Penjelasan Hadits

KITAB THAHARAH
BAB. AIR

KESUCIAN AIR LAUT

HADITS NO. 1

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْبَحْرِ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda tentang (air) laut. "Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal." Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shohih oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi'i dan Ahmad juga meriwayatkannya.
[Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (83), at-Tirmidzi (69), an-Nasa-i (332), Ibnu Majah (386), Ahmad (7192), Ibnu Khuzaimah (I/59) no. 111 dan Malik (43)]

Biografi Perawi

Abu Hurairah RA adalah Abdurrahman bin Shakhr, menurut pendapat Muhammad bin Ishaq dan Al Hakim Abu Ahmad. Ia meninggal dunia di Madinah pada tahun 59 H, dalam usia 78 tahun dan dimakamkan di Baqi, menurut salah satu pendapat.

Penjelasan Kalimat

Rasulullah SAW bersabda tentang laut (maksudnya: mengenai hukumnya) airnya suci (Ath-Thahur adalah nama bagi yang dapat digunakan bersuci, atau suci dan dapat mensucikan, sebagaimana dalam Al Qamus. Sedang menurut istilah Syara’, yaitu nama bagi yang dapat menyucikan) halal bangkainya.

Dikeluarkan oleh imam yang empat dan Ibnu Abi Syaibah (yaitu Abu Bakar. Mengenai dirinya, Adz Dzahabi berkata: ‘Seorang hafizh yang tidak ada tandingannya dan terbukti kecerdikannya adalah Abdullah bin Muhammad bin Abu Syaibah. Penulis Al Musnad, Mushannaf dan yang lainnya, termasuk Syaikh (guru) Al Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Dishahihkan pula oleh Ibnu Khuzaimah. Adz Dzahabi berkata: “Hafizh besar, imam para imam, Syaikh Islam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, dialah imam yang paling tinggi dan paling banyak hafalannya pada masanya di Khurasan. Dan juga dishahihkan oleh At Tirmidzi, setelah menyebutkannya ia berkata: “Hadits ini hasan shahih, dan saya telah menanyakan kepada Muhammad bin Isma’il Al Bukhari tentang hadits ini maka ia berkata, “hadits shahih.” Ini ucapan At Tirmidzi sebagai dalam Mukhtashar As Sunan karya Al Hafidz Al Mundziri.

Penulis telah menyebutkan hadits ini dalam At-Talkhis dari sembilan orang shahabat, tetapi tidak ada satu jalan pun yang lepas dari komentar para ulama, tetapi ulama yang saya dengar telah menetapkan keshahihannya. Dan dishahihkan oleh Ibnu Abdil Barr, Ibnu Mandah, Ibnul Mundzir dan Abu Muhammad Al Baghawi.

Penulis berkata, “Sejumlah hadits yang tidak sampai pada derajat hadits ini dan tidak mendekatinya telah dihukumi shahih.”

Tafsir Hadits

Az Zarqani berkata dalam Syarh Al Muwaththa, “Hadits ini adalah salah satu dasar dari pokok-pokok Islam, telah diterima oleh umat, sangat populer di kalangan ulama fikih di semua negeri, pada setiap masa, dan diriwayatkan oleh para imam besar.” Kemudian ia menyebutkan orang yang meriwayatkan dan menshahihkannya.

Hadits tersebut adalah jawaban dari sebuah pertanyaan, sebagaimana dalam Al Muwaththa’ bahwa Abu Hurairah RA berkata, “Seorang laki-laki datang – dalam Musnad Ahmad dari Bani Mudlaj, dan menurut At Thabrani namanya Abdullah – kepada Rasulullah SAW lalu bertanya: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami biasa berlayar di laut dan kami membawa air hanya sedikit, jika kami menggunakannya berwudhu maka kami akan kehausan, bolehkan kami berwudhu dengannya? –dalam lafazh Abu Daud –dengan air laut-? Maka Rasulullah SAW menjawab: ‘Ia (air laut) itu suci.” Beliau SAW menerangkan bahwa air laut itu suci dan dapat menyucikan, tidak keluar dari kesucian itu dengan kondisi bagaimana pun, melainkan apa yang diterangkan yaitu jika salah satu dari sifatnya telah berubah. Rasulullah SAW tidak menjawabnya dengan ‘Ya’. Meskipun hal itu sudah dipahami maksudnya, tetapi beliau menjawabnya dengan ucapan tersebut agar hukum tersebut berkumpul dengan illat (sebab)nya, yaitu kesucian yang terbatas dalam babnya.

Contohnya, ketika melihat air laut berbeda dengan air biasa dengan rasanya yang asin dan baunya yang busuk, ia bimbang kalau-kalau air tersebut tidak dimaksudkan oleh firman Allah SWT:

{فَاغْسِلُوا}

“Maka basuhlah.....” (QS. Al-Maidah [5]: 6)

Maksudnya dengan air yang sudah jelas yang Allah kehendaki dalam firman-Nya pada ayat sebelumnya.

Atau ketika ia telah mengetahui firman Allah SWT:

{وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا}

“Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.” (QS. Al Furqan [25]: 48)

Ia menyangka hal itu berlaku khusus, maka ia pun menanyakannya. Lalu Nabi SAW menerangkan hukum air tersebut kepadanya, dan beliau menambahkan hukum yang tidak ditanyakannya bahwa bangkainya halal.

Ar-Rafi’i berkata: “Ketika Rasulullah SAW mengetahui bahwa hal itu samar bagi si penanya mengenai air laut, beliau khawatir kalau ia juga ragu mengenai bangkainya, sementara ia sering berlayar di laut, maka beliau melanjutkan jawabannya dari pertanyaan itu dengan menerangkan hukum bangkainya.

Ibnu Al Arabi berkata: “Yang demikian itu adalah hal yang dipandang baik dalam memberikan fatwa, yaitu dengan memberikan jawaban lebih banyak dari yang di atasnya, dalam rangka menyempurnakan faedah dan menerangkan ilmu lainnya yang tidak ditanyakan.” Dan hal itu lebih dipertegas lagi manakala jelas adanya kebutuhan mendesak terhadap hukum. Sebagaimana disebutkan di sini, bahwa seorang yang tidak mengetahui kesucian air laut, tentu lebih tidak mengetahui kehalalan bangkainya, meski hal itu lebih utama.

Yang dimaksud dengan bangkai air laut adalah binatang laut yang mati di dalamnya. Yakni binatang yang hanya bisa hidup di laut, tidak berarti setiap binatang yang mati di dalamnya secara mutlak. Karena meskipun secara bahasa memang benar bangkai laut, akan tetapi sudah maklum bahwa yang dimaksud adalah yang telah kami sebutkan. Zhahirnya, bahwa halal setiap yang mati di dalamnya, walaupun seperti anjing dan babi. Komentar mengenai halt sebelum akan disebutkan pada babnya. Insya Allah.

KESUCIAN AIR

HADITS NO. 2

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ أَخْرَجَهُ الثَّلَاثَةُ وَصَحَّحَهُ أَحْمَد

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya (hakekat) air adalah suci dan mensucikan, tak ada sesuatu pun yang menajiskannya."
[Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (67), at-Tirmidzi (66), an-Nasa-i (326), Ahmad (10406), ad-Daraquthni dalam as-Sunan hal.11, al-Baihaqi (1/4-5)]

Biografi Perawi

Abu Sa’id nama lengkapnya adalah Sa’id bin Malik bin Sinan Al Khazraji Al Anshari. Al Khudri dinisbatkan kepada Khudrah, salah satu suku Anshar sebagaimana dalam Al Qamus.

Adz Dzahabi berkata, “Ia termasuk ulama para shahabat yang menyaksikan Baiat Asy Syajarah. Meriwayatkan banyak hadits dan memberikan fatwa dalam beberapa waktu.”

Abu Sa’id meninggal pada awal tahun 74 H dalam usia 86 tahun. Banyak meriwayatkan haditsnya. Sekelompok shahabat meriwayatkan hadits darinya. Ia memiliki 84 hadits dalam Ash-Shahihain.

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh perawi yang tiga, yaitu para penyusun kitab as sunan selain Ibnu Majah, sebagaimana yang sudah diketahui, dan dishahihkan oleh Ahmad. Dalam Mukhtashar As Sunan, Al Hafidz Al Mundziri berkata: “Sesungguhnya sebagian mereka mengomentarinya dan diceritakan dari Imam Ahmad bahwa ia berkata, “Hadits sumur Budha’ah shahih.”

