Penjelasan Hadits

XVII. KITAB TENTANG PERKARA YANG DILARANG
BAB 366. LARANGAN BERDIAM -TIDAK BERBICARA SEHARIAN HINGGA MALAM-

عَنْ عليٍّ رضي اللَّه عَنْهُ قالَ : حَفِظْتُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لا يُتْمَ بَعْدَ احْتِلامٍ ، وَلا صُمَاتَ يَوْمٍ إلى اللَّيْلِ » رواه أبو داود بإسناد حسن

1797. Dari Ali radhiyallahu anhu, katanya: "Saya menghafal hadits dari Rasulullah shalallahu alaihi wasalam, yaitu sabdanya: "Tidak ada keyatiman apabila telah bermimpi -maksudnya bila sudah akil baligh tidak disebut lagi sebagai anak yatim- dan tidak boleh berdiam -tidak berbicara- seharian hingga malam." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan. Al-Khaththabi berkata dalam menafsiri hadits ini, demikian: "Termasuk golongan salah satu diantara cara ibadah di zaman Jahiliyah ialah berdiam diri -yakni tidak berbicara-. Lalu mereka itu dilarang berbuat demikian dalam Islam dan diperintah untuk berdzikir serta bercakap-cakap dengan baik-baik."


وعَنْ قيس بن أبي حازِمٍ قالَ : « دَخَلَ أبُو بكرٍ الصِّدِّيقُ رضي اللَّه عَنْهُ على امْرَأَةٍ مِنَ أحْمَسَ يُقَالُ لهَا : زَيْنَبُ ، فَرَآهَا لا تَتَكَلَّم . فقالَ : « مَالهَا لا تَتَكَلَّمُ » ؟ فقالُوا: حَجَّتْ مُصْمِتَةً ، فقالَ لهَا : « تَكَلَّمِي فَإِنَّ هذا لا يَحِلُّ ، هذا منْ عَمَلِ الجَاهِلِية» ، فَتَكَلَّمَت . رواه البخاري

1798. Dari Qais bin Abu Hazim, katanya: "Abu Bakar as-Shiddiq masuk ke tempat seorang wanita dari suku Ahmas dan bernama Zainab. Ia melihat wanita itu tidak bercakap-cakap, lalu ia berkata: "Mengapa wanita itu tidak bercakap-cakap." Orang-orang berkata: "Ia sengaja berdiam diri -tidak bercakap-cakap-." Kemudian Abu Bakar berkata kepada wanita itu: "Berbicaralah engkau, sebab kelakuan sedemikian itu tidak halal. Ini adalah dari kelakuan orang Jahiliyah." Selanjutnya wanita itupun berbicaralah. (Riwayat Bukhari)