MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH)

Firar dan Riyadhah

Hakikat firar adalah melarikan diri dari sesuatu ke sesuatu yang lain.

Firar ini ada dua macam:

  • Firar-nya orang-orang yang bahagia, yaitu firar kepada Allah.
  • Firar-nya orang-orang yang menderita, yaitu firar dari Allah kepada selain Allah.

Sedangkan firar dari Allah kepada Allah adalah firar-nya wali-wali Allah. Dalam menafsiri firman Allah, "Maka larilah kepada Allah", Ibnu Abbas berkata, "Artinya, larilah dari Allah kepada Allah dan taatlah kepada-Nya." Sedangkan Sahl bin Abdullah berkata, "Artinya, larilah dari selain Allah kepada Allah." Yang lain lagi berkata, "Larilah dari adzab Allah ke pahala-Nya, dengan iman dan ketaatan."

Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Artinya lari dari sesuatu yang tidak ada ke sesuatu yang senantiasa ada. Ada tiga derajat untuk firar ini:

  1. Firar-nya orang-orang awam, dari kebodohan ke ilmu, dengan disertai keyakinan dan usaha, dari kemalasan ke kerajinan yang disertai kesungguhan dan tekad, dari kesempitan ke kelapangan yang disertai harapan.
    Tentang firar dari kebodohan ke ilmu, kebodohan itu sendiri ada dua macam: Pertama, tidak mengetahui kebenaran yang bermanfaat. Kedua, tidak beramal menurut keharusan dan kelazimannya. Kedua-duanya sudah mendefinisikan makna kebodohan menurut bahasa, istilah, syariat dan hakikat. Maka Musa berkata,
    "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh." (Al-Baqarah: 67).
    Beliau berkata seperti itu setelah kaumnya berkata, "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Berarti, Musa berlindung kepada Alla h agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang suka mengejek. Yusuf juga berkata,
    "Dan, jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh. " (Yusuf: 33).
    Artinya, agar beliau tidak termasuk orang-orang yang melakukan apa-apa yang diharamkan kepada mereka. Allah befirman,
    "Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan. " (An-Nisa': 17).
    Qatadah berkata, "Para shahabat sudah sepakat bahwa apa pun bentuk kedurhakaan terhadap Allah disebut kebodohan." Ada pula yang berkata, "Para shahabat sudah sepakat bahwa siapa pun yang durhaka kepada Allah adalah orang yang bodoh."
    Seorang penyair berkata,
    "Tak ada gunanya seseorang membodohi kami
    hingga kita lebih bodoh dari Jahily."