At Tirmidzi berkata: “Ini hadits hasan shahih.” Abu Usamah menganggap baik hadits ini. tidak ada hadits Abu Sa’id mengenai sumur Budha’ah yang lebih baik dari yang diriwayatkan oleh Abu Usamah. Hadits ini diriwayatkan lebih dari satu jalur dari riwayat Abu Sa’id.

Hadits tersebut memiliki sebab, yaitu ketika

«قِيلَ لِرَسُولِ لِلَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيهِ الْحَيْضُ وَلَحْمُ الْكِلَابِ وَالنَّتْنُ فَقَالَ: الْمَاءُ طَهُورٌ»

Rasulullah SAW ditanya, “Apakah kami boleh berwudhu dari sumur Budha’ah, yaitu sumur tempat membuang kain-kain bekas haidh, bangkai, anjing dan barang-barang busuk? Maka beliau menjawab, “Air itu suci”. Al hadits.

Demikian yang terdapat dalam sunan Abu Daud dan dalam satu lafazh padanya:

[إنَّ الْمَاءَ]

Sesungguhnya air itu...

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh penulis.

Perlu diketahui, bahwa dalam Asy-Syarh penulis telah mengomentarinya panjang lebar, dan menyebutkan pendapat-pendapat mengenai air secara memadai. Dalam membahas masalah air ini, kami akan membatasinya pada hadits-hadits terpenting, mengetahui pengambilan pendapat-pendapat tersebut dan cara pengambilan dalil, maka kami katakan, “Banyak hadits telah diriwayatkan yang dijadikan dalil tentang hukum-hukum air, seperti:

«الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ»

“air itu suci dan tidak ada sesuatu yang dapat menjadikannya najis.”

«إذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ الْخَبَثَ»

Apabila air itu telah sampai dua qullah, maka tidak mengandung kotoran. [shahih: Shahih Al-Jami 416]

Dan hadits perintah menuangkan satu timba air pada tempat yang terkena air seni orang Arab Badui di dalam Masjid. [shahih: shahih Al Bukhari (219, 221) Muslim (284)]

«إذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ فَلَا يُدْخِلْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا»

“apabila salah seorang dari kalian bangun tidur, maka janganlah ia masukkan tanggannya ke dalam bejana hingga ia mencucinya tiga kali.” [shahih: shahih Al Bukhari (162) Muslim (278)]

«لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ»

“Janganlah salah seorang dari kalian kencing dalam air yang tenang (air yang tidak mengalir) kemudian ia mandi padanya.” [shahih: shahih Al Bukhari (239, 282)]

«إذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إنَاءِ أَحَدِكُمْ»

“Apabila ada anjing menjilat pada bejana salah seorang dari kalian....” [shahih: shahih Muslim (279)]

Hadits-hadits tersebut semuanya kuat, dan akan disebutkan semuanya pada komentar penulis. Jika hal ini telah Anda ketahui, maka sesungguhnya pendapat-pendapat para ulama berbeda-beda mengenai air jika bercampur dengan najis dan tidak berubah salah satu sifatnya.

Al Qasim, Yahya bin Hamzah dan sekelompok pengikutnya, Malik dan Azh-Zhahariayah berpendapat bahwa aiur itu suci, baik sedikit maupun banyak, berdasarkan hadits, Air itu suci. Hanya saja mereka menghukumi ketidaksucian air jika berubah salah satu sifatnya sebab terkena najis, berdasarkan kesepakatan ulama atas hal tersebut, sebagaimana yang sebentar lagi akan dibahas.

Menurut golongan Al Hadawiyah, Al Hanafiyah dan Asy Syafiiyah mereka membagi air dalam dua kategori, air sedikit yang dapat dirusak oleh najis secara mutlak, dan air yang banyak yang tidak dapat dirusak kecuali jika dapat mengubah salah satu sifat-sifatnya.

Kemudian mereka berbeda pendapat dalam memberikan batasan air sedikit dan air yang banyak:

Al Hadawiyah berpendapat dalam membatasi air yang sedikit, yaitu kondisi air yang terkena najis, ketika orang yang menggunakannya beranggapan bahwa dengan menggunakan air tersebut berarti ia telah menggunakan air najis. Jika si pemakai air tersebut tidak beranggapan demikian berarti dianggap sebagai air yang banyak. Dan selain mereka berpendapat yang berbeda dalam memberikan batasan air yang sedikit di antaranya:

  • Al Hanafiyah berkata: “Batasan air yang banyak adalah air yang apabila seseorang menggerakkan salah satu ujungnya, gerakan tersebut tidak sampai pada ujung lainnya, dan selain itu berarti sedikit.”
  • Sementara Asy-Syafi'iiyah berkata: “Air yang banyak adalah yang sampai dua kullah menurut ukuran kullah bani Hajar, yaitu sekitar 500 liter, berdasarkan hadits tentang air dua kullah, dan jika kurang berarti sedikit.”

Perbedaan ini terjadi disebabkan adanya perbedaan hadits-hadits yang telah disebutkan terdahulu. Karena hadits tentang bangun tidur dan hadits tentang air tenang menunjukkan bahwa najis yang sedikit membuat najis air yang sedikit, demikian pula tentang air yang dijilat anjing dan perintah menuangkan air yang dijilatnya. Kemudian ditentang oleh hadits orang Badui dan perintah menuangkan satu timba air di atasnya, karena hal itu menunjukkan bahwa najis yang sedikit tidak dapat menajiskan air yang sedikit, dan sudah maklum bahwa tempat yang terkena dengan air seni orang Badui tadi telah disucikan oleh satu timba tersebut, demikian pula sabda beliau, “Air itu suci dan tidak dapat dinajiskan oleh sesuatu.”

Kelompok pertama, mereka yang berpendapat bahwa tidak ada sesuatu yang dapat menajiskannya kecuali yang mengubah salah satu sifatnya. Hadits-hadits tersebut dikumpulkan dengan pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada yang dapat menajiskannya sebagaimana yang ditunjukkan lafazh ini dan hadits orang Badui. Sedang hadits bangun tidur, air tenang dan yang dijilat anjing tidak disebutkan untuk menjelaskan hukum najisnya air, tetapi perintah untuk menjauhinya sebagai ta’abud bukan karena najis, dan untuk menunjukkan makna yang tidak kita ketahui sebagaimana kita tidak mengetahui hikmah jumlah shalat dan yang lainnya.

Pendapat lain, bahwa larangan dalam hadits-hadits ini hanyalah makruh, tetapi ia suci dan menyucikan.

Asy-Syafi'iyyah memadukan hadits-hadits tadi, bahwa hadits ‘tidak ada sesuatu yang dapat membuatnya najis’, berlaku untuk air yang sampai dua kullah dan yang lebih dari itu berarti banyak. Sedangkan hadits bangun tidur dan air tenang berlaku untuk air sedikit. Sedangkan menurut Al Hadawiyah, bahwa hadits bangun tidur berlaku sebagai Sunnah, maka tidak wajib mencucinya.

Al Hanafiyah berkata, “Yang dimaksud dengan ’tidak ada sesuatu yang dapat menajiskannya, adalah air banyak yang telah terdahulu pembatasannya, dan mereka mencela hadits dua kullah bahwa hadits tersebut adalah mudhtharib. Demikian pula dianggap cacat oleh Imam Al Mahdi dalam Al Bahr, sebagian mereka menakwilkannya dan hadits-hadits lainnya pada air sedikit.

Akan tetapi diriwayatkan atas mereka hadits air seni orang Badui, karena sesungguhnya hadits tersebut –sebagaimana yang telah Anda ketahui- menunjukkan bahwa najis yang sedikit tidak dapat merusak air yang sedikit, lalu Asy-Syafi'iyah membantahnya dengan membedakan antara air yang mencampuri najis dengan najis yang mencampuri air, mereka berkata, “Jika najis mencampuri air, maka ia menajiskannya, sebagaimana pada hadits bangun tidur, dan jika air yang mencampuri najis maka tidak merusaknya sebagaimana dalam hadits air seni orang Badui.” Dalam hal ini ada pembahasan yang telah kami teliti pada catatan kaki syarh Umdah dan Dha’untuk An Nahr.

