Referensi - Ilmu Hadits Untuk Pemula

Hadis Sahih

Definisi Hadis Shahih

هُوَ الْمُسْنَدُ ٬ الْمُتَّصِلُ إِسْنَادُهُ ٬ بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ ٬ عَنِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ إِلَى مُنْتَهَاهُ ٬ مِنْ غَي رِ شُذُوْذٍ وَلاَ عِلَّةٍ

Hadis sahih adalah hadis yang musnad, bersambung sanadnya, dengan penukilan seorang yang adil dan dlabith dari orang yang adil dan dlabith sampai akhir sanad, tanpa ada keganjilan dan cacat. (Muqaddimah Ibni Sholah, h.11)

Untuk memudahkan memahami definisi tersebut, dapat dikatakan, bahwa hadis sahih adalah hadis yang mengandung syaratsyarat berikut;

1. Hadisnya musnad

2. Sanadnya bersambung

3. Para rawi (periwayat)nya adil dan dlabith

4. Tidak ada syadz (keganjilan)

5. Tidak ada ilah (cacat)

Penjelasan Definisi

Musnad, maksudnya hadis tersebut dinisbahkan kepada nabi saw dengan disertai sanad. Tentang definisi sanad telah disebutkan di depan.

Sanadnya bersambung, bahwa setiap (periwayat) dalam sanad mendengar hadis itu secara langsung dari gurunya

Para rawinya adil dan dhabith, yaitu setiap periwayat di dalam sanad itu memiliki sifat adil dan dhabith. Apa yang dimaksud dengan adil dan dhabith ?

Adil adalah sifat yang membawa seseorang untuk memegang teguh taqwa dan kehormatan diri, serta menjauhi perbuatan buruk, seperti syirik, kefasikan dan bid’ah (5 Nuzhat anNadhr, h.51).

Dlabith (akurasi), adalah kemampuan seorang rawi untuk menghafal hadis dari gurunya, sehingga apabila ia mengajarkan hadis dari gurunya itu, ia akan mengajarkannya dalam bentuk sebagaimana yang telah dia dengar dari gurunya

Dlabith ini ada dua macam, yaitu;

1. Dlabith shadr, yaitu kemampuan seorang rawi untuk menetapkan apa yang telah didengarnya di dalam hati – maksudnya dapat menghafal dengan hafalan yang sempurna sehingga memungkinkan baginya untuk menyebutkan hadis itu kapanpun dikehendaki dalam bentuk persis seperti ketika ia mendengar dari gurunya (Nuzhat anNadhr, h.51).

2. Dlabith kitab, yaitu terpelihara bukunya dari kesalahan, yang menjadi tempat untuk mencatat hadis atau khabar yang telah didengarnya dari salah seorang atau beberapa gurunya, dengan dikoreksikan dengan kitab asli dari guru yang ia dengarkan hadisnya, atau diperbandingkan dengan kitab-kitab yang terpercaya kesahihannya. Dan ia memelihara bukunya dari tangantangan orang yang hendak merusak hadis-hadis di dalam kitab-kitab lainnya.

Tidak ada syadz. Syadz secara bahasa berarti yang tersendiri, secara istilah berarti hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat bertentangan dengan hadis dari periwayat lain yang lebih kuat darinya. Tentang hadis syadz secara terperinci, akan dibahas pada bagian tersendiri, Insya Allah.

Tidak ada illah, Di dalam hadis tidak terdapat cacat tersembunyi yang merusak kesahihan hadis. Tentang hadis mu’allal (cacat) juga akan dibahas dalam bagian tersendiri Nuzhat anNadhr, h.52.

Contoh Hadis Sahih

Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam kitab Shahihnya j.4 h.18, kitab al-jihad wa assiyar, bab ma ya’udzu min aljubni;

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ ٬ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ ٬ قَا لَ: سَمِعْتُ أَبِي قَال : سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِي اللَّه عَنْهم ٬ قَال : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُول : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ ٬ وَالْكَسَلِ ٬ وَالْجُبْنِ ٬ وَالْهَرَمِ ٬ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ٬ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir, ia berkata; Aku mendengar ayahku berkata; Aku mendengar Anas bin Malik ra berkata, Rasulullah saw berdo’a ; Ya Allah, aku memohon kepadaMu perlindungan dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut dan dari kepikunan, dan aku memohon kepadaMu perlindungan dari fitnah (ujian) di masa hidup dan mati, dan memohon kepadaMu perlindungan dari adzab di neraka

Hadis tersebut di atas telah memenuhi persyaratan sebagai hadis sahih, karena.

1. Ada sanadnya hingga kepada Rasulullah saw.

2. Ada persambungan sanad dari awal sanad hingga akhirnya. Anas bin Malik adalah seorang shahabat, telah mendengarkan hadis dari nabi saw. Sulaiman bin Tharkhan (ayah Mu’tamir), telah menyatakan menerima hadis dengan cara mendengar dari Anas. Mu’tamir, menyatakan menerima hadis dengan mendengar dari ayahnya. Demikian juga guru alBukhari yang bernama Musaddad, ia menyatakan telah mendengar dari Mu’tamir, dan Bukhari rahimahullah juga menyatakan telah mendengar hadis ini dari gurunya.

3. Terpenuhi keadilan dan kedhabitan dalam para periwayat di dalam sanad, mulai dari shahabat, yaitu Anas bin Malik ra hingga kepada orang yang mengeluarkan hadis, yatu Imam Bukhari

a. Anas bin Malik ra, beliau termasuk salah seorang shahabat Nabi saw, dan semua shahabat dinilai adil.

b. Sulaiman bin Tharkhan (ayah Mu’tamir), dia siqah abid (terpercaya lagi ahli ibadah).

c. Mu’tamir, dia siqah

d. Musaddad bin Masruhad, dia siqah hafid.

e. Al-Bukhari –penulis kitab as-Shahih, namanya adalah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, dia dinilai sebagai jabal alhifdzi (gunungnya hafalan), dan amirul mu’minin fil hadis.

4. Hadis ini tidak syadz (bertentangan dengan riwayat lain yang lebih kuat)

5. Hadis ini tidak ada illahnya Dengan demikian jelaslah bahwa hadis tersebut telah memenuhi syaratsyarat hadis sahih, Karena itulah Imam Bukhari menampilkan hadis ini di dalam kitabnya ashShahih.