    Orang yang tidak mendalami ilmu disebut bodoh, entah karena dia tidak bisa mengambil manfaat dari ilmu itu, hingga dia disebut orang bodoh, entah karena ketidaktahuannya terhadap akibat dari perbuatannya.
    Firar ini merupakan firar dari dua macam kebodohan: Kebodohan terhadap ilmu yang harus didapatkan dan diyakini, dan kebodohan terhadap pengamalannya.
    Firar dari kemalasan ke kerajinan yang disertai kesungguhan dan tekad, artinya meninggalkan belenggu kemalasan lalu berbuat dan berusaha, dengan kesungguhan dan tekad, tidak asal-asalan, tidak meremehkan dan tidak berandai-andai. Kesungguhan artinya kebenaran dalam beramal dan berusaha, sedangkan tekad merupakan kesungguhan dalam kehendak. Maka Allah befirman kepada Yahya,
    يَٰيَحْيَىٰ خُذِ ٱلْكِتَٰبَ بِقُوَّةٍ ۖ
    "Hai Yahya, ambillah Al-Ki tab (Tau rat) itu dengan sungguh-sungguh." (Maryam: 12).
    Quwwah dalam ayat ini berarti kesungguhan yang disertai tekad dan usaha, tidak seperti orang yang mengambil perintah-Nya dengan ragu­ ragu dan setengah hati.
    Firar dari kesempitan ke kelapangan yang disertai harapan artinya lari dari dada yang terasa sesak dan penat karena kekhawatiran, kegelisahan, kesedihan dan ketakutan yang dirasakan hamba dari dalam dirinya, dan juga yang datang dari luar dirinya, seperti hal-hal yang berkaitan dengan sebab-sebab kemaslahatan hidupnya di dunia ini, baik dalam masalah harta, badan, keluarga, masyarakat atau musuhnya. Dia harus lari dari semua jenis kesempitan yang menghimpit dada, lalu beralih ke kelapangan keyakinan kepada Allah, tawakal dan harapan kepada-Nya.
    "Dan, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (Ath-Thalaq: 2-3).
    Ar-Rabi' bin Khutsaim berkata, "Artinya, Allah menjadikan baginya jalan keluar dari hal-hal yang biasanya membuat manusia merasa sesak dadanya."
    Abul-Aliyah berkata, "Artinya, Allah menjadikan baginya jalan keluar dari segala kekerasan, baik kekerasan di dunia maupun di akhirat.
    Allah pasti memberikan kelapangan bagi orang Mukmin dari segala hal yang biasanya membuat manusia merasa sempit dan sesak dadanya."
    Selagi seorang hamba mempunyai persangkaan yang baik terhadap Allah, berpengharapan yang baik kepada-Nya dan tawakkal secara sungguh-sungguh, maka Allah tidak akan menelantarkannya dan tidak akan mengabaikan harapannya. Keyakinan dan baik sangka terhadap Allah ini merupakan istilah lain dari kelapangan hati. Sebab tidak ada yang lebih membuat dada terasa lapang setelah iman, selain dari keyakinan, mengharapkan yang baik dan berbaik sangka kepada Allah.
  2. Firar-nya orang-orang yang khusus, yaitu dari pengabaran ke kesaksian, dari rupa ke inti, dari bagian untuk diri sendiri ke pelepasan.
    Artinya, mereka tidak ridha jika iman mereka hanya sekedar dari pengabaran. Mereka ingin naik lebih tinggi agar bisa menyaksikan siapa pemberi kabar itu. Mereka ingin naik dari ilmul-yaqin lewat pengabaran ke ainul-yaqin lewat kesaksian, seperti yang diinginkan Ibrahim Alaihis­Salam dari Allah.
    وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ رَبِّ أَرِنِى كَيْفَ تُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِى ۖ
    "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, 'Ya Rabbi, perlihatkanlah pa­ daku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati!' Allah befirman, 'Belum yakinkah kamu?' Ibrahim menjawab, 'Aku telah meyakininya, tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)'. "(Al-Baqarah: 260).
    Ibrahim menuntut agar keyakinannya nyata di depan mata dan apa yang ingin diketahui dapat disaksikan. Inilah makna yang diungkapkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang kesangsian, dalam sabda beliau, "Kita lebih layak untuk sangsi daripada Ibrahim yang berkata, 'Ya Rabbi, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati!'"
    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah sangsi, begitu pula Ibrahim. Tapi memang begitulah beliau mengungkapkan makna ini. Apa yang dituntut Ibrahim itu bukan karena sangsi atau ragu-ragu, tapi karena beliau menuntut kemantapan.