Kesimpulannya yaitu mereka menghukumi bahwa jika najis mengalir pada air yang sedikit dapat membuatnya najis, dan jika air yang mengalir pada najis, maka tidak membuatnya najis. Mereka menjadikan Illat tidak dapatnya air menjadi najis karena mengalir pada benda najis. Namun tidak demikian, bahkan menurut penelitian ketika air mengalir di atas najis ia mengalir di atasnya sedikit demi sedikit hingga benda najis itu hilang dan najis tersebut hilang sebelum musnahnya benda najisnya, maka air yang terakhir mengalir di atas najis mendapati tempat najis itu telah suci atau masih tersisa bagian yang ada najisnya, namun akan hilang dan lenyap ketika bertemu dengan bagian akhir dari air yang mengalir di atasnya, sebagaimana hancur dan lenyapnya najis yang mengalir di atas air yang banyak menurut ‘ijma. Maka tidak ada perbedaan antara ini dengan air yang banyak dalam menghilangkan najis, karena bagian akhir yang mengalir atas najis dapat menghilangkan bendanya lantaran banyaknya terhadap najis yang masih tersisa, maka Illat tidak najisnya dengan mengalir atasnya adalah karena banyaknya dan bukan karena ia mengalir di atasnya, sebab tidak masuk akal perbedaan antara dua yang mengalir bahwa salah satunya dapat menajiskannya dan yang lain tidak.

Jika Anda telah mengetahui apa yang telah kami terangkan terdahulu, bahwa tidak ada dalil yang tegas dalam pembatasan air banyak dan sedikit, maka pendapat yang lebih dekat (kepada kebenaran) dengan memperhatikan dalil adalah pendapat Al Qasim bin Ibrahim dan para pendukungnya, yaitu pendapat sekelompok shahabat sebagaimana dalam Al Bahr, dan dipegangi oleh para imam mutaakhir dan di antara mereka yang memilihnya adalah Imam Syarafuddin.

Ibnu Daqiq Al Id berkata: “Sesungguhnya hal itu adalah pendapat Ahmad bin Hanbal, dan didukung oleh sebagian ulama mutaakhir dari para pengikutnya dan juga ditarjih (dikuatkan) oleh salah seorang pengikut Imam Asy-Syafi'i yaitu Al Qadhi Abul Hasan Ar-Ruyani penulis Bahr Al Mazhab, ia mengungkapkannya dalam Al Iman.”

Dalam Al Muhalla Ibnu Hazm berkata, “Sesungguhnya pendapat itu diriwayatkan dari Aisyah RA Ummul Mukminin, Umar bin Khaththab, Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Husain bin Ali bin Abi Thalib, Maimunah Ummul Mukminin, Abu Hurairah RA, Khuzaifah bin Al Yaman, Al Aswad bin Yazid, Abdurrahman saudaranya, Ibnu Al Musayyib, Ibnu Abi Laila, Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah, Al Qasim bin Muhammad dan Al Hasan Al Bashri serta yang lainnya.

HADITS NO. 3

وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ الْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ إلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ وَلَوْنِهِ أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ وَضَعَّفَهُ أَبُو حَاتِمٍ
وَلِلْبَيْهَقِيِّ الْمَاءُ طَهُورٌ إلَّا إنْ تَغَيَّرَ رِيحُهُ أَوْ طَعْمُهُ أَوْ لَوْنُهُ بِنَجَاسَةٍ تَحْدُثُ فِيهِ

Dari Abu Umamah al-Bahily Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya air itu tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya kecuali oleh sesuatu yang dapat merubah bau, rasa atau warnanya." Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dianggap lemah oleh Ibnu Hatim
[Dha'if, dikeluarkan oleh Ibnu Majah (521), ad-Daraquthni dalam as-Sunan hal. 11, al-Baihaqi (1/259) dari jalan Risydin bin Sa'ad. Telah mengabarkan pada kami Mu'awiyah bin Sholih dari Rosyid bin Sa'ad dari Abu Umamah al-Bahili. Dan sanadnya dha'if, semua perowinya tsiqoh kecuali Rosyid bin Sa'ad. Al-Hafizh berkata "ia dha'if". Abu Hatim lebih mengedepankan Ibnu Lahi'ah darinya (Adh-Dha'iifah (2644) ]

Dan bagi Al Baihaqi, “Air itu suci kecuali jika berubah bau, rasa dan warnanya disebabkan najis yang memasukinya.”
[[Sunan Al Baihaqi 1/259: Adh-Dhaifah 2644]]

Biografi Perawi

Abu Umamah, namanya shudai. Al Bahili dinisbatkan kepada Bahilah. Nama ayahnya Ajlan. Abu Umamah pernah tinggal di Mesir kemudian pindah dan tinggal di Himah lalu meninggal di sana pada tahun 81 H, pendapat lain tahun 86 H. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah shahabat yang terakhir meninggal dunia di Syam. Termasuk shahabat yang banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW.

Tafsir Hadits

Hadits di atas dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan didhaifkan oleh Ibnu Abi Hatim. Adz Dzahabi berkata mengenai dirinya, “Abu Hatim adalah Ar-Razi, Imam Hafizh besar Muhammad bin Idris bin al Mundzir al Handzali, salah seorang ulama terkemuka, lahir tahun 195. Beliau menyanjungnya dan berkata, “An Nasa'i berkata, Tsiqah”. Abu Hatim meninggal dunia pada bulan Sya’ban tahun 277 H, dalam usia 82 tahun.

Ia mendha’ifkan hadits tersebut karena berasal dari riwayat Rasyid bin Sa’d. Ibnu Yunus berkata, “Dia adalah orang shalih dalam agamanya, lalu ditimpa kelalaian orang-orang shalih, maka ia rancu dalam haditsnya dan ia matruk.”

Hakikat hadits dhaif adalah yang luput padanya salah satu dari syarat-syarat hadits shahih dan hadits hasan. Ia memiliki enam sebab yang terkenal, diterangkan dalam Asy-Syarh.

Dan bagi Al Baihaqi, ia adalah seorang Hafizh, allamah dan Syaikh di Khurasan, Abu Bakar Ahmad bin al Husain, ia memiliki karya-karya yang beliau pernah ada yang menyamainya sebelumnya. Ia seorang yang zuhud, wara’ dan bertakwa. Telah mengembara ke Hijaz dan Iraq. Adz Dzahabi berkata, “Karyanya hampir seribu jilid.” Baihaq adalah daerah dekat Naisabur.

Artinya, riwayat dengan lafazh, “Air itu suci kecuali jika berubah bau, rasa atau warnanya”, diathafkan atasnya binjasatin tahdutsu fiihi, huruf ba adalah sababiyah, artinya dengan sebab najis yang masuk ke dalamnya.

Penulis berkata, “sesungguhnya Ad Daruquthni telah berkata, ‘Hadits ini tidak kuat’. Asy-Syafi'i berkata, ‘Saya tidak pernah mengatakan bahwa jika air itu berubah rasa, bau ataupun warnanya adalah najis, dan diriwayatkan dari Nabi SAW dari satu jalur yang para ahli hadits tidak menegaskan sepertinya.’ Dan Imam An Nawawi berkata, ‘Para ulama hadits telah sepakat melemahkannya, maksudnya melemahkan riwayat pengecualian bukan awal hadits, karena telah ditegaskan dalam hadits Sumur Buda’ah, akan tetapi tambahan ini para ulama telah sepakat mengenai hukumnya.’”

Ibnu Al Mundzir berkata, “para ulama telah sepakat bahwa air sedikit dan banyak jika ada najis yang jatuh ke dalamnya lalu mengubah rasa atau warna atau baunya maka air itu najis, maka ijma adalah dalil atas najisnya air yang berubah salah satu sifatnya bukan karena tambahan ini.

HADITS NO. 4

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ الْخَبَثَ وَفِي لَفْظٍ لَمْ يَنْجُسْ أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وَابْنُ حِبَّانَ

4. Dari Abdullah bin Umar RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Jika air itu dua kullah, maka tidak mengandung kotoran.’

