Penjelasan Hadits

KITAB THAHARAH
BAB PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم -عَلَى عَهْدِهِ- يَنْتَظِرُونَ اَلْعِشَاءَ حَتَّى تَخْفِقَ رُؤُوسُهُمْ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اَلدَّارَقُطْنِيّ ُ وَأَصْلُهُ فِي مُسْلِم

Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu berkata: pernah para shahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pada jamannya menunggu waktu isya' sampai kepala mereka terangguk-angguk (karena kantuk) kemudian mereka shalat dan tidak berwudlu Dikeluarkan oleh Abu Dawud shahih menurut Daruquthni dan berasal dari riwayat Muslim
[Shohih, dikeluarkan oleh Muslim (376) dalam al-Haidh, Abu Awanah dalam shohiihnya dan Abu Dawud (200) dalam ath-Thohaatoh, Ad-Daroquthni dengan lafazh "Sesungguhnya aku melihat para sahabat Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam dibangunkan untuk shalat hingga aku mendengar salah seorang dari mereka suara dengkur, kemudian mereka sholat tanpa berwudhu lagi.", Dan tidak ada pada Muslim lafazh : "Sehigga kepala mereka terkantuk-kantuk"]


عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي اِمْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ اَلصَّلَاةَ؟ قَالَ: لَا إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِحَيْضٍ فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي اَلصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ اَلدَّمَ ثُمَّ صَلِّي ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه
لْبُخَارِيِّ: ( ثُمَّ تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ ) وَأَشَارَ مُسْلِمٌ إِلَى أَنَّهُ حَذَفَهَا عَمْدً ا

'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Fathimah binti Abu Hubaisy datang ke hadapan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam seraya berkata: Wahai Rasulullah sungguh aku ini perempuan yang selalu keluar darah (istihadlah) dan tidak pernah suci bolehkah aku meninggalkan shalat؟ Rasul menjawab: "Tidak boleh itu hanya penyakit dan bukan darah haid Apabila haidmu datang tinggalkanlah shalat dan apabila ia berhenti maka bersihkanlah dirimu dari darah itu (mandi) lalu shalatlah" Muttafaq Alaihi [Shohih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (228) dalam al-Haidh dan Muslim (333,334) dalam al-Haidh]

Menurut Riwayat Bukhari: "Kemudian berwudlulah pada setiap kali hendak shalat" Imam Muslim memberikan isyarat bahwa kalimat tersebut sengaja dibuang oleh Bukhari [Shohih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (228) dalam al-Haidh dan Abu Dawud (298). Lihat Nashbur Rooyah (I/96)]


عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً فَأَمَرْتُ اَلْمِقْدَادَ بْنَ اَلْأَسْوَدِ أَنْ يَسْأَلَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَسَأَلَهُ ؟ فَقَالَ: فِيهِ اَلْوُضُوءُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيّ

Ali Ibnu Abu Thalib Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku adalah seorang laki-laki yang sering mengeluarkan madzi maka aku suruh Miqdad untuk menanyakan hal itu pada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan bertanyalah ia pada beliau Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Dalam masalah itu wajib berwudlu" Muttafaq Alaihi lafadznya menurut riwayat Bukhari
[Shohih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (132) dalam al-Wudhuu, dan Muslim (303) dalam al-Haidh dan ini lafazh al-Bukhari]


وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى اَلصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ ) أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَضَعَّفَهُ اَلْبُخَارِيّ

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mencium sebagian istrinya kemudian keluar menunaikan shalat tanpa berwudlu dahulu Diriwayatkan oleh Ahmad dan dinilai lemah oleh Bukhari
[Shohih, diriwayatkan oleh Ahmad (25238), at-Tirmidzi (86) dari Aisyah, At-Tirmidzi berkata "Aku mendengar Muhammad bin Ismail mendhoifkan hadits ini, ia berkata Habib bin Tsabit tidak mendengar dari Urwah". At-Tirmidzi berkata "Tidak ada yang shohih dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam dalam bab ini.".Al-Albani menshohihkannya dalam Shohiih at_Tirmidzi (86) dan ia ada pada Hal Mutanaahiyah karya Ibnul Jauzi]