    Ada tiga tingkatan tentang hal ini: Ilmul-yaqin yang diperoleh dari pengabaran, kemudian hati mendapatkan kejelasan hakikat pemberi kabar. Ilmu tentang pemberi kabar ini berubah menjadi ainul-yaqin, setelah itu menyatu menjadi haqqul-yaqin. Ilmu kita tentang surga dan neraka pada saat ini disebut ilmul-yaqin. Jika surga ditampakkan kepada orang­orang yang bertakwa dan neraka diperlihatkan kepada orang-orang yang durhaka, artinya mereka melihat dengan mata kepala sendiri, maka hal itu disebut ainul-yaqin. Jika penghuni surga sudah masuk surga dan penghuni neraka masuk ke neraka, maka itu disebut haqqul-yaqin.
    Firar dari rupa ke inti, artinya keluar dari ilmu dan amal-amal yang tampak, lalu beralih ke hakikat iman dan mu'amalah hati. Orang-orang yang mempu nyai tekad yang besar tidak puas hanya dengan rupa-rupa amal yang tampak mata. Mereka tidak mempedulikannya kecuali dengan ruh dan hakikatnya. Pengetahuan tentang Allah tidak mengharuskan seseorang untuk meninggalkan perintah seperti anggapan orang-orang zindiq dan sufi. Bahkan seharusnya mereka bisa menyimpulkan hakikat perintah, rahasia ubudiyah dan ruh amaliyah. Mereka memposisikan diri di hadapan perintah seperti posisi orang yang mengetahui maksud perkataan orang lain yang berbicara dengannya, entah yang tersamar, yang jelas atau yang berupa isyarat. Sedangkan posisi selain orang-orang sufi seperti orang yang mengikut dibelakang orang yang berilmu itu dan hanya menghapal semata, tanpa memahami dan mengerti maksudnya. Mereka ini lebih membutuhkan kepada perintah, sebab mereka tidak sampai kepada pengertian dan hakikat itu kecuali dengan adanya perintah, di samping hams ada hapalan, pengetahuan dan pengamalan.
    Orang-orang sufi ini mengartikan hakikat perintah yang dituntut adalah ruhnya, bukan rupa dan zhahimya. Karena itu mereka berkata, "Kami menghimpun hasrat pada tujuan dan hakikat, dan kami tidak membutuhkan rupa dan zhahirnya. Siapa yang menyibukkan diri dengan rupa berarti melalaikan tujuan dengan suatu sarana."
    Mereka tertipu, seperti halnya orang-orang yang hanya memperhatikan rupa amal dan zhahimya tanpa memperhatikan hakikat, ruh dan tujuannya. Golongan yang kedua mengabaikan rahasia amal, tujuan dan hakikatnya, sedangkan golongan pertama mengabaikan rupa dan zhahirnya. Mereka menganggap telah sampai kepada hakikat amal sekalipun tanpa zhahir amal itu. Padahal mereka hanya sampai kepada zindiq dan kekufuran, mengingkari apa yang seharusnya diketahui tentang diutusnya para rasul. Mereka adalah orang-orang kafir, zindiq dan munafik, sedangkan golongan selain mereka juga tidak sempuma. Hati itu mem­ pu nyai ubudiyah sebagaimana anggota badan. Mengabaikan ubudiyah hati sama dengan mengabaikan ubudiyah anggota tubuh. Kesempumaan ibadah ialah dengan menerapkan ubudiyah untuk masing-masing pasukan, pasukan hati dan pasukan anggota tubuh.
    Firar dari bagian untuk diri sendiri ke pelepasan bagian itu ada beberapa tingkatan, yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang benar­ benar memiliki ma'rifat tentang hak-hak Allah dan apa yang diinginkan­Nya serta hak-hak hamba-Nya, mengetahui diri sendiri, amal dan peng­ halangnya.
    Secara umum, bagian ini artinya apa pun selain yang dikehendaki Allah darimu, entah yang hukumnya haram, makruh, mubah atau sunat. Semua ini tidak akan diketahui kecuali dengan memiliki ilmu yang mendalam tentang Allah dan perintah-Nya, tentang nafsu dan sifat-sifatnya.
    Sebenarnya di sana ada bagian yang bisa didapatkan seorang hamba sebagai haknya. Namun dia lari dari bagian ini untuk melepaskannya. Namun jarang manusia yang mampu melakukan hal ini, karena mereka beribadah kepada Allah justru untuk mendapatkan bagian dari apa yang dikehendakinya. Kalau pun ada, maka itu adalah kedudukan para nabi dan shiddiqin.
  3. Adapun firar-nya orang-orang yang lebih khusus dari orang-orang yang khusus ialah lari dari selain kebenaran kepada kebenaran, dari kesaksian firar kepada kebenaran, kemudian firar dari kesaksian firar. Uraian tentang masalah ini tidak jauh berbeda dengan uraian yang terdahulu.

