Referensi - Ilmu Hadits Untuk Pemula

Hadis Dla’if Karena Terdapat Cacat pada ‘Adalah Rawi

Maudlu’

Definisi

مَا كَانَ رُوَاتُهُ كَذَّابًا أَوْ مَتَنَهُ مُخَالَفًا لِلْقَوَاعِدِ

Apabila rawinya pendusta atau matannya menyelisihi qaidah [agama].

Penjelasan Definisi;

Rawinya pendusta, maksudnya salah satu rawinya, atau sebagian di antara rawinya dianggap dusta dalam meriwayatkan hadis.

Menyelisihi qaidah maksudnya qaidah syara’ yang telah ditetapkan di dalam kitabullah dan sunnah yang sahih.

Misalnya; hadis yang dikeluarkan oleh al-Khathib al-Baghdadi di dalam Tarikh al-Baghdad, (5/297) dari jalan

مُحَمَّدٌ بْنُ سَلْمَانَ بْنِ هِشَامٍ ٬ حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ ٬ عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ ٬ عَنْ نَافِعٍ ٬ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَا لَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّ مَ: لَمَّا أَسْرَى بِي إِلَى السَّمَاء : فَص رْتُ إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ سَقَطَ فِي حُجْرِي تُفَّاحَةٌ ٬ فَأَخَذْتُهَا بِيَدِيْ ٬ فَانْفَلَقَتْ فَخَرَجَ مِنْهَا حَوْرَاءَ تَقَهْقَهَ ٬ فَقُلْتُ لَهَا : تَكَلَّمِيْ ٬ لِمَنْ أَنْتَ؟ قَالَتْ لِلْمَقْتُوْلِ شَهِيْدًا عُثْمَانَ

Muhammad bin Sulaiman bin Hisyam, Waki’ mengajarkan hadis kepada kami, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, ketika Allah mengisra’kan aku ke langit, aku memasuki langit keempat, punggungku kejatuhan buah apel, lalu ia kuambil dengan tanganku, lalu merekah, dari buah itu keluar bidadari tertawa terbahak-bahak lalu aku tanya ia, “Jawablah, untuk siapakah kamu diciptakan?” bidadari itu berkata; “Untuk yang terbunuh sebagai syahid, yaitu Usman”.

Hadis ini maudlu’, di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Sulaiman bin Hisyam, al-Khathib al-Baghdadi menyatakan bahwa ia telah memalsukan hadis, dan adz-Dzahabi mendustakannya di dalam Mizan alI’tidal (3/57). Ibnu Adi berkata, “Dia menyambungkan hadis dan mencurinya”.

Contoh lain, Hadis yang dikeluarkan oleh al-Khilal di dalam Fadlail Syahr Rajab (no. 2) dari jalan sebagai berikut

عَنْ زِيَادُ بْنُ مَيْمُوْنَ ٬ عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ ٬ قَال : قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ٬ لِمَا سُمِّيَ رَجَب؟ لأَنَّهُ بَتَرَجَّبَ فِيْهِ خَيْرٌ كَثِيْرٌ لِشَعْبَانَ وَرَمَضَانَ

Ziyad bin Maimun, dari Anas bin Malik, ia berkata, Wahai Rasulullah, mengapa dinamakan Rajab? Beliau menjawab, “Karena sebagai penghormatan, pada bulan itu merupakan kebaikan yang banyak untuk bulan Sya’ban dan Ramadhan”

Di dalam hadis ini terdapat rawi yang bernama Ziyad bin Maimun alFakihi, ia pendusta dan telah mengakui pemalsuannya terhadap hadis Rasulullah saw

Yazid bin Harun berkata, “Dia pendusta”. Abu Dawud berkata, “Aku mendatanginya, lalu ia berkata, Astaghfirullah, aku telah memalsukan hadishadis ini.

Hukum meriwayatkan hadis maudlu’

Meriwayatkan hadis maudlu’ hukumnya haram, kecuali untuk memberi contoh. Kalaupun mengeluarkannya, harus disertai illahnya dan penjelasan tentang kepalsuannya, karena dikhawatirkan akan diamalkan oleh orang yang tidak tidak mengetahui kepalsuannya.

Hadis maudlu’ banyak terdapat dalam kitab arRaqaiq (kehalusan hati), atTarhib wa atTarghib. Mengamalkan hadis maudlu’ tidak diperbolehkan meskipun sebatas untuk fadhail alA’mal. Boleh mengamalkan kandungan hadis maudlu’ apabila bersesuaian dengan salah satu dasar syari’ah. Apabila ada kesesuaian, maka mengamalkannya harus dilandaskan pada dasar syari’ah itu, bukan karena hadis maudlu’. Mengamalkan hadis maudlu’ akan membuka peluang bagi munculnya bid’ah, baik dalam aqidah maupun dalam hukum-hukum fiqh.