[shahih: shahih Al Jami 416]

Dalam lafazh lain “Tidak mengandung najis.” (HR. Imam yang empat dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Al Hakim dan Ibnu Hibban)

[shahih: shahih Al Jami 758]

Biografi Perawi

Abdullah bin Umar adalah putra Ibnu al Khaththab. Ia masuk Islam sejak kecil di Makkah. Perang yang pertama diikutinya adalah perang Khandak. Banyak yang meriwayatkan hadits darinya, dan ia termasuk perbendaharaan ilmu. Meninggal dunia di Makkah pada tahun 73 H dan dimakamkan di Dzawi Thuwa pada pemakaman kaum Muhajirin.

Al Hakim adalah imam besar, imam para muhaqqiq (peneliti), Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah An Naisaburi, terkenal dengan Ibnu Al Ba’i. Memiliki banyak karya ilmiah. Lahir tahun 321 H. Ia menuntut ilmu dan mengembara ke Irak ketika masih berumur 20 tahun. Kemudian menunaikan ibadah haji dan berkeliling di daerah Khurasan dan sekitarnya. Ia belajar hadits dengan cara sima (mendengar) kepada sekitar dua ribu Syaikh. Ad Daruquthni, Abu Ya’la Al Khalil dan Al Baihaqi serta banyak lagi meriwayatkan darinya.

Ia memiliki banyak karya ilmiah yang memiliki kelebihan dari yang lainnya, dengan disertai nilai-nilai ketakwaan dan religius. Ia menyusun Al Mustadrak dan Tarikh Naisabur serta yang lainnya. Ia meninggal pada bulan Shafar tahun 405 H.

Ibnu Hibban; Adz Dzahabi berkata, “Dia adalah Hafizh Allamah Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban Al Basti. Memiliki banyak karya ilmiah. Ia mendengar dari umat yang tak terhitung jumlahnya mulai dari Mesir hingga Khurasan. Al Hakim dan ulama yang lain meriwayatkan darinya. Ibnu Hibban adalah termasuk ahli fikih dan penghafal atsar, mendalami ilmu kedokteran dan ilmu perbintangan dan disiplin-disiplin ilmu lainnya. Ia menyusun Al Musnad Ash Shahih, At Tarikh dan Kitab Adh Dhuafa’. Ia mengajarkan fikih kepada umat Islam di Samarqand. Al Hakim berkata, “Ibnu Hibban adalah perbendaharaan ilmu, fikih, bahasa dan nasihat, dan termasuk perawi hadits yang cerdas. Meninggal dunia pada bulan Syawal tahun 354 H.

Tafsir Hadits

Hadits ini telah diisyaratkan terdahulu, bahwa ia merupakan dalil Asy-Syafi'iyah dalam hal menjadikan air yang banyak yaitu yang sampai dua kullah. Telah dijelaskan bahwa Al Hadawiyah dan Al Hanafiyah tidak mengamalkannya karena alasan idhthirab (goncang) pada matannya; dimana dalam satu riwayat, “Jika sampai tiga kullah”, dan dalam riwayat lainnya, “satu kullah”, juga lantaran tidak diketahuinya ukuran satu kullah itu, dan maknanya mengandung kemungkinan lain. Karena sabda beliau, ‘tidak mengandung kotoran’, bisa jadi karena air yang sedikit itu kalah dengan kotoran sehingga kotoran tersebut merusak kesuciannya. Juga boleh jadi karena kotoran tersebut lenyap di dalamnya, semua ini telah dijawab oleh Asy-Syafi'iyah. Ia telah memaparkannya dalam Asy Syarh kecuali untuk hadits yang terakhir tidak disebutkannya, sepertinya ia meninggalkannya lantaran lemahnya, karena riwayat ‘tidak bernajis’ jelas tidak mengandung makna yang pertama.

HADITS NO. 5

٥- وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «لَا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ - وَلِلْبُخَارِيِّ «لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا يَجْرِي، ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ» - وَلِمُسْلِمٍ مِنْهُ، وَلِأَبِي دَاوُد: «وَلَا يَغْتَسِلُ فِيهِ مِنْ الْجَنَابَةِ»

5. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian mandi dalam air yang tenang (tidak mengalir) sedang ia junub.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 283]

Dan bagi Al Bukhari, “Janganlah sekali-kali salah seorang kalian kencing dalam air tenang yang tidak mengalir kemudian ia mandi di dalamnya.”

[shahih: Al Bukhari 239, Muslim 282]

Dan bagi Muslim, “Darinya”, dan bagi Abu Daud, “Dan janganlah ia mandi junub di dalamnya.”

[shahih: shahih Al Jami 7595]

Penjelasan Kalimat

“Janganlah salah seorang kalian mandi di dalam air yang tenang (yaitu air yang diam tergenang, dan disebutkan sifatnya yaitu yang tidak mengalir) sedang ia junub (Muslim meriwayatkannya dengan lafazh ini) di dalamnya (menunjukkan bahwa janganlah ia mandi dengan menyelam di dalamnya, dan bisa juga menunjukkan bahwa janganlah ia mengambil darinya lalu mandi di luar) janganlah ia mandi (menunjukkan bahwa larangan melakukan kedua hal tersebut secara tersendiri, sebagaimana dua kemungkinan yang pertama dalam riwayat) kemudian ia mandi darinya.”

Tafsir Hadits

Abu Daud berkata dalam Asy Syarh, “Larangan ini jika pada air yang banyak menunjukkan makruh, dan jika pada air yang sedikit menunjukkan haram.” Ada yang berpendapat, bahwa berdasarkan hal tersebut dapat menjadikan penggunaan lafazh larangan tersebut secara hakiki dan majazi. Maka yang lebih baik adalah keumuman majaz dan larangan tersebut digunakan pada makna tidak melakukannya yang mengandung unsur keharaman dan kemakruhan melakukannya.

Adapun hukum air diam yang tidak mengalir, najisnya air sebab bercampur dengan air seni, atau larangan mandi junub di dalamnya, menurut mereka yang berpendapat bahwa air tidak najis melainkan jika salah satu sifatnya berubah, larangan penggunaannya itu bersifat ta’abbudi dan air tetap suci. Ini adalah pendapat Malikiyah yang membolehkan bersuci dengannya, karena larangan tersebut menurut mereka hanyalah menunjukkan makruh. Sedangkan menurut Azh Zhahiriyyah adalah haram. Meskipun larangan tersebut ta’abbudi dan bukan lantaran najis, akan tetapi pada dasarnya setiap larangan itu menunjukkan haram. Dan menurut yang membedakan antara air sedikit dengan air yang banyak, “Jika air itu banyak, maka ia dikembalikan pada asalnya dalam membatasinya, jika tidak berubah salah satu sifatnya berarti ia suci dan dalil atas kesuciannya adalah takhshish (pengkhususan) keumumannya”. Tetapi pendapat ini dapat dibantah, “Jika kalian mengatakan bahwa larangan yang menunjukkan makruh tersebut adalah pada air yang banyak, maka tidak boleh membatasinya lantaran keumuman hadits dalam bab ini, dan jika air itu sedikit maka dalam membatasinya dikembalikan kepada asalnya, maka larangan menggunakannya menunjukkan keharaman, karena ia tidak suci dan tidak menyucikan.” Ini menurut prinsip mereka bahwa larangan tersebut lantaran najis.

Disebutkan dalam Asy Syarh beberapa pendapat mengenai kencing dalam air, yaitu tidak dilarang pada air banyak yang mengalir sebagaimana yang dipahami dalam hadits ini, tetapi lebih baik dihindari. Adapun air sedikit yang mengalir, ada yang mengatakan makruh dan ada juga yang mengatakan haram. Ini yang lebih baik.

Saya katakan, “Yang lebih baik justru sebaliknya, karena hadits tersebut adalah larangan buang air kecil dalam air yang tidak mengalir, maka tidak mencakup yang mengalir sedikit atau banyak.” Tetapi seandainya dikatakan makruh akan lebih dekat. Jika airnya banyak dan tergenang, maka ada yang berpendapat makruh secara mutlak. Ada pula yang berpendapat jika ia kencing dengan sengaja hukumnya makruh, namun jika ia terpaksa dan sudah berada di dalamnya maka hukumnya tidak makruh.

Dalam Asy Syarh ia berkata, “Seandainya dikatakan bahwa hal itu menunjukkan haram, maka larangan tersebut akan lebih jelas dan lebih sesuai dengan zhahirnya, karena akan merusak yang lainnya dan mengandung mudharat bagi kaum Muslimin. Dan jika air tenang dan sedikit, maka yang benar adalah haram berdasarkan hadits tersebut.”