Salah satu di antara persinggahan iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in ialah riyadhah, yang artinya melatih jiwa pada kebenaran dan keikhlasan.

Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Riyadhah artinya melatih jiwa untuk menerima kebenaran." Hal ini bisa mengandung dua pengertian: Pertama, melatihnya untuk menerima kebenaran, jika kebenaran ini disodorkan kepadanya, yang berkaitan dengan perkataan, perbuatan maupun kehendaknya. Apabila kebenaran ini ditawarkan kepadanya, maka dia langsung menerimanya. Kedua, menerima kebenaran dari orang yang menawarkan kepadanya. Firman Allah,
"Dan, orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Az-Zumar: 33).
Kebenaranmu saja tidak cukup, tapi harus ada kebenaranmu dan pembenaranmu terhadap orang-orang yang benar. Sebab sebenarnya banyak orang yang benar, tetapi mereka tidak mau membenarkan karena takabur, dengki atau sebab lainnya.

Riyadhah ini ada tiga tingkatan:

  1. Riyadhah-nya orang awam, yaitu mendidik akhlak dengan ilmu, membersihkan amal dengan keikhlasan dan memperbanyak hak dalam mu'amalah.
    Mendidik akhlak dengan ilmu artinya menata dan membersihkan akhlak sesuai dengan pranata ilmu, sehingga seorang hamba tidak bergerak, zhahir maupun batinnya kecuali dengan pranata ilmu, sehingga semua gerakannya itu selalu ditimbang dengan timbangan syariat.
    Membersihkan amal dengan keikhlasan artinya membebaskan semua amal dari pendorong untuk kepentingan selain Allah yang mengotorinya. Ini merupakan istilah lain dari menyatukan kehendak.
    Memperbanyak hak dalam mu'amalah artinya memberikan hak Allah dan hak hamba secara sempurna seperti yang diperintahkan.
    Jika tiga perkara ini dirasakan berat, maka pelaksanaannya merupa kan riyadhah. Apabila sudah terbiasa, maka ia akan menjadi akhlak dan perilaku.
  2. Riyadhah-nya orang-orang khusus, yaitu dengan mencegah perpisahan, tidak menoleh ke tahapan yang telah dilewatinya dan membiarkan ilmu mengalir terus.
    Mencegah perpisahan artinya memotong sesuatu yang memisahkan hatimu dari Allah secara keseluruhan, menghadap kepada-Nya secara utuh, hadir bersama-Nya dengan segenap hati dan tidak menoleh kepada selain-Nya.
    Tidak menoleh ke tahapan yang telah dilewati artinya tidak menganggap ilmu yang dimiliki sudah cukup dan baik, tetap mencari tambahan, merasa khawatir andaikata kedudukan dirinya justru menjadi penghambat untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Yang sudah ada harus dijaga, dan seluruh kekuatannya harus digunakan untuk mencapai tingkatan dan tahapan yang lebih tinggi lagi. Siapa yang tidak mempunyai tekad untuk maju terus, berarti dia sedang mundur tanpa disadarinya. Sebab tabiatnya tidak mengenal istilah berhenti di tempat. Yang ada adalah maju ke depan ataukah mundur ke belakang. Orang yang benar-benar melakukan perjalanan tidak akan menoleh ke belakang dan tidak ingin mendengar panggilan kecuali yang datang dari arah depan dan bukan dari arah belakang.
    Membiarkan ilmu mengalir terus artinya pergi bersama orang yang mengajak untuk mencari ilmu, kemana pun perginya dia ikut di belakang­ nya, ke mana pun berlari, dia tetap mengikuti. Hakikatnya adalah pasrah kepada ilmu dan tidak menentangnya, rasa maupun keadaan. Teruslah berjalan bersama ilmu ke mana pun ia pergi. Tapi yang wajib dilakukan adalah mempersatukan ilmu dengan keadaan dan membuatnya mengatur keadaan serta tidak berbenturan.
