanggaran dan khawatir terhadap siksaan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang beruntung memperoleh kenikmatan di dalam surga.

۞ وَأَقْسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهْدَ أَيْمَٰنِهِمْ لَئِنْ أَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّ ۖ قُل لَّا تُقْسِمُواْ ۖ طَاعَةٌ مَّعْرُوفَةٌ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

(53) "Dan mereka bersumpah dengan (Nama) Allah dengan sumpah sungguh-sungguh, bahwa jika engkau menyuruh mereka berperang, pastilah mereka akan berangkat. Katakanlah (wahai Rasul), 'Janganlah kalian bersumpah, (karena) ketaatan (kalian) itu sudah dikenal (hanya di bibir saja). Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan'."

Orang-orang munafik bersumpah dengan Nama Allah dengan keseriusan tinggi dalam sumpah-sumpah yang kuat, "Jika kamu, wahai Rasul, memerintahkan kami untuk keluar berperang bersamamu, pastilah kami akan keluar." Katakanlah kepada mereka, "Janganlah kalian bersumpah dengan dusta. Sebab ketaatan kalian sudah bukan rahasia lagi, hanya sebatas dengan lisan saja. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian perbuat dan akan membalas kalian dengan itu."

Kekuasaan yang Dijanjikan Allah Kepada Orang yang Taat dan Mengerjakan Amal Shalih

قُلْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حُمِّلْتُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُواْ ۚ وَمَا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلْبَلَٰغُ ٱلْمُبِينُ

(54) "Katakanlah, 'Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; jika kalian berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kalian hanyalah apa yang dibebankan kepada kalian. Jika kalian taat kepadanya, niscaya kalian mendapat petunjuk. Dan tidak ada kewajiban atas Rasul, kecuali menyampaikan (amanah Allah) dengan jelas'."

Katakanlah, wahai Rasul, kepada sekalian manusia, "Taatilah Allah dan taatilah Rasul. Kemudian bila kalian berpaling, maka sesungguhnya kewajiban seorang rasul hanyalah mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, yaitu menyampaikan risalah, dan kewajiban semua umatnya ialah mengerjakan hal-hal yang dibebankan kepada mereka, yaitu melaksanakannya. Dan jika kalian taat kepadanya, niscaya kalian mendapat petunjuk lurus menuju kebenaran. Dan tidaklah menjadi kewajiban seorang rasul kecuali menyampaikan risalah Tuhannya dengan penjelasan yang nyata."

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

(55) "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal shalih, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan Dia benar-benar akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridhai, dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa; mereka beribadah kepadaKu dengan tidak mempersekutukan sesuatu apa pun denganKu. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."

Allah menjanjikan kemenangan bagi orang-orang yang beriman dari kalian dan mengerjakan amal-amal shalih, dengan mewariskan kepada mereka tanah kekuasaan kaum musyrikin dan menjadikan mereka penguasa padanya, sebagaimana Allah memperlakukan para pendahulu mereka dari kalangan kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan menjadikan agama mereka yang diridhaiNya bagi mereka, yaitu Islam, sebagai agama mulia lagi kuat dan menggantikan keadaan mereka dari ketakutan menuju keadaan aman, bila mereka beribadah kepada Allah semata dan istiqamah di atas ketaatan kepadaNya, tidak mempersekutukan sesuatu pun bersamaNya. Dan barangsiapa kafir setelah mengambil alih kekuasaan kaum musyrikin, keadaan aman, kemapanan agama dan kekuasaan yang penuh dan mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang telah keluar dari ketataan kepada Allah.

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

(56) "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul, agar kalian diberi rahmat."

Dan tegakkanlah shalat dengan sempurna, dan tunaikanlah zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan taatilah Rasul , mudah-mudahan kalian dirahmati oleh Allah.

لَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مُعْجِزِينَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ وَمَأْوَىٰهُمُ ٱلنَّارُ ۖ وَلَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ

(57) "Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa orang-orang yang kafir itu dapat melemahkan (Allah, sehingga luput mengazab mereka) di bumi ini, dan tempat kembali mereka (di akhirat) adalah neraka. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. "

Janganlah kamu menyangka bahwa orang-orang kafir mampu melemahkan Allah di muka bumi. Bahkan sebaliknya, Dia Mahakuasa untuk membinasakan mereka. Dan tempat kembali mereka di akhirat kelak adalah ke neraka. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali dan tempat berpulang.