Kemudian, apakah hukum keharaman pada air yang sedikit juga berlaku pada selain air seni, seperti tinja? Menurut Jumhur, hal itu lebih layak untuk disamakan, dan menurut Ahmad bin Hambal, yang lain tidak menyamakan dengannya, tetapi hukum tersebut khusus bagi air seni. Sabda beliau, ‘dalam air’ sangat jelas merupakan larangan kencing di dalamnya, sehingga harus dijauhi, maka jika kencing di dalam bejana kemudian dituangkan ke dalam air tenang maka hukumnya sama. Sedang menurut Daud, tidak menajiskannya dan tidak terlarang, kecuali pada kejadian yang pertama, selainnya tidak.

Hukum berwudhu dalam air yang telah dikencingi sama seperti hukum mandi, sebab hukumnya satu. Dalam satu riwayat disebutkan:

«لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ مِنْهُ»

“Janganlah salah seorang dari kalian kencing dalam air yang diam kemudian ia berwudhu darinya.”

[Shahih : Shahih Al Jami 7594]

Ia menyebutkan dalam Asy Syarh dan tidak dinisbatkan kepada siapapun, dikeluarkan oleh Abdurrazzaq, Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dan At Tirmidzi. Ia berkata hasan shahih. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari hadits Abu Hurairah RA secara marfu, dan dikeluarkan oleh Ath Thahawi, Ibnu Hibban dan Al Baihaqi dengan tambahan,

[أَوْ يَشْرَبُ]

‘atau minum darinya.”

[Shahih: Ta’liq Ibnu Hibban 1256]

HADITS NO. 6 - LAKI-LAKI MANDI DENGAN AIR BEKAS WANITA DAN SEBALIKKNYA

وَعَنْ رَجُلٍ صَحِبَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَغْتَسِلَ الْمَرْأَةُ بِفَضْلِ الرَّجُلِ أَوْ الرَّجُلُ بِفَضْلِ الْمَرْأَةِ وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيعًا أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ

6. Dari seorang laki-laki yang menemui Rasulullah SAW, ia berkata: “Rasulullah SAW melarang seorang perempuan mandi dengan air bekas mandi laki-laki, atau laki-laki mandi dengan air bekas mandi perempuan, tetapi hendaklah keduanya masing-masing menciduk. (HR. Abu Daud dan An Nasa'i dengan sanad shahih)

[Shahih: Shahih Abu Daud 81]

Penjelasan Kalimat

Rasulullah SAW melarang seorang perempuan mandi dengan air bekas mandi laki-laki (maksudnya, air bekas mandi laki-laki) atau laki-laki mandi dengan air bekas mandi perempuan (sepertinya), tetapi hendaklah keduanya masing-masing menciduk (dari air ketika keduanya mandi)

Tafsir Hadits

Ditakhrij oleh Abu Daud dan An Nasa'i dengan sanad shahih. Sebagai isyarat atas jawaban pendapat Al Baihaqi dimana ia berkata, “Sesungguhnya hadits itu bermakna mursal.” Dan pendapat Ibnu Hazm, “sesungguhnya salah seorang rawinya dhaif.”

Adapun yang pertama, maka samarnya seorang shahabat tidaklah mempengaruhi; sebab semua shahabat adil (jujur) menurut para ahli hadits. Dan yang kedua, bahwa yang dimaksudkan Ibnu Hazm dhaif adalah Daud bin Abdullah Al Audi, sedang ia tsiqah. Dalam al Bahr sepertinya ia terpedaya dengan ucapan Ibnu Hazm, maka ia mengatakan setelah menyebutkan hadits tersebut, “Sesungguhnya perawinya lemah” dan ia menisbatkannya kepada perawi majhul (tak dikenal identitasnya)

Penulis berkata dalam Fathul Bari, “Sesungguhnya para perawinya tsiqah dan kami tidak mendapatkan cacat padanya”, oleh karenanya di sini ia berkata, ‘shahih’. Hal ini bertentangan dengan hadits berikut:

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
وَلِأَصْحَابِ السُّنَنِ : اغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَفْنَةٍ فَجَاءَ يَغْتَسِلُ مِنْهَا فَقَالَتْ : إنِّي كُنْت جُنُبًا فَقَالَ : إنَّ الْمَاءَ لَا يَجْنُبُ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ

7. Dari Ibnu Abbas ia berkata, “Bahwa Nabi SAW pernah mandi dengan bekas mandi Maimunah RA.” (HR. Muslim)

[shahih: Muslim 323]

Dan bagi para penulis kitab Sunan, “Salah seorang istri Nabi SAW pernah mandi dalam bejana, lalu beliau datang dan mandi di dalamnya, maka istrinya berkata, ‘sesungguhnya aku junub.’ Maka beliau menjawab, ‘Sesungguhnya air itu tidak dapat membuat junub.’ (dishahihkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)

[shahih: Shahih Al Jami 1927]

Biografi Perawi

Abdullah bin Abbas diberi gelar lautan ilmu pada masanya. Lahir 3 tahun sebelum Hijrah. Keunggulannya dalam ilmu berkat doa Nabi SAW agar diberikan hikmah dan pemahaman dalam agama yang cukup membuatnya terkenal. Wafat di Thaif tahun 68 H pada akhir kepemimpinan Az Zubair setelah penglihatannya buta.

Penjelasan Kalimat

Salah seorang istri Nabi SAW pernah mandi dalam bejana, lalu beliau datang (yaitu Nabi SAW) dan mandi di dalamnya, maka istrinya berkata, ‘sesungguhnya aku junub.’ (maksudnya, aku telah mandi darinya) Maka beliau menjawab, ‘Sesungguhnya air itu tidak dapat membuat junub.’

Tafsir Hadits

Dalam shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa, “Nabi SAW dan Maimunah keduanya pernah mandi dalam satu bejana.” Tidak asing lagi bahwa tidak ada pertentangan padanya, karena kemungkinan keduanya masing-masing menciduk secara bersamaan, maka tidak ada pertentangan.

Betul, yang membantahnya adalah perkataannya, “dan bagi para pemilik Kitab As Sunan”, artinya dari hadits Ibnu Abbas, sebagaimana dikuatkan oleh Al Baihaqi dalam As Sunan, dan ia menisbatkannya kepada Abu Daud.

Makna hadits tersebut telah disebutkan dari beberapa jalan yang dipaparkan dalam Asy Syarh, dan menunjukkan bahwa bertentangan dengan hadits yang lalu, dan bahwa boleh seorang laki-laki mandi dengan air bekas mandi perempuan, dan sebaliknya diqiyaskan atasnya karena kesamaannya. Dalam dua hal tersebut terdapat perbedaan pendapat tetapi yang lebih jelas ad keduanya diperbolehkan, dan bahwa larangan itu dipahami sebagai tanzih (kesucian).

JILATAN ANJING

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طُهُورُ إنَاءِ أَحَدِكُمْ إذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَفِي لَفْظٍ لَهُ فَلْيُرِقْهُ وَلِلتِّرْمِذِيِّ أُخْرَاهُنَّ أَوْ أُولَاهُنَّ

8. Dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sucinya bejana salah seorang dari kalian yang dijilat anjing, hendaknya ia mencucinya tujuh kali, yang pertama dengan tanah. (HR. Muslim)

Dan pada lafazh lain: “Hendaklah ia menumpahkannya”

[HR. Muslim 279]

Dan bagi At Tirmidzi: “Yang terakhir, atau yang pertama dengan tanah.”

[shahih: shahih al Jami 8116]

Penjelasan Kalimat

“Sucinya bejana salah seorang dari kalian yang dijilat anjing, (ia minum apa yang terdapat di dalamnya dengan ujung-ujung lidahnya atau ia memasukkah lidahnya ke dalamnya lalu menggerak-gerakkannya) hendaknya ia mencucinya (maksudnya bejana tersebut) tujuh kali, yang pertama dengan tanah.”Hendaklah ia menumpahkannya” (yaitu air yang telah dijilat anjing)

Dan bagi At Tirmidzi: “Yang terakhir, (yaitu yang ketujuh).

