Referensi - Ilmu Hadits Untuk Pemula

Yang Pertama Kali Membukukan Hadis Sahih

Kemudian setelah generasi mereka muncul imam huffadz dan amirul mukminin fil hadis, Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah al­Bukhari, beliau mengumpulkan hadis­hadis sahih dalam satu kitab hadis yang diseleksi dari 100 ribu hadis sahih yang beliau hafalkan. Disebutkan di dalam suatu riwayat bahwa beliau berkata, “Aku hafal 100 ribu hadis sahih, dan 200 ribu hadis yang tidak sahih” (Lihat, Ulumul al­Hadits, Ibnu Sholah, h.20. Juga dikeluarkan oleh al­Khathib di dalam kitab Tarikh al­Baghdad, j.2, h.8 dengan sanad yang sampai kepada beliau (al­Bukhari), “Aku tampilkan di dalam kitab ini –yakni ash­Shahih­ dari sekitar 600 ribu hadis”)

Adapun gagasan yang membangkitkannya untuk menulis kitab Jami’ ash­ Shahih, sebagaimana disebutkan oleh Ibrahim bin Ma’qal, bahwa ia mendengar al­Bukhari berkata, “Aku di sisi Ishaq bin Rahawiyah, lalu sebagian kawan­ kawanku berkata, andaikata Engkau mengumpulkan sebuah kitab ringkas tentang sunnah­sunnah nabi saw, lalu terbetiklah di dalam hatiku keinginan untuk menuliskannya, lalu aku mengambil keputusan untuk mengumpulkan hadis shahih di dalam kitab ini” (Tarikh al­Baghdad, j.2, h.8, dan Siyar A’lam an­Nubala’, adz­Dzahaby, j.12, h.401)

Kemudian muridnya, dan pengikut metode beliau al­Imam, huffadz al­ Mujawwad, Abu al­Hasan Muslim bin al­Hujjaj bin Muslim bin Ward bin Kausyan al­Qusyairy an­Naisabury (rahimahullah) mengikuti jejak langkah al­ Bukhari. Dia menuliskan kitab ash­Shahih dalam tempo 15 tahun. (Lihat, as­Siyar, j.12, h.566)

Para ulama’ mendapatkan kedua kitab tersebut dengan sikap menerima, dan bersepakat bahwa keduanya adalah kitab paling shahih setelah al­Qur’an al­ Karim. Imam Nawawi berkata (Syarh Shahih Muslim, an­Nawawi, j.1, h.14), “Para ulama’ sepakat bahwa kitab paling sahih setelah al­Qur’an al­Aziz adalah kitab Shahih al­Bukhari dan Shahih Muslim, dan ummat menerima keduanya”

Hanya saja sebagian ulama’, seperti ad­Daruquthni, Abu Ali al­Ghaisany al­ Jiyani, Abu Mas’ud ad­Dimasyqi, dan Ibnu Ammar asy­Syahid mengkritik beberapa buah hadis di dalam kedua kitab tersebut,

Tetapi kritikan itupun telah dijawab oleh sejumlah ulama’ seperti an­Nawawy di dalam Syarh Shahih Muslim, Ibnu Hajar di dalam kitab Hadyu as­Sari dan Fathu al­Bari. Dan di antara tokoh yang zaman kini adalah asy­Syaikh Rabi’ bin Hadi al­Madkhaly, beliau telah menulis sebuah kitab yang bagus yang berjudul, Baina al­Imamain Muslim wa ad­Daruquthny. Kitab tersebut berisi pembelaan terhadap Shahih Muslim dari para pengritiknya.