Pedoman Pergaulan Dalam Rumah Tangga

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِيَسْتَـْٔذِنكُمُ ٱلَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ وَٱلَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُواْ ٱلْحُلُمَ مِنكُمْ ثَلَٰثَ مَرَّٰتٍ ۚ مِّن قَبْلِ صَلَوٰةِ ٱلْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ ٱلظَّهِيرَةِ وَمِنۢ بَعْدِ صَلَوٰةِ ٱلْعِشَآءِ ۚ ثَلَٰثُ عَوْرَٰتٍ لَّكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌۢ بَعْدَهُنَّ ۚ طَوَّٰفُونَ عَلَيْكُم بَعْضُكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

(58) '"Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba sahaya (laki-laki dan perempuan) yang kalian miliki, dan orang-orang yang belum baligh (dewasa) di antara kalian, meminta izin kepada kalian pada tiga kali (kesempatan): sebelum Shalat Shubuh, ketika kalian menanggalkan pakaian (luar) kalian di tengah hari, dan setelah Shalat Isya. (Itulah) tiga (waktu) aurat bagi kalian703 Tidak ada dosa bagi kalian dan tidak (pula) bagi mereka selain dari (tiga waktu) itu; mereka keluar masuk melayani kalian; sebagian kalian terhadap sebagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat itu kepada kalian. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya serta melaksanakan SyariatNya, perintahkanlah budak-budak laki-laki kalian dan hamba-hamba sahaya wanita kalian, serta anak-anak yang merdeka sebelum usia baligh untuk meminta izin ketika akan menemui kalian di tiga waktu di mana aurat kalian biasa terbuka, yaitu sebelum Shalat Shubuh, sebab ia merupakan waktu dilepasnya pakaian tidur dan mengenakan pakaian keseharian, waktu melepas pakaian untuk istirahat siang di waktu siang hari dan setelah Shalat Isya, karena merupakan saat untuk tidur. Tiga waktu ini merupakan aurat bagi kalian, di mana pada waktu-waktu tersebut kalian jarang mengenakan pakaian tertutup. Adapun pada waktu selain itu, maka tidak masalah jika mereka masuk tanpa izin, karena kebutuhan mereka untuk menemui kalian. Mereka mondar-mandir untuk melayani kalian. Dan sebagaimana Allah telah menjelaskan hukum-hukum meminta izin kepada kalian, Dia (juga) menerangkan kepada kalian ayat-ayat dan hukum-hukumNya, serta hujjah-hujjah dan aturan-aturan agamaNya. Dan Allah Maha Mengetahui segala perkara yang memperbaiki keadaan makhlukNya, Mahabijaksana dalam pengaturan urusan mereka.


[703] Tiga macam waktu ini adalah yang biasanya pada waktu-waktu itu badan seringkali terbuka. Oleh sebab itu, Allah melarang hamba sahaya dan anak-anak di bawah umur untuk masuk ke kamar tidur orang dewasa tanpa izin.

وَإِذَا بَلَغَ ٱلْأَطْفَٰلُ مِنكُمُ ٱلْحُلُمَ فَلْيَسْتَـْٔذِنُواْ كَمَا ٱسْتَـْٔذَنَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

(59) "Dan apabila anak-anak di antara kalian telah sampai umur baligh (dewasa), maka hendaklah mereka (juga) meminta izin, seperti orang-orang yang lebih dewasa meminta izin704. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatNya kepada kalian. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."

Dan apabila anak-anak kecil dari kalian telah mencapai usia baligh dan masa mukallaf untuk mengemban kewajiban hukum-hukum syariat, maka mereka harus meminta izin bila akan masuk di seluruh waktu, sebagaimana orang-orang dewasa meminta izin dahulu. Dan sebagaimana Allah telah menjelaskan adab-adab meminta izin, Allah juga menjelaskan ayat-ayatNya kepada kalian. Dan Allah Maha Mengetahui hal-hal yang mendatangkan kemaslahatan hamba-hambaNya, lagi Mahabijaksana dalam penetapan syariatNya.