Tafsir Hadits

Hadits di atas menunjukkan beberapa hukum:

Pertama: najisnya mulut anjing. Rasulullah SAW memerintahkan untuk mencuci sesuatu (bejana) yang dijilat anjing, dan menumpahkan air yang ada di dalamnya. sabda beliau “sucinya bejana salah seorang dari kalian”. maka tidak diperintahkan dicuci, kecuali dari hadats atau najis, dan di sini tidak ada hadats, berarti najis. Menumpahkannya berarti membuang-buang harta, maka seandainya air tersebut suci niscaya beliau tidak akan menyuruh menyia-nyiakannya karena membuang-buang harta terlarang.

Secara zhalim, hadits itu menunjukkan bahwa mulut anjing itu najis dan badannya dihukumi sama dengan mengqiyaskannya. Karena jika telah jelas bahwa ludahnya najis, ludahnya adalah bagian dari mulutnya, dan ludah adalah peluh mulutnya serta peluh adalah bagian yang keluar dari badan, maka demikian pula semua badannya.

Tetapi ulama yang berpendapat bahwa perintah mencuci bukan lantaran najisnya anjing, ia berkata, “Boleh jadi najis itu terdapat pada mulut dan ludahnya, sebab mulutnya adalah tempat yang biasa ia gunakan untuk memakan najis sebagaimana umumnya, ia mengaitkan hukum tersebut dengan melihat kepada keumuman kondisinya seperti memakan berbagai najis dan bersentuhan secara langsung, tidak menunjukkan bahwa benda (mulut)nya yang najis.

Pendapat mengenai najisnya air liur anjing adapun pendapat jumhur, dan yang menyelisihinya adalah pendapat Malik, Daud dan Az Zuhri. Dalil kelompok pertama adalah sebagaimana yang telah disebutkan, dan dalil selain mereka – yaitu mereka yang berpendapat bahwa perintah mencuci adalah untuk ta’abbudi bukan lantaran najis -, mereka berkata, “Seandainya karena najis, niscaya cukup jika kurang dari tujuh kali, karena najisnya tidak lebih dari kotoran.” Argumen ini dapat dijawab, bahwa hukum asal perintah untuk mencuci dapat dipahami maknanya dan bisa dikemukakan alasannya, yaitu lantaran najis, dan dasar daripada berbagai hukum adalah dengan mengemukakan alasan, maka ia dikategorikan ke dalam yang umum dan mayoritas. Yang bersifat ta’abbudi hanyalah pada jumlahnya, demikian yang terdapat dalam Asy Syarh yaitu yang diambil dari Syarh Al Umdah.

Kami telah menetapkan pada catatan kaki yang menyelisihi apa yang telah mereka tetapkan, yaitu keumuman hukum yang bisa dikemukakan alasannya. Di sana kami telah mengomentarinya panjang lebar.

Kedua: bahwa hadits tersebut menunjukkan kewajiban mencuci tujuh kali pada bejana, dan hal itu sudah jelas. Yang mengatakan tidak wajib tujuh kali, tetapi jilatan anjing sama dengan najis-najis lainnya, dan tujuh kali hanyalah Sunnah, hal itu berdasarkan dalil bahwa perawi hadits yaitu Abu Hurairah RA berkata, “jilatan anjing dicuci tiga kali, sebagaimana ditakhrij oleh Ath Thahawi dan Ad Daruquthni.

Pendapat ini dapat dijawab, bahwa yang diamalkan adalah yang diriwayatkan dari Nabi SAW bukan menurut pendapatnya dan yang ia fatwakan. Juga karena bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan darinya, bahwa ia memfatwakan dengan mencuci tujuh kali, dan ini lebih kuat sanadnya, dan juga menjadi lebih kuat karena sesuai dengan riwayat marfu. Dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau SAW bersabda mengenai anjing yang menjilat bejana,

[يُغْسَلُ ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا]

“Dicuci tiga kali, atau lima kali, atau tujuh kali.”

[Penerbit Darus Sunnah (h. 50) dalam catatan kaki menuliskan hadits ini shahih riwayat muslim 279, ini adalah keliru yang benar hadits ini dikeluarkan oleh Ad Daruquthni 194, berkata Ad Daruquthni, Abdul Wahab meriwayatkannya secara sendirian dari Isma’il bin Ayyas dan dia matrukul hadits –ebook editor]

Mereka berkata, “Hadits tersebut menunjukkan tidak ditentukannya tujuh kali, bahkan diberikan pilihan, dan tidak ada pilihan bagi yang ditentukan.” Jawabannya adalah bahwa hadits tersebut dhaif tidak bisa dijadikan hujjah.

Ketiga: wajib mencuci bejana dengan debu sebagaimana telah ditegaskan dalam hadits. Kemudian hadits tersebut menunjukkan ditentukannya tanah, dan digunakan pada cucian yang pertama. ulama yang mewajibkannya berkata, “Tidak ada perbedaan antara mencampur air dengan tanah hingga keruh, atau air disiramkan atas tanah, atau tanah dimasukkan ke dalam air.” Bagi mereka yang berpendapat wajibnya mencuci tujuh kali berkata, “Tidak wajib mencuci dengan tanah, lantaran hal itu tidak kuat menurutnya.” Dapat dijawab, bahwa telah ditegaskan dalam riwayat yang shahih tanpa keraguan dan tambahan dari perawi tsiqah dapat diterima.

Disebutkan bahwa riwayat tentang mencampur dengan tanah tidak konsisten. Terkadang diriwayatkan dengan lafazh yang pertama atau yang terakhir, atau salah satunya atau yang ketujuh atau yang kedelapan, dan idhthirab (ketidakkonsistenan) adalah aib, maka wajib dibuang. Dapat dijawab, bahwa ketidakkonsistenan tidak menjadi aib kecuali jika riwayat-riwayat tersebut sama, di sini tidak seperti itu. Karena, riwayat dengan lafazh yang pertama lebih kuat lantaran banyaknya perawi, dan diriwayatkan oleh salah seorang Ash-Shahihain. Hal itu merupakan tarjih ketika terjadi perbedaan, sedang lafazh-lafazh riwayat yang bertentangan dengannya tidak dapat menandinginya.

Yakni, bahwa riwayat, ‘yang terakhir’ diriwayatkan secara menyendiri, tidak didapatkan sedikitpun dalam buku-buku hadits yang bersanad.

Riwayat ‘yang ketujuh dengan tanah’ terdapat perbedaan padanya, maka tidak dapat menyaingi riwayat ‘yang pertama dengan tanah’.

Riwayat ‘salah satu di antaranya’, tidak terdapat dalam buku-buku induk, tetapi diriwayatkan oleh Al Bazzar, meskipun shahih, hal itu bersifat mutlak (umum) sehingga wajib mengamalkan yang muqayyad (khusus)

Riwayat ‘yang pertama atau yang terakhir’, diberikan pilihan. Jika itu dari perawi maka hal itu adalah keraguan darinya dan harus dikembalikan kepada tarjih, dan riwayat ‘yang pertama’ lebih kuat. Dan jika termasuk sabda Rasulullah SAW, maka hal itu adalah pemberian pilihan dari beliau SAW. hal ini dikembalikan kepada pentarjihan riwayat ‘yang pertama’ karena disebutkan oleh salah seorang dari Ash-Shahihain sebagaimana Anda ketahui.

Sabda beliau, ‘Bejana selalu salah seorang dari kalian’, penyandaran bejana di sini dihilangkan, sebab hukum suci dan najis tidak hanya karena memiliki bejana. Demikian pula sabda beliau, ‘Maka hendaklah ia mencucinya’, tidak berarti bahwa harus pemilik bejana yang mencucinya. Dan dalam sabdanya yang lain, ‘maka hendaklah ia menumpahkannya’, adalah termasuk lafazh Muslim, yaitu perintah menumpahkan air atau makanan yang dijilat anjing. Lafazh tersebut adalah dalil paling kuat yang menunjukkan najis, karena yang ditumpahkan lebih umum daripada hanya sekedar air atau makanan. Sekiranya makanan atau air itu suci, pasti beliau tidak menyuruh untuk menumpahkannya, sebagaimana yang telah Anda ketahui.

Namun, penulis menukil dalam Fathul Bari bahwa lafazh ini tidak shahih dari para Hafizh. Ibnu Abdil Barr berkata, ‘Tidak pernah dinukil oleh para Hafizh dari sahabat-sahabat Al Amasy. Ibnu Mundah berkata, “Tidak dikenal dari Nabi SAW dalam bentuk bagaimanapun.”