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ: أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا؟ فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ اَلْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا ) أَخْرَجَهُ مُسْلِم

Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila seseorang di antara kamu merasakan sesuatu dalam perutnya kemudian dia ragu-ragu apakah dia mengeluarkan sesuatu (kentut) atau tidak maka janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid kecuali ia mendengar suara atau mencium baunya" Dikeluarkan oleh Muslim
[Shohih, diriwayatkan oleh Muslim (362) dalam al-Haidh]


MEMEGANG KEMALUAN

وَعَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: ( قَالَ رَجُلٌ: مَسَسْتُ ذَكَرِي أَوْ قَالَ اَلرَّجُلُ يَمَسُّ ذَكَرَهُ فِي اَلصَّلَاةِ أَعَلَيْهِ وُضُوءٍ ؟ فَقَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم "لَا إِنَّمَا هُوَ بَضْعَةٌ مِنْكَ ) أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّان وَقَالَ اِبْنُ اَلْمَدِينِيِّ: هُوَ أَحْسَنُ مِنْ حَدِيثِ بُسْرَةَ

Thalq Ibnu Ali Radliyallaahu 'anhu berkata: Seorang laki-laki berkata: saya menyentuh kemaluanku atau ia berkata: seseorang laki-laki menyentuh kemaluannya pada waktu shalat apakah ia wajib berwudlu؟ Nabi menjawab: "Tidak karena ia hanya sepotong daging dari tubuhmu" Dikeluarkan oleh Imam Lima dan shahih menurut Ibnu Hibban Ibnul Madiny berkata: Hadits ini lebih baik daripada hadits Busrah [Shohih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (182, 183) dalam ath-Thohaaroh, at-Tirmidzi (85) dalam Abwaab ath-Thohaaroh, an-Nasa-i (165) dalam ath-Thohaaroh, Ibnu Majah (483) dalam ath-Thohaaroh, Ahmad (15857). Al-Albani berkata dalam shohiih Abu Dawud. "Sgohih"]


عَنْ بُسْرَةَ بِنْتِ صَفْوَانَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ ) أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّان َ وَقَالَ اَلْبُخَارِيُّ هُوَ أَصَحُّ شَيْءٍ فِي هَذَا اَلْبَابِ

Dari Busrah binti Shofwan Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa menyentuh kemaluannya maka hendaklah ia berwudlu" Dikeluarkan oleh Imam Lima dan hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban Imam Bukhari menyatakan bahwa ia adalah hadits yang paling shahih dalam bab ini [Shohih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (181), at-Tirmidzi (82), an-Nasa-i (163), Ibnu Majah (479), semuanya dalam bab ath-Thohaaroh, Ahmad (26749), Ibnu Hibban dalam shohiihnya (212) dan dishohiihkan oleh Ibnu Ma'in dan al-Baihaqi serta al-Albani dalam Shohiih Abu Dawud (181)]


Berwudhu dari Muntah dan Mimisan

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ( مَنْ أَصَابَهُ قَيْءٌ أَوْ رُعَافٌ أَوْ قَلَسٌ أَوْ مَذْيٌ فَلْيَنْصَرِفْ فَلْيَتَوَضَّأْ ثُمَّ لِيَبْنِ عَلَى صَلَاتِهِ وَهُوَ فِي ذَلِكَ لَا يَتَكَلَّمُ ) أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَ ه وَضَعَّفَهُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang muntah atau mengeluarkan darah dari hidung (mimisan) atau mengeluarkan dahak atau mengeluarkan madzi maka hendaklah ia berwudlu lalu meneruskan sisa shalatnya namun selama itu ia tidak berbicara" Diriwayatkan oleh Ibnu Majah namun dianggap lemah oleh Ahmad dan lain-lain [Dhoif, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1221) dalam Iqoomatu ash-Sholaah, bab Maa Jaa a fil Binaa ala ash Sholaah. Dan didhoifkan oleh al-Albani dalam Dhoiif Ibnu Majah no 225]