[704] Yakni, apabila anak-anak sudah baligh, maka harus meminta izin sebelum masuk ke kamar tidur orangtua, pada waktu aurat yang tiga tersebut maupun selainnya, sebagaimana yang dijelaskan pada ayat 27 dan 28 dari surat ini.

وَٱلْقَوَٰعِدُ مِنَ ٱلنِّسَآءِ ٱلَّٰتِى لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَٰتٍ بِزِينَةٍ ۖ وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

(60) "Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak berhasrat menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar)705 mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan; tetapi memelihara kesucian (diri) adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"

Dan wanita-wanita tua yang sudah tidak memiliki keinginan untuk berhubungan badan dan pupus nafsu syahwatnya karena usia senja mereka, sehingga mereka tidak berhasrat menikah dengan laki-laki dan kaum lelaki tidak berhasrat menikahi mereka, maka tidak masalah bagi mereka untuk menanggalkan sebagian pakaian mereka, seperti kain luar yang menutup pakaian mereka, tanpa memperlihatkan dan menampakkan perhiasan. Dan pakaian mereka dengan mengenakan kain-kain ini, untuk menutupi diri dan menjaga kehormatan, itu lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar ucapan-ucapan kalian, lagi Maha Mengetahui niat-niat dan perbuatan-perbuatan kalian.


[705] Yakni, seperti abaya, cadar, dan semacamnya.

لَّيْسَ عَلَى ٱلْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى ٱلْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى ٱلْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَن تَأْكُلُواْ مِنۢ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ ءَابَآئِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَٰتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ إِخْوَٰنِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخَوَٰتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَعْمَٰمِكُمْ أَوْ بُيُوتِ عَمَّٰتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَٰلِكُمْ أَوْ بُيُوتِ خَٰلَٰتِكُمْ أَوْ مَا مَلَكْتُم مَّفَاتِحَهُۥٓ أَوْ صَدِيقِكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَأْكُلُواْ جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا ۚ فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتًا فَسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُبَٰرَكَةً طَيِّبَةً ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

(61) "'Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak ada halangan (pula) bagi orang pincang, tidak ada halangan (juga) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi diri kalian, untuk makan (bersama-sama mereka) di rumah kalian atau di rumah bapak-bapak kalian, di rumah ibu-ibu kalian, di rumah saudara-saudara kalian yang laki-laki, di rumah saudara-saudara kalian yang perempuan, di rumah saudara-saudara bapak kalian yang laki-laki, di rumah saudara-saudara bapak kalian yang perempuan, di rumah saudara-saudara ibu kalian yang laki-laki, di rumah saudara-saudara ibu kalian yang perempuan, (di rumah) yang kalian miliki kuncinya706 atau (di rumah) kawan-kawan kalian. Tidak ada halangan bagi kalian untuk makan bersama-sama mereka atau sendiri-sendiri. Apabila kalian memasuki rumah-rumah, maka hendaklah kalian memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada diri kalian sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagi kalian, agar kalian mengerti."

Tidak mengapa atas orang-orang yang memiliki udzur, seperti orang-orang buta, orang-orang cacat dan orang-orang sakit untuk meninggalkan perkara-perkara wajib seperti jihad dan lainnya, yang amat bergantung pada kenormalan penglihatan orang yang buta, atau kenormalan fisik orang yang pincang dan kesehatan jasmani orang yang sakit. Dan tidak masalah atas kalian, wahai kaum Mukminin, untuk makan di rumah-rumah anak-anak kalian, atau di rumah bapak-bapak kalian, saudara-saudara perempuan kalian, paman-paman kalian (dari pihak ayah), bibi-bibi kalian (dari pihak ayah), paman-paman kalian (dari pihak ibu), dan bibi-bibi kalian (dari pihak ibu) atau di rumah-rumah yang kalian diserahi untuk menjaganya saat para pemiliknya tidak di tempat dengan izin mereka atau di rumah-rumah teman. Tidak masalah bagi kalian untuk makan secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Dan apabila kalian memasuki rumah-rumah yang berpenghuni atau tidak ada penghuninya, hendaknya sebagian kalian mengucapkan salam kepada sebagian yang lain dengan salam Islam, yaitu "assalamu 'alaikum warahmatullah wa barakatuh", atau "assalamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahish shalihin", bila tidak dijumpai orang di dalam. Ucapan salam ini telah disyariatkan oleh Allah, yang merupakan ucapan salam yang diberkahi, yang akan menumbuhkan kasih-sayang dan cinta, baik lagi dicintai oleh orang yang mendengar. Dan dengan penjelasan seperti ini, Allah menjelaskan kepada kalian rambu-rambu agamaNya dan ayat-ayatNya, agar kalian memahaminya dan mengamalkannya.