Memang betul, penulis tidak menyebutkan cucian yang kedelapan, sementara hal ini ditegaskan oleh Muslim,

[وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَةَ بِالتُّرَابِ]

“Dan campurlah yang kedelapan dengan tanah.”

[HR. Muslim 280]

Ibnu Daqiqil Id berkata, “Sesungguhnya hal itu dikatakan oleh al Hasan al Bashri, dan tidak dikatakan oleh yang lainnya.” Ini adalah pendapat dari ulama terdahulu, dan derajat haditsnya kuat. Dan bagi yang tidak berpendapat dengannya, telah melakukan penakwilan yang tidak tepat.

Saya katakan, “Cara penakwilan yang tidak tepat, telah disebutkan oleh An Nawawi, ia berkata, “Maksudnya cucilah tujuh kali dan salah satu di antaranya dengan tanah bersama air”, dengan demikian berarti tanah menggantikan satu kali cucian, maka disebut yang kedelapan.”

Saya katakan, “Dan seperti itu dikatakan oleh Ad-Darimi dalam Syarh Al Minhaj”, dan ia menambahkan, “Sesungguhnya ia memutlakan mandi dengan mencampurkan debu sebagai kiasan.”

Saya katakan, “Tidak asing lagi, bahwa maksud penulis menyebutkannya, dan adanya takwil dengan mengeluarkannya kepada majaz, semua itu adalah pembelaan terhadap mazhab, dan yang benar adalah apa yang dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri.

Adapun perintah membunuh anjing, larangan membunuhnya, dan hal-hal yang boleh dipergunakan darinya, akan dibahas pada bab binatang buruan.

KESUCIAN KUCING

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ - فِي الْهِرَّةِ - : إنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَة

Dari Abu Qotadah Radliyallaahu 'anhu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda perihal kucing -bahwa kucing itu tidaklah najis, ia adalah termasuk hewan berkeliaran di sekitarmu. Diriwayatkan oleh Imam Empat dan dianggap shahih oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah. 1

Derajat hadits:

Hadits Shahih

Ash Shon’ani berkata, “Hadits ini dishahihkan oleh Al Bukhori, Al ‘Uqoili, dan Ad Daruquthni”. Al Majd berkata di dalam Al Muntaqo, “Hadits ini diriwayatkan oleh imam yang lima”. At Tirmidzi berkata, “hadits ini hasan shahih”.

Ad Daruquthni berkata, “periwayat-periwayat (rijal) nya terpercaya dan dikenal. Imam Al Hakim berkata, “Hadits ini dishahihkan oleh Malik, dan beliau berhujjah dengannya di dalam al Muwaththo’”. Bersamaan dengan itu, hadits inipun memiliki syahid (penguat) dengan sanad yang shahih yang diriwayatkan oleh Malik. Diriwayatkan juga dari Malik oleh Abu Dawud, An Nasaa-i, At Tirmidzi, Ad Daarimiy, Ibnu Majah, Al Hakim, Al Baihaqiy, dan Ahmad, seluruh mereka meriwayatkan hadits ini dari Malik dari Ishaq bin Abdillah bin Abi Tholhah dari Humaidah binti Abi Ubaidah dari bibinya Kabsyah binti Ka’ab bin Malik. Dan Kabsyah ini dibawah asuhan Abu Qotadah Al Anshoriy. Hadits inipun dishahihkan oleh An Nawawi di dalam Al Majmu’, dan beliau menukil dari Al Baihaqiy bahwa Al Baihaqiy tersebut berkata, “sanad-sanadnya shahih”.

Hadits ini memiliki banyak jalur periwayatan lain. Akan tetapi Ibnu Mandah mencacati hadits ini dengan mengatakan bahwa Humaidah dan Kabsyah adalah perawi yang majhul. Namun dapat dijawab bahwa Anaknya yaitu Yahya meriwayatkan hadits darinya, dan Yahya ini adalah terpercaya bagi Ibnu Ma’in. Adapun Kabsyah, ada pendapat bahwa dia adalah seorang sahabat (wanita), dan ini khusus pada sanad ini, jika tidak, maka telah datang dari jalur lain dari Abu Qotadah.

Dengan demikian terbantahlah pencatatan hadits oleh Ibnu Mandah, sehingga hadits ini menjadi shahih dengan penshahihan oleh imam-imam di atas, wallahu a’lam.

Kosa kata:

Kata الطوافين (Ath Thowwafiin), merupakan jama’ dari الطواف (thowwaaf) yaitu yang banyak mondar-mandir dan berjalan sebagai pelayan.

Ibnu Atsir berkata, “yaitu yang melayanimu dengan lemah lembut dan penuh perhatian, beliau menyerupakannya dengan pelayan yang mondar-mandir menemui majikannya dan berputar-putar di sekitarnya”. Jama’nya berupa jama’ mudzakkar salim padahal kucing tidak termasuk yang berakal, hal ini karena kucing menempati kedudukan orang (yang berakal), dari segi disifati dengan sifat “pelayan”.

Faidah Hadits:

  1. Kucing bukan hewan yang najis, sehingga tidak ternajisi apa-apa yang disentuhnya dan air yang dijilatnya.
  2. Alasan (‘illah) tidak najis tersebut adalah karena kucing merupakan hewan yang banyak mondar-mandir dan merupakan hewan pelayan yang melayani majikannya, kucing tersebut bersama manusia di rumah-rumah mereka dan tidak mungkin mereka melepaskan diri darinya.
  3. Hadits ini dan semisalnya merupakan dalil kaidah yang umum yaitu “kesulitan dapat menarik kemudahan”, maka seluruh yang tersentuh oleh kucing adalah suci, walaupun basah.
  4. Di-qiyas-kan (diserupakan hukumnya) dengan kucing yaitu seluruh hewan sejenisnya yang haram (dimakan), akan tetapi hewan-hewan tersebut jinak dan penting untuk dipelihara, seperti baghol dan himar (keledai), atau sejenis hewan yang tidak mungkin dihindari keberadaannya seperti tikus.
  5. Ahli fiqh dari kalangan Hanabilah dan selain mereka menjadikan seluruh hewan yang haram (dimakan) dan burung yang berukuran sama dengan kucing atau yang lebih kecil disamakan hukumnya dari sisi kesucian dan kebolehan untuk menyentuhnya, namun kesucian hewan-hewan ini dan sejenisnya bukan berarti halal dimakan dengan sesembelihan, kesucian yang dimaksud hanyalah kesucian tubuhnya dan apa-apa yang tersentuh olehnya. Akan tetapi yang lebih rajih (pendapat yang lebih kuat) adalah memuqoyyadkan-nya dengan hewan-hewan yang diharamkan, baik hewan itu bertubuh besar ataupun kecil, karena inti dari ‘illah tersebut adalah “hanyalah ia hewan yang suka berkeliaran di sisi kalian”.
  6. Sabda beliau, “Sesungguhnya ia bukanlah hewan yang najis” merupakan dalil tentang kesucian seluruh anggota badan dari kucing. Inilah pendapat yang lebih benar daripada perkataan yang membatasi kesuciannya pada jilatan dan apa-apa yang tersentuh oleh mulutnya saja, serta menjadikan anggota badan lainnya berhukum najis, pendapat ini menyelisihi apa yang terpahami dari hadist di atas, dan menyelisihi ta’lil (alasan) yang terpahami dari sabda beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “hanyalah ia hewan yang banyak berkeliaran di sisi kalian”, karena “berkeliaran (mondar-mandir)” berarti bisa disentuh seluruh anggota badannya.
  7. Yang terpahami dari hadits di atas adalah disyariatkannya menjauhi sesuatu yang najis. Jika sangat dibutuhkan atau darurat untuk menyentuhnya, seperti istinja (mencebok) atau menghilangkan kotoran dengan tangan, maka wajib membersihkannya.