Berwudhu dari Makan Daging Unta

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; ( أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ اَلْغَنَمِ؟ قَالَ: إِنْ شِئْتَ قَالَ: أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ اَلْإِبِلِ ؟ قَالَ: نَعَمْ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِم

Dari Jabir Ibnu Samurah Radliyallaahu 'anhu bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam : Apakah aku harus berwudlu setelah makan daging kambing؟ Beliau menjawab: "Jika engkau mau" Orang itu bertanya lagi: Apakah aku harus berwudlu setelah memakan daging unta؟ Beliau menjawab: "Ya" Diriwayatkan oleh Muslim [Shohih, diriwayatkan oleh Muslim (360) dalam al-Haidh]


Berwudhu dari Membawa Mayit

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ غَسَّلَ مَيْتًا فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ ) أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَه وَقَالَ أَحْمَدُ لَا يَصِحُّ فِي هَذَا اَلْبَابِ شَيْءٌ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang memandikan mayyit hendaknya ia mandi dan barangsiapa yang membawanya hendaknya ia berwudlu" Dikeluarkan oleh Ahmad Nasa'i dan Tirmidzi Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan sedang Ahmad berkata: tak ada sesuatu yang shahih dalam bab ini [Shohih, hadits ini disebutkan oleh al-Allamah al-Albani dalam Ahkaamul Janaa-iz hal. 71, beliau berkata "Dikeluarkan oleh Abu Dawud (II/62-63), at-Tirmidzi (II/132) dan ia menghasankannya, Ibnu Hibban dalam shohiihnya (751-Al-Mawaarid), ath-Thoyalisi (2314), Ahmad (II/280, 433, 454, 472) dari beberapa jalan dari Abu Hurairah. Dan sebagian jalannya hasan, dan sebagian lagi shahih sesuai dengan syarat Muslim"
Al-albani berkata dalam al-Irwaa (1/175) mengomentari hadits ini. "Akan tetapi perintah di sini menunjukkan kepada istihbab (sunnah) bukan wajib, karena telah shohih dari para sahabat bahwa apabila telah memandikan mayat sebagian mereka ada yang mandi dan sebagian lagi ada yang tidak mandi"]


Hal-Hal Lain

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ رَحِمَهُ اَللَّهُ; ( أَنَّ فِي اَلْكِتَابِ اَلَّذِي كَتَبَهُ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ: أَنْ لَا يَمَسَّ اَلْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ ) رَوَاهُ مَالِكٌ مُرْسَلاً وَوَصَلَهُ النَّسَائِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَهُوَ مَعْلُولٌ

Dari Abdullah Ibnu Abu Bakar Radliyallaahu 'anhu bahwa dalam surat yang ditulis Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk Amr Ibnu Hazm terdapat keterangan bahwa tidak boleh menyentuh Al-Qur'an kecuali orang yang suci Diriwayatkan oleh Malik dan mursal Nasa'i dan Ibnu Hibban meriwayatkannya dengan maushul hadits ini ma'lul [Shohih, diriwayatkan oleh Malik dalam al Muwaththo (468) dalam Al-Qur-an secara mursal, sedangkan al-Atsrom dan ad-Daroquthni meriwayatkannya secara munashil. Al-Albani menyebutkan dalam al-Irwaa jalan yang banyak yang tidak lepas dari kelemahan dengannya beliau menshohihkan hadits tersebut (al-Irwaa (122)]


عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُذْكُرُ اَللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَعَلَّقَهُ اَلْبُخَارِيّ

Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap saat Diriwayatkan oleh Muslim dan dita'liq oleh Bukhari [Shohih, diriwayatkan oleh Muslim (373) dalam al-Haidh, al-Bukhari secara mu'allaq dalam al-adzan, at-Tirmidzi (3384) dalam ad Da'awaat, Abu Dawud (18) dan Ibnu Majah (302)]