[706] Rumah yang diserahkan kepada kalian untuk mengurusnya.

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَإِذَا كَانُواْ مَعَهُۥ عَلَىٰٓ أَمْرٍ جَامِعٍ لَّمْ يَذْهَبُواْ حَتَّىٰ يَسْتَـْٔذِنُوهُ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَـْٔذِنُونَكَ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۚ فَإِذَا ٱسْتَـْٔذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَن لِّمَن شِئْتَ مِنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمُ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

(62) "Sesungguhnya orang-orang Mukmin hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan apabila mereka sedang bersamanya (Nabi) dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sehingga (terlebih dahulu) meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (wahai Nabi), mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan RasulNya. Maka apabila mereka meminta izin kepadamu untuk sebagian urusan (keperluan) mereka, maka berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara merekay dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Sesungguhnya orang-orang Mukmin yang sejati, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, serta menjalankan ajaran syariatNya. Dan apabila mereka bersama Nabi dalam urusan yang menyatukan mereka dengannya terkait kemaslahatan seluruh kaum Muslimin, tidak ada seorang pun dari mereka yang beranjak pergi sampai meminta izin kepadanya dahulu. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu, wahai Nabi, mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya dengan sebenarnya. Lalu bila mereka meminta izin kepadamu untuk sebagian kepentingan mereka, maka berilah izin bagi orang yang kamu kehendaki dari orang yang meminta izin untuk beranjak pergi karena satu alasan tersebut, dan mintalah ampunan dari Allah bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun terhadap dosa-dosa hamba-hambaNya yang beriman lagi Maha Penyayang terhadap mereka.

لَّا تَجْعَلُواْ دُعَآءَ ٱلرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَآءِ بَعْضِكُم بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

(63) "Janganlah kalian menjadikan panggilan Rasul (Muhammad) di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian (yang lain). Sungguh Allah mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi di antara kalian dengan berlindung (kepada kawannya); maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang pedih."

Dan janganlah kalian, wahai kaum Mukminin, ketika kalian memanggil Rasulullah, kalian mengatakan, "Wahai Rasul", atau "Wahai Rasul putra Abdullah", sebagaimana sebagian kalian memanggil sebagian yang lain. Akan tetapi, muliakanlah dia, dan ucapkanlah, "Wahai Nabi Allah", "Wahai Rasulullah." Allah telah mengetahui orang-orang munafik yang keluar meninggalkan majelis Rasulullah , sebagian mereka bersembunyi di belakang sebagian yang lain. Maka hendaknya orang-orang yang menyalahi perintah Rasulullah takut akan turun pada mereka cobaan dan keburukan atau akan menimpa mereka siksaan pedih lagi menyakitkan di akhirat kelak.

أَلَآ إِنَّ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ قَدْ يَعْلَمُ مَآ أَنتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُواْ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۢ

(64) "Ketahuilah, sesungguhnya milik Allah-lah apa yang di langit dan di bumi. Sungguh Dia mengetahui keadaan kalian sekarang, dan (mengetahui pula) hari (ketika mereka) dikembalikan kepadaNya, lalu Dia mengabarkan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Ketahuilah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan di bumi dari segi ciptaan, milik dan hambaNya. IlmuNya sungguh telah meliputi seluruh keadaan yang mengitari kalian, dan pada hari hamba-hamba kembali kepadaNya di akhirat, Dia akan mengabarkan kepada mereka tentang amal perbuatan mereka, dan memberikan balasan kepada mereka dengan itu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu; perbuatan-perbuatan dan keadaan-keadaan mereka tidak tersembunyi bagiNya.