1. Hasan shohih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (75) dalam ath-Thohaaroh, at-Tirmidzi (92) dalam ath-Thohaaroh, an-Nasa-i (68) dalam ath-Thohaaroh, Ibnu Majah (367) dalam ath-Thohaaroh, Malik dalam al-Muwaththo (44) dalam ath-Thohaaroh, Ibnu Khuzaimah (I/55) no. 104. Dalam Shohih Abu Dawud (75) al-Albani berkata "Hasan shohih"

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ؛ فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu berkata: "Seseorang Badui datang kemudian kencing di suatu sudut masjid, maka orang-orang menghardiknya, lalu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang mereka. Ketika ia telah selesai kencing, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menyuruh untuk diambilkan setimba air lalu disiramkan di atas bekas kencing itu." Muttafaq Alaihi. 1

Faedah Hadits

  1. Air kencing (manusia) itu najis, dan wajib mensucikan tempat yang mengenainya baik itu badan, pakaian, wadah, tanah, atau selainnya.
  2. Cara mensucikan air kencing yang ada di tanah adalah menyiramkannya dengan air, dan tidak disyaratkan memindahkan debu dari tempat itu baik sebelum menyiramnya maupun setelahnya. Hal serupa (penyuciannya) dengan air kencing adalah (penyucian) najis-najis lainnya, dengan syarat najis-najis tersebut tidak berbentuk padatan.
  3. Penghormatan terhadap masjid dan pensuciannya, serta menjauhkan kotoran dan najis darinya. Telah diriwayatkan oleh al-jama’ah, kecuali imam Muslim bahwa beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada orang Badui tersebut, “Sesungguhnya masjid ini tidak layak dikotori sesuatu berupa kencing ini dan kotoran, tempat ini hanyalah untuk berdzikir kepada Allah dan membaca Al Qur’an”.
  4. Toleransinya akhlak Nabi –shallallahu a’laihi wa sallam-. Beliau memberi petunjuk kepada orang arab Badui tersebut dengan lemah lembut setelah dia selesai kencing, yang membuat dia mengkhususkan doanya untuk nabi, dia berkata, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah engkau rahmati seorangpun yang ada bersama kami”, sebagaimana yang terdapat di Shahih Al Bukhori.
  5. Luasnya pandangan beliau dan pengenalan beliau tentang tabiat manusia serta baiknya akhlak beliau bersama mereka sampai-sampai seluruh hati mereka mencintai beliau, Allah ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS Al Qolam : 4).
  6. Ketika ada berbagai kerusakan berkumpul, maka yang dilakukan adalah kerusakan yang lebih ringan. Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- membiarkannya sampai selesai kencing, agar tidak mengakibatkan mudhorat dengan terputusnya kencing (secara mendadak) dan dari terkotorinya badannya, pakaiannya, dan menyebarnya kencing tersebut ke daerah lain di dalam masjid tersebut, serta bahaya yang terjadi pada tubuhnya khususnya saluran kencing
  7. Jauhnya dari masyarakat dan kota menyebabkan kurangnya pengetahuan dan kebodohan.
  8. Anjuran lemah lembut dalam mengajarkan orang yang bodoh tanpa kekerasan
  9. Bahwa yang dikenai hukum-hukum syar’I berupa dosa atau hukuman di dalam kehidupan hanyalah untuk orang yang tahu terhadap hukumnya, adapun orang yang bodoh maka tidak tercela baginya, akan tetapi diajarkan padanya agar dia mengerjakannya.

1. Shohih, diriwayatkan oleh Al-Bukhori (221) dalam al-Wudhu' dan Muslim (284) dalam ath-Thohaaroh

HUKUM BANGKAI - IKAN, BELALANG, HATI DAN LIMPA

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ. فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ : فَالْجَرَادُ وَالْحُوتُ وَأَمَّا الدَّمَانِ : فَالطِّحَالُ وَالْكَبِدُ أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ وَفِيهِ ضَعْفٌ

Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Dua macam bangkai itu adalah belalang dan ikan, sedangkan dua macam darah adalah hati dan jantung." Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, dan di dalam sanadnya ada kelemahan. 1

Derajat Hadits:

Hadits ini shohih secara mauquf. Adapun perkataan penulis (Ibnu Hajar), “di dalamnya ada kedho’ifan” karena berasal dari riwayat Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Bapaknya dari Ibnu Umar. Imam Ahmad mengatakan, “Ia adalah seorang munkarul hadits”. Abu Zar’ah dan Abu Hatim berkata, “hadits ini mauquf, dishohihkan secara marfu’ setiap yang diriwayatkan oleh Ad Daruquthni, Hakim, Al Baihaqi, dan Ibnul Qoyyim”. Ash Shon’ani berkata, “Jika telah ditetapkah hadits ini mauquf, maka hadits ini berhukum marfu’, karena perkataan shahabat “Dihalalkan bagi kami” dan “Diharamkan bagi kami”, ini seperti perkataan, “kami diperintah” dan “kami dilarang”, maka sudah bisa dijadikan hujjah. Inilah yang dinyatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar sebelumnya di At Talkhisul Khobir.

Faedah Hadits

  1. Haramnya darah yang mengalir, diambil dari kebolehan dua darah yang disebutkan di dalam hadits tersebut. Pengecualian halalnya sebagian tertentu menjadi dalil tentang keharaman selainnya
  2. Haramnya bangkai, yaitu hewan yang mati begitu saja atau disembelih tidak dengan cara yang sesuai dengan syari’at
  3. Ati dan limpa itu halal dan suci
  4. Bangkai belalang dan ikan juga halal dan suci
    Makna bangkai belalang adalah belalang yang mati bukan akibat ulah manusia, melainkan mati begitu saja dengan sebab-sebab kematian seperti kedinginan, hanyut, atau yang lainnya.
    Adapun yang mati dengan sebab racun maka bangkai tersebut diharamkan karena di dalamnya terkandung racun yang mematikan yang diharamkan. Demikian juga bangkai ikan adalah ikan yang mati bukan akibat perbuatan manusia, melainkan yang mati begitu saja, baik dengan sebab hanyut oleh ombak atau keringnya air sungai, atau karena suatu musibah yang bukan akibat ulah manusia. Maksudnya adalah bahwa jika ditemukan telah menjadi bangkai dengan cara apa saja, maka ia halal dan suci. Adapun yang mati dengan sebab oleh sesuatu yang disebut dengan pencemaran air laut dengan bahan beracun atau hal-hal yang mematikan, maka ini diharamkan, bukan karena substansi bangkai ikannya akan tetapi karena racun dari zat-zat yang berbahaya atau yang mematikan tersebut.
  5. Hadits ini menjadi dalil bahwa jika ikan dan belalang mati di air, maka air tersebut tidak ternajisi, baik air tersebut banyak maupun sedikit, sekalipun rasanya, warnanya, dan baunya berubah, maka perubahan tersebut bukan dengan sesuatu yang najis, akan tetapi perubahan itu dengan sesuatu yang suci. Inilah konteks kesesuaian hadits ini di dalam Bab Air.

1. Shohih, diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnadnya (5690), Ibnu Majah (3314) dalam al-Ath'imah dan (3218) dalam ash-Shoid. Al-Albani berkata shohih lihat ash-Shohiihah (1118)

JATUHNYA LALAT KE DALAM MAKANAN

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِي الْآخَرِ شِفَاءً أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَأَبُو دَاوُد . وَزَادَ وَإِنَّهُ يَتَّقِي بِجَنَاحِهِ الَّذِي فِيهِ الدَّاءُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila ada lalat jatuh ke dalam minuman seseorang di antara kamu maka benamkanlah lalat itu kemudian keluarkanlah, sebab ada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya ada obat penawar." Dikeluarkan oleh Bukhari dan Abu Dawud dengan tambahan: "Dan hendaknya ia waspada dengan sayap yang ada penyakitnya." 1


1. Shohi diriwayatkan oleh al Bukhari (3320) dalam Bad'ul Wahyi, dan Abu Dawud (3844) dalam al-Aath'imah (dengan tambahan)

وَعَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا قُطِعَ مِنْ الْبَهِيمَةِ - وَهِيَ حَيَّةٌ - فَهُوَ مَيِّتٌ أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ وَاللَّفْظُ لَهُ

Dari Abu Waqid Al-Laitsi Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Anggota yang terputus dari binatang yang masih hidup adalah termasuk bangkai." Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dan beliau menyatakannya shahih. Lafadz hadits ini menurut Tirmidzi. 1


1. Shohih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (2858), at 'tirmidzi (1480), dan Ahmad (21396) dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih Abu Dawud