عَنْ أَنَسِ]بْنِ مَالِكٍ] رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اِحْتَجَمَ وَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ ) أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَلَيَّنَه

Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berbekam lalu shalat tanpa berwudlu Hadits dikeluarkan dan dilemahkan oleh Daruquthni [Dhoif, diriwayatkan oleh ad-Daroquthni (I/151-152) dalam Sunannya dari Sholih bin Muqotil telah menceritakan pada kami ayahku telah menceritakan pada kami Sulaiman bin Dawud al-Qurosyi telah menceritakan pada kami Humaid ath-Thowil dari Anas bin Malik.
Ad-Daroquthni berkata "Sholih bin Muqotil laisa bil qowiyy, ayahnya tidak dikenal dan Sulaiman bin Dawun majhul." Al-Baihaqi meriwayatkan dari jalan ad-Daroquthni. Ia berkata "Sanadnya dho'if" (Lihat Nashbur Rooyah (I/104)]


Tidur dan Wudhu

وَعَنْ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :{ الْعَيْنَيْنِ وِكَاءُ السَّهِ فَإِذَا نَامَتْ الْعَيْنَانِ اسْتُطْلِقَ الْوِكَاءُ}.رواه أحمد والطبراني

Dari Mu'awiyah, ia berkata Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda "Mata adalah pengikat dubur. Apabila dua mata tertidur, maka terlepaslah ikatannya". Diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabrani
[Shohih dengan syawahidnya, dikeluarkan oleh Ahmad (16437), dan al-Baihaqi dari Baqiyyah dari Abu Bakar bin Abi Maryam dari Athiyyah bin Qois dari Muawiyah dari Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam. Ath-Thabrani dalam mu'jamnya menambahkan : "Barangsiapa yang tidur, hendaklah ia berwudhu." Sanad ini terdapat dua 'illat, pertama:pembicaraan pada Abu Bakar bin Abi Maryam, Abu Hatim dan Abu Zur'ah berkata "Laisa bil qowiyy". Kedua Marwan bin Jannah meriwayatkan dari Athiyyah bin Qois dari Muawiyah secara mauquf. Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Adi, ia berkata. "Marwan lebih tsabat dari Abu Bakar bin Abu Maryam, jadi yang shohih adalah mauquf".
Dan di dalam al-Misykaah (315), al-Albani berkata, "Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam sunannya (I/184) dan Ahmad dalam Musnadnya (IV/96-97) akan tetapi anaknya, yaitu Abdullah berkata bahwa ayahnya menghapusnya dari kitabnya. Aku berkata "Karena di dalamnya ada Abu Bakar bin Abi Maryam, ia lemah karena hafalannya bercampur. Akan tetapi hadits Ali dan Shofwan bin Assal menjadi syahid untuknya ". Telah lalu di no 66 di kitab ini]


وَزَادَ { وَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ } وَهَذِهِ اَلزِّيَادَةُ فِي هَذَا اَلْحَدِيثِ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ عَلِيٍّ دُونَ قَوْلِهِ: { اِسْتَطْلَقَ اَلْوِكَاءُ } وَفِي كِلَا الْإِسْنَادَيْنِ ضَعْف

Dan ia menambahkan : "Dan barangsiapa yang tidur hendaklah ia berwudhu." Tambahan dalam hadits ini ada pada Abu Dawud dari hadits Ali tanpa perkataan "Terlepaslah ikatannya." Dan pada kedua sanadnya ada kelemahan.
[Hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud (203) dalam ath-Thohaaroh, dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shohiih Abu Dawud (203), bersama Abu Dawud meriwayatkan pula Ibnu Majah, ad-Daroquthni, al-Hakim dalam "Ulumul Hadits" dan Ahmad dari beberapa jalan dari Baqiyyah dari Al Wadin dari Atho dari Mahfuzh bin Alqomah dari Abdurrahman bin Aizh dari Ali bin Abi Thalib secara marfu (Al-Irwaa' (113))]