    Tentu saja semua ini sulit dilakukan kecuali orang-orang yang benar-benar memiliki tekad yang kuat dan benar, karena itulah yang demikian ini disebut riyadhah (latihan). Selagi jiwa dilatih terus dan dibiasakan, maka lama-kelamaan akan berubah menjadi akhlak.
  3. Riyadhah-nya orang-orang yang lebih khusus dari orang-orang yang khusus ialah dengan membebaskan kesaksian, naik ke tingkat penyatuan, menolak penentangan dan memutuskan segala bentuk penukaran. Membebaskan kesaksian mengandung dua pengertian: Membebaskannya agar tidak menoleh ke yang lain, dan membebaskannya agar tidak perlu melihatnya. Sedangkan naik ke tingkat penyatuan artinya meninggalkan makna-makna perpisahan lalu beralih ke penyatuan dzat. Menolak penentangan artinya apa yang bertentangan dengan salah satu kehendaknya atau kehendak Allah. Memutuskan segala bentuk penukaran artinya membebaskan mu'amalah dari kehendak untuk mendapatkan pengganti atau imbalan. Dengan kata lain, menjadikan Allah sebagai sesembahan, sekalipun yang menyembah-Nya tidak mendapat imbalan apa-apa, karena memang menurut Dzat-Nya Allah layak untuk disembah dan tidak perlu menuntut atau meminta imbalan dari-Nya.
    Namun ada yang berpendapat, memperhatikan imbalan ini sangat penting bagi orang yang beramal. Jadi yang menjadi permasalahan adalah perhatian terhadap imbalan ini dan kejelasannya. Orang yang mencintai secara tulus dan tidak peduli terhadap imbalan, ternyata justru mengharapkan imbalan yang lebih besar dan dia mengejarnya. Imbalan yang lebih besar ini adalah kedekatan dengan Allah, melakukan perjalanan hingga sampai di sisi-Nya, tidak menyibukkan diri dengan hal-hal selain­Nya, menikmati cinta dan kerinduan untuk bersua dengan-Nya. Ini semua merupakan imbalan yang diharapkan orang-orang yang khusus mengharapkannya dan sekaligus merupakan tujuan mereka. Tidak ada yang tercela dalam hal ini. Bahkan ibadah mereka yang paling sempurna ialah jika perhatian mereka terhadap imbalan ini semakin besar.
    Memang meminta imbalan yang berkisar di kalangan makhluk, berupa kedudukan, harta, kekuasaan, tempat tinggal dan hal-hal lain yang serupa dengan ini merupakan sikap yang tercela. Terlebih lagi jika memang hanya itulah tuntutannya.
    Tapi jika tuntutan mereka adalah Dzat Yang Mahaagung, kedekatan dengan-Nya, kenikmatan cinta dan kerinduan bersua dengan-Nya, maka tidak ada yang tercela dalam ubudiyah ini dan tidak ada yang dianggap kurang. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
    إِذَا سَأَلْتُمُ اللّٰهَ فَاسْأَلُوْهُ الْفِرْدَوْسَ. فَإِنَّهُ وَسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ. وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمٰنِ. وَمِنْهُ تَفْجُرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ.
    "Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah surga Firdaus kepada-Nya, karena Firdaus itu merupakan pertengahan surga dan surga yang paling tinggi. Di atasnya ada 'Arsy Allah Yang Maha Pengasih, dan dari sana sungai-sungai surga memancar."
    Sebagaimana yang diketahui, surga Firdaus ini adalah tempat orang­ orang yang lebih khusus dari orang-orang yang khusus. Memohon agar termasuk golongan mereka bukanlah sesuatu yang tercela dalam ubudiyah.