Penjelasan Hadits

XVII. KITAB TENTANG PERKARA YANG DILARANG
BAB 284. HARAMNYA MENUNDA-NUNDANYA SEORANG YANG KAYA PADA SESUATU HAKYANG DIMINTA OLEH ORANG YANG BERHAK MEMPEROLEHNYA

قال اللَّه تعالى: { إن اللَّه يأمركم أن تؤدوا الأمانات إلى أهلها }

Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah menyuruh kepadamu semua supaya engkau semua memberikan semua amanat itu kepada para ahlinya -yakni yang berhak menerima amanat-amanat itu-." (an-Nisa': 58)

وقال تعالى: { فإن أمن بعضكم بعضاً فليؤد الذي اؤتمن أمانته }

Allah Ta'ala juga berfirman: "Tetapi jikalau yang salah seorang mempercayai kepada yang lainnya, maka hendaklah yang dipercaya itu memberikan -yakni mengembalikan- barang yang diamanatkan padanya." (al-Baqarah: 283)


وَعَنْ أبي هُريرَةَ رضي اللَّه عَنْهُ أنَّ رَسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « مَطْلُ الغَنِيِّ ظُلْمٌ، وَإذَا أُتبِعَ أحَدُكُمُ عَلى مَلًيءٍ فَلْيَتْبَعُ » متفقٌ عليه

1608. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Menunda-nundanya seorang yang kaya -dalam memberikan pembayaran atau mengembalikan hutang- adalah suatu penganiayaan. Dan jikalau seorang diantara engkau semua dihiwalahkan-dipertukarkan hutangnya- atas seorang yang kaya, maka hendaknya suka dihiwalahkan itu." (Muttafaq 'alaih)


Makna utbi'a ialah dihiwalahkan atau dipertukarkan. Misalnya A mempunyai hutang pada B dan B mempunyai hutang pada C. Lalu B berkata kepada A: "Hutangmu kepadaku itu saya hiwalahkan kepada C. Jadi mengembalikannya juga kepada C sebanyak jumlah hutangmu kepadaku itu." A yang diminta demikian itu hendaklah suka menerima, sebab pokoknya ia berhutang dan wajib mengembalikan. Jikalau hutang B kepada C lebih banyak daripada hutang A kepada B, tentulah sisanya itu tetap menjadi urusan antara B dan C saja, setelah sebagian hutang itu dihiwalahkan kepada A.