وَلِأَبِي دَاوُدَ أَيْضًا, عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ مَرْفُوعًا: { إِنَّمَا اَلْوُضُوءُ عَلَى مَنْ نَامَ مُضْطَجِعًا } وَفِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ أَيْضً ا

Dan riwayat Abu Dawud juga dari Ibnu Abbas radhiyallahu Anhuma secara marfu " "Sesungguhnya wudhu itu hanyalah bagi orang yang tidur berbaring." Dan dalam sanadnya ada kelemahan juga.
[Dhoif, diriwayatkan oleh Abu Dawud (202) bab Fil Wudhuu minan Naum, at-Tirmidzi (77) dan didhoifkan oleh al-Albani dalam Dhoiif Abu Dawud (202) dan beliau mengisyaratkan kelemahan riwayat at-Tirmidzi, lihat al-Misykaah (318)]


Bisikan Syaitan Bahwa Seseorang Berhadats Ketika Sholat

عَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( يَأْتِي أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ فِي صَلَاتِهِ فَيَنْفُخُ فِي مَقْعَدَتِهِ فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ أَحْدَثَ وَلَمْ يُحْدِثْ فَإِذَا وَجَدَ ذَلِكَ فَلَا يَنْصَرِفُ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا ) أَخْرَجَهُ اَلْبَزَّار
وَأَصْلُهُ فِي اَلصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْد
وَلِمُسْلِمٍ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ نَحْوُهُ
وَلِلْحَاكِمِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَرْفُوعًا ( إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الشَّيْطَانُ فَقَالَ: إِنَّكَ أَحْدَثْتَ فَلْيَقُلْ: كَذَبْتَ ) وَأَخْرَجَهُ اِبْنُ حِبَّانَ بِلَفْظِ ( فَلْيَقُلْ فِي نَفْسِهِ )

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Setan itu akan mendatangi seseorang di antara kamu pada saat dia shalat lalu meniup pada duburnya dan membuatnya berkhayal seakan-akan ia telah kentut padahal ia tidak kentut Jika ia mengalami hal itu maka janganlah ia membatalkan shalat sampai ia mendengar suara atau mencium baunya" Dikeluarkan oleh al-Bazzar [Shohiih, dengan syawahidnya, dikeluarkan oleh al-Bazzar dalam Musnadnya (I/147/281) dari jalan Ismail bin Shubaih telah menceritakan Abu Uwais namanya Abdullah bin Abdillah bin Uwais dari Tsaur bin Zaid. Ia mempunyai syahid dari hadits Abdulloh bin Zaid dan Abu Hurairah yang akan datang (Lihat ash-Shohiihah (3026)]

Hadits tersebut berasal dari shahih Bukhari-Muslim dari hadits Abdullah Ibnu Zaid [Shohih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (177) dalam al-Wudhuu, Muslim (361) dalam al-Haidh, Abu Dawud (176), asy Syafi'i (I/99), an-Nasa-i (I/37), Ibnu Majah (I/185), al-Baihaqi (1/114) dan Ahmad (IV/40). Lihat al-Irwaa (107)]

Hadits serupa juga terdapat dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah [Shohih, diriwayatkan oleh Muslim (362) dan Abu Awanah, At-Tirmidzi berkata "Hadits Hasan Shohih " (al-Irwaa I/144)]

Menurut Hakim dari Abu Said dalam hadits marfu' : "Apabila setan datang kepada seseorang di antara kamu lalu berkata: Sesungguhnya engkau telah berhadats hendaknya ia menjawab: Engkau bohong" Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dengan lafadz: "Hendaknya ia mengatakan dalam hatinya sendiri" [Dikeluarkan oleh al-Hakim (I/134), ia berkata "Shohih sesuai dengan syarat asy-Syaikhoin". Dan Ibnu Hibban dalam Shohiihnya (IV/154)]